Tuesday, July 20, 2021

7 TEMPAT MENARIK DI MASA KECIL YANG SULIT TERLUPAKAN

 

7 Tempat menarik masa kecil yang sulit terlupakan (Sumber google maps/screenshot)

 

 

          Setiap orang pasti mempunyai kenangan masa kecil. Meskipun, anda menjadi orang sukses dan mempunyai jabatan yang tinggi. Bahkan, mampu melanglang buana atau hidup di luar negeri hingga puluhan tahun. Tetapi, percayalah bahwa tempat-tempat yang menarik anda di masa kecil tidak akan mudah dilupakan.

          Seperti anda, saya pun mempunyai beberapa tempat menarik yang tidak akan saya lupakan saat merenda kenangan masa kecil. Tempat-tempat tersebut bahkan selalu menjadi pengingat saat dunia digital makin berkembang. Dan, usia kita makin bertambah dewasa.

          Sejatinya, banyak tempat menarik di hati saya. Namun, setidaknya ada 7 tempat menarik yang membuat saya senyum dan ketawa sendiri, saat mengingat kenangan tersebut. Berikut, 7 tempat menarik di masa kecil versi saya.     

 

RUMAH KELUARGA 

          Percayalah, siapapun anda tidak akan pernah melupakan rumah, sebagai  tempat di mana anda dilahirkan. Apalagi, rumah tersebut kini menjadi rumah keluarga dan berubah wajahnya. Rumah yang akan selalu dikenang seumur hidup. Tentu, ketika anda singgah ke rumah masa kecil, anda seperti merangkai kenangan lama yang sulit untuk dilupakan.

          Rumah keluarga tempat masa kecil saya dulu, bermula dari rumah gedek atau rumah yang berdinding bambu. Dan, dicat kapur warna putih. Secara berkala, biasanya setahun sekali, bapak bersama saudara atau saya sendiri ikut membantu mengecat dinding rumah dengan kapur tersebut.

          Yang selalu menjadi kenangan indah adalah bagian pojok halaman depan sebelah kiri, dulu terdapat pohon jambu. Saya selalu gembira saat buah jambu tersebut mulai berbunga. Seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Maka, setiap hari saya memantau buah tersebut. Gila ya!

          Sebelah kanan pohon jambu tersebut, tumbuh satu pohon kelapa. Percaya atau tidak, pohon kelapa yang tumbuhnya hingga 30 meter lebih tersebut, menjadi pemasukan ekonomi keluarga. Seringkali, bapak menjual kelapa dan ibu membuat minyak kelapa sendiri.

          Saya sempat meneteskan air mata, saat pohon kelapa tersebut ditebang sekitar tahun 90-an (mendekati tahun millennium). Ketika, rumah lama yang berdinding bambu mengalami pemugaran. Karena, di pohon kelapa tersebut, saya belajar memanjat. Meskipun, tidak selihai saudara yang memanjatnya bagai kera. Lincah sekali.

          Dan, sebelah kanan dan kiri pintu masuk halaman rumah, saya teringat sekali sebagai tempat tumbuhnya jambu air Bangkok yang warnanya merah menyala. Sungguh, dulunya, bibit jambu tersebut ditanam oleh Kepala Desa. Selanjutnya, sepupu saya yang rumahnya di samping saya, menanamnya hingga buahnya bikin ngiler. Karena, saking lebatnya dan berwarna merah menyala. Rasanya pun manis menggoda selera.

          Saya sendiri bela-belain mencangkok jambu elegan di saudara saya tersebut. Selanjutnya, menanam cangkokan jambu tersebut di sebelah kanan dan kiri pintu masuk halaman rumah. Saya lupa kapan jambu tersebut ditebang. Mungkin, di saat saya mulai merantau menjelajah Jawa, Lombok dan Bali di awal tahun milenium. Pohon jambu tersebut sungguh lebat. Hingga ranting dan daunnya menjangkau atas genting rumah.

 

 

Rumah keluarga saat masa kecil (Sumber google maps/screenshot)

 

MASJID TEMPAT MENGAJI 

          Tempat menarik di masa kecil lainnya yang sulit terlupakan adalah masjd. Lokasi masjid di pinggir jalan raya. Jarak masjid ke rumah saya kurang lebih 500 meter. Jadi, kalau mau ke masjid cukup jalan kaki. Bukan karena ogah naik sepeda motor atau sepeda. Tetapi, kedua jenis kendaraan tersebut belum memilikinya. Apalagi, buat saya sebagai anak kecil.

          Saya justru memiliki sepeda sendiri, ketika menginjak duduk di kelas 3 SMP, tahun 91-92. Itu pun sepeda bekas yang belinya seharga Rp25 ribu. Uangnya pun didapat dari pinjam tukang kredit harian.

          Seperti anak kecil lainnya, maka sehabis sholat maghrib, saya tidak langsung pulang. Ada kewajiban yang tidak tercatat, yaitu anak kecil waktu itu harus belajar mengaji. Gurunya pun bisa memilih. Karena, banyak guru ngaji atau ustadz yang dengan ikhlas mengajari alip ba ta.

          Masjid ini juga menjadi tempat hotel dadakan. Karena, untuk menghindari  sholat subuh telat. Maka, kebiasaan remaja atau anak-anak saat itu untuk tidur atau menginap di masjid. Nah, untuk mengisi waktu sebelum mengantuk, maka saya dan remaja lainnya sering menonton TV hitam putih, di rumahnya pak Haji yang sering jadi imam. Letaknya di seberang jalan protokol Pejagan-Ketanggungan Brebes Jawa Tengah.

          Di masjid ini juga menjadi saksi bisu kenakalan anak-anak saat itu. Janggut saya hingga mengeluarkan banyak darah. Karena, saat menggoda teman agar badan saya digendong. Teman tersebut melepaskan pegangannya. Hingga janggut saya membentur lantai masjid. Bekas luka sepanjang 2 centimeter tersebut masih ada hingga sekarang.  

  

 

Masjid tempat mengaji dan menginap (Sumber google maps/screenshot)

 

SD TEMPAT BELAJAR INI IBU 

          Tempat menarik masa kecil yang tidak bisa terlupakan tentu SD (Sekolah Dasar). Jujur, saya masih ingat gimana rasanya besok mau sekolah yang pertama kali. Malamnya, saya dan teman-teman diajak bepergian sama orang terkaya waktu itu. Di mana, sawah dan kebunnya ratusan hektar yang ditanam bawang merah dan cabe. Bapak saya sendiri bertugas sebagai mandor.

          Dengan menggunakan truk engkel, saya dan 10 teman lainnya seperti tamasya jalan-jaan di malam hari. Padahal, tujuannya hanya mengantar keperluan ke tempat pertanian, yang jaraknya kurang lebih 30 km dari rumah. Namun, sebagai anak desa yang jarang naik kendaraan, numpang di belakang truk tuh rasanya kayak dapat durian runtuh.

          Di SD inilah, saya sebagai angkatan pertama bersama lebih dari 30 anak lainnya hingga lulus SD. Padahal, saat kelas 1, angkatan saya lebih dari 40 orang. Selebihnya terseleksi secara alam, tinggal kelas.

          Ikut bangga karena saya dan 2 orang lainnya mewakili Lomba Cerdas Cermat saat itu. Padahal, saya kelas 5 SD, melawan puluhan sekolah yang wakilnya sudah kelas 6 SD. Hingga saya melenggang ke tingkat kecamatan, karena belajar secara intens setiap harinya.

          Yang menarik saat SD adalah sakitnya dijodohin sama teman cewek sekelas atau cewek adik kelas. Saya berontak karena tidak mau dijodohin, bahkan aksi mogok sekolah. Lucunya lagi, saya kok jadi benci sama cewek yang dijodohin sama saya yah. Padahal, setelah dewasa, 2 cewek yang dijodohin sama cewek tuh cantiknya kebangetan. Eh, yang ngembat orang lain.  

          Lagi, saat SD inilah, saya paling rajin, jika disuruh salah satau ibu guru mengambil air teh di rumahnya. Juga, disuruh beresin ruang guru. Sisa-sisa minuman teh manis dari para guru menjadi minuman berharga saat itu. Langsung minum semuanya sampai kekenyangan.

          Dan, yang masih saya ingat adalah guru yang menjadi wali kelas 5 sampai 6. Namanya, Bapak Supriyadi dan wajahnya persis kayak pahlawan Supriyadi yang misterius. Beliau rajin mengajar dan memberikan les rutin ketika saya dan teman-teman hendak EBTANAS. Kalimat yang saya ingat sampai sekarang.

 

“Cas, belajar yang rajin ya semoga jadi orang besar. Saya sangat bangga jika kamu jadi orang sukses”.

 

SD di masa kecil (Sumber google maps/screenshot) 

 

PESAREAN DAN PEMAKAMAN UMUM 

          Beruntung, saat itu belum ada gadget. Maka, tempat idola saya dan teman-teman untuk menghabiskan masa kecil, salah satunya adalah Pesarean dan pekuburan umum. Pesarean ini untuk tempat mencari asam Jawa. Saya pernah membahasnya di Kompasiana. Serta, belajar olahraga senam lantai. Bahkan, di pesarean yang hening inilah menjadi tempat idola belajar saat hendak ujian, hingga saya menginjak SMA.

          Sedangkan, pekuburan atau pemakamaan umum ini biasanya menjadi tempat ngebolang saya dan teman-teman kecilnya. Tujuannya pun beragam, kadang sebagai tempat untuk belajar menjadi pemanjat pohon. Hingga mencari biji asam kranji yang rasanya asam-asam legit. Lucunya lagi, pemakaman umum ini sering menjadi tempat untuk mencari uang pecahan 50-100 rupiah di atas tanah makam yang masih baru. Biasanya, uang tersebut sebagai syarat sesaji atau ube rampai.    

 

 

Pesarean tempat main dan mencari asam Jawa di masa kecil (Sumber google maps/screenshot)

 

Pemakaman umum (Sumber google maps/screenshot)

 

SUNGAI BUAT MANDI DAN MENCARI IKAN 

          Sungguh, tempat mainan yang menjadi idola anak kecil adalah yang mengandung unsur air. Maka, sebagai anak kampung, sungai dekat dengan tempat tinggal menjadi tempat menarik untuk bermain. Sewaktu pulang sekolah (SD). saya dan teman seringkali langsung berlarian ke sungai untuk langsung mandi. Bukannya pulang terlebih dahulu, tetapi sungai menjadi perangsang semangat untuk menguji nyali.

          Biasanya mandi hanya 1 jam-2 jam, pulang ke rumah, habis itu main ke sungai untuk mandi lagi hingga matahari menjelang sunset. Atau, karena makian pak Haji pemilik sawah pinggir sungai yang merasa dirugikan anak-anak, Karena, tanaman padi atau lainnya banyak yang rusak terinjak-injak.  Kemarahan pak Haji dengan membawa tongkat kayu menjadi alarm. Bahwa, saya dan teman-teman harus mengakhiri acara bermain dan pulang lebih awal.

          Sungguh, saya kaget saat melihat penampakan jepretan dari Google. Karena, saya mengira bahwa lebar sungai tersebut sekitar 3 meter dan dalamnya 1,5 meter. Padahal, kondisi sungai tersebut saat masa kecil mempunyai lebar lebih dari 10 meter dan kedalaman hingga 7 meter. Perkembangan jaman dan ulah manusia yang menyebabkan kondisi sungai tersebut makin menciut.

          Apalagi, yang bertanda panah kuning, di sebelah selatan jembatan (yang dulu hanya bambu) merupakan tempat idola bersama teman-teman kecil lainnya. Untuk menghabiskan waktu seharian mandi di sungai. Saat itu, cewek dan cowok dalam kondisi tanpa busana bisa bercampur bersama-sama tanpa malu. Dan, tidak ada pikiran negatif sama sekali.

          Tempat itu dulu banyak ditumbuhi pohon akasia, yang dahannya hingga menjuntai ke sungai. Saya dan teman-teman sering uji nyali memanjat pohon akasia yang tingginya hingga 10 meter dan terjun ke tengah sungai. Dan, kejadian yang mengerikan pun pernah terjadi.

          Peristiwa yang tidak pernah terlupakan yaitu teman cewek yang terjun ke sungai. Dan, telapak kaki kanannya tertancap potongan bambu. Hingga tembus ke bagian atas telapak kaki. Hingga mengeluarkan darah segar dan memerahkan air sungai. Sejak saat itu, kami dilarang main di sekitar pinggir sungai itu.  

          Sungai itu juga menjadi berkah buat saya dan teman-teman. Bukan hanya tempat memancing ikan. Juga, menjadi tempat yang asik untuk mencari ikan dengan tangan langsung (Jawa: gogoh). Dari sebelah selatan jembatan sampai sebelah utara jembatan (hingga melewati pekuburan umum), menjadi tempat favorit menangkap ikan. Hasil ikan tersebut buat lauk pauk sehari-hari. Dan, jika mendapatkan lebih banyak, bisa menjualnya sebagian untuk membeli alat-alat tulis dan uang jajan.       

 

 

Sungai untuk mandi dan mencari ikan (Sumber google maps/screenshot) 

 

TEMPAT KECELAKAAN TRAGIS 

          Tempat menarik masa kecil yang terakhir yang tidak terlupakan adalah tempat kecelakaan tragis. Tempat ini, (kalau tidak salah) terletak di seberang gang. Sementara, gang tersebut terletak di sebelah utara gang tempat tinggal saya.

          Lokasi kecelakaan tragis tersebut berjarak kurang lebih 500 meter dari tempat saya tinggal. Lokasi kecelakaan berada di pinggir jalan yang biasanya menjadi tempat menjemur bawang merah (tanda panah merah).

          Seperti biasanya, ibu-ibu yang bekerja sebagai buruh tani berjalan menuju sawah yang letaknya sekitar utara jalan protokol Pejagan-Brebes. Daerah tersebut dikenal sebagai kawasan pertanian luas hingga pantai utara Jawa. Saat itu, sepeda masih menjadi barang yang mahal. Maka, agar bisa datang ke tempat kerja atau sawah tepat waktu, berangkat lebih awal dengan jalan kaki adalah sebuah keharusan. Bahkan, iring-iringan orang hingga 20 orang, menembus gelapnya jalan.

          Nah, yang menarik adalah seberang lokasi kecelakaan tersebut (pojok perempatan gang, tanda panah kuning) terdapat sebuah pos atau gardu. Saat itu, banyak orang menganggap bahwa tempatnya sangat angker. Hingga kini, saya belum tahu pasti alasannya kenapa tempatnya angker. Namun, menurut pengalaman saya waktu itu, karena pernah kejadian kecelakaan tragis dekat pos tersebut.

          Anehnya, sekitar pos tersebut telah dua kali terjadi kecelakaan yang membuat bulu saya bergidik. Pertama, kekira tahun 1989, seorang pengendara sedan mengalami halusinasi pandangan. Waktunya pun menjelang subuh. Katanya, dia melihat rombongan anak kecil main-main di tengah jalan. Spontan, sang pengendara membanting setir ke kanan dan menabrak (seingat saya) orang yang sedang naik sepeda. Dan, pesepeda tersebut langsung meninggal di tempat. Pengendara sedan langsung mengamankan diri ke rumah warga terdekat.

          Kedua, tempat kejadian di lokasi yang bertanda panah itu. Waktu kejadian sebelum waktu subuh kekira tahun 1991. Sama seperti kejadian mengerikan pertama. Seorang pengendara sedan pun silap mata atau mengalami halusinasi karena pengaruh makhluk astral. Dia melihat hal yang sama yaitu banyak anak kecil bermain di tengah jalan. Sontak, dia membanting setir ke kiri.

          Sungguh tragis, di pinggir jalan tersebut sedang beriring-iringan ibu-ibu memakai topi petani yang berjalan menuju sawah. Saya sudah lupa, namun jumlah ibu-ibu tersebut lebih dari 10 orang. Singkat cerita, semua buruh tani tersebut meninggal seketika, karena tertabrak dan terseret cepatnya gerak sedan.

          Bahkan, ada beberapa kepala, tangan dan kakinya yang lepas dari badan. Berserakan di rerumputan, bawang merah yang sedang dijemur dan gorong-gorong selokan. Kejadian di kegelapan yang mencekam tersebut mengagetkan banyak orang. Kecelakaan tragis tersebut menjadi geger, hingga kabar meninggalnya banyak orang sampai ke rumah saya.

          Saya pun berlarian karena rasa penasaran. Sungguh, mayat-mayat berserakan di pinggir jalan dalam kondisi “maaf” mengerikan. Bahkan, saya sempat mengambil beberapa potongan tubuh mayat, yang jatuh di gorong-gorong selokan, tidak jauh dari tempat kejadian.

          Percaya atau tidak, jalan dari gang saya hingga gang kejadian kecelakaan tragis tersebut menjadi kawasan angker. Karena, telah banyak memakan korban. Entah sekarang, semoga kawasan tersebut aman-aman saja. Karena, dunia makin maju dan lampu penerangan jalan dan rumah penduduk makin banyak. Atau, mungkin, makhlus astralnya lagi sibuk main Tiktokan. Jadi, tidak mengganggu manusia lagi.


     

Tempat kecelakaan tragis (Sumber google maps/screenshot) 


No comments:

JNE Deklarasikan Hari Bahagia Bersama Sejak Tanggal 7 September 2021

  Talkshow tentang Hari Bahagia Bersama (Sumber: JNE)                     “Berbagi, Memberi dan Menyantuni”               Tiga kata muja...