Wednesday, October 27, 2021

MOMS INGIN MERENCANAKAN PERSALINAN SECARA MATANG? PAKAI TES POTENSI CAESAR 2.0 BY NUTRICLUB SAJA

 

Merencanakan persalinan secara matang dengan Tes Potensi Caesar 2.0 By Nutriclub (Sumber: shutterstock/diolah)

 

            Proses melahirkan anak  selalu menjadi perhatian serius keluarga, khususnya para moms. Karena, melahirkan menjadi kodrat wanita untuk menyambung sebuah generasi. Setiap moms berharap bisa mengalami proses persalinan sesuai yang diharapkan. Itulah sebabnya, merencanakan persalinan secara matang menjadi hal yang harus diperhatikan dengan baik.

            Demi menambah ilmu tentang persalinan para moms, maka dibahas menarik dalam acara Webinar Bicara Gizi dengan tema “Rencanakan Persalinan secara Matang dengan Tes Potensi Caesar” yang selenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia. Acara tersebut diadakan pada tanggal 27 Oktober 2021 pukul 10.00-12.00 WIB, secara live melalui Zoom dan channel Youtube Nutrisi Untuk Bangsa.

 

Webinar Bicara Gizi dengan tema “Rencanakan Persalinan secara Matang dengan Tes Potensi Caesar” (Sumber: Danone Indonesia)

 

DETEKSI DINI KEHAMILAN

            Persalinan harus direncanakan secara matang. Dengan kata lain, Deteksi Dini akan membuat para moms bisa mengetahui metode persalinan yang akan dihadapi. Mengapa? Moms harus menghindari Kehamilan Berisiko Tinggi. Bukan hanya demi kesehatan moms, tetapi untuk kesehatan bayi. Maka, Persiapan Persalinan secara matang dan aman, akan memberikan kebahagiaan pada kehidupan moms dan keluarganya.


Merencanakan persalinan matang sejak dini (Sumber: shutterstock/diolah)

 

            Moms bisa merencanakan persalinan, baik secara persalinan normal (Natural Delivery) atau  sesar (Caesarea Section atau C-Section). Keuntungan untuk kelahiran normal (persalinan pervaginam) adalah: 1) Skin-to-skin contact segera setelah lahir dan Inisiaasi Menyusui Dini (IMD) lebih lama; 2) Penyembuhan lebih cepat; dan 3)  Persalinan berikutnya biasanya lebih cepat dengan risiko lebih rendah. 

            Perlu diketahui bahwa kelahiran sesar atau atau Cesarean Section (C-Section) adalah metode kelahiran bayi melalui insisi atau sayatan perut moms. Langkah-langkah pada kelahiran sesar atau Cesarean Section (C-Section) yang membutuhkan waktu waktu antara 40-50 menit, yaitu:

1. Pembiusan: Regional (epidural/spinal).

2. Sayatan di kulit dan perut (sekitar 10 cm).

3. Pengeluaran bayi (sekitar 5-15 menit).

4. Pengeluaran plasenta.

5. Menutup rahim dan perut.

            Dr. dr. Irma Irwinda, Sp.OG(K), selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal menyatakan bahwa  1 (satu) dari 5 (lima) wanita di dunia melahirkan anak secara sesar. Sedangkan, di Indonesia sendiri berdasarkan Riskedas tahun 2018, persentase kelahiran sesar sebesar 17,6%. Untuk wilayah perkotaan sebesar 22,49%, dan pedesaan sebesar 21,13%. Untuk wilayah DKI Jakarta sendiri sebesar 31,1%. Menurut WHO, meskipun prosedur sesar cukup aman, namun angka sesar lebih dari 10-15% tidak memberikan luaran yang lebih baik.

            Tentu, moms menginginkan persalinan secara normal, bukan? Karena, dianggap rendah risiko. Moms yang menjalani kelahiran sesar memiliki angka kehamilan lebih rendah 9% dan angka kelahiran lebih rendah 11% dibandingkan ibu yang melahirkan pervaginam.

            Bukan itu saja, risiko persalinan sesar pada bayi yang dilahirkan, seperti: asma, overweight dan obesitas meningkat. Bahkan, persalinan sesar berhubungan dengan peningkatan risiko 33% autism dan 17% attention deficit disorder (gangguan mental pada anak yang menyebabkan sulitnya untuk memusatkan perhatian). 

 

Tampilan melahirkan secara sesar dan normal (Sumber: presentasi Dr. dr. Irma Irwinda, Sp.OG(K))

 

            Bagaimana dengan kondisi imun anak yang lahir dengan persalinan sesar? dr. Molly Oktarina, SpA(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi menyatakan kelahiran sesar bisa berdampak pada sistem imun anak, seperti: 1) mengganggu kolonisasi mokrobiota usus; 2) Tidak ada respon stress sebelum lahir akan terjadi kegagalan atau maladaptif aktivasi imun; dan 3) mengubah regulasi ekspresi gen melalui mediasi DNA pada cytosine-phosphate-guanine (CpG) dinucleotides.

            Sebagai informasi, pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) terjadi pertumbuhan berat dan tinggi badan, pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sel-sel imun pada anak. Pada perkembangan imun anak, 70-80% terdapat dalam usus. Mikrobiota baik yang ada di saluran cerna berperan dalam perkembangan sistem imun alami dan didapat. Adapun, mikrobiota yang baik adalah Mikrobiota Komensal (Mikrobiota baik), yaitu: Bifidobacteria, Escherichia dan Lactobacilli.

            Pertumbuhan anak sehat sangat tergantung pada asupan nutrisi. Kondisi usus yang baik menjadi perhatian para moms.  Sinbiotik sebagai makanan yang sekaligus memiliki komponen probiotik dan prebiotik, atau sebagai kombinasi antara probiotik dan prebiotik. Sinbiotik menjadi substrat yang tidak dicerna yang menstimulasi selektif pertumbuhan dan/atau aktifitas beberapa bakteri dalam usus, yang dapat meningktakan kesehatan.

            Terpenting, pemberian ASI Ekslusif merupakan pilihan nutrisi terbaik. Bahkan, intervensi utama pada bayi yang dilahirkan dengan C-Section karena komposisinya lengkap termasuk prebiotik dan probiotik. Dan, ASI Eksklusif berperan besar untuk meningkatan imun anak. Karena, dengan mikrobiota baik yang ada di usus bisa meminimalkan reaksi hipesensivitas makanan. Bahkan, mampu melindungi dari mikrobiota patogen (mikrobiota jahat), seperti Campylobacter, Enterococcus Faecalis dan Clostridium Difficile. 

 

TES POTENSI CAESAR, PENTINGKAH?

            Lantas, apakah ada cara terbaik untuk menentukan jenis persalinan yang akan dihadapi para moms?. Kini, moms perlu bangga karena ada aplikasi digital yang mampu mmberikan rekomendasi metode persalinan. Pada acara webinar tersebut, secara resmi diluncurkan aplikasi digital bernama Tes Potensi Caesar 2.0 By Nutriclub.  

 

Acara peluncuran aplikasi digital Tes Potensi Caesar 2.0 By. Nutriclub (Sumber: Danone Indonesia) 


        Tes Potensi Caesar 2.0 By Nutriclub sangat penting dan bermanfaat bagi moms. Buat moms yang sedang hamil atau merencanakan kehamilan, maka sangat penting untuk mengetahui metode kelahiran sejak dini. Moms bisa memanfaatkan tools yang ada di website https://www.nutriclub.co.id Atau, bisa langsung kunjungi media sosial Instagram @nutriclub_id untuk mengetahui lebih lanjut terkait tools terkait Tes Potensi Caesar 2.0 By Nutriclub.   



Tampilan Tes Potensi Caesar 2.0 By. Nutriclub (Sumber: presentasi Dr. dr. Irma Irwinda, Sp.OG(K))

Thursday, October 14, 2021

Pemahaman Orang Tua untuk Membedakan Antara Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional Demi Tumbuh Kembang Anak

 

Webinar Bicara Gizi tentang perbedaan Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional (Sumber: Shutterstock)

 

          Tumbuh Kembang Optimal anak adalah dambaan setiap orang tua. Apalagi, anak bisa melewati periode awal kehidupannya, yang lebih dikenal dengan sebutan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Faktanya, periode awal kehidupan anak tidak berjalan lancar bak mainan seluncur di kolam renang. Tetapi, banyak hambatan kehidupan yang harus diperhatikan orang tua.

          Salah satu kondisi yang harus diperhatikan orang tua adalah kondisi saluran cerna anak. Masalahnya, banyak orang tua yang belum memahami tentang diferensiasi FGID dan Gejala Alergi di Saluran Cerna. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tua, khususnya ibu gagap dalam menangani masalah kondisi saluran cerna anaknya. 

          Melihat kondisi banyaknya orang tua, khususnya kaum ibu yang belum paham dalam membedakan gejala dua kondisi di atas. Maka, Danone Indonesia mengadakan webinar Bicara Gizi yang mengusung tema “Gejala Alergi Saluran Cerna VS Gangguan Saluran Cerna Fungsional: Cara membedakannya” yang diadakan pada tanggal 13 Oktober 2021 pukul 13.00-15.00 WIB.

          Ada 4 narasumber yang hadir dalam webinar, yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan Youtube Live di channel Nutrisi Untuk Bangsa  tersebut, yaitu:

1.     Bapak Arif Mujahidin, selaku CorporateCommunication Director Danone Indonesia. 

2.     Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi.

3.     Ibu Binar Tika, selaku Moms Influencer.

4.     Ibu Shiera Maulidya, selaku Gut and Allergy Manager Danone Indonesia.

 

4 narasumber yang hadir dalam webinar Bicara Gizi (Sumber: Danone Indonesia)

 

Bapak Arif Mujahidin

          Seperti acara webinar-webinar lainnya, Bapak Arif Mujahidin sebagai wakil dari panitia penyelenggara Danone Indonesia, mengucapkan terima kasih kepada para pembicara yang hadir dalam acara online tersebut. Beliau juga menekankan perlunya pemahaman orang tua untuk membedakan antara Gejala Alergi Saluran Cerna vs Gangguan Saluran Cerna Fungsional.   

 

Bapak Arif Mujahidin (Sumber: Danone Indonesia)

 

Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K)

          Presentasi dari Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K) merupakan presentasi inti. Di mana, pemaparan tersebut menjelaskan secara detail tentang Gangguan Saluran Cerna Manifestas (FGID) dari Alergi Makanan. Pemaparan yang sangat dibutuhkan orang tua, yang sedang atau ingin memiliki bayi. Agar, orang tua mampu melewati periode emas anaknya, dan tumbuh kembang dengan baik menjadi Anak Hebat di masa depan.  

 

Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K) (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu dipahami bahwa dua tahun pertama kehidupan anak merupakan masa emas. Namun, periode emas tersebut bisa terganggu, jika ada masalah di saluran cerna. Masa emas anak bisa dikatakan terjaga, jika anak mengalami manfaat optimal terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik (berat dan tinggi badan), perkembangan kognitif (bahasa, atensi, IQ), serta perkembangan emosi dan sosial (mengontrol emosi, adaptasi perilaku dan interaksi sosial). Sedangkan, masa emas anak kurang terjaga, jika anak sering mengalami infeksi, sehingga akan kehilangan kesempatan memanfaatkan masa emas tersebut. Tentu, orang tua perlu menghindari kondisi tersebut.

          Dengan kata lain, dua tahun kehidupan anak merupakan periode yang sangat rentan. Mengapa? Pada periode tersebut, anak telah terpapar oleh ribuan bakteri dan zat asing lainnya. Padahal, sistem organ tubuh belum berkembang atau berfungsi optimal. Kondisi inilah yang menyebabkan anak mudah mengalami gangguan fungsional dan mudah sakit. 

          Perlu diketahui bahwa bayi rentan mengalami gangguan di saluran cerna, karena saluran cerna bayi masih sangat mudah diserang zat asing.  Pada gambar dibawah ini, menunjukan kondisi Mukosa (selaput lendir) pada 2 tahun periode yang rentan, masih dalam kondisi putus-putus (terbuka). Zat asing bisa dengan mudah memasuki saluran cerna. Sedangkan, pada anak yang sudah berumur 2 tahun, kondisi Mukosa sudah dalam kondisi rapat. Jadi, aman dari masuknya zat asing ke saluran cerna.

   

Perbedaan kondisi saluran cerna pada bayi sesudah dan sebelum usia 2 tahun (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Lantas, gangguan apa sih yang terjadi pada saluran cerna bayi atau anak? Ada dua jenis gangguan yang umum terjadi, yaitu:

1.     Gangguan saluran cerna fungsional atau Functional Gastrointestinal Disorder (FGID)

2.     Alergi Susu Sapi (ASS) atau Cow’s Milk Protein Allergy (CMPA).

 

GANGGUAN SALURAN CERNA FUNGSIONAL

          Functional Gastrointestinal Disorder (FGID) merupakan gejala saluran cerna kronis (terjadi jangka panjang) maupun rekuren (terjadi berulang) yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya baik secara struktur maupun biokimia. Jenis FGID paling umum adalah: 1) Kolik (sakit perut yang hebat); 2) Gumoh (regurgitasi), terjadi pada bayi berumur 6 bulan; dan 3) Konstipasi (sembelit).

 

Gejala gangguan saluran cerna (FGID) yang umum terjadi pada bayi/anak (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Menarik, kasus FGID cukup besar terjadi pada bayi atau anak, terutama di awal kehidupan. Adapun, prevalensinya adalah: 1) Gumoh (regurgitasi): 30%; 2) Kolik: 20%; 3) Konstipasi fungsional: 15%; dan 4) Diare fungsional dan diskesia: <10%.

          Faktor penyebab gangguan saluran cerna fungsional umumnya disebabkan oleh berbagai hal kompleks yang saling berinteraksi, yaitu:

1.     Faktor Biologis, seperti: kondisi tubuh bayi.

2.     Psikososial, seperti: hubungan orang tua di rumah dalam kondisi harmonis atau tidak.

3.     Lingkungan maupun budaya, seperti: proses pemberian MPASI anak.

Sebagai informasi, gangguan saluran cerna fungsional akan berdampak pada kondisi berat dan tinggi badan. Itulah sebabnya, gejala gangguan saluran cerna fungsional menjadi manifestasi gejala alergi. Maka, gangguan saluran cerna fungsional harus segera diatasi.

          Kasus Kolik infantile terjadi pada bayi dengan perilaku bayi berupa menangis, tidak tenang, dan rewel secara berulang dan dalam waktu lama, yang dilaporkan oleh orang tua, pengasuh tanpa alasan yang jelas atau tidak bisa dicegah. Kolik pada gangguan saluran cerna fungsional tidak mengganggu tumbuh kembang anak, atau tumbuh kembang anak masih on target.

          Kasus Gumoh (regurgitasi) terjadi pada bayi dengan perilaku dikeluarkannya isi refluks dari kerongkongan ke dalam rongga mulut. Dan, kemudian dikeluarkan dari rongga mulut. Ingat, Gumoh berbeda dengan muntah. Gumoh tidak berbahaya, terjadi karena fungsi motilitas saluran cerna bayi belum berkembang dengan sempurna. Gumoh akan berkurang pada bayi usia 4-6 bulan. Selanjutnya, Gumoh akan hilang sama sekali pada usia 9-11 bulan.

          Kasus Konstipasi (sembelit) terjadi, karena adanya kesulitan atau jarang buang air besar yang terjadi, setidaknya selama 2 minggu. Konstipasi diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: 1) Konstipasi fungsional: yang sebagian dialami anak (belum tentu bahaya); dan 2) Konstipasi akibat kelainan organ: konstipasi yang disebabkan oleh gangguan organ (berbahaya).

          Sedangkan, Konstipasi karena gangguan saluran cerna menurut jenisnya terbagi dalam 2, yaitu: 1) Konstipasi akut, yang terjadi pada bayi usia kurang 3 bulan; dan 2) Konstipasi kronis, yang terjadi pada bayi usia lebih 3 bulan.

          Apapun jenisnya, Konstipasi memberikan dampak pada kondisi bayi atau anak, seperti: 1) Penumpukan feses pada usus yang berakibat susah Buang Air Besar (BAB); 2) Mempengaruhi nafsu makan anak; dan 3) Mood anak yang tidak baik (sering marah-marah) yang akan berpengaruh pada psikologi orang tua, khususnya ibu.

          Tindakan yang bisa dilakukan orang tua, khsusnya ibu untuk mengatasi Konstipasi, seperti: 1) ibu minum lebih banyak air putih; dan 2) Bayi bisa diberi jus buah (dengan catatan, untuk kelancaran saluran cerna bayi berdasarkan konsultasi dari dokter anak).

          Konstipasi cukup sering terjadi: sekitar 5-30% keluhan anak yang menyebabkan orang tua membawa anaknya berobat ke dokter. Perilaku Konstipasi yang ditunjukan pada bayi, seperti: muka merah, kesakitan dan sulit mengeluarkan feses. Konstipasi terjadi pada bayi usia 6 bulan hingga usia 10 tahun.

          Konstipasi kronis bertahun-tahun yang tidak tertangani bisa menyebabkan radang usus buntu. Maka, hal terbaik yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah terjadinya Konstipasi adalah pemberian ASI eksklusif.

          Dampak, jika gangguan saluran cerna pada bayi atau anak yang tidak tertangani dengan baik oleh orang tua, adalah: 1) Orang tua tentu kuatir jika anaknya tidak sehat; dan 2) Orang tua bisa mengalami rasa bersalah, frustasi, stres, kecemasan, bahkan bisa depresi.

          Oleh sebab itu, segerakan konsultasi dengan dokter, jika: 1) gejala berlanjut terus; dan 2) ada red flags (tanda bahaya). Adapun, contoh dari red flags tersebut adalah: 1) gangguan pertumbuhan (berat badan, tinggi badan tidak sesuai); 2) muntah darah; 3) masalah makan; 4) gangguan pada organ; dan 5) dan lain-lain, tergantung pada jenis penyakitnya. 

 

ALERGI SALURAN CERNA

          Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh suatu mekanisme  imunitas tertentu. Penyebab alergi (disebut alergen) bisa berbagai hal. Anda bisa melihat gambar di bawah ini.

 

Beberapa jenis alergen (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu diketahui bahwa sebanyak 60% bayi akan mengalami alergi. Setelah alergi telur, Alergi Susu Sapi (ASS) adalah alergi yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Alergi pada susu sapi sudah terjadi pada bulan pertama kehidupan bayi. Terjadinya alergi bisa dipengaruhi dari bapak, ibu atau kakak yang mempunyai alergi.

          Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadian Alergi Susu Sapi (ASS) sebanyak 2-7,5% merupakan kasus tertinggi terjadi pada usia awal kehidupan. Dan, gejala alergi susu sapi bisa terjadi di mana saja dengan persentase sebagai berikut: 1) Kulit (50-70%); 2) Saluran nafas (20-30%); 3) Sistemik (1-9%) gejala parah; dan 4) Saluran cerna (50-60%). Uniknya, biasanya anak mengalami gejala ringan-sedang (tidak hanya di 1 lokasi)

 

Tempat munculnya alergi susu sapi (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu diketahui, gejala alergi susu sapi ringan-sedang sering muncul di saluran cerna (mencapai 50-60%), seperti: 1) Kolik; 2) Gumoh; 3) Konstipasi; 4) Muntah; 5) Mual; dan 6) Diare. Dan, gejala tersebut bisa muncul dengan CEPAT (muncul <2jam setelah minum susu sapi atau LAMBAT (muncul >2-72 jam setelah minum susu sapi).

          Kondisi Gumoh dan Konstipasi pada Alergi Saluran Cerna bisa menyebabkan: 1)  anak kekurangan nutrisi; 2) anak suka uring-uringan; 3) kembung; dan 4) Muntahnya sampai berwarna hijau. Konstipasi pada Alergi Saluran Cerna karena Alergi Susu Sapi akan tetap berlangsung, selama protein susu sapi tidak dihilangkan. Maka, hal yang bisa dilakukan ibu adalah diet susu sapi dengan eliminasi dan provokasi. Selama 2-4 minggu, ibu tidak mengkonsumsi protein susu sapi. Sebagai gantinya, ibu bisa menggantikan susu sapi dengan Susu Formula Soya sebagai Sumber Nutrisi Alternatif. 

          Bagaimana  dengan gejala alergi susu sapi berat? Gejala alergi susu sapi berat yang terjadi pada bayi atau anak. Di mana, hingga terjadinya anemia, BAB berdarah dan kebocoran protein pada usus. Maka, bisa berakibat gejala terjadinya stunting. Tetapi, persentase kasus tersebut hanya sekitar 1-2%.

          Cara untuk mengatasi anak yang mengalami alergi bisa dilakukan dengan pemenuhan Nutrisi Seimbang seperti Kalsium, Vitamin B3 dan Fosfor yang diatur dalam makanan, sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Namun, nutrisi yang baik tetaplah pemenuhan ASI eksklusif sang ibu.

          Persentase alergi susu sapi terjadi pada anak: 1) 50% alergi akan selesai pada usia 1 tahun; 2) 60-70% alergi akan mengalami perbaikan pada usia 2 tahun; 3) 90% alergi akan mengalami perbaikan pada usia 3 tahun; dan 4) 5-10% alergi akan berlanjut sampai dewasa, yang berdampak pada gangguan pernafasan (asma) dan pilek.

          Hal menarik antara alergi susu sapi dan gangguan saluran cerna mempunyai hubungan erat. Anak dengan alergi susu sapi sering mengalami lebih dari satu gejala, seperti: di kulit (kemerahan, pembengkakan di mata/bibir), di saluran nafas (batuk, bersin, hidung berair), di saluran cerna (gumoh, muntah, diare, konstipasi, anemia, darah pada feses) dan umum (kolik).

          Gejala alergi saluran cerna mirip dengan gejala gangguan saluran cerna fungsional. Dengan kata lain, gejala gangguan saluran cerna dapat merupakan manifestasi alergi. Cara membedakannya adalah: 1) Harus memperhatikan gejala-gejala yang ada; 2) Dikonsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat; dan 3) Sebab gejala FGID dan alergi bisa mirip. 

          Jika, gangguan saluran cerna dan/atau alergi tidak tertangani dengan baik akan memberikan dampak terhadap anak, yaitu:

1.     Dapat memberikan dampak kurang baik kepada kesehatan anak di masa datang, bila tidak ditangani dengan tepat.

2.     Dapat mengganggu kualitas hidup seorang anak dan mengganggu proses tumbuh kembangnya.

3.     Promotif dan preventif, menjadi hal yang sangat penting, apalagi bila dilaksanakan sejak dini.  

          Persentase penderita alergi saluran cerna dan gangguan saluran cerna fungsional:

1.     2-7,5%  è penderita alergi saluran cerna.

2.     50-60% èpenderita gangguan saluran cerna fungsional.

 

Dampak yang terjadi, jika gangguan saluran cerna dan/atau alergi saluran cerna tidak bisa tertangani dengan baik (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ibu Binar Tika

          Webinar juga menampilkan Ibu Binar Tika (Moms Influencer) yang mempunyai bayi yang didiagnosis oleh dokter anak menderita alergi susu sapi. Kejadian berawal dari perilaku bayi yang mengalami konstipasi (sembelit). Menurutnya, hal ini ditunjukan dengan tanda-tanda: 1) Anak yang suka rewel; 2) Kejadian konstipasi yang selalu berulang; dan 3) Kejadian konstipasi yang lama.

          Ibu Binar Tika mengetahui anaknya mengalami konstipasi, saat diberi makanan yang berbahan protein sapi. Maka, selanjutnya ia konsultasi kepada dokter anak. Dengan adanya konstipasi yang dialami anaknya menjadi pelajaran berharga dalam menjaga tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, Ibu Binar Tika berharap adanya edukasi bagi para ibu, agar bisa membedakan antara gangguan saluran cerna fungsional dan alergi saluran cerna.

 

Ibu Binar Tika (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Dari pembahasan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa gejala gangguan saluran cerna fungsional (FGID) dan alergi banyak ditemukan pada anak usia dini. Tetapi, gejala FGID dan alergi mirip. Sehingga, orang tua mengalami kesulitan untuk membedakannya.

          Tetapi, yang perlu diingat adalah gejala FGID dan alergi harus segera ditangani. Dengan tujuan untuk menjaga kualitas hidup dan mendukung tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, orang tua perlu memahami gejala FGID dan alergi di saluran cerna agar mampu membedakannya. 

 

Ibu Sheira Maulidya

          Presentasi terakhir dalam webinar dipaparkan oleh Ibu Sheira Maulidya, yang membahas tentang Allergy Tummy Checker (ATC). Danone Specialized Nutrition selalu berkomitmen untuk membantu masyarakat dalam hal nutrisi. Oleh sebab itu,  Piranti digital Allergy Tummy Checker (ATC) yang bersifat gratis ini, bisa menjadi alat deteksi dini gejala alergi dan menentukan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk kesehatan anak. Tentu, ATC tersebut sudah diakui pihak kedokteran. Oleh sebab itu, hasil dari ATC bisa menjadi rekomendasi positif ke dokter anak.

          Mengapa alergi pada anak harus dicek sejak dini? Ada 3 alasan yang penting yaitu: 

1.     Diagnosa gejala alergi dan kondisi pencernaan beserta rekomendasi solusinya.

2.     Kendalikan gejala alergi pada anak.

3.     Cegah gejala berkepanjangan yang mengganggu pertumbuhan. 

 

          Allergy Tummy Checker sangat dibutuhkan bagi orang tua, khususnya ibu. Sebanyak 6 dari 10 ibu tidak memahami tentang gejala alergi pada anak. Namun, mayoritas ibu-ibu memahami gejala alergi yang terjadi pada kulit (ruam) atau saluran nafas (asma). Nah, Allergy Tummy Checker sangat berguna untuk membantu para ibu, untuk mendapatkan informasi tentang perbedaan antara alergi saluran cerna dan gangguan saluran cerna fungsional pada anak. Allergy Tummy Checker bisa diakses di laman www.bebeclub.co.id mulai 1 November 2021 mendatang. Jadi,orang tua, khususnya ibu wajib mengaksesnya, demi tumbuh kembang anak yang maskimal.

 

Ibu Sheira Maulidya dan alat deteksi dini Allergy Tummy Checker (Sumber: Danone Indonesia)


Friday, October 8, 2021

MENGELOLA LINGKUNGAN LEBIH HUMANIS DI BANJAR TEGEH SARI

 

Kantor Banjar Tegeh Sari Desa Pekraman Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

“Masyarakat bisa mandiri untuk menciptakan ketahanan pangan dan bisa mengelola sampah dengan memilah sampah organik dan anorganik di rumah masing-masing” (Kaling Banjar Tegeh Sari Bapak I Nyoman Sudarma)

 

          Bersyukur, kondisi cuaca Kota Denpasar terlihat bersahabat pada hari Kamis, 7 Oktober 2021 kemarin. Meskipun, dua hari sebelumnya diguyur hujan, yang membuat udara Kota Denpasar terasa lembab. Saya meluncur ke sebuah Banjar di kawasan Kota Denpasar yang letaknya kurang lebih 7 km dari tempat tinggal saya. Banjar tersebut bernama BANJAR TEGEH SARI. Lokasinya berada di Desa Pekraman Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Denpasar, Bali.

          Banjar Tegeh Sari yang luasnya hampir 29 kali luas lapangan sepak bola tersebut, menarik hati saya untuk membuat liputan khusus. Bukan karena kondisi banjar yang mempunyai 1.309 KK (Kepala Keluarga) atau sekitar 5.223 jiwa. Tetapi, ada sebuah kearifan lokal berbasis Banjar yang berhubungan dengan lingkungan. Untuk mendapatkan informasi yang menarik tersebut, maka saya menemui 2 orang yang berkompeten. Saya bisa menyebutnya Pahlawan Lingkungan Banjar, yaitu: 1) Bapak Gede Mantrayasa; dan 2) Kepala Lingkungan (Kaling) Bapak I Nyoman Sudarma.

          Kedua orang tersebut benar-benar ramah dan bersahabat. Mereka mau berbagi tentang pengalaman uniknya. Bicara secara blak-blakan, cara membuat kondisi lingkungan Banjar Tegeh Sari yang lebih humanis (bersih dan sehat). Program Ketahanan Pangan dan Manejemen Sampah adalah 2 program andalan yang berhasil mereka eksekusi untuk warganya.  

 

Ketua Satgas Banjar Berseri Astra Bapak Gede Mantra Yasa dan Kaling (Kepala Lingkungan) Banjar Tegeh Sari Bapak I Nyoman Sudarma. Dua sosok yang berjasa dalam program ketahanan pangan dan manajemen sampah (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Bahkan, menurut Bapak Gede Mantrayasa selaku Ketua Satgas Banjar Tegeh Sari menyatakan bahwa Banjar Tegeh Sari bertekad untuk menghadirkan Green Space (kawasan hijau) di daerahnya. Gagasan berbasis lingkungan tersebut telah dirancang sejak beberapa tahun yang lalu. Dan, gagasan inilah yang menarik perhatian Astra Indonesia menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) 2021, yang mengembangkan 4 pilar, yaitu: 1) Kesehatan; 2) Pendidikan; 3) Lingkungan; dan 4) Kewirausahaan.  

 

MENCIPTAKAN KETAHANAN PANGAN

          Penting tentang teori Thomas Robert Malthus (1798) dalam bukunya yang berjudul “Essay Of The Principle of Population is Affect the Future Improvement of Society”. Teori tersebut menggambarkan bahwa pertambahan penduduk akan mengikuti deret ukur dan pertambahan bahan makanan mengikuti deret hitung. Dengan kata lain, pengelolaan pangan yang kurang maksimal bisa menyebabkan ketidaktersediaan pangan untuk masyarakat. Kita menyadari bahwa ada 3 hal penting yang selalu menjadi isu penting dalam sebuah negara, yaitu: 1) pangan; 2) militer; dan 3) senjata. Dan, isu panganlah yang selalu menarik perhatian dunia.

          Itulah sebabnya, masalah ketahanan pangan selalu menjadi topik utama bangsa Indonesia. Setiap pemerintah daerah hingga pemerintah terkecil desa seperti RT/RW atau Banjar menggalakkan program ketahanan pangan. Melihat hal tersebut, maka Banjar Tegeh Sari berkomitmen untuk menciptakan ketahanan pangan secara mandiri. Program ketahanan pangan tersebut dilakukan secara pelan, tapi pasti (slow but sure). Dan, Program Ketahanan Pangan pun dieksekusi sejak awal tahun 2020.

 

Pembibitan Variasi Sayuran

          Atas kolaborasi kinerja Bapak Gede Mantrayasa dan Kaling Bapak I Nyoman Sudarma, maka dibuatlah kebun (demplot) pembibitan sayuran. Sekarang ini, sudah ada 3 kebun pembibitan, yaitu 1) demplot Sari Dewi 2) demplot STT (Sekaa Teruna Teruni), dan 3) demplot Lansia. Di demplot Sari Dewi sendiri, telah dikembangkan berbagai macam bibit sayuran, seperti: 1) Cabe; 2) Pokcai; 3) Kailan; 4) Sawi; 5) Bayam; 6) Terong; 7) Seledri; dan lain-lain.

          Ada pepatah yang menyatakan bahwa Usaha Tidak Akan Mengkhianati Hasil. Kini, masyarakat Banjar Tegeh Sari menyadari tentang perlunya ketahanan pangan di wilayahnya. Mereka pun dengan senang hati bergotong-royong untuk menciptakan ketahanan pangan, dengan mengembangkan bibit berbagai jenis sayuran.

          Diakui oleh Bapak Made Dangin selaku penanggung jawab demplot Sari Dewi. Bahwa, bibit-bibit yang ada, banyak yang dipesan oleh masyarakat luar Banjar Tegeh Sari, seperti pembeli dari Canggu Badung Bali yang memesan 400 bibit terong. Juga, banyak kaum ekspatriat (bule) yang telah memesan bibit-bibit yang digalakkan oleh pihak banjar. 

 

Saya bersama Kaling Banjar Tegeh Sari Bapak I Nyoman Sudarma (tengah), Bapak Made Dangin (kiri) selaku penanggung jawab demplot Sari Dewi (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Sebelumnya, pupuk yang digunakan untuk pemeliharaan bibit diperoleh dari belanja pupuk yang dibuat pabrik. Selama 3 bulan, telah menghabiskan kurang lebih 4 ton pupuk buatan pabrik untuk menyuburkan bibit yang ada di 3 demplot. Tetapi, pihak Banjar Tegeh Sari merasakan kebutuhan dana yang cukup besar untuk belanja pupuk tersebut.

 

 

Pembibitan sayuran dengan pupuk buatan pabrik (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Dari kondisi dana untuk pembelian pupuk yang cukup besar, maka timbul ide besar untuk membuat pupuk organik (kompos) secara mandiri. Kompos tersebut dihasilkan dari pengolahan sampah organik. Diakui, pupuk organik tersebut lebih menyuburkan tanaman, dibandingkan dengan pupuk buatan pabrik.


Pupuk organik atau kompos produksi sendiri (Sumber: dokumen pribadi) 

 

          Menarik, kebutuhan pupuk organik sangat mencukupi. Bahkan, pihak banjar akan memperluas tempat pembuatan pupuk organik tersebut. Hal ini dilakukan agar ketersediaan pupuk organik selalu terjaga. Tentu, bukan hanya menghemat pengeluaran untuk tidak belanja pupuk buatan pabrik. Tetapi, agar sayuran bisa tumbuh lebih alami (organik) untuk konsumsi masyarakat.  

 

Pembibitan berbagai jenis sayuran dengan pupuk organik (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Di demplot kedua (demplot STT), tidak berbeda jauh dengan demplot Sari Dewi. Demplot yang berada kurang lebih 500 meter dari demplot Sari Dewi, menyiapkan tempat pembibitan berbagai macam sayuran. Ruangan (house) yang ada hampir sama dengan demplot Sari Dewi. Tetapi, yang membedakan di demplot STT adalah keberadaan kebun yang luasnya hampir seluas lapangan futsal. Di kebun tersebut, ditanam berbagai macam sayuran yang siap panen. Sayuran cabe, kacang panjang dan terong terlihat mendominasi di kebun ini.     

 

Pembibitan dengan pupuk organik di demplot kedua (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Sebagai informasi, hasil panen sayuran dari semua demplot yang ada, diperuntukan untuk kelangsungan operasional Program Ketahanan Pangan. Adapun, hasil dari pembibitan hingga penjualan bibit atau hasil panen, terbagi menjadi 4, yaitu: 1) 10% untuk pengelolaan kebun; 2) 10% untuk biaya transportasi; 3) 5% untuk Sales (pihak penjualan); dan 4) pengurus pembibitan. Selanjutnya, dari 75% kebutuhan pengurus tersebut, sebanyak 25% dialokasikan untuk pembibitan.    

 

Berdayakan Lahan Tidur

          Pengembangan ketahanan pangan Banjar Tegeh Sari, bukan hanya pembibitan sayuran di demplot Sari Dewi. Tetapi, pihak banjar telah mengeksekusi dengan baik untuk pemanfaatan lahan tidur. Hal yang pertama dilakukan adalah penanaman sayuran di bantaran sungai, yang berada tidak jauh dari demplot Sari Dewi. Bantaran sungai tersebut, sebelumnya merupakan tempat pembuangan sampah. Kini, beberapa bagian dari bantaran sungai tersebut, disulap menjadi kebun berbagai jenis sayuran, yang berdaya guna bagi masyarakat.

          Dampaknya, sungai terlihat lebih bersih. Dan, hanya sampah-sampah daun bambu yang jatuh di sepanjang bantaran sungai. Jika, sepanjang bantaran sungai, yang melintasi Banjar Tegeh Sari bisa dimanfaatkan secara maskimal, dengan penanaman berbagai sayuran. Maka, tidak menutup kemunginan, Banjar Tegeh Sari akan menjadi banjar dengan ketahanan pangan yang baik, khususnya ketersediaan sayuran. 

 

Penanaman berbagai sayuran di bantaran sungai (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Pemanfaatan lahan tidur makin menyebar luas ke gang-gang banjar. Saya melihat di kanan dan kiri gang rumah-rumah penduduk ditanami dengan berbagai sayuran organik. Warga banjar bebas memetik sayuran tersebut, sepanjang untuk dikonsumsi sendiri. Tidak untuk dijual ke orang lain. Sungguh, gang-gang Banjar Tegeh Sari terlihat lebih hijau. Tentu, bukan hanya mampu mencukupi pangan warga. Tetapi, berdampak langsung terhadap kondisi udara sekitarnya menjadi lebih bersih dan sehat.

 

Penanaman berbagai sayuran di kanan dan kiri gang banjar (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Tidak kalah penting di demplot kedua (demplot STT). Di mana, selain pembibitan, pihak banjar telah menanam berbagai macam sayuran. Beberapa sayuran dalam kondisi siap panen, seperti sayuran cabe hijau dan terong. Dengan penyemprotan organik menggunakan molase (pengganti pestisida), sayuran tersebut tumbuh lebih sehat. Saya pun mencoba menikmati kacang panjang yang dipetik langsung dari pohonnya. Sungguh, tidak merasakan dampak negatif bagi tubuh seperti pusing, gatal-gatal di mulut atau alergi.     

 

Penanaman berbagai sayuran di demplot kedua (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Bahkan, Kaling Bapak I Nyoman Sudarma mengajak saya untuk memanen sayuran unik yaitu Bayam Brasil. Bayam ini tumbuh subur di sekeliling kebun sayuran tersebut. Terlihat seperti bunga mangkok, ternyata Bayam Brasil ini sangat baik untuk lalapan. Bahkan, banyak warga yang memanfaatkan dengan mengolahnya menjadi keripik. Tentu, akan menambah variasi ketahanan pangan warga.  

 

Panen sayuran spesial yaitu Bayam Brasil (Sumber: dokumen pribadi)

 

Budi Daya Lele

          Program Ketahanan Pangan yang dilaksanakan oleh Banjar Tegeh Sari, bukan hanya pengembangan pangan hayati saja. Tetapi, pihak banjar juga mengembangkan ketahanan pangan hewani, yaitu: dengan pengembangan Budi Daya Ikan Lele.  Atas bantuan dari Kagama (Universitas Gajah Mada) Yogyakarta, maka budi daya 2 tabung kolam ikan lele dilakukan secara serius pihak banjar.

          Sedangkan, pasca panen ikan lele, pihak banjar telah menyiapkan teknologi mesin pencacah ikan lele. Di mana, mesin pencacah dan 2 tabung kolam ikan lele tersebut, berada dalam satu ruangan (house), di samping ruangan pembibitan sayuran. Unik, air dari kolam ikan lele tersebut digunakan untuk menyirami bibit sayuran.

 

Kaling Bapak I Nyoman Sudarma sedang menebar pakan lele (Sumber: dokumen pribadi)

 

Pertanian Mandiri

          Sebuah anugerah besar, ketika Banjar Tegeh Sari mempunyai sang pelopor lingkungan, seperti: Bapak Gede Mantrayasa dan Bapak I Nyoman Sudarma. Mengapa? Mereka bukan hanya penggagas program yang berbasis lingkungan. Tetapi, mereka adalah sosok Lead by Example (mengajar dengan contoh). Kata orang Jawa, mereka bukanlah sosok Jarkoni, yang gelem (mau) mengajari, tetapi gak mau ngelakoni (melakukan). Mereka adalah sosok pendorong masyarakat dengan contoh.

          Di rumahnya bapak Gede Mantrayasa, saya melihat halaman rumahnya dipenuhi dengan konsep hijau. Yaitu, sistem pertanian mandiri. Banyak pot-pot atau polybag tanaman yang menghiasi halaman rumahnya. Lagi, di rumah Bapak I Nyoman Sudarma juga dipenuhi dengan pot-pot sayuran, yang tumbuh dekat dengan tempat persembahyangan (merajan). Bayangkan, jika halaman anda dipenuhi dengan sayuran yang telah berbuah. Saya yakin, anda tidak perlu mengeluarkan dana untuk belanja sayuran di pasar atau mini market terdekat. Sebuah konsep pertanian mandiri yang menciptakan konsep ketahanan pangan dari keluarga.     

 

Pertanian mandiri untuk menciptakan ketahanan pangan yang berada di halaman rumah-rumah penduduk (Sumber: dokumen pribadi)

 

Penciptaan Eco Enzym

          Ketahanan pangan akan berdampak maksimal, jika diiringi dengan teknologi yang ramah lingkungan. Banjar Tegeh Sari telah mengembangkan pemanfaatan ECO ENZYM. Atas ilmu berharga dari Komunitas Eco Enzym Nusantara, maka Eco Enzym dikembangkan di masyarakat Banjar Tegeh Sari.

          Perlu diketahui bahwa Eco Enzym sangat ramah lingkungan. Adapun, manfaat dari Eco Enzym adalah: 1) menjernihkan air; 2) menambah kesuburan tanaman karena kandungan gizi tanaman; 3) pengganti semprotan disinfektan saat Pandemi Covid-19; dan 4) membuat kondisi udara lebih baik untuk kesehatan masyarakat. Untuk membuat Eco Enzym, maka anda bisa meraciknya sendiri. Eco Enzym ini merupakan campuran antara Gula, buah dan air dengan perbandingan 1, 3 dan 10.

  

Pengembangan Eco Enzym yang multi guna (Sumber: dokumen pribadi)

 

PENGELOLAAN SAMPAH

 

“Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, akan berpengaruh terhadap pariwisata. Perlu dukungan semua pihak”

 

          Pernyataan dari Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion atau FGD) tentang Penyusunan Pedoman Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Desa/Kelurahan dan Desa Adat di Kota Denpasar, yang dilansir oleh (Inews.com, 20/03/2021). Sejatinya, pengelolaan sampah berbasis masyarakat banjar telah diperkuat oleh: 1) Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 47 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber; 2) Peraturan Walikota Denpasar Nomor 76 Tahun 2019 Tentang Pelaksanaan Swakelola Pengelolaan Sampah; dan 3) Surat Edaran Walikota Denpasar Nomor 658/6766/DLHK Tanggal 10 Desember 2020.

          Sehubungan dengan peraturan-peraturan tersebut, maka masyarakat diharapkan mampu melakukan swakelola sampah di lingkungannya masing-masing. Tidak ketinggalan, Banjar Tegeh Sari telah melakukan swakelola sampah. Wilayah Banjar Tegeh Sari terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: 1) bagian barat; 2) bagian tengah; dan 3) bagian timur. Menurut Kepala Lingkungan (Kaling) Banjar Tegeh Sari Bapak I Nyoman Sudarma menyatakan bahwa setiap bagian banjar membutuhkan 2 unit truk untuk mengangkut sampah setiap harinya. Sedangkan, untuk memaksimalkan pengangkutan sampah hingga memasuki gang-gang kecil, pihak banjar telah mengoperasikan 3 moci (kendaraan pengangkut sampah).

          Kaling memberikan informasi tentang manajemen sampah di daerahnya. Di mana, masyarakat secara penuh (100%) sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri (swakelola). Masyarakat banjar juga secara terus-menerus diberikan pemahaman atau edukasi untuk melakukan pemilahan sampah (organik dan anorganik).

 

Moci atau angkutan sampah sebagai upaya swakelola sampah warga (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Sasaran pemberian edukasi lingkungan juga menyasar kalangan remaja. Keterlibatan kalangan remaja tersebut dikelola dalam sebuah organisasi yang baik bernama Salam Natah Rare. Adapun, hal yang dilakukan terhadap kaum remaja adalah pemberian pemahaman tentang pengelolaan sampah yang dilakukan oleh pihak PPLH (Petugas Penyuluh Lingkungan Hidup) secara menetap atau door to door. Tentu, informasi yang ditujukan untuk kalangan remaja tersebut, melibatkan sinergitas antara Desa Adat dan Desa Dinas.

 

Berdayakan Bank Sampah

          Demi mendapatkan nilai tambah, maka pengelolaan sampah dengan pemilahan sampah di Banjar Tegeh Sari dilakukan oleh Bank Sampah “Sari Dewi”, yang diketuai oleh Ibu Komang Ariani. Bank Sampah tersebut bermanfaat untuk masyarakat banjar. Bukan hanya menambah penghasilan tambahan. Tetapi, masyarakat diberikan edukasi tentang pemilahan sampah organik dan anorganik.

 

          Pihak Bank Sampah selalu bersemangat melakukan mentoring (pendampingan) kepada ibu-ibu, yang berada di setiap gang banjar. Bahkan, pihak Bank Sampah juga memberikan pendampingan tentang pembuatan Eco Enzym dan Molase (untuk penyemprotan tanaman pengganti pestisida). Bukan hanya itu, Bank Sampah juga membudidayakan magot untuk mempercepat pembusukan sampah. Dan, pembusukan sampah tersebut akan menghasilkan kompos organik bagi tanaman.

 

Kaling  Bapak I Nyoman Sudarma (kiri) dan Ketua Bank Sampah Ibu Sari Dewi Komang Ariani (tengah) menunjukan molase dan budidaya magot untuk proses penguraian sampah (Sumber: dokumen pribadi)

 

Pengembangan Tong Komposter

          Berkunjung ke rumah tinggal Kaling Bapak I Nyoman Sudarma, serasa melihat langsung praktek untuk mengelola lingkungan yang lebih humanis. Di rumah yang terasa asri dan adem tersebut, telah dijamu dengan bukti pengelolaan sampah, dengan praktek pemilahan sampah organik dan anorganik. Menurut Kaling, besaran masyarakat Banjar Tegeh Sari yang telah melakukan aksi pemilahan sampah berkisar pada angka 50%. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dibuka atau tutup selama musim Pandemi Covid-19.   

 

Pemilahan sampah organik dan anorganik secara swadaya warga banjar (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Saya juga ditunjukan, bagaimana Kaling memanfaatkan halaman rumahnya dengan menerapkan Tong Komposter. Tong Komposter tersebut terbuat dari beton yang ditanam dalam tanah. Ada 2 Tong Komposter besar yang mempunyai diameter kurang lebih 80 cm, dan kedalaman 2,5 meter. Tong Komposter besar tersebut dibuat untuk menyimpan sampah-sampah organik, yang selanjutnya akan menjadi kompos organik.

          Selain Tong Komposter besar, halaman Kaling juga terdapat 6 Tong Komposter kecil dengan diameter 20 cm, dan kedalaman 1 meter. Salah satu Tong Komposter kecil tersebut berada di lingkungan tempat persembahyangan agama Hindu (merajan). Keberadaan Tong Komposter kecil tersebut untuk menyimpan sampah-sampah sarana persembahyangan, yang mayoritas organik (dedaunan dan bunga). Saya melihat langsung, bagaimana sampah organik dimanfaatkan langsung ke dalam Tong Komposter, agar bisa menjadi kompos organik.   

 

Pembuatan Tong Komposter dan biopori di rumah Kaling Bapak I Nyoman Sudarma (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Kaling Bapak I Nyoman Sudarma mengakui bahwa kurang lebih 25% masyarakat Banjar Tegeh Sari telah melakukan progam Tong Komposter di rumahnya masing-masing. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, dibutuhkan edukasi secara intensif. Tetapi, dengan bukti nyata tersebut, warga Banjar Tegeh Sari akan merasakan manfaat lingkungan yang lebih humanis.  

 

Pemanfaatan Magot

          Ternyata, bukan hanya pertanian mandiri dan pembuatan Tong Komposter. Di rumah Kaling Bapak I Nyoman Sudarma juga telah dikembangbiakan magot. Budi daya magot tersebut sangat baik untuk membuat kompos organik lebih cepat. Budi daya magot secara kecil-kecilan dengan menggunakan ember kecil dan kotak buah-buahan tersebut, sangat berharga untuk membuat kompos organik di lingkungan keluarga.

 

“Baru tahap kecil-kecilan budi daya magotnya mas”

 

          Bagi saya, bukan masalah kecilnya, tetapi eksekusi yang dilakukan Kaling Bapak I Nyoman Sudarma tersebut sungguh berharga. Bukan hanya memberi contoh buat warga Banjar Tegeh Sari. Tetapi, beliau telah menciptakan kondisi lingkungan keluarganya lebih humanis. Manajemen sampah dan pertanian mandiri adalah sebuah aksi yang harus terus digerakan buat orang lain. Agar, kondisi lingkungan masyarakat lebih bersih dan sehat. Kondisi tersebut juga menjadi bentuk kewirausahaan mandiri dalam lingkungan keluarga. Perlu diingat bahwa semua gerakan kebaikan secara massal berawal dari sebuah tindakan  yang berasal dari lingkungan yang paling kecil bernama keluarga.  

 

Budidaya magot yang dikelola secara pribadi Kaling Bapak I Nyoman Sudarma (Sumber: dokumen pribadi)

 

KESEHATAN BALITA DAN LANSIA

          Seperti telah dibahas sebelumnya, Banjar Tegeh Sari juga mempunyai demplot Lansia. Demplot Lansia tergolong unik. Karena, di demplot tersebut hanya untuk menanam berbagai sayuran dan jenis bunga. Dengan tujuan untuk mengaktifkan para lansia agar tetap aktif di masa tuanya. Karena memiliki halaman hampir dua kali luas lapangan futsal, maka demplot Lansia juga digunakan sebagai tempat senam jantung agar lansia tetap sehat.

          Bikin saya kaget, ternyata demplot Lansia pernah menjadi tujuan wisata program We Love Bali Kota Denpasar. Di mana, program We Love Bali adalah program untuk membangkitkan kembali aktifitas pariwisata seluruh Bali. Kebetulan saya sendiri adalah alumni We Love Bali yang melakukan awareness (kesadaran) pariwisata di pulau Nusa Penida, bulan Oktober 2020 lalu. We Love Bali tersebut digagas oleh Kementerian Pariwisata RI dan Pemerintah Provinsi Bali.  

 

Tempat untuk pemberdayaan para lansia (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Hal menarik lain dari Banjar Tegeh Sari yang tidak boleh dilewatkan adalah aktifitas Posyandu di masa Pandemi Covid-19. Posyandu yang diketuai oleh istri Kaling Banjar Tegeh Sari Ibu I Nyoman Sudarma tersebut, tetap melakukan tugasnya sebagai pelayan kesehatan masyarakat, khususnya balita. Perlu diketahui bahwa Posyandu Banjar Tegeh Sari ini pernah menjadi 10 besar Posyandu terbaik nasional. Selama pandemi, pihak Posyandu tetap melakukan kinerjanya secara door to door (dari pintu ke pintu) tatap muka dengan jadwal tertentu dan protokol kesehatan (prokes). 

        Terakhir, pihak Banjar Tegeh Sari juga secara berkala (3 bulan sekali) mengadakan acara Donor Darah sukarela. Menarik, setiap pendonor darah bukan hanya mendapatkan vitamin atau obat tambah darah selesai melakukan donor darah. Tetapi, pihak banjar memberikan kenang-kenangan (oleh-oleh) berupa Eco Enzym, yang sangat berguna bagi tanaman dan lingkungan sekitarnya. Sebuah aksi kesehatan yang selalu diselingi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Dan, Banjar Tegeh Sari telah memberikan bukti nyata, bahwa lingkungan yang humanis (bersih dan sehat) adalah kebutuhan mutlak setiap warga.  

        Langkah baik Banjar Tegeh Sari yang mengelola lingkungan lebih humanis membuat senyum Indonesia ...          

YUK, KENALI RISIKO, DAMPAK DAN PENANGANAN KESEHATAN PADA KELAHIRAN PREMATUR

  Perlunya pemahaman lebih mendalam pada kelahiran prematur (Sumber: shutterstock /diolah)               Perlu diketahui bahwa setiap ta...