Showing posts with label Danone Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Danone Indonesia. Show all posts

Wednesday, March 9, 2022

Danone Indonesia, Partner Ibu 24 Jam Wujudkan Generasi Maju

 

Danone Indonesia menjadi partner ibu 24 jamDanone Indonesia menjadi partner ibu 24 jam wujudkan generasi maju (Sumber: shutterstock/diolah)

 

          “Wanita itu kerjanya di dapur, sumur dan kasur”

 

          Percaya atau tidak, anggapan tersebut masih ada hingga kini dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Buktinya, masih ada perbedaan pandangan antara kaum perempuan dan laki-laki. Laki-laki selalu harus paling depan dari pada wanita. Meskipun, RA. Kartini telah menggemakan emansipasi wanita sejak ratusan tahun lalu. Maka, kesetaraan gender sering menjadi pro kontra berbagai kalangan di belahan dunia.

          Kini, kaum perempuan mesti berbangga. Karena, harapan kesetaraan gender adalah pasti. Dunia pun mengakui bahwa kaum perempuan perlu dirayakan layaknya laki-laki. Itulah sebabnya, setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional.  

          Masalah perempuan menjadi perhatian banyak perusahaan, baik plat merah maupun swasta. Salah satu perusahaan swasta yang peduli masalah perempuan adalah Danone Indonesia. Untuk memperingati #WomenInternationalDay2022 Danone Indonesia mengadakan seminar dengan mengusung tema ”Perusahaan Ramah Keluarga Bantu Perempuan Indonesia Siapkan Generasi Maju”.

          Webinar yang dilakukan secara virtual melalui aplikasi Zoom dan kanal Youtube Danone Indonesia diadakan pada tanggal 8 Maret 2022 pukul 10.00-12.00 WIB lalu. Sedangkan, pembicara yang hadir dalam webinar tersebut adalah:

1.    Bapak Indra Gunawan, selaku Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kemen PPPA.

2.    Ibu Vera Galuh Sugijanto, selaku VP General Secretary Danone Indonesia.

3.    Ibu Maya Juwita, selaku Direktur Eksekutif IBCWE.

4.    Ibu Rosdiana Setyaningrum, MPSi., MHPEd., selaku Psikolog.         

KESETARAAN GENDER 

          Harus diakui bahwa perempuan Indonesia belum maksimal mendapatkan kesetaraan gender. Hal ini terbukti dengan adanya laporan World Bank 2022 melansir laporan bahwa Indeks Negara Asia Tenggara dalam menjamin kesetaraan gender melalui aturan hukum tahun 2022, Indonesia menduduki posisi ke-7 dengan poin 64,4. Posisi puncak diduduki oleh Laos dengan poin 88,1.

          Apalagi, jika melihat kondisi perempuan yang bekerja. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa ada 50-70 juta perempuan usia>15 tahun yang bekerja. Jumlah tersebut naik 2,63% dibandingkan tahun 2019, yaitu 49,40 juta.

          Tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan bekerja seringkali tidak bisa maksimal dalam mengasuh anaknya. Baik, sejak mengandung hingga melahirkan. Bukan rahasia umum bahwa perusahaan masih enggan untuk membayar penuh hak perempuan, ketika sedang cuti melahirkan.

          Bukan hanya itu, lingkungan kerja seringkali tidak mendukung karir dan pengasuhan anaknya. Kondisi inilah yang membuat masalah pelik kaum perempuan dalam bekerja. Padahal, dalam rahim perempuan akan lahir generasi maju, yang bisa melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa Indonesia.

          Oleh sebab itu, peranan perusahaan tempatnya bekerja harus bisa memberikan dukungan untuk perempuan. Menurut penelitian dari McKinsey & Company (2021) menunjukan bahwa saat perusahaan memberikan dukungan, perusahaaan dengan lebih banyak perempuan executive punya performa lebih tinggi.

          Salah satu dukungan yang diberikan adalah ligkungan yang lebih fleksibel dan empati. Lingkungan kerja yang baik dengan peer support.

Peer support adalah sebuah kondisi di mana setiap orang merasa aman secara psikologis dan saling membantu, misal: group discussion.

   

Peer Support
Peer Support dalam perusahaan (Sumber: shutterstock/diolah)

 

          Menurut ILO dan UNICEF, Kebijakan Ramah Keluarga adalah dampak positif 1) kemampuan pekerja untuk menyeimbangkan tanggung jawab kerja dan keluarga; adanya keseimbangan yang baik 2) pertumbuhan anak-anak mereka.

          Contoh Kebijakan Ramah Keluarga adalah: 1) Bersalin berbayar, ayah, cuti orang tua, cuti pengasuh 2) Faslitas menyusui; 3) Program kembali bekerja secara bertahap setelah cuti Panjang; 4) Pengaturan kerja yang fleksibel; 5) Dukungan perawatan anak atau tunjangan anak; dan 6) Kelas parenting atau grup sumber daya karyawan tentang parenting.

          Banyak keuntungan yang diperoleh dengan adanya Kebijakan Ramah Keluarga, yaitu:

1.    Bisnis: 79% perusahaan di Indonesia telah berpengalaman meningkatkan produktivitas dengan adanya model kerja yang fleksibel atau WFH.

2.    Anak: peningkatan pemberian ASI Eksklusif.

3.    Pekerja: performa lebih baik dan memuaskan, dengan adanya kerja yang fleksibel.

4.    Planet: dengan adanya kerja fleksibel di rumah, maka  mampu menghemat 3 juta metrik ton CO2.

5.    Keseimbangan gender: aspirasi perempuan naik 83% dalam sebuah organisasi yang fleksibel. Dibandingkan dengan organisasi yang tidak fleksibel, aspirasi perempuan hanya 54%.

         

PERUSAHAAN RAMAH KELUARGA 

          Lantas, bagaimana dengan Kebijakan Ramah Keluarga Danone Indonesia? Terpenting, Danone Indonesia merupakan perusahaan ramah keluarga yang siap mendukung 24 jam perempuan Indonesia dalam menyiapkan generasi maju. Mungkin, perusahaan lain di Indonesia harus belajar bagaimana kebijakan ramah keluarga telah diterapkan dalam lingkungan perusahaan Danone Indonesia.

          Kita semua tahu, bahwa untuk mewujudkan kondisi tersebut, Danone Indonesia telah melakukan berbagai cara, agar kebijakan ramah keluarga bisa menjadi sebuah budaya perusahaan.

          Danone Indonesia telah mengeluarkan kebijakan ramah gender, di antaranya:

1.    48% level manajerial dan 56% dewan direksi Danone Indonesia adalah perempuan (tahun 2020).

2.    Menerapkan budaya inklusif, beragam dan ramah keluarga.

          Selain, kebijakan ramah gender, Danone Indonesia juga mengeluarkan kebijakan dan fasilitas sebagai bukti perusahaan yang mempunyai kebijakan ramah keluarga, yaitu:

1.    Cuti hamil hingga 6 bulan berbayar untuk ibu.

2.    10 hari cuti untuk ayah.

3.    Ruang laktasi

          Pendidikan juga menjadi poin penting Danone Indonesia untuk ikut berperan serta dalam menciptakan generasi maju bangsa Indonesia. Langkah-langkah yang telah dilakukan perusahaan dalam bidang edukasi, yaitu: Program pendampingan karyawan untuk 1.000 Hari Pertama Kehidupan si kecil.

          Bahkan, kebijakan ramah gender khususnya perempuan, Danone Indonesia telah mengeuarkan program yang bernama Danisa. Sebuah Program pendampingan menyusui karyawati, agar sukses dalam menyusui. Danone Indonesia menyadari bahwa generasi maju berawal dari pemeberian susu eksklusif sang ibu.

          Program lain tidak kalah penting dari Danone Indonesia adalah program Insiatif Sosial Pemberdayaan Perempuan. Program-program tersebut menjadi bukti bahwa Danone Indonesia siap 24 jam menjadi partner ibu dalam wujudkan generasi maju. Adapun, program-program tersebut, adalah:

1.    AQUA Home Service.

2.    Recycling Business Unit.

3.    Isi Piringku.

4.    Warung Anak Sehat.

5.    Rumah Bunda Sehat.

6.    Rumah Tempe.

          Program yang paling menarik adalah Komitmen 24 jam untuk melayani keluarga Indonesia melalui Careline Danone Specialized Nutrition Indonesia.

1.    Layanan dukungan untuk orang tua dan konsumen  dengan layanan multichannel pertama yang siaga 24 jam.

2.    Fokus mengedukasi konsumen seputar isu kesehatan dan nutrisi dengan sumber daya yang memiliki latar belakang nutrisi dan kesehatan.

3.    Melayani lebih dari 2.000 orang tua Indonesia di seluruh Indonesia setiap harinya.

4.    SWA Magazine menganugerahi sebagai Number 1 (#1) Customer Service Champion Across Category 2021. 

         

Careline Danone Specialized Nutrition IndonesiaCareline Danone Specialized Nutrition Indonesia (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Dari program Careline Danone Specialized Nutrition Indonesia tersebut, menjadi bukti kebijakan ramah keluarga Danone Indonesia. Serta, komitmen siap 24 jam menjadi partner ibu wujudkan generasi maju. 


Thursday, November 18, 2021

YUK, KENALI RISIKO, DAMPAK DAN PENANGANAN KESEHATAN PADA KELAHIRAN PREMATUR

 

Perlunya pemahaman lebih mendalam pada kelahiran prematur (Sumber: shutterstock/diolah) 

 

          Perlu diketahui bahwa setiap tanggal 17 November sejak tahun 2008 diperingati sebagai Hari Prematur Sedunia (World Prematurity Day). Peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan perhatian dan kewaspadaan masyarakat terhadap tantangan dan beban yang dihadapi oleh anak yang lahir secara prematur dan keluarganya.

          Fakta menyebutkan bahwa 1 dari 10 anak di dunia lahir secara prematur. Dengan kata lain, menurut laporan WHO, ada sekitar 15 juta anak yang dilahir secara prematur di dunia setiap tahunnya. Dan, lebih dari 1 juta yang meninggal karena kelahiran secara prematur.

          Oleh karena itu, kelahiran prematur bukanlah masalah sepele. Apalagi, Angka kelahiran prematur di Indonesia masih tinggi dan meningkat. Masyarakat perlu mengenali risiko dan dampak kelahiran prematur, serta penanganan kesehatan selanjutnya.

          Untuk memahami lebih dalam tentang kelahiran prematur, maka ada acara Bicara Gizi dengan tema “Tantangan & Penanganan Kesehatan Bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur”, yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia pada tanggal 17 November 2021 pukul 13.00-16.00 WIB. Acara tersebut dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom dan channel Youtube Nutrisi Untuk Bangsa. Dihadiri oleh 2 narasumber keren, yaitu:

1.     Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K), selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal.

2.     Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Perinatologi dan Neonatalogi.

 

Acara Bicara Gizi yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia pada tanggal 17 November 2021 pukul 13.00-16.00 WIB (Sumber: Danone Indonesia)

 

FAKTOR RISIKO KELAHIRAN PREMATUR

          Pada acara keren ini, Ibu Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K), selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal membahas tentang “Pentingnya Memahami Faktor Risiko Kelahiran Prematur (Preterm)”.


Ibu Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K), selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal (Sumber: Danone Indonesia/screenshot) 

 

          Menurut data WHO tahun 2012 melansir hasil penelitian bahwa Bangsa Indonesia menduduki peringkat ke-5 setelah 1) India, 2) China, 3) Nigeria, 4) Pakistan dari 10 negara dengan tingkat kelahiran prematur yang tinggi. Termasuk, 1) Amerika, 2) Bangladesh, 3) Philipina, 4) Republik Demokrasi Kongo dan 5) Brazil. Sebagai informasi, kelahiran prematur di Indonesia setiap tahun sebanyak 675.500. Sedangkan, angka kelahiran prematur terhadap 100 kelahiran hidup sebanyak 15,5 %.    

          Ibu Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K) lebih senang menyebutnya kelahiran preterm. Apa yang dimaksud dengan Kelahiran Preterm? Kelahiran Preterm merupakan kelahiran pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Kelahiran preterm terbagi menjadi 4 yaitu: 1)  Late preterm pada usia 34-36 minggu; 2) Moderately Preterm pada usia 32-34 minggu; 3) Very Preterm pada usia kurang dari 32 minggu; dan 4) Extremely Preterm pada usia kurang dari 25 minggu.

          Perlu diketahui bahwa faktor risiko kelahiran preterm terbagi menjadi 2, yaitu: 1) Dapat dimodifikasi dan 2) Tidak dapat dimodifikasi. Namun, secara umum moms perlu memahami beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan kelahiran prematur, yaitu:

1. Riwayat kehamilan sebelumnya, yang meliputi: 1) melahirkan prematur pada kehamilan sebelumnya; 2) pernah melahirkan secara sesar; dan 3) cedera pada kelahiran sebelumnya.

2. Kondisi kehamilan, yang meliputi: 1) ibu memiliki riwayat penyakit seperti diabetes, tekanan darah tinggi, anemia dan lain-lain; 2) mengandung lebih dari 1 janin; 3) kondisi serviks pendek; 4) mengalami infeksi dan pendarahan pada vagina; dan 5) hamil di usia di bawah 17 tahun dan di atas 35 tahun.

3. Gaya hidup, yang meliputi: 1) kurang gizi; 2) berat badan terlalu rendah sebelum hamil; dan 3) merokok, mengonsumsi minuman beralkohol dan menggunakan obat-obatan terlarang selama kehamilan. 

 

Faktor risiko kelahiran preterm (Sumber: Presentasi Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K)/diolah)

 

           Perlu dipahami bahwa kelahiran preterm menyebabkan dampak komplikasi pada ibu dan anak yang dilahirkan baik, jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak jangka pendek terhadap anak dari kelahiran preterm adalah: 1) masalah pernafasan (sindrom distress atau gangguan pernafasan berat, apnea of prematurity (jeda pernafasan), displasia bronkopulmoner atau cedera paru-paru (yang berlangsung hingga jangka panjang); 2) masalah minum (necrotizing enterocolitis); 3) pendarahan intravertikular; 4) aliran darah jantung abnormal (patent ductus arteriosus); 5) sepsi/infeksi   

          Sedangkan, dampak jangka panjang dari kelahiran preterm adalah: 1) Cerebal Palsy (lumpuh otak); 2) Development Delay (terlambat tumbuh); 3) Masalah penglihatan (retinopathy of prematurity); 4) Masalah pendengaran; 5) Gangguan belajar; 6) Penyakit kanker dan paru; dan 7) Terjadinya penyakit DM (Diabeter Melitus) dan alergi (asma dan alergi pada makanan). Kelahiran preterm  kurang dari 28 minggu dan 28-31 minggu memiliki risiko 17x dan 3,5x lebih besar menderita gagal jantung dibandingkan dengan anak atau remaja yang dilahirkan cukup bulan.

 

Dampak kelahiran preterm terhadap anak (Sumber: Presentasi Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K)/diolah)

 

          Bukan hanya ke anak, kelahiran preterm juga berdampak pada moms yang melahirkan, yaitu: 1) Anxietas (kecemasan); 2) Depresi pasca persalinan; 3) Post-Traumatic stress (trauma sehabis melahirkan); dan 4) Masalah bonding (gangguan) dengan bayinya. Di sinilah, peran keluarga sangat penting untuk menenangkan moms.

 

Dampak kelahiran preterm terhadap moms yang melahirkan (Sumber: Presentasi Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K)/diolah) 

 

DAMPAK DAN PENANGANAN KESEHATAN

          Narasumber keren yang kedua adalah Ibu Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Perinatologi dan Neonatalogi. Membahas tentang “Dampak Kelahiran Prematur dan Intervensi yang Tepat”.

 

Ibu Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Perinatologi dan Neonatalogi. (Sumber: Danone Indonesia/screenshot)

 

          Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017, Angka Kematian Neonatus (AKN) atau  masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran   sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan, Angka kelahiran prematur Indonesia menurut WHO tahun 2018 sebesar 15,5%.

          Setelah dilakukan penelitian ke 25 RS dari 39 RS di Indonesia menunjukan hasil kelahiran prematur tahun 2019 sebagai berikut: Usia kehamilan <28 minggu sebesar 0-8,19%, usia kehamilan 28-31 sebesar 0,6-21,65 dan usia kehamilan 32-36 minggu sebesar 5,11-83,52%.  

          Risiko yang dikhawatirkan moms terhadap kelahiran prematur adalah: 1) pertumbuhan anak terlambat dan tidak dapat mencapai kejar tumbuh yang berakibat anak terlihat kecil dan lebih pendek dibandingkan anak lain seusianya; 2)  Sindrom metabolik (dislipidemia atau kandungan kadar lemak dalam darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, penyakit jantung, Diabetes Melitus dan hipertensi). 

          Faktanya, kelahiran prematur berisiko terhadap tumbuh kembang anak, seperti: 1) Adanya gangguan belajar; 2) Adanya gangguan konsentrasi; 3)  Gangguan tingkah laku; 4) Tantrum (ledakan emosi); dan 5) Kesulitan makan.         

          Menurut Ibu Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), kelahiran prematur memberikan risiko kesehatan anak, seperti: 1) Retinopathy of Preamturity (rentan kebutaan); 2) Extrauterime Growth Restriction (pertumbuhan tidak memadai selama rawat inap); 3) Osteopenita of Preamturity (Komposisi tulang yang gampang patah); 5) Anemia of Prematurity;  6) Necrotizing  Enterocolitis (ketidakmatangan saluran cerna); Respiratory Distress Syndrom/Bronchopulmonary dysplasia (BPD); 7) Gangguan pendengaran; 8) Pendarahan intraventrikular; dan 9) Gangguan Neurodevelopment (perkembangan syaraf).

          Oleh sebab itu, kelahiran prematur membutuhkan penanganan kesehatan yang baik. Penanganan kesehatan kelahiran prematur dimulai sejak lahir. Ada 3 tahap penting penanganan kesehatan terhadap kelahiran prematur.

1. Proses kelahiran, moms hendaknya: 1) Pilih rumah sakit yang sesuai dengan kondisi janin yang akan dilahirkan; 2) RS mampu memberikan pelayanan optimal; 3) Penanganan di awal kelahiran sangat menentukan masa depan anak; dan 4) Gangguan pernafasan sering dialami anak yang lahir prematur, harus ditangani dengan baik. 

2. Perawatan di RS dengan: 1) NICU Gentle Care: membuat kondisi anak senyaman mungkin; dan 2) Covering incubator: ada suasana gelap seperti dalam kandungan, agar anak tumbuh dengan baik. Melihat risiko yang terjadi pada kelahiran prematur, maka moms perlu melakukan penanganan kesehatan melalui aksi Bonding, seperti:  1) Nesting: Posisi dipeluk, masih berasa seperti dalam kandungan; 2) Pemberian ASI terbaik; dan 3) Kangaroo Mother Care (KMC): sangat efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak.

3. Lakukan skrining, yang mencakup: 1) Retinopathy of Preamturity; 2) Extrauterime Growth Restriction; 3) Osteopenita of Preamturity; 4) Anemia of Prematurity; 5) Gangguan pendengaran; dan 6) USG Kepala.  

 

Penanganan kesehatan pada kelahiran prematur (Sumber: presentasi Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K)/diolah)

 

          Selanjutnya, untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak prematur, maka moms bisa melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Rutin mengontrol untuk pemantauan tumbuh kembang; 2) Tanyakan, apakah anak prematur sudah tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan; dan 3) Apakah perkembangan sudah sesuai dicapai sesuai usianya.  

          Moms juga memantau pertumbuhan anak prematur dengan menggunakan Buku KIA Khusus. Atau, bisa memantau pertumbuhan anak dengan mengacu pada Standar pertumbuhan anak menurut WHO (WHO Child Growth Standard). Perlu diingat bahwa Anak lahir prematur adalah anak yang tangguh. Berjuang lebih keras karena lahir lebih awal. Maka, anak prematur bisa dikatakan anak yang istimewa. 

        Pemberian nutrisi yang maksimal untuk anak terlahir prematur agar bisa: 1) Menghitung kebutuhannya (kebutuhan kalori dan volumenya), apakah lebih atau kurang. Jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter anak untuk mengetahui kebutuhan nutrisi yang tepat dan sesuai; dan 2) Memantau pertumbuhannya (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala), tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Namun, nutrisi penting yang perlu moms lakukan terhadap kelahiran prematur tetaplah ASI adalah yang terbaik.      


Thursday, October 14, 2021

Pemahaman Orang Tua untuk Membedakan Antara Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional Demi Tumbuh Kembang Anak

 

Webinar Bicara Gizi tentang perbedaan Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional (Sumber: Shutterstock)

 

          Tumbuh Kembang Optimal anak adalah dambaan setiap orang tua. Apalagi, anak bisa melewati periode awal kehidupannya, yang lebih dikenal dengan sebutan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Faktanya, periode awal kehidupan anak tidak berjalan lancar bak mainan seluncur di kolam renang. Tetapi, banyak hambatan kehidupan yang harus diperhatikan orang tua.

          Salah satu kondisi yang harus diperhatikan orang tua adalah kondisi saluran cerna anak. Masalahnya, banyak orang tua yang belum memahami tentang diferensiasi FGID dan Gejala Alergi di Saluran Cerna. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tua, khususnya ibu gagap dalam menangani masalah kondisi saluran cerna anaknya. 

          Melihat kondisi banyaknya orang tua, khususnya kaum ibu yang belum paham dalam membedakan gejala dua kondisi di atas. Maka, Danone Indonesia mengadakan webinar Bicara Gizi yang mengusung tema “Gejala Alergi Saluran Cerna VS Gangguan Saluran Cerna Fungsional: Cara membedakannya” yang diadakan pada tanggal 13 Oktober 2021 pukul 13.00-15.00 WIB.

          Ada 4 narasumber yang hadir dalam webinar, yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan Youtube Live di channel Nutrisi Untuk Bangsa  tersebut, yaitu:

1.     Bapak Arif Mujahidin, selaku CorporateCommunication Director Danone Indonesia. 

2.     Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi.

3.     Ibu Binar Tika, selaku Moms Influencer.

4.     Ibu Shiera Maulidya, selaku Gut and Allergy Manager Danone Indonesia.

 

4 narasumber yang hadir dalam webinar Bicara Gizi (Sumber: Danone Indonesia)

 

Bapak Arif Mujahidin

          Seperti acara webinar-webinar lainnya, Bapak Arif Mujahidin sebagai wakil dari panitia penyelenggara Danone Indonesia, mengucapkan terima kasih kepada para pembicara yang hadir dalam acara online tersebut. Beliau juga menekankan perlunya pemahaman orang tua untuk membedakan antara Gejala Alergi Saluran Cerna vs Gangguan Saluran Cerna Fungsional.   

 

Bapak Arif Mujahidin (Sumber: Danone Indonesia)

 

Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K)

          Presentasi dari Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K) merupakan presentasi inti. Di mana, pemaparan tersebut menjelaskan secara detail tentang Gangguan Saluran Cerna Manifestas (FGID) dari Alergi Makanan. Pemaparan yang sangat dibutuhkan orang tua, yang sedang atau ingin memiliki bayi. Agar, orang tua mampu melewati periode emas anaknya, dan tumbuh kembang dengan baik menjadi Anak Hebat di masa depan.  

 

Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K) (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu dipahami bahwa dua tahun pertama kehidupan anak merupakan masa emas. Namun, periode emas tersebut bisa terganggu, jika ada masalah di saluran cerna. Masa emas anak bisa dikatakan terjaga, jika anak mengalami manfaat optimal terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik (berat dan tinggi badan), perkembangan kognitif (bahasa, atensi, IQ), serta perkembangan emosi dan sosial (mengontrol emosi, adaptasi perilaku dan interaksi sosial). Sedangkan, masa emas anak kurang terjaga, jika anak sering mengalami infeksi, sehingga akan kehilangan kesempatan memanfaatkan masa emas tersebut. Tentu, orang tua perlu menghindari kondisi tersebut.

          Dengan kata lain, dua tahun kehidupan anak merupakan periode yang sangat rentan. Mengapa? Pada periode tersebut, anak telah terpapar oleh ribuan bakteri dan zat asing lainnya. Padahal, sistem organ tubuh belum berkembang atau berfungsi optimal. Kondisi inilah yang menyebabkan anak mudah mengalami gangguan fungsional dan mudah sakit. 

          Perlu diketahui bahwa bayi rentan mengalami gangguan di saluran cerna, karena saluran cerna bayi masih sangat mudah diserang zat asing.  Pada gambar dibawah ini, menunjukan kondisi Mukosa (selaput lendir) pada 2 tahun periode yang rentan, masih dalam kondisi putus-putus (terbuka). Zat asing bisa dengan mudah memasuki saluran cerna. Sedangkan, pada anak yang sudah berumur 2 tahun, kondisi Mukosa sudah dalam kondisi rapat. Jadi, aman dari masuknya zat asing ke saluran cerna.

   

Perbedaan kondisi saluran cerna pada bayi sesudah dan sebelum usia 2 tahun (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Lantas, gangguan apa sih yang terjadi pada saluran cerna bayi atau anak? Ada dua jenis gangguan yang umum terjadi, yaitu:

1.     Gangguan saluran cerna fungsional atau Functional Gastrointestinal Disorder (FGID)

2.     Alergi Susu Sapi (ASS) atau Cow’s Milk Protein Allergy (CMPA).

 

GANGGUAN SALURAN CERNA FUNGSIONAL

          Functional Gastrointestinal Disorder (FGID) merupakan gejala saluran cerna kronis (terjadi jangka panjang) maupun rekuren (terjadi berulang) yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya baik secara struktur maupun biokimia. Jenis FGID paling umum adalah: 1) Kolik (sakit perut yang hebat); 2) Gumoh (regurgitasi), terjadi pada bayi berumur 6 bulan; dan 3) Konstipasi (sembelit).

 

Gejala gangguan saluran cerna (FGID) yang umum terjadi pada bayi/anak (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Menarik, kasus FGID cukup besar terjadi pada bayi atau anak, terutama di awal kehidupan. Adapun, prevalensinya adalah: 1) Gumoh (regurgitasi): 30%; 2) Kolik: 20%; 3) Konstipasi fungsional: 15%; dan 4) Diare fungsional dan diskesia: <10%.

          Faktor penyebab gangguan saluran cerna fungsional umumnya disebabkan oleh berbagai hal kompleks yang saling berinteraksi, yaitu:

1.     Faktor Biologis, seperti: kondisi tubuh bayi.

2.     Psikososial, seperti: hubungan orang tua di rumah dalam kondisi harmonis atau tidak.

3.     Lingkungan maupun budaya, seperti: proses pemberian MPASI anak.

Sebagai informasi, gangguan saluran cerna fungsional akan berdampak pada kondisi berat dan tinggi badan. Itulah sebabnya, gejala gangguan saluran cerna fungsional menjadi manifestasi gejala alergi. Maka, gangguan saluran cerna fungsional harus segera diatasi.

          Kasus Kolik infantile terjadi pada bayi dengan perilaku bayi berupa menangis, tidak tenang, dan rewel secara berulang dan dalam waktu lama, yang dilaporkan oleh orang tua, pengasuh tanpa alasan yang jelas atau tidak bisa dicegah. Kolik pada gangguan saluran cerna fungsional tidak mengganggu tumbuh kembang anak, atau tumbuh kembang anak masih on target.

          Kasus Gumoh (regurgitasi) terjadi pada bayi dengan perilaku dikeluarkannya isi refluks dari kerongkongan ke dalam rongga mulut. Dan, kemudian dikeluarkan dari rongga mulut. Ingat, Gumoh berbeda dengan muntah. Gumoh tidak berbahaya, terjadi karena fungsi motilitas saluran cerna bayi belum berkembang dengan sempurna. Gumoh akan berkurang pada bayi usia 4-6 bulan. Selanjutnya, Gumoh akan hilang sama sekali pada usia 9-11 bulan.

          Kasus Konstipasi (sembelit) terjadi, karena adanya kesulitan atau jarang buang air besar yang terjadi, setidaknya selama 2 minggu. Konstipasi diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: 1) Konstipasi fungsional: yang sebagian dialami anak (belum tentu bahaya); dan 2) Konstipasi akibat kelainan organ: konstipasi yang disebabkan oleh gangguan organ (berbahaya).

          Sedangkan, Konstipasi karena gangguan saluran cerna menurut jenisnya terbagi dalam 2, yaitu: 1) Konstipasi akut, yang terjadi pada bayi usia kurang 3 bulan; dan 2) Konstipasi kronis, yang terjadi pada bayi usia lebih 3 bulan.

          Apapun jenisnya, Konstipasi memberikan dampak pada kondisi bayi atau anak, seperti: 1) Penumpukan feses pada usus yang berakibat susah Buang Air Besar (BAB); 2) Mempengaruhi nafsu makan anak; dan 3) Mood anak yang tidak baik (sering marah-marah) yang akan berpengaruh pada psikologi orang tua, khususnya ibu.

          Tindakan yang bisa dilakukan orang tua, khsusnya ibu untuk mengatasi Konstipasi, seperti: 1) ibu minum lebih banyak air putih; dan 2) Bayi bisa diberi jus buah (dengan catatan, untuk kelancaran saluran cerna bayi berdasarkan konsultasi dari dokter anak).

          Konstipasi cukup sering terjadi: sekitar 5-30% keluhan anak yang menyebabkan orang tua membawa anaknya berobat ke dokter. Perilaku Konstipasi yang ditunjukan pada bayi, seperti: muka merah, kesakitan dan sulit mengeluarkan feses. Konstipasi terjadi pada bayi usia 6 bulan hingga usia 10 tahun.

          Konstipasi kronis bertahun-tahun yang tidak tertangani bisa menyebabkan radang usus buntu. Maka, hal terbaik yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah terjadinya Konstipasi adalah pemberian ASI eksklusif.

          Dampak, jika gangguan saluran cerna pada bayi atau anak yang tidak tertangani dengan baik oleh orang tua, adalah: 1) Orang tua tentu kuatir jika anaknya tidak sehat; dan 2) Orang tua bisa mengalami rasa bersalah, frustasi, stres, kecemasan, bahkan bisa depresi.

          Oleh sebab itu, segerakan konsultasi dengan dokter, jika: 1) gejala berlanjut terus; dan 2) ada red flags (tanda bahaya). Adapun, contoh dari red flags tersebut adalah: 1) gangguan pertumbuhan (berat badan, tinggi badan tidak sesuai); 2) muntah darah; 3) masalah makan; 4) gangguan pada organ; dan 5) dan lain-lain, tergantung pada jenis penyakitnya. 

 

ALERGI SALURAN CERNA

          Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh suatu mekanisme  imunitas tertentu. Penyebab alergi (disebut alergen) bisa berbagai hal. Anda bisa melihat gambar di bawah ini.

 

Beberapa jenis alergen (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu diketahui bahwa sebanyak 60% bayi akan mengalami alergi. Setelah alergi telur, Alergi Susu Sapi (ASS) adalah alergi yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Alergi pada susu sapi sudah terjadi pada bulan pertama kehidupan bayi. Terjadinya alergi bisa dipengaruhi dari bapak, ibu atau kakak yang mempunyai alergi.

          Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadian Alergi Susu Sapi (ASS) sebanyak 2-7,5% merupakan kasus tertinggi terjadi pada usia awal kehidupan. Dan, gejala alergi susu sapi bisa terjadi di mana saja dengan persentase sebagai berikut: 1) Kulit (50-70%); 2) Saluran nafas (20-30%); 3) Sistemik (1-9%) gejala parah; dan 4) Saluran cerna (50-60%). Uniknya, biasanya anak mengalami gejala ringan-sedang (tidak hanya di 1 lokasi)

 

Tempat munculnya alergi susu sapi (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu diketahui, gejala alergi susu sapi ringan-sedang sering muncul di saluran cerna (mencapai 50-60%), seperti: 1) Kolik; 2) Gumoh; 3) Konstipasi; 4) Muntah; 5) Mual; dan 6) Diare. Dan, gejala tersebut bisa muncul dengan CEPAT (muncul <2jam setelah minum susu sapi atau LAMBAT (muncul >2-72 jam setelah minum susu sapi).

          Kondisi Gumoh dan Konstipasi pada Alergi Saluran Cerna bisa menyebabkan: 1)  anak kekurangan nutrisi; 2) anak suka uring-uringan; 3) kembung; dan 4) Muntahnya sampai berwarna hijau. Konstipasi pada Alergi Saluran Cerna karena Alergi Susu Sapi akan tetap berlangsung, selama protein susu sapi tidak dihilangkan. Maka, hal yang bisa dilakukan ibu adalah diet susu sapi dengan eliminasi dan provokasi. Selama 2-4 minggu, ibu tidak mengkonsumsi protein susu sapi. Sebagai gantinya, ibu bisa menggantikan susu sapi dengan Susu Formula Soya sebagai Sumber Nutrisi Alternatif. 

          Bagaimana  dengan gejala alergi susu sapi berat? Gejala alergi susu sapi berat yang terjadi pada bayi atau anak. Di mana, hingga terjadinya anemia, BAB berdarah dan kebocoran protein pada usus. Maka, bisa berakibat gejala terjadinya stunting. Tetapi, persentase kasus tersebut hanya sekitar 1-2%.

          Cara untuk mengatasi anak yang mengalami alergi bisa dilakukan dengan pemenuhan Nutrisi Seimbang seperti Kalsium, Vitamin B3 dan Fosfor yang diatur dalam makanan, sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Namun, nutrisi yang baik tetaplah pemenuhan ASI eksklusif sang ibu.

          Persentase alergi susu sapi terjadi pada anak: 1) 50% alergi akan selesai pada usia 1 tahun; 2) 60-70% alergi akan mengalami perbaikan pada usia 2 tahun; 3) 90% alergi akan mengalami perbaikan pada usia 3 tahun; dan 4) 5-10% alergi akan berlanjut sampai dewasa, yang berdampak pada gangguan pernafasan (asma) dan pilek.

          Hal menarik antara alergi susu sapi dan gangguan saluran cerna mempunyai hubungan erat. Anak dengan alergi susu sapi sering mengalami lebih dari satu gejala, seperti: di kulit (kemerahan, pembengkakan di mata/bibir), di saluran nafas (batuk, bersin, hidung berair), di saluran cerna (gumoh, muntah, diare, konstipasi, anemia, darah pada feses) dan umum (kolik).

          Gejala alergi saluran cerna mirip dengan gejala gangguan saluran cerna fungsional. Dengan kata lain, gejala gangguan saluran cerna dapat merupakan manifestasi alergi. Cara membedakannya adalah: 1) Harus memperhatikan gejala-gejala yang ada; 2) Dikonsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat; dan 3) Sebab gejala FGID dan alergi bisa mirip. 

          Jika, gangguan saluran cerna dan/atau alergi tidak tertangani dengan baik akan memberikan dampak terhadap anak, yaitu:

1.     Dapat memberikan dampak kurang baik kepada kesehatan anak di masa datang, bila tidak ditangani dengan tepat.

2.     Dapat mengganggu kualitas hidup seorang anak dan mengganggu proses tumbuh kembangnya.

3.     Promotif dan preventif, menjadi hal yang sangat penting, apalagi bila dilaksanakan sejak dini.  

          Persentase penderita alergi saluran cerna dan gangguan saluran cerna fungsional:

1.     2-7,5%  è penderita alergi saluran cerna.

2.     50-60% èpenderita gangguan saluran cerna fungsional.

 

Dampak yang terjadi, jika gangguan saluran cerna dan/atau alergi saluran cerna tidak bisa tertangani dengan baik (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ibu Binar Tika

          Webinar juga menampilkan Ibu Binar Tika (Moms Influencer) yang mempunyai bayi yang didiagnosis oleh dokter anak menderita alergi susu sapi. Kejadian berawal dari perilaku bayi yang mengalami konstipasi (sembelit). Menurutnya, hal ini ditunjukan dengan tanda-tanda: 1) Anak yang suka rewel; 2) Kejadian konstipasi yang selalu berulang; dan 3) Kejadian konstipasi yang lama.

          Ibu Binar Tika mengetahui anaknya mengalami konstipasi, saat diberi makanan yang berbahan protein sapi. Maka, selanjutnya ia konsultasi kepada dokter anak. Dengan adanya konstipasi yang dialami anaknya menjadi pelajaran berharga dalam menjaga tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, Ibu Binar Tika berharap adanya edukasi bagi para ibu, agar bisa membedakan antara gangguan saluran cerna fungsional dan alergi saluran cerna.

 

Ibu Binar Tika (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Dari pembahasan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa gejala gangguan saluran cerna fungsional (FGID) dan alergi banyak ditemukan pada anak usia dini. Tetapi, gejala FGID dan alergi mirip. Sehingga, orang tua mengalami kesulitan untuk membedakannya.

          Tetapi, yang perlu diingat adalah gejala FGID dan alergi harus segera ditangani. Dengan tujuan untuk menjaga kualitas hidup dan mendukung tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, orang tua perlu memahami gejala FGID dan alergi di saluran cerna agar mampu membedakannya. 

 

Ibu Sheira Maulidya

          Presentasi terakhir dalam webinar dipaparkan oleh Ibu Sheira Maulidya, yang membahas tentang Allergy Tummy Checker (ATC). Danone Specialized Nutrition selalu berkomitmen untuk membantu masyarakat dalam hal nutrisi. Oleh sebab itu,  Piranti digital Allergy Tummy Checker (ATC) yang bersifat gratis ini, bisa menjadi alat deteksi dini gejala alergi dan menentukan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk kesehatan anak. Tentu, ATC tersebut sudah diakui pihak kedokteran. Oleh sebab itu, hasil dari ATC bisa menjadi rekomendasi positif ke dokter anak.

          Mengapa alergi pada anak harus dicek sejak dini? Ada 3 alasan yang penting yaitu: 

1.     Diagnosa gejala alergi dan kondisi pencernaan beserta rekomendasi solusinya.

2.     Kendalikan gejala alergi pada anak.

3.     Cegah gejala berkepanjangan yang mengganggu pertumbuhan. 

 

          Allergy Tummy Checker sangat dibutuhkan bagi orang tua, khususnya ibu. Sebanyak 6 dari 10 ibu tidak memahami tentang gejala alergi pada anak. Namun, mayoritas ibu-ibu memahami gejala alergi yang terjadi pada kulit (ruam) atau saluran nafas (asma). Nah, Allergy Tummy Checker sangat berguna untuk membantu para ibu, untuk mendapatkan informasi tentang perbedaan antara alergi saluran cerna dan gangguan saluran cerna fungsional pada anak. Allergy Tummy Checker bisa diakses di laman www.bebeclub.co.id mulai 1 November 2021 mendatang. Jadi,orang tua, khususnya ibu wajib mengaksesnya, demi tumbuh kembang anak yang maskimal.

 

Ibu Sheira Maulidya dan alat deteksi dini Allergy Tummy Checker (Sumber: Danone Indonesia)


LGBT, Perilaku Manusia Melawan Hukum Alam

  Warna-Warni yang melambangkan kaum LGBT (Sumber: shutterstock)         "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil ber...