Showing posts with label Nutrisi Untuk Bangsa. Show all posts
Showing posts with label Nutrisi Untuk Bangsa. Show all posts

Thursday, November 18, 2021

YUK, KENALI RISIKO, DAMPAK DAN PENANGANAN KESEHATAN PADA KELAHIRAN PREMATUR

 

Perlunya pemahaman lebih mendalam pada kelahiran prematur (Sumber: shutterstock/diolah) 

 

          Perlu diketahui bahwa setiap tanggal 17 November sejak tahun 2008 diperingati sebagai Hari Prematur Sedunia (World Prematurity Day). Peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan perhatian dan kewaspadaan masyarakat terhadap tantangan dan beban yang dihadapi oleh anak yang lahir secara prematur dan keluarganya.

          Fakta menyebutkan bahwa 1 dari 10 anak di dunia lahir secara prematur. Dengan kata lain, menurut laporan WHO, ada sekitar 15 juta anak yang dilahir secara prematur di dunia setiap tahunnya. Dan, lebih dari 1 juta yang meninggal karena kelahiran secara prematur.

          Oleh karena itu, kelahiran prematur bukanlah masalah sepele. Apalagi, Angka kelahiran prematur di Indonesia masih tinggi dan meningkat. Masyarakat perlu mengenali risiko dan dampak kelahiran prematur, serta penanganan kesehatan selanjutnya.

          Untuk memahami lebih dalam tentang kelahiran prematur, maka ada acara Bicara Gizi dengan tema “Tantangan & Penanganan Kesehatan Bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur”, yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia pada tanggal 17 November 2021 pukul 13.00-16.00 WIB. Acara tersebut dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom dan channel Youtube Nutrisi Untuk Bangsa. Dihadiri oleh 2 narasumber keren, yaitu:

1.     Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K), selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal.

2.     Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Perinatologi dan Neonatalogi.

 

Acara Bicara Gizi yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia pada tanggal 17 November 2021 pukul 13.00-16.00 WIB (Sumber: Danone Indonesia)

 

FAKTOR RISIKO KELAHIRAN PREMATUR

          Pada acara keren ini, Ibu Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K), selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal membahas tentang “Pentingnya Memahami Faktor Risiko Kelahiran Prematur (Preterm)”.


Ibu Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K), selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal (Sumber: Danone Indonesia/screenshot) 

 

          Menurut data WHO tahun 2012 melansir hasil penelitian bahwa Bangsa Indonesia menduduki peringkat ke-5 setelah 1) India, 2) China, 3) Nigeria, 4) Pakistan dari 10 negara dengan tingkat kelahiran prematur yang tinggi. Termasuk, 1) Amerika, 2) Bangladesh, 3) Philipina, 4) Republik Demokrasi Kongo dan 5) Brazil. Sebagai informasi, kelahiran prematur di Indonesia setiap tahun sebanyak 675.500. Sedangkan, angka kelahiran prematur terhadap 100 kelahiran hidup sebanyak 15,5 %.    

          Ibu Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K) lebih senang menyebutnya kelahiran preterm. Apa yang dimaksud dengan Kelahiran Preterm? Kelahiran Preterm merupakan kelahiran pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Kelahiran preterm terbagi menjadi 4 yaitu: 1)  Late preterm pada usia 34-36 minggu; 2) Moderately Preterm pada usia 32-34 minggu; 3) Very Preterm pada usia kurang dari 32 minggu; dan 4) Extremely Preterm pada usia kurang dari 25 minggu.

          Perlu diketahui bahwa faktor risiko kelahiran preterm terbagi menjadi 2, yaitu: 1) Dapat dimodifikasi dan 2) Tidak dapat dimodifikasi. Namun, secara umum moms perlu memahami beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan kelahiran prematur, yaitu:

1. Riwayat kehamilan sebelumnya, yang meliputi: 1) melahirkan prematur pada kehamilan sebelumnya; 2) pernah melahirkan secara sesar; dan 3) cedera pada kelahiran sebelumnya.

2. Kondisi kehamilan, yang meliputi: 1) ibu memiliki riwayat penyakit seperti diabetes, tekanan darah tinggi, anemia dan lain-lain; 2) mengandung lebih dari 1 janin; 3) kondisi serviks pendek; 4) mengalami infeksi dan pendarahan pada vagina; dan 5) hamil di usia di bawah 17 tahun dan di atas 35 tahun.

3. Gaya hidup, yang meliputi: 1) kurang gizi; 2) berat badan terlalu rendah sebelum hamil; dan 3) merokok, mengonsumsi minuman beralkohol dan menggunakan obat-obatan terlarang selama kehamilan. 

 

Faktor risiko kelahiran preterm (Sumber: Presentasi Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K)/diolah)

 

           Perlu dipahami bahwa kelahiran preterm menyebabkan dampak komplikasi pada ibu dan anak yang dilahirkan baik, jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak jangka pendek terhadap anak dari kelahiran preterm adalah: 1) masalah pernafasan (sindrom distress atau gangguan pernafasan berat, apnea of prematurity (jeda pernafasan), displasia bronkopulmoner atau cedera paru-paru (yang berlangsung hingga jangka panjang); 2) masalah minum (necrotizing enterocolitis); 3) pendarahan intravertikular; 4) aliran darah jantung abnormal (patent ductus arteriosus); 5) sepsi/infeksi   

          Sedangkan, dampak jangka panjang dari kelahiran preterm adalah: 1) Cerebal Palsy (lumpuh otak); 2) Development Delay (terlambat tumbuh); 3) Masalah penglihatan (retinopathy of prematurity); 4) Masalah pendengaran; 5) Gangguan belajar; 6) Penyakit kanker dan paru; dan 7) Terjadinya penyakit DM (Diabeter Melitus) dan alergi (asma dan alergi pada makanan). Kelahiran preterm  kurang dari 28 minggu dan 28-31 minggu memiliki risiko 17x dan 3,5x lebih besar menderita gagal jantung dibandingkan dengan anak atau remaja yang dilahirkan cukup bulan.

 

Dampak kelahiran preterm terhadap anak (Sumber: Presentasi Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K)/diolah)

 

          Bukan hanya ke anak, kelahiran preterm juga berdampak pada moms yang melahirkan, yaitu: 1) Anxietas (kecemasan); 2) Depresi pasca persalinan; 3) Post-Traumatic stress (trauma sehabis melahirkan); dan 4) Masalah bonding (gangguan) dengan bayinya. Di sinilah, peran keluarga sangat penting untuk menenangkan moms.

 

Dampak kelahiran preterm terhadap moms yang melahirkan (Sumber: Presentasi Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG(K)/diolah) 

 

DAMPAK DAN PENANGANAN KESEHATAN

          Narasumber keren yang kedua adalah Ibu Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Perinatologi dan Neonatalogi. Membahas tentang “Dampak Kelahiran Prematur dan Intervensi yang Tepat”.

 

Ibu Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Perinatologi dan Neonatalogi. (Sumber: Danone Indonesia/screenshot)

 

          Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017, Angka Kematian Neonatus (AKN) atau  masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran   sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan, Angka kelahiran prematur Indonesia menurut WHO tahun 2018 sebesar 15,5%.

          Setelah dilakukan penelitian ke 25 RS dari 39 RS di Indonesia menunjukan hasil kelahiran prematur tahun 2019 sebagai berikut: Usia kehamilan <28 minggu sebesar 0-8,19%, usia kehamilan 28-31 sebesar 0,6-21,65 dan usia kehamilan 32-36 minggu sebesar 5,11-83,52%.  

          Risiko yang dikhawatirkan moms terhadap kelahiran prematur adalah: 1) pertumbuhan anak terlambat dan tidak dapat mencapai kejar tumbuh yang berakibat anak terlihat kecil dan lebih pendek dibandingkan anak lain seusianya; 2)  Sindrom metabolik (dislipidemia atau kandungan kadar lemak dalam darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, penyakit jantung, Diabetes Melitus dan hipertensi). 

          Faktanya, kelahiran prematur berisiko terhadap tumbuh kembang anak, seperti: 1) Adanya gangguan belajar; 2) Adanya gangguan konsentrasi; 3)  Gangguan tingkah laku; 4) Tantrum (ledakan emosi); dan 5) Kesulitan makan.         

          Menurut Ibu Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), kelahiran prematur memberikan risiko kesehatan anak, seperti: 1) Retinopathy of Preamturity (rentan kebutaan); 2) Extrauterime Growth Restriction (pertumbuhan tidak memadai selama rawat inap); 3) Osteopenita of Preamturity (Komposisi tulang yang gampang patah); 5) Anemia of Prematurity;  6) Necrotizing  Enterocolitis (ketidakmatangan saluran cerna); Respiratory Distress Syndrom/Bronchopulmonary dysplasia (BPD); 7) Gangguan pendengaran; 8) Pendarahan intraventrikular; dan 9) Gangguan Neurodevelopment (perkembangan syaraf).

          Oleh sebab itu, kelahiran prematur membutuhkan penanganan kesehatan yang baik. Penanganan kesehatan kelahiran prematur dimulai sejak lahir. Ada 3 tahap penting penanganan kesehatan terhadap kelahiran prematur.

1. Proses kelahiran, moms hendaknya: 1) Pilih rumah sakit yang sesuai dengan kondisi janin yang akan dilahirkan; 2) RS mampu memberikan pelayanan optimal; 3) Penanganan di awal kelahiran sangat menentukan masa depan anak; dan 4) Gangguan pernafasan sering dialami anak yang lahir prematur, harus ditangani dengan baik. 

2. Perawatan di RS dengan: 1) NICU Gentle Care: membuat kondisi anak senyaman mungkin; dan 2) Covering incubator: ada suasana gelap seperti dalam kandungan, agar anak tumbuh dengan baik. Melihat risiko yang terjadi pada kelahiran prematur, maka moms perlu melakukan penanganan kesehatan melalui aksi Bonding, seperti:  1) Nesting: Posisi dipeluk, masih berasa seperti dalam kandungan; 2) Pemberian ASI terbaik; dan 3) Kangaroo Mother Care (KMC): sangat efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak.

3. Lakukan skrining, yang mencakup: 1) Retinopathy of Preamturity; 2) Extrauterime Growth Restriction; 3) Osteopenita of Preamturity; 4) Anemia of Prematurity; 5) Gangguan pendengaran; dan 6) USG Kepala.  

 

Penanganan kesehatan pada kelahiran prematur (Sumber: presentasi Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K)/diolah)

 

          Selanjutnya, untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak prematur, maka moms bisa melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Rutin mengontrol untuk pemantauan tumbuh kembang; 2) Tanyakan, apakah anak prematur sudah tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan; dan 3) Apakah perkembangan sudah sesuai dicapai sesuai usianya.  

          Moms juga memantau pertumbuhan anak prematur dengan menggunakan Buku KIA Khusus. Atau, bisa memantau pertumbuhan anak dengan mengacu pada Standar pertumbuhan anak menurut WHO (WHO Child Growth Standard). Perlu diingat bahwa Anak lahir prematur adalah anak yang tangguh. Berjuang lebih keras karena lahir lebih awal. Maka, anak prematur bisa dikatakan anak yang istimewa. 

        Pemberian nutrisi yang maksimal untuk anak terlahir prematur agar bisa: 1) Menghitung kebutuhannya (kebutuhan kalori dan volumenya), apakah lebih atau kurang. Jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter anak untuk mengetahui kebutuhan nutrisi yang tepat dan sesuai; dan 2) Memantau pertumbuhannya (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala), tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Namun, nutrisi penting yang perlu moms lakukan terhadap kelahiran prematur tetaplah ASI adalah yang terbaik.      


Thursday, October 14, 2021

Pemahaman Orang Tua untuk Membedakan Antara Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional Demi Tumbuh Kembang Anak

 

Webinar Bicara Gizi tentang perbedaan Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional (Sumber: Shutterstock)

 

          Tumbuh Kembang Optimal anak adalah dambaan setiap orang tua. Apalagi, anak bisa melewati periode awal kehidupannya, yang lebih dikenal dengan sebutan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Faktanya, periode awal kehidupan anak tidak berjalan lancar bak mainan seluncur di kolam renang. Tetapi, banyak hambatan kehidupan yang harus diperhatikan orang tua.

          Salah satu kondisi yang harus diperhatikan orang tua adalah kondisi saluran cerna anak. Masalahnya, banyak orang tua yang belum memahami tentang diferensiasi FGID dan Gejala Alergi di Saluran Cerna. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tua, khususnya ibu gagap dalam menangani masalah kondisi saluran cerna anaknya. 

          Melihat kondisi banyaknya orang tua, khususnya kaum ibu yang belum paham dalam membedakan gejala dua kondisi di atas. Maka, Danone Indonesia mengadakan webinar Bicara Gizi yang mengusung tema “Gejala Alergi Saluran Cerna VS Gangguan Saluran Cerna Fungsional: Cara membedakannya” yang diadakan pada tanggal 13 Oktober 2021 pukul 13.00-15.00 WIB.

          Ada 4 narasumber yang hadir dalam webinar, yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan Youtube Live di channel Nutrisi Untuk Bangsa  tersebut, yaitu:

1.     Bapak Arif Mujahidin, selaku CorporateCommunication Director Danone Indonesia. 

2.     Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K), selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi.

3.     Ibu Binar Tika, selaku Moms Influencer.

4.     Ibu Shiera Maulidya, selaku Gut and Allergy Manager Danone Indonesia.

 

4 narasumber yang hadir dalam webinar Bicara Gizi (Sumber: Danone Indonesia)

 

Bapak Arif Mujahidin

          Seperti acara webinar-webinar lainnya, Bapak Arif Mujahidin sebagai wakil dari panitia penyelenggara Danone Indonesia, mengucapkan terima kasih kepada para pembicara yang hadir dalam acara online tersebut. Beliau juga menekankan perlunya pemahaman orang tua untuk membedakan antara Gejala Alergi Saluran Cerna vs Gangguan Saluran Cerna Fungsional.   

 

Bapak Arif Mujahidin (Sumber: Danone Indonesia)

 

Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K)

          Presentasi dari Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K) merupakan presentasi inti. Di mana, pemaparan tersebut menjelaskan secara detail tentang Gangguan Saluran Cerna Manifestas (FGID) dari Alergi Makanan. Pemaparan yang sangat dibutuhkan orang tua, yang sedang atau ingin memiliki bayi. Agar, orang tua mampu melewati periode emas anaknya, dan tumbuh kembang dengan baik menjadi Anak Hebat di masa depan.  

 

Ibu dr. Frieda Handayani, Sp.A(K) (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu dipahami bahwa dua tahun pertama kehidupan anak merupakan masa emas. Namun, periode emas tersebut bisa terganggu, jika ada masalah di saluran cerna. Masa emas anak bisa dikatakan terjaga, jika anak mengalami manfaat optimal terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik (berat dan tinggi badan), perkembangan kognitif (bahasa, atensi, IQ), serta perkembangan emosi dan sosial (mengontrol emosi, adaptasi perilaku dan interaksi sosial). Sedangkan, masa emas anak kurang terjaga, jika anak sering mengalami infeksi, sehingga akan kehilangan kesempatan memanfaatkan masa emas tersebut. Tentu, orang tua perlu menghindari kondisi tersebut.

          Dengan kata lain, dua tahun kehidupan anak merupakan periode yang sangat rentan. Mengapa? Pada periode tersebut, anak telah terpapar oleh ribuan bakteri dan zat asing lainnya. Padahal, sistem organ tubuh belum berkembang atau berfungsi optimal. Kondisi inilah yang menyebabkan anak mudah mengalami gangguan fungsional dan mudah sakit. 

          Perlu diketahui bahwa bayi rentan mengalami gangguan di saluran cerna, karena saluran cerna bayi masih sangat mudah diserang zat asing.  Pada gambar dibawah ini, menunjukan kondisi Mukosa (selaput lendir) pada 2 tahun periode yang rentan, masih dalam kondisi putus-putus (terbuka). Zat asing bisa dengan mudah memasuki saluran cerna. Sedangkan, pada anak yang sudah berumur 2 tahun, kondisi Mukosa sudah dalam kondisi rapat. Jadi, aman dari masuknya zat asing ke saluran cerna.

   

Perbedaan kondisi saluran cerna pada bayi sesudah dan sebelum usia 2 tahun (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Lantas, gangguan apa sih yang terjadi pada saluran cerna bayi atau anak? Ada dua jenis gangguan yang umum terjadi, yaitu:

1.     Gangguan saluran cerna fungsional atau Functional Gastrointestinal Disorder (FGID)

2.     Alergi Susu Sapi (ASS) atau Cow’s Milk Protein Allergy (CMPA).

 

GANGGUAN SALURAN CERNA FUNGSIONAL

          Functional Gastrointestinal Disorder (FGID) merupakan gejala saluran cerna kronis (terjadi jangka panjang) maupun rekuren (terjadi berulang) yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya baik secara struktur maupun biokimia. Jenis FGID paling umum adalah: 1) Kolik (sakit perut yang hebat); 2) Gumoh (regurgitasi), terjadi pada bayi berumur 6 bulan; dan 3) Konstipasi (sembelit).

 

Gejala gangguan saluran cerna (FGID) yang umum terjadi pada bayi/anak (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Menarik, kasus FGID cukup besar terjadi pada bayi atau anak, terutama di awal kehidupan. Adapun, prevalensinya adalah: 1) Gumoh (regurgitasi): 30%; 2) Kolik: 20%; 3) Konstipasi fungsional: 15%; dan 4) Diare fungsional dan diskesia: <10%.

          Faktor penyebab gangguan saluran cerna fungsional umumnya disebabkan oleh berbagai hal kompleks yang saling berinteraksi, yaitu:

1.     Faktor Biologis, seperti: kondisi tubuh bayi.

2.     Psikososial, seperti: hubungan orang tua di rumah dalam kondisi harmonis atau tidak.

3.     Lingkungan maupun budaya, seperti: proses pemberian MPASI anak.

Sebagai informasi, gangguan saluran cerna fungsional akan berdampak pada kondisi berat dan tinggi badan. Itulah sebabnya, gejala gangguan saluran cerna fungsional menjadi manifestasi gejala alergi. Maka, gangguan saluran cerna fungsional harus segera diatasi.

          Kasus Kolik infantile terjadi pada bayi dengan perilaku bayi berupa menangis, tidak tenang, dan rewel secara berulang dan dalam waktu lama, yang dilaporkan oleh orang tua, pengasuh tanpa alasan yang jelas atau tidak bisa dicegah. Kolik pada gangguan saluran cerna fungsional tidak mengganggu tumbuh kembang anak, atau tumbuh kembang anak masih on target.

          Kasus Gumoh (regurgitasi) terjadi pada bayi dengan perilaku dikeluarkannya isi refluks dari kerongkongan ke dalam rongga mulut. Dan, kemudian dikeluarkan dari rongga mulut. Ingat, Gumoh berbeda dengan muntah. Gumoh tidak berbahaya, terjadi karena fungsi motilitas saluran cerna bayi belum berkembang dengan sempurna. Gumoh akan berkurang pada bayi usia 4-6 bulan. Selanjutnya, Gumoh akan hilang sama sekali pada usia 9-11 bulan.

          Kasus Konstipasi (sembelit) terjadi, karena adanya kesulitan atau jarang buang air besar yang terjadi, setidaknya selama 2 minggu. Konstipasi diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: 1) Konstipasi fungsional: yang sebagian dialami anak (belum tentu bahaya); dan 2) Konstipasi akibat kelainan organ: konstipasi yang disebabkan oleh gangguan organ (berbahaya).

          Sedangkan, Konstipasi karena gangguan saluran cerna menurut jenisnya terbagi dalam 2, yaitu: 1) Konstipasi akut, yang terjadi pada bayi usia kurang 3 bulan; dan 2) Konstipasi kronis, yang terjadi pada bayi usia lebih 3 bulan.

          Apapun jenisnya, Konstipasi memberikan dampak pada kondisi bayi atau anak, seperti: 1) Penumpukan feses pada usus yang berakibat susah Buang Air Besar (BAB); 2) Mempengaruhi nafsu makan anak; dan 3) Mood anak yang tidak baik (sering marah-marah) yang akan berpengaruh pada psikologi orang tua, khususnya ibu.

          Tindakan yang bisa dilakukan orang tua, khsusnya ibu untuk mengatasi Konstipasi, seperti: 1) ibu minum lebih banyak air putih; dan 2) Bayi bisa diberi jus buah (dengan catatan, untuk kelancaran saluran cerna bayi berdasarkan konsultasi dari dokter anak).

          Konstipasi cukup sering terjadi: sekitar 5-30% keluhan anak yang menyebabkan orang tua membawa anaknya berobat ke dokter. Perilaku Konstipasi yang ditunjukan pada bayi, seperti: muka merah, kesakitan dan sulit mengeluarkan feses. Konstipasi terjadi pada bayi usia 6 bulan hingga usia 10 tahun.

          Konstipasi kronis bertahun-tahun yang tidak tertangani bisa menyebabkan radang usus buntu. Maka, hal terbaik yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah terjadinya Konstipasi adalah pemberian ASI eksklusif.

          Dampak, jika gangguan saluran cerna pada bayi atau anak yang tidak tertangani dengan baik oleh orang tua, adalah: 1) Orang tua tentu kuatir jika anaknya tidak sehat; dan 2) Orang tua bisa mengalami rasa bersalah, frustasi, stres, kecemasan, bahkan bisa depresi.

          Oleh sebab itu, segerakan konsultasi dengan dokter, jika: 1) gejala berlanjut terus; dan 2) ada red flags (tanda bahaya). Adapun, contoh dari red flags tersebut adalah: 1) gangguan pertumbuhan (berat badan, tinggi badan tidak sesuai); 2) muntah darah; 3) masalah makan; 4) gangguan pada organ; dan 5) dan lain-lain, tergantung pada jenis penyakitnya. 

 

ALERGI SALURAN CERNA

          Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh suatu mekanisme  imunitas tertentu. Penyebab alergi (disebut alergen) bisa berbagai hal. Anda bisa melihat gambar di bawah ini.

 

Beberapa jenis alergen (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu diketahui bahwa sebanyak 60% bayi akan mengalami alergi. Setelah alergi telur, Alergi Susu Sapi (ASS) adalah alergi yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Alergi pada susu sapi sudah terjadi pada bulan pertama kehidupan bayi. Terjadinya alergi bisa dipengaruhi dari bapak, ibu atau kakak yang mempunyai alergi.

          Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadian Alergi Susu Sapi (ASS) sebanyak 2-7,5% merupakan kasus tertinggi terjadi pada usia awal kehidupan. Dan, gejala alergi susu sapi bisa terjadi di mana saja dengan persentase sebagai berikut: 1) Kulit (50-70%); 2) Saluran nafas (20-30%); 3) Sistemik (1-9%) gejala parah; dan 4) Saluran cerna (50-60%). Uniknya, biasanya anak mengalami gejala ringan-sedang (tidak hanya di 1 lokasi)

 

Tempat munculnya alergi susu sapi (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Perlu diketahui, gejala alergi susu sapi ringan-sedang sering muncul di saluran cerna (mencapai 50-60%), seperti: 1) Kolik; 2) Gumoh; 3) Konstipasi; 4) Muntah; 5) Mual; dan 6) Diare. Dan, gejala tersebut bisa muncul dengan CEPAT (muncul <2jam setelah minum susu sapi atau LAMBAT (muncul >2-72 jam setelah minum susu sapi).

          Kondisi Gumoh dan Konstipasi pada Alergi Saluran Cerna bisa menyebabkan: 1)  anak kekurangan nutrisi; 2) anak suka uring-uringan; 3) kembung; dan 4) Muntahnya sampai berwarna hijau. Konstipasi pada Alergi Saluran Cerna karena Alergi Susu Sapi akan tetap berlangsung, selama protein susu sapi tidak dihilangkan. Maka, hal yang bisa dilakukan ibu adalah diet susu sapi dengan eliminasi dan provokasi. Selama 2-4 minggu, ibu tidak mengkonsumsi protein susu sapi. Sebagai gantinya, ibu bisa menggantikan susu sapi dengan Susu Formula Soya sebagai Sumber Nutrisi Alternatif. 

          Bagaimana  dengan gejala alergi susu sapi berat? Gejala alergi susu sapi berat yang terjadi pada bayi atau anak. Di mana, hingga terjadinya anemia, BAB berdarah dan kebocoran protein pada usus. Maka, bisa berakibat gejala terjadinya stunting. Tetapi, persentase kasus tersebut hanya sekitar 1-2%.

          Cara untuk mengatasi anak yang mengalami alergi bisa dilakukan dengan pemenuhan Nutrisi Seimbang seperti Kalsium, Vitamin B3 dan Fosfor yang diatur dalam makanan, sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Namun, nutrisi yang baik tetaplah pemenuhan ASI eksklusif sang ibu.

          Persentase alergi susu sapi terjadi pada anak: 1) 50% alergi akan selesai pada usia 1 tahun; 2) 60-70% alergi akan mengalami perbaikan pada usia 2 tahun; 3) 90% alergi akan mengalami perbaikan pada usia 3 tahun; dan 4) 5-10% alergi akan berlanjut sampai dewasa, yang berdampak pada gangguan pernafasan (asma) dan pilek.

          Hal menarik antara alergi susu sapi dan gangguan saluran cerna mempunyai hubungan erat. Anak dengan alergi susu sapi sering mengalami lebih dari satu gejala, seperti: di kulit (kemerahan, pembengkakan di mata/bibir), di saluran nafas (batuk, bersin, hidung berair), di saluran cerna (gumoh, muntah, diare, konstipasi, anemia, darah pada feses) dan umum (kolik).

          Gejala alergi saluran cerna mirip dengan gejala gangguan saluran cerna fungsional. Dengan kata lain, gejala gangguan saluran cerna dapat merupakan manifestasi alergi. Cara membedakannya adalah: 1) Harus memperhatikan gejala-gejala yang ada; 2) Dikonsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat; dan 3) Sebab gejala FGID dan alergi bisa mirip. 

          Jika, gangguan saluran cerna dan/atau alergi tidak tertangani dengan baik akan memberikan dampak terhadap anak, yaitu:

1.     Dapat memberikan dampak kurang baik kepada kesehatan anak di masa datang, bila tidak ditangani dengan tepat.

2.     Dapat mengganggu kualitas hidup seorang anak dan mengganggu proses tumbuh kembangnya.

3.     Promotif dan preventif, menjadi hal yang sangat penting, apalagi bila dilaksanakan sejak dini.  

          Persentase penderita alergi saluran cerna dan gangguan saluran cerna fungsional:

1.     2-7,5%  è penderita alergi saluran cerna.

2.     50-60% èpenderita gangguan saluran cerna fungsional.

 

Dampak yang terjadi, jika gangguan saluran cerna dan/atau alergi saluran cerna tidak bisa tertangani dengan baik (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ibu Binar Tika

          Webinar juga menampilkan Ibu Binar Tika (Moms Influencer) yang mempunyai bayi yang didiagnosis oleh dokter anak menderita alergi susu sapi. Kejadian berawal dari perilaku bayi yang mengalami konstipasi (sembelit). Menurutnya, hal ini ditunjukan dengan tanda-tanda: 1) Anak yang suka rewel; 2) Kejadian konstipasi yang selalu berulang; dan 3) Kejadian konstipasi yang lama.

          Ibu Binar Tika mengetahui anaknya mengalami konstipasi, saat diberi makanan yang berbahan protein sapi. Maka, selanjutnya ia konsultasi kepada dokter anak. Dengan adanya konstipasi yang dialami anaknya menjadi pelajaran berharga dalam menjaga tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, Ibu Binar Tika berharap adanya edukasi bagi para ibu, agar bisa membedakan antara gangguan saluran cerna fungsional dan alergi saluran cerna.

 

Ibu Binar Tika (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Dari pembahasan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa gejala gangguan saluran cerna fungsional (FGID) dan alergi banyak ditemukan pada anak usia dini. Tetapi, gejala FGID dan alergi mirip. Sehingga, orang tua mengalami kesulitan untuk membedakannya.

          Tetapi, yang perlu diingat adalah gejala FGID dan alergi harus segera ditangani. Dengan tujuan untuk menjaga kualitas hidup dan mendukung tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, orang tua perlu memahami gejala FGID dan alergi di saluran cerna agar mampu membedakannya. 

 

Ibu Sheira Maulidya

          Presentasi terakhir dalam webinar dipaparkan oleh Ibu Sheira Maulidya, yang membahas tentang Allergy Tummy Checker (ATC). Danone Specialized Nutrition selalu berkomitmen untuk membantu masyarakat dalam hal nutrisi. Oleh sebab itu,  Piranti digital Allergy Tummy Checker (ATC) yang bersifat gratis ini, bisa menjadi alat deteksi dini gejala alergi dan menentukan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk kesehatan anak. Tentu, ATC tersebut sudah diakui pihak kedokteran. Oleh sebab itu, hasil dari ATC bisa menjadi rekomendasi positif ke dokter anak.

          Mengapa alergi pada anak harus dicek sejak dini? Ada 3 alasan yang penting yaitu: 

1.     Diagnosa gejala alergi dan kondisi pencernaan beserta rekomendasi solusinya.

2.     Kendalikan gejala alergi pada anak.

3.     Cegah gejala berkepanjangan yang mengganggu pertumbuhan. 

 

          Allergy Tummy Checker sangat dibutuhkan bagi orang tua, khususnya ibu. Sebanyak 6 dari 10 ibu tidak memahami tentang gejala alergi pada anak. Namun, mayoritas ibu-ibu memahami gejala alergi yang terjadi pada kulit (ruam) atau saluran nafas (asma). Nah, Allergy Tummy Checker sangat berguna untuk membantu para ibu, untuk mendapatkan informasi tentang perbedaan antara alergi saluran cerna dan gangguan saluran cerna fungsional pada anak. Allergy Tummy Checker bisa diakses di laman www.bebeclub.co.id mulai 1 November 2021 mendatang. Jadi,orang tua, khususnya ibu wajib mengaksesnya, demi tumbuh kembang anak yang maskimal.

 

Ibu Sheira Maulidya dan alat deteksi dini Allergy Tummy Checker (Sumber: Danone Indonesia)


Sunday, February 28, 2021

Berawal dari Isi Piringku, Mencetak Anak Menjadi Generasi Sehat dan Pintar

 

Isi Piringku untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar (Sumber: shutterstock/diolah)

 

 

 

Ada 2 hal besar yang akan dihadapi bangsa Indonesia di masa mendatang. Yaitu, pertama, kesiapan menghadapi Bonus Demografi yang akan terjadi pada sekitar tahun 2030. Dan, kedua, mampukah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar saat menghadapi Bonus Demografi dan Generasi Emas 2045, sesuai harapan besar bangsa Indonesia.

 

 

Kedua hal penting membutuhkan persiapan matang. Oleh sebab itu, persiapan sejak dini merupakan faktor keberhasilan bangsa Indonesia menghadapi 2 hal tersebut. Salah satu hal yang perlu diperhatikan bangsa Indonesia adalah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar.

Bukan hal sepele untuk menciptakan Generasi Sehat dan Pintar. Proses penciptaan Generasi Sehat dan Pintar membutuhkan kolaborasi semua pihak, baik dari Pemerintah, masyarakat dan sektor swasta. Keterlibatan sektor swasta sungguh berperan besar untuk menciptakan Generasi Sehat dan Pintar.

Danone Indonesia, salah satu perusahaan besar dari sektor swasta merasa terpanggil dan bertanggung jawab. Dalam menciptakan Generasi Sehat dan Pintar. Oleh sebab itu, pada tanggal 26 Pebruari 2021 lalu, Danone Indonesia bekerja sama dengan kalangan akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan dan masyarakat menyelenggarakan webinar keren.

Webinar tersebut membahas isu keren tentang “Festival Isi Piringku Anak Usai 4-6 Tahun: Membangun Generasi Sehat Melalui Edukasi Gizi Seimbang Sejak Dini”. Adapun, narasumber yang hadir adalah:

1.   Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA – Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI

2.   Ir. Harris Iskandar, Ph.D - Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

3.   Prof Sri Anna Marliyati - FEMA IPB, Ketua Tim Penyusun Buku Isi Piringku, Dosen Fakultas Ekologi Manusia, IPB

4.   Lisnawati, S.Pd - Guru PAUD

5.   Vera Galuh Sugijanto – VP General Secretary Danone Indonesia.

6.   Karyanto Wibowo – Direktur Sustainable Development, Danone Indonesia.

 

WASPADA STUNTING 

Proses mencetak Generasi Sehat dan Pintar menjadi pembahasan menarik. Bagaimana tidak, bangsa Indonesia harus siap dan matang saat menghadapi Bonus Demografi. Juga, bangsa Indonesia harus serius dan siap sejak dini untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar demi estafet kepemimpinan bangsa di masa depan.

Khusus masalah gizi, bangsa Indonesia sedang menghadapi masalah krusial Triple Burden of Malnutrition, yaitu: 1) Gizi Lebih; 2) Gizi Kurang atau Gizi Buruk; dan 3) Defisiensi Zat Gizi Mikro. Namun, masalah gizi yang selalu menjadi pembicaraan penting adalah gizi kurang atau gizi buruk. Di mana, 1 dari 3 balita negeri ini menderita gizi buruk, yang berakibat menjadi penderita Stunting. Stunting (pendek) merupakan gagal tumbuh yang berkembang selama jangka waktu yang panjang.

Adapun, penyebab stunting adalah 1) Faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil atau anak balita; 2) Pengetahuan yang kurang mengenai kesehatan dan gizi, sebelum dan selama kehamilan, serta ibu melahirkan; 3) Terbatasnya layanan kesehatan; 4) Kurang akses untuk makanan bergizi; dan 5) Kurang akses air bersih dan sanitasi.

Menurut Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA selaku Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Dalam presentasi di webinar menyatakan bahwa terjadinya stunting di Indonesia, karena masih banyaknya masalah gizi yang terjadi pada balita. Yaitu, 1) Keluarga yang tidak bisa akses sanitasi yang layak (20%); 2) Diare pada anak (11%); 3) Daerah dengan kerawanan pangan (17,1%); dan 4) Penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (9,78%). Faktor penyebab stunting dan masalah gizi pada balita, selengkapnya anda bisa lihat gambar berikut.

 

 

Faktor penyebab stunting dan masalah gizi balita (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

Sebagai informasi bahwa jumlah stunting balita bangsa Indonesia sekitar 6,6 juta. Adapun, prevalensi stunting balita bangsa Indonesia sedikit mengalami penurunan. Menurut data Riskedas dari tahun 2007 (36.8%), tahun 2010 (35,6%), tahun 2013 (37,2%), tahun 2018 (30,8%) dan tahun 2019 (27,7%). Sayang, angka tersebut masih di atas data prevalensi stunting Asia Tenggara tahun 2018 sebesar 25,8%.

Bagai lingkaran setan (devil’s circle), penyakit stunting yang terjadi pada balita pun akan memberikan dampak terhadap masalah gizi. Di mana, balita akan mempunyai imunitas rendah. Balita juga akan mengalami peningkatan risiko penyakit infeksi dan penyakit kronik. Pertumbuhan dan perkembangan balita juga akan berjalan tidak optimal. Akibatnya, ketika balita yang menderita stunting menjadi dewasa, mempunyai daya saing rendah. Serta, menghasilkan produktivitas yang rendah.

Itulah sebabnya, stunting harus ditangani sebaik mungkin. Karena, memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek yang terjadi, seperti 1) Terganggunya perkembangan otak dan kecerdasan; 2) Terganggunya pertumbuhan fisik; dan 3) Terganggunya metabolisme tubuh.

Sedangkan, untuk dampak jangak panjang yang terjadi, seperti 1)  Menurunnya kemampuan kognitif, perkembangan fisik dan prestasi belajar; 2) Menurunnya kekebalan tubuh (mudah sakit); dan 3) Berisiko mengalami penyakit degeneratif (diabetes, kegemukan, penyakit jantung, stroke, dan disabilitas pada usia tua). 

Maka, perlu memahami faktor penyebab stunting, agar menjadi pemahaman mendalam buat masyarakat. Yaitu, 1) Anemia pada anak dan remaja (26,7%); 2) Pemantauan pertumbuhan balita tidak rutin (54,6%); 3) Imunisasi tidak lengkap (42,1%); 4) Asupan makanan balita (6-23 bulan) tidak terpenuhi terutama protein (53,4%); 5) Tidak ASI Eksklusif (33,9%); 6)  Ibu hamil konsumsi TTD (Tablet Tambah Darah) (38,1%); 7) Anemia pada ibu hamil (48,9%); dan 8)  ANC (Ante Natal Care) atau perawatan masa kehamilan kurang dari 4 kali (25,9%)

Pemerintah telah dan masih berupaya keras untuk menurunkan prevalensi stunting nasonal. Bahkan, sesuai arahan Presiden RI tentang percepatan penurunan stunting pada rapat terbatas di Istana Merdeka tanggal 5 Agustus 2020 lalu. Memberikan pemetaan provinsi yang mempunyai prevalensi stunting dari yang rendah hingga tertinggi. Untuk selengkapnya, anda bisa melihat gambar berikut.


 

Prevalensi stunting di seluruh Provinsi Indonesia (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

ISI PIRINGKU, PANDUAN GIZI SEIMBANG 

Harus diakui bahwa pola konsumsi makanan masyarakat Indonesia masih buruk. Menarik, apa yang dilaporkan Riskedas 2018 dan BPS tahun 2019 menyatakan tentang pola konsumsi masyarakat Indonesia. Di mana, sebesar 95,5% populasi berusia lebih dari 5 tahun tidak memenuhi konsumsi buah dan sayur yang dianjurkan (kurang dari 400 gram/hari). Hanya 4,5% masyarakat Indonesia yang telah melakukan konsumsi makanan dengan baik.

Pola konsumsi masyarakat mengalami tren perubahan khususnya di masa Pandemi Covid-19. Di mana, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi (processed food) lebih tinggi. Yaitu, 3x lipat dari pada daging, telur dan susu; 3x lipat dari pada ikan; dan 3x lipat dari pada buah dan sayuran. Maka dari itu, di masa Pandemi Covid-19 terjadi masalah gizi, seperti 1) masalah gizi yang sama sebagai masalah gizi nasional; dan 2) kelompok yang rentan, seperti balita, ibu hamil yang semakin berisiko. Karena, keterbatasan pangan dalam keluarga dan daya beli menurun.  

Kondisi masalah gizi anak, khususnya balita di beberapa negara di masa Pandemi Covid-19 menjadi sorotan badan dunia PBB, UNICEF. Badan dunia tersebut menyatakan jika tidak ada tindakan yang baik, maka diperkirakan jumlah anak yang mengalami kekurangan gizi akut di bawah 5 tahun bisa meningkat 15% secara global pada tahun 2020.

Pemerintah Indonesia pun sudah dan masih menangani masalah gizi seimbang. Agar, anak Indonesia mempunyai nuitrisi gizi yang cukup. Hal yang perlu dilakukan (menurut Ir. Harris Iskandar, Ph.D selaku Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI) yaitu perlunya edukasi tentang gizi seimbang sejak dini. Baik bagi orang tua maupun bagi guru PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia.  Pedoman penting untuk mendapatkan pendidikan tentang gizi seimbang berpatokan pada Tumpeng Gizi Seimbang.

 

 

Tumpeng Gizi Seimbang (Sumber: Kemenkes RI)

 

Merujuk pada pedoman Tumpeng Gizi Seimbang, maka masyarakat hendaknya menerapkan 4 Pilar Gizi Seimbang, yaitu: 1) Mengonsumsi pangan beraneka ragam (mengandung protein, lemak, vitamin dan mineral); 2) Membiasakan Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS); 3) Mempertahankan dan memantau Berat Badan Normal; dan 4) Melakukan aktifitas fisik.

 

 

4 Pilar untuk penerapan gizi seimbang (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

Berdasarkan pedoman Tumpeng Gizi Seimbang dan 4 Pilar Gizi Seimbang, maka Kementerian Kesehatan RI telah melansir panduan gizi seimbang masyarakat, khususnya anak. Panduan lengkap untuk gizi seimbang tersebut bernama ISI PIRINGKU.

Berbagai buku panduan tentang ISI PIRINGKU telah disosialisasikan ke masyarakat. Salah satunya adalah buku panduan untuk para guru PAUD. Di mana, guru PAUD mempunyai peran besar, selain Pemerintah dan orang tua untuk memberikan pemahaman kepada balita. Ibu Lisnawati, S.Pd selaku guru PAUD berbagi pengalaman dalam mengajar siswa PAUD di acara webinar. Menggunakan buku panduan ISI PIRINGKU untuk memberikan pemahaman tentang gizi seimbang kepada siswa PAUD.

 

  

Isi Piringku (Sumber: Kemenkes RI)

 

ISI PIRINGKU sangat penting untuk memberikan panduan ibu dan guru PAUD. Saat memberikan edukasi gizi seimbang kepada anak dan muridnya. ISI PIRINGKU mengandung menu lengkap, seperti 1) Karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh; 2) Protein sebagai zat pembangun untuk pertumbuhan & regenerasi jaringan tubuh, serta membantu sistem kekebalan tubuh; dan 3) Vitamin dan mineral sebagai zat pengatur berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Berperan juga dalam sistem kekebalan tubuh.

Bahkan, ISI PIRINGKU bisa menjadi imun tubuh balita. Karena, sayur dan buah memiliki antioksidan (non-vitamin mineral) yang tinggi. Dan, sayur dan buah mengandung serat tidak larut yang merupakan prebiotik. Sehingga, dapat membantu peningkatan probiotik (mikroba baik) yang bermuara peningkatan imun tubuh.

ISI PIRINGKU memberikan pedoman lengkap tentang nutrisi gizi seimbang untuk sekali makan. Di mana, sepertiga piring adalah makanan pokok, sepertiga piring adalah sayuran dan sepertiga lainnya adalah lauk-pauk dan buah-buahan. Porsi balita dalam ISI PIRINGKU ada 2 kriteria, yaitu balita untuk umur 6-23 bulan dan balita untuk umur 2-5 tahun. Berikut, contoh porsi ISI PIRINGKU untuk 2 kriteria tersebut.  

 

Porsi Isi Piringku untuk balita usia 6-23 bulan (Sumber: Kemenkes RI)

 

Porsi Isi Piringku untuk balita usia 2-5 tahun (Sumber: Kemenkes RI) 

 

Harus diakui bahwa menerapkan ISI PIRINGKU tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Perlu perjuangan agar anak bisa makan menyenangkan seperti orang dewasa. Adapun, masalah makan yang terjadi pada anak (contoh, pada usia 4-6 tahun) yang dikatakan oleh  Prof. Sri Anna Marliyati  dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB selaku Ketua Tim Penyusun Buku Isi Piringku, sebagai berikut:

1.   Pilih-pilih makanan (picky eater) dikarenakan 1) selera makan anak berkembang, anak mulai menyukai makanan; 2) bosan pada hidangan yang diberikan kurang variasi; dan 3) anak mengikuti kebiasaan pilih-pilih makan orang tua;

2.   Susah makan, hanya mau makan sedikit, disebabkan 1) masalah psikologi, misalnya orang tua selalu memaksa untuk makan; 2) memberi susu atau makanan selingan dekat dengan waktu makan; dan 3) anak meniru orang tua yang biasa makan sedikit;

3.   Menolak makan, dikarenakan 1) rasa makanan yang asing; 2) bosan dengan makanan; 3) suasana makan tidak menyenangkan, anak belum lapar; 4) iseng atau mencari perhatian orang tua; 5) kesal kepada orang yang memberi makan; dan 6) anak sedang sakit. 

4.   Tidak suka makan sayur, disebabkan 1) rasa sayur yang kurang enak apabila dibandingkan dengan lauk hewani atau buah; 2) penyajian sayur kurang menarik.

Namun, orang tua dan guru PAUD harus memiliki kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Dalam memberikan pemahaman balita, agar bisa makan sesuai nutrisi gizi seimbang. Karena, ada pesan Gizi Seimbang yang baik untuk balita, khususnya untuk usia 2-5 tahun dari ISI PIRINGKU, yaitu:

1.   Biasakan makan 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) bersama keluarga.

2.   Perbanyak mengkonsumsi makanan kaya protein seperti ikan, telur, susu, tempe dan tahu.

3.   Perbanyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

4.   Batasi mengkonsumsi makanan selingan yang terlalu asin, manis dan berlemak.

5.   Minum air putih sesuai kebutuhan.

6.   Biasakan bermain bersama dan melakukan aktifitas fisik setiap hari.

ISI PIRINGKU telah menjadi pedoman orang tua dan guru PAUD agar anak mendapatkan nutrisi gizi seimbang. Bahkan, ISI PIRINGKU memudahkan guru PAUD dalam mengajar materi gizi ke siswa PAUD. Apalagi, dengan berbagai materi pembelajaran dan media permainan, siswa PAUD mudah memahami dan mengingat materi ISI PIRINGKU.

Selain orang tua, guru PAUD berperan besar dalam memberikan pemahaman tentang ISI PIRINGKU sejak balita. Beberapa dampak baik yang terjadi dengan panduan ISI PIRINGKU, adalah:

1.   Memperbaiki pola konsumsi pangan anak menjadi status gizi anak yang baik.

2.   Mampu memperbaiki lifestyle (gaya hidup) anak ke depannya.

3.   Siswa PAUD status gizinya menjadi baik dan sehat.

4.   Akan menjadi siswa SD dan remaja yang sehat dan status gizinya baik.

5.   Akan menjadi calon pengantin yang sehat dan status gizinya baik.

6.   Akan menjadi calon ibu yang sehat dan status gizinya baik.

7.   Melahirkan anak-anak yang sehat dan status gizinya baik.

 

KOLABORASI LINTAS SEKTOR 

Ketika masa Pandemi Covid-19 masih ada di negeri ini. Tentu, pelayanan penanganan gizi seimbang akan dimodifikasi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Keberhasilan penanganan gizi seimbang anak, khususnya untuk balita membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Perlunya sinergi dan harmonisasi untuk menimbulkan nilai sosial bersama komunitas antara 1) Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota; 2) Sektor swasta dan dunia usaha; dan 3) Akademisi dan masyarakat madani.

 

 

Beberapa pemangku kepentingan lintas sektor yang harmonis dalam penanganan gizi seimbang (Sumber: Danone Indonesia)

 

Dalam kolaborasi lintas sektor, setiap pemangku kepentingan (stakeholder)  harus berperan baik, sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Adapun, peran pemangku kepentingan (stakeholder) dalam penanganan percepatan perbaikan gizi seimbang adalah:

1.   Pemerintah pusat dan daerah sebagai inisiator, fasilitator dn motivator.

2.   Organisasi profesi dan akademisi sebagai Think Tank.

3.   Mitra pembangunan untuk memperkuat inisiasi, kolaborasi dan money (uang).

4.   Media massa untuk mempublikasikan informasi yang mendukung pembangunan kesehatan secara terus-menerus.

5.   Lembaga sosial kemasyarakatan (CSOs) sebagai advokasi untuk penyempurnaan inisiasai, kajian strategis dan pelaporan situasi pelaksanaan di lapangan / masyarakat, pemberdayaan masyarakat.

6.   Dunia usaha untuk pengembangan produk dan program yang mendukung (berbagi informasi distribusi sumber daya, penerapan CSR sesuai dasar hukum)

7.   Parlemen untuk menjalankan fungsi legislatif.

8.   Badan-badan PBB untuk memperluas dan mengembangkan kegiatan serta fasilitasi pemerintah untuk keberhasilan program.

Meskipun, kondisi masih Pandemi Covi-19, tetapi pelayanan masyarakat untuk menurunkan stunting akan terus digalakan, sesuai keadaan wilayah dan menerapkan protokol kesehatan. Peran guru PAUD dan masyarakat dalam perbaikan gizi seimbang akan terus dilakukan secara konsisten. Dan, terpenting, sektor swasta sangat diharapkan dalam mendukung program Pemerintah. Agar, informasi pesan gizi dan masyarakat tetap berjalan baik.   

Kolaborasi lintas sektor dalam penanganan gizi seimbang masyarakat khususnya balita harus tetap dibina. Karena, penangananan masalah Gizi Seimbang yang baik akan berdampak pada perekonomian dan pertumbuhan generasi mendatang. Dan, harapan besar bangsa Indonesia adalah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar. Agar, siap dan matang menghadapi Bonus Demografi dan terciptanya GENERASI EMAS 2045.

 

 

Kolaborasi lintas sektor untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar  (Sumber: shutterstock/diolah)

Shogun 110 Jet Kuled, Motor yang Penuh Drama dan Kenangan (Part 2)

  Motor Shogun 110 Jet Kuled yang penuh drama dan kenangan (Sumber: dokumen pribadi) Sampai tulisan ini dibuat, saya sering menangis sendiri...