Saturday, May 30, 2020

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona


Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi)





Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak bisa melewatkan Lebaran Ketupat. Orang Jawa biasa menyebutnya Badanan Kupat atau Riyoyo Kupat. Lebaran Ketupat ini berlangsung seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.

 

Silaturahmi di Lebaran Ketupat

 

Lebaran Ketupat merupakan tradisi dari kearifan lokal bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Lebaran Ketupat menjadi ajang untuk silaturahmi bersama saudara atau tetangga terdekat. Namun, karena kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Maka, perayaan Lebaran Ketupat berlangsung di rumah masingt-masing.

 

Biasanya, pagi ketika Lebaran Ketupat, warga secara bersamaan berkumpul di masjid atau Mushola. Mereka membawa ketupat yang telah matang. Dicampur dengan lauk-pauk sesuai selera masing-masing. Ketika, jumlah warga sudah berkumpul semua. Maka, sang ustad setempat akan memanjatkan doa keselamatan. Serta, doa agar dipanjangkan umurnya bisa bertemu bulan Ramadan tahun depan.

 

Ketika, acara selamatan perayaan Lebaran Ketupat selesai. Maka, warga akan membawa ketupat yang sudah matang tersebut secara random. Mereka bebas mengambil ketupat yang mana saja. Dengan kata lain, mereka seperti bertukar ketupat. Hal ini menandakan bahwa keikhlasan setiap orang. Agar, diampuni dosa yang telah diperbuatnya.

 

Lebaran Ketupat memberikan arti penting yaitu upaya agar dimaafkan segala kesalahan dan dosa sesama manusia. Saat Lebaran Ketupat, setiap orang benar-benar lepas dari segala dosa. Serta, kembali ke fitrah (kesucian) seperti bayi yang baru lahir.

 

Lebaran Ketupat di Rumah Saja

 

Namun, saat Pandemi Virus Corona, acara kumpul-kumpul di masjid atau mushola ditiadakan. Kini, berdoa demi keselamatan dan dipanjangkan umurnya. Agar, bisa bertemu di bulan Ramadan tahun depan, hanya bisa dilakukan di rumah saja. Menjelang malam Lebaran Ketupat, acara masak ketupat dimulai. Agar, pagi-pagi bisa dinikmati sekeluarga. Dan, berdoa demi keselamatan dunia dan akhirat.

 

Percayalah, meskipun kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, tidak mengurangi nilai ibadah untuk merayakan Lebaran Ketupat. Sebuah tradisi yang memberikan banyak arti.

 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya biasa merangkai ketupat sendiri. Sambil mengisi waktu luang. Namun, kini, untuk menghemat waktu, maka membeli ketupat yang sudah jadi di pasar adalah pilihan yang baik. Juga, membantu orang lain untuk menjemput rejeki.

 

Menarik, yang membuat ketupat jadi, justru bukanlah orang Muslim. Tetapi, banyak masyarakat Hindu Bali yang menjual ketupat yang siap di masak tersebut. Masyarakat Hindu Bali sangat memahami perayaan Lebaran Ketupat. Sepertinya, mereka sudah paham bahwa besok adalah perayaan Lebaran Ketupat bagi umat Islam.

 

Bahkan, saya melihat di sepanjang jalan yang dekat dengan pasar badung Denpasar. Di mana, tidak sedikit ibu-ibu atau nenek-nenek yang dengan lincah tangannya membuat ketupat. Dan, ketupat tersebut untuk dijual. Ini menjadi pemandangan menarik.

 

Lebaran Ketupat yang dirayakan oleh umat Islam justru telah dipahami oleh penganut agama lain. Hal ini menjadi bukti bahwa Lebaran Ketupat telah menjadi tradisi puluhan tahun silam. Bahkan, saat kondisi Pandemi Virus Corona, maka umat Islam tidak menyurutkan perayaan Lebaran Ketupat. Serta, penganut agama lain pun tidak lupa perayaan Lebaran Ketupat yang dirayakan umat Islam.

 

“Pokoknya besok harus masak ketupat pah. Buat merayakan Lebaran Ketupat” kalimat istri yang mengingatkan saya akan peristiwa Lebaran Ketupat.

“Memang harus?” jawab saya pura-pura tidak tahu.

“Ya harus pah. Kan, biar dosanya lebur semua. Di Ngawi (Jawa Timur) kan tiap tahun pasti merayakan Lebaran Ketupat” kata istri meyakinkan.

“Ya udah kalau begitu” jawab saya dengan enteng.      

 

Ketika keluarga besar di Ngawi Jawa Timur akan merayakan Lebaran Ketupat. Maka, saya pun mesti merayakan meskipun ada di perantauan. Ketika, tidak bisa mudik Lebaran tahun ini.

 

Tahun 2020 memang sungguh berbeda. Bukan hanya larangan mudik dan Lebaran yang dirayakan di rumah saja. Lebaran Ketupat pun dirayakan dari rumah masing-masing. Bukan hanya meningkatkan jiwa relejius. Tetapi, sebisa mungkin mempertahankan kearifan lokal.

 

Lebaran Ketupat tidak seperti memasak ketupat layaknya penjual Ketupat tahu, yang dilakukan setiap hari. Tetapi, Lebaran Ketupat mempunyai makna bahwa setiap orang akan melakukan ketupat. Yang dalam Bahasa Jawa berarti “kupat”. Kupat itu kepanjangan dari “ngaku lepat atau mengaku kesalahan”.

 

Jadi, saat umat Islam merayakan Ketupat Lebaran, maka sejatinya umat Islam sedang mengakui segala kesalahan yang telah dilakukannya. Dan, memohon maaf lahir dan batin. Agar, dihapuskan segala dosa dan kesalahannya. Selanjutnya, akan kembali ke fitrah (kesucian).

 

Selamat merayakan Lebaran Ketupat bagi brosis semuanya.

 

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H

Minal Aidin Wal Faidzin.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Nyuwun Agunging Pangapunten sedaya kelepatan.   



Friday, May 22, 2020

“Prank” ala M. Nuh di Acara Lelang Sepeda Motor Listrik Gesits Jokowi


Konser Virtual “Berbagi Kasih Bersama Bimbo” yang diselenggarakan pada tanggal 17 Mei 2020 lalu di studio TVRI (Sumber: twitter/@rozid_sagadaqu)

 

 

“Firaun marah kepada Nabi Musa As. Dia lalu memerintah para tukang sihirnya. Mengerahkan tongkatnya, yang kemudian menjadi ular. Beberapa menyerang Nabi Musa As. Atas ijin Allah SWT, Nabi Musa As pun mengeluarkan mu’jizat tongkatnya. Tongkat tersebut menjadi ular. Yang ukurannya lebih besar dari ular para tukang sihir Fir’aun. Selanjutnya, ular tongkat Nabi Musa As memakan semua ular jelmaan tongkat para tukang sihir Fir’aun”.  

 

  

 

Ilustrasi di atas merupakan sepenggal cerita fakta tentang perjalanan Nabi Musa As yang ada dalam Al-Qur’an. Keberanian Nabi Musa As di hadapan penguasa yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, Fir’aun.

 

Cerita tersebut menunjukan bahwa orang yang mempunyai kekuasaan tinggi. Bahkan, yang mengaku dirinya Tuhan macam Fir’aun bisa dipermalukan oleh rakyat biasa. Ya, rakyat biasa yang tidak punya apapun mampu membuat malu orang yang punya jabatan.

 

Bagaimana dengan era digital sekarang ini? Media sosial telah mempunyai kosakata baru yang bernama PRANK. Di mana, sebuah konten yang bertujuan untuk “mengerjai” orang lain. Terlepas, konten tersebut berjalan secara alami atau rekayasa. Terlepas dari merugikan atau menguntungkan orang lain. Yang jelas, kata PRANK ini telah menjadi kosakata yang familiar di era media sosial.

 

Telepon Seharga Rp2,55 Miliar

 

Beberapa minggu ini, media sosial telah dihebohkan dengan konten PRANK yang dilakukan oleh Youtuber Ferdian Paleka. PRANK yang merugikan orang lain itu akhirnya membawa sang Youtuber ke bui.

 

Belum lepas kekesalan atas konten PRANK Ferdian Paleka. Kini, jagat maya dihebohkan dengan Tindakan yang dilakukan oleh Muhammad Nuh (M. Nuh). Kali ini, tindakan M. Nuh tergolong nekad “Tingkat Dewa”. Bukan hanya merugikan satu atau dua orang. Tetapi, tindakannya telah membuat “malu” para pejabat tinggi negara.

 

Kejadian berawal dari acara Konser Virtual “Berbagi Kasih Bersama Bimbo” yang diselenggarakan di studio TVRI tanggal 17 Mei 2020 lalu secara langsung pukul 19.30-22.00 WIB. Acara tersebut dihelat oleh MPR RI yang bekerjasama dengan Badan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sedang acara tersebut bertujuan untuk menggalang dana kalangan yang terkena dampak COVID-19.

 

Konser virtual penggalangan dana tersebut dimeriahkan oleh beberapa artis terkenal, di antaranya Bimbo, Rossa, penyanyi dangdut Via Vallen, pemenang Indonesian Idol Lyodra tahun 2020, dan artis-artis lainnya.

 

Acara amal tersebut mampu mengumpulkan donasi hingga Rp4 miliar. Dan, menurut Ketua MPR RI menyatakan bahwa donasi yang terkumpul tersebut akan diserahkan kepada para seniman dan pekerja seni. Melalui Yayasan Generasi Lintas Budaya yang dipimpin oleh aktris Olivia Zalianty.

 

Tidak ketinggalan, juga diadakan lelang sepeda motor. Yang menarik adalah sepeda motor yang dilelang ini “bukan sembarang sepeda motor”. Namun, sepeda motor listrik Gesits karya anak negeri bertenaga baterai.

 

Sepeda Motor Gesits mampu menempuh jarak 70 kilometer untuk sekali pengisian baterai. Waktu sekali pengisian baterai sekitar tiga jam. Yang bikin “wah” dan bernilai, sepeda motor listrik ini telah dibubuhi tanda tangan orang nomor satu RI Presiden Jokowi.


Presiden Jokowi sedang membubuhkan tanda tangan di sepeda motor listrik Gesits (Sumber: suaranews.com) 

 

Acara lelang sepeda motor listrik tersebut dipandu oleh artis Choki Sitohang. Aktris Ollvia Zalianty dan host ternama Andi F. Noya. Sedangkan, acara lelang dipimpin langsung oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Nasional (Kadin) Rosan Roslani.

 

Proses penawaran harga lelang berlangsung alot.  Lelang sepeda motor Gesits buka harga Rp700 juta dari salah satu penelpon. Selanjutnya, harga penawaran itu makin tinggi. Bahkan, bisa menembus angka penawaran yang fantastis hingga mencapai angka Rp 1,5 miliar.

 

Ternyata angka penawaran tersebut masih berlangsung seru dan menegangkan.   Yang, kemudian jumlahnya terus bertambah setiap menit hingga mencapai angka Rp1,5 miliar.

 

Penawaran harga lelang makin alot, saat tiga penelpon memberikan penawaran harga yang sama yaitu sebesar Rp2,5 miliar. Salah satu penawar tersebut adalah petinggi PDIP Maruarar Siarait.

 

Namun, saat panitia kebingungan untuk memutuskan pemenang atas penawaran tersebut. Di ujung telepon panitia lelang, muncul penawaran yang lebih tinggi, Dia bernama Muhammad Nuh. Yang mengaku sebagai pengusaha asal Jambi. Ternyata, penawaran tersebut adalah penawaran yang terakhir. Tidak ada yang berani menawar lagi.

 

Untuk memastikan pemenangnya, pemandu acara Choki Sitohang sempat meyakinkan bahwa M. Nuh adalah orang yang sudah terverifikasi. Choki Sitohang sempat bicara pada panitia lelang agar mengoreksinya, jika dirinya salah.

 

Bahkan, Choki Sitohang sempat bertanya kepada Wanda Hamidah untuk memastikan bahwa penawaran tersebut benar-benar serius. Dan, Wanda hamidah dengan mantap menjawab pertanyaan Choki Sitohang. Bahwa, pemenangnya adalah M. Nuh. Seorang pengusaha asal Kampung Manggis Jambi. Bahkan, yang bersangkutan sudah ditelepon dua kali,  dan dinyatakan terverifikasi.

 

Selanjutnya, Choki Sitohang pun dengan semangat memutuskan kepada siapa sepeda motor gesits tersebut dilepas. Dan, M. Nuh adalah pemenangnya dengan nilai penawaran tertinggi sebesar Rp2,55 miliar.  

 

Ternyata Buruh Harian Lepas (BLH)

 

Sungguh mengejutkan, sang pemenang lelang sepeda motor listrik Gesists Presiden Joko Widodo M. Nuh diproses di Polda Jambi. Dia telah melakukan aksi “penipuan”. Karena, tak jua membayar uang lelang yang ditagih oleh panitia lelang.

 

Muhammad Nuh yang telah melakukan penipuan di acara lelang sepeda moto Gesits Jokowi (Sumber: suara.com)

 

Menarik, beberapa media online melansir berita, menurut Kapolda Jambi, Irjen Firman Setyabudi putra bekas Wapres Try Sutrisno itu, menyatakan bahwa M. Nuh tidak paham acara yang diikuti tersebut adalah acara lelang.

 

Dia mengira bakal dapat hadiah. Bahkan, informasi tambahan menyatakan bahwa M. Nuh datang untuk meminta perlindungan kepada pihak kepolisian.

 

Menurut pendapat saya, anda hal yang unik yang membutuhkan penalaran lebih dalam dari alasan M. Nuh. Pertama, dia memang benar-benar tidak mengetahui itu acara lelang. Mungkin, M. Nuh mengira bahwa acara tersebut adalah acara “Tebak Harga”.

 

Jadi, siapapun yang mampu harga yang mendekati harga sesungguhnya, akan mendapatkan hadiah. Seperti yang sering tayang di Televisi Swasta. Hal ini diperkuat dengan status pekerjaan dia sebagai Buruh Harian Lepas (BLH). Bahkan, terbukti juga saat Wanda Hamidah yang menyatakan sudah menelepon M. Nuh dua kali. Bahwa, dia benar-benar menginginkan hadiah, dan dia yang terpilih.

 

Kedua, justru M. Nuh sudah memahami acara tersebut. Dengan kata lain, dia sudah paham dan ingin melakukannya secara “iseng-iseng” dan percaya diri. Seperti apa yang dilakukan oleh pelaku bullying (perundungan). Kepada anak yang bernama Rizal (penjual Jalangkote) di Sulawesi Selatan baru-baru ini.  

 

Dengan kata lain, M. Nuh dengan sengaja melakukan aksi “mengerjai” atau PRANK di acara tersebut. Aksi tersebut bisa diperkuat dengan adanya pembohongan informasi. Yaitu, dia membohongi jenis pekerjaan dan alamat tinggal.

 

M. Nuh yang beralamat sesuai KTP di Kampung Manggis RT/RW 020/000, Desa Sungai Asam, Kecamatan Pasar Jambi, Provinsi Jambi. Tetapi, saat diverifikasi oleh panitia lelang, dia mengatakan dengan alamat di Kampung Manggis, Jambi. Dari sini, saya melihat ada niat dia untuk menghilangkan jejak aksinya.

 

Lagi, untuk meyakinkan panitia lelang, maka dia berani untuk membohongi jenis pekerjaan sebagai “pengusaha”. Sebuah jenis pekerjaan yang semua orang akan mempercayainya untuk membayar uang sebesar Rp2,55 miliar.  

 

Dari dua hal unik di atas, saya tidak bisa memberikan kesimpulan mana yang benar. Hanya Allah SWT dan M. Nuh yang tahu. Entah dia jujur tidak tahu acara lelang atau sudah tahu acara tersebut. Tetapi, ingin berbuat iseng-iseng tingkat dewa, yang membuat trending di jagat media sosial. Semua terserah kepada anda. Saya hanya memberikan dua hal unik tersebut.     

 

Yang jelas, atas aksi M. Nuh, banyak komentar yang pro dan kontra. Banyak netizen yang berkomentar beragam di media sosial. Kesimpulan menarik dari komentar Netizen bahwa M. Nuh telah melakukan aksi PRANK yang luar biasa berani.

 

Bukan hanya kepada satu orang, tetapi kepada ratusan orang. Bahkan, kepada semua rakyat Indonesia, khususnya Presiden RI. Netizen pun memberik gelar kepada M. Nuh sebagai “The Lord of Prank”.

 

Menurut media online suara.com (21/5/2020), mendengar kabar bahwa Polda Jambi sedang memproses M. Nuh. Maka, Ketua MPR RI memberikan apresiasi yang tinggi kepada Polda Jambi. Beliau juga berharap agar orang yang terkait dengan acara lelang tersebut dilepaskan. Dengan alasan tidak ada pihak yang dirugikan.

 

Semoga kejadian yang dilakukan oleh M. Nuh menjadi pelajaran berharga buat kita semua.



Saturday, May 2, 2020

Marjan dan Kearifan Lokal

Marjan dan Kearifan Lokal (Sumber: Bukalapak/diolah)


“Dalam sebuah pesta kerajaan. Sang Raja memutuskan untuk memberikan tahtanya kepada si bungsu, Purbasari. Namun, sepertinya. Proses pemberian tahta tersebut membuat iri sang kakak, Purbararang. Saat proses pemberian tahta, datanglah sang Penyihir jahat. Yang mempengaruhi Purbararang untuk merebut tahta yang telah diberikan kepada adiknya. Pengaruh sihir membuat Pubasari teraniaya. Dengan wajah rusak karena kutukan. Dan, rasa malu yang luar biasa. Karena, semua peserta pesta tersebut memalingkan wajahnya. Purbasari melarikan diri ke dalam hutan. Untuk menenangkan diri dan menghilangkan rasa malu”.



            Itu adalah sekilas gambaran sekuel iklan Marjan Bagian 1 pada bulan Ramadan 2020. Yang mengusung tentang Kearifan Lokal. Yaitu, mengangkat cerita rakyat yang bertemakan Purbasari dan Lutung Kasarung.

KEARIFAN LOKAL & Penanda Ramadan

Mengupas produk minuman semacam MARJAN memang sungguh menarik. Kalou boleh jujur, Marjan adalah produk yang mempunyai ciri khusus. Di mana, setiap kurang lebih satu bulan menjelang bulan Ramadan. Maka, iklan Marjan akan muncul, menghiasi televisi, Youtube dan media sosial.

Banyak kalangan mengaggap bahwa tak lengkap rasanya bulan Ramadan. Jika, tidak muncul iklan Marjan di televisi. Berasa ada yang kurang. Sama halnya, di kampung saya Brebes Jawa Tengah. Lebaran tak lengkap rasanya, tanpa membunyikan petasan. Yang bunyinya bagai letusan granat.

Jadi, jika anda tidak punya kalender, jam tangan, televisi atau yang lainnya. Anda bisa lihat tayangan Marjan di televisi tetangga. Itu berarti sebagai tanda akan datang bulan Ramadan. Begitulah kira-kira anggapan banyak orang. Marjan seperti menjadi hilal. Di mana, kurang lebih sebulan lagi akan memasuki datangnya bulan Ramadan.

Selain sebagai penanda memasuki bulan Ramadan, Marjan juga mempunyai ciri yang menarik. Iklan yang ditayangkan baik di televisi maupun di Youtube & media sosial patut ditiru. Mengapa? Marjan selalu mengusung tentang kearifan lokal. Yaitu, mengangkat tema cerita rakyat yang beredar dan telah dikenal lama oleh masyarakat.

Tahun 2019 lalu, iklan Marjan mengangkat tema tentang Timun dan Buto Ijo. Semua masyarakat Indonesia pasti tahu. Dan, kini, tahun 2020, Ramadan yang dialkukan saat Pandemi Virus Corona mengangkat tema yang ciamik. Yaitu, Purbasari dan Lutung Kasarung, yang cerita singkatnya, sudah dijelaskan di atas.     
  

Salah satu sekuel iklan Marjan Sekuel 2 yang Mempertemukan Purbasari dan Lutung Kasarung (Sumber: Youtube/screenshoot)


Menariknya lagi, cerita rakyat yang ditampilkan oleh Marjan dibuat berseri. Antara 3-4 bagian. Jadi, sebagai contoh, menjelang Ramadan menampilkan bagian 1. Kemudian, 10 hari Ramadan bagian kedua dan seterusnya. Hal ini akan membuat penonton semakin penasaran. Ingin mengetahui jalan cerita selanjutnya. Meski, cerita tersebut sebagai iklan. Inilah uniknya Marjan.

PEMAHAMAN BAWAH SADAR

Branding Marketing Marjan dikemas merakyat, menghibur dan penuh edukasi. Cerita rakyat yang ditampilkan secara langsung akan memberikan pendidikan bagi masyarakat. Khususnya, anak yang masih sekolah, bahwa jalan cerita yang ditampilkan adalah untuk pendidikan.   

Di saat produk lain menampilkan iklan-iklan bergaya milenial. Tetapi, Marjan sungguh berbeda. Marjan justru tertarik menampilkan cerita rakyat, yang “mungkin” masyarakat belum banyak tahu. Namun, dengan munculnya iklan Marjan tersebut. Maka, penonton secara tidak langsung memahami iklan yang sedang ditayangkan.

Dalam ilmu Pemahaman Bawah Sadar menyatakan bahwa sebuah kejadian, gambar, foto atau audio. Yang setiap saat ditampilkan secara massif dan berkali-kali. Sangat berpengaruh terhadap kesadaran banyak orang. Masyarakat secara langsung akan memahami apa yang terlihat, terbaca dan terdengar.

                                                                                                                    Anda masih ingat dengan Mars sebuah partai. Yang ditayangkan setiap saat di salah satu stasiun televisi swasta, bukan?. Saat menjelang Pemilu dan Pilpres tahun 2019. Begitu masif dan seringnya Mars Partai tersebut ditayangkan. Saya sendiri yang tidak mau hafal liriknya, sampai hafal di luar kepala. Bahkan, anak-anak kecil saja hafal dengan Mars Partai tersebut. Itulah kekuatan Pemahaman Bawah Sadar Manusia.


Kembali ke iklan Marjan. Iklan itu tayang hampir setiap saat, selama kurang lebih 30 hari sebelum dan saat bulan Ramadan 2020. Bahkan, saat bulan Syawal pun masih tayang. Kondisi tersebut secara pemahaman bawah sadar akan mempengaruhi pikiran penonton. Agar bisa memahami apa yang terkandung di dalamnya. Apalagi, iklan Marjan yang sungguh unik. Tentu, menarik banyak orang untuk menontonnya.

Jujur, saya sendiri malah tidak hafal “tagline” yang dibawa oleh produk minuman Marjan ini. Namun, Ketika saya melihat iklan yang bertemakan tentang cerita rakyat. Maka, pikiran saya langsung meluncur, “oh, itu iklan Marjan”. Inilah cara strategi marketing yang baik. Di mana, masyarakat mampu merekam keunikan dari sesuatu produk. Dan, pikiran masyarakat langsung tertuju ke produk tertentu, yang menjadi ciri khasnya.  

Saya yakin, kalau melihat masalah rasa, pasti banyak yang lebih bagus dari Marjan. Namun, Marjan memberikan keunikan tersendiri untuk masyarakat dalam hal marketing-nya. Masyarakat akan berpikir bahwa satu-satunya iklan produk yang mengusung tema cerita rakyat adalah Marjan.  Tidak ada yang lain.

Rasa kearifan lokal yang dikembangkan Marjan juga mempunyai nilai tersendiri. Iklannya juga dibuat seperti membuat sekuel film laga, dengan efek yang bagus. Lihatlah pada sekuel kedua, adegan Purbasari dan Lutung Kasarung.

Adegan Lutung Kasarung yang berputar-putar dan Purbasari yang mengeluarkan tenaga dalam. Saya melihat bahwa efek ilmu tenaga dalam video iklan ini “amazing” banget. Bak film laga yang mengembangkan efek CGI (Computerized Grafic Ilustrator). Maaf banget jika penamaan efek ini salah, Corect Me If It Wrong (CMIIW).

Yang jelas, iklan Marjan memberikan kesadaran kembali masyarakat. Agar memahami kearifan lokal yang ada. Salah satunya, cerita rakyat yang berkembang sejak dulu. Di mana, masyarakat mulai tidak peduli dengan cerita rakyat tersebut. Tetapi, masyarakat lebih hepi dengan cerita-cerita dalam film box office Film Barat.

Terima kasih Marjan. Engkau, bukan hanya menjual minuman segar untuk bekal buka puasa. Yang mengundang  selera. Dan, seringkali membuat air liur menetes. Tetapi, engkau telah menyadarkan masyarakat Indonesia. Untuk mencintai budayanya. Cerita rakyat yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kearifan lokal yang tak pernah lekang oleh waktu.  



Waspadalah! Penipuan Berkedok Rekrutmen Kerja yang Mengatasnamakan PT. Aneka Gas Industri, Tbk.

Waspadalah! Penipuan berkedok rekrutmen kerja yang mengatasnamakan PT. Aneka Gas Industri, Tbk. (Sumber: shutterstock/diolah)     Aksi...