Sunday, July 18, 2021

NYARIS TERJERAT PRAKTEK PESUGIHAN DEWI LANJAR

 

Dewi Lanjar atau Ibu Hajah Siti Hadijah (Sumber: antvklik.com)

 

 

          Berbicara masalah Pesugihan atau yang di Jawa Barat dikenal dengan nama Muja sungguh ngeri-ngeri sedap. Sebuah praktek gaib hitam yang menghalalkan segala cara.  Dan, bersekutu dengan setan untuk mendapatkan kekayaan harta benda atau kejayaan secara instan. Para pelaku pesugihan hanya menyiapkan niat untuk memenuhi persyaratan, agar dapat mendapatkan kekayaan secara mendadak.

 

PESUGIHAN DI PULAU JAWA 

          Di pulau Jawa terkenal dengan adanya praktek pesugihan. Menurut Balai Bahasa Jawa Timur tahun tahun 2018 menyatakan bahwa ada beberapa tempat pesugihan terkenal di Jawa. Jika, dilihat dari sisi lokasi geografi, keunikan, dan unsur pembentuk cerita. Yaitu 1) Pesugihan Gunung Kawi di Wonosari, Kepanjen, Malang; 2) Pesugihan Makam Ngujang di Tulungagung; 3) Pesugihan Roro Kembang Sore di Gunung Bolo, Tulungagung; 4) Pesugihan Gunung Kemukus di Gunung Sari, Pendem, Sumberlawang, Sragen; 5) Pesugihan Pulau Seprapat di Desa Bendar, Juwana, Pati; 6) Pesugihan Nyi Puspo Cempoko di Desa Kabongan, Rembang; 7) Pesugihan Pohon Ketos di Desa Bero, Trucuk, Palar, Klaten; 8) Pesugihan Dewi Lanjar, di Pantai Slamaran, Pekalongan; dan 9) Pesugihan Nyi Blorong di Sendang Pengilon, Desa Bangunjiwo, Bantul.

          Tetapi, selain kesembilan tempat pesugihan tersebut, sejatinya masih banyak tempat lain pesugihan di Jawa, seperti di Gunung Surowiti Gresik, Alas Purwo Banyuwangi, Sendang Jimbung Klaten, Sendang Alas Kucur di Paseban Bayat Klaten, dan sebagainya. Dengan kata lain, praktek pesugihan sudah ada sejak dulu.

          Praktek pesugihan sangat dilarang oleh agama. Mengapa? Karena, selain bersekutu dengan setan, dan dalam prakteknya di luar ajaran agama Islam. Praktek pesugihan juga mengandung risiko yang sangat tinggi.

          Namun, meskipun praktek pesugihan dilarang dan berisiko tinggi, masih banyak orang yang mau melakukannya. Banyak faktor yang membuat orang terjun ke dunia praktek pesugihan. Seperti, ketidaktahanan terhadap kondisi ekonomi, ingin mendapatkan kejayaan atau lemah iman.

          Menarik, beberapa paranormal atau parapsikolog menjelaskan bahwa apapun bentuk pesugihannya, akan selalu minta tumbal bagi pemiliknya. Tumbalnya, baik berupa nyawa sendiri, anak-isteri sendiri, maupun anggota keluarga lainnya. Bahkan, ada yang mengatakan, efek pesugihan terkait erat dengan kehidupan anak-cucu sampai tujuh turunan, karena yang diambil oleh pesugihan adalah rejeki anak-cucu

          Yang tidak banyak orang tahu adalah praktek pesugihan dianggap sebagai sebuah kejahatan. Di mana, kejahatan tersebut melibatkan unsur kekuatan supranatural. Bagaimana caranya? Kejahatan tersebut dilakukan dengan cara mencuri hak orang lain. Dan, menjual jiwa baik dirinya sendiri maupun jiwa orang lain dengan kekuatan gaib hitam. Tak pelak lagi bahwa praktek pesugihan dilakukan dengan menempuh jalan sesat untuk kepentingan sesaat.

          Tidak dapat dipungkiri, praktek pesugihan masih ada di era digital sekarang ini. Tentu, pelakunya pun sangat hati-hati, karena kemajuan media sosial semakin berkembang. Sekali ceroboh, maka praktek pesugihan seseorang akan terkuak ke publik. Bisa-bisa, menjadi bahan perundungan dan digeruduk warga. Oleh sebab itu, pelaku pesugihan sangat hati-hati.

 

PESUGIHAN DEWI LANJAR 

          Di tulisan ini, saya akan menceritakan pengalaman yang berhubungan dengan dunia gaib. Kebetulan, tokohnya adalah bapak saya sendiri. Beliau beberapa kali bercerita kepada anal-anaknya tentang dunia pesugihan. Dengan maksud agar tidak terjebak dalam praktek jahat tersebut.

          Karena pengalamannya, bapak saya sangat paham tentang ciri-ciri praktek kotor dan jahatnya pesugihan. Karena, masa mudanya sering tirakat atau puasa. Juga, sering ngalap berkah (berziarah ke makam keramat atau alim ulama).

          Bapak saya sangat benci dengan praktek pesugihan. Alasan yang mendasari adalah adanya tumbal yang harus dipenuhi saat perjanjian dengan makhluk gaib melalui juru kunci. Alhamdulillah, meskipun orang lain mendadak kaya raya karena praktek pesugihan. Bapak saya masih kuat iman dan tidak tergoda, karena tidak mau menjual tumbal keluarga atau orang lain. Namun, alasan yang utama adalah karena dilarang oleh agama.

          Di tahun 1970-an, bapak saya sangat tertarik dengan praktek uang pinjam. Praktek pinjam uang pada makhluk gaib dengan mengembalikan sejumlah uang atau harta sesuai dengan perjanjian di awal. Yang menarik bapak saya adalah tanpa adanya praktek tumbal. Kejadian tersebut saat saya belum lahir, tetapi dua kakak saya pertama (perempuan dan laki-laki) masih kecil-kecil.

          Sejatinya, bapak saya tidak mau melakoninya karena perjanjian tersebut berhubungan dengan makhluk gaib penguasa Pantai Utara Jawa (Dewi Lanjar). Bapak saya sering menyebutnya “Ibu Haji”. Karena, menurut cerita, Dewi Lanjar adalah nama lain dari Hj. Siti Hadijah yang berguru pada Syekh Asnawi bin Abdulrahman Al-Bantani. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa sejatinya Dewi Lanjar adalah nama lain dari Dewi Rantam Sari. Dia adalah salah satu dari 28 abdi Gusti Kanjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan).

          Adapun disebut Dewi Lanjar karena Ibu Haji tersebut adalah seorang janda yang ditinggal suaminya. Di mana, suaminya seorang nelayan yang meninggal di lautan. Menurut saya, mungkin kejadian inilah yang membuat Ibu Haji ingin menjadi penguasa Laut Jawa.

          Percaya atau tidak, tidak mudah untuk bisa bertemu dengan makhluk penguasa Pantai Utara. Menurut bapak saya, hanya orang pilihan yang akan memenuhi permintaannya. Salah satunya selalu berbuat baik dan rajin puasa menurut penerawangan juru kunci dan Ibu Haji itu sendiri.

          Perlu diketahui bahwa tempat gaib yang menuju langsung ke istana Ibu Haji atau Dewi Lanjar terdapat di Pantai Slamaran, dekat dengan Pantai Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan Jawa Tengah. Bahkan, Jembatan Kali Loji yang berada di kawasan Panjang Wetan disinyalir sebagai tempat angker. Kenapa?


 

Kali Loji (Sumber Radar Semarang) 

 

          Banyak kejadian aneh seperti orang hilang di kawasan tersebut. Bagi paranormal atau anak indigo akan memahami bahwa jembatan Kali Loji tersebut merupakan pintu gerbang atau akses menuju istana Dewi Lanjar. Makanya, orang yang hilang tersebut kerap ditemukan di kawassan pantai Slamaran. Maka dari itu, orang-orang yang hendak melakukan praktek pesugihan dan berhubungan dengan Dewi Lanjar akan dipandu juru kunci di Pantai Slamaran tersebut.


 

Pantai Slamaran Pekalongan (Sumber: antvklik.com) 

 

UANG PINJAM 

          Seperti telah dibahas di atas, bapak saya tidak ingin berhubungan dengan Dewi Lanjar. Karena, akan berhubungan dengan praktek pesugihan. Namun, karena iming-iming atau rayuan pihak lain bahwa praktek uang pinjam gaib tidak akan meminta tumbal. Maka, bapak dan ibu saya pun terpaksa melakukan perjanjian dengan Ibu Haji atau Dewi Lanjar dengan nama UANG PINJAM GAIB.

          Tentu, uang pinjam gaib tersebut harus dikembalikan sesuai kesepakatan awal. Di antaranya, bapak saya wajib membangun sebuah masjid, memberi makan fakir miskin, dan lain-lain yang membuat bapak saya sangat antusias. Karena, uang pinjam tersebut akan dikembalikan dalam bentuk amal dan kebaikan.

          Bapak saya begitu bahagia karena akan kaya mendadak dengan alasan tanpa mengorbankan tumbal dan tidak keluar dari ajaran agama. Di malam jumat kliwon sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Bapak dan ibu mempersiapkan segala ube rampe (sesajian). Menyiapkan lemari kosong dan terbuka pintunya sebagai tempat uang.

          Dan, bapak saya mengatakan dengan semangat bahwa Ibu Haji akan datang sesuai dengan apa yang dijanjikan, yaitu tepat pukul 00.00 dengan mengendarai kereta kencana. Tentu, bunyi kereta kencana tersebut hanya akan didengar oleh bapak dan ibu saya. Orang lain tidak akan tahu keberadaan Ibu Haji tersebut, karena sifatnya makhluk astral.

          Sungguh, Ibu Haji datang tepat waktu sesuai dengan apa yang dijanjikan. Serta, Ibu Haji datang dengan membawa uang dengan jumlah yang fantastis. Bapak dan Ibu saya menghitungnya dengan hati-hati, yang jumlahnya hingga 1 miliar. Jika disetarakan dengan nominal uang sekarang, maka nominalnya kurang lebih 100 miliar. Uniknya, uang tersebut bisa dihitung dalam semalam. Konon, bapak saya sampai tidak mampu memasukan semua uang ke dalam lemari besar yang tadinya kosong.

          Seperti manusia biasa, maka mendapatkan kekayaan yang super wah akan bahagia. Namun, di saat bapak dan ibu saya selesai menghitung, Ibu Haji kembali mengingatkan persyaratan dan kewajiban kembalinya uang pinjaman gaib tersebut. Sungguh kaget bapak saya, ketika Ibu Haji mengatakan yang di luar dugaan.

 

“Bapak, jangan lupa uang pinjamannya, harus dibalikan tepat waktu. Lagi, anakmu yang laki-laki itu dipelihara dengan baik. Minta apa saja dikasih, karena suatu saat akan saya bawa”

 

          Mendengar kalimat Ibu Haji, spontan bapak saya menyadari bahwa Ibu Haji akan meminta tumbal anak laki-laki (kakak saya yang sekarang menjadi Kepala Sekolah Pelayaran di Palabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat). Padahal, bapak saya lagi sayang-sayangnya punya anak laki-laki. Tidak mau kehilangan dengan cara apapun, kecuali kematian oleh Allah SWT.

          Saat itu juga, bapak dan ibu saya tidak terima dan memarahi Ibu Haji. Bapak tidak terima kalau Ibu Haji mengingkari janji yang telah disepakati sejak awal. Karena, awal perjanjian awal hanyalah UANG PINJAM bukan praktek pesugihan yang memakan tumbal anak sendiri.

          Tanpa buang waktu, bapak saya membuang semua ube rampe atau sesajian, dan membatalkan semua perjanjian yang telah dilakukan. Dan, bapak saya pun mengusir tamu gaibnya itu.

 

UANG DI LEMARI HILANG 

          Aneh, sejak kepergian Ibu Haji dengan kereta kencananya itu, uang miliaran yang memenuhi lemari besar dan kosong hilang seketika. Sejak saat itu, bapak saya sangat benci dengan namanya praktek pesugihan. Karena, menurut bapak saya bahwa praktek pesugihan akan selalu memakan tumbal. Baik dari keluarganya sendiri maupun dari orang lain.

          Saya bersyukur, karena bapak saya tidak jadi meneruskan praktek UANG PINJAM tersebut. Meskipun, menurut cerita bapak dan ibu saya, satu persatu 2 kakak cewek (yang lahir setelah kakak laki-laki saya) dan 1 adik laki-laki saya (konon meninggal tidak wajar).

          Oleh sebab itu, saya menjadi orang yang diapit oleh 2 kakak dan  1 adik  yang sudah meninggal dunia. Menurut, kepercayaan orang Jawa harus “diruwat” untuk menghilangkan hal-hal buruk atau kesialan hidup.

          Namun, saya hanya percaya kepada Allah SWT. Dialah Yang Maha Membolak-balikan keadaan. Dan, dari pengalaman bapak saya waktu dulu, menjadi pelajaran berharga bahwa apapun kesulitan dalam hidup anda. Praktek pesugihan bukanlah cara mudah yang harus ditempuh. Anda bukan hanya menyekutukan Allah SWT, tetapi SUNGGUH risikonya sangat tinggi.

          Percayalah, harta yang diperoleh selain tidak halal dan barokah, juga tidak sebanding dengan kesengsaraan yang anda alami dan tujuh keturunan anda.  Maka, di saat kesulitan hidup mendera anda, cara yang paling indah adalah MENDEKATLAH KEPADA ALLAH SWT DALAM IBADAH DAN DOA. Semoga bermanfaat buat anda. 


No comments:

JNE Deklarasikan Hari Bahagia Bersama Sejak Tanggal 7 September 2021

  Talkshow tentang Hari Bahagia Bersama (Sumber: JNE)                     “Berbagi, Memberi dan Menyantuni”               Tiga kata muja...