Thursday, July 22, 2021

PENGALAMAN UNIK! NGINAP DI LAPANGAN MARKAS TENTARA UNTUK MENDAPATKAN NOMOR ANTRIAN VAKSINASI COVID-19

 

Menginap di lapangan markas tentara demi mendapatkan nomor antrian vaksinasi Covid-19 (Sumber dokumen pribadi)

 

 

          Pemerintah Indonesia memberlakukan PPKM Level 3-4, sebagai perpanjangan dari program sebelumnya yaitu PPKM Darurat Jawa dan Bali. Sebagai warga negara yang baik, kita harus patuh atas regulasi pemerintah. Tentu, demi kebaikan masyarakat. Untuk menekan penyebaran Covid-19 makin meluas. Apalagi, ada varian Covid-19 yang lebih ganas seperti varian Delta.

          Namun, apapun munculnya varian baru tersebut, hal yang meski dilakukan adalah masyarakat meski mempunyai imunitas (kekebalan tubuh). Maka, Pemerintah menggalakan vaksinasi dengan tujuan untuk menimbulkan kekebalan tubuh masyarakat terhadap ganasnya penyebaran Covid-19.

          Khususnya di Provinsi Bali sebagai tempat destinasi pariwisata. Maka, program vaksinasi menjadi hal yang sangat penting. Dimulai dengan orang nomor satu Gubernur Bali I Wayan Koster dan Wakil Gubernur Cok Ace. Kemudian, menyusul jajaran penting di tingkat Provinsi Bali. Selanjutnya, vaksinasi digencarkan untuk para pelayan publik seperti birokrasi, pelaku pariwisata dan lain-lain.

          Bahkan, program vaksinasi mulai intensif di berbagai Puskesman dan berbagai banjar di seluruh Bali. Menarik, untuk warga pendatang atau yang ber-KTP luar Bali. Maka, pemerintah menunjuk tempat khusus untuk vaksinasi seperti RSU Sanglah, RS AD Uddayana dan lain-lain.

 

MENGINAP DI LAPANGAN MARKAS TENTARA

          Kebetulan, RS AD yang terletak di dekat pusat perbelanjaan Tiara Dewata paling dekat dengan tempat tinggal saya. Maka, saya pun mencari informasi, bagaimana caranya agar bisa vaksinasi di RS AD tersebut. Karena, peminatnya yang sangat membludak, maka pihak penyelenggara memberikan pelayanan bagi masyarakat dengan syarat HARUS MEMPUNYAI NOMOR ANTRIAN.

          Jujur, untuk mendapatkan nomor antrian vaksinasi tersebut tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Atau, anda datang, dapat antrian dan langsung vaksinasi. Tidak semudah itu Ferguso!

          Pihak penyelenggara menyediakan jatah nomor antrian sebanyak 600 orang. Untuk menghindari aksi berebut, maka penyelenggara benar-benar membuat solusi cerdas. Di lapangan KESDAM/1X Udayana, samping RS AD Udayana telah disediakan 600 kursi yang tersedia di lapangan milik intansi tentara tersebut. Kursi-kursi diatur dengan jarak sesuai protokol kesehatan (prokes).

          Untuk mendapatkan nomor antrian, maka siapapun boleh menduduki kursi yang ada. Siapa cepat dialah yang akan dapat. Jangan kaget, untuk mendapatkan nomor antrian, maka saya bela-belain datang pukul 10 malam minggu tanggal 17 Juli 2021 lalu.

          Ngeri-ngeri sedap, ternyata 2/3 dari kursi yang ada telah diduduki orang. Pikir saya, ini orang pada ngantri jam berapa ya? Jika, kuota 600 orang sudah terpenuhi, maka pintu gerbang markas tentara tersebut akan ditutup. Setiap 10 menit, para petugas dari unsur tentara mengecek okupansi (kuota) yang telah tersedia. Dan, pukul 01 dinihari, kuota 600 orang telah terpenuhi. Gila!

          Perlu diketahui bahwa proses pembagian kartu nomor antrian vaksinasi Covid-19 tersebut dimulai pukul 05.30 pagi. Dengan demikian, saya beserta anggota keluarga dan ratusan orang harus menginap di lapangan markas tentara, dalam posisi duduk di kursi yang telah disediakan.

          Namun, menunggu waktu pembagian nomor antrian sangatlah membosankan di area yang benar-benar minim penerangan. Namun, saya katakan gelap gulita. Hanya sorot lampu dari bangunan sekitar dan lampu smartphone para pengantri. Saya tidak bisa membayangkan, jika malam itu terjadi turun hujan yang deras. Betapa kroditnya suasana malam yang gelap tersebut.

          Bersyukur, Allah SWT sayang, maka malam itu sungguh cerah. Semalaman, saya tidak bisa tidur, hanya menikmati bintang-bintang di langit. Saya melihat banyak orang yang rebahan atau tiduran di samping kursi yang diduduki. Bahkan, ada yang memang prepare dengan membawa tikar untuk tidur. Berbagi kondisi para pengantri menunggu datangnya pagi menjadi pemandangan menarik.

          Saya merasakan malam itu seperti proses Jurit Malam saat SMA dulu. Petugas tentara selalu mengingatkan, agar kursi yang telah diduduki jangan ditinggal pergi. Sebab, jika dalam waktu tertentu tidak bertuan (tidak ada orangnya), maka kursi tersebut akan menjadi milik orang lain. Yaitu, orang-orang yang mengadu nasib dengan menunggu di luar pintu gerbang markas tentara.

          Saya masih ingat pesan petugas pos jaga, saat saya bertanya tentang prosedur untuk mendapatkan nomor antrian vaksinasi.

 

“Kalau bapak mau pergi, minta tolong saudara atau anak untuk duduk di kursi yang anda miliki. Kalau tidak, orang lain bisa saja menduduki kursi yang telah anda incar”.

 

          Maka, ada saja adegan lucu selama menunggu nomor antrian tersebut. Di mana, sebuah kursi tidak bertuan. Namun, yang ada justru sebuah helm yang nagkring di kursi tersebut. Alhasil, menjadi bahan lelucon petugas tentara, yang disambut gelak tawa ratusan para pengantri nomor antrian.

 

“Ini kursi, yang mau vaksinasi orangnya kok gak ada. Yang ada hanyalah helm. Berarti yang mau vaksinasi helm ini ya”

 

 

PEMBAGIAN KARTU NOMOR ANTRIAN

          Malam itu, saya sempat memejamkan mata. Namun, tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 04.30 pagi. Suara petugas tentara dengan megaphone mengusik keheningan ratusan orang dalam berbagai posisi. Ada yang tidur, ngantuk, mainin smartphone dan lain-lain.

 

“Bapak-bapak, ibu-ibu, sekarang waktu menunjukan pukul setengah 05 pagi. Tolong semua dalam posisi duduk di kursi. Atur semua kursi sesuai barisannya dan bersihkan sampah yang ada di sekeliling anda. Tadi sore dalam kondisi bersih, maka pagi ini saya minta dalam kondisi bersih juga. Saya kasih waktu sampai pukul 05 pagi, untuk bapak dan ibu jika mau pergi ke kamar mandi. Setelah itu, semua dalam posisi di kursinya masing-masing. Ketika, kursi dalam kondisi kosong, maka berarti anda tidak akan mendapatkan nomor antrian. Ingat, semua yang ada di sini pasti mendapatkan nomor antrian, nanti tidak usah berebut”

 

          Maka, menjelang pukul 05 pagi. Jalan yang gelap menuju toilet (dalam bentuk mobil) dipenuhi dengan orang hilir mudik. Meskipun, gelap gulita, saya merasakan kenyamanan. Karena, saya yakin bahwa orang-orang yang ada pasti mempunyai niat baik untuk mendapatkan nomor antrian vaksinasi. Itulah sebabnya, petugas tentara sudah wanti-wanti tidak akan menanggung segala barang yang hilang. Karena, menjadi tanggung jawab masing-masing orang.

          Tepat pukul 05.30 pagi, kartu nomor antrian benar-benar dibagikan. Meskipun, kondisi lapangan markas tentara tersebut dalam kondisi gelap. Menarik, proses pembagian kartu nomor antrian tersebut dibagi oleh petugas tentara. Dan, dikawal dan dijaga oleh beberapa tentara juga, seperti pihak Provost.

          Tentu, hal ini bertujuan untuk menimbulkan keamanan dan kenyamanan. Dan, mencegah aksi berebut nomor antrian. Sungguh, pembagian kartu nomor antrian di pagi yang gelap tersebut benar-benar tertib.

          Setiap orang yang sudah mendapatkan nomor antrian diwajibkan untuk meninggalkan lapangan dan langsung pulang. Untuk mencegah kondisi kerumunan. Untuk selengkapnya, anda bisa melihat video pengalaman saya berikut ini.

 

 

Pengalaman unik! Menginap di lapangan markas tentara untuk mendapatkan nomor antrian vaksinasi Covid-19 (Sumber: dokumen pribadi/Youtube)

No comments:

JNE Deklarasikan Hari Bahagia Bersama Sejak Tanggal 7 September 2021

  Talkshow tentang Hari Bahagia Bersama (Sumber: JNE)                     “Berbagi, Memberi dan Menyantuni”               Tiga kata muja...