Friday, July 9, 2021

CADEL, BISAKAH BICARA R NORMAL?

 

Cadel (Sumber: merdeka.com/diolah)

 

 

 

          “Uler menclok ning pager, muter-muter didudut kleler?”

 

          Kalimat menarik yang mengandung arti Ulat hinggap di pagar, berputar-putar ditarik lentur. Kalimat yang akan saya ingat seumur hidup. Karena, kalimat itu menjadi bahan bullyan (perundungan) orang yang lebih tua umurnya dari pada saya. Dan, kalimat tersebut menjadi bahan perundungan banyak pihak selama saya duduk di bangku SD.

 

BIRU

 

          “Bisa ngomong kata BIRU nggak?”

 

          Satu kata singkat yang tidak mampu saya katakan secara normal waktu SD. Kata yang selalu menjadi ledekan tetangga dekat “setiap ketemu saya”. Saya mau marah, tetapi saya hanyalah anak kecil. Yang waktu itu, sangat tabu jika anak kecil melawan orang dewasa.

          Uniknya, kejadian tersebut tidak pernah menjadi bahan aduan saya ke orang tua. Justru menjadi bahan renungan saya, setiap kali hendak tidur. Dan, saya bersyukur terhadap tetangga yang suka melakukan perundungan tersebut. Karena, dialah yang membuat saya jungkir balik berusaha untuk berkata RRRRRRRRRRRR.   

          Sungguh, anak yang tidak bisa berkata huruf “R” alias cadel menjadi sebuah aib waktu itu. Dan, saya merasa sangat tertekan. Namun, untung ada sisi baiknya di balik perundungan tersebut. Saya tiada henti untuk bisa melafalkan R selama hampir 6 tahun di bangku SD. Dan, SEJAK DUDUK DI BANGKU SMP, AKHIRNYA SAYA MAMPU BICARA R. Alhamdulillah.

          Pertanyaannya? Mampukah ORANG CADEL bisa bicara normal? Jawabannya tentu TERGANTUNG KEPADA MASING-MASING ORANG. Apalagi, di era digital ini, bicara cadel justru memberikan ruang seperti pisau bermata dua. Satu sisi, si cadel akan menjadi bahan perundungan. Kalau dia tidak siap, berakibat akan membuatnya tertekan seumur hidupnya.

          Maka, saran saya, janganlah mem-bully orang cadel. Karena, jika si cadel tidak siap, ia akan melakukan hal-hal di luar dugaan. Yang bisa merugikan si cadel dan keluarganya. Sebagai contoh, si cadel akan melawan si pembully atau “maaf” melakukan aksi bunuh diri karena tertekan jiwanya.  

          Namun, jika si cadel siap menghadapi perundungan. Dan, dia merasa bahwa kekurangan bicara R adalah sebuah anugerah. Maka, kekurangan tersebut justru akan menjadi nilai lebih. Bahkan, banyak orang yang menjadi terkenal yang bicara masih CADEL. Sebut saja, artis RICO CEPER yang bicara cadel. Kekurangannya tersebut, justru disyukuri menjadi sebuah berkah untuk berkarir di dunia entertainment.

          Lagi, baru-baru ini, yang lagi hits adalah Tiktoker Denise Chariesta. Cewek yang terkenal karena perseteruannya dengan keluarga artis UYA KUYA itu justru makin terkenal. Salah satu ciri khas dari Denise Chariesta karena biacra cadelnya.

          Bahkan, Denise Chariesta diundang di beberapa acara TV swasta untuk dikulik tentang perseteruannya dengan beberapa artis. Dan, ternyata CADELnya Denise Chariesta bukanlah Gimmick. Meskipun,  Denise Chariesta beberapa kali jujur di beberapa acara. Bahwa, dirinya memang sedang SOCIAL CLIMBER (panjat sosial atau pansos), agar menjadi terkenal di dunia keartisan.

          Yang saya salut dengan Denise Chariesta, bukanlah keberaniannya menghadapi berbagai artis terkenal. Tetapi, dia sangat percaya diri, ketika dia berbicara CADEL. Padahal, banyak orang yang “malu-malu” mengungkapkan kekurangannya tersebut di muka publik.

 

CADEL TERUS ATAU NORMAL

 

          “Ular Melingkar-lingkar di Pagar”

 

          Salah satu kalimat terkini, yang sering digunakan banyak orang untuk menguji para CADEL. Apakah, ia mampu bicara R. Percayalah, keyakinan masing-masing orang untuk bicara normal dari kekurangan CADEL adalah sebuah energi.

          Saya pribadi merasa tersiksa, ketika tidak mampu mengatakan huru R. Waktu SD, saya selalu berpikir tentang nasib di masa depan. Apakah saya mampu menjadi orang yang bisa diterima dengan baik oleh masyarakat? Apakah, cadel saya tidak akan menjadi bahan perundungan nantinya. Sungguh, hati saya berkecamuk saat itu.

          Maka, hal yang saya lakukan adalah saya berusaha untuk berbicara R seintensif mungkin. Ketika, saya jalan-jalan di tempat sepi, saya akan berbicara R sekeras mungkin. Untung, saya mempunyai teman sepermainan yang baik hati. Mereka memang sering guyon atas kekurangan saya. Tetapi, dia sering memberikan tips, cara atau tutorial agar saya mampu berbicara R.

          Saya merasa lega, karena saya mendapatkan tempat untuk berkeluh kesah. Saya diterima baik dan tidak menjadi bahan perundungan. Mungkin, teman saya ini sudah punya cucu sekarang. Karena, orang di kampung saya nikah pada usia muda.

 

          “Kerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr”

          “Kurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr”

          “Serrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr”

 

          Itu adalah beberapa kata yang saya ucapakan selama saya duduk di bangku SD. Kapan pun dan di mana pun, saya akan berusaha untuk mengucapkan kata tersebut. Memang, bukanlah hal mudah untuk mampu bicara R. Ibarat kata, anda berusaha meluruskan per baja dengan tangan kosong. Sebuah “hil yang mustahal” kata almarhun pelawak Srimulat Asmuni. Tidak mungkin terjadi. Namun, ketekunan saya telah membuktikan bahwa CADEL BISA BICARA NORMAL. Asal, ia mau merubahnya dan tekun mempelajarinya.

 

          “Oh pantes, lidahnya pendek!”

 

          Sebuah kalimat yang lazim diucapkan banyak orang. Saat, mendengar orang yang tidak mampu bicara R. Siapa bilang? Saya juga mempunyai lidah yang pendek kok. Tetapi, saya mau merubahnya. Saya mau hidup dengan bicara R yang normal, ketika dewasa dan punya anak. Namun, jika anda pasrah dan menjadikan sebuah anugerah dari Allah SWT, itu masalah lain.

          Kalimat di atas juga sering melemahkan jiwa dan semangat para cadel. Sepertinya, jika anda berlidah pendek dan anda cadel. Maka, sampai tua pun tetap cadel. Sekali lagi, perubahan tergantung pada masing-masing orang. Kalau si cadel ingin bicara R normal, maka ia akan berusaha semaksimal mungkin bicara R kapan pun dan di mana pun.

 

          Kuncinya, ia mau tetap cadel terus atau bicara R normal. Si Cadel yang menentukannya.      



No comments:

JNE Deklarasikan Hari Bahagia Bersama Sejak Tanggal 7 September 2021

  Talkshow tentang Hari Bahagia Bersama (Sumber: JNE)                     “Berbagi, Memberi dan Menyantuni”               Tiga kata muja...