Saturday, December 31, 2022

Jalur Darat Denpasar - Cilegon Ditempuh 4 Hari. Kok Bisa? (Bagian II)

 

Stasiun Tanjung Brebes
Stasiun Tanjung Brebes (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

BAGIAN II.

 

Kurang lebih sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 29 November 2022, saya melakukan perjalanan darat dari Denpasar ke Cilegon Banten. Tujuan perjalanan tersebut adalah untuk menengok kondisi anak yang sedang kuliah di Teknik Metalurgi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Cilegon Banten.

Saya berniat untuk memindahkan tempat kos anak, yang saya rasa masih terasa mahal. Karena, kini saya harus membayar biaya kos bulanan dobel, yaitu kos anak saya di Cilegon dan kos saya bersama istri di Denpasar Bali.

Dengan memindahkan tempat kos anak yang lebih murah dari sekarang, maka pengeluaran bulanan saya bisa ditekan seminimal mungkin. Saya memang tidak bekerja jadi karyawan lagi sejak 6 tahun lalu. Karena alasan tekanan kerja yang tinggi, gaji dan tunjangan yang tidak sesuai dengan harapan sejak awal bekerja, serta saya ingin berkarir dalam dunia “content creator”. Maka, saya memilih bekerja secara “freelance”.

Pekerjaan yang dilakukan secara mandiri tersebut sungguh mendulang pundi-pundi sebelum pandemi Covid-19.  Namun, kondisi sungguh berbeda 360 derajat selama pandemi tersebut. Bahkan, kondisi keuangan saya hingga mengalami titik terbawah setelah mengalami kasus penipuan dalam proses lamaran kerja. Saya pernah mengulasnya di blog tercinta ini. Semoga ada pelajaran terbaik di masa mendatang. Dan, Allah SWT menggantikan yang lebih baik.

Misi perjalanan saya ke Cilegon juga akan diisi dengan menyempatkan diri mampir di rumah orang tua di Brebes Jawa Tengah. Sungguh, orang tua terutama bapak selalu membuat saya kangen. Bukan karena kondisi bapak yang makin kritis. Tetapi, penyambutan bapak sewaktu masih sehat yang membuat saya kangen.

Bapak selalu memperlakukan saya seperti saya waktu kecil. Selalu memanjakan saya dengan kuliner kesukaan saya. Meski, kuliner tersebut seringkali “ngutang” dulu sama saudara. Senyumnya yang manis membuat saya teringat selalu, meski orangnya galak dan tegas. Duh, bapak.

 

NEMBAK ONGKOS BUS DAN KA AIRLANGGA

 

Karena, kondisi keuangan yang pas-pasan, maka saya mengambil rencana alternatif terbaik untuk menekan pengeluaran seminimal mungkin. Dan, waktu yang dibutuhkan selama 4 hari. Adapun, ittinerary normalnya sebagai berikut:

1.     Tanggal 29 November 2022: berangkat dari Denpasar ke Surabaya dengan bus.

2.     Tanggal 30 November 2022: berangkat dari Surabaya ke Jakarta dengan KA Airlangga.

3.     Tanggal 1 Desember 2022: berangkat dari Brebes ke Jakarta dengan KA Airlangga.

4.     Tanggal 2 Desember 2022: berangkat dari Jakarta ke Cilegon dengan KRL dan kereta lokal Merak.  

Tetapi, rencana perjalanan di atas sepertinya berubah. Karena, saya harus mampir dulu kurang lebih 2 hari di Brebes. Oleh sebab itu, durasi perjalanan pun makin lebih dari 4 hari yang saya rencanakan.

Sekitar pukul 10 pagi tanggal 29 November 2022, saya harus naik angkutan Teman Bus ala Transjakarta-nya Bali. Saya naik Teman Bus dari kawasan Jalan Imam Bonjol Denpasar menuju Seberang Ex. Supermarket Hardys Tabanan Bali. Biaya yang harus dikeluarkan per orang sebesar Rp3.500,- (bayar dua orang bersama istri). Angkutan Teman Bus meski bayar pakai uang digital atau e-money. Makin mudah dan tidak ribet. Kurang lebih 1 jam perjalanan, saya sampai di Tabanan Bali.

Di Tabanan Bali bukan datang ke terminal atau agen bus perjalanan. Tetapi, saya berniat mau NEMBAK ONGKOS bus jurusan Denpasar-Surabaya. Seperti tulisan saya di Bagian I, ongkos resmi bus jurusan Denpasar-Surabaya kekira Rp250 ribu.

Alhamdulillah, setelah 1 jam menunggu, bus jurusan Denpasar – Madura pun lewat. Saya berusaha untuk menyetopnya. Gayung bersambut, bus tersebut berhenti. Langkah selanjutnya, saya nego harga dengan kondektur sebelum kami naik. Deal yang alot, akhirnya kesepakatan harga Rp120 ribu membawa saya dan istri ke Surabaya. Kami pun mendapatkan fasilitas layaknya penumpang dengan tiket resmi. Kursi empuk yang dapat disetel, kue, makan malam di rumah makan kawasan Situbondo Jawa Timur dan musik dangdut sepanjang perjalanan.

Sampai Terminal Bungurasih Surabaya pukul 04.00 WIB keesokan harinya. Kondisi yang masih gelap sekali, bahkan belum waktu sholat shubuh. Sebenarnya, tujuan saya selanjutnya adalah menuju Stasiun Pasar Turi. Dengan menggunakan moda kereta api ekonomi KA Airlangga jurusan Stasiun Pasar Turi Surabaya menuju Stasiun Pasar Senen dengan ongkos Rp104 ribu.

Tiket kereta api untuk 2 orang tersebut sudah saya pesan lewat aplikasi Shopee 3 hari sebelumnya, ketika saya menginap di kawasan Amed Karangasem Bali. Tiket untuk keberangkatan tanggal 30 November 2022 pukul 12.30 WIB dari Stasiun Pasar Turi Surabaya.

Namun, saya tidak membeli tiket kereta api jurusan Stasiun Pasar Turi – Stasiun Pasar Senen Jakarta. Tetapi, saya membeli tiket kereta api jurusan Stasiun Pasar Turi – Stasiun Tanjung dengan ongkos sama per orangnya Rp104 ribu. Saya juga memesan 2 tiket KA Airlangga di aplikasi Shopee untuk jurusan Stasiun Tanjung menuju Stasiun Pasar Senen dengan keberangkatan tanggal 2 Desember 2022 pukul 20.15 WIB. Saya sengaja mampir ke rumah orang tua terlebih dahulu. Dengan tujuan untuk silaturahmi menengok kondisi keluarga dan kesehatan bapak yang makin kritis.  

Berhubung tidak ada angkutan di pagi buta menuju Stasiun Pasar Turi, maka saya mesti tidur sambil duduk di ruang tunggu WC umum kawasan terminal. Saya menunggu waktu shubuh tiba dan mulai beroperasinya angkutan Damri P5 jurusan Terminal Bungurasih – Jembatan Merah, yang melewati jalan ke arah Stasiun Pasar Turi.

Sekitar pukul 06.15 WIB pagi tanggal 30 November 2022, bis Damri yang saya tumpangi berangkat. Dengan ongkos Rp10 ribu per orang, saya turun di kawasan Pusat Grosir Surabaya (PGS), setelah menempuh perjalanan kekira 45 menit. Saya meski berjalan dulu dengan beban tas “carrier” yang bikin badan bermandikan keringat. Kekira 300 meter perjalanan, saya sudah sampai di stasiun. Dan, harus menunggu kekira 3 jam hingga jadwal kereta KA Airlangga berangkat.

Sekedar masukan buat pembaca, bahwa perjalanan KA Airlangga membutuhkan waktu kekira 12 jam hingga tujuan akhir Stasiun Pasar Senen Jakarta. Maka, perlu bekal makan dan minum yang cukup. Saya biasa membeli 3 botol besar air mineral, 2 bungkus nasi bungkus untuk makan di perjalanan dan beberapa kue atau cemilan.

Jika, anda mempunyai uang cukup tidak menjadi masalah. Karena, makanan dan minuman selalu tersedia di kereta api. Tetapi, sebagai informasi, harga makanan dan minuman yang ada di dalam kereta api membuat isi kantong saya meronta-ronta.

Sebagai contoh, satu bungkus nasi yang menurut saya seperti nasi Jinggo dengan lauk ayam dibanderol dengan harga Rp26 ribu. Minuman teh atau kopi ukuran botol “small” dibanderol dengan harga Rp10 ribu. Saya yakin harga tersebut tidak masalah bagi anda. Tetapi, bagi saya belum siap membayarnya waktu itu. Mendingan, saya sedekahkan buat masjid.

Percayalah, kondisi KA Airlangga yang saya tumpangi sangat nyaman. AC yang dingin dan kondisi toilet yang bersih. Hanya tempat duduk atau kursi yang membuat sangat “tidak nyaman” untuk perjalanan berjam-jam. Mengapa? Karena, kaki kita tidak bisa selonjor atau lurus. Percayalah, kaki kita meski menekuk selama berjam-jam yang menyebabkan sedikit kram otot. Sungguh menyiksa. Tetapi, mau gimana lagi, namanya juga KA ekonomi dengan harga murah dan merakyat.

Berhubung saya membeli tiket kereta api tidak langsung ke Jakarta. Maka, sesuai jadwal, kereta api akan berhenti di Stasiun Tanjung Brebes pukul 20.15 WIB. Ketika, kereta api sampai di terminal yang dituju, adik ipar dan saudara jauh telah menunggu di halaman stasiun dengan 2 sepeda motor. Hanya membutuhkan waktu kekira 20 menit atau 7 km, kami sampai di rumah. Setelah melewati ganasnya jalan Pantura atau jalan Dendels dengan hilir mudik para monster, truk gandeng dan truk tronton.

Sebuah kawasan jalan raya yang makin padat. Pikiran saya melayang jauh, ketika saya hilir mudik dengan sepeda untuk bersekolah di SMP. Jalan raya Daendels ini menjadi tempat lalu lalang saya selama 3 tahun. Sungguh, berbeda 360 derajat dibandingkan dengan 30 tahun lalu. 

Dulu, samping kanan dan kiri jalan masih diselimuti dengan persawahan yang jauh membentang hingga menembus pemandangan pepohonan bagai tiada bertepi. Kini, jalan raya tersebut telah dipenuhi dengan bangunan rumah pribadi, pusat bisnis dan rumah sakit. Inilah kondisi saat teknologi semakin menjulang tinggi.


Friday, December 30, 2022

Jalur Darat Denpasar - Cilegon Ditempuh 4 Hari. Kok Bisa?

 

Kota Cilegon Banten

Kota Cilegon Banten yang menjadi tujuan saya meninggalkan Kota Denpasar Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

 

“Ngapain lama-lama pakai jalur darat. Pakai jalur udara kan lebih cepat dalam hitungan jam”.

 

BAGIAN I

 

Dalam mobilisasi antar kota, antar provinsi atau antar pulau, tentu setiap orang berharap bisa cepat sampai ke tujuan. Tidak ingin berlama-lama di jalanan yang bisa membuat badan terasa lelah dan membuang waktu sia-sia. Tetapi, perlu diingat bahwa kecepatan perjalanan sampai ke tujuan tentu ada harga mahal yang harus dibayar.

Sebagai contoh, perjalanan darat dengan bus Denpasar - Jakarta kekira membutuhkan ongkos resmi Rp600 ribu. Jika dengan jalur udara (pesawat udara), maka membutuhkan ongkos dari Rp700 ribu hingga Rp2 juta. Harga perjalanan udara tidak bisa diprediksi, tergantung musim apa yang sedang terjadi.

 

NEMBAK ONGKOS

 

Namun, percaya atau tidak, sejak tujuh tahun lalu, saya tidak pernah membeli tiket resmi (beli di agen) bus, jika melakukan perjalanan darat. Baik, perjalanan Denpasar – Yogyakarta, Denpasar – Surabaya hingga Denpasar – Jakarta. Dalam bahasa jalanan dikenal dengan NEMBAK ONGKOS. Atau, BAYAR PROFIT. Yang dimaksud NEMBAK ONGKOS ini berarti saya naik bus dengan biaya perjalanan yang hampir separonya dari harga resmi.

Dalam tulisan ini, mohon cara saya jangan ditiru. Saya sekedar berbagi pengalaman saja. Karena, NEMBAK ONGKOS akan bertemu berbagai risiko. Pertama, kenyamanan anda dalam melakukan perjalanan akan terkurangi. Mengapa? Saya selalu melakukan aksi NEMBAK ONGKOS dengan cara menyetop perjalanan bus kekira 5-10 km dari terminal atau agen perjalanan.

Tentu, dengan menembak ongkos resmi, saya harus memahami jadwal keberangkatan bus-bus yang diinginkan. Karena, saya harus tetap waspada bus-bus yang akan lewat. Takut, jadwal bus yang diinginkan sudah habis. Sayangnya, tidak semua bus jarak jauh mau berhenti, ketika saya berusaha memberhentikannya. Mungkin, bus tersebut telah penuh atau bus tidak ingin ngecer di jalan.

Kedua, harus pintar menawar ongkos bus. Alasan kedua inilah yang harus dikuasai, ketika saya ingin menembak ongkos resmi bus. Ongkos resmi bus Denpasar – Surabaya kekira Rp250ribu. Dengan patokan harga resmi tersebut, saya biasanya menembak harga pada kisaran Rp120 ribu – Rp150ribu. Kalau kondektur minta harga di atas harga tersebut, maka saya lewatkan saja.

Ongkos resmi bus Denpasar- Yogyakarta kekira Rp350ribu. Maka, saya berusaha nembak ongkos antara Rp175ribu hingga Rp200ribu. Jalur-jalur tersebut sangat familiar buat saya. Jadi, ketika deal harga nembak sudah clear, saya langsung naik, bayar di atas dan nikmati perjalanan. Tidak ada gangguan sama sekali. Sama seperti penumpang lain dengan ongkos resmi, tidak ada bedanya.

Pengalaman yang paling mengesankan adalah saat mampu nembak ongkos bus jalur Denpasar-Jakarta. Saya sudah 3 kali melakukan aksi nembak ongkos tersebut. Namun, nembak ongkos yang ketiga kalinya sebelum pandemi Covid-19 terjadi, justru memberikan pengalaman buruk.

Perlu diketahui, ongkos resmi Denpasar- Jakarta waktu itu kekira Rp500 ribu. Saya berniat mengambil hadiah berupa e-money atas hadiah menang lomba menulis. Sayang, e-money sebesar Rp1juta akan lenyap, kalau tidak diambil langsung di media online User Generated Content (UGC) Kompasiana Jakarta.

Dengan dalih untuk menghemat pengeluaran, maka saya nembak ongkos bus L***NA. Saya mencegat bus untuk perjalanan pagi hari, kekira pukul 8 pagi. Saya mencegat bus tersebut di kawasan jalur by pass Tabanan Bali. Padahal, waktu itu terminal Ubung Denpasar masih menjadi pool bus-bus jarak jauh, sebelum Terminal Mengwi beroperasi.

Saya tinggal di Denpasar, maka saya harus naik angkutan umum dahulu ke Tabanan yang jaraknya kekira 25 km dari tempat tinggal saya. Dengan ongkos Rp10 ribu naik angkutan umum, saya berangkat pagi-pagi dan berharap dapat salah satu dari 2 bus jurusan Jakarta - Denpasar yang lewat pagi hari.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bus L***NA pun lewat. Saya mencoba menyetopnya. Alhamdulillah, bus tersebut mau berhenti. Saya pun mencoba melakukan aksi nembak harga. Akhirnya, dengan ongkos Rp250 ribu, bus tersebut mau membawa saya menuju Jakarta.

Sayang, kegembiraan saya belum berakhir. Saya justru menghadapi pengalaman buruk. Ternyata, bus tersebut telah terisi penuh. Kondektur tidak jujur kepada saya. Alhasil, saya harus mendapatkan tempat duduk di area merokok (smoking area). Kawasan yang berada paling belakang, tersekat oleh pintu kaca. Sebagai tempat bagi penumpang yang ingin merokok.

Bayangkan, saya adalah tipe alergi merokok. Tetapi, saya harus menghirup asap rokok para penumpang lelaki selama perjalanan Denpasar - Jakarta. Pengalaman mengerikan bukan sampai di situ. Saya harus 2 kali diumpetin kondektur, untuk menghindari pengecekan (kontrol). Itulah sebabnya, saya tidak bisa turun dari bus, saat waktu makan di Situbondo dan Tuban Jawa Timur. Dengan kata lain, saya dianggap seperti penumpang gelap.

Ketiga, menjadi penumpang tanpa asuransi. Saya memahami betul bahwa dengan nembak ongkos. Maka, saya tidak mendapatkan tiket resmi yang telah diakui keberadaannya oleh pihak perusahaan otobus. Jadi, maaf, seandainya bus yang saya tumpangi mengalami kecelakaan (amit-amit sih jangan sampai terjadi). Maka, pihak PO tidak akan menanggung kerugian asuransi selayaknya penumpang lain yang bertiket resmi.

Keempat, kehadiran calo. Uniknya calo-calo bus ini tahu penumpang yang akan naik bus. Sebelnya, mereka pasti bertanya tujuan kita. Kalau tidak dijawab nanti dikira sombong atau cari masalah. Tetapi, ketika kita mengatakan tujuannya. Mereka langsung mematok harga layaknya harga tiket resmi.

Dari sinilah, sering terjadi biang keributan jika kita tidak terima dengan harga tiket yang ditawarkan calo. Di mana, harganya sebelas duabelas dengan harga tiket resmi. Lha wong, saya nembak ongkos untuk menghemat pengeluaran atau kondisi keuangan sedang kering. Maka, ketika ditawarin calo dengan harga resmi, hati ini sungguh berontak. Terlalu!

 

Bersambung ke Bagian II…


Tuesday, December 20, 2022

Mandhara Brasika, Sang Pendiri Griya Luhu Apps Yang Duduk Di Antara Tumpukan Sampah Di Ujung Desa

 

Mandhara BrasikaMandhara Brasika, pendiri Griya Luhu Apps (Sumber: Griya Luhu)

 

 

Saya yakin, bahwa tidak ada satu pun anak muda Indonesia yang bermimpi untuk bekerja di antara tumpukan sampah yang kotor dan bau. Apalagi, ketika gelar sarjana telah disandang di belakang namanya. Maka, bayangan bekerja dengan duduk dikelilingi ratusan kuintal sampah akan dibuang jauh-jauh. Karena, setiap anak muda bermimpi ingin bekerja di sebuah ruangan yang menghembuskan AC dan terasa sejuk.

Tetapi, anggapan banyak anak muda tersebut tidak berlaku bagi seorang Ida Bagus Mandhara Brasika yang asli orang Bali. Salah satu pendiri dari bank sampah www.griyaluhu.org tersebut justru melabrak rambu-rambu banyak impian anak muda. Kini, ia justru mengembangkan Griya Luhu dan duduk di antara tumpukan ratusan kuintal sampah di sebuah ujung desa Beng, Kabupaten Gianyar - Bali.

Kita semua tahu bahwa Bali menjadi destinasi wisata dunia. Tetapi, di balik gemerlap dunia wisata, Bali selalu menyisakan cerita horor tentang sampah. Menurut katadata.co.id, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), provinsi Bali menghasilkan 915,5 ribu ton timbulan sampah sepanjang tahun 2021. Dengan kata lain, provinsi Bali menghasilkan sekitar 76,3 ribu ton sampah setiap bulannya. Kondisi tersebut menjadikan Bali sebagai provinsi penghasil sampah terbesar ke-8 di Indonesia.

Lantas, bagaimana dengan kondisi timbulan sampah di Kabupaten Gianyar. Sesuai data katadata.co.id tahun 2021 tersebut, Kabupaten Gianyar menduduki posisi terbanyak kedua setelah Kota Denpasar dengan menghasilkan 141.337,13 ton sampah. Atau, Kabupaten Gianyar menghasilkan sampah sebanyak 11.778,09 ton setiap bulannya. Jumlah tersebut bagai sampah seluas hampir 30 lapangan sepak bola.

Percaya atau tidak, jika ratusan ribu ton sampah tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan timbul berbagai macam dampak negatif. Seperti, penumpukan sampah yang luar biasa, sumber penyakit, pencemaran lingkungan dan bencana alam yang tidak terduga.

 

Bank Sampah Digital

Seiring berkembangnya Revolusi Industri 4.0, maka perkembangan teknologi digital semakin tidak terkendali. Apalagi, demi menyesuaikan perkembangan jaman, maka pengelolaan sampah pun dilaksanakan dengan teknologi digital melalui perusahaan rintisan (start-up).

Oleh sebab itu, Mandhara Brasika mendirikan Griya Luhu yang merupakan start-up di bidang eko-preneur yang bertujuan untuk mengubah perilaku dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, dengan menggunakan teknologi digital. Griya Luhu Apps menjadi aplikasi yang sederhana, ramah pengguna dan lugas.

 

Griya Luhu Apps

Tampilan sederhana dari Griya Luhu Apps (Sumber: griyaluhu.org)

 

Perlu diketahui, Griya Luhu berdiri sekitar tahun 2017. Pertama kali, Griya Luhu berbentuk sebuah komunitas yang tiada henti memberikan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang perilaku pemilahan sampah.

Selanjutnya, tahun 2020, bank sampah dan aplikasi digital Griya Luhu secara resmi berdiri, untuk memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Tentu, dengan menggunakan aplikasi, maka akan memberikan banyak keuntungan dan kemudahan. Paperless atau tidak menggunakan kertas selama proses transaksi, akses data lebih mudah, dan menghemat waktu adalah beberapa kemudahan dengan menggunakan teknologi digital.

 

 

Mandhara Brasika

Mandhara Brasika, mendirikan Griya Luhu Apps untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah (Sumber: Griya Luhu)

 

Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan tahun 2022 oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar makin menguatkan kepercayaan masyarakat tentang operasional bank sampah induk Griya Luhu. Maka, menurut data Griya Luhu, lebih dari 17.000 pengguna yang telah memanfaatkan kemudahan dan manfaat dari Griya Luhu Apps.

Sebagai informasi, Griya Luhu Apps telah diadopsi oleh hampir seluruh pemerintah daerah di Bali. Hanya pemerintah kabupaten Klungkung dan Jembrana yang tidak mengadopsi aplikasi tersebut. Uniknya, banyak masyarakat atau pemerintah di luar Bali yang telah mengadopsi Griya Luhu Apps, seperti Kalimantan Timur, Sidoarjo dan lain-lain.

 

Sinergi Berkelanjutan

Ibarat pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Maka, untuk memperkuat jaringan pemilahan sampah, bank sampah induk Griya Luhu menjalin sinergi dengan 23 desa di Kabupaten Gianyar - Bali. Dampaknya, Griya Luhu mampu menampung sampah anorganik dari masyarakat sekitar 13-20 ton setiap bulannya.

Menurut Business Analyst Griya Luhu Viona Damayanti menyatakan, pada rentang waktu bulan Januari - November 2022, Griya Luhu telah mengumpulkan sampah anorganik kurang lebih 150 ton. Jumlah sampah tersebut dikoleksi secara sistem dari 23 desa yang dikelola oleh Griya Luhu. Di mana, terdapat kurang lebih 113 bank sampah unit, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat banjar.

Menarik, setiap desa terdapat 3-10 orang kader yang bertugas dalam pengelolaan sampah. Para kader tersebut bermanfaat dalam memberikan informasi langsung kepada masyarakat tentang jadwal pengumpulan sampah.

Griya Luhu mengusung motto, “Sampahku Adalah Tanggung Jawabku”. Motto tersebut memberikan pemahaman bahwa setiap sampah yang kita timbulkan menjadi tanggung jawab kita sendiri. Tentu, berpedoman pada konsep pengelolaan sampah 3R, yaitu:

      1. Reduce (mengurangi sampah sekali pakai seperti kantong kresek, botol plastik, dan sedotan plastik);

     2. Reuse (menggunakan kembali barang yang dapat digunakan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya seperti penggunaan botol minum dan tas belanja dari kain);

    3. Recycle (mengolah kembali atau daur ulang sampah menjadi barang atau produk yang bernilai ekonomi).

 

Pemilahan

Di Griya Luhu terdapat mesin pres besar dengan warna dominan biru. Mesin pres yang digerakan dengan tenaga mesin diesel tersebut, sementara waktu hanya digunakan untuk pres sampah kertas. Selanjutnya, jenis sampah yang lainnya di kemas dalam berbagai kantong dengan tenaga tangan.

 

Mesin pres

Mesin pres di bank sampah induk Griya Luhu (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ada 5 kelompok besar sampah menurut Griya Luhu, yaitu: 1) Plastik; 2) Kertas; 3) Botol dan kaca; 4) Besi dan logam; dan 5) lainnya (minyak jelantah, kampil, dan lain-lain). Sedangkan, dari kelompok besar tersebut, ada 26 macam sampah anorganik yang akan dikelompokan sesuai jenis dan bentuknya. Seperti, plastik pembungkus makanan, tutup botol air mineral, kertas, botol air mineral, botol minuman kecil, kaleng minuman, kaleng makanan, plastik mika, botol kaca, besi dan logam, dan lain-lain.  

 

 

Jenis sampah anorganik

Jenis sampah anorganik yang dikelola oleh Griya Luhu (Sumber: dokumen pribadi)

 

Di bank sampah induk Griya Luhu, sampah anorganik yang belum dipilah menjadi 26 jenis akan ditempatkan pada 2 tumpukan besar, sisi barat dan sisi utara. Ada 9 karyawan Griya Luhu yang setia melayani masyarakat dalam pemilahan sampah.



Tumpukan sampah anorganik

Tumpukan sampah anorganik yang belum dipilah (Sumber: dokumen pribadi)


 

Ke manakah akhir perjalanan sampah anorganik yang dikelola oleh Griya Luhu? Mungkin, pertanyaan tersebut terlintas dalam pikiran anda. Saat ini, alur akhir pengelolaan sampah anorganik yang ada di Griya Luhu adalah melibatkan pihak ketiga atau kirim sendiri langsung ke pabrik. Sebagai contoh, untuk sampah kardus dan kantong plastik atau kresek melibatkan pihak ketiga yang terpercaya. Di mana, pihak ketiga tersebut akan mengirim langsung ke pabrik untuk diolah atau daur ulang. Sedangkan, untuk sampah kertas, Griya Luhu langsung mengirimnya sendiri ke pabrik untuk diolah atau daur ulang.

 

 

Pengiriman sampah yang sudah dipilah

Pengiriman sampah yang sudah dipilah ke pihak ketiga atau pabrik (Sumber: dokumen pribadi)


 

Tahukah anda, dibalik tumpukan sampah terpilah yang dikirim hingga 48 kali mobil pick up setiap hari Sabtu dan Minggu, banyak memberikan pelajaran berharga. Setiap 250 kg sampah terpilah yang dimuat satu mobil pick up merupakan hasil kerja tangan-tangan terampil yang tidak takut bau dan kotornya sampah.

Ada cerita menarik dari 2 (dua) karyawan pemilah sampah di Griya Luhu yang bernama Ibu Kadek Sariasih dan Bapak Dewa Gede Putu. Masing-masing karyawan tersebut telah bekerja selama 2 tahun dan 3 tahun. Mereka bekerja dengan senang hati, meskipun bau sampah yang seringkali menyengat hidung. Sungguh, tidak ada guratan rasa lelah di wajahnya. Senyumnya tetap sumringah, ketika berada di antara puluhan karung sampah botol, plastik dan kertas. 


 

Ibu Kadek Sariasih dan Bapak Dewa Gede Putu

Ibu Kadek Sariasih dan Bapak Dewa Gede Putu yang bekerja di bagian pemilahan sampah di Griya Luhu (Sumber: dokumen pribadi)


 

“Saya senang kerja di sini, agar sampah bisa berkurang. Perusahaan juga memberikan perhatian dan tunjangan yang baik pak. Kami sering mendapat sembako” kata pak Dewa Gede Putu, sambil tangannya yang terampil memilah sampah kertas.  

 

Griya Luhu juga memberikan jaminan kesehatan karyawannya berupa BPJS Kesehatan. Karena, kesehatan karyawan sangatlah penting, ketika mereka berurusan dengan sampah, yang memberikan dampak kesehatan bagi manusia.

 

Apresiasi Tanpa Batas

Tentu, kehadiran Griya Luhu yang didirikan oleh Mandhara Brasika tersebut mendapatkan apresiasi dan penghargaan tanpa batas. Sebagai pendiri Griya Luhu, Mandhara Brasika sendiri mendapatkan berbagai undangan menjadi pembicara atau narasumber dalam berbagai even penting. Saya meyakini bahwa apresiasi tersebut tidaklah tujuan utama. Tetapi, menjadi bonus dari sebuah terobosan brilian anak muda, agar Bangkit Bersama untuk Indonesia. Setelah, kurang lebih 3 tahun bangsa Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. 

 

 

Beberapa penghargaan

Beberapa penghargaan yang diterima oleh Griya Luhu (Sumber: dokumen pribadi)

 

Banyak pihak atau stakeholder yang telah memberikan apresiasi kepada Griya Luhu. Dari pemerintah Provinsi Bali, sesuai dengan Memorandum of Understanding (MoU) memberikan lahan seluas 5 are (500m2) sebagai tempat pemilahan dan bank sampah induk di kawasan Beng, Gianyar - Bali. Sedangkan, perusahaan plat merah yang telah memberikan apresiasi kepada Griya Luhu, seperti Bank BNI berupa pemberian mesin press dan sepeda motor, serta Pertamina berupa mobil pick up.

Selain apresiasi dan penghargaan tanpa batas, keberadaan Griya Luhu memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Masyarakat diberi kesadaran secara berkelanjutan tentang perilaku memilah sampah dari lingkungan rumah. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu datang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Juga, mengurangi kuantitas sampah yang ada di TPA.

Bahkan, keberadaan Griya Luhu benar-benar memberikan dampak yang baik bagi lingkungan. Kurang lebih 40% sampah anorganik yang bisa ditampung oleh Griya Luhu berupa plastik lembaran. Padahal, sampah plastik tidak bisa terurai puluhan hingga ratusan tahun, jika telah terkubur dalam tanah. Dampaknya, sangat merusak ekosistem yang akan bermuara kepada manusia.

Oleh sebab itu, dengan memilah sampah dan membawanya ke bank sampah induk Griya Luhu. Maka, masyarakat berperan besar dalam mengurangi timbulan sampah. Melalui Griya Luhu Apps, masyarakat juga bisa menabung dari hasil setoran sampah tersebut. Laporan penghasilan bisa dilihat langsung melalui buku tabungan.

Bahkan, saat transaksi berlangsung, pihak Griya Luhu memberikan rating di aplikasi pengguna Griya Luhu Apps tersebut. Semakin baik rating yang diberikan, maka cuan (keuntungan) yang diperoleh masyarakat semakin besar. Menurut Business Analyst Griya Luhu Viona Damayanti, ada siswa SMP yang mampu mengumpulkan tabungan tertinggi.

Hasil penjualan sampah di Griya Luhu bisa diambil langsung oleh masyarakat saat transaksi selesai dilakukan. Kenyataannya, masyarakat mengumpulkan hasil penjualan tersebut, agar terkumpul lebih banyak. Apalagi, Griya Luhu membagikan keuntungan penjualan sampah masyarakat melalui pihak banjar setiap bulannya.

Tetapi, demi mengumpulkan penghasilan yang besar, maka kebijakan pihak banjar membagikan keuntungan kepada masyarakat langsung tersebut bervariasi. Dari setiap bulan sampai setiap 6 bulan (semester).

Kalau dicermati secara baik, keberadaan Griya Luhu bukan hanya mengurangi adanya timbulan sampah di masyarakat. Tetapi, Griya Luhu telah menciptakan circular economy (ekonomi sirkular). Hal ini dibuktikan dengan adanya ribuan pengguna Griya Luhu Apps. Di mana, pengguna aplikasi tersebut berperan dalam pemilahan sampah dan menghasilkan keuntungan melalui buku tabungan. Masyarakat sekitar juga diberdayakan sebagai tenaga pemilah sampah.    

Oleh sebab itu, pihak Griya Luhu sendiri berharap besar, agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Tentu, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah kesadaran memilah sampah dari lingkungan terkecil (keluarga). Kini, masyarakat tidak menjadi objek, tetapi menjadi subjek atau pelaku yang mampu memberikan semangat kesadaran pemilahan sampah kepada orang lain.

Sunday, December 4, 2022

"Mengintip" Sakaratul Maut: Sebuah Perjalanan Relejius Melihat Bapak Menjemput Kematian

 

Makam Bapak di Brebes Jawa Tengah

Bapak dimakamkan di Brebes Jawa Tengah tanggal 2 Desember 2022 (Sumber: dokumen pribadi)

 

“Setiap makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian”

 

Kematian adalah hal mutlak adanya. Tetapi, tidak ada satu pun makhluk di bumi yang memahami atau mengetahui kapan kematian itu datang. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu tentang kematian itu. Tanpa maju atau mundur sedetik pun.

Mungkin, saya merasa paling beruntung. Karena, saya menyaksikan detik-detik sakaratul maut yang dirasakan oleh bapak. Bapak meninggal dunia sesuai dengan hari lahirnya Jumat, meninggal di hari Jumat, tepat sehabis sholat Jumat pada usia 89 tahun,

Sejatinya, dalam kurun waktu beberapa tahun ini, saya jarang pulang kampung ke Brebes. Saya dan istri mencari penghidupan di Bali. Karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan maka kami sering gagal untuk pulang kampung. Termasuk, saat perayaan Lebaran.

Tetapi, 4 bulan yang lalu, saya sempat mengabadikan berfoto bersama dengan bapak dan anak. Karena, saya harus mengantar anak untuk kuliah di kawasan Cilegon Banten. Saya dan anak menyempatkan untuk singgah 1hari mengabadikan kehangatan cinta kepada bapak. Yang bertahun-tahun tidak kami rasakan.

Meskipun, kesehatan bapak sudah mengalami penurunan karena faktor usia. Dia harus mengingat berkali-kali untuk mengenali kedatangan saya. Tenaga untuk bicara pun sudah berkurang seperti gejala stroke ringan.

Saya kembali ke perjalanan saya bersama istri tanggal 29 Nopember 2022 lalu dari Denpasar. Kami menimbang beberapa kali rute perjalanan. Akhirnya, kami memutuskan rute perjalanan Denpasar – Surabaya dengan bus, Surabaya – Brebes dengan kereta api, Brebes – Jakarta dengan kereta api. Di Jakarta, kami berencana matang untuk mengikuti acara Kompasianival 2022 yang diselenggarakan oleh platform media USG Kompasiana. Dari Jakarta – Cilegon akan ditempuh dengan kereta api.

Sungguh, saya tidak akan menyangka perjalanan panjang untuk menjenguk anak di Cilegon akan berhenti lama di Brebes. Tetapi, saya menganggap bahwa perjalanan panjang ini sebuah PERJALANAN RELEJIUS ATAU SPIRITUAL. Betapa tidak, saya beruntung sekali mengawal anak manusia mengawali detik-detik SAKARATUL MAUT.

Dua malam satu hari, saya pribadi menemani bapak bergelut dengan penyakitnya, yang dialami bertahun-tahun. Nafas yang berat, kencing yang menyakitkan dan tidak bisa buang air besar (BAB). Anda pasti akan merasakan hal yang sangat menyakitkan jika anda mengalaminya.

Saya sudah berencana singgah hanya 2 hari.  Dan, selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Cilegon Banten. Tetapi, kondisi Bapak sungguh kritis. Kami harus menjaganya dengan ekstra.

 

Jumat, 2 Desember 2022.. 

 

Ada ungkapan banyak orang bahwa sebelum terjadinya kematian pada seseorang. Maka, keluarga atau sahabat yang ada di sekitarnya, biasanya diberikan tanda-tanda yang kuat. Sama halnya dengan apa yang dialami bapak. Jumat dini hari selalu meracau atau mengigau tidak karuan. Dia selalu memanggil alamarhum bapak dan alamarhumah ibunya.

 

“Giyan” kata singkat yang berarti cepetan dalam bahasa Brebes sering dilontarkan menjelang kematiannya.        

Hingga, tulisan ini saya buat, saya masih mencerna kata singkat tersebut. Apakah cepetan yang dimaksud adalah cepetan saya dibawa ke alammu. Atau, cepetan kalau ingin memberinya kesehatan. Wallahu a’lam bissawab.

Pukul 11.00 WIB, saya ditelpon adik ipar, ketika saya sedang silaturahmi ke rumah paman. Nada adik ipar sungguh mengagetkan, yang menyuruh saya cepat-cepat pulang. Nada bicaranya penuh kekhawatiran, sayu-sayup terdengar isak tangis. Tanpa basa-basi, saya dan istri pun meluncur pulang. Kami pun takut ada hal-hal yang mengkawatirkan terjadi dengan bapak.

Benar adanya, kami melihat adik ipar dan adik perempuan saya sedang mengalami isak tangis. Di depannya, tergolek lemah badan bapak yang tinggal kulit pembalut tulang. Ritme nafasnya mulai menderu, seperti nafas kuda yang habis berlari puluhan kilometer.

Tiada henti, kami membimbing bapak untuk mengucapkan kalimat “Laailahailallah. Muhammadurrasulullah”. Kami dengungkan di telinga kanannya, hingga tidak terhitung jumlahnya.

Sesekali, saya membisikan ke telinga bapak untuk membuka matanya, hampir 3 kali. Dia menatap saya dengan tajam, sambil meneteskan air mata. Sepertinya, dia meluapkan rasa kangen, karena lama tidak bertemu dengan saya.  

 

“Hayo, kelingan belih karo aku. Adoh-adoh sing Bali loh. Jarene sampeyan kangen” (Ayo, ingat nggak sama saya. Jauh-jauh dari Bali loh. Katanya bapak kangen) kalimat guyon dan penyemangat yang saya dengungkan di telinganya.

Sungguh ajaib, bapak mau membuka matanya dan menatap saya dengan tajam. Juga, mampu menirukan kalimat syahadat berkali-kali. Meskipun, kalimatnya pelan terdengar.

Kami, yang hendak sholat Jumat mengurungkan niatnya. Pasalnya, nafas bapak makin tersengal. Sungguh, rasa sakit manusia teramat sangat adalah sakit saat menghadapi sakaratul maut. Konon, rasanya berkali-kali dari tusuk berduri yang dimasukkan ke luka dan ditarik kembali. Subhanallah.

Ketika, waktu sholat Jumat dimulai. Nafas bapak makin seperti lengkingan kuda. Jujur, saya merasa seperti malaikat pencabut nyawa mulai melakukan tugasnya sesuai ijin Allah SWT. Berkali-kali, mulutnya terbuka seperti ada sesuatu yang ditarik dari dalam mulutnya.

Melihat keadaan yang semakin genting, saya membaca surat Yasin sambil memegang pergerakan urat nadi dan mengawasi kondisi wajah bapak. Nafas bapak semakin menemui ajal melalui proses sakaratul maut.  

 

“Wis langka mas” (sudah gak ada mas) kata adik ipar saya.

 

Saya sungguh kaget, tidak percaya. Saya mencoba memencet pergerakan urat nadi. Benar, nadi menunjukan bahwa ruh bapak telah kembali ke pangkuannNYA. Namun, saya masih tidak percaya karena masih melihat sekali pergerakan mulutnya. Seperti, proses pengambilan nyawa manusia masih berlangsung. Saya dekatkan telinga ke 2 lubang hidung bapak dan mulut, tetapi semua diam membisu.

Masih tidak percaya, saya mencobanya keduli dengan durasi agak lama. Sepi dan senyap.

 

“Innalillahi wa innaillahi rajiun. Benar, bapak wis langka (tidak ada)” kata saya kepada anggota keluarga yang ada. Kejadian, tepat setelah sholat Jumat selesai.

 

Saya dan ibu berusaha tegar dan tidak menangis. Benar, saya mampu bertahan. Tetapi, tangis itu pun pecah setelah bapak sudah tiada dan dikubur.

 

Sebuah perjalanan spiritual mendampingi bapak hingga detik-detik sakaratul mau merenggutnya. Pengalaman yang sulit terlupakan dan memberikan perjalanan berharga. Betapa sakitnya manusia saat menghadapi sakaratul maut. Insya Allah, bapak husnul khotimah.

 

Selamat jalan bapak tercinta. Saya begitu sayang, tetapi Allah lebih sayang padamu. Kembalillah ke pangkuan Allah SWT dengan senyum. Semoga Allah menerima amal dan kebaikan bapak. Insya Allah surga menanti. Salam kangen dari anakmu.

 

Brebes, 4 Desember 2022.   


Monez Brings his Illustrator Experiences to Suara Festival in Tabanan

  Monez a.k.a. Ida Bagus Ratu Antoni Putra Brings his Illustrator Experiences to Suara Festival in Tabanan Bali (Source: Monez)     In...