Tuesday, September 28, 2021

TEROR SUARA GAIB DI MALAM JUMAT KLIWON

 


Ilustrasi teror suara malam jumat kliwon (Sumber: pixabay.com)

 

 

          Sekitar tahun 2004, saya berkesempatan untuk menyambangi kota Surabaya. Karena, ada keperluan belanja barang di sebuah pusat perdagangan terkenal di Surabaya. Saya berangkat dari Kota Ngawi sekitar pukul 08.00. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Sampai di tempat yang dituju sehabis sholat dhuhur.

          Sesampainya di lokasi tujuan, saya pun langsung berkeliling menjelajahi setiap lantai pusat perbelanjaan tersebut. Mencari barang yang sekiranya cocok dijual. Lumayan, bisa membuat dapur tetap ngebul, Akhirnya, pandangan saya tertuju pada sebuah produk komunikasi telepon wireless di sebuah grosir besar. Yang menurut saya, bisa booming untuk dipasarkan.

          Saya dan pemilik grosir pun akhirnya melakukan nego harga. Saya pun setuju untuk belanja produk tersebut dengan jumlah tertentu. Namun, ternyata jumlah produk yang saya inginkan tidak mencukupi. Pihak pemilik grosir pun berjanji bahwa keesokan harinya barang bisa siap sedia.

          Terpaksa, saya meski menginap di Surabaya. Daripada bolak-balik Ngawi-Surabaya. Bukan hanya capai badan tetapi waktu dan uang juga terbuang. Bukan itu saja, saya pun punya kesempatan untuk jalan-jalan malam hari di kota Surabaya.

          Selanjutnya, untuk menekan pengeluaran, saya berniat mencari penginapan yang murah meriah. Dengan alasan, hanya buat tidur saja, ngapain yang mahal-mahal. Maka, saya pun berkeliling di sekitaran alun-alun tugu pahlawan. Dengan tujuan, saat santai bisa sekalian jalan-jalan. Namun, ternyata tarif hotel yang ada di sekitaran lokasi terbilang mahal pada saat itu.

          Maka, dengan terpaksa, saya mencari penginapan atau losmen. Dan, akhirnya bisa mendapatkan penginapan layaknya losmen, yang benar-benar murah. Losmen tersebut terletak tidak jauh dari bantaran sungai. Losmen yang mempunyai banyak kamar yang layaknya kos-kosan. Arsitektur losmen tersebut terbilang jadul. Tampilannya seperti bangunan gaya tempo dulu.

          Saya tidak berpikir macam-macam. Yang penting bisa tidur nyenyak, dan besok bisa dapatkan barang yang saya inginkan. Selanjutnya, pulang ke Ngawi, gitu aja pikiran saya.

          Udara panas Surabaya membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan, saking “sumuknya”, saya sampai mandi tiga kali malam itu. Dan, saya baru ingat bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon.

          Kamar penginapan yang tanpa AC dan kipas membuat saya gelisah. Namun, lantai kamar yang terbuat dari tegel membuat sedikit dingin ruangan. Sesekali, saya rebahan di lantai untuk menghilangkan rasa gerah.

          Yang menarik, lampu kamar dan kamar mandi justru dari lampu yang menyala warna kekuning-kekuningan. Jadi, meskipun dalam kondisi nyala, ruangan terasa seperti remang-remang ala warung kopi .

          Menjelang pukul 12.00 malam saya belum bisa memejamkan mata. Padahal, badan saya terasa lelah, setelah setengah hari berjalan. Saya berusaha memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Entah, apa yang membuat saya gelisah malam itu.

          Tanpa terasa, saya pun ketiduran di tempat tidur yang mempunyai kasur berisi kapuk randu. Saya merasakan nyenyak sekali tidur malam itu. Tetapi, menjelang pukul 03.00, rasa nyenyak tidur saya terganggu. Saya seperti mendengar langkah banyak orang mendekati saya.

          Saya berpikir bahwa suara tersebut berasal dari suara lain di luar penginapan. Namun, dalam keheningan malam, suara itu semakin jelas terdengar. Saya mencoba mencari asal suara tersebut. Berusaha untuk mendekatkan telinga saya ke tembok. Sayup-sayup saya juga mendengar suara mengerikan lain. Seperti orang (entah laki atau wanita) yang sedang menangis.

          Saya menyadari bahwa kamar sebelah terlihat sepi dan tertutup pintunya. Sejak, saya memasuki kamar saya. Saya pun bertanya dalam hati, “masa sih, malam-malam ada orang menangis”.

          Saya mengacuhkannya suara yang sangat mengganggu tersebut. Tetapi, suara tersebut terdengar jelas, hingga menjelang sholat shubuh. Saya mencoba tidur, tapi tidak bisa. Karena, rasa takut saya masih membayang, Setelah berdoa dan berdzikir, saya pun mencoba berkomunikasi seperti ada lawan bicaranya.

 

“Mbah, Bapak, ibu, mas utawi mbak. Nyuwun sewu nggih, Kulo amung numpang sare dateng mriki. Tujuan kulo mboten bade ngganggu alamipun panjenengan. Panjenengan lan kulo nggih makhlukipun Gusti Allah SWT. Laa haula wala quwwata illa billah. Ndang sumingkir nggih. Monggo, kulo bade sare, sepindah malih kulo bade sholat Shubuh. Allahu Akbar”

(Mbah, Bapak, ibu, mas atau mbak. Mohon maaf ya, saya hanya numpang tidur ke sini. Tujuan saya nggak mau ganggu alam kalian. Kalian dan saya sama-sama makhluk Gusti Allah SWT. Laa haula wala quwwata illa billah. Buruan pergi ya. Silakan, saya mau tidur, sekali lagi saya mau sholat Shubuh. Allahu Akbar”)

 

          Layaknya di film-film horor. Sang pengganggu malam saya tersebut bersedia untuk tidak mengganggu. Namun, yang menjadi aneh, terdengar suara seperti tembok digedor-gedor keras berkali-kali. Entah, mereka marah atau memberikan pertanda bahwa mereka gelo (menyesal) tidak bisa mengganggu saya.

          Setelah tembok kamar digedor berkali-kali, lambat laun suara mengerikan tersebut menghilang. Menyusul suara adzan bersahut-sahutan di luaran sana. Alhamdulillah, teror malam Jumat pun berhenti. Namun, rasa merinding masih terngiang hingga kini.  


1 comment:

MENJADI HAMBA TUHAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN said...

Bikin merinding. Apalagi, kalau temboknya sampai jebol. Kan, amsyong.

Pemahaman Orang Tua untuk Membedakan Antara Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional Demi Tumbuh Kembang Anak

  Webinar Bicara Gizi tentang perbedaan Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional (Sumber: Shutterstock )       ...