Wednesday, November 27, 2019

Ciptakan Alat Bantu Buruh Punguti Brondolan Sawit, Mahasiswa IPB Raih Penghargaan Internasional


ASEAN-India Grassroot Innovation Forum yang diselenggarakan oleh Department of Science and Technology, Republic of Philipines, pada 20-21 November 2019 (Sumber: Kemendikbud) 



Setiap orang mempunyai pengalaman hidup yang berbeda-beda. Bahkan, masa lalu bisa menjadi pelajaran yang berharga. Seperti. pengalaman masa kecil dan keluh kesah dari para buruh saat memunguti brondolan sawit di ladang, mendorong Tegar Nur Hidayat berinovasi. Mahasiswa angkatan 2017 Jurusan Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) ini membuat alat untuk membantu mitra pekerja pengutip brondolan sawit untuk meningkatkan penghasilan dan mengurangi kelelahan kerja. Alat itu dinamai Erbron-C, atau egronomic brondolan collector. 


Tegar Nur Hidayat, mahasiswa angkatan 2017 Jurusan Teknik Mesin IPB (Sumber: Kemendikbud)


Erbron-C ciptaan Tegar dan tim IPB tersebut diganjar Silver Medal pada ASEAN-India Grassroot Innovation Forum yang diselenggarakan oleh Department of Science and Technology, Republic of Philipines, pada 20-21 November 2019. 


Erbron-C ciptaan Tegar dan tim IPB (Sumber: Kemendikbud)


Alatnya tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar bagi pekerja sektor perkebunan sawit di Indonesia. Menurut data Bappenas tahun 2018, industri kelapa sawit menyerap 16,2 juta orang tenaga kerja dengan rincian 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Di antara pekerja itu, Tegar menyebut banyak yang mengeluh bahwa mereka mengalami beberapa masalah saat memungut brondolan sawit. 

Ia tak akan pernah lupa ketika ayahnya dinas di salah satu perkebunan sawit di Kalimantan Selatan. Saat itu ayahnya sering diajak berkeliling kebun sawit untuk melakukan kontrol dan melihat proses panen sawit. Melalui ingatan itu ia melakukan riset lebih lanjut. Ketika timnya melakukan kerja praktik lapangan di salah satu perkebunan sawit, ditemukan beberapa fakta naas, yaitu pengutipan brondolan secara manual tidak efektif dan efisien, pengutipan secara manual menyebabkan kelelahan kerja yang sangat tinggi, serta penghasilan pengutip rendah.

Berangkat dari kondisi tersebut, Tegar dan tim membuat dua buah mesin sederhana. Menurutnya, alat pengutip brondolan sawit sudah pernah diciptakan, tetapi dengan mekanisme dan desain yang berbeda dan belum digunakan satupun oleh industri sawit. Sehingga ia mengklaim bahwa alat ciptaannya itu total baru dalam desain dan mekanisme kerja. Ia membuatnya dalam dua tipe dengan cara kerja yang berbeda.

Alat tipe pertama dibuat untuk kontur tanah yang bergelombang. Menurut Tegar, cara kerjanya ialah operator mengoperasikan satu handle di mana bagian pengutip alat diarahkan pada brondolan. Unit pengutip berupa susunan spiral baja berlapis silikon rubber akan mengambil dengan cara menjepit brondolan tanpa melukai (clamp mechanism). Setelah itu, brondolan yang terjepit akan dilepaskan ke penampungan hanya dengan cara menarik tuas pelepas, dan akan mendorong brondolan lepas. 

Tipe kedua diciptakan untuk kebun sawit dengan kontur tanah yang datar. Bentuknya ialah roller. Cara kerjanya dengan didorong dan diarahkan ke kumpulan brondolan di tanah. Mekanismenya masih sama, yaitu brondolan akan terjepit di antara unit pengutip. Di ujung depan roller terdapat separator berupa baja berdiameter 2 milimeter yang dipasang menyerupai sisir di antara unit pengutip, brondolan akan masuk ke penampungan karena separator ini.

Hasil dari alat ini sangat positif dalam uji coba. Melalui indeks Increase Ratio of Heart Rate (IRHR), yaitu pengukuran detak jantung saat istirahat dan bekerja untuk menentukan jenis pekerjaan mulai dari rentang sangat ringan hingga berat, penggunaan mesin Erbron-C mampu menghemat tenaga pekerja dengan nilai 1.34 (pekerjaan ringan), dibandingkan pemungutan manual dengan nilai 1.79 (pekerjaan berat).

Selain itu, kapasitas lapang pun meningkat. Dengan waktu kerja efektif tiga jam, pemungutan manual hanya menghasilkan 144 kg per hari, setelah menggunakan Erbron-C meroket menjadi 595 kg per hari. Otomatis, potensi keuntungan secara bisnis pun meningkat, semula pendapatan buruh pemungut brondolan sawit pada kisaran Rp 720.000, meningkat menjadi Rp 2.970.000 per bulan. 

Mesin Erbron-C yang juga meraih medali emas pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas)ke-32 ini telah dirancang selama lebih dari satu tahun. Proses pembuatan alat ini diawali dengan gambar teknik, optimasi desain dan dimensi, analisis ergonomika, pemilihan bahan-bahan teknik yang disesuaikan dengan karakteristik brondolan sawit, untuk kemudian akhirnya pabrikasi.

Hingga saat ini, Tegar dan tim terus mengembangkan alatnya. Harapannya, dapat lebih bermanfaat nyata bagi masyarakat dan menemukan bantuan teknologi tepat guna bagi permasalahan yang genting di Indonesia. Kabar baiknya, karyanya saat ini telah terdaftar sebagai hak cipta, dan tengah terus melakukan pengembangan untuk dapat diproduksi secara massal.

Tegar pun optimistis dengan peneliti muda di Indonesia. Pengalamannya bersaing dengan banyak negara pada ajang internasional, meyakinkannya bahwa kemampuan analisis dan penerapan keilmuan sains Indonesia sangat unggul. Menurutnya, ide dan objek sangat banyak yang dapat dieksplorasi. Selain itu, tenaga pendidik, mahasiswa, peneliti, siswa, berdasar pengalamannya kemarin sangat vokal dalam kompetisi. Sarana dan prasarana penelitian indonesia berdasarkan bincang-bincang kemarin sangat prospektif dan harus dimanfaatkan dengan baik. 

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ismunandar, mengapresiasi prestasi Tegar ini. Ia berharap mahasiswa Indonesia dapat terus berinovasi dan tidak hanya diam melihat permasalahan di sekitarnya. Ditjen Belmawa sendiri secara intens menyelenggarakan kegiatan-kegiatan rutin untuk mengasah pengetahuan dan kompetensi mahasiswa. 

Monday, November 25, 2019

PASAMUHAN AGUNG DESA ADAT MIWAH DESA SAJEBAG JAGAT BALI





Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Pasamuhan Agung Desa Adat Miwah Desa Sajebag Jagat Bali di Desa Bedulu Gianyar (Sumber: Kominfo Bali)



Bali merupakan kawasan yang masih memegang teguh adat. Itulah sebabnya, perkembangan desa adat benar-benar diperhatikan. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bali, yaitu: 

1.             Pemerintah Provinsi menyelenggarakan Pesamuhan Agung yang dihadiri oleh Bandesa Adat, Perbekel, Lurah, Majelis Desa Adat, Bupati/Walikota Se-Bali, jajaran Pemerintah Provinsi, dan Perangkat Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang berkaitan dengan penyelenggaraan program di Desa Adat Se-Bali.
2.             Pesamuhan Agung dilaksanakan pada Soma,Wage, Dukut, 25 November 2019, bertempat di Wantilan Pura Samuhan Tiga, Desa Adat Bedulu, Kec. Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.
3.             Pesamuhan Agung diselenggarakan dalam rangka konsolidasi dan koordinasi Desa Adat, Desa, dan Kelurahan sebagai lembaga terdepan dalam menyelenggarakan pembangunan berskala Desa Adat, Desa, dan Kelurahan, dalam rangka mengembangkan kebersamaan dan kegotongroyongan sesuai dengan tema Ngiring Masikian Ngawangun Desa Adat Miwah Desa Antuk Kawigunan Bali: Parasparo, Sarpana Ya, Gilik – Saguluk, Salunglung – Sabayantaka.
4.             Acara diisi dengan pemaparan yang meliputi:
PANEL 1     :
Materi 1        :    Penjelasan Juknis Pengelolaan Keuangan Desa Adat Sesuai Pergub No. 34 Tahun 2019
Pembicara     :    1. Kepala Bpkad
                            2. I Gusti Agung Kartika,Sh,Mh (Kadis Dukcapil)
Materi  2       :    Tata Kelola Desa Adat
Pembicara     :    Ketut Sumarta (Mda Provinsi Bali)
Materi 3        :    Pengembangan Perekonomian Desa Adat
Pembicara     :    Dr. Gde Made Sadguna

PANEL 2     :
TEMA             :    Sinergi Pembangunan Desa Adat dan Desa
Materi 1        :   Memperkuat Pembangunan Adat Istiadat, Seni, dan Budaya
Pembicara     :    Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali
Materi 2        :    Sinkronisasi/Harmonisasi Program Desa Adat dan Desa
Pembicara     :    Kepala Dinas Pmd
Materi 3        :    Pendampingan Perbekel Dalam Administrasi
                             Pengelolaan Keuangan Desa Adat
Pembicara     :    Ketua Forum Perbekel Provinsi Bali

5.             Gubernur memberi Arahan mengenai Program Penguatan Adat yang meliputi:
a.        Terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Bali No.4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali
1)        Memperkuat kedudukan, tugas, kewenangan Desa Adat.
2)        Mengatur secara menyeluruh berbagai aspek yang berkaitan dengan Desa Adat
3)        Mempertegas dan mengembangkan Padruwen dan Utsaha Desa Adat
Utsaha Desa Adat terdiri atas :
Labda Pacingkreman Desa (LPD) Adat
Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA)
4)        Mengatur Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Adat serta Keuangan Desa Adat



Gubernur Bali Wayan Koster memberikan sambutan dan arahan di acara Pasamuhan Agung Desa Adat Miwah Desa Sajebag Jagat Bali di Desa Bedulu Gianyar (Sumber: Kominfo Bali)


b.        Terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 7 Tahun 2019 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, yang berisi pembentukan Dinas baru yaitu Dinas Pemajuan Masyarakat Adat. Dinas ini secara khusus mengurus Desa Adat , pertama kali dalam sejarah Pemerintahan Provinsi Bali.
c.         Peraturan Gubernur No. 34 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa Adat di Bali.
1)       Mengatur, memperjelas, dan mempertegas Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Adat.
2)       Anggaran Pendapatan Desa Adat bersumber dari : Pendapatan Asli Desa Adat, Alokasi Dana Desa Adat dari Pemerintah Provinsi Bali, Bantuan Keuangan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kabupaten/Kota, Sumbangan Dana Punia
3)       Anggaran Belanja Desa Adat terdiri atas: Belanja Rutin dan Belanja Program
4)       Anggaran untuk Desa Adat ditransfer langsung ke rekening Desa Adat, tidak lagi memakai mekanisme Bantuan Keuangan Khusus (BKK)
d.        Kebijakan Untuk Desa Adat
1)       Alokasi anggaran Desa Adat sebesar Rp. 300 Juta untuk masing-masing Desa Adat dalam APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2020. Total Alokasi Anggaran Desa Adat sebesar Rp. 447,9 Milyar untuk 1.493 Desa Adat di Bali.
2)       Penggunaan Dana Desa Adat diatur dalam Petunjuk Teknis, yang terdiri dari Belanja Rutin maksimum sebesar Rp. 80 Juta meliputi : insentif untuk Bandesa Adat sebesar Rp. 1,5 Juta Per Bulan, Rp. 18 Juta Per Tahun; insentif untuk Prajuru ditentukan secara musyawarah, maksimum Rp. 45 Juta Per Tahun; dan biaya operasional sebesar Rp. 17 Juta Per Tahun. Sedangkan Belanja Program minimum sebesar Rp. 220 Juta, untuk Program Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan meliputi :
-       Program Wajib Provinsi : Kegiatan menggali dan membina Seni Wali, Seni Bebali, dan Seni Tradisi yang ada di Desa Adat, Kegiatan Pasantian, Kegiatan Pembinaan /  Pelatihan Seni Sekaa Sebunan yang ada di Desa Adat, Kegiatan Bulan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, Kegiatan Pembinaan dan Pengembangan PAUD / TK Hindu Berbahasa Bali (Pasraman).
-       Program Prioritas masing-masing Desa Adat yang diputuskan melalui Paruman Desa Adat.
e.        Pembangunan Kantor Majelis Desa Adat
1)       Pembangunan Kantor Majelis Desa Adat Provinsi : bangunan dengan 3 lantai; anggaran sebesar Rp. 9,5 Milyar; bersumber dari CSR; mulai dibangun awal Tahun 2020; digunakan sebagai Sekretariat Bersama Majelis Desa Adat, Majelis Kebudayaan, dan Forum Perbekel Provinsi.
2)       Pembangunan Kantor Majelis Desa Adat Kabupaten/Kota : bangunan dengan 3 lantai, anggaran sebesar sekitar Rp. 7,5 Milyar; bersumber dari CSR / APBD Kabupaten, Kota / APBD Provinsi; mulai dibangun Tahun 2020 – 2022, digunakan sebagai Sekretariat Bersama Majelis Desa Adat Kabupaten/Kota dan Parisada Kabupaten/Kota.
·           Memakai lahan milik Pemprov Bali, kecuali Kabupaten Badung menggunakan lahan Puspem. Lahan yang sudah siap untuk Kabupaten Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan; Pembangunan Kantor Majelis Desa Adat Kabupaten Gianyar dibiayai dari APBD Gianyar; Kantor Majelis Desa Adat Kabupaten Bangli sekarang ini sudah ada, akan dilanjutkan dengan pengembangan; sedangkan untuk Kantor Majelis Desa Adat Kota Denpasar lahannya belum dapat.
f.          Penguatan Perekonomian Berbasis Desa Adat  yang meliputi: 1) Penguatan Labda Pacingkreman Desa (LPD) Adat; 2) Pembentukan Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) dengan mengembangkan unit usaha sesuai potensi Desa Adat, membentuk unit usaha berjejaring, biaya pembentukan awal bisa memakai Dana Desa Adat dari APBD Provinsi/ Kabupaten/Kota, dan modal dari LPD atau BPD dengan bunga rendah maksimum 5% (di bawah KUR); 3) Bersinergi dengan BPD dan lembaga keuangan lainnya; 4) Penguatan SDM LPD dan Penyiapan SDM BUPDA; dan 5) Pemberdayaan Wirausaha Muda Lokal Desa Adat.
g.        Sinergi Desa Adat dengan Desa / Kelurahan
1)       Sangat penting mengembangkan sinergi Desa Adat dengan Desa / Kelurahan. Mengingat Desa Adat dan Desa/Kelurahan menangani masyarakat yang sama di masing-masing wilayah. Desa Adat dan Desa masing-masing memiliki sumber pendanaan dari Negara (APBD/APBN). Tahun 2020, Desa Adat mendapat anggaran sebesar Rp. 300 Juta, dari APBD Provinsi. Sedangkan Desa mendapat anggaran rata-rata Rp. 1 Milyar lebih dari APBN, dengan total Dana Desa sebesar Rp. 657,8 Milyar untuk 636 Desa di Bali. Desa juga mendapat anggaran ADD dari APBD Kabupaten / Kota. Sinergi Desa Adat dengan Desa dalam menyelenggarakan Program akan mengoptimalkan penggunaan anggaran dalam Pembangunan Desa Adat/Desa. Dalam kerangka sinergi itu, Prajuru Desa Adat dengan Perbekel dan Perangkat Desa perlu duduk bersama guna melakukan pemilahan Program yang dilaksanakan oleh Desa Adat dan Desa, agar lebih terarah, fokus,  efektif, efisien, tepat sasaran, dan bermanfaat untuk masyarakat.
2)       Desa Adat dan Desa / Kelurahan agar bekerjasama dalam pengelolaan/pengolahan sampah, termasuk sampah plastik sekali pakai. Desa Adat mengeluarkan Awig-awig/Pararem; Desa melakukan pengelolaan/pengolahan sampah dengan menggunakan Dana Desa dari APBN / APBD; Mengadakan kegiatan rutin minimum 2 kali dalam sebulan pada hari Minggu, berupa: Gerakan Semesta Berencana Bali Resik Sampah, termasuk sampah plastik; dan Menyelenggarakan kegiatan pengembangan Budaya Hidup Bersih.
3)       Desa Adat dan Desa/Kelurahan agar secara bersama-sama menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi agar Krama Desa Adat dengan tertib dan disiplin menggunakan: Busana Adat Bali pada hari Kamis; Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali; dan Produk pertanian, perikanan, dan industri kerajinan lokal Bali.
4)       Desa agar mengalokasikan anggaran untuk kegiatan BULAN BUNG KARNO setiap bulan Juni mulai tahun 2020. Desa agar mengalokasikan anggaran untuk kegiatan pembinaan seni budaya, pesantian, serta mendukung pendidikan PAUD / TK Hindu berbahasa Bali dalam bentuk Pasraman.
5)       Desa ditugaskan melaksanakan kegiatan pembinaan seni budaya, pesantian, dan pendidikan PAUD / TK Hindu berbahasa Bali dalam bentuk Pasraman, menggunakan Dana Desa.
6)       Perbekel dan Perangkat Desa agar membantu secara sukarela administrasi pengelolaan keuangan Desa Adat.
7)        Pemerintah Provinsi akan membentuk Tim Sinergitas Desa Adat dan Desa untuk menkosolidasi dan mengarahkan fokus dan priorias pembangunan Desa Adat dan Desa. Sumber pendanaan dari APBN dalam bentuk Dana Desa, Alokasi Dana Desa (ADD) dari APBD Kabupaten/Kota, dan Dana Desa Adat dari APBD Provinsi agar dikelola secara terpadu, fokus, efektif, efisien, tepat sasaran, dan bermanfaat bagi masyarakat. Program Desa Adat dan Desa agar selaras dengan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali” sebagai pelaksanaan pendekatan pembangunan Satu Kesatuan Wilayah:
1 Pulau, 1 Pola, dan 1 Tata Kelola
8)       Pemerintah Provinsi akan membentuk Tim Pendamping bekerjasama dengan Perguruan Tinggi, ditugaskan di masing-masing Desa Adat untuk mengarahkan pelaksanaan pembangunan dan tata kelola Desa Adat sesuai dengan Perda Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali.

h.        Gubernur menyerahkan Daftar Isian Program Desa Adat (DIPDA) kepada 9 Majelis Desa Adat Kabupaten/Koa Se-Bali, secara simbolis.

Wednesday, November 20, 2019

Kemendikbud Kembangkan Asesmen Kompetensi Siswa untuk Identifikasi Capaian Belajar

Kemendikbud kembangkan asesmen kompetensi siswa untuk identifikasi capaian belajar (Sumber: Kemendikbud)


Capaian belajar siswa merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Agar, kemajuan siswa bisa dikur setiap saat. Hal inilah yang merangsang Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengembangkan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) untuk mengidentifikasi capaian belajar siswa. Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno, mengatakan asesmen evaluasi belajar ini menjadi penting untuk mengidentifikasi capaian kemampuan siswa, khususnya kemampuan dalam hal membaca.

Totok menjelaskan assesmen kompetensi ini digunakan untuk melengkapi Ujian Nasional (UN) sebagai platform evaluasi belajar pada level kognitif. “UN itu evaluasi belajar pada level kognitif dasar atau basic of cognitive, sehingga kita melengkapi dengan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia atau AKSI," disampaikan Totok saat diskusi World Bank Global di Jakarta, Selasa (19/11). 

Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) merupakan program pemetaan capaian pendidikan untuk memantau mutu pendidikan secara nasional atau daerah yang menggambarkan pencapaian kemampuan siswa. Asesmen ini untuk membantu guru mendiagnosa kemampuan siswa pada topik-topik yang substansial, dan dapat memperkaya penilaian formatif di sekolah.

Karena itu, Totok mengatakan asesmen ini juga digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam membaca bacaan sederhana sebagai dasar perkembangan siswa ke level selanjutnya. "Dikhawatirkan kalau tidak bisa membaca simple text (bacaan sederhana) itu nanti progres berikutnya untuk belajar akan terhambat. Nah di Dikbud itu, melalui assesment kemampuan membacanya kita tes sejak kelas dua," kata Totok. 

Totok menambahkan ketika siswa teridentifikasi tidak bisa membaca di kelas dua, maka masih ada waktu selama setahun atau dua tahun hingga mencapai usia 10 tahun (setara kelas empat Sekolah Dasar) sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk membaca.

Menurut Data World Bank Global, sebanyak 53 persen anak di seluruh negara berpenghasilan rendah dan mengalami tantangan krisis pembelajaran (learning poverty). Tantangan ini merupakan kondisi ketidakmampuan anak pada usia 10 tahun dalam membaca dan memahami cerita sederhana. Hal ini mengemuka saat Kemendikbud dan World Bank Global berdiskusi mengenai tantangan dan evaluasi pendidikan Indonesia, di Jakarta, Selasa (19/11/2019). 

Dalam kesempatan ini, Totok mengungkapkan saat ini masih ada ancaman krisis pembelajaran di Indonesia khususnya di daerah 3T. "Ada di daerah-daerah remote, tapi jumlah untuk Indonesia tidak separah yang digambarkan tadi, 53 persen, Indonesia tidak sebesar itu," jelasnya.

Direktur World Bank Global, Jaime Saavedra, mengatakan saat ini perlu penanganan terhadap krisis pembelajaran terutama kemampuan membaca sebagai inti dari pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di masa depan. "Kemampuan membaca menjadi kemampuan mendasar yang harus dipenuhi bagi setiap sistem pendidikan di tingkat pendidikan dasar," ujarnya. Jaime mengatakan ketidakmampuan membaca dapat mempengaruhi pemahaman bahan ajar pada level selanjutnya. 

Krisis pembelajaran ditemukan di beberapa negara yang berpenghasilan rendah, yaitu Afrika Sub Sahara sebesar 87 persen, Asia Timur Tengah sebesar 63 persen, Asia Selatan sebesar 58 persen, Amerika Latin dan Caribbean sebesar 51 persen, Asia Timur dan Pasific sebesar 21 persen, serta Eropa dan Asia Tengah sebesar 13 persen. 

Jakarta, 20 November 2019
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 
Laman:www.kemdikbud.go.id

LAGI, ATLET TAEKWONDO KADEK RISTIANA RAIH MEDALI DI POPNAS XV/2019

Taekwondoin Kadek Ristiana meraih medali di POPNAS XV/2019 (Sumber: Made Rentin/WAG)


Bali kembali mendulang prestasi olahraga. Hal yang sangat membanggakan bagi kemajuan generasi muda. Atlet Taekwondo Bali atas nama Kadek Ristiana Indriani yang turun di kelas under 63 kg puteri, sukses meraih medali perunggu. Ini merupakan medali kedua pada cabor taekwondo setelah kemarin (20/11) Aprilia persembahkan medali emas untuk Kontingen Bali.

Perjalanan Kadek Ristiana dalam pertarungan pada babak penyisihan menghadapi Atlet Kaltim menang dengan skor 34 -18, tapi pada pertandingan berikutnya dikalahkan DIY dengan skod 6 - 7, sehingga hanya mampu menyabet medali perunggu. Sedangkan Rifda Khoirunnisa Zakkya yang berlaga di kelas under 42 puteri, kendatipun sudah tampil maksimal belum mampu mempersembahkan medali setelah dikalahkan oleh Atlet Kaltim.

Cabang Olahraga Atletik juga menyumbang medali emas, atas nama Ni Putu Ita Destriani, yang turun berlaga di Nomor Lempar Lembing Puteri dengan lemparan 40,20 meter.

Dari Cabang Olahraga renang menyumbang 5 medali terdiri atas : 1 medali emas 50 meter gaya punggung putra a.n. A.A. Gede Oka Satria, 1 medali perak 50 meter gaya punggung puteri a.n. Komang Adinda Nugraha, dan 3 medali perunggu  50 meter  gaya punggung putera dan puteri a.n. Luh Putu Satya Putri dan A.A. Gede Kenas Alvaro Mahima, sedangkan estafet 4 x 100 gaya bebas putera beregu a.n. Satria Adrew Tan, I Putu Wirawan, A.A. Gede Oka Satria dan A.A. Gede Kenas Alvaro Mahima.


Kadek Ristiana saat bertanding melawan atlet lain (Sumber: Made Rentin/WAG)


Upate dan perkembangan beberapa cabang olahraga dilaporkan sebagai berikut : 
1). Cabor Bola Voli Pasir Putera masuk babak 4 Besar setelah mengalahkan tim kuat tuan rumah DKI Jakarta. 
2). Pencak Silat berhasil meloloskan 2 Pesilat, yaitu : Kelas F Kadek Andrey Nova Prayada dan Kelas G Kadek Adi Budiastra masuk babak semifinal. Sedangkan 3 atlet masih mengikuti babak penyisihan. 
3). Cabang Dayung dan Judo baru tiba hari ini (20/11) di Jakarta, diharapkan dapat mendulang mendali sehingga dapat menambah pundi - pundi medali bagi kontingen Bali.

Sampai hari kelima Rabu 20 November 2019 Kontingen Bali masih bertahan pada peringkat 4 dengan total 21 medali yaitu 7 emas, 4 perak, dan 10 perunggu.




Merawat Indahnya Pura Arjuna Metapa, Cagar Budaya Indonesia di Tengah Persawahan


Pura Arjuna Metapa tampak di tengah persawahan yang menghijau di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar – Bali (Sumber: dokumen pribadi)


Anda kenal cerita Mahabharata? Generasi milenial pasti sudah mengenalnya, bukan? Cerita klasik yang dikenal secara turun temurun menggambarkan tentang pertempuran habis-habisan antara keluarga Pandawa dan Kurawa.
Di era digital, anda bisa melihatnya dalam bentuk berbagai video di kanal YouTube. Salah satu tokoh yang menarik perhatian banyak orang adalah tokoh rupawan dan sakti yang bernama Arjuna. Dengan senjata panahnya yang mampu membunuh para musuhnya. Anda juga bisa menikmatinya dalam Cagar Budaya Indonesia.

Dilindungi UU Cagar Budaya

Sayangnya, situs purbakala yang merupakan peninggalan tokoh Arjuna tidak mudah anda temukan. Namun, anda tidak perlu khawatir. Karena, situs peninggalan tokoh Arujuna yang berbentuk “Pura Arjuna Metapa” bisa anda temukan di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar - Bali.
Jika anda melakukan perjalanan wisata ke arah Tampaksiring, kurang lebih 36 km dari Kota Denpasar, anda akan menemukan situs tersebut. Yang menarik dari Pura Arjuna Metapa adalah letaknya yang ada di tengah persawahan. Jadi, para pengunjung wajib mengikuti jalan setapak menuju lokasi tersebut. Jaraknya kurang lebih 100 meter dari jalan raya.
Pura Arjuna Metapa terletak di sebelah selatan Pura Kebo Edan atau sebelah barat (seberang jalan) dari Museum Purbakala atau Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Gianyar. Pura Arjuna Metapa merupakan peninggalan purbakala yang harus dirawat dan dijaga. Apalagi, keberadaannya telah dilindungi oleh Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pura Arjuna Metapa menjadi daya tarik wisata baik wisatawan domestik maupun mancanegara yang hendak menuju Tampaksiring.


Papan penunjuk yang menerangkan bahwa Pura Arjuna Metapa dilindungi oleh Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Sumber: dokumen pribadi)


Sungguh indah, jika dilihat dari jalan raya, Pura Arjuna Metapa ini terlihat seperti villa kecil di tengah persawahan. Faktanya, Pura Arjuna Metapa ini benar-benar minimalis. Bangunan ini mempunyai ukuran kurang lebih 2m x 2m. Tidak mempunyai pembatas atau dinding di sekelilingnya. Atapnya didesain dengan gaya khas Bali.



Bangunan Pura Arjuna Metapa didesain terbuka dengan gaya khas Bali (Sumber: dokumen pribadi)


Perlu diketahui bahwa Pura Arjuna Metapa merupakan peninggalan purbakala yang masuk dalam kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Petanu. Di mana, Sungai Petanu mengalir dari kawasan Kintamani Bangli hingga Pantai Selatan Selat Badung. 

Merawat Situs Purbakala

Meskipun bangunannya didesain terbuka dan jauh dari jangkauan, tetapi masyarakat Pejeng dan sekitarnya benar-benar merawat situs cagar budaya tersebut. Masyarakat sangat mempercayai bahwa keberadaan Pura Arjuna Metapa sangat disucikan, khususnya penganut agama Hindu Bali.  Oleh sebab itu, Pura Arjuna Metapa benar-benar dirawat dan dijaga layaknya tempat persembahyangan. Jika anda berkunjung ke situs ini, maka anda bisa melihat banyak sesaji atau canang yang berada di bagian bawah arca tokoh Arjuna.



Banyak sesaji atau canang menjadi pertanda bahwa Pura Arjuna Metapa dirawat dan disucikan masyarakat sekitar (Sumber: dokumen pribadi)


Kesucian Pura Arjuna Metapa membuat masyarakat sekitarnya yang memohon kesuburan, keselamatan dan kesehatan. Bahkan, keberadaan Pura Arjuna Metapa ini bisa melindungi dari pengaruh kekuatan negatif yang hendak menggangu kenyamanan dan keselamatan masyarakat Pejeng dan sekitarnya.  
Pura Arjuna Metapa menunjukan kepada para pengunjung dengan tokoh Arjuna menghadap ke arah barat. Dengan kedua tangan bersila di depan dada dan memegang pancuran air. Pancuran air tersebut menandakan seperti “patirthan” yang berarti pemandian air suci. Cocok sekali bahwa situs cagar budaya tersebut berada di kawasan DAS Petanu yang banyak mengandung air.



Arca tokoh Arjuna yang berdiri dengan kedua tangan bersila di depan dada dan memegang pancuran air (Sumber: dokumen pribadi)


Arca tokoh Arjuna semakin memberikan aura purbakala dengan adanya arca kedua pembantu setianya yaitu Tualem dan Merdah yang mengapit di sebelah kanan dan kirinya. Hal ini menunjukan bahwa tokoh Arjuna merupakan tokoh penting dalam sejarah.


Tualem dan Merdah, kedua abdi yang setia menemani tokoh Arjuna (Sumber: dokumen pribadi)


Kondisi Pura Arjuna Metapa yang terbuka dan jauh dari pengawasan masyarakat memberikan sedikit rasa khawatir akan kelanggengan cagar budaya tersebut. Namun, besarnya kesadaran masyarakat untuk merawat situs purbakala menjadi penenang jiwa bagi siapapun yang peduli akan cagar budaya.
Sungguh, kepedulian semua kalangan untuk menjaga dan merawat Pura Arjuna Metapa sangat penting. Cagar budaya Indonesia yang tidak ternilai harganya. Setiap saat akan memberikan pemahaman dan pembelajaran bagi generasi mendatang. Rawatlah Pura Arjuna Metapa setiap saat agar nilai sejarah tokoh Arjuna akan terus dikenang. Jangan biarkan tangan-tangan jahil merusak keberadaan Pura Arjuna Metapa.

Nah, biar masyarakat makin menyadari perlunya merawat dan menjaga Cagar Budaya Indonesia, anda bisa berpartisipasi pada kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”.  





Tuesday, November 19, 2019

Mendikbud: Bekali Anak dengan Pendidikan Karakter dan Kemampuan Adaptasi yang Mumpuni

Mendikbud Nadiem Makarim (Sumber: suara.com)


Perlu dipahami bahwa perkembangan era digital semakin luar biasa. Perubahan jaman tidak bisa dihindari. Tentu, akan berdampak kepada pola pikir generasi bangsa. Oleh sebab itu, perlu adanya jiwa adaptif pada generasi sekarang ini. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, mengatakan setiap orang tua harus dapat membekali anak-anaknya dengan kemampuan adaptasi yang mumpuni sejak dini. Sebab, menurutnya, perubahan dunia saat ini terjadi begitu cepat, sehingga manusia juga dituntut untuk dapat beradaptasi dengan lebih cepat.

"Jika tidak ingin ketinggalan jauh di belakang, bekali pendidikan karakter dan kemampuan adaptasi anak sejak dini," kata Mendikbud saat memberi sambutan pada acara Apresiasi Bunda PAUD tahun 2019 yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, Senin (18/11).

Menurut Mendikbud, sebagian karakter itu telah ada dan hendaknya terus ditumbuhkan, seperti semangat gotong-royong dan semangat toleransi, yakni menghargai segala perbedaan. "Di sinilah peran penting PAUD terutama Bunda PAUD yang mengemban tugas mulia, dengan segenap kemampuan dasar yang diperlukan dalam membentuk karakter anak sejak usia dini," jelasnya.

Ia menegaskan, konsep bermain dan belajar dalam pendidikan anak usia dini menjadi sangat penting. Bahwa dalam PAUD seorang anak bukan dituntut untuk cepat membaca atau menghitung, melainkan lebih pada membiasakan bersikap dengan baik, bersosialisasi dan berdaptasi dengan lingkungan sekitar.

"Di PAUD kita menumbuhkan kesenangan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas sekolah bermain dan dia mengetahui bagaimana harus bersikap. Itulah yang terpenting, karena pada saat dia SD nanti di situlah dia baru mulai belajar yang sifatnya kognitif," terangnya.

"Jadi kalau kita sudah benarkan karakter sejak usia dini, belajar di sekolah nantinya jadi lebih mudah. Ini koneksi yang harus kita sebarkan," imbuhnya.

Lebih lanjut Mendikbud menambahkan, dengan adanya acara Apresiasi Bunda PAUD yang digelar Kemendikbud, diharapkan dapat menjadi suntikan semangat bagi pendidikan PAUD di seluruh pelosok negeri. Ia juga berpesan, baik guru, orang tua dan Bunda PAUD hendaknya terus menjadi mitra untuk saling menjalin kerja sama dalam rangka menanamkan pendidikan karakter kepada anak sejak usia dini.

"Harapan kita semoga penghargaan Apresiasi Bunda PAUD ini dapat melahirkan generasi yang bisa membawa Indonesia menjadi generasi maju dan unggul," pungkasnya.

Jakarta, 18 November 2019
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: www.kemdikbud.go.id

Wujudkan Prioritas Utama Pembangunan, Kemendikbud Luncurkan Program Penguatan Pendidikan Karakter PAUD

Penguatan pendidikan karakter saat PAUD (Sumber: pkbmdaring.kemdikbud.go.id)



Anak-anak aadalah generasi masa depan bangsa. Generasi yang akan menggantikan estafet kepemimpinan masa depan bangsa. Maka dari itu, pendidikan sejak usia dini terus digalakan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas), meluncurkan program Penguatan Pendidikan Karakter PAUD, di Balai Kartini, Jakarta, Senin (18/11). Peluncuran tersebut dilakukan oleh Dirjen PAUD dan Dikmas, Harris Iskandar pada acara Apresiasi Bunda PAUD Tingkat Nasional 2019.

"Penguatan Pendidikan Karakter PAUD sebagai upaya untuk mewujudkan prioritas pertama pembangunan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter," ujar Harris.

Pembangunan karakter, lanjut Harris, merupakan kebijakan prioritas pemerintah melalui agenda Nawacita dan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

"Kebijakan tersebut mendorong setiap satuan PAUD untuk mampu mengembangkan jejaring tripusat pendidikan dengan membumikan Pancasila melalui pembiasaan nilai-nilai utama, yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas serta penembangan nilai-nilai berdasarkan visi-misi, kearifan lokal, dan kreativitas satuan PAUD masing-masing," ujarnya.

Harris menambahkan, pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan orang tua, keluarga, dan masyarakat yang memerlukan perluasan akses dan peningkatkan mutu layanan PAUD yang berkualitas.

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, dikatakan Harris, pemerintah melalui Kemendikbud telah mencanangkan Gerakan Nasional PAUD berkualitas sejak 19 Maret 2015. "Menyikapi pentingnya PAUD, pemerintah terus mendorong kesadaran dan partisipasi seluruh lapisan masyakarat untuk menghadirkan layanan PAUD Berkualitas," terang Harris.

"Mengingat besarnya tantangan yang dihadapi, pemerintah membutuhkan dukungan semua pihak. Salah satu yang strategis adalah dukungan dan peran Bunda PAUD, mulai tingkat nasional sampai tingkat desa/kelurahan, sebagai motor Gerakan Nasional PAUD Berkualitas," imbuhnya kemudian.

Jakarta, 18 November 2019
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: www.kemdikbud.go.id

Fagetti sebagai Supplier Marmer Utama di Indonesia

Fagetti sebagai Supplier Utama Marmer di Indonesia Setiap orang ingin memiliki bangunan dengan tampilan yang mewah dan pres...