Sunday, September 26, 2021

CERITA ANGKER MAKAM KEDAWUNG YANG BIKIN MERINDING

 

Makam Kedawung yang berada di sebelah timur jalur Pejagan – Ketanggungan Brebes, Jawa Tengah (Sumber: Info Ketanggungan dan Sekitarnya/FB)

 

          “Singkur”

 

          Satu kata yang pantas disematkan buat Makam Kedawung. Makam tersebut berada di jalur Pejagan - Ketanggungan Brebes Jawa Tengah. Secara wilayah, maka Makam Kedawung masuk dalam wilayah Kecamatan Ketanggungan.

          Kata “Singkur” yang berarti angker. Kalau orang Jawa Tengah bagian timur seperti Solo, Semarang, dan Jawa Timur, lebih familiar menyebutnya “wingit”. Keangkeran Makam Kedawung sudah terkenal sejak saya masih kecil. Namun, karena jarak yang jauh dengan rumah saya, kekira 8 km. Maka, saya pun tidak pernah merisaukan kondisi angker Makam Kedawung tersebut. Bapak saya pun sering berpesan kepada anak dan saudaranya tentang keangkeran Makam Kedawung.

 

“Kalau lewat Makam Kedawung diusahakan jangan pas dhuhur atau mau maghrib. Bahaya, karena sering ada penampakan mengerikan di makam tersebut”.

 

          Saya masih ingat, ketika awal tahun 90an. Rumah saya mengalami musibah banjir selama 3 hari. Untung, banjir di dalam rumah hanya setinggi mata kaki orang dewasa. Ternyata, banjir tersebut terjadi karena luapan air dari waduk Malahayu. Yang mengalir melalui sungai  yang dekat dengan tempat tinggal saya, kekira 500 meter. Dan, perlu diketahui bahwa jalur sungai tersebut melewati “persis” di samping Makam Kedawung.

          Saat itu, bapak saya pernah ngomong. Entah, serius atau guyon. Namun, selama hidupnya, saya tidak pernah bapak bicara guyon untuk hal-hal yang berbau horor. Bapak menyatakan secara spiritual, bahwa banjir dikarenakan ada siluman ular raksasa yang membendung air sungai. Yang lokasinya, persis di timur Makam Kedawung. Benar atau tidaknya, hanya Allah SWT Yang Maha Tahu.

 

BELANJA BUKU P4 DAN GBHN

  

          Area bermain saya waktu kecil, paling jauh sekitar satu gang sebelah selatan dan utara gang tempat tinggal saya. Namun, ada kejadian yang saya ingat hingga sekarang adalah kekira tahun 1988 lalu. Saat itu, pasar yang ramai dan dekat dengan tempat tinggal hanya satu yaitu Pasar Ketanggungan.

          Ketika saya duduk di kelas 5 SD, saya dipercaya sekolah untuk mewakili Lomba Cerdas Cermat P4 di tingkat Kecamatan Tanjung. Saya dan dua teman saya pun digembleng untuk memenangkan lomba bergengsi waktu itu. Maka, untuk memahami berbagai pengetahuan tentang P4 dan GBHN. Saya berusaha untuk membeli secara swadaya buku tentang P4 dan GBHN terbaru. Untuk menghemat biaya, maka saya berniat untuk membeli buku yang ukuran saku.

          Untuk mendapatkan buku tersebut, maka bisa diperoleh dengan membeli di sebuah toko buku terkenal dekat Masjid Jami Ketanggungan. Entah, sekarang masih ada atau nggak, saya belum mendapatkan infonya. Karena, saya jarang mudik ke Brebes.

          Berbekal sepeda tua milik Bapak, saya pun beranikan diri untuk belanja buku P4 dan GBHN tersebut. Jarak rumah ke toko buku kurang lebih 10 km. Iseng-iseng ngabuburit sambil menunggu buka puasa. Saya berangkat dari rumah sehabis sholat ashar, sendirian. Saya pun memprediksi agar bisa sampai rumah tepat waktu buka puasa.  

          Jujur, saat itu saya masih ingat bahwa Makam Kedawung sangatlah angker. Tetapi, karena suasana masih cerah, maka saya pun beranikan diri. Perlu diketahui bahwa Makam Kedawung memang tergolong unik saat itu. Makam terletak pinggir jalan, tetapi suasananya benar-benar mistis. Saya melihat seperti kawasan makam yang terlihat lembab dan gelap. Karena, dipenuhi dengan pepohonan. Jadi, sinar matahari pun tak leluasa menyinari kawasan makam.

          Apalagi, ketika melewati Makam Kedawung dengan angkutan desa. Saya belum pernah melihat aktifitas di makam itu. Seperti, pemakaman orang yang baru meninggal. Atau, orang-orang yang berziarah ketika mau malam Jumat. Itulah yang memberi kesan saya, bahwa makam tersebut seperti makam peninggalan jaman dulu. Terlantar dan tidak dikelola oleh juru kunci.

          Percaya atau tidak, ketika melewati Makam Kedawung, pikiran saya berkecamuk tidak karuan. Tidak disangka, bulu kuduk merinding dan berdiri dengan semangat empat lima. Bahkan, saya tidak berani untuk menatap kondisi makam. Ketika, saya asik mengayuh sepeda. Begitu horornya Makam Kedawung di pikiran saya saat itu.

          Tidak disangka, buku P4 dan GBHN tidak ada di tempat toko buku yang terkenal itu. Oleh sebab itu, saya harus berkeliling menyusuri beberapa toko yang menjual buku yang saya cari. Akhirnya, buku yang saya inginkan bisa diperoleh,  20 menit menjelang sholat maghrib atau buka puasa.

          Jujur, pikiran saya bingung tujuh keliling. Membayangkan horornya, ketika melewati Makam Kedawung. Meskipun, kondisi sedang genting mental, saya pun beranikan diri untuk pulang. Dengan catatan, mengikuti orang dewasa yang naik sepeda ke arah jalan pulang.

 

“Pak, naik sepedanya barengan yah. Saya takut pak kalau pas lewat Makam Kedawung”.

 

          Itulah kalimat polos yang saya katakan pada seorang bapak. Ketika, hendak pulang ke Pejagan. Bapak tersebut memahami kegundahan saya. Karena, angkernya Makam Kedawung sudah terkenal. Bersepeda di belakang bapak-bapak, membuat rasa takut saya pelan-pelang menghilang.

          Sungguh, di luar dugaan bahwa di tengah perjalanan, sebelum melewati Makam Kedawung. Bapak tersebut bertemu dengan temannya, dan berhenti untuk mengobrol. Kalau saya harus menunggu pembicaraan mereka, maka belum dipastikan kapan selesainya. Maka, saya pun nekad melanjutkan perjalanan karena takut telat buka puasa. Juga, takut menjadi masalah orang tua di rumah.

          Rasa dag dig dug semakin bertambah lajunya mendekati Makam Kedawung yang semakin gelap. Sungguh, bulu kuduk langsung tegang seketika. Ketika, melihat penampakan, maaf, orang hitam bertubuh tinggi besar yang berdiri dengan santuy di sebuah pohon besar nan rindang. Matanya tajam melihat saya, saat saya tidak sengaja mencuri pandang melihat kawasan Makam Kedawung.

          Saya berdoa sebisanya. Dan, mengayuh sepeda seperti kesetanan. Untung, transportasi belum begitu banyak saat itu. Jadi, saya tidak takut menabrak kendaraan lain. Ngeri, saya tidak melihat seorang pun pengendara yang lewat. Sunyi dan senyap. Gaya mengayuh sepeda sambal berdiri pun saya lakukan, untuk mempercepat laju sepeda.

          Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mengatur nafas dengan baik. Setelah, Makam Kedawung semakin jauh dari pandangan mata. Pengalaman mengerikan “dikatoni” (ditampakkan wujudnya) makhluk halus penghuni.

 

CERITA HOROR TUKANG OJEK DAN BECAK

 

          Keangkeran Makam Kedawung sering menjadi pembicaraan hangat para tukang ojek. Yang sering mangkal, di pertigaan jalan raya Pejagan. Di mana, para tukang ojek tersebut sering membawa para perantau yang hendak pulang atau berangkat ke Jabodetabek. Biasanya, para penumpang ojek berasal dari desa-desa yang masuk dalam kawasan Kecamatan Ketanggungan.  

          Cerita horornya pun unik-unik. Ada tukang ojek yang pernah diganggu saat melewati Makam Kedawung. Yaitu, lampu sepeda motor mendadak mati dan motor sulit berjalan. Ada pengalaman yang mengerikan, yaitu tukang ojek dibelokan oleh makhluk halus yang nakal ke arah Makam Kedawung.

          Bahkan, yang paling mengerikan adalah pengalaman tukang becak yang habis mengantarkan penumpang dari Pejagan ke Ketanggungan. Sepulangnya dari Ketanggungan, becak yang ia kayuh terasa berat saat depan Makam Kedawung.

          Padahal, penumpang tidak ada. Ternyata, yang bikin berat becak adalah penumpang gaib yang naik tanpa ijin. Wanita berbaju putih ala Kuntilanak membuat takut sang pengayuh becak. Saking takutnya, becak tersebut ditinggal pergi begitu saja. Ia pun lari terbirit-birit ke arah perkampungan penduduk terdekat.

 

TABRAKAN TRAGIS

 

          Meskipun, jaman telah berganti. Kondisi jalan Pejagan - Ketanggungan makin dipenuhi penduduk. Tetapi, keangkeran Makam Kedawung tidak lekang dimakan waktu. Saya mendapatkan foto profil di atas, tampak Makam Kedawung  tidak jauh berbeda. Dan, tampak pohon besar itulah, saya pernah merasakan sensasinya horor penampakan makhluk besar dan hitam.

          Menurut saya, yang berbeda adalah kondisi jalan raya yang makin mulus. Kondisi kawasan makam juga tidak terlalu gelap. Karena, daun pohon-pohon yang pernah menutupi kawasan Makam Kedawung terlihat berkurang. Dengan kata lain, aura mistis perlahan hilang saat siang hari. Bagaiamana saat malam hari? Tentu, suasana horor tetap ada.

          Beberapa tahun lalu, tepatnya tanggal 27 Oktober 2019, pernah ada tabrakan tragis yang terjadi persis depan Makam Kedawung. Uniknya, kejadian tersebut saat siang hari. Di mana, supir mobil boks yang hilang kendali, dari arah Ketanggungan.

          Sopir mengantuk, dan mobil meluncur dan menabrak pagar Makam Kedawung. Sebelumnya, mobil boks menabrak sepeda motor yang searah dan yang berlawanan. Dari tabrakan tersebut, 4 orang meninggal seketika.

          Percaya atau tidak, banyak gangguan makhluk astral yang berada di sekitar Makam Kedawung. Seringkali, pengendara dibuat mengantuk atau pandangan terganggu. Padahal, kondisi siang hari. Oleh sebab itu, banyak orang menyarankan “untuk mengklakson kendaraan tiga kali terlebih dahulu”. Tindakan ini, konon berguna sebagai permintaan ijin ke makhluk astral. Agar, tidak mengganggu perjalanan manusia.

          Selain berdoa memohon keselamatan kepada Allah SWT. Saya pribadi tidak lupa melakukan aksi membunyikan klakson. Ketika, melewati sebuah jembatan atau kawasan makam. Kita tidak tahu bahwa ada makhluk astral yang merasa terganggu atas ulah kita. Dan, makhluk gaib tersebut berupaya untuk mengganggu perjalanan kita. Tentu, hanya kepada Allah SWT, kita berserah diri dan memohon pertolongan.    


2 comments:

tantiamelia.com said...

Untung waktu masih anak anak ga dibelokkan ke arah makam! Masih kasian kali ya mas atau karena kondisi puasa jadi tidak ada yang berani gangguin

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

Nah, itu mbak. Waktu itu saya juga takut jika dibawa ke alam mereka. Waktu puasa membawa berkah mbak.

Pemahaman Orang Tua untuk Membedakan Antara Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional Demi Tumbuh Kembang Anak

  Webinar Bicara Gizi tentang perbedaan Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional (Sumber: Shutterstock )       ...