Thursday, July 15, 2021

5 Hal Unik yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Pernikahan Khas Bali

  

Pernikahan khas Bali (Sumber: shutterstock)

 

          Pernahkah kalian menghadiri pernikahan (pawiwahan) masyarakat Bali? Kalau sudah, tentu kalian bisa mendapatkan hal-hal unik dari pernikahan itu, bukan? Nah, yang belum pernah hadir di acara pernikahan khas Bali. Atau, pengin tahu keunikan pernikahan masyarakat Bali. Maka, tulisan ini bisa menjadi insight (wawasan) buat kalian.

          Ngomong-ngomong, pernikahan khas Bali memberikan nuansa keuanikan tersendiri. Apalagi, jika dibandingkan dengan pernikahan masyarakat khas Pulau Jawa. Setidaknya, ada 5 hal unik yang perlu kalian ketahui tentang pernikahan khas Bali. Apa saja itu? Yuk, baca tulissan ini sampai selesai.  

 

PRE-WEDDING

 

          Hal unik yang pertama kali saya dapatkan adalah acara Pre-Wedding. Percaya atau tidak, sepasang calon pengantin khas Bali yang hendak menikah gaya masa kini adalah keharusan memulai dengan Pre-Wedding. Di mana, sepasang calon pengantin melewati masa romantic yang dibingkai dalam kenangan berupa foto atau video.

          Jangan kaget, jika bisnis Pre-Wedding hingga Wedding organizer menjadi bak cawan di musim hujan. Bahkan, banyak organizer tersebut yang memberikan harga khusus atau promo yang menarik pelanggan. Berbagai spanduk penawaran harga promo tersebut, banyak terpasang di berbagai perempatan kota besar di Bali, seperti Denpasar, Gianyar dan Tabanan.


 

Pre-wedding khas Bali (Sumber: shutterstock)

 

DEKORASI YANG SANGAT MENARIK

 

          Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Bali dikenal sebagai gudangnya seni. Dalam hajatan apapun, maka dekorasi memberikan pemandangan yang khas dan unik. Sama halnya dengan hajatan pernikahan (pawiwahan) yang menjadi acara sakral dalam lingkungan keluarga dan adat Bali. Maka, pernikahan akan diadakan sebaik mungkin. Bukan hanya memberikan kenangan manis bagi kelurga mempelai, tetapi bagi tamu yang datang.

          Untuk menyambut tamu undangan, maka masyarakat Bali akan mendekorasi jalan masuk ke rumah mempelai, dengan hiasan gerbang yang unik. Jika, dalam masyarakat Jawa akan terdapat hiasan janur kuning. Maka, masyarakat Bali akan menghiasi janur yang dirangkai jadi gerbang penyambutan yang indah. Maka, jika anda melihat sebuah gang atau gerbang rumah dihiasi dengan untaian janur dan perangkat lainnya. Maka, hajatan pawiwahan sedang terjadi. Dan, biasanya di bagian depan gerbang akan terdapat bingkai Pre-Wedding pasangan pengantin.


 

Dekorasi bagian depan atau gerbang hajatan pernikahan khas Bali yang unik dan indah (Sumber: shutterstock)

 

SEPI DARI UNSUR MUSIK

 

          Sekarang ini, hiburan dalam hajatan baik sunatan atau pernikahan maka sangat bervariasi. Dari kesenian yang berbau kearifan lokal hingga dangdut koplo khas Jawa Timur menjadi pemandangan yang khas. Ketika anda mendengar audio system yang melengking jedag-jedug di sebuah rumah orang karena pentas musik. Maka, bisa dipastikan ada hajatan pernikahan, sunatan atau lainnya. Terasa hampa, ketika hajatan tanpa hiburan musik, bukan?

          Namun, sungguh berbeda dengan hajatan pernikahan di Bali. Selama 12 tahun merantau di Bali, saya belum pernah mendengar atau melihat pernikahan yang “nanggap” hiburan musik layaknya di Jawa. Perlu diketahui bahwa acara pernikahan khas Bali sangat jauh dari hiburan musik. Sungguh sepi.

          Masyarakat Bali memahami bahwa keistimewaan pernikahan terdapat pada ikatan cinta yang dipadukan dengan adat-istiadat. Prosesi pernikahan adalah hal yang sangat sakral dan syahdu.

          Konon, kurang lebih ada 8 langkah yang harus dilalui oleh pasangan pengantin Bali. Yaitu, 1) Menentukan hari baik; 2) Upacara Ngekeb (upacara yang melambangkan transformasi mempelai perempuan dari remaja menjadi seorang istri yang setia terhadap suaminya); 3) Penjemputan calon mempelai perempuan; 4) Upacara Mungkah Lawang atau membuka pintu (Upacara menjemput mempelai perempuan yang berada di kamarnya); 5) Upacara Mesegehagung (menyambut kedatangan kedua belah mempelai terutama mempelai perempuan); 6) Upacara Madengen-dengen (menyucikan kedua belah pihak dari hal-hal negatif); 7) Upacara Mewidhi Widana (upacara penyempurnaan proses pembersihan diri dari kedua belah pihak); dan 8) Upacara Mejauman Ngabe/Tipat Bantal, yaitu keluarga suami mengantar istri kembali ke rumahnya dan memohon restu kepada keluarganya karena telah menjadi bagian keluarga besar sang laki-laki.

          Jadi, yang membuat unik pernikahan Bali, bukan karena adanya hiburan dangdut koplo atau pentas musik lainnya. Bahkan, ketika saya menghadiri beberapa acara pernikahan teman dengan tidak memakai baju adat khas Bali. Sungguh, menjadi pemandangan tamu lokal. Karena, pernikahan di Bali diadakan dengan adat, maka masyarakat yang hadir pun sebisa mungkin datang dengan baju adat.   

 

 

Prosesi pernikahan khas Bali (Sumber: popbela.com)

 

KULINER TERBAGI DUA, HALAL DAN NON HALAL

 

          Hal unik yang membuat saya kaget adalah adanya kuliner yang dianggap umat Islam sebagai kuliner halal dan non halal. Pada acara resmi termasuk acara pernikahan khas Bali, maka kuliner yang mengandung unsur babi adalah hal yang lumrah. Dari babi guling hingga daging babi yang diolah layaknya sayur.

          Ketika, saya menghadiri acara pernikahan teman pada tahun 2012 di daerah Amed, Karangasem. Saya menjadi tamu yang tidak bisa menikmati kuliner  hajatan. Mengapa? Karena, kuliner yang disajikan tuan rumah mengandung unsur babi. Sebagai muslim, maka saya menghindari. Dan, saya pun hanya menikmati jajanan yang disajikan.

          Berbeda dengan ketika menghadiri pernikahan teman pada tahun 2013 dan 2018. Tuan rumah yang beragama Hindu sangat memahami bahwa tamu yang datang bukan hanya beragama Hindu. Tetapi, tamu yang beragama Islam juga diundang.

          Maka, dua kali kesempatan menghadiri undangan pernikahan tersebut bisa menikmati kuliner hajatan. Karena, ternyata kuliner di bagi 2 tempat. Bagian dalam untuk tamu yang beragama Hindu atau selain Islam. Dan, bagian luar untuk kuliner tamu yang beragama Islam.

          Bahkan, ketika saya salah ambil kuliner non halal, tuan rumah langsung sigap mengatakan bahwa kuliner yang saya ambil adalah adalah kuliner mengandung babi. Saya pun malu-malu pindah ke tempat kuliner yang dijamin halal. Konon, kuliner tersebut biasanya pesan dari catering orang yang beragama Islam.   

 

Kuliner babi guling khas Bali (Sumber: shutterstock) 

 

LELAKI SEBAGAI JURU MASAK

 

          Jika di Jawa, maka bagian dapur orang hajatan akan dipenuhi oleh ibu-ibu atau wanita. Tabu rasanya jika lelaki berada di dapur. Lelaki tempatnya di bagian depan untuk menyambut tamu. Maka, jangan kaget jika laki-laki masuk dapur akan menjadi bahan ketawaan ibu-ibu.

          Berbeda dengan masyarakat Bali. Kaum lelaki justru menjadi tukang masak yang handal. Dari masak lawar khas Bali hingga babi guling adalah urusan lelaki Bali. Menurut adat bahwa lelaki Bali lebih handal memasak dibandingkan wanitanya. Karena, wanita mempunyai pekerjaan tersendiri yaitu menyajikan atau membuat canang untuk tempat sesaji atau persembahan.  

          Jadi, lelaki menjadi manusia paling sibuk ketika acara pernikahan. Meskipun, lelaki Bali juga sibuk membuat kuliner saat acara adat lainnya. Hal inilah yang membedakan kebiasaan lelaki khususnya di masyarakat Jawa. Anda makin tahu kan?     

 

Lelaki Bali sedang menyiapkan bahan-bahan masakan (Sumber: kompas.com)

No comments:

JNE Deklarasikan Hari Bahagia Bersama Sejak Tanggal 7 September 2021

  Talkshow tentang Hari Bahagia Bersama (Sumber: JNE)                     “Berbagi, Memberi dan Menyantuni”               Tiga kata muja...