Saturday, May 30, 2020

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona


Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi)





Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak bisa melewatkan Lebaran Ketupat. Orang Jawa biasa menyebutnya Badanan Kupat atau Riyoyo Kupat. Lebaran Ketupat ini berlangsung seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.

 

Silaturahmi di Lebaran Ketupat

 

Lebaran Ketupat merupakan tradisi dari kearifan lokal bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Lebaran Ketupat menjadi ajang untuk silaturahmi bersama saudara atau tetangga terdekat. Namun, karena kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Maka, perayaan Lebaran Ketupat berlangsung di rumah masingt-masing.

 

Biasanya, pagi ketika Lebaran Ketupat, warga secara bersamaan berkumpul di masjid atau Mushola. Mereka membawa ketupat yang telah matang. Dicampur dengan lauk-pauk sesuai selera masing-masing. Ketika, jumlah warga sudah berkumpul semua. Maka, sang ustad setempat akan memanjatkan doa keselamatan. Serta, doa agar dipanjangkan umurnya bisa bertemu bulan Ramadan tahun depan.

 

Ketika, acara selamatan perayaan Lebaran Ketupat selesai. Maka, warga akan membawa ketupat yang sudah matang tersebut secara random. Mereka bebas mengambil ketupat yang mana saja. Dengan kata lain, mereka seperti bertukar ketupat. Hal ini menandakan bahwa keikhlasan setiap orang. Agar, diampuni dosa yang telah diperbuatnya.

 

Lebaran Ketupat memberikan arti penting yaitu upaya agar dimaafkan segala kesalahan dan dosa sesama manusia. Saat Lebaran Ketupat, setiap orang benar-benar lepas dari segala dosa. Serta, kembali ke fitrah (kesucian) seperti bayi yang baru lahir.

 

Lebaran Ketupat di Rumah Saja

 

Namun, saat Pandemi Virus Corona, acara kumpul-kumpul di masjid atau mushola ditiadakan. Kini, berdoa demi keselamatan dan dipanjangkan umurnya. Agar, bisa bertemu di bulan Ramadan tahun depan, hanya bisa dilakukan di rumah saja. Menjelang malam Lebaran Ketupat, acara masak ketupat dimulai. Agar, pagi-pagi bisa dinikmati sekeluarga. Dan, berdoa demi keselamatan dunia dan akhirat.

 

Percayalah, meskipun kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, tidak mengurangi nilai ibadah untuk merayakan Lebaran Ketupat. Sebuah tradisi yang memberikan banyak arti.

 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya biasa merangkai ketupat sendiri. Sambil mengisi waktu luang. Namun, kini, untuk menghemat waktu, maka membeli ketupat yang sudah jadi di pasar adalah pilihan yang baik. Juga, membantu orang lain untuk menjemput rejeki.

 

Menarik, yang membuat ketupat jadi, justru bukanlah orang Muslim. Tetapi, banyak masyarakat Hindu Bali yang menjual ketupat yang siap di masak tersebut. Masyarakat Hindu Bali sangat memahami perayaan Lebaran Ketupat. Sepertinya, mereka sudah paham bahwa besok adalah perayaan Lebaran Ketupat bagi umat Islam.

 

Bahkan, saya melihat di sepanjang jalan yang dekat dengan pasar badung Denpasar. Di mana, tidak sedikit ibu-ibu atau nenek-nenek yang dengan lincah tangannya membuat ketupat. Dan, ketupat tersebut untuk dijual. Ini menjadi pemandangan menarik.

 

Lebaran Ketupat yang dirayakan oleh umat Islam justru telah dipahami oleh penganut agama lain. Hal ini menjadi bukti bahwa Lebaran Ketupat telah menjadi tradisi puluhan tahun silam. Bahkan, saat kondisi Pandemi Virus Corona, maka umat Islam tidak menyurutkan perayaan Lebaran Ketupat. Serta, penganut agama lain pun tidak lupa perayaan Lebaran Ketupat yang dirayakan umat Islam.

 

“Pokoknya besok harus masak ketupat pah. Buat merayakan Lebaran Ketupat” kalimat istri yang mengingatkan saya akan peristiwa Lebaran Ketupat.

“Memang harus?” jawab saya pura-pura tidak tahu.

“Ya harus pah. Kan, biar dosanya lebur semua. Di Ngawi (Jawa Timur) kan tiap tahun pasti merayakan Lebaran Ketupat” kata istri meyakinkan.

“Ya udah kalau begitu” jawab saya dengan enteng.      

 

Ketika keluarga besar di Ngawi Jawa Timur akan merayakan Lebaran Ketupat. Maka, saya pun mesti merayakan meskipun ada di perantauan. Ketika, tidak bisa mudik Lebaran tahun ini.

 

Tahun 2020 memang sungguh berbeda. Bukan hanya larangan mudik dan Lebaran yang dirayakan di rumah saja. Lebaran Ketupat pun dirayakan dari rumah masing-masing. Bukan hanya meningkatkan jiwa relejius. Tetapi, sebisa mungkin mempertahankan kearifan lokal.

 

Lebaran Ketupat tidak seperti memasak ketupat layaknya penjual Ketupat tahu, yang dilakukan setiap hari. Tetapi, Lebaran Ketupat mempunyai makna bahwa setiap orang akan melakukan ketupat. Yang dalam Bahasa Jawa berarti “kupat”. Kupat itu kepanjangan dari “ngaku lepat atau mengaku kesalahan”.

 

Jadi, saat umat Islam merayakan Ketupat Lebaran, maka sejatinya umat Islam sedang mengakui segala kesalahan yang telah dilakukannya. Dan, memohon maaf lahir dan batin. Agar, dihapuskan segala dosa dan kesalahannya. Selanjutnya, akan kembali ke fitrah (kesucian).

 

Selamat merayakan Lebaran Ketupat bagi brosis semuanya.

 

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H

Minal Aidin Wal Faidzin.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Nyuwun Agunging Pangapunten sedaya kelepatan.   



Friday, May 22, 2020

“Prank” ala M. Nuh di Acara Lelang Sepeda Motor Listrik Gesits Jokowi


Konser Virtual “Berbagi Kasih Bersama Bimbo” yang diselenggarakan pada tanggal 17 Mei 2020 lalu di studio TVRI (Sumber: twitter/@rozid_sagadaqu)

 

 

“Firaun marah kepada Nabi Musa As. Dia lalu memerintah para tukang sihirnya. Mengerahkan tongkatnya, yang kemudian menjadi ular. Beberapa menyerang Nabi Musa As. Atas ijin Allah SWT, Nabi Musa As pun mengeluarkan mu’jizat tongkatnya. Tongkat tersebut menjadi ular. Yang ukurannya lebih besar dari ular para tukang sihir Fir’aun. Selanjutnya, ular tongkat Nabi Musa As memakan semua ular jelmaan tongkat para tukang sihir Fir’aun”.  

 

  

 

Ilustrasi di atas merupakan sepenggal cerita fakta tentang perjalanan Nabi Musa As yang ada dalam Al-Qur’an. Keberanian Nabi Musa As di hadapan penguasa yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, Fir’aun.

 

Cerita tersebut menunjukan bahwa orang yang mempunyai kekuasaan tinggi. Bahkan, yang mengaku dirinya Tuhan macam Fir’aun bisa dipermalukan oleh rakyat biasa. Ya, rakyat biasa yang tidak punya apapun mampu membuat malu orang yang punya jabatan.

 

Bagaimana dengan era digital sekarang ini? Media sosial telah mempunyai kosakata baru yang bernama PRANK. Di mana, sebuah konten yang bertujuan untuk “mengerjai” orang lain. Terlepas, konten tersebut berjalan secara alami atau rekayasa. Terlepas dari merugikan atau menguntungkan orang lain. Yang jelas, kata PRANK ini telah menjadi kosakata yang familiar di era media sosial.

 

Telepon Seharga Rp2,55 Miliar

 

Beberapa minggu ini, media sosial telah dihebohkan dengan konten PRANK yang dilakukan oleh Youtuber Ferdian Paleka. PRANK yang merugikan orang lain itu akhirnya membawa sang Youtuber ke bui.

 

Belum lepas kekesalan atas konten PRANK Ferdian Paleka. Kini, jagat maya dihebohkan dengan Tindakan yang dilakukan oleh Muhammad Nuh (M. Nuh). Kali ini, tindakan M. Nuh tergolong nekad “Tingkat Dewa”. Bukan hanya merugikan satu atau dua orang. Tetapi, tindakannya telah membuat “malu” para pejabat tinggi negara.

 

Kejadian berawal dari acara Konser Virtual “Berbagi Kasih Bersama Bimbo” yang diselenggarakan di studio TVRI tanggal 17 Mei 2020 lalu secara langsung pukul 19.30-22.00 WIB. Acara tersebut dihelat oleh MPR RI yang bekerjasama dengan Badan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sedang acara tersebut bertujuan untuk menggalang dana kalangan yang terkena dampak COVID-19.

 

Konser virtual penggalangan dana tersebut dimeriahkan oleh beberapa artis terkenal, di antaranya Bimbo, Rossa, penyanyi dangdut Via Vallen, pemenang Indonesian Idol Lyodra tahun 2020, dan artis-artis lainnya.

 

Acara amal tersebut mampu mengumpulkan donasi hingga Rp4 miliar. Dan, menurut Ketua MPR RI menyatakan bahwa donasi yang terkumpul tersebut akan diserahkan kepada para seniman dan pekerja seni. Melalui Yayasan Generasi Lintas Budaya yang dipimpin oleh aktris Olivia Zalianty.

 

Tidak ketinggalan, juga diadakan lelang sepeda motor. Yang menarik adalah sepeda motor yang dilelang ini “bukan sembarang sepeda motor”. Namun, sepeda motor listrik Gesits karya anak negeri bertenaga baterai.

 

Sepeda Motor Gesits mampu menempuh jarak 70 kilometer untuk sekali pengisian baterai. Waktu sekali pengisian baterai sekitar tiga jam. Yang bikin “wah” dan bernilai, sepeda motor listrik ini telah dibubuhi tanda tangan orang nomor satu RI Presiden Jokowi.


Presiden Jokowi sedang membubuhkan tanda tangan di sepeda motor listrik Gesits (Sumber: suaranews.com) 

 

Acara lelang sepeda motor listrik tersebut dipandu oleh artis Choki Sitohang. Aktris Ollvia Zalianty dan host ternama Andi F. Noya. Sedangkan, acara lelang dipimpin langsung oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Nasional (Kadin) Rosan Roslani.

 

Proses penawaran harga lelang berlangsung alot.  Lelang sepeda motor Gesits buka harga Rp700 juta dari salah satu penelpon. Selanjutnya, harga penawaran itu makin tinggi. Bahkan, bisa menembus angka penawaran yang fantastis hingga mencapai angka Rp 1,5 miliar.

 

Ternyata angka penawaran tersebut masih berlangsung seru dan menegangkan.   Yang, kemudian jumlahnya terus bertambah setiap menit hingga mencapai angka Rp1,5 miliar.

 

Penawaran harga lelang makin alot, saat tiga penelpon memberikan penawaran harga yang sama yaitu sebesar Rp2,5 miliar. Salah satu penawar tersebut adalah petinggi PDIP Maruarar Siarait.

 

Namun, saat panitia kebingungan untuk memutuskan pemenang atas penawaran tersebut. Di ujung telepon panitia lelang, muncul penawaran yang lebih tinggi, Dia bernama Muhammad Nuh. Yang mengaku sebagai pengusaha asal Jambi. Ternyata, penawaran tersebut adalah penawaran yang terakhir. Tidak ada yang berani menawar lagi.

 

Untuk memastikan pemenangnya, pemandu acara Choki Sitohang sempat meyakinkan bahwa M. Nuh adalah orang yang sudah terverifikasi. Choki Sitohang sempat bicara pada panitia lelang agar mengoreksinya, jika dirinya salah.

 

Bahkan, Choki Sitohang sempat bertanya kepada Wanda Hamidah untuk memastikan bahwa penawaran tersebut benar-benar serius. Dan, Wanda hamidah dengan mantap menjawab pertanyaan Choki Sitohang. Bahwa, pemenangnya adalah M. Nuh. Seorang pengusaha asal Kampung Manggis Jambi. Bahkan, yang bersangkutan sudah ditelepon dua kali,  dan dinyatakan terverifikasi.

 

Selanjutnya, Choki Sitohang pun dengan semangat memutuskan kepada siapa sepeda motor gesits tersebut dilepas. Dan, M. Nuh adalah pemenangnya dengan nilai penawaran tertinggi sebesar Rp2,55 miliar.  

 

Ternyata Buruh Harian Lepas (BLH)

 

Sungguh mengejutkan, sang pemenang lelang sepeda motor listrik Gesists Presiden Joko Widodo M. Nuh diproses di Polda Jambi. Dia telah melakukan aksi “penipuan”. Karena, tak jua membayar uang lelang yang ditagih oleh panitia lelang.

 

Muhammad Nuh yang telah melakukan penipuan di acara lelang sepeda moto Gesits Jokowi (Sumber: suara.com)

 

Menarik, beberapa media online melansir berita, menurut Kapolda Jambi, Irjen Firman Setyabudi putra bekas Wapres Try Sutrisno itu, menyatakan bahwa M. Nuh tidak paham acara yang diikuti tersebut adalah acara lelang.

 

Dia mengira bakal dapat hadiah. Bahkan, informasi tambahan menyatakan bahwa M. Nuh datang untuk meminta perlindungan kepada pihak kepolisian.

 

Menurut pendapat saya, anda hal yang unik yang membutuhkan penalaran lebih dalam dari alasan M. Nuh. Pertama, dia memang benar-benar tidak mengetahui itu acara lelang. Mungkin, M. Nuh mengira bahwa acara tersebut adalah acara “Tebak Harga”.

 

Jadi, siapapun yang mampu harga yang mendekati harga sesungguhnya, akan mendapatkan hadiah. Seperti yang sering tayang di Televisi Swasta. Hal ini diperkuat dengan status pekerjaan dia sebagai Buruh Harian Lepas (BLH). Bahkan, terbukti juga saat Wanda Hamidah yang menyatakan sudah menelepon M. Nuh dua kali. Bahwa, dia benar-benar menginginkan hadiah, dan dia yang terpilih.

 

Kedua, justru M. Nuh sudah memahami acara tersebut. Dengan kata lain, dia sudah paham dan ingin melakukannya secara “iseng-iseng” dan percaya diri. Seperti apa yang dilakukan oleh pelaku bullying (perundungan). Kepada anak yang bernama Rizal (penjual Jalangkote) di Sulawesi Selatan baru-baru ini.  

 

Dengan kata lain, M. Nuh dengan sengaja melakukan aksi “mengerjai” atau PRANK di acara tersebut. Aksi tersebut bisa diperkuat dengan adanya pembohongan informasi. Yaitu, dia membohongi jenis pekerjaan dan alamat tinggal.

 

M. Nuh yang beralamat sesuai KTP di Kampung Manggis RT/RW 020/000, Desa Sungai Asam, Kecamatan Pasar Jambi, Provinsi Jambi. Tetapi, saat diverifikasi oleh panitia lelang, dia mengatakan dengan alamat di Kampung Manggis, Jambi. Dari sini, saya melihat ada niat dia untuk menghilangkan jejak aksinya.

 

Lagi, untuk meyakinkan panitia lelang, maka dia berani untuk membohongi jenis pekerjaan sebagai “pengusaha”. Sebuah jenis pekerjaan yang semua orang akan mempercayainya untuk membayar uang sebesar Rp2,55 miliar.  

 

Dari dua hal unik di atas, saya tidak bisa memberikan kesimpulan mana yang benar. Hanya Allah SWT dan M. Nuh yang tahu. Entah dia jujur tidak tahu acara lelang atau sudah tahu acara tersebut. Tetapi, ingin berbuat iseng-iseng tingkat dewa, yang membuat trending di jagat media sosial. Semua terserah kepada anda. Saya hanya memberikan dua hal unik tersebut.     

 

Yang jelas, atas aksi M. Nuh, banyak komentar yang pro dan kontra. Banyak netizen yang berkomentar beragam di media sosial. Kesimpulan menarik dari komentar Netizen bahwa M. Nuh telah melakukan aksi PRANK yang luar biasa berani.

 

Bukan hanya kepada satu orang, tetapi kepada ratusan orang. Bahkan, kepada semua rakyat Indonesia, khususnya Presiden RI. Netizen pun memberik gelar kepada M. Nuh sebagai “The Lord of Prank”.

 

Menurut media online suara.com (21/5/2020), mendengar kabar bahwa Polda Jambi sedang memproses M. Nuh. Maka, Ketua MPR RI memberikan apresiasi yang tinggi kepada Polda Jambi. Beliau juga berharap agar orang yang terkait dengan acara lelang tersebut dilepaskan. Dengan alasan tidak ada pihak yang dirugikan.

 

Semoga kejadian yang dilakukan oleh M. Nuh menjadi pelajaran berharga buat kita semua.



Saturday, May 2, 2020

Marjan dan Kearifan Lokal

Marjan dan Kearifan Lokal (Sumber: Bukalapak/diolah)


“Dalam sebuah pesta kerajaan. Sang Raja memutuskan untuk memberikan tahtanya kepada si bungsu, Purbasari. Namun, sepertinya. Proses pemberian tahta tersebut membuat iri sang kakak, Purbararang. Saat proses pemberian tahta, datanglah sang Penyihir jahat. Yang mempengaruhi Purbararang untuk merebut tahta yang telah diberikan kepada adiknya. Pengaruh sihir membuat Pubasari teraniaya. Dengan wajah rusak karena kutukan. Dan, rasa malu yang luar biasa. Karena, semua peserta pesta tersebut memalingkan wajahnya. Purbasari melarikan diri ke dalam hutan. Untuk menenangkan diri dan menghilangkan rasa malu”.



            Itu adalah sekilas gambaran sekuel iklan Marjan Bagian 1 pada bulan Ramadan 2020. Yang mengusung tentang Kearifan Lokal. Yaitu, mengangkat cerita rakyat yang bertemakan Purbasari dan Lutung Kasarung.

KEARIFAN LOKAL & Penanda Ramadan

Mengupas produk minuman semacam MARJAN memang sungguh menarik. Kalou boleh jujur, Marjan adalah produk yang mempunyai ciri khusus. Di mana, setiap kurang lebih satu bulan menjelang bulan Ramadan. Maka, iklan Marjan akan muncul, menghiasi televisi, Youtube dan media sosial.

Banyak kalangan mengaggap bahwa tak lengkap rasanya bulan Ramadan. Jika, tidak muncul iklan Marjan di televisi. Berasa ada yang kurang. Sama halnya, di kampung saya Brebes Jawa Tengah. Lebaran tak lengkap rasanya, tanpa membunyikan petasan. Yang bunyinya bagai letusan granat.

Jadi, jika anda tidak punya kalender, jam tangan, televisi atau yang lainnya. Anda bisa lihat tayangan Marjan di televisi tetangga. Itu berarti sebagai tanda akan datang bulan Ramadan. Begitulah kira-kira anggapan banyak orang. Marjan seperti menjadi hilal. Di mana, kurang lebih sebulan lagi akan memasuki datangnya bulan Ramadan.

Selain sebagai penanda memasuki bulan Ramadan, Marjan juga mempunyai ciri yang menarik. Iklan yang ditayangkan baik di televisi maupun di Youtube & media sosial patut ditiru. Mengapa? Marjan selalu mengusung tentang kearifan lokal. Yaitu, mengangkat tema cerita rakyat yang beredar dan telah dikenal lama oleh masyarakat.

Tahun 2019 lalu, iklan Marjan mengangkat tema tentang Timun dan Buto Ijo. Semua masyarakat Indonesia pasti tahu. Dan, kini, tahun 2020, Ramadan yang dialkukan saat Pandemi Virus Corona mengangkat tema yang ciamik. Yaitu, Purbasari dan Lutung Kasarung, yang cerita singkatnya, sudah dijelaskan di atas.     
  

Salah satu sekuel iklan Marjan Sekuel 2 yang Mempertemukan Purbasari dan Lutung Kasarung (Sumber: Youtube/screenshoot)


Menariknya lagi, cerita rakyat yang ditampilkan oleh Marjan dibuat berseri. Antara 3-4 bagian. Jadi, sebagai contoh, menjelang Ramadan menampilkan bagian 1. Kemudian, 10 hari Ramadan bagian kedua dan seterusnya. Hal ini akan membuat penonton semakin penasaran. Ingin mengetahui jalan cerita selanjutnya. Meski, cerita tersebut sebagai iklan. Inilah uniknya Marjan.

PEMAHAMAN BAWAH SADAR

Branding Marketing Marjan dikemas merakyat, menghibur dan penuh edukasi. Cerita rakyat yang ditampilkan secara langsung akan memberikan pendidikan bagi masyarakat. Khususnya, anak yang masih sekolah, bahwa jalan cerita yang ditampilkan adalah untuk pendidikan.   

Di saat produk lain menampilkan iklan-iklan bergaya milenial. Tetapi, Marjan sungguh berbeda. Marjan justru tertarik menampilkan cerita rakyat, yang “mungkin” masyarakat belum banyak tahu. Namun, dengan munculnya iklan Marjan tersebut. Maka, penonton secara tidak langsung memahami iklan yang sedang ditayangkan.

Dalam ilmu Pemahaman Bawah Sadar menyatakan bahwa sebuah kejadian, gambar, foto atau audio. Yang setiap saat ditampilkan secara massif dan berkali-kali. Sangat berpengaruh terhadap kesadaran banyak orang. Masyarakat secara langsung akan memahami apa yang terlihat, terbaca dan terdengar.

                                                                                                                    Anda masih ingat dengan Mars sebuah partai. Yang ditayangkan setiap saat di salah satu stasiun televisi swasta, bukan?. Saat menjelang Pemilu dan Pilpres tahun 2019. Begitu masif dan seringnya Mars Partai tersebut ditayangkan. Saya sendiri yang tidak mau hafal liriknya, sampai hafal di luar kepala. Bahkan, anak-anak kecil saja hafal dengan Mars Partai tersebut. Itulah kekuatan Pemahaman Bawah Sadar Manusia.


Kembali ke iklan Marjan. Iklan itu tayang hampir setiap saat, selama kurang lebih 30 hari sebelum dan saat bulan Ramadan 2020. Bahkan, saat bulan Syawal pun masih tayang. Kondisi tersebut secara pemahaman bawah sadar akan mempengaruhi pikiran penonton. Agar bisa memahami apa yang terkandung di dalamnya. Apalagi, iklan Marjan yang sungguh unik. Tentu, menarik banyak orang untuk menontonnya.

Jujur, saya sendiri malah tidak hafal “tagline” yang dibawa oleh produk minuman Marjan ini. Namun, Ketika saya melihat iklan yang bertemakan tentang cerita rakyat. Maka, pikiran saya langsung meluncur, “oh, itu iklan Marjan”. Inilah cara strategi marketing yang baik. Di mana, masyarakat mampu merekam keunikan dari sesuatu produk. Dan, pikiran masyarakat langsung tertuju ke produk tertentu, yang menjadi ciri khasnya.  

Saya yakin, kalau melihat masalah rasa, pasti banyak yang lebih bagus dari Marjan. Namun, Marjan memberikan keunikan tersendiri untuk masyarakat dalam hal marketing-nya. Masyarakat akan berpikir bahwa satu-satunya iklan produk yang mengusung tema cerita rakyat adalah Marjan.  Tidak ada yang lain.

Rasa kearifan lokal yang dikembangkan Marjan juga mempunyai nilai tersendiri. Iklannya juga dibuat seperti membuat sekuel film laga, dengan efek yang bagus. Lihatlah pada sekuel kedua, adegan Purbasari dan Lutung Kasarung.

Adegan Lutung Kasarung yang berputar-putar dan Purbasari yang mengeluarkan tenaga dalam. Saya melihat bahwa efek ilmu tenaga dalam video iklan ini “amazing” banget. Bak film laga yang mengembangkan efek CGI (Computerized Grafic Ilustrator). Maaf banget jika penamaan efek ini salah, Corect Me If It Wrong (CMIIW).

Yang jelas, iklan Marjan memberikan kesadaran kembali masyarakat. Agar memahami kearifan lokal yang ada. Salah satunya, cerita rakyat yang berkembang sejak dulu. Di mana, masyarakat mulai tidak peduli dengan cerita rakyat tersebut. Tetapi, masyarakat lebih hepi dengan cerita-cerita dalam film box office Film Barat.

Terima kasih Marjan. Engkau, bukan hanya menjual minuman segar untuk bekal buka puasa. Yang mengundang  selera. Dan, seringkali membuat air liur menetes. Tetapi, engkau telah menyadarkan masyarakat Indonesia. Untuk mencintai budayanya. Cerita rakyat yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kearifan lokal yang tak pernah lekang oleh waktu.  



Monday, April 27, 2020

"Makan di Luar" yang Banyak Makna

Makan di luar yang dilakukan oleh para SPG sebuah supermarket (Sumber: dokumen pribadi)




         "Makan di luar yuk". Kalimat yang enak didengar dan siapapun membayangkan yang serba enak. Kata "Makan di Luar" mempunyai arti yang ambigu. Ketika kalimat tersebut diucapkan oleh yang berduit. Maka, bayangan anda adalah makan di restoran dengan menu yang enak-enak. Apalagi, jika sang pengajak adalah relasi, kolega, teman atau orang yang disayangi.

            Namun, arti kalimat itu bisa berubah persepsi, ketika sang pengajak adalah orang yang notabene hidup pas-pasan. Dan, kalimat itu akan menjadi ambigu (dua arti). Bisa mempunyai makna yang indah, seperti yang diucapkan sang pengajak yang berduit. Namun, bisa mempunyai makna yang sebenarnya. Yaitu, makan di luar berarti makan yang dilakukan di luar kawasan dalam rumah. Bisa dilakukan di teras, halaman rumah atau tempat lainnya. Yang penting dilakukan bukan di area dalam rumah.

         Kini, kalimat "Makan di luar Rumah" justru semakin mempunyai makna yang banyak. Pertama, aktifitas makan yang dilakukan di restoran atau rumah makan. Tentu, aktifitas makan ini dilakukan oleh orang untuk menjaga gengsi atau maksud lainnya. Jadi, jika sang pengajak adalah orang yang berduit, habis dapat rejeki atau proyek. Maka, orang yang diajak, memahami benar bahwa Makan di Luar benar-benar mempunyai arti makan di restoran atau rumah makan.

            Kedua, Makan di Luar sama halnya dengan makna pertama. Namun, aktifitas ini, biasanya dilakukan oleh orang, kelompok atau keluarga yang sedang bepergian atau berwisata. Makan di Luar mempunyai makna istimewa. Biasanya, Dan, Makan di Luar mempunyai makna makan yang mewah. Karena, kebutuhan makan sudah dipersiapkan sejak dari rumah. Terlepas, makanan tersebut hasil dari beli di restoran atau warung. Atau, mungkin, makanan yang dimasak sendiri.

          Ketiga, makna ini identik dengan makna ketidakmampuan atau kondisi yang tidak nyaman. Jadi, jika anda disuruh makan di luar. Maka, kondisi dalam rumah biasanya tidak nyaman. Bisa, kondisi rumah yang sedang diperbaiki atau tidak muat banyak orang, seperti kos-kosan dan kontrakan. Atau, karena tidak punya tempat tinggal, maka aktifitas Makan di Luar bisa dilakukan. Dengan demikian, makna ketiga dilakukan karena faktor kondisi yang tidak nyaman.

         Keempat, Makan di Luar sering dijadikan plesetan untuk membuat orang lain memberikan banyak makna. Contoh, karena anda ingin mengajak teman kamu agar mau bergabung dalam petualangan misteri. Maka, anda memberikan rangsangan bahwa jika mau diajak bertualang, maka teman anda akan diajak makan di luar. 

           Dalam kondisi ini, maka orang lain bebas memberikan persepsi. Bisa, benar-benar makan di luar karena kondisi tidak nyaman. Bisa, makan di luar karena membawa makanan sendiri. Atau, makan di luar, di sebuah restoran atau rumah makan. Semua makna tersebut tergantung persepsi orang. Makna sejatinya dari kalimat tersebut akan menemukan titik temu, jika kedua pihak (pemberi informasi dan penerima informasi), sama-sama memahami apa maksud yang disampaikan. 

         Oleh sebab itu, kalimat "Makan di Luar" mempunyai banyak makna. Bisa membawa kesenangan. Tetapi, bisa menjadi ejekan. Semua tergantung sang pemberi informasi dan penerima informasi, Jika, penerima informasi telah memahami makna yang dimaksud sang pemberi informasi. Selanjutnya, akan terjadi kesepakatan makna yang dimaksud.

              Jadi, jika anda diberi informasi oleh orang lain untuk "Makan di Luar", maka pastikan bahwa kalimat tersebut jelas maknanya. Agar, tidak terjadi salah maksud dari kalimat yang disampaikan. Karena, kalimat "Makan di Luar" telah mempunyai banyak makna. Kenali makna yang dimaksud oleh sang pemberi informasi. Agar, anda tidak terjebak dari makna lain yang diinginkan sang pemberi informasi. Alih-alih, anda berharap makan di restoran mewah. Gak tahunya, anda hanya diberi nasi bungkus dan disuruh makan di teras kos-kosan. 

Berharap Kaya Dari Youtube

Berharap kaya dari Youtube (Sumber: dokumen pribadi)





            Setiap orang Berharap Kaya Dari Youtube. Youtube bukan hanya sekedar hobi. Tetapi, faktanya, Youtube telah membuat siapapun mabuk kepayang. Betapa tidak, dari Youtube, telah membuat banyak orang menjadi kaya. Namun, mengelola akun Youtube CASMUDI VLOG bukanlah "segampang membalikkan telapak tangan". Di dalamnya, penuh dengan pembelajaran serius. Agar, akun Youtube anda dinikmati banyak orang. Bisa menarik ribuan bangkan jutaan viewers.


PRANK


           Saya tidak akan bicara Youtube dari sisi para selebritis (public figure). Percaya atau tidak, nama tenar mereka sangat mendukung ketenaran akun Youtubenya. Tidak perlu menggunakan kata kunci terlalu ribet, menggunakan Tube Buddy atau tumbnail lainnya. Karena, fans saja sudah menunggu postingan mereka. Terlepas dari menarik atau tidaknya konten mereka.

           Saya akan berbicara dari "sisi orang biasa". Di mana, untuk membangun channel Youtube perlu perjuangan dan tetesan air mata. Dalam dunia peryoutuban, siapapun tidak bisa menerka konten apa yang akan menjadi trending. Di mana, video yang diposting mengundang banyak penonton. Namun, sebagai Youtuber, juga dituntut untuk adaptasi sesuaii dengan perkembangan jaman. 

            Meski, tren yang terjadi tidak menunjukan kontren yang "memanusiakan manusia". Sebut saja, konten PRANK tetap menjadi konten andalan para Youtuber, untuk menggali jutaan penonton. Meski, konten tersebut, banyak kalangan yang menganggap (maaf) konten ssampah. Karena, "ngerjain" orang lain demi menggali pundi-pundi.

        Sampai detik ini, saya belum "sreg" untuk membuat konten PRANK. Dan, saya pernah memposting masalah PRANK di akun Youtube saya CASMUDI VLOG. Saya memahami benar para Youtuber menggunakan konten PRANK untuk menggali penonton makin banyak. Muaranya, tentu mendapatkan penghasilan yang luar biasa. Bahkan, dengan berjubelnya penonton, peluang besar untuk menjadi kaya di Youtube bukanlah isapan jempol belaka.

          Selain PRANK, banyak konten yang mendadak menjadi trending. Seperti konten yang berisi tentang SOCIAL EXPERIMENT, Mendadak Gila dan lainnya. Jenis-jenis konten tersebut adalah beberapa contoh yang menarik banyak penonton Youtube. Anda tidak akan bisa memptediski bahwa konten anda akan menjadi trending. Namun, beberapa jenis konten yang telah saya sebutkan di atas, rerata mengundang banyak penonton. Akhirnya, menambah banyak Subscriber (pelanggan).


MENDULANG BANYAK VIEWERS 


             Untuk memonetisasi di akun Youtube memang susah. Saya harus beberapa kali mengajukan ke Youtube agar akun Youtube saya ditinjau (review). Saya telah menulis perjalanan saya menuju proses monetisasi Youtube di artikel sebelumnya. Banyak air mata untuk mencapai "monetisasi Youtube". Setelah monetisasi tercapai menjelang Tahun Baru 2020, sekarang mendulang viewers hingga ratusan ribu butuh perjuangan yang gigih. Apapun, saya lakukan, dari membuat Tumbnail yang menarik, hingga membuat kata kunci yang bisa terbaca di Google.

            Kenyataannya, viewers justru masiih suka mampir untuk menonton konten-konten seperti saya jelaaskan di atas. Apalagi, jika akun para selebritis. Tidak perlu ditanya lagi. Konten yang selalu menampilkan sisi kelebihan (kekayaan) selalu menarik para fans dan penonton lainnya. Penonton selalu merasa kepo ingin menikmati sisi kehidupan para selebritis. Makanya, yang selalu menjadi trending di Youtube "pasti tidak jauh-jauh dari para selebritis". Atau, Youtuber yang mempunyai subscriber dari ratusan hingga jutaan.

          Tentu, setiap Youtuber berharap besar seperti video Youtuber yang selalu trending di Youtube. Apapun dilakukan. Dari membuat konten yang sedang trending. Seperti, konten cover lagu "nyanyian Aisyah Istri Rasulullah". Yang trending menjelang Ramadan 2020, lebih dari 50 persen adalah konten cover lagu tersebut. 

             Masalahnya, membuat konten cover lagu bukanlah masalah gampang. Meski ada musik pengiring pribadi. Atau, anda jago aransemen musik. Jika tidak, maka anda tinggal ngikutin musik yang telah ada. Masalahnya, ada hak cipta yang dimiliki oleh pemilik lagu tersebut. 

          Sangat riskan jika ada tuntutan dari sang pemilik lagu. Apabila, anda tidak membeli royaltinya. Masih ingat kasus Atta Halilintar kan? Yang menggunakan cover lagu 'Syantik" yang dinyanyikan oleh penyanyi Siti Badraih (Sibad). 

           Sebelum saya mengalami monetisasi Youtube, saya mempunyai konten Cover Lagu yang penontonyya lumayan banyak. Sayangnya, cover lagu tersebut dikenai hak cipta. Untuk memuluskan proses monetisasi, maka saya menghapus lebih dari 10 video cover lagu. Sangat mengenaskan, karena ratusan jam tayang hilang seketika.

           Itulah sebabnya, sebelum saya mampu membeli royalti, saya belum mau membuat konten cover lagu. Padahal konten tersebut berpeluang besar mendulang ratusan hingga jutaan penonton. Tentu, mampu membuat kaya karena Youtube. Saat ini, konten Youtube saya, dipenuhi dengan konten traveling yang bisa menginspirasi banyak orang. Kenyataannya, puluhan konten traveling tersebut "belum mampu" mendulang penonton hingga ratusan ribu. 

           Membuat besar akun Youtube tentu ada ilmunya. Namun, siapapun anda tidak akan pernah bisa memprediksi konten apa yang bakal "boom". Kecuali, jika anda selebritas. Anda tidak perlu pusing-pusing memikirkan konten terlalu "njlimet". Karena, jika anda seorang artis, anda tinggal "room tour" kekayaan anda saja, akan banyak penonton. 

             Suatu saat, penonton Youtube akan senang menikmati konten yang bersifat pendidikan. Bukan hanya hiburan saja. Seperti Prank, Mendadak Gila, Pamer ATM. Pamer Mobil, dan lain-lain. Kapan? Biarlah penonton yang akan menjawabnya. Pelan tapi pasti, konetn yang berbau Politik mulai menjadi trending. Saya pun berharap besar bahwa konten Traveling saya akan menjadi trending. Meskipun, tidak harus menunggu Subscriber hingga jutaan. 

           Sejatinya, selain memberikan ilmu dan informasi yang bermanfaat kepada penonton. Setiap Youtuber juga Berharap Kaya Dari Youtube. Jadi, jika anda bisa kaya dengan membuat akun Youtube, maka saya pun demikian. Semoga Dewi Fortuna mampir ke saya. Agar, bisa kaya kayak orang-orang. Aaminn. 

Friday, April 24, 2020

Sejatinya, Mudik dan Pulang Kampung Berbeda

Sejatinya Mudik dan Pulang Kampung Berbeda (Sumber: dokumen pribadi)






"Kalau itu bukan mudik. Itu namanya Pulang Kampung. Karena, bekerja di Jabodetabek. Di sini mereka sudah tidak punya pekerjaan ya mereka pulang karena anak dan istri ada di kampung" (Presiden Jokowi. Istana Merdeka 22 April 2020)).


            Pernyataan Presiden Jokowi di atas sontak menjadi trending di media sosial. Perbedaan arti dari Mudik dan Pulang Kampung menjadi bahan pembiacaraan panas. Padahal, masalah yang remeh temeh. Namun, ketika masalah yang remeh temeh tersebut keluar dari orang nomor satu, maka selalu menjadi menarik. Bahkan, menjadi pro dan kontra para warganet (netizen).


Jokowi Diuji Pandemi


           Pernyataan perbedaan kata "Mudik" dan "Pulang Kampung" berawal dari acara yang digandrungi banyak pemirsa yaitu Mata Najwa. Ya, acara yang dibawakan oleh Host Spektakuler Najwa Shihab, selalu menjadi menarik untuk disimak. 

         Banyak kalangan menganggap bahwa acara Mata Najwa menjadi proses "pengulitan" para politisi. Pertanyaan yang selau menjebak dari sang Host. Bahkan, pertanyaan yang selalu mencecar. Untuk mencari titik lemah dari narasumber akan selalu dilancarkan. Bagi para politisi, sekali keseleo lidah, maka akan menjadi bulan-bulanan warganet.

               Dengan kata lain, acara Mata Najwa akan menjadi kuburan para politisi. Maka, ketika hadir di acara tersebut, bersiap-siaplah untuk menjaga konsistensi pendapat, tidak emosian dan smart. Maka, akan meladeni pertanyaan Najwa Shihab dengan santai. Namun, jika jawaban dari narasumber masih terkesan "ambigu", maka sang host akan terus mencecar pertanyaan selanjutnya. Hingga pertanyaan tersebut dijawab dengan jelas dan gamblang. 

              Hal itulah yang menimpa pada orang nomor satu Indonesia, Presiden Jokowi. Acara Mata Najwa yang tayang pada tanggal 22 April 2020 lalu. Di sebuah stasiun swasta naasional. Di mana, Najwa Shihab membahas tentang tema yang benar-benar menggigit dan nendang. "Jokowi Diuji Pandemi" menghadirkan narasumber utama dan tunggal, Presiden Jokowi. Sedangkan, acara Mata Najwa Shihab tersebut mengulas tentang wawancara eksklusif dirinya dengan Presiden Jokowi. Di mana wawancara dilakukan di Istana Merdeka pada tanggal 21 April 2020.

            Seperti biasanya, di awal wawancara, Najwa Shihab selalu memberikan pertanyaan yang membuat narasumber dijebak dalam jawaban. Pertanyaan tentang kondisi ego sektoral yang semestinya satu bahasa dari pusat ke daerah. Namun, kebijakan pemerintah dari atas ke bawah seperti tidak satu jalan. Kasus Ojol yang tidak boleh narik penumpang menurut peraturan Kemenkes. Tetapi, diperbolehkan untuk narik penumpang menurut peraturan Kemenhub. 

             Pertanyaan menggigit lainnya adalah masalah operasional KRL (Kereta Rel Listrik). Di mana, yang diusulkan secara kompak oleh kepala daerah di Jabodebek untuk dihentikan. Namun, KRL tersebut meski tetap berjalan, menurut Kemenhub. Alasan permintaan para Kepala Daerah adalah kondisi KRL tanpa terkontrol. Karena, bisa melanggar protokol kesehatan saat Pandemi Virus Corona, yaitu Physical Distancing. Berjejalnya penumpang menjadi alasan banyak kepala daerah.

              Pertanyaan tentang operasional KRL dijawab Presiden Jokowi dengan santai. Bahwa, perlu adanya lkebijakan yang mementingkan masalah rakyat. Jika KRL dihentikan, bagaimana nasib rakyat kecil yang masih mengandalkan transportasi KRL. Presiden Jokowi meyakinkan bahwa jika para kepala daerah benar-benar siap menjamin bantalan untuk jaminan sosial, maka operasional KRL siap dihentikan. Presiden Jokowi menjawab dengan santai dan gamblang. Meski, jawaban tersebut, menurut saya "berbeda" pandangan dengan permintaan para kepala daerah Jabodebek.


Mudik dan Pulang Kampung


              Pertanyaan selanjutnya yang "nendang" banget adalah masalah mudik. Menurut saya, pertanyaan dari Najwa Shihab tersebut membuat perubahan gesture dari Presiden Jokowi. Mengapa? Saya melihat posisi duduk sang Presiden berubah. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Presiden Jokowi mesti membenarkan posisi duduk terlebih dahulu. Saya merasakan bahwa pertanyaan tersebut sangat serius di mata Presiden Jokowi. Makanya, beliau harus membenarkan posisi duduk terlebih dahulu, agar beliau merasa nyaman saat menjawabnya. 

            Menurut Najwa Shihab bahwa larangan mudik dianggap sebagai kebijakan yang terlambat. Karena, banyak perantau di kota-kota besar Jabodetabek yang "curi start" untuk mudik lebih awal. Pernyataan yang diungkpkan oleh Najwa Shihab adalah:
  
"Data dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) hampir 1 juta atau sekitar 900.000 orang yang sudah mudik. Kalau Pemerintah baru akan melarang apa tidak terlambat karena sebaran sudah terjadi". 

              Mendengar dari pernyataan Najwa Shihab, Presiden Jokowi dengan penuh keyakinan merespon bahwa tindakan tersebut bukanlah Mudik. Tetapi, sebagai aktifitas Pulang Kampung

"Kalau mudik itu di hari Lebarannya. Ya beda. Untuk merayakan Idul Fitri". 

             Pernyataan Presiden Jokowi pun disangkal oleh sang host. Najwa Shihab menyatakan bahwa Mudik dan Pulang Kampung adalah aktifitas yang sama. Kedua aktifitas tersebut hanyalah Perbedaan waktu. 

           Pernyataan perbedaan arti dari Mudik dan Pulang Kampung inilah yang kemudian ramai menjadi perbincangan warganet. Dan, menjadi trending topik di media sosial. Kita memahami bahwa arti dari mudik dan pulang kampung menurut Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) yang di-update pada bulan Oktober 2019 mempunyai arti yang sama. 

            Namun, arti "mudik" mempunyai dua arti seperti yang tertulis di KBBI tersebut. Di mana, salah satu arti dari mudik tersebut memberikan keterangan bahwa arti mudik bisa sama dengan pulang kampung karena ungkapan yang sering muncul dalam masyarakat. 

          Dengan demikian, Presiden Jokowi tidak salah jika menyatakan bahwa arti mudik dan pulang kampung berbeda. Pernyataan tentang perbedaaan arti mudik dan pulang kampung juga diperkuat oleh ahli bahasa dan Guru Besar Linguistik dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat (detik.com, 23/4/2020). 

         Menurut pendapat saya, arti mudik berarti menuju udik (me-udik) atau menuju ke kampung halaman. Di mana, waktu yang dibutuhkan saat di tempat yang dituju (kampung halaman), bukanlah membutuhkan waktu yang lama. Dengan kata lain, orang yang menuju ke kampung halaman hanyalah sementara. Atau, mereka hanya singgah untuk sementara waktu. Dan, akan kembali lagi ke tempat awal (tempat perantauan).

         Dan, ungkapan mudik ini justru diungkapkan banyak orang saat menjelang Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri. Mereka yang melakukan aktifitas Mudik tidaklah selamanya tinggal di kampung halaman. Tetapi, tinggal beberapa waktu untuk merayakan Lebaran. Dan, kemudian mereka kembali lagi ke kota untuk mencari nafkah. 

              Sedangkan, kata Pulang Kampung mempunyai arti pulang ke kampung halaman. Setelah mereka tinggal dalam waktu yang tidak di ditentukan di tempat perantauan. Pulang Kampung menunjukan aktifitas menuju ke kampung halaman untuk jangka waktu yang lama dan tetap. 

            Dengan kata lain, mereka tidak ada keinginan lagi untuk kembali ke tempat perantauan. Karena, di kampung halaman, mereka sudah mempunyai tujuan yang jelas. Di mana, tujuan tersebut hendak di lakukan untuk aktifitas selanjutnya. Sebagai contoh, setelah ia kuliah selama 7 tahun meraih gelar Sarjana dan Masternya di Jakarta, dia pulang kampung ke Solo Jawa Tengah. Berarti, mereka pulang ke kampung halamannya. Dan, tidak ada keinginan lagi untuk kuliah sarjana dan masternya kembali di Jakarta. 

            Dari penjelasan di atas, sejatinya arti Mudik dan Pulang Kampung sangatlah berbeda. Namun, tujuan dari kedua aktifitas tersebut adalah sama yaitu sama-sama menuju kampung halaman. Itulah sebabnya, masyarakat kita "sudah terbiasa" mengungkapkan arti Mudik dan Pulang Kampung sebagai aktifitas yang sama sejak puluhan tahun lamanya. Sama-sama menuju ke kampung halaman. 

             Jadi, tidak perlu kaget dan nyinyir jika Presiden Jokowi menjelaskan perbedaan arti dari Mudik dan Pulang kampung. Meskipun, akhirnya menjadi "blunder". Sepertinya, pernyataan Presiden Jokowi menyalahi anggapan masyarakat yang sudah mengakar selama berpuluh-puluh tahun. 

            Presiden Jokowi menyatakan Mudik dan Pulang Kampung berbeda karena adanya perbedaan alasan dan waktu yang terjadi dari mudik dan Pulang Kampung. Itulah sebabnya, Presiden Jokowi menyatakan bahwa orang curi start ke kampung halaman dinyatakan sebagai pulang kampung. Karena, ada alasan yang kuat di kota yaitu sudah tidak ada pekerjaan lagi. Secara otomatis, mereka yang ke kampung halaman tidak akan ke kota lagi. Karena, harapan bekerja di kota sudah tipis, bahkan tidak ada sama sekali karena PHK. 

             Sedangkan, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa mereka yang ke kampung halaman menjelang Lebaran sebagai mudik. Karena, altifitas tersebut dilakukan untuk memenuhi ritual tahunan dengan memohon maaf kepada keluarga besarnya di kampung halaman. Serta, waktu yang dibutuhkan di kampung halaman hanyalah sementara. Karena, setelah kemeriahan Lebaran usai, mereka akan kembali lagi ke kota untuk mencari nafkah kembali. 

            Jadi, menurut saya, Mudik dan Pulang Kampung adalah hal yang sama dalam prosesnya. Yaitu, aktifitas menuju ke kampung halaman dengan berbagai jenis transportasi. Namun, Mudik dan Pulang Kampung juga akan mempunyai arti yang berbeda,. Jika, dilihat dari alasan kuat yang mendasari saat di perantauan, durasi waktu di kampung halaman dan waktu untuk melakukan aktifitas perjalanan ke kampung halaman. 

             Semoga mencerahkan, dan jangan nyinyir lagi ya.


Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi) Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak...