Saturday, September 7, 2019

Membersihkan Sampah Plastik Pantai di Pulau Impian



Membawa alat pencapit dan karung untuk mengambil sampah plastik Pulau Impian Pantai Mertasari Bali / Dokpri




Pukul 06.00 WITA. Suasana masih pagi dan udara terasa segar. Tetapi, mobil rombongan Danone Aqua bergerak lincah, dari Hotel Best Western Kuta Beach menuju kawasan Sanur. Dua mobil HIACE putih yang membawa peserta Danone Blogger Academy (DBA) Batch 3 melintasi jalan raya By Pass Ngurah Rai. Setelah sampai di jalan arah Pantai Mertasari, rombongan berbelok ke kiri. Menyusuri jalan yang di sebelah kanannya dipenuhi hutan mangrove (bakau). Menuju Pulau Impian (Dream Island).  
Taman Inspirasi
Matahari mulai beranjak naik. Warna lembayung senja mulai pudar. Berganti putih kekuning-kuningan. Rombongan mulai perlahan melewati sebuah jembatan kayu. Saya melihat sungai besar yang bersih dari sampah plastik. Dan, disambut oleh penjaga pulau berbentuk gambar tokoh bajak laut seperti dalam film “Pirates of the Caribian”.
Tulisan “Selamat Datang di Taman Inspirasi Dream Island Desa pekraman Intaran” membuat saya bersemangat untuk menjelajahinya. Di seberang jembatan, terlihat Pulau Impian. Saya pun menelusuri jalan setapak yang sudah di-paving. Di sebelah kanan dan kirinya tertata rapi pohon khas pantai yang tumbuh tinggi. Saya melihat kawasan hampir seluas separo lapangan bola itu benar-benar bersih dari sampah plastik.  


Jembatan menuju Pulau Impian di Pantai Mertasari Sanur Bali / Dokpri


Pantai Mertasari dikenal sebagai pantai yang baik untuk menaikan layang-layang khas Bali. Layang-layang ukuran kecil hingga raksasa mempunyai tempat yang cocok untuk terbang. Karena, kondisi angin yang stabil di sore hari.
Sekitar radius 1 km dari pantai utama pantai Mertasari ternyata mempunyai kawasan menarik. Taman inspirasi yang dipenuhi dengan simbol khas bajak laut itu membuat nyaman siapapun. Kawasan pantai dengan tumbuhan tinggi menjadi pemandangan yang tidak boleh dilewatkan.
Puluhan bale bengong berlantai tinggi dan berbahan kayu berjajar rapi. Berbalut atap daun rumbia melengkung bagai rumah honai khas Papua. Menambah suasana tradisional kawasan itu. Di depannya, pohon kelapa   berselimut lapangan pasir yang bersentuhan dengan bibir pantai. Menambah suasana asri.
Sejauh mata memandang, birunya air laut dengan ombak kecil membuat damai di hati. Tidak jauh dari Pulau Impian, terlihat para penumpang mengantri untuk masuk kapal cepat, menuju Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, Nusa Penida maupun Pulau Gili.


Bale Bengong berjajar rapi menambah suasana asri di Pulau Impian / Dokpri


Beach Clean
“Pantainya sudah bersih, karena kemarin mungkin ada aksi jumat bersih-bersih pantai”. Suara dari seorang ibu yang memandu rombongan kami memecah keheningan. “Berarti, apakah aksi bersih-bersih pantai (beach clean) tidak jadi dilakukan?” tanya saya dalam hati.
Kenyataannya, aksi bersih-bersih pantai tidak menyurutkan niat kami. Justru, ibu pemandu meyakinkan kami bahwa aksi “beach clean” tetap dilakukan. Jujur, ketika memandang  sekilas kawasan bibir pantai, terlihat hanyalah rumput pantai yang hanyut terbawa air dan kemudian mongering.



Salah satu sisi bibir pantai di Pulau Impian yang terlihat indah /Dokpri



Rombongan kami dibagi kurang  lebih 10 kelompok. Setiap kelompok berjumlah 2 orang atau berpasangan. Dan dibekali masing-masing orang, 1 karung dan satu pencapit (alat untuk mengambil sampah) yang terbuat dari bambu. Dua karung mempunyai tanda dari spidol berbentuk silang (X) dan segitiga. Tanda silang berguna untuk menampung sampah anorganik (yang tidak bisa didaur ulang, seperti kain). Dan, tanda segitiga untuk menampung sampah organik (yang bisa didaur ulang, seperti sampah plastik, kaca dan lain-lain).  
Saya berpasangan dengan salah satu alumni Danone Blogger Academy (DBA) Batch 2 Pringadi Abdi Surya. Dan, mendapatkan bagian karung bertanda segitiga. Oleh karena itu, saya berusaha mencari sampah plastik yang ada di bibir pantai.
Bibir pantai di hadapan saya terlihat bersih, memukau siapa saja. Namun, kenyataan berbeda dengan pikiran banyak orang. Ketika saya mengikuti setiap langkah kaki, maka sampah plastik terlihat di depan mata. Dan, alat pencapit pun bergerak dengan sigapnya. 
Saya mencoba mengorek-orek rumput laut yang telah mengering. Di mana, sebagian dari sampah plastik, seperti pembungkus bumbu dapur, sabun mandi, pencuci rambut dan lain-lain terlihat menyembul. Bukan hanya itu, setiap saya hendak melangkahkan kaki, maka sampah plastik lain tiba-tiba muncul di hadapan saya. Karena, terbawa air laut dan terlempar hingga ke bibir pantai. Sesekali air laut pun membasahi dan memenuhi sepatu yang saya pakai.
Sebenarnya saya berniat agak ke tengah dari bibir pantai. Dengan maksud  untuk mengambil sampah plastik yang mengambang. Tetapi, sarana dan waktu yang tidak memungkinkan. Saya berusaha untuk membersihkan sampah plastik sebisanya.    
Setelah kurang lebih satu jam kami berjibaku dengan capit dan karung sampah, maka semua sampah yang dihasilkan rombongan kami ditimbang dengan alat timbang digital. Petugas kebersihan yang beroperasi di Pulau Impian dengan cekatan membawa gerobak sampah dan membawa alat timbang digital.
Petugas kebersihan berbaju biru mengumpulkan karung-karung plastik putih bertanda silang untuk ditimbang.  Dan, timbangan digital menunjukan angka 12,8 kg untuk karung-karung yang didominasi berisi kain. Selanjutnya, karung-karung putih yang bertanda segitiga mendapatkan giliran ditimbang. Angka 12,0 menunjukan beban berat timbangan tersebut. Selanjutnya, sampah tersebut akan menuju ke tempat daur ulang.
  

Di Pulau Impian, sampah plastik ditimbang untuk diangkut ke tempat daur ulang /Dokpri


Inspirasi #BijakBerplastik
Dari dua kali timbangan sampah yang dihasilkan rombongan kami memberikan gambaran miris tentang kondisi pantai. Ibarat kata, “tampak muka bolehlah indah, tetapi tampak dalam siapa tahu”. Kawasan pantai di Pulau Impian itu merupakan secuil panjang pantai dari ratusan kilometer pantai di Bali.
Perlu diketahui bahwa rombongan kami membersihkan sampah hanya pada radius sepanjang lapangan sepak  bola. Berapa ton sampah jika dengan sabar menjelajah pantai di sekeliling Bali? Padahal, menurut penelitian sampah yang dilakukan oleh dosen dan peneliti dari Teknik Lingkungan ITB DR. I Made Wahyu Widayarsana, ST, MT, IPM menunjukan bahwa sampah yang dihasilkan pulau Bali sebesar 2.253,6 ton setiap harinya. Fantastis, bukan?
Dari ajang mencapit sampah plastik di pulau Impian itu memberikan inspirasi buat kami. Betapa pentingnya #BijakBerplastik. Perlunya membuang sampah pada tempatnya. Serta, pentingnya mengelola sampah dengan baik seperti melakukan proses daur ulang. Agar bisa mengurangi kandungan sampah plastik yang sampai ke laut.
Aksi mencapit sampah plastik di pulau Impian memberikan pemahaman besar. Bahwa, ketika sampah tidak dikelola dengan baik maka akan bermuara ke laut. Dan, di sinilah dampak berbahaya akan kembali ke manusia. Hewan laut akan mengkonsumsi sampah plastik yang kita buang. Selanjutnnya, hewan laut tersebut kita konsumsi. Anda bisa melihat video berikut ini:


Pantai Mertasari seharusnya tanpa sampah plastik / Dokpri


Oleh sebab itu, pantai yang kita punya hendaknya bersih dari sampah plastik. Karena, saat anda tidak mampu mengelola sampah dengan baik di tingkat hulu maka berakibat fatal di tingkat hilir (laut). Dampaknya, sangat berbahaya. Bukan hanya merusak ekosistem laut, tetapi bisa merusak citra pariwisata seperti Bali.  
Jika saya dan rombongan lainnya di peserta Danone Blogger Academy (DBA) Batch 3 begitu peduli akan sampah plastik. Dan, mendapatkan banyak inspirasi dari pulau Impian untuk mengelola sampah dengan baik. Maka, anda juga mampu melakukan hal yang sama. Karena, saat laut bersih maka anda sudah berperan besar dalam menciptakan ONE PLANET, ONE HEALTH.
Kesadaran tinggi dibutuhkan untuk membuat lingkungan khususnya pantai bisa bersih dari sampah plastik. Bermula dari diri sendiri maka mengurangi sampah plastik adalah hal mudah. Tentu, dengan keyakinan untuk membuat lingkungan sehat untuk semua. Salam sehat.

 Artikel ini juga tayang di Kompasiana



Tuesday, September 3, 2019

Manfaat Besar Teh Beras Merah Untuk Mengontrol Kadar Gula Darah



Kemasan 250 gram Teh beras merah, produksi Kelompok Tani Mambal Lestari – Subak Mambal, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung Bali /Dokpri




Seorang ibu yang memakai pakaian adat Bali dengan kaos biru muda memberikan senyuman manis. Dia semangat sekali memberikan paparan tentang proses pembuatan Teh Beras Merah kepada saya dan rombongan. Meja berwarna coklat gelap dihadapan saya berfungsi bak lapak dagangan. Kurang lebih mempunyai luasan 1,5m2. Sepertinya, meja itu tentu bersuka cita karena ditunggu seorang ibu dan 2 orang bapak yang telah lama menunggu kedatangan rombongan saya ke Kampung Mandiri Bongkasa Pertiwi.
Di atas meja tersebut telah tersusun indah beras merah yang memenuhi sepertiga isi baskom. Beras merah itu telah digiling. Dan, sepiring beras merah yang telah disangrai. Di sampingnya terdapat sebuah timbangan digital dan satu wadah berisi air panas.


Beras merah yang akan diolah menjadi teh beras merah yang menyehatkan / Dokpri


Teh Beras Merah Mambal
Danone Aqua telah memberikan pengalaman baru. Pukul 09.00 WITA di hari kedua acara Danone Blogger Academy (DBA) Batch 3 Bali, tanggal 30 Agustus 2019 lalu, saya bersama  rombongan berangkat dari Best Western Kuta Beach di kawasan Kuta ke Kampung Mandiri di kawasan Bongkasa pertiwi, Kecamatan Abiansemal Badung Bali.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam, rombongan sampai ditempat yang dituju. Beberapa orang di sebuah rumah khas Bali menyambut kedatangan kami. Tuan rumah dan pihak yang tergabung dalam Kampung Mandiri sangat bersemangat atas kedatangan kami.
Kemudian, saya dan rombongan memasuki bagian halaman rumah agak ke dalam. Setelah minum air kelapa muda untuk menghilangksn rasa dahaga dan makan sepincuk kue tradisional Bali.
Di halaman tersebut telah terpasang dua meja yang berguna seperti lapak dagang. Ada 3 macam hal yang menarik untuk diamati. Seperti, proses pemeliharaan jamur, proses pengolahan & pengepakan, serta pembuatan teh beras merah.  Untuk mempermudah menyerap informasi maka rombongan kami dibagi menjadi 3 kelompok (masing-masing 5 orang) untuk mengamati 3 macam hal tersebut.


Petugas yang memberikan paparan tentang teh beras merah / Dokpri


Saya dan 4 orang lainnya bertugas mengamati dan mendapatkan paparan penting.  Dari para penjaga meja coklat tua yang berada di hadapan saya. Banyak hal yang menggelitik saya. Penasaran sekali karena beras merah bisa dijadikan teh yang memberikan fungsi kesehatan.

“Apa alasan mendasar Bapak membuat teh beras ini? Apakah karena permintaan atau karena manfaatnya?”
  
Pertanyaan tersebut saya ajukan kepada seorang bapak yang mengenakan jaket abu-abu dan menemani ibu yang berkaos biru dan berbaju adat. Sang bapak menjawab pertanyaan saya dengan semangat. Menurutnya, Teh beras merah dibuat karena mempunyai kandungan nabati. Serta, dalam penanamannya terbebas dari unsur pestisida.  
Teh beras merah yang ada di atas meja diproduksi oleh Kelompok Tani Mambal Lestari – Subak Mambal, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung Bali. Dan, kelompok tani  tersebut merupakan binaan dari PT. TIRTA INVESTAMA – AQUA MAMBAL.
Beras merah yang dihasilkan Kelompok Tani Mambal Lestari – Subak Mambal benar-benar sehat dan ramah lingkungan. Oleh sebab itu, sangat bermanfaat jika diolah dalam bentuk teh.


Manfaat Teh Beras Merah
Mengapa beras merah sangat baik menjadi teh? Sebagai informasi awal, warna merah pada beras merah dapat digunakan sebagai pewarna alami seperti pada minuman. Oleh karena itu, warna merah pada beras merah sangat cocok dimanfaatkan menjadi teh. Teh beras merah menjadi terobosan bagus dalam dunia minuman.
Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan di International Journal of Food Science and Nutrition tahun 2006 (hellosehat.com), menyatakan bahwa dengan mengkonsumsi beras merah maka bisa memiliki kadar gula darah yang lebih rendah. Apalagi, indeks glikemik pada beras merah rendah sebesar 55. Lebih kecil dibandingkan dengan indeks glikemik beras putih sebesar 86. 
Beras merah juga menyehatkan karena kandungan serat, polifenol dan phytic acid yang lebih tinggi. Sebagai informasi, bahwa indeks glikemik berperaan besar dalam meningkatkan kadar gula dalam darah. Jadi, ketika mengkonsumsi beras merah dengan indeks glikemik rendah berarti anda mampu mencegah kadar gula darah yang tinggi.
Bahkan, indeks glikemik yang rendah pada beras merah aman dikonsumsi untuk penderita diabetes. Bahkah, risiko diabetes  bisa diturunkan (Archives of Internal Medicine tahun 2011).
Dengan minum teh beras merah, maka sangat bagus untuk mengontrol kadar gula dalam darah.  Lebih menarik, beras merah lokal Bali menjadi varietas yang bagus untuk dijadikan teh beras merah.
Menurut (Indrasari et al., 2010) dalam “Evaluasi Mutu Fisik, Mutu Giling, dan Kandungan Antosianin Kultivar Beras Merah” yang diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol. 20 No. I Tahun 2010 menyatakan bahwa beras merah lokal Bali sangat baik utuk dikonsumsi. Karena, beras merah lokal Bali  mengandung kadar air gabah sebesar 13,35%.
Apalagi, jika mencermati standar mutu gabah SNI No. 0224-1987/SPI-TAN/01/01/1993 yang menyatakan bahwa persyaratan khusus kadar air gabah untuk pengadaan pangan dalam negeri maksimal sebesar 14%. Dengan demikian, membuat teh beras merah dari varietas beras merah lokal Bali sangat baik untuk kesehatan.

Mengolah Teh Beras Merah
Setelah memahami manfaat teh beras merah maka anda ingin mecobanya, bukan? Cara mengolah beras merah menjadi teh beras merah sangat mudah. Pertama kali, anda mempersiapkan beras merah terlebih dahulu.


  
Beras merah lokal Bali /dokpri


Butiran beras merah lokal Bali yang berbentuk bulat (medium) bisa menjadi pilihan untuk membuat teh beras merah. Adapun, cara membuat teh beras merah adalah sebagai berikut:

1.      Beras merah dicuci sekali terlebih dahulu.
Saat mencuci beras merah maka disarankan mencuci sekali saja. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kandungan serat tetap terjaga. Mencusi juga bertujuan untuk membersihkan dari debu yang menempel pada beras merah. Oleh sebab itu, beras merah terjaga kebersihannya.


Mencuci beras merah dengan air bersih sekali saja / Dokpri


2.      Setelah airnya dibuang, beras merah disangrai pakai tungku kayu bakar. Hal ini dimaksud agar rasa teh beras merah yang khas.

 
Beras merah disangrai dengan menggunakan tungku kayu bakar / Dokpri


Ada perbedaan warna antara beras merah yang masih mentah dan beras merah yang telah disangrai. Beras merah yang telah disangrai berwarna merah gelap atau merah kecoklat-coklatan. Jika dicium, maka beras merah yang sudah disangrai berbau khas.


Perbedaan warna dan bau antara beras merah yang masih mentah dan beras merah yang sudah disangrai /Dokpri


3.      Masukan beras merah ke dalam cangkir atau gelas. Lalu, Tuangkan air panas. Jika, ingin manis, campurkan dengan gula secukupnya.

Jika anda ingin menikmati teh beras merah dengan cita rasa asli, maka anda tidak perlu menambahkan apapun. Serta, menikmatinya ketika masih hangat. Namun, jika anda ingin menikmati teh beras merah dengan rasa manis maka anda bisa menambah gula secukupnya. Tentu, dengan gula yang rendah kalori demi mengontrol kadar gula dalam darah anda.


Tuangkan air panas ke dalam cangkir atau gelas yang telah diberi teh beras merah secukupnya / Dokpri


4.      Nikmati Teh Beras Merah Untuk Kesehatan Anda  
Saya dan mas Iskandar Zulkarnain (Isjet) selaku Mentor Danone Blogger Academy (DBA) Batch 3 Bali tanpa  ragu untuk menikmati teh beras merah seduhan sendiri. Saya meminumnya berkali-kali menggunakan sendok makan. Sedangkan, mas Isjet mencoba meminumnya langsung bak minum kopi. Anda bisa menikmati teh beras merah setiap hari. Karena, mampu mengontrol kadar gula darah anda.

Ternyata, beras merah yng telah bercampur dengan air panas bisa langsung dimakan. Saya mencoba makan beras merah tersebut. Rasanya seperti makan kacang karena aroma sangrainya yang kuat. Dengan demikian, menikmati teh beras merah bukan hanya menikmati air tehnya saja, tetapi anda bisa menikmati beras merahnya sekaligus.



Mas Iskandar Zulkarnain (Isjet) selaku mentor DBA 3 menikmati minuman teh beras merah /Dokpri


Dengan berkunjung ke Kampung Mandiri Bongkasa Pertiwi, saya mulai tahu betapa bermanfaatnya Teh Beras Merah. Sebuah produk yang belum pernah terlintas dalam pikiran. Dibuat oleh tangan-tangan kreatif dari sebuah Kelompok Tani. Semoga teh beras merah bisa bermanfaat bagi semua yang ingin mengontrol kadar gula dalam darah.
Jadi, jika anda mempunyai beras merah maka anda bisa membuatnya menjadi teh beras merah. Bukan hanya cita rasa yang tinggi, tetapi sangat baik untuk kesehatan anda. 


NB. Artikel ini juga telah tayang di Kompasiana


Tuesday, August 6, 2019

DISKOMINFOS PROVINSI BALI UMUMKAN PERAIH 5 NOMINASI PADA MASING-MASING KATEGORI LOMBA TEKNOLOGI INFORMASI NANGUN SAT KERTHI LOKA BALI ( MTF ) 2019

Penjurian nominasi setiap kategori di Kantor Diskominfos Provinsi Bali (Sumber: dokumen pribadi)



Pelaksanaan Lomba Teknologi Informasi Nangun Sat Kerthi Loka Bali (Millenial Techno Fiesta) 2019 yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali pada saat ini sudah memasuki tahap  penilaian hasil karya peserta lomba. Lomba ini mendapatkan atensi cukup besar masyarakat, hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti lomba. 

Semua kategori  lomba yaitu  Film Dokumenter, Vlog, Blog, Foto Berbicara dan Aplikasi mendapatkan peserta yang cukup banyak.  Pada jumpa pers yang dilaksanakan di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika dan Statisti Provinsi Bali, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali didampingi oleh dewan juri menyampaikan hasil penilaian hasil karya peserta lomba. 

Terdapat lima (5) peserta peraih nominator terbaik pada masing-masing kategori lomba, selanjutnya para peraih nominator akan mengikuti tahapan berikutnya, yaitu mempresentasikan hasil karyanya dihadapan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statisti Provinsi Bali,  Pejabat dilingkungan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statisti Provinsi Bali dan Dewan Juri. 

Tahapan Presentasi akan dilaksanakan pada Hari Kamis, 8 Agustus 2019 pada pukul 10.00 wita hingga selesai, bertempat di Ruang Pertemuan Kantor Dinas Komunikasi, Informatika dan Statisti Provinsi Bali. Tahapan presesntasi ini akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan peringkat 1,2 dan 3 pada setiap kategori lomba.

Penganugerahan bagi pemenang lomba akan dilaksanakan bertepatan dengan Pembukaan Pameran Pembangunan Provinsi Bali Tahun 2019 pada tanggal 14 Agustus 2019.

Adapun lima (5) peserta peraih nominator   tersebut adalah :

Kategori Film Dokumenter :
1. Oka Suarcaya dengan  Karya Nangiang Sesuunan
2. Made Dona Wahyu dengan Karya Kaliber Makedas, Mepilah, Mebayah
3. Gede Seen Film dengan Karya Dokumenter Ecobrik Pesona Dalam Aneka Warna
4. I Gede Kurnia Wijaya, S.Kom dengan Karya Bali No Sampah Plastik
5. I Gusti Lanang Putra Subawa dengan Karya Olahan Manggis Kelompok Wanita Tani Kerta Petang.

Kategori Vlog :
1. I Wayan Eka Saputra dengan Karya Tips Mengurangi Penggunaan Sampah Plastik
2. Putu Ayu Aristiani dengan Karya Anak Muda Bali Bisa Apa Setelah Nonton ini, Mulai dah sadar akan pentingnya Bali
3. I Ketut Arta Widnyana dengan Karya Stop Sampah Plastik Dimulai dari Kita 1 #VLOG Social Experiment
4. Agung Gde Santika dengan Karya Stop Sampah Plastik Dimulai dari Kita 1 #VLOG Social Experiment
5. Ni Luh Putu Wulan Handayani dengan Karya Vlog-Cinta Busana Kita (Millenial Techno Fiesta 2019)

Kategori Blog
1. I Wayan Widyartha Suryawan dengan Karya Suara Saking Bali Merawat Bahasa Ibu
2. Ida Bagus Arya Lawa Manuaba dengan Karya Bahasa Bali Menghadapi Dilema Secara Semantik dan Leksikal Karena Masih Mempertahankan Mood Tertutup di Tengah Komunikasi Global yang Buka-bukaan 
3. Gede Wayan Sudiarsa  dengan Karya Ketika Pura Mendukung Peraturan Gubernur Bali No. 97 Tahun 2018
4. Gede Putra Adnyana dengan Karya Narasi dan Eksekusi Sampah Plastik dalam Pararem
5. Luh Putu Pertamawati Armony (BLOG2) dengan Karya Bahasa Bali Mulai Ditinggalkan, Ini Yang Dilakukan Gubernur Koster Viral Dimedsos

Kategori Foto Berbicara
1. Komang Putra Arcana (Foto 2) dengan Karya Aku Salah ?, Perubahan
2. Dewa Gede Padma dengan Karya Ngelawang
3. I Made Dwi Mayoga dengan Karya Pande Besi
4. I Putu Gede Budhiadnyana dengan Karya Lahan Kritis Untuk Kolam
5. Ni Kadek Martina Dwi Yanthi dengan  Karya Pergub No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan

Aplikasi 
1. Putu Wirayudi Aditama dengan Karya Melajah Pupuh Bali
2. Syamsul Arifin dengan Karya  Tebak Aksara Bali 
3. Susila lan Dharma Virtual Reality dengan Karya Kiwa Tengen
4. Dewa Gede Adnyana Sutha W dengan Karya SIMALU
5. Gusti Bagus Dwi Anugrah Harimurti dengan Karya Hari Aksara

Diharapkan kepada semua peraih lima (5) nominator dimaksud untuk dapat hadir pada saat tahapan presentasi pada tanggal 8 Agustus 2019 di Ruang Pertemuan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali.

Waspadai Bahaya Hepatitis, Kapan pun Mengancam Jiwa Anda

Temu Blogger Bali yang membahas tentang Hepatitis (Sumber: dokumen pribadi)




Ada pepatah, “harta paling berharga adalah kesehatan”. Banyak orang yang menghabiskan harta benda untuk menyembuhkan sebuah penyakit. Bahkan, penyakit-penyakit yang trend di kalangan masyarakat seperti kanker, jantung dan lain-lain telah menjadi mesin pembunuh manusia.

Dan, kini ada “penyakit lama rasa baru” yang telah menjadi mesin pembunuh dan jarang dipahami masyarakat. Apakah itu? Hepatitis. Ya, Hepatitis menjadi penyakit yang menakutkan manusia. Oleh sebab itu, anda perlu mengenal lebih jauh paham tentang seluk-beluk penyakit Hepatitis.

Betapa bahayanya penyakit Hepatitis, maka Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan RI sangat peduli tentang penyakit tersebut. Salah satu hal yang dilakukan adalah memperingati Hari Hepatitis Dunia di masyarakat. Hal ini untuk menyadarkan masyarakat agar waspada terhadap virus Hepatitis yang bisa datang tanpa disadari. Baru-baru ini, Kemenkes RI memperingati Hari Hepatitis Sedunia dengan mengusung tema “Eliminasi Hepatitis, Selamatkan Generasi Bangsa.”

DUTA KESEHATAN

Kemenkes RI memahami bahwa memberikan informasi tentang Hepatitis membutuhkan kolaborasi dengan pihak lain. Oleh karena itu, tanggal 31 Juli 2019 lalu, Kemenkes RI menyelenggarakan acara seru bertajuk “Temu Blogger Bali” dengan tema “Jangan Biarkan Hepatitis Merenggut kebahagiaanmu!”. Acara Temu Blogger Bali diadakan di Garden Palace Hotel Sanur jalan By Pass Ngurah Rai Denpasar Bali.

Acara Temu Blogger Bali menghadirkan moderator dan narasumber yang berkompten di bidangnya, seperti:  
1. dr. Widyawati, MKM yang menjabat sebagai Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat. Beliau bertindak sebagai moderator.
2. dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes yang menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI
3. dr. Ketut Suarjana, MPMM yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Yang bersangkutan tidak bisa datang karena urusan penting (diwakilkan).
4. Prof. DR. dr. Ir. I Dewa Nyoman Wibawa, Sp.PD-KGEH yang menjabat sebagai Anggota Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Anggota PPHI-PGI-PEGI dan Ketua Cabang Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)-PGI-PEGI Bali.  
Acara Temu Blogger Bali berlangsung hangat dengan dipandu MC oleh Bapak Indra Rizon, SKM, M.Kes. Pada acara tersebut juga diringi dengan live twitter yang menyentuh peringkat II trending topik Indonesia.


Beberapa blogger yang mendapatkan apresiasi dari Kemenkes RI (Sumber: dokumen pribadi)


Dalam paparan Temu Blogger Bali, Kemenkes RI bersemangat mengenalkan masalah Hepatitis terlebih dahulu kepada Blogger dan mahasiswa agar memahami  penyakit hepatitis. Tujuan dari acara keren tersebut untuk mengenal lebih dekat tentang hepatitis agar  pencegahan bisa dilakukan dengan baik.

Kurang lebih 100 peserta yang terdiri dari para blogger dan netizen mahasiswa Poltekkes di Bali menghadiri paparan para ahli kesehatan. Blogger dan netizen mahasiswa yang masih awam tentang hepatitis, menerima informasi bagus tentang  jenis-jenis virus hepatitis dan cara penularannya.

Hal yang menarik dari pembukaan acara oleh dr. Widyawati, MKM adalah kesadaran bahwa peran bloger dan netizen sangatlah besar. Apalagi, sebagai duta kesehatan Kemenkes RI, maka blogger dan netizen diharapkan menyebarkan informasi kebaikan. Menyebarkan tentang kesehatan khususnya Hepatitis ke masyarakat melalui ranah digital.

Duta kesehatan hendaknya tidak percaya dan menyebarkan informasi kesehatan yang masih diragukan kebenarannya. Diperlukan konsep 3S (Saring Sebelum Sharing). Karena, infrormasi hoax bisa membuat fatal bagi orang lain.

Hebatnya, penyebaran informasi tentang kesehatan di ranah digital ditunjang dengan adanya kurang lebih 143,26 juta pengguna internet di Indonesia. Bahkan, banyak penduduk Indonesia yang mempunyai lebih dari 1 gadget. Ini menjadi modal besar tentang akselerasi informasi mengenai Hepatitis.

Informasi kesehatan yang bisa menjadi rujukan untuk penyebaran informasi kesehatan, di antaranya  Dinas kesehatan, Media Sosial Official Kesehatan, Konten yang benar dan narasumber yang bisa dipercaya. Adapun web kesehatan Kemenkes RI yang bisa dipercaya, anda bisa klik di www.sehatnegeriku.kemkes.go.id 

MEMAHAMI HEPATITIS

Hal pertama yang perlu dipahami masyarakat adalah penyakit Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada hati. Hepatitis menjadi salah satu beban negara yang merugikan. Mengapa? Satu kasus sirosis atau kanker hati dapat menghabiskan biaya Rp. 1 miliar hingga Rp. 5 miliar.

Merawat kesehatan hati sama halnya menciptakan kebahagiaan. Karena, kondisi hati yang baik membuat hidup anda makin berkualitas. Oleh sebab itu, anda perlu menjaga agar hati tidak mengalami peradangan. Gambar berikut menunjukan kondisi hati yang sehat dan yang telah mengalami sirosis (kerusakan hati).


Kondisi hati sehat dan hati yang terkena sirosis (Sumber: Kemenkes RI)


Paparan menarik di acara temu Blogger Bali adalah pengenalan tentang virus Hepatitis dan cara penularannya oleh dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes. Beliau menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI. Paparannya membuka pemahaman bagi blogger dan mahasiswa tentang virus Hepatitis dan cara penularannya.

Virus Hepatitis menjadi pembunuh utama karena kurangnya perhatian global. Memahami Hepatitis berarti anda perlu memahami jenis-jenis virus hepatitis yang bisa menyerang kesehatan hati. Di kalangan kesehatan, ada 5 jenis virus hati yang kapan saja bisa menyerang kesehatan anda. Adapun, virus tersebut yaitu Virus A, B, C, D, dan E. Untuk memahami Family, Genom, Masa Inkubasi, Cara penularan dan Tingkat Penyakit, anda bisa memahami di grafik berikiut:


Jenis virus hepatitis dan cara penularan (Sumber: Kemenkes RI)

Dari grafik di atas, maka penyakit Hepatitis jangan dipandang sebelah mata. Karena, kapan pun bisa mengancam jiwa anda. Kasus yang menghebohkan negeri ini adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Kasus tersebut telah menelan korban mencapai seribu orang. Hepatitis menjadi ancaman bangsa Indonesia karena termasuk wilayah endemis.

Melihat cara penularannya, penularan virus hepatitis B, C, D hampir sama. Perlu diketahui bahwa virus Hepatitis B, C dan D, di mana penularan melalui kontak darah dan cairan tubuh dari ibu ke anak dengan persentase sebesar 90-95%, transfusi darah  dan organ yang tidak diskrining, penggunaan jarum yang tidak aman dan  hubungan seksual yang tidak aman.

Dari beberapa virus hepatitis, maka hepatitis C merupakan Hepatitis yang paling berisiko di antara jenis hepatitis lain. Mengapa? Sebagai informasi bahwa sekitar 2-3% (130-170 juta jiwa) populasi dunia terinfeksi Virus Hepatitis C (VHC). Bahkan, lebih dari 300.000 jiwa yang meninggal karena infeksi VHC. Sedangkan, prevalensi Hepatitis C di Indonesia sebesar 1,01% (Sumber: Riskesdas 2013).

Cara penularan Hepatitis C melalui darah dan cairan tubuh pasien Hepatitis C. Di mana, kelompok yang berisiko tinggi terkena Hepatitis C, yaitu: 1) Pengguna jarum suntik tidak steril/bergantian; 2) Pasien hemodialisis; 3) Pasien yang pernah transfuse; 4) Sering berganti-ganti pasangan seks; 5) Pengguna tato, tindik, pisau cukur, jarum, perawatan wajah, manicure/pedicure; dan 6) Petugas kesehatan yang tertusuk jarum bekas pasien. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko penularan.


Cara menurunkan risiko penularan Hepatitis C (Sumber: Kemenkes RI) 


Dengan cara penularan di atas, maka pengidap terbanyak Hepatitis C adalah pemakai narkoba suntik, pasien hemodialisis dan pasien yang pernah transfusi. Sebagian besar pasien (75-85%) berkembang menjadi kronis, sehingga potensi menjadi sirosis atau kanker hati tinggi. Oleh sebab itu, untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan anti-HCV dan HCV RNA.

Gejala Hepatitis C yang bisa anda pahami adalah 1) Gejala ringan berupa: Letih, lemah, lesu; Demam; Mual, Nyeri perut; Nafsu makan berkurang; dan 2) Sebagian besar orang tidak bergejala. Tetapi, pada saat kronis gejalanya, seperti Buang Air Kecil dan Buang Air Besar berwarna coklat gelap, warna kuning di kelopak mata dan kulit, jika sudah parah perut membuncit; Mata tampak kuning; buang Air bear dan kecil berwarna coklat gelap.    

DETEKSI DAN PENGOBATAN

Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Prof. Dr. dr. I Dewa Nyoman Wibawa, SpPD, KGEH mengatakan bahwa penderita hepatitis bisa dicegah dan diobati apabila ditangani secara cepat dan tepat. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu untuk deteksi dini Hepatitis di Fasyankes (fasilitas layanan kesehatan) terdekat.

Virus hepatitis A dengan masa inkubasi 30 hari bisa menjadi akut jika tidak dicegah dengan baik. Penderita hepatitis A dapat sembuh dengan beristirahat dan makan makanan bergizi seimbang. Selain itu juga menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti olah raga, cuci tangan sebelum makan, dan mencuci makanan sampai bersih.

Namun, jika sudah terjadi maka cara kuratif untuk penangan Hepatitis A adalah pengobatan sesuai dengan tata laksana. Pemberian vaksin juga perlu dilakukan. Sebagai informasi bahwa vaksin Hepatitis A adalah vaksin pertama yang bisa mencegah penyakit kanker.  Pemberian vaksin untuk Hepatitis A di antaranya VAQTA, HAVRIX, dan TWINRIX.

Selanjutnya, Hepatitis B menular secara vertikal dari ibu ke anak perlu ditangani secara serius. Untuk mendekteksi gejala hepatitis B pada ibu hamil menjadi program penting pemerintah. Karena, penularan dari ibu ke anak sangatlah rentan. Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) bagi ibu hamil telah dilakukan  Pemerintah di 34 Provinsi. Berikut gambaran Deteksi Dini Hepatitis B terhadap ibu hamil tahun 2018:


Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) terhadap ibu hamil tahun 2018 (Sumber: dokumen pribadi)

Pada gambar di atas menjelaskan bahwa tahun 2018 lalu, pemerintah mencanangkan pemeriksaan hepatitis B pada sekitar 1.643.204 ibu hamil. Hasilnya, 1.88 persen ibu hamil reaktif dengan 15 ribu lebih anak yang lahir dari ibu reaktif telah diberi imunisasi sebagai perlindungan spesifik.

Mencengangkan, akan ada  120 ribu anak yang menderita hepatitis B dengan 95 persen di antaranya akan mengalami hepatitis kronis 30 tahun ke depan. Padahal, 1 kasus sirosis membutuhkan biaya 1 milyar dan 1 kanker hati butuh 5 milyar. Oleh sebab itu, pemerintah peduli dengan memberikan antibodi untuk menyelamatkan bayi yang lahir.  Antibodi Hepatitis B berguna untuk menangkap virus pada bayi sebelum menyerang hati.
Deteksi penting juga penting terhadap virus Hepatitis C. Hal-hal yang bisa anda lakukan adalah: 1) Untuk mengetahui seseorang pernah tertular Hepatitis C diperlukan pemeriksaan skrinnng darah (Anti-HCV); dan 2)  Bagi pasien yang Anti-HCV positif dilanjutkan pemeriksaan jumlah virus (HCV RNA).

Anda perlu tahu bahwa hepatitis C menjadi mesin pembunuh manusia. Hepatitis C menular melalui hubungan seksual dan darah. Jika tidak ditangani dengan baik, maka kondisi akut atau kronis bisa terjadi pada siapapun. Pengendalian Virus Hepatitis C di Indonesia bukan hanya pada pengendalian faktor risiko penyakit. Hal penting yang harus dilakukan adalah pengobatan Hepatitis C dengan obat Direct Acting Antiviral (DAA).

Dengan DAA, tingkat kesembuhan tinggi sebesar 97% dengan waktu penyembuhan singkat 12-24 minggu. Layanan DAA sudah di 15 Provinsi dan 37 Rumah Sakit (RS) pada tahun 2019. Pengobatan DAA hingga bulan Mei 2019 populasi berisiko yang diperiksa Anti HCV sebanyak 152.489 orang dan reaktif sebanyak 6.763, melakukan pengobatan sebanyak 3.818 orang.

Pengobatan kombinasi minimal dua obat, DAA (Direct Acting Antiviral) dengan obat utama Sovosbufir plus obat lainnya, seperti: Daclatasvir, Simeprevir, Ribavirin, ataupun Interferon. Dengan lama pengobatan: 3-6 bulan tergantung kerusakan hati dan bisa disembuhkan. Dan, pemeriksaan kembali di minggu ke-12 setelah selesai pengobatan diperlukan untuk memastikan penyembuhan.

Untuk mencegah terjadinya gejala hepatitis maka Tes laboratorium mencakup penilaian fungsi hati  (SGOT dan SGPT). Bahkan, sebagian besar pengidap penyakit hepatitis kronis tanpa gejala. Oleh sebab itu, skrining tes laboratorium penting untuk dilakukan. Menurut Prof. DR. dr. Ir. I Dewa Nyoman Wibawa, Sp.PD-KGEH menyatakan bahwa Hepatitis A, B dan C masih  endemis di Indonesia.

Paparan yang tidak kalah menarik di acara Temu Blogger Bali adalah perwakilan dari Dinas kesehatan Provinsi Bali. Perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali tersebut menjelaskan tentang situasi hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan di Bali. Dengan adanya  Permenkes RI Nomor 52 tahun 2017 tentang Eliminasi penularan HIV, Sifilis dan penularan dari ibu ke anak memberikan pemahaman bahwa pengidap penyakit HIV berpotensi besar mengidap penyakit Hepatitis C.

Untuk menangani penyakit hepatitis membutuhkan kerjasama lintas program dari pelaku kesehatan. Karena, permasalahan dalam penanganan kesehatan sangatlah penting agar terjadi koordinasi dalam pelayanan kesehatan.
     
Nah, setelah memahami seluk-beluk Hepatitis di atas, kita bekerja sama untuk melakukan eliminasi Hepetitis yang bisa merenggut kebahagiaan anda. Hal terbaik adalah “mencegah lebih baik daripada pengobatan”. Oleh sebab itu, memahami gejala sejak dini merupakan langkah yang baik untuk dilakukan siapapun. Salam sehat, sehat untuk Indonesia!


LGBT, Perilaku Manusia Melawan Hukum Alam

  Warna-Warni yang melambangkan kaum LGBT (Sumber: shutterstock)         "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil ber...