Tuesday, December 22, 2020

Pasar Rakyat yang Humanis, Modern dan Digitalisasi

 

Suasana sebuah Pasar Rakyat (Sumber: dokumen pribadi) 

 

           “Andai saja kondisi Pasar Rakyat seperti mall” 

 

Saya berharap pikiran anda sama dengan saya. Harapan terbaik memiliki Pasar Rakyat yang nyaman layaknya mall. Bau wangi, udara adem dan harga bersahabat. Dengan kata lain, Pasar Rakyat yang membuat rasa aman, nyaman dan betah. Bahkan, menjadi pengalaman menarik, karena keberagaman penjual dan pembeli. 

Festival Pasar Rakyat 

Memang, Pasar Rakyat harus berbenah menjadi pasar yang humanis. Mengapa? Saya sering belanja ke Pasar Rakyat. Namun, kondisi penjual yang belum menunjukan sikap humanis seringkali terjadi. Seperti, keramahan dan senyum manis layaknya pramuniaga di mall.

Penjual menunjukan muka kecut, ketika saya menawar. “Boleh harga sekian ibu”. Jawabannya tidak enak di hati. Dengan muka kecut sambil berkata “tidak bisa mas. harganya pas. kalau pengin murah, ya kulakan sendiri”.

Itulah sebabnya, pelayanan yang menyenangkan menjadi prioritas. Ketika belanja ke pasar, saya akan mencari penjual yang humanis. Penjual merasa kehilangan, ketika saya tidak berbelanja lagi. Penjual sangat bahagia atas kehadiran pembeli dengan keberagaman karakter.

Festival Pasar Rakyat (FPR) menjadi ajang terbaik, agar pembeli dan pedagang berpikir lebih modern dan realistis. Pelaku pasar perlu adaptif dengan perkembangan jaman. Mereka harus memahami bahwa keberagaman akan selalu ada di Pasar Rakyat. Dari berbagai suku dan budaya yang berbeda.

Salah satu FPR adalah FPR yang diselenggarakan di Pasar Badung Denpasar, Bali. FPR yang diadakan tanggal 9-10 November 2019 lalu. Acara tersebut menjadi ajang promosi Pasar Badung ke masyarakat luas. Bukan hanya bagi masyarakat Bali saja. Tetapi, masyarakat dari berbagai daerah bisa datang ke Pasar Badung.

Selain berbelanja, pengunjung bisa menikmati kearifan lokal yang menarik. Seperti, penampilan budaya dari berbagai daerah. Pasar Badung bergaya khas Bali dan modern. Tema FPR yaitu “Harmony in Diversity” menunjukan bahwa Pasar Rakyat menciptakan keberagaman budaya yang harmonis.

Apalagi, Pasar Badung dirancang dengan konsep Catuspatha Kota Denpasar (simpang empat bagaikan perempatan agung). Memiliki nilai dan makna sakral dalam tradisi Bali. Sedangkan, Catuspatha sendiri memiliki empat unsur, yaitu: 1) puri/keraton sebagai pusat pemerintah, 2) pasar tradisional sebagai pusat perekonomian, 3) wantilan sebagai pusat budaya, dan 4) ruang publik.

 

Pasar Badung tampak depan (Sumber: dokumen pribadi)

 

Bersih dan Digitalisasi 

Pembeli tidak akan betah, ketika berkunjung ke pasar kumuh dan jorok. Bau pesing dan aroma jelek lainnya yang menyengat hidung. Pasar yang tidak memperhatikan kondisi sampah. Sampah basah dan kering dibiarkan berserakan di tanah. Ketika saya “memaksa diri” belanja ke pasar yang penuh sampah. Saya sering bergumam, “Andai saja Pasar Rakyat bersihnya seperti mall”.

Tetapi, Pasar Badung menjadi salah satu contoh Pasar Rakyat yang tampil lebih modern. Juga, kondisi Pasar Badung terlihat bersih. Bau tanah basah bercampur sampah karena air hujan tidak ada. Kondisi udara lebih adem, meski tanpa pendingin ruangan (AC). Karena, sirkulasi udara yang ada di sekeliling pasar.

Saya seringkali berpikir, “Mengapa sangat susah para pedagang mengumpulkan sampahnya di tempat sampah dagangannya?”. Mereka lebih mementingkan untung dalam berdagang. Namun, sampah tidak menjadi perhatian utama. Agar, sampah terkumpul dan kondisi pasar lebih bersih.

Menurut saya, karakater inilah yang perlu direformasi segera. Jangan sampai pedagang pasar berpikir, “mengapa saya harus mengurusi sampah. Saya sudah bayar retribusi. Biarkan petugas yang membersihkan sampah”. Perlu diketahui bahwa Pasar Rakyat hendaknya mewujudkan kondisi Sejahtera, Sehat dan Bersih. Bukan hanya membuat sejahtera pelaku pasar dan keuntungan pembeli. Tetapi, Pasar Rakyat wajib menjaga kondisi kesehatan orang-orang yang ada di lingkungan pasar.  

 

Salah satu sudut Pasar Kumbasari Denpasar yang penuh sampah berserakan (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ketika Pandemi Covid-19 melanda, maka Pasar Rakyat mengalami kondisi yang tidak normal. Pasar Rakyat harus menerapkan protokol kesehatan. Di mana, semua orang yang berada di lingkungan pasar harus menerapkan prinsip 3M (Menjaga Jarak, Mencuci Tangan dan Memakai Masker). Bahkan, jika pasar menciptakan cluster Covid-19 baru, maka akan ditutup sementara.

Namun, Pandemi Covid-19 memberi pelajaran berharga. Pelaku pasar belajar untuk adaptif teknologi melalui program edukasi, pelatihan dan pendampingan. Pelaku pasar diajak untuk melakukan reformasi teknologi, melangkah ke digitalisasi. Bukan hanya menjual produk secara konvensional. Tetapi, belajar bagaimana menjual secara online. Jadi, meskipun Pandemi Covid-19 melanda, mereka masih tetap berbisnis. Bahkan, mampu Bangkit Bersama Sahabat lainnya yang bernasib sama.  

Cara pembayaran dalam transaksi jual beli pun mengalami perubahan. Di Pasar Badung, para pembeli bisa membayar barang belanjaan dengan aplikasi Financial Technology (Fintech) atau e-money. Makin praktis dan mudah. Ada pepatah bijak, kalau ada yang mudah, mengapa pilih yang sulit.     



Friday, December 18, 2020

Perempuan UMKM Naik Kelas Dengan Teknologi Digital

 

Perempuan UMKM Naik Kelas Melalui Teknologi Digital (Sumber: shutterstock/diolah) 

 

 

     “Sepertinya saya gak bisa deh”.

  

Kalimat polos yang sering terlontar dari mulut perempuan, khususnya ibu-ibu. Kita memahami bahwa dunia digital dengan perangkat gadget atau smartphone identik dengan piranti generasi milenial. Mengapa? Generasi milenial biasanya lebih cepat adaptif dengan perkembangan digital terkini. Kemanapun, tak pernah lepas dengan gadget-nya.

Maklum saja, Ketika ibu-ibu “dipaksa” untuk menggunakan piranti digital. Bukan sekedar memainkan Aplikasi WA, tetapi bisa memaksimalkan media sosial dan web lainnya untuk Digital Marketing. Timbul rasa pesismis, karena menurut mereka terlalu “njlimet”.

Namun, dengan adanya pembelajaran yang intens maka ibu-ibu pun akhirnya mahir memainkan gadget-nya untuk berbisnis. Apalagi, saat Pandemi Covid-19 melanda. Maka, satu-satunya jalan yang bisa ditempuh Perempuan UMKM naik Kelas adalah dengan memasarkan produknya melalui teknologi digital atau online.

 

Kondisi UMKM Saat Pandemi

 

Kita tahu, bahwa perempuan dikenal dengan makhluk Tuhan yang suka belanja. Namun, hal yang perlu diketahui bahwa perempuan juga telah menjadi pelaku UMKM yang mumpuni. Berkat adanya kolaborasi dengan pihak lain.

Dengan kata lain, perempuan UMKM perlu adanya pemahaman tentang perubahan karakter. Dari perempuan yang hobi belanja menjadi perempuan yang kreatif menjual produk.

Saat mencermati WEBINAR PEREMPUAN UMKM: BERKEMBANG DENGAN MEMANFAATKAN TEKNOLOGI DIGITAL Jumat, 18 Desember 2020 pukul 10.00-12.00 (Zoom & Youtube). Banyak hal yang bisa dipelajari agar perempuan UMKM bisa naik kelas.

Perempuan bukan hanya menjual produknya secara konvensional. Di mana, lokasi pernjualannya berkisar di daerah tempat tinggalnya. Tetapi, dengan digital marketing maka lokasi penjualannya bisa Go Internasional.

Narasumber DESTRY ANNA SARI (Asisten Deputi Pemasaran Kementerian Koperasi & UMKM RI) menegaskan bahwa dengan adanya UU Cipta Kerja yang baru diketok DPR RI beberapa bulan lalu memberi peluang kemudahan bagi UMKM. Khususnya Perempuan UMKM.

Di era Presiden Jokowi, UMKM diberikan peluang untuk berkembang. Perlu diketahui ada 60 juta pelaku UMKM. Kurang lebih 98,7% adalah usaha mikro. Sedangkan, 60% dari total pelaku UMKM adalah perempuan.

Nah, dengan penggunaan teknologi digital bertujuan agar perempuan UMKM tidak tertinggal & mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Sebagai informasi bahwa di tahun 2020, 8 juta UMKM telah On Boarding ke dalam digitalisasi. Kolaborasi UMKM dan Kementerian Koperasi dan UMKM RI untuk memberikan kesempatan agar UMKM bisa berkembang lebih baik.

Perlunya digitalisasi diperkuat dengan adanya Pandemi Covid-19, dimana perempuan UMKM mengalami beberapa kondisi, seperti : 1) permintaan produk mengalami penurunan; 2) distribusi produk mengalami hambatan karena kebijakan pemerintah sehubunngan dengan mencegah menyebarnya Pandemi Covid-19 seperti pemberlakukan PSBB di beberapa daerah.   

 

Kondisi perempuan UMKM di masa Pandemi Covid-19 (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Kolaborasi

 

Informasi menarik juga datang dari VERA GALUH SUGIJANTO (VP General Secretary Danone Indonesia). Bahwa kolaborasi selalu ditekankan agar Danone Indonesia tetap berkembang dan bersahabat dengan masyarakat luas. Danone Indonesia merasa untuk memenuhi PANGGILAN UNTUK TRANSFORMASI DIGITAL MELALUI KOLABORASI.

Fokus Danone Indonesia berkomitmen mendukung Sustainable Development Goals melalui program inisiatif dengan kolaborasi dengan berbagai pihak. Melalui pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan. Adapun, program yang dilakukan seperti WARUNG ANAK SEHAT dan AQUA HOME SERVICE (AHS)".

 

 

Fokus Danone Indonesia berkomitmen tercapainya Sustainable Development Goals (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Untuk mensukseskan program WARUNG ANAK SEHAT, Danone Indonesia melakukan kolaborasi dengan ibu-ibu. Pemberian ilmu gizi kepada ibu-ibu kantin tentang kesehatan dan gizi serta ketrampilan pemberian jajanan gizi sehat di kantin melalui berbagai pelatihan. Danone Indonesia juga memberikan bantuan dan pendampingan terus menerus.

Selain ibu-ibu Danone Indonesia juga bekerja sama dengan Danone Ecosystem Fund, Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dan Danone SN Indonesia yang telah menyalurkan bantuan dengan total lebih dari 1 miliar. Bantuan tersebut berupa bantuan langsung tunai, perbekalan sembako berupa voucher untuk membeli gizi keluarga dan kebutuhan lainnya.

Sedangkan, dalam program Aqua Home Service (AHS) melalui AHS Academy, Danone Indonesia mengadakan kolaborasi dengan Umar Usman Business School untuk pembinaan, pelatihan dan modul tentang ketrampilan bisnis dasar seperti pemasaran, penjualan dan hubungan pelanggan.

Program tersebut bertujuan untuk meningkatan kompetensi AHS tentang pentingnya Hidrasi Sehat sebagai Duta Kebaikan. Dengan memberikan rangkaian konten edukasi dan pelatihan sejak tahun 2019. Dan, untuk memastikan kesehatan dan keselamatan AHS, maka Danone Indonesia menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk seluruh AHS dengan jumlah 75.000 APD.

 

Menghadapi Challenge

   

Untuk memberikan ilmu tentang pembekalan Perempuan UMKM, Danone Indonesia juga mengundang pembicara dari Google Indonesia. DORA SONGCO (Marketing Manager for Brand & Reputation Google Indonesia). Di mana, Google Indonesia beberapa kali mengadakan kelas dalam program Women Will di beberapa kota.

DORA SONGCO menyatakan bahwa agar perempuan UMKM bisa bertahan, maka perlu adaptasi dan inovasi produk. Tantangan perempuan UMKM adalah tentang teknologi digital.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi challenge (tantangan) tersendiri.  Karena, masalah yang dihadapi perempuan UMKM untuk melakukan perubahan ke arah digital, adalah: 1) kurangnya percaya diri; dan 2) literasi digital. Menurut beliau, perempuan UMKM yang terjun dalam teknologi digital mengalami kenaikan penjualan produknya hingga 80 persen. 

 


Perempuan UMKM perlu adaptasi dan inovasi produk agar tetap bertahan (Sumber: dokumen pribadi)
 

 

Digital Marketing

 

UMKM memberikan andil dalam Product Domestic Bruto (PDB) sebanyak 60,3 persen. Pangsa pasar dan peluang UMKM memang sungguh gurih. Oleh sebab itu, agar UMKM bisa naik kelas, maka perlu memahami adanya Digital Marketing.

Memang, perlu dipahami bahwa proses digital marketing harus tahu tentang tata caranya. Agar, proses marketing tepat sasaran. Maka, Danone Indonesia mengadakan kolaborasi dengan JONATHAN END (Digital & Growth Consultant).

Menurut JONATHAN END menyatakan bahwa perlunya pemahaman literasi digital, khususnya untuk perempuan UMKM. Perlu adanya perubahan mindset ke arah digital. Bukan hanya sebagai pembeli, tetapi sebagai Business Woman yang memanfaatkan Digital Marketing.

Mengapa perempuan UMKM harus memahami Digital Marketing? Ada alasan kuat yang mendasari hal tersebut, yaitu:

1. Penduduk Indonesia kini mencapai 272,1 juta orang.

2. 60 persen penduduk Indonesia (175,4 juta orang) menggunakan internet dengan durasi rata-rata 7 jam 59 menit.

3. 59 persen penduduk Indonesia (160 juta orang) menggunakan media sosial dengan durasi rata-rata 3 jam 26 menit.

4. Jangkauan pasar internasional.

Sebagai tambahan, perempuan UMKM juga perlu menggunakan jasa Influencer. Hal ini bertujuan agar produk yang dipasarkan bisa terkenal di ranah digital lebih luas. Karena, rata-rata Influencer mempunyai banyak follower (pengikut) di media sosialnya. Hal ini menjadi bekal agar produknya mudah dikenal pelanggan dan cepat meluas pemasarannya.       

 

Perlunya Literasi Digital pada perempuan UMKM agar produk dikenal luas (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Ada pepatah, manusia adalah makhluk sosial. Tidak jauh berbeda dengan Perempuan UMKM. Untuk bisa naik kelas, maka perlu adanya kerjasama atau kolaborasi dengan berbagai pihak.

Perempuan UMKM tak mampu bekerja sendiri. Ia membutuhkan pihak lain, agar produk yang dipasarkannya bisa mencapai konsumen yang lebih luas hingga ke tahap Go Internasional.

Kini, perempuan bukan hanya pintar belanja. Tetapi, dengan teknologi digital Perempuan Bisa mencapai tahap Business Woman berskala internasional.

Jangan pernah takut untuk bergerak. Karena, bangsa Indonesia selalu mendukung agar UMKM Maju. Sekali lagi, perlu adanya KOLABORASI berbagai pihak. Untuk memahami informasi yang disampaikan dalam webinar, anda bisa melihat infografis berikut:    


Infografis Perempuan UMKM mampu naik kelas dengan adanya penggunaan teknologi digital (Sumber: dokumen pribadi)


Tuesday, December 15, 2020

GESID Untuk Generasi Emas 2045

 

GESID Untuk Generasi Emas 2045 (Sumber: GESID/SS)

 

 

Generasi Emas 2045 menjadi tujuan besar bangsa Indonesai. Di mana, rakyat Indonesia mempunyai GESID (Generasi Bangsa Indonesia) yang sehat karena kebutuhan nutrisi gizi seimbang. Dan, bangsa Indonesia dipimpin oleh generasi anak bangsa yang sehat dan cerdas. Namun, tujuan besar tersebut tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan.

Perlu adanya tindakan yang dilakukan pemerintah secara berkesinambungan. Berbagai program telah dilakukan agar Nutrisi Untuk Bangsa terpenuhi. Bukan hanya Pemerintah yang peduli tentang kondisi kesehatan bangsa Indonesia. Tetapi, pihak swasta pun ikut memikirkan hal tersebut. Salah satunya perusahaan Danone Indonesia 

REMAJA WAJIB SEHAT 

Tanggal 14 September 2020 pukul 10.00-12.00 WIB kemarin, Danone Indonesia mengadakan Webinar melalui aplikasi Zoom. Acara Webinar tersebut sebagai langkah kongkret untuk LAUNCHING PROGRAM GESID (GENERASI SEHAT INDONESIA). Launching program #GenerasiSehatIndonesia bertajuk Edukasi Gizi dan Kesehatan Bagi Remaja SMP dan SMA.

Webinar tersebut sangat menarik karena mengundang para ahli yang paham di bidangnya. Dihadiri dengan Keynote Speaker Dr. Dian Dipo, MA. Sedangkan, pembicara yang hadir adalah:

1.    Vera Galuh Sugijanto (VP General Secretary Danone Indonesia).

2.    Prof. Dr. Ir. Arif Satria, MSi. (Rektor IPB) yang diwakili oleh Dekan Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Prof. Dr. Ir. Ujang Sunarwan, MSc.

3.    Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi. (Ketua Departemen FEMA IPB).

4.    Karyanto Wibowo (Sustainability Development Director Danone Indonesia).

5.    Sharla Martiza (Siswi SMA, Pemenang The Voice Kids tahun 2017).

        Pembahasan pada Webinar tersebut menarik untuk disimak. Yaitu, perlunya edukasi gizi dan kesehatan remaja. Khususnya, remaja SMP dan SMA demi generasi emas Indonesia tahun 2045.

Dan, GESID diluncurkan secara resmi oleh Sekretaris Direktorat Jendral Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI Ibu drg. Kartini Rustandi, M.Kes. Di saat bersamaan, beliau juga secara simbolis memberikan buku panduan GESID kepada perwakilan Duta Gesid dari wakli SMP dan wakil SMA.

 

Peluncuran GESID oleh Sekretaris Direktorat Jendral Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI Ibu drg. Kartini Rustandi, M.Kes.(Sumber: GESID/SS)

 

Beliau juga menyampaikan informasi tentang Edukasi Gizi dan Kesehatan Remaja. Situasi gizi dan kesehatan anak Indonesia dibahas secara detil. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, GSHS tahun 2015, SDT tahun 2014, SDKI tahun 2017 dan Hardiansyah tahun 2014 menyatakan laporan bahwa rerata anak hingga remaja Indonesia terkena anemia, yatu:

1.    Usia 5 - 14 tahun sebesar 26 persen.

2.    Usia 15 - 24 tahun sebesar 32 persen.

Juga, sebanyak 98 persen tidak minum tablet tambah darah dengan cukup. Di mana, sebesar 20 persen merasa tidak perlu, 19 persen lupa dan 9 persen takut efek samping. Dalam hal kondisi tubuh, situasi gizi dan kesehatan menjelaskan bahwa 1 dari 4 remaja mengalami stunting dan 1 dari 7 remaja mengalami kelebihan berat badan.

Situasi gizi dan kesehatan, jika dilihat dari hal sarapan, maka menghasilkan penelitian sebagai berikut:

1.    65 persen tidak sarapan.

2.    35 persen yang sarapan, 90,2 persen nya sarapan dengan muru rendah.

3.    20 persen anak sekolah memiliki kebiasaan makan <3 kali/hari.

4.    97 persen kurang konsumsi sayur dan buah.

5.    57 persen kurang aktifitas fisik.

6.    45 persen tidak cuci tangan dengan benar.

Situasi gizi dan kesehatan tentu tidak terlepas dari masalah konsumsi makanan. Dan, penelitian menjelaskan bahwa:

1.    50 persen konsumsi makanan manis.

2.    32 persen konsumsi makanan asin.

3.    11 persen konsumsi makanan instan.

4.    78 persen konsumsi makanan berpenyedap.

Hal lain yang menarik untuk disimak adalah masalah pernikahan dan kehamilan yang terjadi pada anak Indonesia.  Hasil penelitian menjelaskan bahwa:

1.    4 persen menikah usia 15 – 24 tahun.

2.    2,6 persen menikah usia <15 tahun.

3.    Kehamilah remaja 36/1000 remaja.

Untuk menciptakan situasi gizi dan kesehatan khususnya remaja, maka diperlukan adanya intervensi, berupa kegiatan berkesinambungan di dalam dan di luar sekolah, seperti:

1.    Program UKS (72,59 persen Puskesmas melaksanakan penjaringan kelas 7 dan 10.

2.    Model sekolah/madrasah (46,57 persen Puskesmas membina minimal 20 persen sekolah/madrasah)

3.    Sebanyak 5.343.941 remaja putri mendapatkan TTD (Aplikasi pengingat minum untuk mencegah anemia).

4.    40,89 persen Puskesmas mampu melaksanakan PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA.

5.    Posyandu Remaja.

6.    Edukasi kesehatan dan gizi.

7.    PEMBINAAN KESEHATAN DI LEMBAGA PENGASUHAN (Rumah singgah, Panti/LKSA, Lapas/Rutan Anak/LPKA)

8.    Pendataan dan informasi kesehatan melalui “RAPOR KESEHATANKU”.

 

 

Intervensi untuk edukasi gizi dan kesehatan remaja khususnya remaja putri (Sumber: GESID/SS)

 

Perlu diketahui bahwa situasi gizi dan kesehatan anak Indonesia diawali sejak 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Itulah sebabnya, saat 1.000 HPK harus diperhatikan dengan baik oleh keluarga dan pendukung lainnya. Perlu adanya STRATEGI pendekatan Siklus Hidup (1.000 HPK + dengan upaya optimalisasi cakupan) melalui:

1. Peningkatan kapasitas SDM.

2. Peningkatan Kualitas Program.

3. Penguatan Edukasi Gizi.

4. Penguatan Manajemen Intervensi Gizi di Puskesmas dan Posyandu.

Dan, intervensi yang dilakukan untuk mendukung keberhasilan 1.000 HPK melalui:

1. Promosi dan konseling menyusui.

2. Promosi dan konseling PMBA.

3. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan.

4. Pemberian suplementasi TTD Ibu hamil dan remaja, serta pemberian kapsul vitamin A.

5. Penanganan Masalah Gizi dengan pemberian makanan tambahan.

6. Tatalaksana gizi buruk.

Remaja menjadi perhatian serius dalam hal pemberian edukasi gizi dan kesehatan remaja. Perlunya intervensi pada orang tua, masyarakat sekolah (siswa dan guru), Pembina UKS, Pengelola kantin, dan tokoh berpengaruh di masyarakat). Setelah edukasi, maka diperlukan literasi gizi dengan menjangkau remaja.

Hal tersebut bertujuan agar remaja aktif, memiliki status gizi yang baik, serta mempunyai kemampuan kognitif yang baik. Oleh sebab itu, membutuhkan intervensi, integrasi dan dukungan multisektor. Dengan kata lain, perbaikan gizi pada remaja meliputi peningkatan kapasitas, suplementasi TTD (Tablet Tambah Darah), edukasi dan penguatan manajemen terintegrasi stakehoders terkait.

Menghadapi kondisi Pandemi Covid-19, bagaimana dengan perbaikan gizi remaja di masa adaptasi kebiasaan baru (New Normal)? Tentu, perbaikan gizi tersebut tetap dilakukan karena kesehatan remaja harus tetap terjaga. Nah, hal yang perlu dilakukan melalui:

1. Menjaga daya tahan tubuh, melalui prinsip ISI PIRINGKU.

2. Modifikasi Pendidikan gizi dan kesehatan secara luring dan daring.

3. Progam perbaikan gizi remaja tetap berjalan dengan protocol kesehatan.


 

Perbaikan gizi remaja di saat kebiasaan baru (New Normal) (Sumber: GESID/SS)

  

STUNTING 

Pada Webinar tersebut juga dibahas masalah Stunting. Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan tinggi badan anak seusianya. Hal ini disebabkan karena kekurangan gizi kronis dengan manifestasi kegagalan pertumbuhan yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Dan, bahaya yang timbul dari Stunting, seperti:

1. Pendapatan saat dewasa yang lebih rendah.

2. Performa di sekolah yang lebih buruk.

3. Ancaman terhadap penyakit kronis.

Sustanability Development Director Bapak Karyanto Wibowo memaparkan materi tentang Generasi Sehat Pemutus Mata Rantai Stunting Menuju Generasi Emas 2045. Sebagai informasi bahwa masalah Stunting bagi Indonesia tergolong kronis. Di mana 3 dari 10 anak Indonesia menderita Stunting.

Perhatikan gambar di bawah. Di mana, kondisi negara dengan stunting tinggi seperti negara tetangga Timor Leste dengan tingkat stunting lebih dari 50 persen. Dengan negara Korea Selatan dengan tingkat stunting hanya 2,5 persen. Perkembangan negaranya pun sungguh luar biasa. Dengan menjadi produktor berbagai produk teknogi dan Drakor & K-POP yang fenomenal.

 

 

Perbedaan mencolok kondisi gizi antara negara Timor Leste dengan Korea Selatan (Sumber: GESID/SS)

  

Tingginya prevalensi stunting pada jangka panjang sangat berdampak kepada kerugian ekonomi Indonesia. Bahkan, jika dihitung-hitung negara bisa mengalami kerugian hingga 300 triliun.

Perlu diketahui bahwa menurut WHO menyatakan bahwa masalah kesehatan masyarakat dianggap kronis jika prevalensi stunting lebih dari 20 persen.  Di Indonesia sendiri ada 14 provinsi yang mempunyai prevalensi stunting melebihi angka prevalensi nasional. Indonesia menduduki tingkat ke-5 dengan prevalensi stunting masih 30 persen dengan pendapatan perkapita 59 juta per tahun.

 

“Sejatinya, anak Indonesia mampu berdayasaing tinggi di tingkat global. Hal ini dibuktikan bahwa dalam daftar peringkat Danone Nations Cup 2017, anak Indonesia menjadi perwakilan terbaik Asia”.

 

Stunting bukan hanya menjadi masalah untuk saat ini saja. Tetapi, Stunting telah menjadi masalah antar generasi. Cycle of Stunting menunjukan bahwa kondisi remaja saat ini akan berpengaruh besar di masa depan. Itulah sebabnya, kondisi remaja saat ini perlu diperhatikan agar tidak mengalami malnutrisi.

Ketika, remaja kekurangan gizi, maka kemungkinan besar akan menjadi ibu yang mempunyai kondisi tubuh kekurangan gizi kronis. Dan, Ibu tersebut akan melahirkan anak yang mempunyai berat tubuh di bawah ideal. Selanjutnya, anak yang mempunyai kondisi tubuh di bawah ideal akan mengalami kondisi stunting.  

BUKU PANDUAN GESID 

Untuk memberikan pemahaman mendalam tentang edukasi gizi dan kesehatan remaja, maka buku panduan GESID menjadi langkah terbaik. Buku Panduan GESID memberikan pemahaman mendalam buat remaja agar peduli tentang kesehatan mereka.

Dalam webinar, Ketua Tim penyusunan buku panduan GESID Ibu  Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi. Selaku Ketua Departemen Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB juga memaparkan tentang kilsan pembahasa menarik yang ada di Buku Panduan GESID.

GESID merupakan program edukasi Gizi dan Kesehatan bagi Remaja hasil Kerjasama FEMA IPB dan Danone Indonesia.Mengapa Remaja perlu Buku Panduan GESID?

1.    Agar edukasi gizi dan kesehatan pada remaja lebih terarah dan sesuai bahasa remaja, agar remaja mudah paham, tidak bosan dan bisa mengembangkan lebih jauh, agar remaja bisa mengedukasi dengan baik dan benar.

2.    Panduan telah disusun oleh tim ahli agar mudah dipahami dan digunakan.

3.    Buku panduan tersebut telah diuji keterbacaan dan uji coba dalam Pilot Project.

4.    Berisi materi yang bermutu : Aku Sehat, Aku Peduli dan Aku Bertanggung Jawab.

Ambil saja materi di GESID tentang Anemia. Penderita Anemia memiliki tanda-tanda seperti kondisi letih, lesu, lemah, Lelah, lalai, pusing, mata berkunang-kunang dan susah berkosentrasi. Oleh orang AWAM, Anemia dikenal dengan kurang darah. Anemia adalah suatu penyakit di mana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Hemoglobin adalah salah satu komponen dalam darah merah/eritrosit yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkannya ke seluruh sel jaringan tubuh.  

Penyebab utama Anemia adalah kekurangan zat besi dalam konsumsi makan yang berakibat:

1. Menurunnya kebugaran dan ketangkasan berpikir.

2. Menurunnya konsentrasi belajar.

3. Menurunnya daya tahan tubuh.

4. Mengganggu pertumbuhan.

5. Muka terlihat pucat dan menurunkan kemampuan fisik.

Mengapa harus remaja yang menjadi sasaran? Kita memahami bahwa peran remaja sebagai agen perubahan sangat menonjol. Remaja sebagai penerima program bisa saling mengedukasi. Juga, ada alasan penting, mengapa remaja perlu diedukasi Gizi dan kesehatan:

1.    Remaja merupakan generasi penerus bangsa di masa yang akan datang, maka harus sehat dan berkualitas. 

2.    Remaja, khususnya Remaja Putri merupakan calon ibu di masa depan, maka perlu sehat.

3.    Remaja putri yang sehat, setelah menjadi ibu akan melahirkan anak-anak yang sehat. Maka, mampu memtus stunting.

4.    Remaja yang mempunyai pengetahuan gizi dan kesehatan yang baik mampu mengedukasi lingkungannya dan mengaplikasikan untuk kehidupannya sendiri. Sehingga, di masa depan memiliki anak-anak yang sehat dan berkualitas.

Juga, Remaja perlu diberi edukasi tentang gizzi, karena berdasarkan hasil penelitian menunjukan:

1.    Ada hubungan antara pengetahuan gizi dengan status gizi pada remaja putri.

2.    Ada hubungan signifikan antara pengetahuan gizi seimbang dan penerapan pesan gizi seimbang dengan anemia gizi besi.

3.    Terdapat hubungan antara pengetahuan gizi dengan status gizi pada mahasiswa.

4.    Pendidikan gizi adalah kebutuhan saat ini, yang akan membantu remaja untuk mengadopsi kebiasan makan sehat. 

SEHAT TIDAK INSTAN 

Tidak ketinggalan, dalam webinar juga menampilkan pembicara dari perwakilan remaja yaitu  Sharla Martiza (Siswi SMA, Pemenang The Voice Kids tahun 2017). Sharla denan jujur mengakui bahwa dulu kondisi badan gemuk. Tentu, sebagai remaja menginginkan untuk memiliki kondisi tubuh yang ideal. Apalagi, kondisi badan yang gemuk, seringkali menjadi bahan ejekan atau bully-an teman-temannya.

 

Shrla Martiza (Sumber: Okezone)

 

Sekarang ini. Masih banyak remaja wanita yang masih menganggap bahwa Body image Remaja sangatlah penting. Oleh sebab itu, banyak remaja wanita yang mencari cara instan untuk membentuk tubuh yang ideal. Padahal, untuk membuat kondisi badan yang sehat tidaklah seperti membalikan telapak tangan. Perlu adanya proses yang terus dilakukan.

Sharla seringkali browsing di internet tentang cara untuk membuat kondisi tubuh menjadi sehat dan ideal. Namun, dia masih ragu dan takut dengan informasi yang disajikan di internet. Apakah informasi tersebut benar dan bisa dipertanggungjawabkan.

Sharla pun memahami bahwa konsep Isi Piringku mampu membuat kondisi tubuh menjadi sehat karena nutrisi. Di mana, remaja khususnya wanita membutuhkan nutrisi gizi yang seimbang. Antara nasi, lauk-pauk, sayuran dan buah-buahan.     

GENERASI EMAS 2045 

Pemahaman edukasi gizi dan kesehatah remaja melalui buku panduan GESID secara tidak langsung memberikan Pendidikan Karakter bagi generasi masa depan. Remaja yang sehat saat ini tentu akan melahirkan generasi yang sehat di masa depan. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia mengharapkan agar bangsa dipimpin oleh pemimpin yang sehat. Pemimin yang siap bersaing di pentas global.

Pendidikan Karakter remaja melalui GESID juga menjadi modal besar untuk menghadapi Bonus Demografi. Ketika remaja Indonesia Sehat, maka remaja akan dengan mudah melalui Bonus Demografi tersebut. Kesuksesan melewati Bonus Demografi akan menjadi modal utama untuk menjadikan Generasi Sehat 2045.

Tujuan besar Generasi Sehat 2045 bermula dari sekarang. Di mana, pemahaman remaja tentang edukasi Gizi dan Kesehatan dilakukan secara intens dan menyeluruh. Dnone Indonesia tellah melakukan pilot project d 5 SMP dan 5 SMA area Jabodetabek. Program GESID tersebut akan diperluaas seluruh Indonesia. Dengan melibatkan pemerintah setempat, agar GESID mampu dipahami seluruh remaja Indonesia.

Dalam interna karyawan Danone Indonesia sebanyk 15.000 pun bisa menjadi penyambung lidah untuk menularkan program GESID ke orang lain. Cepat atau lambat, GESID akan melakukan akselerasi ke seluruh remaja di seluruh pelosok nusantar. Tentu, seiring dengan program GESID tersebut akan tertanam Pendidikan karakter sebagai bekal remaja demi menatap Generasi Emas 2045.

Dengan demikian, perwujudan Generaasi EmaS 2045 bukanlah mimpi belaka. Tergantung, sejauh mana remaja Indonesia mau berbagi, menyerap informasi GESID. Karena, GESID merupakan program pertama Danone Indonesia yang telah melewati berbagai kajian mendalam bersama para pakar dari IPB. Bahkan, buku panduan GESID telah diuji untuk bacaan remaja. Dengan tujuan, sejauh mana pemahaman remaja terhadap informaasi yang ada.

GESID telah memberikan oase baru. Sebuah edukasi gizi dan kesehatan remaja yang bisa dipercaya. Kini, kesiapan menghadapai Generasi Emas 2045 ada di tangan remaja sekarang. Siapkah menghadapi Bonus Demografi demi keberhasilan Generasi Emas 2045? Masa depan bangsa Indonesia ada di tangan anda. Karena, andalah yang akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia nanti..

 

Infografis Generasi Sehat Indonesia (GESID) (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Catatan:

Jika anda ingin mendapatkan informasi tentang Edukasi Gizi dan Kesehatan Remaja. Anda bisa baca informasinya di bit.ly.PedomanGiziMasyarakat.

Anak Indigo, Anugerah atau Musibah?

  Anak Indigo (Sumber: shutterstock)       “Mama, itu banyak anak kecil plontos lagi lari-lari kayak tuyul”   Kalimat yang diuca...