Saturday, March 28, 2020

MOBIL MORRIS VIRAL RAFFI AHMAD DAN PANDEMI VIRUS KORONA


Mobil Morris Mini Cooper MK1 yang dibeli Raffi Ahmad dari Andre Taulani seharga 700 juta rupiah (Sumber : pikiran-rakyat.com/diolah)





      Habis Ular Kobra Garaga Terbitlah Morris Cooper. Ya, ular peliharaan Panji sang Petualang  menjadi trending topik di berbagai media. Banyak orang yang mencoba gaya Panji saat menaklukan ular Kobra, meski Panji sendiri sudah mengingatkan keras agar masyarakat jangan sekali-kali mencobanya di manapun dan kapanpun. Kini, saat pandemi Virus Korona, mobil Morris Cooper MK 1 menjadi booming alias viral di berbagai media, khususnya dunia Youtube. 

Morris Sang Penghibur 

       Cerita berawal saat artis tenar dan sekaligus Youtuber tanah air Raffi Ahmad telah menyelesaikan ritual jalan-jalan keliling dunia. Raffi Ahmad memahami benar bahwa anak kesayangannya Rafathar sangat menyukai untuk menonton film Mr. Bean. Bahkan, sang anak sangat menggemari mobil yang selalu menemani Mr. Bean dalam setiap aktifitasnya. 

      Berniat mau kolaborasi bareng acara Podcast dengan menyambangi rumah artis tenar lainnya, Andre Taulani. Saat melewati koleksi mobil-mobil milik Andre Taulani, Raffi Ahmad kepincut dengan tampilan mobil antik Morris Cooper MK1 buatan Inggris tahun 1961. Raffi Ahmad berniat untuk memberi kejutan kepada anaknya tanpa kehadiran sang istri Nagita Slavina dan anaknya Rafathar. 

       Namun, sepertinya Andre Taulani enggan untuk menjualnya karena mobil kesayangan anaknya Kenzy. Apalagi, menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk membuat tampilan mobil unik ini tak sedikit, sekitar 500 juta rupiah. Raffi Ahmad keukeuh untuk membelinya. Karena, mereka menganggap bahwa sang anak dan istrinya akan senang sekali. Yaitu, untuk mengantar sekolah sang anaknya Rafathar. Setelah melalui nego yang sangat alot antara Raffi Ahmad dan Andre taulani yang melibatkan anaknya Kenzy, akhirnya terjadi deal kedua belah pihak, dengan harga 700 juta rupiah.

      Kegembiraan Raffi Ahmad dengan membawa mobil antik Morris Copper MK1 ke rumahnya, ternyata berbuntut panjang. Ternyata, sang anak dan istri tidak merasa gembira dengan tampilan mobil yang telah dibelinya. Seperti, pintu mobil yang sulit ditiutup. Atau, kaca mobil yang agak susah ditutup. Bahkan, sang istri mengomentari kepada sang suami bahwa Raffi Ahmad tidak bisa berbisnis. 

        Raffi Ahmad pun menelepon Andre Taulani atas komplen yang diutarakan istrinya. Selanjutnya, berbalas dengan kedatangan Andre Taulani ke rumah Raffi Ahmad. Dengan membawa anaknya Kenzy, Andre Taulani berniat untuk mengambil lagi mobilnya. Tentu, dengan mengembalikan kembali uang pembelian sang mobil. Namun, kenyataanya, Raffi Ahmad justru tidak ingin mengembalikan Morris Cooper MK1 tersebut. Dengan nego yang alot, mobil antik tersebut bisa diambil lagi dengan syarat harga yang ditawarkan sebesar 1 miliar rupiah. Tentu, Andre Taulani tak mau dengan membayar sebesar uang yang ditawarkan oleh Raffi Ahmad. 

         Babak baru, harga yang dipatok oleh Raffi Ahmad sebesar 1 miliar menjadi rebutan dua (2) artis ternama, yaitu Baim Wong dan Denny Cagur. Kedua artis dan sekaligus Youtuber top tersebut bersaing untuk memiliki Morris Cooper MK1 tersebut. Mobil klasik nan antik tersebut menghipnotis dua artis tersebut agar bisa dipinang. Banyak netizen yang berkomentar bahwa drama rebutan mobil antik tersebut hanyalah setingan. Hanya untuk menciptakan trending dan berujung pada penghasilan yang tinggi.  

        Tanpa dipungkiri, video artis-artis top tersebut yang melibatkan mobil antik Morris Cooper MK1 selalu menjadi trending Youtube dengan penonton jutaan. Bagi seorang Youtuber maka ia bak kipas-kipas uang ratusan jutaan rupiah. Benar-benar menggiurkan bahwa mobil antik mampu menghasilkan uang ratusan juta rupiah. 

        Drama perebutan mobil antik berakhir di tangan artis Denny Cagur. Dan, perlu diketahui bahwa akun Youtube Denny Cagur dibanjiri dengan penonton jutaan orang. Ia berhak membawa Morris Cooper MK1 buatan Inggris setelah mengelarkan kocek 1 miliar rupiah. Bukan hanya mendapatkan mobil antik, tetapi akun Youtube Denny Cagur kini bisa bertengger di Trending. 


Donasi untuk COVID-19 

      Netizen yang nyinyir akan berkata bahwa buat apa mengeluarkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah di tengah pandemi Virus Korona demi mobil antik. Mendingan uangnya buat menyumbang para pasien virus Korona. Dengan kata lain, artis-artis tersebut tidak menunjukan rasa empati di tengah wabah Virus Korona. Di mana, masyarakat sedang berdiam diri di rumah tanpa ada pekerjaan dan penghasilan. 

       Namun, harus jujur bahwa Morris Cooper MK1 telah menjadi hiburan jutaan rakyat di tengah maraknya Virus Korona. Mobil antik tersebut menjadi tontonan yang mengasikan saat Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH) dan beribadah di rumah. Tontonan tersebut justru memberikan pelajaran berharga bahwa setiap individu hendaknya mempunyai sikap kreatif untuk menghasilkan konten di ranah digital. Tentu, bermuara pada penghasilan.

       Dan, perlu diketahui bahwa akhir cerita dari perebutan Morris Cooper MK1 ditangan Denny Cagur memberikan pelajaran berharga. Raffi Ahmad berniat untuk menyumbang dari keuntungan penjualan mobilnya demi para pasien Virus Korona. Keuntungan sebesar 300 juta dari penjualan tentu bukanlah uang yang sedikit. Terlepas dari sensasi atau menaikan rating dan trending, maka niat tulus Raffi Ahmad bisa menjadi inspirasi buat orang lain. Kapan giliran anda yang suka nyinyir?

      Benar apa yang dikatakan dokter viral di medsos yaitu dr. Tirta yang pernah menjadi narasumber di salah sastu acara talk show di stasiun TV swasta. Dia menyatakan bahwa untuk mengerem penyebaran Virus Korona, maka dibutuhkan sinergi yang kuat. Di antaranya, orang kaya perlu memberikan bantuan. Bahkan, tanpa sungkan, dr. Tirta menyatakan bahwa orang kaya perlu memberikan sumbangan dengan menjual 1 mobilnya untuk membantu penanganan Virus Korona.

       Apa yang pernah dikatakan oleh dr. Tirta, ternyata Raffi Ahmad telah melakukan tantangannya. Dengan menjual mobil antik Morris Cooper MK1, di mana keuntungan dari penjualan mobilnya akan disumbangkan untuk penanganan pasien Virus Korona. Ternyata ada korelasi antara Morris Cooper MK1  dan pandemi Virus Korona. Di balik hiburan dan sensasi yang membuat banyak nyinyir, ternyata ada inspirasi yang bisa anda ambil. 

       Kini, Ular Kobra Garaga telah kembali ke alamnya. Sekarang, Morris Cooper MK1 akan menjadi legenda hiburan tanah air ketika pandemi Virus Korona. Semoga Morris Cooper MK1 akan betah dengan sang tuan barunya, Denny Cagur. 

Puasa Mudik Karena COVID-19

Puasa Mudik karena pandemi COVID-19 (Sumber : dokumen pribadi)





          Siapa yang tidak mau mudik, khususnya mudik Lebaran? Setiap orang punya hak untuk mudik. Mampu merangkai kenangan indah di kampung halaman. Bertemu dan mempererat silaturahmi dengan keluarga besar. Memohon doa terbaik dari orang tua yang telah membesarkan kita semenjak kecil. Namun, saat pandemi Virus Korona atau COVID-19, maka mudik menjadi sebuah anjuran yang dihindari. Bahkan, dilarang untuk dilakukan alias puasa mudik. Bukan, karena melarang setiap orang untuk pulang ke kampung halamannya. Namun, demi kebaikan bersama, yaitu menghindari penyebaran dan perkembangan virus yang mematikan, Virus Korona. 


Mudik Lebih Awal

         Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi di Bali tanggal 25 Maret 2020 lalu, keluarga besar saya di Ngawi Jawa Timur menelepon istri saya. Mereka menanyakan kabar kami, karena kondisi di Bali. Pembicaraan yang semula santai mulai makin serius, setelah melebar ke masalah pandemi Viirus Korona. Saya berniat bahwa tahun 2020 tidak mungkin (bahkan tidak bisa) mudik dengan alasan mencegah penyebaran Virus Korona. 

     Saya memahami bahwa penyebaran Virus Korona yang tak kasat mata sangat berpotensi menyebar. Ada dua kemungkinan, saya yang terpapar dari keluarga besar saya di Ngawi atau saya yang menularkan ke keluarga besar saya tersebut. Untuk berjaga-jaga, maka kami memutuskan untuk tidak mudik Lebaran sebelum masalah Virus Korona ini mereda. Apalagi, saya masih mencari tempat perguruan tinggi yang cocok untuk anak saya tahun ini.

       Sebelum kami mengutarakan untuk tidak pulang kampung halaman, keluarga besar saya justru lebih awal menyarankan agar kami tidak usah pulang kampung. Karena, sangat riskan terjadi virus Korona. "Wis, rasah mulih neh. Pokok'e tahun iki gak ono mudik-mudikan. Sing penting bareng-bareng sehat. Rasah dipikir mulih!" (Sudah, tidak usah pulang lagi. Pokoknya tahun ini tidak ada acara mudik. Yang penting sama-sama sehat. Tidak usah berpikir untuk pulang), kalimat yang melegakan dari keluarga saya. 

       Karena, mereka rela tidak bertemu Lebaran nanti demi kesehatan bersama. Padahal, awal tahun 2020, saya sudah mantap untuk pulang kampung ke Ngawi Jawa Timur. Sekalian pulang kampung ke orang tua saya di Brebes Jawa Tengah. Manusia memang pintar membuat rencana, namun Allah SWT Yang Maha Perencana.

       Apa yang saya alami ternyata berbeda jauh dengan apa yang dialami para perantau di Jakarta. Ketika pandemi Virus Korona makin meningkat. Dan, berbagai usaha Pemerintah menganjurkan agar masyarakat melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Bahkan, beberapa daerah melakukan Lockdown secara pribadi. Dengan kata lain, untuk mencegah penyebaran Virus Korona, beberapa daerah melakukan Karantina Wilayah. Penyemprotan Disinfektan di berbagai tempat digencarkan. Masyarakat dilarang mendekati kerumunan massal. Bahkan, pemerintah melarang untuk melakukan perpindahan atau migrasi seperti mudik. Hal ini bertujuan demi kebaikan bersama, yaitu mencegah penyebaran virus Korona lebih massif. Kenyataannya, para perantau justru nekad untuk pulang kampung. 

        Kondisi perkantoran dan pusat perdagangan di Ibukota Jakarta sepi. Apalagi, saya yang berada di Bali. Terbiasa menikmati ratusan bus pariwisata besar hilir mudik di jalanan.  Kini, bagai menjelang Hari Raya Nyepi. Semua destinasi wisata bagai museum yang tak terjamah pengunjung. Kita semua paham bahwa kondisi tersebut berdampak besar terhadap kemerosotan ekonomi.  

       Masyarakat dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH), Belajar di rumah dan beribadah di rumah. Hal ini bertujuan agar pasien yang positif terpapar Virus Korona tidak bertambah lagi. Namun, laporan dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 yang selalu update, sepertinya tidak diindahkan oleh para perantau, khsusunya perantau di Jakarta. 

     Larangan Pemerintah untuk melakukan perpindahan atau migrasi melalui aktifitas mudik ke kampung halaman ternyata dilanggar. Ribuan perantau dari Jakarta melakukan Ritual Mudik Dini ke kampung halamannya di Wonogiri Jawa Tengah. Mereka "mungkin" berpikir bahwa daripada tidak bisa bekerja di ibukota selama darurat Virus Korona, lebih baik pulang ke kampung halaman. Kebutuhan hidup dirasa lebih murah, bisa bertemu dengan keluiarga besar lebih awal dan lama. Serta, biaya mudik yang lebih murah (tidak kena tuslah). 

       Tetapi, gelombang mudik lebih awal tersebut sangatlah berisiko. Bahwa, kedatangan mereka yang berkerumun selama puluhan jam di dalam bus sangat rentan terpapar virus Korona antar penumpang. Belum lagi, kondisi mereka yang lelah justru akan semakin rentan tertular virus  Korona saat di kampung halamannya. Itulah sebabnya, kedatangan ribuan pemudik yang tidak mampu melakukan Puasa Mudik harus melewati rangkaian screening dari Pemerintah Daerah setempat. Dari cek suhu, semprotan disinfektan hingga isolasi mandiri selama 14 hari. 

      Dari berbagai rangkaian screening Pemerintah Daerah Wonogiri, maka mendapatkan satu orang yang positif Virus Korona. Yaitu, seorang supir bus yang pernah mengantarkan penumpang ke Bogor Jawa Barat. Dengan demikian, tentu semua penumnpang yang pernah dibawa dia akan dilakukan penanganann secara ketat. Bahkan, dilakukan rangkaian pelacakan, siapa saja yang pernah berinteraksi dengan dia. 

Puasa Mudik

      Kejadian positifnya Virus Korona pada rangkaian mudik menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. Bahwa, aktifitas perpindahan antar kota, antar provinsi, serta antar negara mempunyai potensi menyebarnya virus Korona. Itulah sebabnya, Pemerintah menganjurkan bahwa masyarakat dianjurkan untuk melakukan PHBS. Dari berita di media TV, konferensi pers gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 yang diutarakan oleh Juru Bicaranya Achmad Yurianto memberikan informasi baru. Beliau menyatakan bahwa kebiasaan cuci tangan dengan sabun sangat baik untuk mencegah menyebarnya Virus Korona. Karena, dari tangan membuat setiap orang akan menyentuh mulut, hidung dan mata. Namun, dengan mencuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun akan mencegah terpaparnya Virus Korona.

       Silahkan anda bayangkan? Dengan naik bus yang berkapasitas kurang lebih 50 orang. Daya tahan tubuh setiap penumpang yang berasal dari kawasan zona merah seperti Jakarta berbeda-beda. Perjalanan berjam-jam yang melelahkan tersebut sangat berpotensi Virus Korona akan saling terpapar satu dengan yang lainnya. Anda tidak akan tahu, penumpang mana yang telah terpapar Virus Korona. Apalagi, banyak artis yang positif Virus Korona, tetapi tidak menunjukan gejala-gejala. Sebuah fakta yang sangat mengejutkan agar masyarakat jangan sekali-kali merasa "kebal" atau "menyepelekan" Virus Korona. 

        Saya sendiri merasakan apa yang dirasakan para perantau yang pulang ke Wonogiri. Tidak ada pekerjaan, sementara persediaan materi yang ada "mungkin" makin menipis. Dari pada susah di perantauan, lebih baik pulang ke kampung halaman. Namun, mereka sungguh "tidak" tahu dampak besar apa yang akan terjadi. Bahwa, penyebaran Virus Korona sungguh luar biasa. Perpindahan tempat akan semakin memperluas penyebaran Virus Korona. Dengan demikian, akan semakin bertambahnya ODP, PDP dan pasien positif Virus Korona. 

       Sungguh, seandainya para perantau tersebut mematuhi anjuran Pemerintah untuk tidak mudik lebih awal. Maka, setidaknya tidak akan bertambah orang yang terpapar Virus Korona. Namun, mereka lebih mementingkan mudik daripada dampak Virus Korona. Mereka tidak kuat untuk Puasa Mudik. 

       Tentu, dari sisi ekonomi, kita tidak boleh menyalahkan mereka. 'Mungkin" mereka tidak merasakan jaminan hidup atau tidak betah untuk berdiam diri selama mereka tinggal di rumah. Hal inilah yang membutuhkan kerjasama semua kalangan masyarakat. Jadi, selama mereka tinggal di rumah, mereka tetap enjoy karena kebutuhan tetap ada. 


Thursday, March 26, 2020

Ingin Sukses, Hadapi Pandemi Virus Korona dengan Senyuman

Tetaplah naik tangga selagi engkau bisa (Sumber : dokumen pribadi)



       Kesuksesan setiap orang tidak bisa ditebak. Tergantung, bagaimana mereka menaiki tangga menuju kesuksesan menurut versi mereka. Ketika terperosok, jatuh atau lelah saat menaiki tangga, maka kunci terpenting menggapai kesuksesan adalah tetaplah menaiki anak tangga selagi engkau bisa. Tetaplah tersenyum dalam menghadapi pandemi Virus Korona. Di balik kesempitan, akan ada kesempatan yang luar biasa. 

Pelajaran Berharga

        Kesuksesan sebuah usaha tidak akan berjalan secara garis lurus. Tentu, akan mengalami pasang dan surut. Jika, mereka menyikapinya dengan bijak maka mereka akan tetap bangkit. Namun, bagi mereka yang berjiwa the looser (pecundang), maka mereka akan berhenti di tengah jalan alias Gatot (Gagal Total). 

        Dalam dunia usaha, ada pepatah bijak yang menyatakan bahwa orang sukses bukanlah seberapa banyak mereka menghadapi kegagalan. Namun, seberapa hebat mereka mau bangkit dari kegagalan. Saya pribadi sudah beberapa kali mengalami kegagalan dalam bisnis. Bahkan, hampir putus asa (hampir gila) karena rugi ratusan juta. Ditambah lagi desakan keluarga yang tidak siap menghadapi kebangkrutan usaha saya. 

      Waktu itu, pikiran saya hanya satu, "melarikan diri: ke Kalimantan". Dengan alasan untuk menghindari rasa malu terhadap keluarga. Namun, kekuatan iman, pikiran untuk masa depan keluarga dan saran dari istri membuat saya kuat. Saya siap menghadapi kenyataan hidup yang tak pernah saya harapkan. 

       Akhirnya istri saya pun menyarankan agar saya pergi dari Ngawi Jawa Timur ke Bali. Saya pun bermodalkan nekad alias bonek untuk merangkai kehidupan baru di pulau Dewata. Dan, ternyata perjalanan usaha di Bali tak seindah yang diharapkan. Justru saya mengalami kebangkrutan usaha kembali, di saat saya sedang jaya-jayanya. 

        Karena, saya sudah terbiasa jatuh bangun, hal tersebut tak mengagetkan saya. Meski saya merintih kesakitan dalam hati. Putus asa? Jelas. Sekali lagi, iman yang menguatkan saya untuk bangkit lagi. Saya pun beberapa kali bekerja pada perusahaan orang lain di level managerial. Kejujuran dan prestasi saya tidak membuat saya gembira. Tiga kali saya berpindah kerja dengan jabatan dan fasilitas yang lumayan. 

      Sedih? Jelas. Namun, mengambil tindakan untuk resign (mengundurkan diri) dari jabatan lumayan sangatlah berat. Terbiasa dengan gaji bulanan yang menggiurkan membuat saya harus berpikir ulang. Istri mencegahnya agar saya tidak buru-buru mengundurkan diri. Namun, saya berpikir bahwa saya harus merangkai usaha mandiri kembali. Ya, akhirnya saya nekad menjadi Full Blogger yang "belum" mempunyai penghasilan tetap. Dan, nyambi dengan usaha dengan modal yang kecil. 

        Sungguh, sebuah kenyataan yang berat. Di saat sepi job sebagai blogger, saya harus lakukan "gali lobang dan tutup lobang". Kadang saya tergiur untuk bekerja kantoran lagi dengan gaji yang menggiurkan di luar Bali. Banyak tawaran menarik yang menghampiri saya. Namun, bertahan sementara di Bali untuk melihat "kemanakah anak saya diterima di Perguruan Tinggi", membuat banyak penawaran kerja menarik tak membuat saya bergeming. 

       Lagian, saya sedang konsentrasi untuk membangun start up. Sambil menunggu pihak yang tertarik untuk mengembangkan ide start up saya, Blogger Pro. Oleh sebab itu, saya harus tetap bertahan untuk menjadi Full Blogger dan menjalankan usaha kecil saya, yang modalnya kadangkala digunakan untuk hal-hal yang tak terduga. 

Tetap Bangkit     

      Saat pandemi Virus Korona merebak, kondisi pariwisata Bali sedang mengalami gejolak. Tentu, berdampak terhadap ekonomi. Dan, saya sangat merasakan dampak tersebut. Namun, kondisi yang berat tersebut justru menjadi ujian yang menyenangkan bagi saya. Mampukan saya bangkit untuk menaiki tangga kembali. Atau, saya harus menangisi keadaan yang ada. 

     Saya teringat kembali buku dari penulis Frank Bettger yang berjudul "Meretas Belenggu Kegagalan". Di mana, kegagalan bukanlah untuk dipikirkan terlalu dalam. Tetapi, kegagalan harus diretas (dihancurkan). Juga teringat kalimat indah dari Anton Chekov yang menyatakan, "Anda adalah apa yang anda pikirkan". Jika anda berpikir negatif, maka semua organ tubuh bergerak secara simultan untuk membangun hal-hal negatif. Juga sebaliknya. 

        Saya juga berkaca kepada diri sendiri jika saya tidak boleh putus asa. Karena, puluhan tahun saya mencitrakan diri dengan memberikan motivasi diri yang indah kepada orang lain. Agar selalu bangkit dari kegagalan. Kini, giliran saya yang mengalaminya. Apakah saya mampu bangkit dari kegagalan. Di mana, bukan hanya saya yang mengalami kondisi berat karena pandemi Virus Korona. Tetapi, masih banyak orang lain yang mengalami hal yang seperti saya lakukan.

      Saya tetap gembira menghadapi kondisi pandemi Virus Korona. Saya yakin, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terbaik untuk masyarakatnya. Sabar dalam menghadapi musibah adalah kunci utama. "Man shabaro dhofaro" (barang siapa bersabar maka pasti beruntung). Tetaplah gembira menghadapi ujian ini. Tetaplah tersenyum agar ujian ini cepat berlalu. Dan, tetaplah menaiki tangga kesuksesan selagi anda bisa. Karena, mengeluh adalah tindakan bagi mereka yang bersifat pecundang.  

Yuk, Bangkit Bersama!  


Dokter, Garda Terdepan Penanganan Pasien Virus Korona



Dokter, garda terdepan penanganan Virus Korona (Sumber : merdeka.com/diolah)



         Penyebaran Virus Korona telah menjadi pandemi. Menyebar secara bersamaan di seluruh dunia. Dan, profesi yang menjadi Garda Terdepan Penanganan Virus Korona adalah Dokter. Ya, dokter menjadi sosok yang menjadi bukti kekuasaan Tuhan YME untuk menjadi penyelamat jiwa manusia yang mengalami karantina. Kini, di Indonesia sendiri, profesi dokter dielu-elukan banyak pihak, termasuk orang nomor satu Republik Indonesia (RI) Presiden Jokowi.

Rentan Virus Korona

       Perlu diketahui, tim medis yang terlibat dalam penanganan pasien positif Virus Korona adalah sosok yang tiga hingga lima kali rentan terpapar Virus Korona. Namun, mereka ikhlas dalam proses penyembuhan dan penyelamatan pasien Virus Korona. Bahkan, nyawa mereka pertaruhkan untuk kondisi terburuk sekalipun. Dengan kata lain, mereka tidak takut jika kematian menjemput kapan saja. Karena, sudah menjadi tugas dalam penyelamatan kemanusiaan.

        Tim medis harus bekerja ektra keras, siang dan malam. Mungkin, kerja mereka nonstop dua puluh empat jam. Anda harus tahu bahwa mereka juga manusia seperti kita. Kelelahan dan rasa ngantuk yang datang tiba-tiba bisa menghantui kapan saja. Bahkan, kondisi tubuh yang mendadak drop bisa terjadi kapan saja. Oleh sebab itu, kita mesti berdoa untuk kekuatan tubuh mereka dalam menjalankan tugas mulia untuk menangani pasien Virus Korona.

          Alat Pelidung Diri (APD) tentu sangatlah mutlak dibutuhkan. Agar steril dan tidak terpapar oleh Virus Korona dari pasien yang ditanganinya. Oleh sebab itu, gejala-gejala yang dialami oleh masyarakat seperti gejala virus Korona tidak dianggap main-main. Seperti kasus bule yang mendadak meninggal di pinggir jalan Imam Bonjol Denpasar Bali. Masyarakat dilarang untuk mendekatinya. Selanjutnya, bantuan datang dari tim medis Rumah Sakit yang berpakaian steril dengan Alat Pelindung Diri (APD).

         Banyak dokter yang muncul dan viral di media sosial membagikan pesan kebaikan. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi mesti waspada dalam menghadapi pandemi Virus Korona. Ada juga dokter yang tampil di salah satu acara stasiun swasta Indonesia Lawyer Club (ILC). Dokter yang menyatakan bahwa untuk menghentikan penyebaran virus Korona membutuhkan kepedulian dari para orang kaya atau keuangan berlebih. Dengan kata lain, perlunya sinergi dan kerja sama dalam menangani percepatan Virus Korona.

      Dokter menjadi profesi harapan besar bagi rakyat Indonesia dalam penanganan pasien Virus Korona. Viral di media sosial, Dokter Handoko yang telah berumur 80 tahun rela mendarmabaktikan untuk terlibat dalam penanganan Virus Korona. Bekerja tanpa kenal letih, yang akhirnya bersangkutan harus dirawat di ruang ICU. Kontribusi luar biasa Dokter Handoko membuat banyak pihak memberikan respek yang luar biasa. Bahkan, doa terbaik agar Dokter Handoko diberikan kesembuhan secepatnya.



Dokter Handoko, salah satu dokter yang menginspirasi banyak orang karena terlibat dalam penanganan Covid-19 (Sumber : medcom.id)



Pengorbanan Nyawa

      Sebagai Garda Terdepan penanganan pasien Virus Korona, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga harus kehilangan putra terbaiknya. Dalam akun twiternya @PBIDI Minggu (22/3/2020) telah merilis keenam dokter yang meninggal dunia saat menangani pasien Virus Korona, yaitu:
  1. dr Hadio Ali SpS, IDI Cabang Jakarta Selatan
  2. dr Djoko Judodjoko, SpB, IDI Cabang Kota Bogor
  3. dr Laurentius P, SpKJ, IDI Cabang Jakarta Timur
  4. dr Adi Mirsaputra SpTHT, IDI Cabang Kota Bekasi
  5. dr Ucok Martin SpP, IDI Cabang Medan
  6. dr Toni Daniel Silitonga, IDI Cabang Bandung Barat.
Air mata duka dan rasa bangga dari masyarakat terhadap pengabdian besar mereka akan tetap terkenang sepanjang sejarah Indonesia. Bila perlu, Pemerintah memberikan anugerah sebagai pahlawan bidang kemanusiaan. 



Enam (6) dokter yang meninggal dalam penanganan Covid-19 (Sumber : brito.id)



     Bahkan, profesi dokter yang berjibaku sebagai tim medis Covid-19 tidak semudah membalikan telapak tangan untuk bertemu keluarganya. Bukan hanya sulit bertemu karena profesi dokter harus konsentrasi menangani pasien Virus Korona. Tetapi, kerentanan penyebaran virus Korona yang patut diwaspadai. 

   Bukan hanya dokter yang berkorban waktu untuk tidak bertemu dengan keluarganya. Tetapi, keluarga pun berkorban untuk tidak bertemu dengan dokter. Sebuah pengorbanan tinggi yang perlu diapresiasi tinggi. Dalam sebuah akun twitter @JalalMisai yang menggambarkan seorang dokter yang memakai masker hanya bisa berdiri memandang dua anaknya dari luar pagar rumah. Itulah cara terindah dan pengabdian terbaik profesi dokter untuk melepas rasa kangennya. Sang dokter dan kedua anaknya tidak bisa memeluk hangat seperti biasanya. Sungguh, pemandangan yang menyayat hati. 



Salah satu akun di Twitter @JalalMisai yang menunjukan seorang dokter hanya berdiri di luar pagar rumah untuk melihat anaknya (Sumber : @JalalMisai/Twitter)


     Dedikasi tinggi profesi dokter sebagai Garda Terdepan Penanganan Covid-19 tidaklah main-main. Setiap saat, nyawa mereka menjadi taruhannya, karena rentan terpapar Virus Korona. Sementara, kita dianjurkan untuk melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Agar, pasien postif Virus Korona menjadi berkurang. Dengan demikian, kita bisa mengurangi kerja tim medis dalam penanganan Covid-19.

          Dokter menjadi sosok kebanggaan semua bangsa di dunia. Pantas saja, jika sejak dulu profesi dokter menjadi mimpi dan cita-cita terbaik. "Nak, kalau nanti sudah besar, cita-cita kamu ingin jadi apa?" sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua kepada anaknya. "Ingin jadi doktel" jawab sang anak yang masih lucu dan lugu. "Kenapa harus jadi dokter nak?" tanya kembali orang tua kepada anaknya. "Karena, jadi doktel bisa mengobati olang-olang" jawab anak kembali dengan penuh percaya diri.

        Ya, sejak dini, secara tidak langsung, kita telah memberikan gambaran atau pelajaran terbaik kepada anak. Bahwa, membantu manusia adalah profesi yang mulia. Dan, menjadi idaman anak-anak kita. Kini, profesi dokter mempunyai tugas mulia dalam menyelamatkan nyawa manusia. Yang sedang dikarantina karena virus Korona. Dukungan pun mengalir deras terhadap profesi dokter. Doa terbaik untuk para dokter yang sedang bertugas. Serta, pasien yang sedang mengalami masa karantina. 

       Bahkan, dari kinerja para dokter akan memberikan pelajaran atau penemuan berharga untuk dicarikan anti virus Korona. Dokter, bukan hanya Garda Terdepan penanganan Virus Korona. Tetapi, profesi dokter telah menimbulkan banyak empati masyarakat dan persatuan bangsa. Pesan-pesan kebaikan para dokter di media sosial membuat kita paham dan waspada dalam menghadapi pandemi Virus Korona. 

         Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya hanya mengatakan bahwa saya angkat topi buat para tim medis yang terlibat dalam penanganan percepatan Covid-19. Percayalah, darmabaktimu akan selalu terkenang sepanjang jaman. Tetaplah sehat para dokter, karena Indonesia selalu menantikan pengabdianmu. 

"Biarlah para dokter yang bekerja. Kalian di rumah saja". Salam hormat.


Denpasar (Work From Home/WFH), 26 Maret 2020          

Wednesday, March 25, 2020

Pasien Positif Virus Korona Makin Bertambah, Akankah Indonesia Lockdown?


Jumlah pasien positif Virus Korona makin berkembang. Akankah Indonesia menerapkan kebijakan Lockdown? (Sumber : okezone.com/diolah)

      



       Mengamati perkembangan Virus Korona di Indonesia membuat hati saya semakin miris. Sebagai rakyat biasa, dalam hati saya berkata, "kapankah kasus Virus Korona ini akan berakhir?". Bukannya semakin berkurang jumlah yang positif terpapar virus Korona, namun justru makin bertambah. Situs resmi Pemerintah Indonesia yang memberikan informasi tentang Virus Korona melansir hasil terkini yaitu Infografis yang ditampilkan pada website resmi Pemerintah Indonesia per 25 Maret 2020 menampilkan jumlah orang yang positif terpapar Covid-19 berjumlah 790 orang, 58 orang meninggal dunia dan 31 orang yang sembuh. Untuk lebih jelasnya, anda bisa lihat di infografis berikut.



Infografis Covid-19 (25 Maret 2020) (Sumber : Covid.go.id)


Lockdown?

       Jumlah orang yang positif Covid-19 tentu membuat semua kalangan terhenyak. Saya yakin, Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam alias berpangku tangan. Namun, yang selalu menjadi pertanyaan besar masyarakat adalah kebijakan untuk LOCKDOWN seperti negara-negara lain tidak dilakukan. Korea menjadi salah satu negara yang jitu dengan kebijakan Lockdown dalam penanganan Covid-19. Alhasil, jumlah yang sembuh dari Covid-19 menunjukan angka yang signifikan. Lebih dari 3.000 yang sembuh setelah mengalami masa karantina. Sedangkan, jumlah yang positif Covid-19 lebih dari 8.000 orang (detik.com/23/3/2020).

      Mengapa Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan kebijakan Lockdown? Pertanyaan inilah yang perlu dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Sungguh, menurut pendapat saya, kebijakan Lockdown sangat berisiko  tinggi. Anda pasti tahu, kan? Beberapa hari yang lalu, nilai kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika jatuh, menyentuh angka 16.000. Kondisi ini tentu sangat berdampak terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Oleh sebab itu, saya memahami kebijakan Pemerintah Indonesia yang sangat hati-hati untuk mengeluarkan kebijakan Lockdown. Karena, sangat berdampak terhadap KONDISI EKONOMI INDONESIA. 

        Dengan kebijakan Lockdown (terkunci), maka semua akses perputaran ekonomi ke luar dan ke dalam negeri benar-benar ditutup total. Semua penerbangan dari dan ke luar negeri dimatikan, seperti lockdown Hari Raya Nyepi di Bali. Serta, masyarakat diwajibkan untuk Work From Home (WFH) dengan tujuan untuk mencegah penyebaran Virus Korona lebih luas. Perlu diketahui bahwa cara Lockdown dan Work From Home (WFH) ini diyakinkan mampu menekan penyebaran Covid-19. Bahkan, penanganan pasien Korona akan semakin baik. Dengan demikian, pelan tapi pasti wabah Virus Korona akan berangsur mereda.

        Namun, kebijakan Lockdown dan WFH tidaklah segampang membalikan telapak tangan. Ini sebagai pertaruhan nyawa ekonomi Indonesia. Pemerintah Indonesia harus siap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Salah satunya adalah masalah ekonomi. Bukan hanya itu, kebijakan Lockdown dan WFH tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 

      Pihak pertama yang akan terkena dampak dari kebijakan Lockdown dan WFH adalah para pekerja informal atau pekerja mandiri. Mereka tidak mendapatkan penghasilan atau gaji bulanan Di mana, mereka harus bekerja di luar rumah. Bahkan, banyak yang mendapatkan penghasilan secara harian. Ketika, Pemerintah mengeluarkan kebijakan Lockdown dan WFH secara tegas, maka mereka secara tidak sadar "dipaksa" untuk tidak berpenghasilan.

       Andaikata Lokcdown dan WFH berjalan dalam kurun waktu yang lama. Sebut saja selama sebulan. Bagi mereka yang berstatus pegawai atau pegawai negeri (ASN) mungkin tidak terlalu berpengaruh. Karena, mereka masih mengandalkan gaji. Namun, bagi mereka yang bekerja informal di luar rumah dan berpenghasilan secara harian. Maka, kebijakan Lockdown dan WFH  menjadi "Masalah Besar". Karena, penghasilan mereka "berhenti" seketika. Artinya, kampung tengah (perut) akan menjadi masalah baru. 

Penanganan Virus Korona 

      Sekali lagi, kebijakan Lockdown membutuhkan "nyali tinggi" dari Pemerintah Indonesia. Pemerintah harus siap membiayai setiap keluarga Indonesia selama masa Lockdown dan WFH (contoh : satu bulan). Anggap saja, kebutuhan keluarga untuk makan setiap harinya sebesar Rp 50.000,- maka sebulan Pemerintah Indonesia harus menggelontorkan uang sebesar Rp 1,5 juta. Tinggal menghitung berapa jumlah kepala keluarga di Indonesia yang bekerja di sektor informal. Itulah dana yang harus dikucurkan oleh Pemerintah Indonesia. 

       Dalam berbagai lansiran media online, saat kebijakan Lockdown, Pemerintah Malaysia saja menggelontorkan dana sebesar Rp 1,8 juta untuk setiap Kepala Keluarga. Bagaimana dengan Pemerintah Indonesia? Siapkah mengeluarkan kas negara untuk masyarakat Indonesia agar masyarakat benar-benar siap melakukan Lockdown dan WFH. Agar tidak ada lagi masyarakat yang bertaruh nyawa terpapar Covid-19 demi sesuap nasi dengan bekerja di luar rumah. Tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang ketakutan "tidak makan" jika berdiam diri di rumah. Meski, mereka paham bahwa nyawa mereka menjadi taruhannya. 

       Namun, kebijakan Lockdown sepertinya membuat Pemerintah Indonesia ekstra hati-hati. Berbagai kebijakan yang berpotensi menyebarnya COVID-19 telah dilakukan. Seperti, kebijakan Ujian Nasional (UN) secara resmi dibatalkan. Penyemprotan dengan disinfektan dilakukan di berbagai daerah. Segala jenis kegiatan yang bersifat kerumunan massal dihindari. Seperti acara hajatan masyarakat, kongkow-kongkow masyarakat dan tidak lupa sholat berjamaah di masjid. Tidak menutup kemungkinan, acara mudik massal Lebaran pun berpotensi dibatalkan. Semua demi kebaikan masyarakat. 

          Bahkan, Gubernur DI Yogyakarta sekaligus Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan maklumat bahwa kebijakan LOCKDOWN TIDAK DIBERLAKUKAN DI YOGYAKARTA. Namun, kebijakan CALMDOWN yang ada. Saya juga melihat di Running Text salah satu televisi swasta yang melansir bahwa Pemerintah Provinsi Bengkulu meminta ke Pemerintah Pusat untuk mengeluarkan kebijakan Lockdown secara regional. Perlu digaris bawahi bahwa Pemerintah pusat yang berwenang untuk mengeluarkan kebijakan Lockdown. 

         Saya pribadi memahami bahwa masyarakat akan dengan suka hati mematuhi kebijakan apapun dari  Pemerintah Indonesia. Seperti Lockdown dan WFH jika Pemerintah memberikan jaminan hidup untuk waktu yang telah ditentukan. Seringkali, masyarakat "meminggirkan" kebijakan Pemerintah tentang pandemi Covid-19, karena urusan "kampung tengah" (perut). Makanya, mereka bandel dan tidak peduli terjangkit Virus Korona. Pikiran mereka, "siapa sih yang peduli sama saya kalau saya tidak bisa makan?".

       Masih ada ketakutan dalam diri masyarakat jika mereka tak bisa bekerja. Bahkan, mereka berani menantang maut dengan bekerja di luar rumah terhadap merebaknya Virus Korona. Inilah yang harus dipahami oleh Pemerintah Indoneiia. PEMERINTAH HARUS BENAR-BENAR MENJAMIN HIDUP MASYARAKAT UNTUK TINGGAL DI RUMAH. Dengan kata lain, Pemerintah siap-siap mengeluarkan dana yang cukup untuk jaminan hidup masyarakat selama kebijakan tinggal di rumah. 

          Tidaklah sedikit dana yang harus dikeluarkan Pemerintah Indonesia agar masyarakat patuh, jika kebijakan Lockdown dan WFH benar-benar tegas dilakukan. Media online CNN Indonesia (24/3/2020) melansir berita yang berjudul "Pemerintah Indonesia Buka Pintu Donasi untuk Lawan Corona". Pemerintah Indonesia membuka donasi bagi semua pihak untuk percepatan penanganan Covid-19. Tentu, donasi bisa berasal dari dalam dan luar negeri. 

          Berita tersebut tentu memberikan pemahaman tentang kondisi keuangan Pemerintah Indonesia. Dan, "mungkin" yang menjadi salah satu alasan bahwa Pemerintah Indonesia sangat ekstra hati-hati untuk mengeluarkan kebijakan Lockdown seperti negara-negara lain.. Bukan hanya berbiaya besar, tetapi sangatlah berisiko terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, penyebaran Covid-19 ingin dihentikan secepatnya, tetapi masih banyak masyarakat yang keluar rumah demi sesuap nasi. Al hasil, orang yang terpapar virus Korona selalu bertambah. 

     Untuk mempercepat penanganan Covid-19 memang membutuhkan kebijakan yang saling menguntungkan. Pemerintah Indonesia telah bersusah payah mencegah penyebaran virus Korona. Anjuran Pemerintah Indonesia seperti WFH, penggunaan masker, Social Distancing, hindari kerumunan, cuci tangan dan lain-lain. Masyarakat juga perlu patuh dan tunduk terhadap kebijakan pemerintah tersebut. Namun, Pemerintah Indonesia juga harus ikut memikirkan jaminan hidup masyarakat, jika dalam keadaan yang mendesak kebijakan LOCKDOWN dan WFH benar-benar tegas dilakukan. Karena, kebijakan hendaknya membutuhkan sinergi yang baik. Kebijakan dikeluarkan dan masyarakat mematuhinya. Yuk, Bersama Lawan Korona.     

  

Sunday, March 22, 2020

7 (Tujuh) Hal Positif dengan Adanya Pandemi Korona (COVID-19)

    Virus Korona yang berasal dari Wuhan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) telah menjadi pandemi (Sumber : www.suara.com)






    Organisaasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO)) menyatakan bahwa virus Korona telah menjadi Pandemi. Karena, telah menyebar di berbagai negara secara bersamaan. Tentu, hal ini membutuhkan penanganan secara serius dari negara-negara di dunia. Virus yang penyebarannya luar biasa ini sungguh menghantui masyarakat tanpa pandang bulu. Virus yang berawal dari Wuhan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) ini benar-benar membuat  banyak hal negatif. Khususnya, di Indonesia yang semula "dianggap kebal" dengan adanya virus tersebut, kini telah menunjukan masyarakat Indonesia yang terpapar Virus Korona lebih dari 400 orang.
       Tentu, dengan adanya penyebaran Virus Korona banyak menimbulkan kerugian dan keburukan. Setiap pihak di belahan dunia akan menganggap bahwa Virus Korona membawa banyak hal negatif. Yang paling kentara adalah meningkatnya kematian di dunia. Namun, di sisi lain, tahukah anda bahwa penyebaran virus Korona di dunia juga memberikan banyak hal positif. Setidaknya, ada 7 (tujuh) hal positif yang timbul akibat penyebaran Virus Korona, yaitu:


1. Timbulnya Persatuan atau Kepedulian Negara-Negara di Dunia.

    Pandemi COVID-19 menciptakan rasa persatuan di belahan dunia. Beberapa negara menjalin persatuan untuk memberantas virus tersebut. RRT juga bersiap mengirim tim medis ke negara lain yang mempunyai dampak parah dengan adanya pandemi Korona. Baru-baru ini, Pemerintah Indonesia mengirim pesawat militer ke RRT untuk membawa peralatan canggih dalam mengatasai pandemi virus Korona.
       Negara-negara lain dunia juga menjalin persatuan untuk mengakhiri pandemi virus Korona. Bahkan, kepedulian bangsa Indonesia atas pandemi virus Korona tersebut, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya sedang mengembangkan vaksin anti Korona. Tentu, ini menjadi berita baik. Bukan hanya bagi bangsa Indonesia sendiri. Namun, bagi bangsa-bangsa di dunia untuk mengakhiri pandemi virus Korona.

2. Berkurangnya Tingkat Polusi di Dunia.

    Meluasnya pandemi virus Korona membuat beberapa negara mengeluarkan kebijakan LockDown. Dengan tujuan untuk menghentikan semua mobilisasi atau pergerakan warganya untuk ke luar negeri atau yang masuk ke negaranya. Masyarakat dunia, khususnya Indonesia juga mengeluarkan kebijakan Work From Home (WFH) atau Bekerja dari rumah. Dengan tujuan untuk mengurangi atau menghentikan penyebaran virus Korona. 
        Dengan adanya kebijakan WFH maka kemacetan lalu lintas berkurang drastis. Saya sendiri yang tinggal di Bali sangat merasakannya. Tahukah anda bahwa dengan pengurangan tingkat lalu lintas yang berkurang drastis maka pencemaran atau polusi udara juga berkurang secara signifikan. Berkurangnya tingkat polusi udara akan berdampak positif bagi kesehatan manusia, bukan? 

   
3. Mempererat Hubungan Keluarga.

    Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan untuk menciptakan Social Distancing (jaga jarak) dengan orang lain. Dan, kebijakan untuk Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. kebijakan ini digencarkan setelah salah satu menteri era Jokowi II yaitu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi positif terpapar virus Korona. Dengan adanya WFH maka masyarakat dunia, khususnya di Indonesia dianjurkan atau diwajibkan untuk bekerja di rumah saja. Semua aktifitas pemerintah dan akademik dilakukan dari rumah atau secara online. Bahkan, Presiden Jokowi juga melakukan rapat penting dengan para menterinya secara online. 
     Hal yang sangat positif dengan adanya WFH ini yaitu menciptakan hubungan atau silaturahmi antar anggota keluarga menjadi lebih baik. Apalagi, bagi Kepala Keluarga yang sibuk bekerja di kantor, di mana pergi pagi dan pulang malam. WFH memberikan kesempatan besar menciptakan komunikasi orang tua dan anaknya menjadi lebih intens. Bahkan, orang tua akan lebih memahami masalah yang dihadapi oleh anak dan istrinya. Seperti orang tua terlibat dalam proses belajar anaknya yang dilakukan secara online. 
  
4. Menciptakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    Pandemi COVID-19 telah menciptakan masyarakat dunia, khususnya Indonesia untuk memahami tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Saya pribadi tidak melupakan untuk mencuci tangan ketika akan memasuki rumah. Masyarakat dunia menyadari perlunya PHBS agar kebal atau mempunyai antibodi dalam menghadapi pandemi COVID-19. 
     Hal yang paling kentara dari pandemi virus Korona adalah pemandangan masyarakat dunia untuk memakai masker. Juga, perlu menyediakan Hand Sanitizer (alat pembersih tangan) dalam berbagai kegiatan. Sungguh, sebuah keajaiban yang saya lihat dan rasakan. Saya berusaha untuk membawa Hand Sanitizer ke manapun. Bahkan, sehabis dari luar rumah, MENCUCI TANGAN adalah hal yang HARUS SAYA LAKUKAN. 


5. Melirik Produk Ekonomi Lain.

    Pandemi virus Korona juga membuka pemahaman masyarakat Indonesia akan hasil sumber daya alam, yang mampu menangkal virus Korona. Tanaman empon-empon seperti jahe, temulawak, sereh, bawang dan lain-lain menjadi produk alam yang mulai dilirik oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, kebutuhan akan jahe yang tinggi menjadi harga produk tersebut menjadi meningkat. Tentu, berdampak positif yaitu meningkatkan pendapatan pedagang atau petani yang menanam jahe.
     Minuman Jamu yang dulu jarang dilirik (menjadi kebiasaan) masyarakat karena rasa pahit, mulai dilirik masyarakat. Mereka rela meminum jamu dengan tujuan untuk menangkal virus Korona. Pandemi virus Korona memberikan dampak negatif bagi dunia, namun penghasilan pedagang empon-empon menjadi meningkat. Tentu, kondisi pandemi virus Korona ini mampu menciptakan kesadaran masyarakat Indonesia tentang betapa kayanya sumber daya alam yang ada di sekitar kita. Dan, ternyata mampu menangkal virus Korona.

6. Menciptakan Rasa Empati.

    Empati adalah sebuah kebaikan yang akan terus dikenang dalam kasus pandemi virus Korona ini. Banyak masyarakat dunia yang mencipatkan rasa empati untuk membantu saudaranya di belahan dunia yang terpapar virus Korona. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pesepakbola dunia Christiano Ronaldo. Dalam berbagai berita online memberikan kesempatan atau sumbangan yaitu hotel yang dimilikinya untuk menjadi tempat penyembuhan para pasien yang terpapar virus Korona. 
     Beberapa bintang Korea menyumbang miliaran rupiah untuk membantu saudaranya yang terpapar virus Korona. Tak lupa, beberapa artis di negeri kita seperti Maya Estianti menggalang dana untuk proses penyembuhan para pasien yang terpapar virus Korona. Dan, masih banyak lain yang tak bisa saya sebutkan dalam tulisan ini. Ini menjadi bukti bahwa empati adalah penting.
      Yang menarik adalah rasa empati atau berbuat baik dari salah satu pengamat media sosial yaitu Dr. Rulli Nasrullah atau yang biasa disebut Kang Arul. Beliau menciptakan empati yang tak disangka-sangka. Atas kepedulian terhadap orang yang tetap bekerja di luar rumah seperti Driver Ojol. Kang Arul melakukannya dengan MEMESAN makanan melalui aplikasi. PESANAN tersebut TIDAK PERLU DIANTAR ke pemesannya. Namun, PESANAN tersebut untuk Driver Ojol saja. Tentu, ini menjadi bukti empati atau kepedulian Kang Arul terhadap Driver Ojol, sebagai pihak yang sangat rentan tertular virus Korona. Berbuat kebaikan tidak perlu membawa alasan apapun.  


7. Lini Media Sosial Dipenuhi dengan Informasi atau Berita Kebaikan. 

    Yang paling menarik dari kasus pandemi virus Korona adalah lini media sosial yang dipenuhi dengan aura kebaikan. Dengan adanya LockDown di Italia, mereka menciptakan hiburan bagi tetangga lainnya karena tidak bisa ke luar rumah. Para artis di negeri Paman Sam juga ada yang menciptakan hiburan dengan menyanyi bagi para followernya agar bekerja di rumah tidak membosankan. Tidak ketinggalan, beberapa artis di Indonesia menciptakan kebaikan dengan membagikan video saat mencuci tanganya sambil bernyanyi. 
      Masyarakat biasa juga banyak yang berbagi kebaikan di ranah media sosial. Seperti yang sedang viral yaitu video yang menunjukan bahwa dengan menyantap telor ceplok yang dibumbui kecap mampu menangkal virus Korona. Hal tersebut juga mampu mencegah aksi Panic Buying (berbelanja gila-gilaan) yang bisa merugikan orang lain. Seperti langkanya stok dan naiknya harga.  
      Baru-baru ini, lini media sosial dipenuhi dengan postingan tentang Dokter Handoko yang menjadi Tim Medis untuk pasien virus Korona. Meskipun beliau berumur hampir 80 tahun dan sempat dilarang oleh keluarganya. Namun, jiwa kemanusiaan Dokter Handoko patut diacungi jempol. Beliau rela dan ikhlas siang malam untuk menjadi tim medis COVID-19. Di mana, setiap detik nyawa beliau terancam oleh paparan COVID-19. 
     Postingan Dokter Handoko yang terbaring lemah di ICU membuat banyak kalangan terhenyak. Menaruh empati besar atas perjuangan GARDA TERDEPAN tim medis ini. Bahkan, orang nomor satu di Jawa Tengah Gubernur Ganjar Pranowo menyempatakn diri untuk menelepon Dokter Handoko dan berkomuniikasi langsung. Sebuah empati yang tidak bisa ternilai harganya dari kalangan pejabat tinggi.    

     Dari pembahasan di atas menunjukan bahwa pandemi virus Korona mampu merugikan sendi-sendi perekonomian di belahan dunia. Namun, kata pepatah menyatakan bahwa di balik kesempitan pasti ada kesempatan yang luaar biasa. Semua pihak di dunia menyatakan bahwa pandemi virus Korona adalah hal yang sangat MERUGIKAN banyak sektor. Tetapi, kesempatan terbaik selalu ada dari musibah tersebut. 
     Allah SWT tidak akan menguji manusia DI LUAR BATAS KEMAMPUANNYA. Percayalah, Allah SWT Maha Penyayang dalam kasus pandemi virus Korona ini. Dan, bagi orang-orang yang bersyukur, maka mereka akan selalu melihat sisi positif dari sebuah wabah yang sedang mendera dunia ini. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya berdoa SEMOGA PANDEMI VIRUS KORONA INI AKAN SEGERA BERAKHIR. 



Denpasar Bali (Work From Home/WFH), 22 Maret 2020



     

Waspadalah! Penipuan Berkedok Rekrutmen Kerja yang Mengatasnamakan PT. Aneka Gas Industri, Tbk.

Waspadalah! Penipuan berkedok rekrutmen kerja yang mengatasnamakan PT. Aneka Gas Industri, Tbk. (Sumber: shutterstock/diolah)     Aksi...