Friday, January 22, 2021

Pesona Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) Bali yang Mengagumkan

 

Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) yang mempesona (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Apa yang menarik Bali?

 

Jika anda berkunjung atau berlibur di Bali, maka keberadaan patung bukanlah hal yang aneh. Setiap persimpangan jalan di penjuru Bali, anda akan melihat keberadaan patung. Sebuah ciri khas yang tidak akan anda temukan di pulau lain.

Bahkan, jika anda berkunjung di kawasan Singapadu Sukawati Gianyar, maka pembuatan patung menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Namun, ada satu patung yang sangat menarik perhatian banyak orang. Yaitu, Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha). Patung raksasa tersebut telah menjadi destinasi wisata yang menarik bagi semua orang.

 

Petuah Sang Budha

 

Keberadaan Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) berada di kompleks Vihara Dhamma Giri. Yang berada di jalan Gajah Mada Pupuan, Kabupaten Tabanan Bali menghipnotis banyak orang. Jarak destinasi wisata ini kurang lebih 70 km dari pusat kota Denpasar. Akses ke lokasi ini bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi, rental atau Tour & Travel.

Dari kota Denpasar, anda tinggal menuju ke arah Gilimanuk. Setelah sampai di pertigaan jalan yang hendak ke arah Pupuan, anda belok ke kanan menyusuri jalan tersebut. Jalur jalan ke Pupuan ini sungguh adem dan eksotis. Karena, sepanjang perjalanan, anda akan melihat fenomena sawah terasering yang tidak kalah dengan terasering Ceking Ubud Gianyar.

Jalan ke lokasi berbelok-belok, naik dan turun. Tetapi, jalan dalam kondisi baik. Jika anda menyempatkan waktu, anda bisa mengambil spot foto alam berupa bentangan sawah terasering yang menggugah hati. Atau, mampir di beberapa Air Terjun yang tidak jauh dari jalan utama tersebut.

Setelah anda menempuh kurang lebih 45 km  melewati pasar Desa Pujungan, maka anda akan melihat petunjuk nama Vihara sebelah kiri.  Lokasi Vihara Dhamma Giri seperti komplek rumah pribadi. Di mana, bagian depan tertutup pagar tinggi dan diselimuti rumput khas pagar. Namun, anda akan melihat jelas petunjuk nama vihara tersebut.   

 

 

Pintu gerbang pertama Vihara Dhamma Giri yang berada di jalan Gajah Mada Pupuan Tabanan Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

Sungguh, kompleks vihara tersebut asri dan teduh. Setelah melewati gerbang utama, anda mesti menaiki beberapa tangga. Anda akan disambut dengan arsitektur naga di sebelah kanan dan kiri tangga naik tersebut. Jejeran tumbuhan bonsai juga akan menjamu mata anda.

Setelah tiba di bagian atas, anda akan disambut dengan petugas Vihara. Anda mesti mengisi buku tamu dan tidak lupa menerapkan Protokol Kesehatan (Covid-19). Tiket masuk destinasi wisata ini hanya mengisi donasi sukarela, yang ada di dekat pengisian buku tamu.


 

Pintu masuk Vihara Dhamma Giri yang mempunyai arsitektur naga dan berjejer pohon bonsai (Sumber: dokumen pribadi)

 

Tidak seperti destinasi wisata lainnya, di dekat pengisian buku tamu ini. Anda akan melihat ruang pertemuan, tempat souvenir dan puluhan burung merpati yang terlihat jinak. Anda bisa berfoto dengan burung merpati tersebut, seperti di destinasi wisata luar negeri.

Juga, anda akan melihat beberapa petuah atau motivasi Sang Budha, yang terpasang di beberapa pohon yang tumbuh di kawasan ini. Petuah tersebut diambil dari Kitab Budha Tripitaka. Keberadaan petuah tersebut sangat menarik perhatian pengunjung.


 

Salah satu petuah atau motivasi yang diambil dari Kitab Tripitaka (Sumber: dokumen pribadi)

 

Sebelum anda memasuki area utama, anda akan melihat Prasasti Asoka. Prasasti ini berupa tugu setinggi kurang lebih 15 meter. Di bagian bawah prasasti tertulis sebuah peringatan. Yang menunjukan bahwa kompleks Vihara Dhamma Giri diresmikan Bupati Tabanan saat itu pada tanggal 27 November 2007.



Prasasti Asoka di Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) (Sumber: dokumen pribadi)

 

Selanjutnya, untuk memasuki area utama, anda mesti menaiki beberapa tangga kembali. Anda akan disambut dua papan tulisan besar yang terpasang di depan pintu masuk tempat persembahyangan Vihara Dhamma Giri. Dua papan tulisan tersebut berisi tentang PERENUNGAN KERAP KALI dan 14 PEDOMAN HIDUP MANUSIA.

Sepertinya, papan Perenungan Kerap Kali menjadi pelajaran buat manusia tentang jati dirinya. Dengan kata lain, manusia meski merenungi tentang dirinya. Sedangkan, salah satu pedoman yang menarik saya adalah MUSUH BESAR MANUSIA SEJATINYA DIRI SENDIRI.

 

 

Perenungan kerap kali dan 14 pedoman hidup manusia (Sumber: dokumen pribadi)

 

Bagi umat Budha yang berkunjung ke Vihara Dhamma Giri, maka tempat persembahyangan menuju ke atas dengan menaiki beberapa anak tangga. Terlihat jelas di pintu gerbang tempat persembahyangan berupa gerbang warna hitam bernuansa Budha. Ada beberapa stupa di bagian atas gerbang pintu masuk tersebut.  

 

 

Jalur menuju tempat persembahyangan (Vihara Dhamma Giri) (Sumber: dokumen pribadi)

 

Patung Budha Tidur

 

Perlu diketahui bahwa di area utama mempunyai beberapa spot menarik pengunjung. Pertama, patung Budha berwarna putih. Di mana, Patung Budha berada di tengah-tengah taman yang asri. Banyak pohon atau bunga yang mengelilinginya. 

Patung Budha tersebut sedang duduk bersila di atas lilitan ular Kobra berwarna keemasan. Dan, terlihat dipayungi oleh ular Kobra yang mempunyai kepala 7. Saya belum tahu arti dari “mengapa kepala ular Kobranya sebanyak 7”.



Patung Budha yang berada di atas ular (Sumber: dokumen pribadi)

 

Kedua, keberadaan Balebengong, yang mempunyai beberapa  tiang penyangga berukiran khas Budha. Balebengong tersebut berada tidak jauh dengan patung Budha yang sedang duduk. Yang unik dari Balebengong tersebut adalah keberadaan lonceng baja berwarna kehitam-hitaman.

Lonceng baja tersebut mempunyai bagian berbentuk lingkaran yang agak menonjol di empat sisinya. Bagian menonjol ini berada di dekat lubang lonceng. Saya memahami bahwa bagian menonjol tersebut adalah bagian untuk dipukul. Karena, di salah satu tiang penyangga Balebengong tergantung alat pemukul lonceng.  

Lonceng baja berukuran diameter kurang lebih 40 cm bagian lubang. Dan mempunyai ketinggian kurang lebih 80 cm tergantung persis di tengah-tengah Balebengong. Lonceng ini merupakan persembahan salah satu kuil dari Kawasaki Jepang dan Bangkok Thailand pada tahun 2540 B.E (Budhist Era atau tahun Budha).   

   

 

Balebengong Vihara Dhamma Giri yang mempunyai lonceng baja (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ketiga, dari beberapa spot menarik tersebut, maka keberadaan Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) menjadi tujuan utama para wisatawan. Patung Budha ini berada di bagian kanan tempat persembahyangan. Atau, berada di ujung sebelah kiri dari arah pintu masuk.

Karena, area  Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) merupakan area suci (Holy Area). Maka, setiap pengunjung wajib melepas alas kaki. Ini menjadi penghormatan bagi penganut agama lain.

Area  Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) mempunyai luasan sekitar 20x20 meter.   Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) sendiri berada di bagian ujung dari Holy Area tersebut. Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) mempunyai ketinggian kurang lebih 3 meter. Dan, panjangnya kurang lebih 15 meter.

Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) berwarna putih bersih. Terlihat, Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) tersebut sedang menggunakan salah satu telapak tangan untuk menahan kepalanya. Di bagian depan patung raksasa tersebut terdapat patung Budha kecil yang duduk bersila. Sebagai sarana bagi pengunjung yang hendak memanjatkan doa atau melakukan persembahyangan.

Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) dibatasi dengan pagar setinggi kurang lebih 80 cm. Hal ini bertujuan agar terlihat bersih dan suci dari pengaruh para pengunjung. Bukan itu saja, pagar tersebut juga berfungsi untuk mencegah kenakalan pengunjung. Yang hendak berswafoto (selfie) terlalu dekat dengan Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha).

Latar belakang Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) bernuansa perbukitan dan gunung. Serta, pepohonan hijau yang membuat suasana sekitar area Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) sejuk dan adem.

Yang unik dari area Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) adalah di bagian tengah menuju patung  Budha terdapat jalur lantai yang didesain kotak-kotak. Dan, terdapat batu-batu kecil berwarna putih sepanjang dari bagian depan hingga tepat depan bagian persembahyangan (Patung Budha) kecil.

Saya sendiri belum tahu, mengapa jalur khusus di Holy Area dirancang unik seperti ini. Mungkin, sebagai jalur khusus bagi pengunjung yang hendak bersembahyang. Karena, saat umat Budha sedang konsentrasi untuk memanjatkan doa. Maka, fokus mereka ke patung Budha. Dan, desain unik tersebut menjadi petunjuk mudah. Saat umat Budha sedang berjalan menuju tempat persembahyangan.

Kondisi  Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) benar-benar mempesona. Saya sendiri terpesona untuk meniru gaya tidurnya Sang Budha. Tanpa sungkan, saya pun tiduran ala sang Budha, untuk mengabadikan momen spesial tersebut. Dan, jepret, jadilah posisi unik seperti foto di bawah ini.  


 

Terpesona Patung Budha Tidur (Sumber: dokumen pribadi)


Bagi Brosis yang ingin mendapatkan informasi lebih lengkap. Anda bisa melihat video perjalanan saya di destinasi wisata Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) tersebut.


 

Patung Budha Tidur (The Giant Sleeping Budha) (Sumber: dokumen pribadi/Youtube)


Thursday, January 21, 2021

Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar Bali

 

Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Brosis, kayaknya, habis kerja seharian, enaknya mandi air panas ya. Berasa asik banget. Nah, gimana kalau jalan-jalan kali ini, saya ajak Brosis untuk menikmati Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar. Lokasi pemandian air panas ini berada di kawasan Desa Pakraman Banjar Kabupaten Buleleng Bali.

 

Tiket Masuk Merakyat

 

Sebagai informasi, Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar berdiri sejak tahun 1985. Jarak destinasi wisata ini kurang lebih 110 km dari Kota Denpasar. Banyak cara untuk sampai ke lokasi Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar. Bisa dengan kendaraan tour & travel, rental atau kendaraan pribadi.

Jarak Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar dari Kota Singaraja (Ibukota Kabupaten Buleleng) kurang lebih 20 km. Dari Kota Singaraja, anda tinggal meluncur ke arah Gilimanuk. Setelah ada perempatan kantor Polsek Banjar. Maka, anda tinggal belok ke kiri. Lihat papan nama setelah kurang lebih 2 km, belok ke kiri lagi ke lokasi destinasi wisata. Masuk ke lokasi Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar kurang lebih 2 km.

Bagi yang membawa roda empat, maka bisa parkir dekat dengan loket pembelian tiket masuk. Sedangkan, bagi yang membawa kendaraan roda dua, maka bisa parkir di belakang (sebelah kiri) dari bangunan art shop. Letaknya, anda masuk kurang lebih 50 meter melewati art shop dan nanti ada penunjuk arah parkir (jalan menurun). Biaya parkir untuk sepeda Rp 2 ribu, sedangkan kendaraan roda empat sekitar Rp 5 rb.  

Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar ini, buka dari pukul 08.00 hingga 18.00. Dan, Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar dikelilingi oleh bukit dan sungai yang masih alami. Namun, sebelum anda memasuki kawasan  Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar. Anda akan melewati jejeran art shop yang menjajakan oleh-oleh khas Bali. Dari kain Bali hingga kerajinan kayu.

 



Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar yang dikelilingi pepohonan hijau dan sungai (Sumber: dokumen pribadi)

 

Tiket masuk untuk dewasa sebesar Rp 20 rb, sedangkan untuk anak-anak sebesar Rp 10 rb. Saat pembayaran di loket karcis, anda akan mendapatkan karcis berupa print memakai aplikasi QRIS Bank Indonesia yang dilengkapi barcode. Dan, karcis tersebut akan dicek petugas, setiap anda memasuki pintu gerbang Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar.

Di Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar telah dilengkapi dengan penitipan barang (locker). Biaya sewa loker sebesar Rp 5 rb. Dan, jangka waktunya hingga pukul 17.30 sesuai dengan waktu kerja karyawan. Juga, dilengkapi dengan ruang ganti (change room) yang bersih dan gratis. Sedangkan, fasilitas WC atau toilet dikenakan tarif Rp 3 rb.

Di kompleks Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar telah dilengkapi dengan restoran Kumala Tirta, Jacuzi, dan SPA atau massage. Bagi yang ingin menikmati Jacuzi, maka pengunjung akan dikenakan tarif tambahan Rp 15 rb. Lokasi jacuzi dan SPA atau massage di ujung (setelah ruang ganti dan penitipan barang), harus menaiki beberapa tangga.  


 

Tempat penitipan barang (Locker) (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ketika, saya berkunjung ke Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar, ada 4 pengunjung WNA dan 6 orang pengunjung lokal. Menurut salah satu petugas, jumlah kunjungan saat Pandemi Covid-19 sekitar 25 pengunjung setiap harinya. Padahal, sebelum Pandemi Covid-19, jumlah pengunjung pada kisaran 200 pengunjung setiap hari.

 

Tiga kolam Air Panas

 

Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar terdiri dari jenis 3 kolam air panas. Pertama, kolam dengan luasan kurang lebih 10x3 meter. Kolam pertama ini mempunyai 8 pancuran air panas dengan nuansa karakter Bali. Ketinggian pancuran sekitar 1 meter. Dan, kedalaman air kolam hampir sama dengan ketinggian pancuran.

Hal yang perlu diperhatikan adalah anda meski hati-hati jika berada di kolam pertama. Karena, dasar kolam agak licin karena pengaruh lumut. Apalagi, jika anda membawa anak-anak atau balita, harus mendapatkan perhatian penuh dari orang tua atau dewasa. Karena, ketinggian pancuran rendah, maka jatuhnya air tidak terlalu membuat sakit kepala.


     

Kolam pertama dengan 8 pancuran air dan kedalaman 1 meter (Sumber: dokumen pribadi)

 

Kedua, kolam air panas yang luas. Luasan kolam ini kurang lebih 12x10 meter. Unik, di kolam air panas ini terdapat 3 kedalaman kolam, yaitu 1m, 1,5m dan 2m. Di kolam air panas ini ada 5 pancuran air yang berada di dekat kolam pertama. Kolam ini menjadi tempat pavorit banyak pengunjung. Selain kolamnya yang luas, tetapi cocok bagi pengunjung yang suka kedalaman air kolam hingga 2 meter.    


 

Kolam kedua dengan 5 pancuran air dan kedalaman bervariasi (1 m, 1,5 m dan 2 m) (Sumber: dokumen pribadi)

 

Saya sendiri selain berendam di bawah pancuran, juga asik berendam di kolam air panas yang kedalamannya 2 meter. Sekilas, air kolam berwarna hijau muda. Hal ini dipengaruhi oleh kandungan belerang yang ada dalam air panas. Semakin kadar belerangnya tinggi, maka warna air hijau muda kekuning-kuningan. Dan, biasanya akan membuat seperti kerak di lapisan kolam.  



Mencoba berenang dan berendam di kolam air panas yang kedalaman 2 m (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ketiga, kolam air panas yang berbeda dengan kolam pertama dan kedua. Kolam ketiga terletak terpisah. Berada dekat dengan jalan masuk  Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar. Atau, dekat dengan aliran sungai sekitar. Luasan kolam air panas ketiga ini sekitar 8x4 meter.

Pancuran air di kolam air panas ini setinggi kurang lebih 3 meter. Ada 3 pancuran di kolam ketiga. Sedangkan, kedalaman kolam 1 meter. Banyak pengunjung yang menganggap bahwa di kolam ketiga ini asik untuk pijat refleksi alami. Bahkan, suhu di kolam ketiga lebih panas daripada kolam pertama dan kedua.

Jatuhnya air berasa banget di tubuh. Pantas saja, jika pancuran air ini sangat bermanfaat untuk pijat refleksi alami. Dan, panasnya air kolam membuat betah berlama-lama di sini. Lapisan dasar kolam tidak terasa licin seperti di kolam pertama. Berendam di kolam ini sangat manjur untuk memulihkan kondisi tubuh, agar terasa segar kembali.  



Kolam ketiga dengan 3 pancuran air dan kedalaman 1 meter. Cocok untuk pijat alami (Sumber: dokumen pribadi)

 

Setelah puas berendam di kolam air panas dari pertama hingga ketiga. Maka, badan meski disegarkan kembali dengan air dingin di tempat bilas. Ada 3 pancuran air dingin yang akan membuat badan anda kembali segar. Tempat bilas ini terletak persis di samping sungai. Pemandangan sekitarnya berupa rumpun bambu dan pohon khas sungai.


 

Badan kembali segar, saat bilas di air dingin (Sumber: dokumen pribadi)  

 

Untuk informasi selanjutnya, Brosis bisa melihat video perjalanan saya di Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar ini buka dari pukul 08.00 hingga 18.00. Jika ada pertanyaan, bisa komentar di artikel atau video ya. Tetap jaga kesehatan dengan memakai Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19. Selamat berlibur. 


 

Pemandian Air Panas (Hot Spring) Banjar (Sumber: dokumen pribadi/Youtube)


Saturday, January 16, 2021

We Love With Love Menghapus Sedih Era Pandemi

 

Gagasan We Love With Love untuk menghapus kesedihan karena Pandemi Covid-19 dan menggali potensi UMKM & seniman (Sumber: Youtube We Love With Love/screenshot)

 

 

“Jangan lihat sedihnya, tapi lihat potensinya”.

 

Kalimat menarik dari sebuah kesimpulan perbincangan, antara Founder yayasan We Love With Love Ibu Novi Rolastuti dan host Titin Prapmika. Saat peluncuran We Love With Love secara digital dalam channel Youtubenya hari ini Sabtu, 16 Januari 2021.

 

 

Perbincangan Founder We Love With Love dengan host Titin Prapmika saat peluncuran di kanal Youtube We Love With Love, Sabtu, 16 Januari 2021 pukul 12.00 WITA (Sumber: Youtube We Love With Love/screenshot)

 

Perlu diketahui bahwa We Love With Love diluncurkan dengan tujuan untuk menghapus sedih masyarakat karena Pandemi Covid-19. Dan, mengembangkan potensi yang ada, di seluruh nusantara yang beraneka ragam. Dan, Bali menjadi area utama yang menjadi semacam “Pilot Project”.

Mengapa harus Bali yang duluan? Sebuah pertanyaan yang mungkin muncul dari anda. Kita memahami bahwa Pandemi Covid-19 telah berdampak ke berbagai sektor. Dan, Bali sebagai penyumbang APBN terbesar dari sektor pariwisata sangat merasakan dampak yang besar itu.

Bahkan, inflasi di Bali merupakan tertinggi saat Pandemi Covid-19 ini. Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 kuartal kedua menyatakan inflasi di Bali hingga minus 12,28%. Angka yang lebih besar dari rerata inflasi nasional sekitar minus 5,32%.

 

CINTA TANPA PAMRIH

 

Loving is Giving. Memberi karena cinta, bukan karena pamrih. Begitu juga dengan gagasan dari We Love With Love. Yaitu, untuk membantu meringankan beban karena dampak ambruknya pariwisata Bali. Sektor pariwisata sebagai penyumbang terbesar masyarakat Bali lumpuh total. Banyak orang yang menganggur dan terkena PHK massal. Secara otomatis, perekonomian Bali terjun bebas. Semua sektor tidak berdaya menghadapi gempuran Pandemi Covid-19.

Tentu, semua orang bersedih. Karena, kehilangan mata pencaharian seketika. Bahkan, tidak sedikit yang jatuh bangkrut dan beralih profesi seadanya. Terpenting, dapur tetap ngebul dan kehidupan must go on.

Bali boleh bersedih, tetapi Bali meski kemBALI bangkit menatap masa depan. Karena Bali mempunyai potensi besar. Bukan itu saja. Bali menjadi etalase kemajuan pariwisata di mata dunia. Apalagi, UMKM di Bali sedang tumbuh subur. Kondisi itulah yang menjadi perhatian utama dari We Love With Love. Bahwa, potensi Bali meski bangkit kembali.

Ibu Novi Rolastuti, selaku Founder dari yayasan We Love With Love menyadari bahwa Bali harus menjadi role model pertama. Agar pelaku UMKM dan seniman Bali yang kini vacum bisa mendapatkan spirit kembali. Mereka meski mendapat dukungan penuh, agar mereka mau merestorasi potensinya.

Ibu Novi Rolatuti pun blusukan di beberapa daerah di Bali. Dan, mendapatkan 12 UMKM dan seniman yang meski move on. Dan, bisa menjadi spirit buat yang lainnya. Ibu Novi Rolatuti merasakan bahwa banyak UMKM dan seniman Bali yang harus tetap berkarya. Seniman yang lama menganggur, karena tidak mendapat panggung harus diberikan dukungan penuh.

 

Seniman Bali harus mendapatkan panggung agar bisa mengekspresikan seninya kembali (Sumber: Youtube We Love With Love/screenshot)

 

Itulah sebabnya, dalam  peluncuran We Love With Love mengusung tema “Donate, Shop, Share” (Donasi, Belanja, Berbagi). Demi kejayaan kembali UMKM dan seniman Bali. Bahkan, We Love With Love didesain untuk mencintai tanpa pamrih. Dukungan yang diberikan oleh We Love With Love membangun potensi UMKM yang ada (khsususnya Bali). Serta, seniman yang saat ini tidak bisa berekspresi, karena ketiadaan panggung.

Berbagai hasil kerajinan UMKM seperti lukisan, kerajianan tas dari alam, keramik unik dan lain-lain dipamerkan saat peluncuran  We Love With Love. Bahkan, untuk 100 orang yang mampu mendonasikan sebagian rejekinya. Akan mendapatkan merchandise menarik berupa kaos (t-shirt) karya pengrajin Bali.  

 

Berbagai hasil kerajinan UMKM ditampilkan saat bincang-bincang peluncuran We Love With Love (Sumber: Youtube We Love With Love/screenshot)

 

KOLABORASI GENERASI TUA DAN MUDA

 

Namun, hal yang menjadi perhatian saat peluncuran We Love With Love di kanal Youtube tersebut adalah pagelaran tarian klasik. Pagelaran tarian yang bertajuk Lampah Nini. Karya tarian ini merupakan hasil kerjasama kolaborasi generasi tua dan muda. Yaitu, kolaborasi antara Maestro guru tari tradisional Ibu Ni Ketut Arini dan Master of Art dan koreografer muda Bali I Komang Adi Pranata.

 

Sang maestro guru tari tradisional Ibu Ni Ketut Arini (Sumber: Youtube We Love With Love/screenshot)

 

Lampah Nini ini memberikan pesan mendalam kepada kita semua. Sebuah renungan tentang perjalanan hidup manusia. Dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Di mana, dalam kehidupan tersebut dipenuhi dengan gejolak dan kesalahan. Sepertinya, desainer tari untuk memberikan pesan mendalam kepada kita. Agar kembali ke dalam jati diri kita alias mulat sarira.

Kita mulai berintrospeksi diri tentang kehidupan. Apalagi, kehidupan yang penuh dengan aral melintang dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Koreografi Lampah Nini benar-benar digarap apik dan klasik. Para penari yang semuanya wanita ini memberikan gambaran mendalam tentang perjalanan hidup manusia. Jangan sampai lupa pada jati diri dan Tuhan Yang Maha Esa. 

 

Beberapa adegan tarian Lampah Nini (Sumber: Youtube We Love With Love/screenshot)

 

Ilustrasi musik yang memberikan kesan sakral mampu menghipnotis para penikmat Youtube. Efek Hitam Putih (Black and White/BW) pada video memberikan gambaran tempo dulu. Dan, efek warna video memberikan kehidupan sekarang ini (dewasa).

Penampilan Lampah Nini menjadi sebuah pertanda bahwa seniman Bali mampu menapaki panggung kembali. Mereka mampu berkarya, setelah lama berdiam diri. Seni adalah sebuah ranah mencari rejeki. Saat panggung seni itu tertutup rapat maka kreatifitas seni pun akan mati.

We Love With Love memberikan sajian pertunjukan by digital yang apik. Dan, mampu menggali potensi UMKM dan Bali dari kuatnya rasa sedih karena Pandemi. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah JANGAN LIHAT SEDIHNYA, TETAPI LIHAT POTENSINYA.

Semua memahami bahwa Bali bagaikan surga tak bertepi. Bukan karena keindahannya saja, tetapi darah seni yang tak pernah henti. Namun, badai Pandemi mengancam terkuburnya seni. Maka, semua elemen perlu adanya kolaborasi. Agar, SENI ITU HIDUP KEMBALI. Bali Bangkit, Bali kemBALI. UMKM dan seniman berkreasi.  


Friday, January 15, 2021

Fenomena Negeri Di Atas Awan Pulau Dewata

 

Desa Pinggan Kintamani, Fenomena Negeri Di Atas Awan Bali yang harus saya jelajahi (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Apakah ada Negeri di Atas Awan? 

 

Seringkali senyum kita kecut ya. Saat mendengar kalimat Negeri di Atas Awan. Apakah, makna kalimat tersebut benar adanya. Atau, sekedar majas metafora saja. Bagi saya, kalimat Negeri di Atas Awan benar-benar ada, layaknya dalam sebuah film. Baik film Indonesia, Mandarin maupun Hollywood. Kalimat tersebut memberi pertanda bahwa sebuah perumpamaan yang “benar-benar ada”.

 

Saat anda naik pesawat terbang dan melihat ke luar jendela pesawat. Maka, pemandangan tumpukan awan akan tersaji indah di depan mata, bukan? Dan, anda serasa berada di atas dataran awan. Jika, pesawat yang anda naiki seperti dataran tanah yang luas. Maka, anda benar-benar sedang berada di NEGERI DI ATAS AWAN.

 

Saya pun pernah mendengar dan membaca artikel Negeri di Atas Awan di Kawasan Dataran Tinggi Dieng Jawa Tengah. Di mana, orang-orang hidup berselimut dengan awan setiap harinya. Mereka seakan-akan berjalan di atas awan. Unik sekali, bukan?

 

Ternyata, di Bali pun mempunyai kawasan yang disebut sebagai NEGERI DI ATAS AWAN loh. Tersebutlah DESA PINGGAN KINTAMANI yang mulai dikenal di ranah media sosial beberapa tahun belakangan ini. Mengapa disebut sebagai NEGERI DI ATAS AWAN? Ikuti perjalanan saya menjamah indahnya Desa Pinggan Kintamani Bali.

 

PERJALANAN DINI HARI

 

Kurang lebih 12 tahun hidup di Bali, bukanlah waktu yang pendek. Namun, baru kali ini, saya mempunyai partner baru yang menjiwai tentang dunia traveling. Tersebutlah, pasangan suami istri Charles Billy – Fanesia Hwang. Pasangan yang setahun sudah menikah menjadi teman sejati traveling saya. Setelah kami berkenalan akrab, saat eksplorasi Nusa Penida Bali selama 3 hari di bulan Oktober 2020 lalu.

 

Fenomena kecantikan Desa Pinggan Kintamani di pagi hari sudah menghipnotis saya untuk menjamahnya. Sejak 3 tahun yang lalu. Namun, saya tak tergelitik untuk mengunjunginya. Dengan alasan tak ada waktu, jarak yang jauh dan tidak ada partner yang bisa diajak komunikasi. Namun, setelah bertemu dengan pasangan suami istri tersebut, maka rasa penasaran kami langsung membuncah. Ya, saya harus ke sana!

 

Perlu diketahui bahwa anugerah tiada tara untuk menikmati Desa Pinggan Kintamani adalah saat menikmati datangnya Sunrise (matahari terbit). Sementara, jarak tempat tinggal saya di Denpasar ke Desa Pinggan Kintamani kurang lebih 80 km.

 

Sebenarnya, ada dua alternatif agar dapat menikmati sunrise Desa Pinggan Kintamani yaitu: 1) menginap di kawasan  Desa Pinggan Kintamani; dan 2) melaju langsam (langsung sampai) dari Denpasar. Setelah kami berdiskusi bersama partner dengan berbagai pertimbangan, maka kami memutuskan untuk langsam dari Kota Denpasar.

 

Dengan bekal peta di Google Maps dan info lainnya. Maka, saya memutuskan untuk bertemu dengan pasangan Charles Billy-Fanesia Hwang di depan Polda Bali (jalan WR Supratman Denpasar) pukul 02.30 dini hari. Kami menyadari bahwa jalur yang akan kami lalui minim penerangan. Bukan itu saja, kondisi udara dingin akan menyergap tubuh seketika. Khususnya, saat memasuki kawasan tinggi Kintamani.  

 

Sebenarnya banyak jalur menuju Desa Pinggan Kintamani. Namun, ada 3 jalur utama yang bisa saya rekomendasikan untuk menuju Kintamani. Jalur pertama adalah Denpasar, Singapadu, Ubud, Payangan dan Kintamani. Jalur dua adalah Denpasar, Ubud, Tegalalang, Pejeng dan Kintamani. Sedangkan, jalur ketiga adalah Denpasar, Gianyar, Bangli dan Kintamani.

 

Akhirnya, saya menempuh jalur pertama, yang dirasa waktunya lebih pendek. Namun, di jalur ini sungguh gelap atau minim penerangan. Sejak memasuki Desa Singapadu Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Hingga Kintamani yang jaraknya kurang lebih 70 km. Bukan itu saja, kami pun merasakan terjebak masalah dalam perjalanan. Karena, “hampir” kehabisan BBM. Padahal, selama perjalanan, SPBU dan warung, total tidak ada yang buka di pagi buta itu.

 

Beruntung, kegelisahan akut saya terobati. Saat ada warung kelontong Madura yang buka, di kawasan Kedewatan Ubud. Sungguh, sebuah keajaiban tak terduga. Di saat BBM sepeda motor yang kami tumpangi bersama istri tinggal Senin-Kamis. Dari pengalaman kejadian ini, maka ada saran buat anda. Jika menggunakan sepeda motor, perlu isi tangki BBM Full tank. Bila perlu bawa persediaan BBM dalam dirigen kecil (buat persediaan).

 

Sungguh, perjalanan malam hari tidaklah mudah. Apalagi, dengan menggunakan sepeda motor di musim penghujan. Bukan hanya kondisi udara yang dingin menusuk tulang. Namun, anda mesti berhati-hati dengan keberadaan gerombolan anjing. Anjing-anjing tersebut, tanpa terduga ngumpul di tengah jalan atau menyeberang mendadak. Bahkan, seringkali menggonggong. Dan, mengejar pesepeda motor yang lewat. Anda mesti hati-hati dan selalu waspada.

 

GELAP GULITA KE DESA PINGGAN

 

Sampai di Desa Kintamani, tepat waktu subuh tiba. Saya dan istri mengharuskan sholat subuh terlebih dahulu. Sedangkan, pasangan suami-istri Charles-Billy dan Faneshia Hwang menjadi penunggu saya setia di luar masjid. Karena, keyakinan mereka berbeda dengan kami.

 

Setelah sholat subuh, kami berempat harus menempuh perjalanan lagi. Kurang lebih 10 km perjalanan. Dengan kontur jalan yang mampu menguras energi dan kerasnya degup jantung.

 

Sejak pertigaan jalan ke Singaraja dan Pura Gunung Penulisan, kawasan benar-benar gelap total. Tidak ada penerangan sama sekali. Kecuali, lampu sorot dua sepeda motor kami. Jalan pun mulai menurun tajam dan berbelok. Jika, anda tidak hati-hati maka bersiap-siaplah terjun bebas. Meskipun, saya sudah pasang sepeda motor dalam kondisi gigi 1. Tetapi, “sepertinya” sepeda motor hendak meluncur tajam. Kami hanya berdoa dan bersholawat selama perjalanan.

 

Sungguh, kami buta akan lokasi Desa Pinggan Kintamani. Beruntung, setengah pukul 06.00 pagi, kami bertemu dengan puluhan pesepeda motor anak ABG. Kami sempat bertanya lokasi yang hendak kami tuju. Seorang cewek ABG memberikan jawaban yang membuat kami ngakak.

 

“Maaf Om, kami juga baru ke sini”. Sambil diikuti gelak tawa teman-temannya.

 

Aduh, saya merasa tua banget ya. Berasa, aku sudah nikah sama tante kamu adik yang cantik. Gak papa deh, untung gak dipanggil “SIS”. Tetapi, berdasarkan informasi yang kami dapat dari berbagai artikel. Bahwa, penunjuk untuk sampai di spot pandang menikmati sunrise Desa Pinggan adalah keberadaan BAK AIR atau POHON CINTA. Namun, di manakah posisinya? Seperti apa bentuknya?

 

SPOT PANDANG NEGERI DI ATAS AWAN

 

Dengan memperlambat laju motor, kami pun melihat sisi kanan dan kiri jalan yang kami lalui. Feeling saya mesti kuat dengan adanya keberadaan BAK AIR. Di sebuah rumah yang sudah dibongkar. Dan, terdapat keberadaan BAK air atau tangki air. Kami pun dengan percaya diri berhenti.

 

Ternyata, pemberhentian kami tidak salah. Spot untuk menikmati sunrise Desa Pinggan Kintamani pas banget. Saya mulai melihat pemandangan Desa Pinggan Kintamani yang berselimut gelapnya malam. Lampu-lampu kecil nun jauh di sana masih terlihat menyala. Aura gunung Agung, gunung Abang dan gunung Batur masih membentuk siluet samar-samar. Terlihat indah. Berikut beberapa foto kondisi detik-detik sunrise di Desa Pinggan Kintamani. Saya abadikan dengan kamera smartphone..

 

Setengah jam menjelang sunrise di Desa Pinggan Kintamani (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

20 menit menjelang sunrise di Desa Pinggan Kintamani (Sumber: dokumen pribadi)


 

10 menit menjelang sunrise di Desa Pinggan Kintamani (Sumber: dokumen pribadi)


 

Saat sunrise di Desa Pinggan Kintamani. Sinar matahari masih tertutup awan mendung (Sumber: dokumen pribadi)

 

Menjelang sunrise, awan mulai menghiasi bentangan dataran rendah. Yang ternyata adalah Desa Songan Kintamani. Setelah kami puas mengambil rekaman dan foto di spot pertama. Kami pun penasaran dengan adanya spot pandang lainnya. Ternyata, kurang lebih ada 6 spot pandang untuk menikmati FENOMENA NEGERI DI ATAS AWAN. Termasuk, spot pandang POHON CINTA.

 

Namun, spot pandang yang paling menarik saya adalah spot yang ada pohon telanjang tanpa batang dan daun. Entah, pohon ini sengaja ditanam atau hanya sebagai hiasan saja. Menikmati indahnya FENOMENA NEGERI DI ATAS AWAN di samping pohon telanjang tanpa daun dan batang ini sungguh IKONIK.


 

Spot pandang pohon telanjang tanpa batang dan daun yang ikonik (Sumber: dokumen pribadi)

 

Dan, spot menarik lain untuk menikmati FENOMENA NEGERI DI ATAS AWAN adalah spot SWING (ayunan). Sambil main ayunan, kita bisa bersantai ria menikmati indahnya FENOMENA NEGERI DI ATAS AWAN. Yang bikin unik adalah ayunan tersebut diikat pada kedua batang pohon Nangka. Dan, pohon Nangka itu berbuah lebat dan pohonnya besar dan panjang. Sungguh IKONIK!


 

Spot pandang Desa Pinggan Kintamani sambil main swing (ayunan) yang diikat pada kedua batang pohon nangka (Sumber: dokumen pribadi)

 

Perlu diketahui bahwa waktu terbaik untuk menikmati FENOMENA NEGERI DI ATAS AWAN adalah di bulan ketiga (Maret). Mengapa? Saat itulah, hamparan awan akan menutupi semua bentangan dataran rendah. Jadi, seakan-akan anda sedang berada “benar-benar” di NEGERI DI ATAS AWAN. Pantesan saja, saya mampu menikmati hamparan awan sebagian yang menutupi bentangan dataran rendah Desa Songan Kintamani.

 

 

Menikmati hamparan dataran darii Negeri Di Atas Awan dari spot pandang Kintamani Camping Area (Sumber: dokumen pribadi)

 

Jadi, kami berempat pun mengambil keputusan untuk menjamah kembali FENOMENA NEGERI DI ATAS AWAN bulan Maret nanti. Benar-benar ingin menikmati bentangan awan yang menutupi SEMUA hamparan di bawah lereng gunung Batur. 


 

Kuartet traveler sejati (Mbak Fanesia Hwang, istri (Mom Blogger), saya dan mas Charles Billy (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Nah, Brosis, untuk melihat detik-detik sunrise di Desa Pinggan Kintamani Bali. Maka, anda bisa melihat video saya di channel berikut. Selamat menikmati hari libur anda ya. 

 

 

Detik-detik Sunrise Negeri di Atas Awan Desa Pinggan Kintamani Bali (Sumber: dokumen pribadi/Youtube)

 

 

Tips buat anda:

 

1.    Jika anda mempunyai budget lebih, anda bisa menginap di Desa Pinggan Kintamani. Sewa tenda, lampu, selimut dan kopi pagi per malam sebesar Rp 150 ribu. Jika, sewa tenda saja maka dikenakan biaya Rp 50 ribu.

2.    Jika anda langsam (langsung sampai), maka anda bisa berangkat dari Denpasar dan sekitarnya saat pukul 02.30-03.00 dini hari agar mempunyai waktu luang selama perjalanan.

3.    Bagi anda yang menggunakan sepeda motor (langsam) maka disarankan mengisi full tangka. Jika perlu membawa persediaan BBM dalam dirigen kecil (untuk persediaan) jika kehabisan BBM. Saat dini hari, SPBU dan warung tidak ada yang buka.

4.    Saat anda berada di spot paling selatan (setelah spot pandang) Pohon Cinta. Maka, anda bisa melihat gugusan 4 gunung yang menghiasi Desa Pinggan Kintamani. Yaitu, Gunung Agung, Gunung Abang, Gunung Batur dan Gunung Rinjani (Lombok). 

5.    Tarif masuk setiap spot pandang sebesar Rp 5 ribu.

6.    Perlu membawa jaket agar tidak kedinginan di lokasi.

7.    Jaga kesehatan tubuh anda agar liburan tetap menyenangkan.

   

 

Disclaimer:

Kami tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) Covid-19. Tidak lupa membawa Hand Sanitizer. Kami membuka masker dengan maksud untuk pengambilan gambar saja. Kami benar-benar peduli tentang kesehatan diri sendiri dan orang lain. Terima kasih.


Inagurasi Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi di Jawa Tengah

  Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi yang ada di PT. PT Sarihusada Generasi Mahardhika, Klaten, Jawa Tengah (Sumber: Danon...