Tuesday, September 28, 2021

MERINDING, TIKET BUS DIBAYARIN SOSOK GAIB

 

Ilustrasi tiket bus dibayarin sosok gaib (Sumber: terkini.id)

 

Suatu hari di tahun 1992. Waktu malam sudah menunjukan  pukul 12.00 malam. Ketika saya sampai di terminal Kalideres Jakarta Barat. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dari Pulogadung Jakarta Timur. Saya melihat bus-bus diam tempat, tidak ada yang keluar dari terminal. Mungkin, karena sudah larut malam.

 

 

          Saat itu, saya hendak melakukan perjalanan ke bibi saya yang tinggal di Karang Antu Banten Lama. Jujur, saya belum pernah ke bibi saya sendirian. Pernah sekali bersama bapak waktu SD, naik bus langsung jurusan Brebes - Labuan Merak. Namun, yang saya ingat dari perjalanan bersama bapak, hanyalah alamat bibi saja. Saya ingat terus.

          Saya berniat ke rumah bibi, karena ingin menyambung silaturahmi. Sekaligus, agar bibi tidak lupa saya. Karena, sudah 6 tahun tidak pernah lagi diajak bapak. Sungguh, waktu itu, saya sungguh nekad, berbekal uang seadanya (pakai ilmu perkiraan). Saya tidak tahu bus apa yang saya naiki, dan tidak tahu berapa harga tiket yang harus saya bayar.

          Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, bus yang hendak saya tumpangi hendak keluar terminal. Saya dikasih tahu sama orang yang menjual minuman di sekitar terminal, agar saya naik yang dimaksud. Saya pun tergopoh-gopoh mengejar bus yang ingin saya tumpangi. Meskipun, saya tidak tahu jelas merek bus tersebut. Hanya disuruh orang yang menjual minuman tersebut.

          Saya melihat dalam bus sudah gelap dan langsung keluar dari terminal. Penumpang hampir memenuhi isi bus. Tetapi, ada satu jalur kursi bus bagian tengah yang terlihat kosong. Saya melihat seperti bapak-bapak paruh baya yang duduk dekat kaca bus. Uniknya, bapak tersebut menempelkan kepalanya di kaca. Entah, tidur atau melihat pemandangan di luar bus.

          Saya tidak tahu jelas, karena bus masih dalam suasana gelap. Hanya sesekali sinar kendaraan yang berasal dari arah berlawanan. Saya pun penasaran, ingin melihat wajah secara utuh bapak yang duduk dekat kaca. Sementara, saya duduk di bagian pinggir. Kami berdua tidak melakukan komunikasi.

          Namun, setelah kurang lebih 15 menit bus berjalan. Bapak tersebut mengajak saya ngobrol. Dia masih menempelkan kepalanya, wajahnya tidak terlihat. Pertanyaannya pun terkesan singkat dan padat. Hanya tanya ke mana, mau apa dan sama siapa. Habis itu suasana kembali hening. Dalam hati, berharap “tidak ditarik bayaran karcis bus”. Saya pun tertidur.

          Saya tidak tahu berapa menit saya tertidur. Setelah bangun, sepuluh menit kemudian, kondektur bus lewat di samping saya. Dia seperti bolak-balik mencari tempat duduk saya. Saya berpikir, dia ingin meminta bayaran tiket bus. Saya pun sudah menyiapkan uang, yang saya siapkan sejak awal mau berangkat ke Kalideres. Saya pun bertanya kepada kondektur bus.

 

          “Berapa pak ke terminal Serang?”

 

          Sang kondektur pun agak bingung atas pertanyaan saya. Saya pun makin bingung.

 

          “Masnya kan udah bayar”

 

          Jawab kondektur singkat. Saya termenung sejenak karena bingung dan kaget. Tetapi, mengucapkan syukur alhamdulilah. Karena, doa saya agar tidak membayar tiket bus terkabulkan. Ketika, kondektur berjalan ke depan bus dalam suasana gelap. Bapak yang masih dalam posisi menempelkan kepala bicara ringan.

 

          “Udah saya bayarin dek, waktu adek tidur”

 

          Saya pun hanya berucap syukur, karena bapak yang baru saya kenal mau membayarkan tiket bus saya. Tetapi, dalam hati bertanya-tanya, kok kata kondektur, yang bayar saya. Sungguh aneh!

          Saya tidak banyak berpikir kejadian barusan. Yang saya pikir adalah saya bisa berhemat ongkos perjalanan. Setelah pikiran tenang, saya pun tertidur. Dan, terbangun saat lampu bus menyala. Ternyata, bus tersebut berhenti sebentar karena mengganti ban. Yang aneh, saya justru tertidur sendirian di bus. Sementara, penumpang lainnya turun semua. Mungkin, sambil relaksasi badan.

          Rasa penasaran saya pun muncul lagi. Ketika, bus mulai berjalan. Sementara, penumpang bapak-bapak yang ada di samping saya tidak terlihat. Tanpa malu-malu, saya pun bertanya sama kondektur, ketika dia melewati tempat duduk saya.

 

          “Maaf pak, bapak yang duduk di sini sudah turun di mana?”

 

Jawab sang kondektur membuat saya kaget. Dan, hampir tidak percaya.

 

“Bapak siapa mas, dari Kalideres kan cuma mas saja yang duduk di sini. Tuh lihat, penumpang masih penuh, mau turun di Serang ama di Merak”

 

          Saya pun celingak-celinguk lihat penumpang. Mereka seperti keheranan melihat saya. Mungkin, mereka kira saya sedang ngelindur. Loh, yang duduk sama saya siapa? Pikir saya. Detak jantung saya makin kencang, karena saya merinding atas kejadian yang baru saya alami.

          Sosok gaib telah nyaru (menyamar) jadi penumpang bus. Meskipun, dalam suasana takut. Saya bersyukur, sosok gaib tersebut telah berbaik hati membayar tiket bus saya. Mungkin, ini kehendak Allah SWT, saat saya sedang mengalami kebingungan. 


4 comments:

tantiamelia.com said...

wah di tengah ramainya orang! selalu berdoa ya mas

MENJADI HAMBA TUHAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN said...

Wah, sosok gaibnya pengin ngerasain naik bus.

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@tantiamelia: benar mbak, doa mesti kapan pun dan di mana pun.

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@MENJADI HAMBA TUHAN : SOSOK GAIB IKUT NARSIS.

Pemahaman Orang Tua untuk Membedakan Antara Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional Demi Tumbuh Kembang Anak

  Webinar Bicara Gizi tentang perbedaan Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional (Sumber: Shutterstock )       ...