Thursday, May 6, 2021

Kolaborasi AQUA dan Sekolah.mu Menciptakan Anak Indonesia Hebat Dalam Mengelola Sampah

 

Perlunya pembelajaran manajemen pengelolaan sampah sejak anak-anak (Sumber: shutterstock)

 

          “Mari Bijak Berplastik untuk Mewujudkan Indonesia Bersih”

 

          Kalimat bijak yang diusung oleh Danone-AQUA memberikan pemahaman berharga. Bahwa, sampah memberikan dampak yang luar biasa bagi pembangunan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah mewujudkan Indonesia yang bersih.

          Sampah masih menjadi masalah yang serius bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, perlu adanya manajemen pengelolaan sampah yang baik. Dan, pembelajaran mengenai pengelolaan sampah tersebut sebaiknya menyasar dari kalangan yang paling dasar. Yaitu, anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

          Mengapa harus dari PAUD? Perlu anda ketahui bahwa PAUD adalah generasi bangsa yang akan memegang estafet kepemimpinan di masa depan. Ketika, anak-anak PAUD telah dibekali pembelajaran manajemen sampah yang baik. Maka, kelak akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia yang peduli masalah pengelolaan sampah.

          Itulah sebabnya, masih dalam suasana Hari Pendidikan Nasional. Danone-AQUA x Sekolahmu mengadakan acara press conference melalui platform Zoom Webinar yang berjudul “AQUA dan Sekolah.mu Ajak Anak Indonesia Kelola Sampah melalui e-Learning Interaktif”.

          Webinar tersebut dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 6 Mei 2021, pukul 13:00-selesai. Adapun, moderator oleh Novita Angie, dan menghadirkan beberapa narasumber, yaitu:

1.   Intan Kartika, Brand Director AQUA.

2.   Ratih Anggraeni, Head of Climate and Water Stewardship Danone-Indonesia.

3.   Najeela Shihab, Founder of Sekolah.mu.

4.   Jumeri, S.TP., M.Si., Perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (TBC).

 

Moderator dan narasumber di webinar Danone-AQUA x Sekolah.mu (Sumber: Danone Indonesia/screenshot)

 

          Kita memahami bahwa Pandemi Covid-19 masih berlangsung di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Dampak yang paling terasa adalah pendidikan tatap muka untuk sementara dihentikan atau diatur secara ketat sesuai protokol kesehatan. 

          Tentu, pendidikan yang bertema tentang lingkungan tidak berjalan normal. Sementara, Pendidikan anak Indonesia harus tetap berjalan. Demi memberikan edukasi yang baik bagi generasi mendatang. Makin membuat kesenjangan dunia Pendidikan.

          Jangankan di masa Pandemi, sebelum Pandemi saja masih ada isu adanya kesenjangan pendidikan di Indonesia. Di mana, pendidikan di pulau Jawa identik lebih maju dibandingkan dengan pendidikan di Indonesia bagian timur. 

          Menurut Bapak Jumeri, S.TP., M.Si. dari Direktorat Dikdasmen Kemendikbud RI menyatakan bahwa kurang lebih 30% sekolah di Indonesia yang mampu melakukan pembelajaran dengan baik.

          Meskipun, di masa Pandemi, anak-anak Indonesia hendaknya bukan sekedar merdeka belajar. Tetapi, harus mampu bertambah dengan merdeka berkarya. Tentu, kondisi pembelajaran jarak jauh di masa Pandemi harus menjadi pembelajaran pendidikan yang makin terasa dekat dan lekat.

 

#BIJAKBERPLASTIK

 

          Kita menyadari bahwa volume sampah di Indonesia semakin hari semakin banyak. Karena, faktor bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Bukan itu saja, masalah sampah juga semakin membutuhkan penanganan yang kompleks.

          Salah satu hal yang menjadi pekerjaan rumah adalah manajemen pengelolaan sampah yang masih rendah. Khususnya, penanganan sampah plastik. Bijak Berplastik menjadi program yang harus digaungkan semaksimal mungkin. Yaitu, menangani sampah plastik agar bisa mengurangi volume atau melakukan daur ulang sampah plastik yang bernilai ekonomis.

          Program Bijak Berplastik telah digaungkan Danone-AQUA sebagai rasa kepeduliannya terhadap lingkungan. Tentu, pembelajaran tentang penanganan sampah plastik harus menyasar ke kalangan yang paling dasar yaitu kalangan PAUD.

          Sayang, kondisi Pandemi membuat pembelajaran tentang lingkungan tersebut menjadi terhenti. Karena, anak-anak sekolah harus belajar jarak jauh atau belajar dari rumah.

          Berdasarkan kondisi terhentinya pendidikan tatap muka, maka Danone-AQUA dan Sekolah.mu merasa peduli bahwa pendidikan lingkungan tidak boleh terhenti karena jarak. Maka, Sekolah.mu sebagai wadah edukasi digital berkolaborasi dengan Danone-AQUA untuk meluncurkan modul digital pembelajaran interaktif “Sampahku Tanggung Jawabku”.

          Perlu diketahui bahwa program tersebut merupakan lanjutan dari komitmen #BijakBerplastik AQUA pada pilar edukasi. Ada 3 pilar dalam pelaksanaan program #BijakBerplastik yaitu:

1.   Koleksi (mengumpulkan), yaitu mengumpulkan sampah yang ada dalam lingkungan kita.

2.   Memilah (memisahkan), yaitu memisahkan sampah sesuai dengan jenisnya. Seperti memisahkan sampah yang mampu didaur ulang dan bernilai ekonomis dalam prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

3.   Inovasi (perbaikan teknologi), yaitu menciptakan teknologi terkini yang ramah lingkungan. Seperti, menciptakan Aqua Life yang bahannya 100% dari bahan plastik yang mampu didaur ulang.

 

SAMPAHKU TANGGUNG JAWABKU

 

          Hal penting dalam Pendidikan Lingkungan Anak khususnya sejak PAUD adalah masyarakat perlu membuat ekosistem yang sama antara di sekolah dan di rumah. Sebagai contoh, jika anak telah diajarkan untuk membuang sampah secara benar di sekolah. Maka, pemandangan tersebut harus tidak jauh berbeda. Ketika, anak-anak pulang ke rumah.

          Ketika, kondisi di rumah berbeda atau bertolakbelakang dengan kondisi di rumah. Maka, anak-anak akan cenderung putus asa atau berontak. Karena, tidak ada dukungan dan contoh sukses dari lingkungan terdekat (orang tua). Padahal, kehidupan anak-anak yang murni adalah di lingkungan rumah, bukan di sekolah.

Program "Sampahku Tanggung Jawabku" merupakan program kolaborasi Danone-AQUA dengan Sekolah.mu. Program tersebut bertujuan untuk mengajak tenaga pendidik dan orang tua. Agar, memberikan pemahaman kepada anak (usia 4-9 tahun) tentang pentingnya bertanggungjawab atas lingkungan.

Selain pemahaman, program tersebut juga menyasar peningkatan keterampilan tentang pengelolaan sampah. Agar, bisa mengurangi dampak sampah Indonesia dan berkontribusi pada Gerakan Indonesia Bersih dan #BijakBerplastik.

          Pembelajaran tentang Sampah bisa dipahami semua kalangan di masa Pandemi. Maka, Danone-AQUA x Sekolah.mu membuat Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku.

          Modul tersebut menjadi Modul Interaktif Anak yang berisi tentang materi pembelajaran yang efektif tentang lingkungan. Juga, modul tersebut memuat konten yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Baik bagi anak PAUD, guru, dan orang tua.

          Menarik, dalam modul pembelajaran tersebut juga terdapat gamenya. Hal ini, yang membuat anak-anak senang untuk mempelajarinya. Berikut, beberapa tampilan materi dari Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku.

 









Beberapa materi pembelajaran tentang Sampahku Tanggung Jawabku yang ada di laman Sekolah.mu (Sumber: Sekolah.mu/screenshot)

 

          Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku membuat anak-anak hingga orang dewasa mempunyai gaya hidup yang sustainable. Juga, memupuk anak untuk belajar bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan.

          Perlu diketahui bahwa Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku bersifat gratis. Siapapun bisa belajar di laman Sekolah.mu baik untuk murid, guru dan orang tua. Agar, Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku, mampu menumbuhkan kesadaran anak terhadap lingkungan.

          Dengan adanya Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku. Guru-guru di sekolah juga mendapatkan feed back tentang pembelajaran digital yang baik. Oleh sebab itu, Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku, harus dikenal masyarakat luas.

          Maka, diperlukan adanya penyebaran informasi yang masif. Khususnya, ke sekolah-sekolah yang belum mendapatkan sinyal internet dengan baik.

          Tidak perlu khawatir, akan ada pembelajaran bagi guru-guru secara tatap muka tentang metode e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku tersebut. Jadi, sekolah yang berada di daerah terisolir, bisa mendapatkan manfaat Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku.

          Kita memahami bahwa Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku sangat penting untuk memberikan edukasi tentang lingkungan kepada anak-anak. Dan, materi pembelajaran tersebut diluncurkan pertama kali oleh Sekolah.mu pada tahun 2019. Bekerja sama dengan Kemendikbud RI, Kemenko Kemaritiman RI, Yayasan Anak Indonesia dan Universitas Indonesia (UI).

          Sebelum terjadi Pandemi, Modul interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku disebarluaskan dalam format hard copy. Namun, setelah Pandemi mendera, maka format hard copy berubah menjadi modul digital. Agar, anak Indonesia memahami dalam manajemen sampah berjalan maksimal.

          Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku bertujuan untuk merubah pola perilaku anak-anak terhadap kondisi sampah. Bukan hanya mempelajari melalui modul digital. Tetapi, anak harus menerapkan materi yang ada ke dalam perilaku sehari-hari.

          Lantas, apa yang harus dilakukan agar anak tetap konsisten dalam menerapkan Sampahku Tanggung Jawabku. Beberapa hal yang dibutuhkan, seperti 1) adanya pengalaman sukses yang dialaminya. Hal ini dapat menjadikan anak untuk terus belajar dan mempraktekan teori baru; 2) Perlu adanya dukungan maksimal yang berkesinambungan dari berbagai pihak, seperti lingkungan, guru, orang tua dan temannya.

          Asiknya Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku adalah dirancang untuk menciptakan interaktif anak dengan lingkungannya (guru, orang tua dan teman) dalam kondisi yang menyenangkan. Juga, pembelajaran jarak yang jauh karena Pandemi tidak menjadi hambatan yang serius. Untuk terus belajar tentang kepedulian sampah di Indonesia.

          Menurut Founder Sekolah.mu Najeela Shihab menyatakan bahwa target Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku adalah mampu menyasar kurang lebih 5 juta anak-anak Indonesia. Dan, kurang lebih 100 juta masyarakat Indonesia lainnya agar memahami perlunya #BijakBerplastik dalam manajemen sampah.

          Bahkan, di akhir tahun 2021, Danone-AQUA menggagas Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku untuk kalangan anak SMP dan SMA. Proyek tersebut akan bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) dan National Geographic.

 

MODUL E-LEARNING INTERAKTIF

 

          Modul Sampahku Tanggung Jawabku menjadi materi pembelajaran yang efektif kepada anak Indonesia. Tentang pengelolaan sampah yang baik sedari usia dini. Dalam modul pembelajaran tersebut, anak-anak akan mendapatkan materi belajar berupa video, buku cerita, aktivitas interaktif, dan berbagai panduan pengelolaan sampah yang dapat diakses selamanya.

          Kemudian, pada akhir program, anak-anak diminta untuk melakukan aksi nyata dan mempraktikkan langsung pengetahuan yang sudah didapat. Sebagai contoh, anak-anak akan membuat biopori dan diminta menceritakan bagaimana proses pembuatannya. Benar-benar pembelajaran yang melibatkan interaktif anak-anak.

Dengan demikian, Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku bisa disebarkan secara luas melalui antar murid. Mereka akan saling berbagi tentang asiknya mengelola sampah di lingkungan mereka.

          Jangan kaget, Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku mampu memberikan pengalaman unik. Di mana, anak-anak justru mampu memberikan edukasi penanganan sampah ke orang tuanya. Berdasarkan ilmu yang diperoleh dari guru di sekolah.

          Modul e-learning interaktif tentang Sampahku Tanggung Jawabku terbagi menjadi 2. Yaitu, modul pembelajaran untuk anak PAUD-SD 3. Anda bisa mempelajarinya di MODULPAUD-SD 3.  



Materi Sampahku Tanggung Jawabku untuk anak PAUD (Sumber: Sekolah.mu/screenshot)

 

          Sedangkan, modul ke-2 diperuntukan untuk anak SD 4 - SD 6. Selanjutnya, anda bisa pelajari materinya di MODUL SD 4-SD 6.  


Materi Sampahku Tanggung Jawabku untuk anak SD (Sumber: Sekolah.mu/screenshot)

 

Mari ajak anak Indonesia peduli lingkungan sedari usia dini.

Sunday, April 25, 2021

Kolaborasi Dalam Membangun Minat Baca Anak Indonesia

 

Membangun minat membaca pada anak (Sumber shutterstock)

 

 

Setiap orang tua berharap terbaik buat anaknya. Baik pemenuhan pendidikan literasi yang baik, maupun pemenuhan asupan gizi yang seimbang. Ternyata, ada hubungan yang sangat erat antara pemenuhan gizi seimbang dengan Literasi Anak.

Untuk memberikan pemahaman tentang Literasi Anak kepada masyarakat. Maka, pada tanggal 23 April 2021 pukul 10.00-11.30,  Danone Indonesia mengadakan  webinar keren secara langsung di chanel Youtube @Nutrisibangsa

 

Webinar Project BACA (Sumber: Danone Indonesia/screenshot)

 

Acara tersebut tentang Talkshow dan launching Project Baca dengan tema Dukung Anak Hebat Berliterasi dengan Asupan Gizi Seimbang dan Pola Asuh Orang Tua yang Baik. Adapun, pembicara pada acara webinar keren tersebut adalah :

1.   Dr. Mesty Ariotedjo, S.pA selaku Dokter Spesialis Anak dan CEO Tentang Anak.

2.   Fathya Artha, M.Sc., M.Psi. selaku Psikolog dan Co-Founder Tigagenerasi.

3.   Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia.

 

ASUPAN GIZI SEIMBANG

 

Pembicara pertama pada webinar keren tersebut adalah Ibu Dr. Mesty Ariotedjo, S.pA selaku Dokter Spesialis Anak dan CEO Tentang Anak. Beberapa hal penting yang bisa diambil dari presentasi Ibu Dr. Mesty Ariotedjo, S.pA tersebut adalah masalah perlunya asupan gizi yang baik kepada anak. 

 

Dr. Mesty Ariotedjo, S.pA selaku Dokter Spesialis Anak dan CEO Tentang Anak (Sumber: Danone Indonesia/screenshot)

 

Di mana, kandungan karbohidrat, protein, lemak dan zat lainnya harus cukup untuk pemenuhan gizi anak. Asupan gizi tersebut sangat penting untuk Tumbuh Kembang Anak, terutama perkembangan bagian otak. Perlu diketahui bahwa perkembangan otak manusia pada tahun pertama berfungsi untuk 1) Sensory Pathways atau Jalur sensorik (Vision, hearing); 2) Language (bahasa); dan 3) Higher Cognitive Function (Fungsi kognitif yang lebih tinggi). 

Juga, orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan cairan anak. Di mana, kebutuhan cairan tersebut disesuaikan dengan BB (Berat Badan) anak. Sebagai panduan, cara hitung kebutuhan cairan anak adalah sebagai berikut:

100 mL/kg pertama à 10 kg pertama

50 mL/kg à 10 kg kedua

20 mL/kg à 25 kg selanjutnya. 

Jadi, jika anak anda mempunyai BB = 35 kg. Maka, kebutuhan cairan dapat dihitung dengan rumus:

100x10, 50x10, 20x15 = 1800 mL/hari

 

MINAT MEMBACA

 

Pembicara kedua yang tampil di acara webinar keren tersebut adalah Ibu Fathya Artha, M.Sc., M.Psi. selaku Psikolog dan Co-Founder Tigagenerasi. Beliau mengupas perlunya keterlibatan orang tua, untuk memberikan Edukasi Anak secara keberlanjutan.


Fathya Artha, M.Sc., M.Psi. selaku Psikolog dan Co-Founder Tigagenerasi  (Sumber: Danone Indonesia/screenshot)

 

Salah satu hal penting, yang harus diperhatikan oleh orang tua adalah membangkitkan anak untuk Minat Membaca. Menarik, banyak persepsi atau anggapan orang yang keliru. Di mana, usia di bawah 6 tahun merupakan saat orang tua mengajarkan aktivitas membaca pada anak. Kemudian, saat anak memasuki usia sekolah (6-7 tahun) anak bisa membaca untuk belajar.

Faktanya, proses belajar membaca dan membaca untuk belajar merupakan dua hal yang berdampingan. Sesungguhnya, perkembangan bahasa serta literasi berkembang berdampingan sejak anak lahir.

Perkembangan teknologi digital tidak bisa dikekang. Anak-anak kita yang lahir pada tahun 2010 ke atas (Generasi Alfa) telah mengenal adanya teknologi digital. Banyak dari anak kita yang telah hidup bersentuhan dengan piranti digital seperti gadget.

Ketika, informasi apapun bisa diakses dari perangkat smartphone secara mudah. Maka, hal yang perlu diingat adalah Generasi Alfa perlu diajarkan tentang adanya Literasi Anak yaitu Literasi Digital.

Mengapa Generasi Alfa kita perlu diberikan bekal tentang Literasi Digital? Ada kekhawatiran orang tua tentang anak kita, seperti 1) kemampuan bersosialisasi yang tidak terarah; 2) ketertinggalan dalam edukasi; 3) penggunaan gadget yang berlebihan; dan 4) kesehatan fisik dan emosional anak.

Maka, hal penting yang bisa menjadi Edukasi Anak adalah dengan merangsang anak untuk Minat Membaca. Banyak manfaat yang bisa diambil dengan adanya membaca, yaitu: 

1.   Membaca membantu anak menavigasi permasalahan yang orang tua khawatirkan

2.   Mengasah kemampuan anak untuk mengenal emosi dan mengendalikannya.

3.   Dasar dari mengasah kemampuan literacy adalah salah satu yang terpenting adalah digital literacy.

4.   Meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

5.   Mengaktifkan bagian otak yang berfungsi dalam perkembangan Bahasa, perencanaan dan pembuat keputusan.

6.   Menjadi variasi kegiatan anak dalam satu hari antara online dan offline.

7.   Mengasah ketrampilan sosial, salah satunya empati.


Manfaat dari minat membaca pada anak (Sumber dokumen pribadi)

 

Memang, tidak mudah untuk merangsang anak kita untuk minat membaca. Di mana, minat membaca anak-anak Indonesia masih tergolong rendah. Oleh sebab itu, orang tua harus memahami kondisi anak agar mereka mau menikmati setiap bacaan buku.

Untuk mendapatkan minat membaca yang maksimal pada anak. Maka,  orang tua harus memahami 4 golongan umur anak, yaitu: 

1.   Umur 1-2 tahun. Bisa memegang buku, mengucapkan kata sederhana, berinteraksi dua arah.

2.   Umur 2-3 tahun. Familiar dengan banyak objek, memahami dan mengucapkan kalimat yang lebih panjang.

3.   Umur 3-4 tahun. Mulai mengenal huruf, suka membacakan buku pada boneka, mengulang kalimat pada buku.

4.   Umur 4-6 tahun. Mulai bisa menceriatakan bacaan, dapat duduk untuk mendengarkan cerita yang lebih panjang.

Anak-anak tidaklah seperti orang dewasa. Mereka harus dirangsang dalam suasana yang yang riang. Dengan kata lain, mood anak mudah sekali berubah karena pengaruh lingkungan.

Maka dari itu, orang tua harus membuat anak mau membaca dalam suasana yang menyenangkan. Maka, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:

1.   Siapkan  pojok baca atau spot seru untuk membaca.

2.   Libatkan anak pada cerita yang dibaca.

3.   Ajak anak untuk memiilih buku.  

4.   Orang tua juga perlu merasa aktivitas tersebut seru.

5.   Bercerita dengan intonasi suara juga properti yang seru.

6.   Jangan dipaksakan. Jadikan pergerakan anak sebagai ajang untuk melibatkannya dalam cerita.

7.   Sambungkan cerita yang dibaca dengan aktivitas sehari-hari.

 

 


Hal-hal yang menyenangkan diperlukan agar anak mau membaca (Sumber: dokumen pribadi)

 PROGRAM BACA

 

Pembicara terakhir (ketiga) dalam webinar keren adalah Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia. Dalam paparannya, beliau menjelaskan sekilas tentang perlunya penanganan serius untuk di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Mengapa? 80% otak anak pada kurun waktu tersebut sedang mengalami perkembangan.

 

Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia (Sumber: Danone Indonesia/screenshot)

 

Beliau juga membahas perlunya asupan gizi seimbang untuk anak. Di mana, Danone Indonesia telah meluncurkan program ISI PIRINGKU. Asupan gizi seimbang akan berpengaruh terhadap perkembangan otak anak. Dan, salah satu proses Tumbuh Kembang Anak bisa terwujud melalui membaca.

Di mana, anak mulai mengenal angka, huruf dan gambar dengan bimbingan orang tua. Juga, mendapatkan edukasi anak melalui pendidikan di sekolah.

Seperti dibahas sebelumnya bahwa minat membaca anak Indonesia masih tergolong rendah. Salah satu faktor rendahnya yang tidak kita sadari adalah keterlibatan stakeholder yang berkompeten, terhadap kondisi membaca anak Indonesia juga masih rendah.

Melihat kondisi tersebut, maka Danone Indonesia bekerjasama dengan Tentang Anak (sebuah wadah edukasi dan informasi tentang kesehatan dan tumbuh kembang) bersama-sama meluncurkan program BACA. Program tersebut merupakan sebuah program ajakan untuk mencintai kegiatan membaca. Dan, belajar kebaikan kepada anak-anak melalui sumbangan buku bacaan.

Apalagi, saat ini masih dalam suasana bulan Ramadan sebagai bulan pernuh kebaikan. Maka, Danone Indonesia dan Tentang Anak akan memperluas manfaat melalui penggalangan donasi 5.000 buku serial “Sikap Baik” untuk anak-anak Indonesia. Buku-buku tersebut akan disalurkan ke PAUD, Taman Posyandu, pasien pediatrik di Rumah Sakit, dan Panti Asuhan di Jabodetabek.  

Selain itu, Danone Indonesia juga mendonasikan buku Sampahku Tanggung Jawabku dan Isi Piringku. Untuk mengenalkan perlunya penanganan sampah yang baik dan asupan gizi seimbang kepada masyarakat. Jika, masyarakat ingin ikut berkontribusi, maka masyarakat bisa turut berdonasi melalui @wecare.id

Kita semua berharap agar asupan gizi seimbang anak Indonesia bisa terpenuhi. Orang tua menyadari perlunya literasi anak, khususnya literasi digital. Agar, anak bisa menggunakan perangkat gadget lebih bijak. Tentu, dengan pengawasan orang tua.

Selain itu, membangkitkan minat membaca anak adalah tugas kita semua, khususnya orang tua. Banyak manfaat yang bisa diambil, ketika anak minat membaca. Untuk memperluas jangkauan minat membaca, maka perlunya kontribusi pihak swasta. Dan, kerjasama Danone Indonesia dan Tentang Anak telah membuktikan kepeduliannya, untuk merangsang anak Indoneisia Minat Membaca.  

Wednesday, April 7, 2021

Anak Indigo, Anugerah atau Musibah?

 

Anak Indigo (Sumber: shutterstock)

 

 

 

“Mama, itu banyak anak kecil plontos lagi lari-lari kayak tuyul”

 

Kalimat yang diucapkan Elrico (9 tahun), ketika diantar ibunya, Dyah Catur (42) menuju sekolahnya di kawasan Jakarta Barat. Sebenarnya, jalan yang dilewati tersebut bukanlah rute yang dilaluinya setiap hari. Namun, untuk mempercepat waktu, maka mencari rute tercepat adalah keharusan. Agar, tidak telat ke sekolah.

Mengantar anak ke sekolah menjadi pekerjaan rutin Dyah Catur ketika masih tinggal di Jakarta. Kini, dia dan keluarga hijrah ke Magelang Jawa Tengah. Karena, saran keluarga mertuanya. Selain, alasan kebutuhan hidup yang semakin meningkat di kota besar macam Jakarta.

Sejatinya, Dyah Catur mempunyai dua putra. Yang sulung masih kelas 8 SMP. Sedangkan, Elrico masih duduk di kelas 3 SD. Elrico bisa dikatakan sebagai anak spesial atau Anak Indigo karena memiliki salah satu ciri unik. Yaitu, bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh anak-anak normal lainnya. Dengan kata lain, Elrico memiliki kemampuan indra keenam. Mampu melihat hal-hal “gaib” dan membaca kejadian masa depan.

 

Anugerah

 

Anak indigo mendeskripsikan anak yang memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa dan bahkan yang bersifat supranatural, serta memiliki pemikiran nalar di luar pemikiran anak-anak pada umumnya.

Menurut para ahli menyatakan bahwa Anak Indigo memiliki pancaran warna aura yang unik. Yaitu, memiliki warna indigo alias biru keunguan. Juga, warna Indigo merupakan warna dari chakra mata ketiga. Di mana, warna tersebut merujuk pada kemampuan seseorang melebihi rata-rata. Seperti kemampuan indra keenam, membaca pikiran orang lain sampai melihat masa depan.

Itulah Sebabnya, salah satu ciri dari Anak Indigo adalah memiliki indra keenam. Maksudnya, Anak Indigo mampu mengirim atau menerima informasi dengan tidak melibatkan kelima panca indra. Anak Indigo memiliki kemampuan telepati dan clairvoyance. Kemampuan tersebut berupa prekognisi (menerawang masa depan) maupun retrokognisi (mengetahui masa lalu).

Lantas, bagaiamana keberadaan Anak Indigo dalam keluarga dan masyarakat? Menurut saya, keberadaan Anak Indigo masih menjadi pro kontra. Dalam artian, Anak Indigo bisa menjadi anugerah dan bisa menjadi musibah bagi keluarga.

Anda pasti tahu Roy Kiyoshi, kan? Kelebihan sebagai Anak Indigo membawanya dikenal publik. Ia mampu mengeksplorasi kelebihannya hingga menjadi selebritis. Yang sering tampil di berbagai acara televisi. Bahkan, apa yang terjadi pada diri Roy Kiyoshi menjadi bahan pemberitaan.

Bukan itu saja, kelebihan sebagai anak Indigo pada Roy Kiyoshi menjadi sumber penghasilan. Mengapa? Karena, saat tampil di acara televisi tidaklah gratis, bukan?           Pantas saja, jika Roy Kiyoshi sering merubah tampilan wajahnya beberapa tahun lalu. Tentu, operasi wajah membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Melihat kemampuan Anak Indigo macam Roy Kiyoshi tentu bisa menjadi anugerah bagi keluarga dan masyarakat. Karena, Anak Indigo mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Dibandingkan dengan anak-anak normal lainnya. Masyarakat menjadi paham kondisi Anak Indigo melalui berbagai tayangan di berbagai media.

Anak-anak Indigo “mungkin” bisa dimanfaatkan secara baik. Seperti, melihat keberadaan makhluk gaib yang ada di sekitarnya. Atau, Anak Indigo bisa menjadi “alat bantu” untuk memprediksi kejadian apa yang akan terjadi. Tentu, cara membaca Anak Indigo membuat semua orang yang ada di sekelilingnya menjadi takjub. Orang Jawa bisa menyebutnya sebagai anak yang mempunyai “Daya Linuwih”. Atau, kemampuan lebih yang tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya.  

 

Musibah

 

Namun, selain sebagai Anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan Anak Indigo justru menjadi musibah. Seperti apa yang terjadi pada keluarga Dyah Catur. Dyah Catur adalah adik ipar saya. Beberapa hari yang lalu, keluarga kecil tersebut berkunjung ke Ngawi Jawa Timur. Dengan tujuan berkabung karena ayahnya atau mertua saya meninggal dunia.

Saat kami santai, Dyah Catur memberikan informasi tentang kondisi Indigo pada anak bungsunya, Elrico. Di mana, Elrico telah memiliki indra keenam sejak kecil. Dia memiliki kemampuan indra keenam yang bisa melihat keberadaan makhluk gaib. Dan, mampu membaca peristiwa apa yang akan terjadi. Tentu, kelebihan ini tidak lepas dari Kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Kenyataannya, kelebihan sebagai Anak Indigo justru menjadi musibah keluarga Dyah Catur. Saya sempat berbincang-bincang serius dengan Dyah Catur dan suaminya Feri yang bekerja di sektor perbankan. Keluarga tersebut menceritakan dengan detil tentang sedihnya mempunyai Anak Indigo.

Dyah Catur dan suaminya menginginkan Elrico seperti anak normal lainnya. Bahkan, keluarga tersebut sudah melakukan berbagai cara dan berkonsultasi pada psikolog, saudara dan pendeta. Kesimpulan dari berbagai usaha tersebut menyatakan bahwa orang-orang yang didatangi tidak mampu untuk membuat anak kecil macam Elrico bisa kembali normal.

Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah keluarga perlu melibatkan selalu Elrico dalam berbagai kegiatan. Dan, Elrico perlu diberi pemahaman agar “cuek” terhadap makhluk gaib yang mengajaknya untuk bermain. Konon, jika Elrico selalu merespon ajakan makhluk gaib. Maka, makhluk gaib tersebut “seakan-akan” mengendalikan perbuatannya.

 

“Mama, Elrico sudah capai karena anak-anak itu selalu memaksa saya untuk bermain”

 

Kalimat yang membuat pedih dan sedih Dyah Catur. Ajakan makhluk gaib membuat Elrico tidak bebas seperti anak-anak lainnya. Bukan itu saja, kemampuan indra keenam Elrico justru membuat keluarganya tidak nyaman.

Ada beberapa kejadian yang membuatnya takut. Ketika, keluarga tersebut jalan-jalan di sebuah lantai mall di Jakarta. Tanpa sadar, Elrico memberi tahu bahwa ia melihat perempuan berbaju putih dan rambut panjang ala Kuntilanak di sebuah langit-langit mall.

Kemampuan membaca peristiwa masa depan terlihat, saat keluarga tersebut pergi berbelanja di sebuah supermarket. Padahal, cuaca sedang panas-panasnya. Namun, Elrico justru memberikan informasi yang tidak masuk akal kepada orang tuanya.

 

“Mama, buruan pulang yuk. Mau hujan, jemuran di rumah belum diangkat”

 

Merespon informasi dari Elrico seperti tidak percaya. Orang tuanya menganggap bagai angin lalu. Karena, mereka melihat bahwa kondisi cuaca dalam kondisi terang benderang. Tidak terlihat mendung sedikitpun. Namun, apa yang terjadi sungguh membuat keluarga tersebut kaget. Karena, ketika mereka pulang dan barusan memasuki rumah, hujan pun turun dengan derasnya.

Kejadian yang membuat bulu kuduk merinding pernah dialami saat Dyah Catur bertamu ke rumah saudaranya di malam hari. Padahal, kondisi ruang tamu dalam kondisi terang benderang. Namun, belum sempat berbincang-bincang antara tamu dan tuan rumah. Kondisi malam itu sungguh menjadi riuh dan orang yang ada di ruang tamu berlarian. Apa yang terjadi? Elrico dengan lantangnya mengatakan bahwa di dalam ruang tamu tersebut melihat penampakan harimau jadi-jadian.

Dari berbagai kejadian menyeramkan selama ini. Dyah Catur merasa lelah apa yang dialami anak bungsunya. Kemampuan indra keenamnya justru membuat hidupnya tidak nyaman. Keluarga kecil tersebut berharap besar agar Elrico bisa hidup normal layaknya anak-anak lainnya.

Salah satu hal yang dilakukan adalah jangan memancing kelebihan Elrico.  Contohnya, bertanya kepada Elrico, makhluk gaib apa yang bisa dilihat. Maka, kemampuan Indigo Elrico secara tidak langsung akan terpacu. Dan, makhluk gaib yang ada di sekelilingnya memaksa untuk mengganggunya kembali.

Buat anda yang mempunyai anak Indigo, apakah keberadaanya sebagai anugerah atau musibah? Bagi saya, apapun yang terjadi pada anak Indigo adalah Kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Semoga keluarga Dyah Catur bisa hidup nyaman dengan keberadaan anak Indigo macam Elrico. Dan, tidak larut dalam sedih. Semoga.   

LGBT, Perilaku Manusia Melawan Hukum Alam

  Warna-Warni yang melambangkan kaum LGBT (Sumber: shutterstock)         "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil ber...