Showing posts with label Driver Ojol. Show all posts
Showing posts with label Driver Ojol. Show all posts

Sunday, November 14, 2021

KASUS GACOAN KOTABARU, SIAPA SALAH?

 

Kasus keributan di Restauran Gacoan Kotabaru Yogyakarta (Sumber: @merapi_uncover.screenshot)

 

          Hari ini, Kata GACOAN menjadi trending di jagat Twitter. Kasus yang menghebohkan di Jogja Istimewa. Kasus keributan yang melibatkan driver ojol dan karyawan Restoran Gacoan berlangsung tanggal 13 November 2021 kemarin hingga dini hari.

          Saya pribadi mengakui bahwa Restoran Gacoan menjadi restoran yang tetap ramai menerima pelanggan. Baik untuk menikmati secara offline dan online. Beruntung sekali, setiap saya memesan offline untuk take order di Gacoan kawasan Teuku Umar Barat, tidak mengalami antrian yang mengular. Hanya membutuhkan waktu antara 15-20 menit.

          Namun, membaca berita kasus Gacoan Kotabaru Yogyakarta yang trending menyisakan kepediahan, betapa pedihnya kehidupan masyarakat saat Pandemi Covid-19. Dalam opini saya artikel ini, saya tidak akan berpihak di salah satu sisi. Karena, kedua belah pihak, bisa dikatakan sama-sama benar dengan alasan yang menguatkan.

 

SISI DRIVER OJOL

          Menurut berita yang saya baca secara seksama di timeline Twitter, kasus Gacoan Kotabaru ini bermula dari antrian yang sangat panjang. Dari kondisi ini, saya merasakan, betapa sabarnya driver ojol untuk memenuhi permintaan pelanggan secara online.

          Dari sisi driver ojol, pelayanan yang prima, cepat dan akurat akan memberikan penghargaan di ranah digital. Pelangaan akan dengan senang hati memberikan penilaian review dengan bintang 4 atau 5. Hal ini akan membuat driver ojol menjadi driver yang dipercaya pelanggan dan perusahaan ojol itu sendiri. Bahkan, driver ojol yang bersangkutan akan mudah mendapatkan banyak pelanggan. Tentu, muaranya masalah penghasilan driver ojol untuk menghidupi keluarganya.

          Jujur, saya adalah tipe yang paling sabar dalam menunggu pesanan online. Saya merasakan bagaimana kinerja ojol yang baik untuk berusaha menyenangkan pelanggannya. Jadi, saya sering menunggu hingga 1 jam untuk menunggu pesanan datang. Saya menganggap bahwa tidak ada driver ojol yang ingin mengecewakan pelanggan. Makanya, saya selalu memaklumi, apapun kondisinya.

          Bahkan, saya selalu mendoakan driver ojol agar diberikan rejeki berlimpah. Meskipun, seringkali mood untuk menikmati kuliner pesanan online menjadi hilang. Tetapi, saya berusaha seandainya saya menjadi mereka (driver ojol). Mereka pasti ingin berbuat terbaik untuk keluarga, pelanggan dan masa depan ekonominya.

          Nah, masalahnya adalah tidak semua pelanggan yang belanja kuliner secara online mau bersabar dan memahami kinerja sang driver ojol. Banyak pelanggan yang belum bisa memahami kondisi nyata di lapangan. Salah satunya adalah antrian panjang yang mengular.

          Sementara, pelanggan di rumah atau di kantor maunya, “saat itu pesan, dan tidak lama pesanan datang di hadapan mereka”. Padahal, kenyataannya, sang driver ojol berjuang dengan mengantri, bersabar dan deg-degan jika pesanan begitu lama. Hal yang paling menakutkan driver ojol adalah pesanan sudah tercatat. Maka, driver ojol harus menanggung tagihan pesanan pelanggan terlebih dahulu.

          Kondisi semakin mengecewakan, ketika pesanan belum juga jadi. Tahu-tahu, sang pelanggan nun jauh di sana “meng-cancel” pesanannya. Ibarat pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga dan masuk ke mulut buaya. Sungguh, menyakitkan.

          Jika driver ojol dalam kondisi keuangan yang pas-pasan, berharap untuk mendapatkan pemasukan. Tetapi nyatanya, uang yang ada untuk membeli pesanan pelanggan, yang tidak dibutuhkan. Dengan kata lain, driver ojol rugi bandar, karena harus membayar tagihan pesanan pelanggan yang gagal.

          Saya merasakan sekali bahwa siapapun dalam kondisi yang menghimpit ini, akan merasakan sangat kecewa. Itulah sebabnya, kondisi driver ojol di antrian Gacoan Kotabaru menunjukan emosinya. Ketika, pesanannya di-cancel pelanggan karenan pesanan lama datang. Bahkan, menurut berita yang trending, sampai menendang kursi restoran Gacoan.

 

SISI KARYAWAN GACOAN

          Dan, mari kita analisa dari sisi karyawan. Hal yang pertama yang harus dilakukan saat kondisi pesanan mengular. Dan, karyawan seperti keteteran, jika saya sebagai owner atau manajemen atas berpikir manusiawi. Ingat, karyawan pun manusia, bukan robot.

          Ketika, pesanan mengular dan karyawan kelabakan, celakanya owner atau manajemen atas justru berpikir bagaimana caranya mendulang keuntungan setinggi mungkin. Jika ada kesempatan besar, kenapa harus ditinggalkan. Mungkin, itulah pikiran yang ada di benak owner atau manajemen atas. CMIIW.

          Bahkan, bukan rahasia umum, bahwa kinerja karyawan pun ditarget. Apalagi, jika target melebihi, maka karyawan akan mendapatkan bonus lebih. Makanya, saat pesanan mengular, kondisi tersebut bagai dibiarkan. Bila perlu kondisi mengular tersebut berlangsung setiap hari. Kan, cuan makin mengembang.

          Namun, harapan owner atau manajemen atas untuk mendulang cuan lebih banyak, belum bisa diimbangi dengan kemampuan kinerja karyawan. Untuk meng-cover pesanan pelanggan yang mengular. Saya selalu mengamati kinerja karyawan yang di dapur ketika memesan secara offline. Mereka terlihat super sibuk untuk menyiapkan pesanan pelanggan. Saya memakluminya.

          Oleh sebab itu, karyawan seharusnya diajarkan nilai kesabaran menghadapi pelanggan yang berbeda karakter. Jika, pesanan sangat membludak. Manajemen risiko atau manajemen konflik harus dipahami benar-benar, jika terdapat komplain pelanggan yang tidak mengenakan hati.

          Jujur, masalah manajemen pelanggan ini bukanlah masalah gampang. Perlu pembelajaran lebih dalam. Saya sendiri pernah bergelut di jajaran managerial lebih dari 10 tahun di dunia marketing. Saya sangat memahami, jika ada pelanggan yang tidak terduga melakukan hal yang sangat menakutkan.

          Dari kasus Gacoan Kotabaru, saya memahami bahwa 6 karyawan Gacoan Kotabaru melakukan pengeroyokan ke driver ojol yang sangat emosi. Karena, driver ojol mengalami cancel pesanan pelanggan. Selanjutnya, driver ojol lain atas nama satu profesi dan solidaritas, melakukan tindakan bantuan. Tidak bisa dibayangkan, aksi keributan driver ojol dan karyawan tersebut terjadi bagai api disulut bensin. Langsung berkobar seketika.

          Saya sangat menyayangkan tindakan karyawan Gacoan Kotabru yang tersulut emosi. Yang akhirnya terjadi keributan yang tidak disangka-sangka. Andai saja, karyawan tersebut mampu memanajemen emosinya, maka keributan tidak akan terjadi.

          Tetapi, saya pun tidak menyalahkan karyawan. Saya memahami bahwa tekanan pekerjaan yang begitu berat akan mudah sensitif. Beban target pekerjaan dan mungkin masalah keluarga yang berat di masa pandemi bisa menjadi pemicunya. Semua harus ditelusuri secara mendalam. Biarkan pihak yang berwajib yang mengurusi masalah tersebut.

          Jadi, siapa yang salah dalam kasus keributan tersebut. Saya katakan TIDAK ADA YANG SALAH. Karena, saya bukan pihak yang kompeten untuk masalah ini. Namun, yang menjadi catatan besar adalah perlunya kedua pihak untuk mengelola emosi di manapun.

          Karena, kondisi yang tertekan mudah tersulut dengan hal-hal yang sensitif. Sang driver ojol perlu memahami segala kemungkinan terburuk, seperti cancel pesanan pelanggan. Sama halnya dengan karyawan Gacoan juga harus menjadi pribadi yang tetap ramah tamah, dalam menghadapi pelanggan yang mempunyai berbagai karakter.

          Ingat, bisnis apapun itu sejatinya bisnis manusia. Maksudnya, siapapun yang mampu menjangkau hati pelanggan, dialah pemenang. Tidak ada salahnya kan, karyawan mengatakan dengan baik-baik ke semua pelanggan, KAMI MOHON MAAF JIKA PELAYANAN PESANAN ANDA TERLAMBAT. SEKALI LAGI KAMI MOHON MAAF. Dan, driver ojol pun bisa mengatakan dengan baik, MAAF MAS, MBAK, APAKAH PESANAN SAYA SUDAH JADI? 

        Bagaiamana dengan Owner atau manajemen atas? Saya berharap besar jika ada kebijakan Owner atau manajemen atas bisa mengganti kerugian driver ojol. Mungkin, bisa mengganti separo pembayaran pesanan pelanggan yang cancel. Bagaimana menurut anda?          

          

Wednesday, April 8, 2020

Driver Ojol, Sosok yang Kuat dan Tangguh

Driver Ojol pekerja informal yang terkena imbas dari kebijakan PSBB (Sumber : @casmudi.vb/Instagram)



"Apa sih hebatnya driver Ojol?". 

         Pertanyaan itu terlintas dalam pikiran saya, ketika Pemprov DKI Jakarta akan memberlakukan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) ta1ggal 10 April 2020 mendatang. Pekerja informal seperti Driver Ojol adalah contoh nyata yang akan langsung terkena imbas dari kebijakan tersebut. Meskipun, masih banyak para pekerja informal lainnya yang bekerja di luar rumah, akan terkena imbas kebijakan PSBB.

Objek Konten

          Driver Ojol selalu menjadi pembahasan menarik. Jujur, mereka adalah salah satu sosok yang kuat dan tangguh. Anda pasti tahu bahwa sejak driver Ojol muncul di negeri ini, keberadaan mereka dimusuhi oleh tukang ojek konvensional yang biasa ngumpul di pangkalan. Tukang Ojek pangkalan beranggapan bahwa driver Ojol bisa merebut rejeki (penumpang). Bahkan, kasus kekerasan terhadap driver Ojol sering kali terjadi. Apakah driver Ojol berhenti bekerja? Tidak, karena menjadi driver Ojol menjadi ladang atau mata pencahariannya.

           Driver Ojol juga menjadi objek pemberiataan di media sosial atau media online. Ketika, oknum driver Ojol yang tidak bertanggung jawab melakukan tindakan kejahatan. Seperti perampokan atau pelecehan seksual terhadap penumpangnya. Serta, driver Ojol menjadi bulan-bulanan penumpang yang "tidak manusiawi" dengan memberikan Bintang 1. Ketika, pelayanan driver Ojol dirasa tidak menyenangkan. Jangan kaget, jika para driver Ojol hanya berharap penghargaan dari penumpang untuk memberikan bintang lima (5) di apliaksi. 

        Bagi mereka, penumpang yang memberikan bintang lima, membuat mereka merasa dihargai kinerjanya. Kita merasakan bahwa mereka juga manusia. Mereka berusaha untuk bekerja sebaik mungkin melayani penumpangnya. Bahkan, mereka akan tersenyum dan mendoakan kita berkali-kali jika penumpang memberikan bayaran lebih. Saya sendiri sudah terbiasa memberikan bayaran lebih, meski nilainya tidak seberapa buat driver Ojol. Dan, tanpa disangka doa mereka pun muncul seketika, "Terima kasih mas, semoga rejekinya bertambah". Pernahkah kalian tahu bahwa jika doa mereka dikabulkan oleh Sang Pemilik Langit dan Bumi? Percayalah, doa dari orang yang berhati baik akan menjadi berkah anda. 

          Yang menarik, driver Ojol juga menjadi objek prank atau social experiment. Yang dilakukan oleh para content creator atau Youtuber tanah air. Para Youtuber menganggap bahwa kinerja driver Ojol bisa menjadi bahan konten mereka. Dari konten prank yang biasa sampai yang di luar nalar. Demi konten, mereka menghalalkan driver Ojol untuk menjadi bahan tertawaan di kanal Youtube mereka.

          Alih-alih ingin mendapatkan viewers yang melambung tinggi. Juga, menginginkan penghasilan dari Youtube yang gila-gilaan, para Youtuber menjadikan driver Ojol bahan prank hingga mereka menangis bak anak kecil. Karena, pesanan makanan para pengguna aplikasi Ojol mendadak di cancel seketika. Kondisi tersebut justru menjadi bahan perundungan (bullying) para netizen. Tindakan prank tersebut tidak pantas menjadi bahan candaan.

       Setelah driver Ojol menangis dan meratapi kinerja mereka, para Youtuber dengan candaannya menyatakan bahwa kejadian tersebut hanyalah prank atau sekedar hiburan saja. Setelah itu, sebagai penghargaan bagi mereka telah masuk dalam konten Youtubenya, driver Ojol diberi sejumlah uang yang tidak sepadan dengan "goncangan batin mereka". Sementara, para conten creator atau Youtuber dengan senang hati mendapatkan pundi-pundi dari nestapanya driver Ojol. Kata orang Jawa, tindakan Youtuber benar-benar "mbelgedez!"  

Social Experiment dan BLT

         Bahkan, di saat Pandemi Corona ini, driver Ojol masih menjadi bahan social Experiment. Saya memahami bahwa membantu driver Ojol adalah perbuatan mulia. Dibadningkan dengan konten prank di Youtube, maka konten social experiment lebih soft. Mengapa? mereka tidak merasa tersakiti. Justru, para Youtuber sangat peduli dengan memberikan empati kepada driver Ojol yang bekerja di luar rumah dan riskan dengan paparan COVID-19. Sementara, orang-orang dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH), agar penyebaran COVID-19 tidak menyebar lebih luas.

          Namun, dengan konten social experiment yang melibatkan driver Ojol akan menarik banyak viewers di Youtube. Dengan berlandaskan rasa empati, maka tontonan tersebit akan menarik banyak orang yang sedang tinggal di  rumah. Muaranya, Youtuber yang memiliki video tersebut akan menangguk untung besar, bukan? Itulah sebabnya, konten social experiment terlihat lebih soft. 

         Saya melihat sebuah channel Youtube, di mana driver Ojol menerima pesanan beberapa kotak pizza dengan nilai 1 juta rupiah. Sang Youtuber sudah mempersiapkan uang kurang lebih 2,3 juta yang diletakan di sebuah tempat di depan rumahnya. Dan, tempat khusus tersebut sengaja dirancang untuk menaruh tempat pesanan pizzanya.

           Sang pemesan (Yotuber)  dari lantai 2 memantau pergerakan driver Ojol dengan meneleponnya langsung. Kemudian, mereka berkomunikasi tentang kinerja driver Ojol tersebut selama pandemi COVID-19. Akhir cerita, pesanan pizza tersebut diberi untuk sang driver Ojol. Juga, uang pemesanan dan kelebihannya sebesar 1,3 juta dimasukan dalam sebuah amplop. Dengan tingkah yang kaget, sang driver Ojol mengucapkan terima kasih yang sebesar-besaranya kepada Youtuber. Dan, mendoakannya agar Youtuber tersebut diberikan rejeki yang berlimpah. 

       Bahkan, sang driver Ojol tak segan-segan melakukan sujud syukur atas rejeki yang telah diperolehnya. Itulah cuplikan dari sebuah kemasan empati para creator content atau Youtuber tanpa memberikan rasa sakit atau merendahkan kinerja driver Ojol. Meskipun, pada akhirnya driver Ojol tidak merasa bahwa dirinya menjadi objek pada konten sang Youtuber. Yang mampu mendulang banyak uang. Kinerja sosial media memang dahsyat, bukan?

          Bahkan, teman saya sesama blogger di Jabodetabek telah menunjukan rasa empati kepada driver Ojol dengan memesan sejumlah makanan. Ketika, sang driver Ojol hendak mengirim ke alamat si pemesan, maka teman saya mengkonfirmasi sang driver Ojol agar pesanannya tidak perlu diantar ke alamat tujuan. Tetapi, makanan tersebut buat sang driver Ojol saja. 

         Ini merupakan bukti empati sederhana bahwa driver Ojol menjadi sosok yang menarik untuk dibahas. Saya memahami benar bahwa mereka tidak membutuhkan belas kasihan dari orang lain. Namun, di saat kita memberikan empati sebagai penghargaan atas kinerjanya, maka mereka pun tidak menolak untuk menerimanya. Orang bilang, "rejeki jangan ditolak".

         Sebenarnya, banyak sosok lain yang membutuhkan empati, Namun, driver Ojol adalah sosok yang mendapatkan perlakukan yang lengkap. Dari tindakan kekerasan hingga empati yang mampu membuat mata kita berkaca-kaca. Pernahkan anda mendengar, bagaimana jujurnya sang driver Ojol yang bersusah payah untuk memberikan uang kembalian kepada sang penumpangnya yang telah pergi jauh. Meski, uang kembalian tersebut tidak sebanding dengan susah payah sang driver Ojol. Sungguh, mereka tulus untuk melakukan pekerjaannya, tidak perlu dikasihani. Karena, mereka memahami bahwa mereka harus mandiri untuk menjalani hidup mereka. 

Senyum dan Berbagi Kebahagiaan

          Pengalaman saya ketika di Surabaya, saya memesan sebuah taksi online. Lokasi penjemputan sudah saya informasi berkali-kali. Namun, satu jam lebih saya menunggu dengan sabar untuk sang driver taksi online tersebut. Sebagai manusia biasa, saya marah. Namun, saya berusaha menunjukan senyum manis, ketika sang driver minta maaf berkali-kali. Apalagi, ketika driver taksi online ini menjadi mata pencaharian utama. 

          Dia bercerita tentang kesulitan hidupnya. Saya berkata dalam hati, "kesulitan hidupmu pak tak seberapa beban hidup yang saya jalani". Akhir perjalanan, saya berusaha untuk membayar lebih, dia berusaha untuk mengembalikannya. "Gak papa pak, buat tambahan beli BBM" kata saya. Dia pun ternyum lebar, dan mendoakan saya semoga banyak rejeki. Saya tidak mau memarahi sang driver atau memberikan bintang satu di aplikasi, meski pelayanannya begitu mengecewakan. Tetapi, saya berusaha untuk berbagi kebahagiaan. Jika anda tidak bisa memberikan sedekah, maka berikanlah senyum anda. Tentu, akan membahagiakan orang lain. 

           Itulah sebabnya, bahwa driver Ojol menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Meskipun, banyak perlakukan negatif padanya, mereka telap menjalani profesi mereka. Terlebih lagi, ketika virus Corona menghantui mereka, mengantar penumpang dan barang tetap dilakukan. Mereka pun sudah terbiasa diusir pejabat berwenang (Satpol PP, Dishub atau Kepolisian). Ketika, mereka istirahat bergerombol. Karena, kondisi tersebut bissa menjadi penyebaran Virus Corona lebih luas.

            Kini, setelah kebijakan sudah diketok palu oleh Pemprov DKI Jakarta dengan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).. Maka, driver Ojol dihantui penghasilan yang akan berkurang drastis. Driver Ojol hanya diperbolehkan untuk mengantar barang saja. Itulah sebabnya, para driver Ojol melalui asosiasinya menuntut kepada pemerintah untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar 100 ribu rupiah setiap harinya. Besaran itu merupakan 50% dari penghasilan normal yang biasa diperoleh para driver Ojol. Bagamana respon pemerintah? Kita tunggu realisasinya.


LGBT, Perilaku Manusia Melawan Hukum Alam

  Warna-Warni yang melambangkan kaum LGBT (Sumber: shutterstock)         "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil ber...