Tuesday, July 27, 2021

PON XX PAPUA 2021, MENAKLUKAN TANTANGAN DAN MERAIH PRESTASI OLAHRAGA SAAT PANDEMI

  

Mimika Sport Center, salah satu venue PON XX 2021 Papua (Sumber:   PON XX Papua /IG)

 

Papua itu ibarat serpihan surga yang jatuh ke bumi. Kekayaan sumber daya alam dan keindahan budayanya mampu menghipnotis banyak orang. Sungguh, belum lengkap rasanya menjadi “Indonesia”, jika belum mengunjunginya. Mentari dari Timur itu sebentar lagi akan menjadi pusat perhatian nasional, bahkan dunia. Kini, saatnya membuktikan “Mentari Harapan Baru dari Timur" Indonesia. Karena, 10 ribu atlet dan ofisial olahraga dari 34 Provinsi akan berkumpul di pulau yang mendendangkan Apuse, dalam perhelatan even nasional PON XX Papua 2021.  

 

          Sejak PON (Pekan Olahraga Nasional) I yang diadakan di Kota Praja Surakarta tanggal 8 September-12 September 1948. Baru kali ini, Provinsi Papua dipercaya sebagai tuan rumah pada perhelatan PON XX Papua 2021. Yang akan berlangsung pada tanggal 2 Oktober-15 Oktober 2021.

          Kini, pemerintah berharap agar PON tidak lagi diadakan di Pulau Jawa. Hal ini bertujuan agar terjadinya pemerataan pembangunan infrastruktur. Dengan demikian, maka semua daerah akan mendapatkan peluang yang sama untuk menjadi tuan rumah PON.

          Tentu, menjadi tuan rumah perhelatan olahraga bergengsi PON adalah sebuah kebanggaan setiap daerah di Indonesia. Bukan hanya dipercaya oleh masyarakat Indonesia untuk menaklukan tantangan dan meraih prestasi olahraga. Namun, bisa menghasilkan para jawara baru di berbagai bidang olahraga. Dan, seluruh mata Indonesia akan tertuju ke bumi Papua.

 

LOGO DAN MASKOT PON XX

          Terpilihnya Papua sebagai tuan rumah PON XX bukanlah tanpa sebab. Tentu, melewati mekanisme resmi yang disetujui oleh Pemerintah. Papua sendiri harus bersaing ketat dengan Nanggroe Aceh Darussalam dan Bali untuk menjadi tuan rumah PON XX.

          Dengan mekanisme pemungutan suara dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tanggal 11 Maret 2014 lalu. Akhirnya, Papua terpilih sebagai tuan rumah PON XX, dan mengalahkan Nanggroe Aceh Darussalam dan Bali. Selanjutnya, Surat Keputusan (SK) Menpora Nomor 0110 tahun 2014 tertanggal 2 April 2014, menjadi bukti sah. Bahwa, Papua siap menerima kedatangan duta olahraga dari 34 provinsi di Indonesia.


Logo PON XX Papua 2021 (Sumber: Kemenpora)

 

          Selain logo PON XX, hal lain yang menarik dari PON XX Papua 2021 adalah keberadaan Maskot PON XX Papua 2021. Perlu diketahui bahwa Papua memiliki   dua hewan khas, yaitu Kangguru Pohon atau Kangpo dan Burung Cendrawasih   atau Drawa.

          Lebih asik lagi, 2 maskot tersebut juga memakai pakaian khas Papua. Maskot Kangpo memakai rumbai di kepala dan pinggang. Sedangkan, Maskot Drawa juga memiliki mahkota dan rumbai, seperti halnya Maskot Kangpo. Selain maskot PON XX Papua 2021, masyarakat Indonesia akan mengenal bahasa penyemangat tau Tagline di media online khas Papua yaitu TORANG BISA! Dua kata tersebut memberikan makna mendalam tentang semangat khas Papua terhadap semua kontingen yang akan bertanding di perhelatan akbar PON XX Papua 2021.

 

Maskot PON XX Papua 2021 (Sumber: Republika)

 

TORANG BISA! SAAT PANDEMI

          Sejatinya, PON XX Papua akan diadakan pada tahun 2020 lalu. Namun, dikarenakan pemerintah dan masyarakat sedang konsentrasi Pandemi Covid-19. Maka, perhelatan 4 tahunan tersebut terpaksa ditunda dan diselenggarakan pada tahun 2021.

          Meskipun, pada kenyataannya, kondisi sekarang masih dalam suasana Pandemi Covid-19. Namun, Pemerintah dan masyarakat telah siap menghadapinya dengan sosialisasi Protokol Kesehatan (Prokes) sejak dini.

          Kita mesti bangga dengan adanya PON XX Papua 2021. Mengapa? Meskipun, negeri ini masih dalam suasana Pandemi Covid-19. Namun, persiapan untuk menyelenggarakan pesta olahraga 4 tahunan bertaraf nasional tidaklah main-main. Pemerintah dan semua stakeholder yang terlibat, bekerja secara serius dan totalitas. Demi suksesnya ajang olahraga di tanah Mentari Timur.

          Sejak awal, pemerintah telah menyiapkan berbagai media informasi. Agar, gaung PON XX Papua 2021 mampu menyasar ke seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan, bisa menjadi pusat perhatian dunia. Oleh sebab itu, berbagai media informasi dari media offline hingga online digarap dengan maksimal.

          Berbagai poster dipasang di berbagai tempat strategis. Poster-poster tentang logo, maskot dan mempresentassikan cabang olahraga (dengan latar belakang keindahan tanah Papua) diharapkan menjadi pemantik optimisme masyarakat Indonesia. Agar, ikut menyemarakan gegap-gempita perhelatan olahraga nasional di bumi Cendrawasih. Anda bisa menikmati poster menarik berbagai cabang olahraga di media sosial resmi Instagram PON XX Papua 2021.   

 

Poster AeroSport dengan latar belakang Jembatan Youtef di Kota Jayapura Papua (Sumber; PON XX Papua 2021/IG)

 

          Karena PON XX Papua 2021 diselenggarakan saat bangsa Indonesia masih menghadapi Pandemi Covid-19. Maka, KONI sebagai penyelenggara pusat telah mengadakan vaksinasi Covod-19, baik bagi atlet, ofisisial, dan pihak penunjang lainnya.

          Tentu, seandainya ajang olahraga bergengsi nasional tersebut bisa dikunjungi penonton. Maka, siapapun wajib vaksinasi Covid-19 sebagai syarat utama. Hal ini bertujuan untuk mencegah penularan atau paparan Covid-19. Serta, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti timbulnya klaster baru penularan Covid-19.    

 

STANDAR NASIONAL DAN KESIAPAN GELARAN

          Perlu diketahui bahwa Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) telah menentukan 4 kabupaten/kota yang menjadi penyelenggara PON XX Papua 2021. Yaitu: Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Kabupaten Merauke.

          Even bertaraf nasional tersebut akan mempertandingkan 37 cabang olahraga, 56 nomor disiplin cabang olahraga, dan 679 nomor pertandingan/perlombaan. Kurang lebih akan hadir 10.000 atlet dan ofisial. Bahkan, pendukung acara olahraga 4 tahunan tersebut sekitar  9.000 orang.

         Selanjutnya, Kompas (15/07/2021) merilis bahwa ada 14 kabupaten/kota tersebut akan menjadi lokasi pertandingan beberapa cabang olahraga (cabor), dengan pembagian sebagai berikut:

1.     Kota Jayapura :  15 cabang olahraga dengan 21 nomor disiplin.

2.     Kabupaten Jayapura : 14 cabang olahraga dengan 22 nomor disiplin.

3.     Kabupaten Mimika : 9 cabang olahraga dengan 12 nomor disiplin.

4.     Kabupaten Merauke : 6 cabang olahraga dengan 6 nomor disiplin.

          Keuntungan yang bisa diperoleh dengan adanya PON XX Papua 2021 adalah pemerataan pembanguan infrastruktur. Di mana, pembangunan tersebut yang tidak hanya bertumpu di pulau Jawa.

           Sebagai tuan rumah ajang bergengsi tingkat nasional tersebut, maka Papua mulai berhias diri dengan adanya pembangunan infrastruktur, Yang nantinya akan mendukung kontes olahraga nasional. Seperti pembangunan rumah susun (rusun) untuk tempat tinggal atlet dan ofisial.

 

Pembangunan rusun untuk PON XX Papua 2021(Sumber: Balai P2P Papua I/ Bagian Hukum dan Komunikasi Publik Ditjen Perumahan Kementrian PUPR RI)

 

          Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura sangat merasakan dengan adanya pembagunan infrastruktur sarana dan prasarana pertandingan. Juga, akan membangkitkan denyut perekonomian. Lagi, geliat transportasi selama PON XX Papua 2021 akan terlihat. Karena, Pemerintah akan mendistribusikan sekitar 430 unit bus di seluruh klaster penyelenggara pertandingan.

          Hal yang menjadi perhatian pada perhelatan PON XX Papua 2021 adalah keberadaan Stadion Utama Papua Bangkit yang berubah nama menjadi Stadion Lukas Enembe. Stadion Lukas Enembe memiliki daya tampung lebih dari 40.000 penonton. Pembangunan stadion tersebut dimulai pada akhir 2016, dan selesai pada Mei 2019 di lahan seluas 13,7 hektar. Stadion mewah yang berada di Kampung Harapan, Kelurahan Nolokla, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura akan menjadi tempat upacara pembukaan dan penutupan PON XX Papua 2021.

          Masyarakat Papua pasti bangga dengan keberadaan Stadion Lukas Enembe. Hal ini dikarenakan venue PON XX tersebut mendapatkan penghargaan 3 rekor MURI sekaligus. Yaitu: 1) Kategori struktur atap baja lengkung bentang terpanjang; 2) Kategori atap tanpa sambungan dan baut mengerucut terluas berbentuk drone; dan 3) Kategori instalasi dan diameter terbesat textile duct.   


Stadion Lukas Enembe atau Papua Bangkit mendapatkan penghargan  3 rekor MURI sekaligus  (Sumber: PON XX Papua 2021/IG)

 

          Lagi, pembangunan infrastruktur  untuk menunjang perhelatan PON XX Papua 2021 adalah Mimika Sport Center. Bangunan di lahan seluas 12,5 hektar tersebut merupakan kompleks olahraga, yang di dalamnya terdapat stadion indoor, outdoor, asrama atlet, dan bangunan penunjang lain. Venue PON XX ini bertaraf Internasional. Nantinya akan menjadi tempat pertandingan basket, voli dan badminton. Berlokasi di Kelurahan Wanagon Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika.  

 

Mimika Sport Center (Sumber; PON XX Papua 2021/IG)

 

EKSOTISME PAPUA 

          PON XX Papua 2021 akan menjadi ajang untuk menyebarkan pesan kearifan lokal. Di mana, Pemerintah Provinsi Papua meyakinkan bahwa produk lokal bumi Cendrawasih akan menjadi merchandise resmi. Maka, hasil alam dan buatan asli masyarakat Papua semacam madu wamena, noken, topi, tas dan lainnya akan menjadi buah tangan (oleh-oleh).   

          Bukan itu saja, produk lokal yang berupa Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Robongholo dan Nanwani produksi PDAM Jayapura, akan menjadi minuman resmi perhelatan akbar di bidang olahraga tersebut.

          Menarik, PON XX Papua 2021 menjadi ajang tereksposnya pesona eksotisme Papua secara massal. Betapa tidak, 10 ribu orang dan ribuan pendukung acara PON XX Papua 2021, akan mempunyai pengalaman menarik yang berbeda-beda. Tentu, mereka datang ke Papua bukan hanya untuk bertanding saja, bukan?.

          Mereka akan berlomba-lomba untuk menggali berbagai pengalaman menarik tentang Papua. Nantinya akan ditularkan ke keluarga, saudara, teman dan kolega secara offline. Namun, saat teknologi media sosial kian menanjak, maka mereka akan berbagi pengalamannya di media sosial.

          Kondisi di atas akan berdampak terhadap engagement (keterikatan) masyarakat luas dan dunia terhadap Papua di media online. Dalam dunia pemasaran, maka akan menjadi pemasaran gratis tentang Papua di dunia maya. Hal ini menjadi keuntungan besar untuk masyarakat Papua. Masyarakat Indonesia dan dunia akan memperoleh informasi tentang Papua, dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

          Orang makin penasaran untuk bisa mencicipi kuliner khas Papua. Perlu diketahui bahwa sagu menjadi bahan makanan pokok masyarakat Papua. Papua menwarkan kuliner nan lezat yang terbuat dari bahan sagu khas Papua. Adapun, kuliner yang berbahan sagu adalah 1) papeda; 2) sagu kering; 3) bubur sagu; dan 4) sinole.   

          PON XX Papua 2021 juga makin mengenalkan berbagai destinasi wisata menarik. Tentu, akan membangkitkan semangat banyak orang. Untuk melakukan eksplorasi pesona Papua saat pandemi Covid-19 sudah mereda. Mentari Timur akan menjadi pemandangan menarik bagi siapapun.

          Papua menghadirkan 3 festival menarik yang mesti anda kunjungi. Pertama, Festival Danau Sentani yang diadakan di bulan Juni Di kabupaten Jayapura. Festival tersebut diisi dengan tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, dan sajian berbagai kuliner khas Papua.

          Kedua, Festival Lembah Baliem yang diselenggarakan di bulan Agustus di Wamena. Festival tersebut menampilkan acara perang antar suku Dani, Lani dan Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Saat ini telah menjadi pertunjukan budaya dan seni masyarakat;

          Dan, ketiga, Festival Budaya Asmat diselenggarakan bulan Oktober di Kabupaten Asmat. Festival tersebut menampilkan pameran seni ukiran patung dan pesta budaya Asmat. Juga, terdapat waktu lelang ratusan ukiran Asmat yang dibuat langsung oleh pengrajin.   

          Memang, negeri kita tercipta dengan kondisi berpulau-pulau. Maka, pemerataan pembangunan harus diwujudkan. Agar, kita merasa bangga memiliki Papua. Karena, masih banyak destinasi wisata yang wajib anda ketahui. Seperti halnya di Sabang yang terdapat TITIK O KILOMETER. Maka, Merauke pun punya tugu yang sama di Distrik Sota. Anda bisa menempuhnya sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Merauke. 

 

Titik 0 kilometer Merauke (Sumber; PON XX Papua 2021/IG)

 

          Merauke juga dikenal sebagai Rio de Janeiro-nya Indonesia seperti di Brasil. Tepatnya di Pulau Habe yaitu Kampung Wambi Distrik Okaba Kabupaten Merauke, Papua. Di lokasi tersebut, berdiri kokoh Patung Yesus berwarna putih.


Patung Yesus di Pulau Habe (Sumber; PON XX Papua 2021/IG)

 

          Destinasi wisata lain yang tidak kalah menarik adalah keberadaan Bukit Jokowi. yang berada di kawasan Skyline, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura. Saya yakin, penamaan Bukit Jokowi ini sebagai bukti penghargaan dan penghormatan masyarakat Papua kepada Presiden RI Jokowi.

          Di mana, Presiden Jokowi menyempatkan untuk mengunjungi Papua saat kampanye Pilpres dan menjadi Presiden RI. Bukan itu saja, masyarakat Papua merasa kehadiran pembangunan infrastruktur saat pemerintahan Presiden Jokowi. Dari Bukit Jokowi, anda bisa menikmati keindahan Jayapura dari ketinggian, Teluk Youtefa dan kemegahan Jembatan Youtefa.

 

Bukit Jokowi (Sumber; PON XX Papua 2021/IG)

 

          Saya menyadari bahwa tidak akan habis mengupas tentang eksotisme Papua. Bukan hanya keindahan salju abadi di Jaya Wijaya yang mempunyai ketinggian 4.884 meter dpl, dan menjadi gunung paling tinggi di Indonesia. Namun, ada pesona menarik yang perlu anda ketahui yaitu Monumen Kapsul Waktu di Markas Avengers, yang berada di depan Kantor Bupati Merauke.

          Dinamakan Avengers karena bentuknya seperti ikon Avengers yaitu huruf A. Tetapi, gaya arsitekturnya tetap berbau lokal yaitu berupa tugu yang terinspirasi dari Menara perang Suku Dani.

          Tempat menarik yang diresmikan tahun 2018 digunakan sebagai wisata edukasi, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Bagian dalam monumen dihiasi dengan relief mengenai perjalanan Republik Indonesia, Pancasila dan kebudayaan Papua. Menarik, tempat ini menjadi tempat menyimpan impian anak muda dari seluruh Indonesia. Dan, akan dibuka kembali 70 tahun kemudian di tahun 2085.

 

Monumen Kapsul Waktu (Sumber; PON XX Papua 2021/IG)

 

          Mengenal lebih dalam dan meningkatkatnya pembangunan infrastruktur menjadi Mentari harapan baru dari Timur. Agar, Papua lebih dikenal di pentas nasional. Papua tidak lagi menjadi area yang terisolir dan menjadi bahan perundungan. Namun, dengan terselenggaranya PON XX Papua 2021, maka Papua akan menjadi daya tarik yang selalu dinanti untuk dikunjungi, layaknya Pulau Jawa.

Thursday, July 22, 2021

PENGALAMAN UNIK! NGINAP DI LAPANGAN MARKAS TENTARA UNTUK MENDAPATKAN NOMOR ANTRIAN VAKSINASI COVID-19

 

Menginap di lapangan markas tentara demi mendapatkan nomor antrian vaksinasi Covid-19 (Sumber dokumen pribadi)

 

 

          Pemerintah Indonesia memberlakukan PPKM Level 3-4, sebagai perpanjangan dari program sebelumnya yaitu PPKM Darurat Jawa dan Bali. Sebagai warga negara yang baik, kita harus patuh atas regulasi pemerintah. Tentu, demi kebaikan masyarakat. Untuk menekan penyebaran Covid-19 makin meluas. Apalagi, ada varian Covid-19 yang lebih ganas seperti varian Delta.

          Namun, apapun munculnya varian baru tersebut, hal yang meski dilakukan adalah masyarakat meski mempunyai imunitas (kekebalan tubuh). Maka, Pemerintah menggalakan vaksinasi dengan tujuan untuk menimbulkan kekebalan tubuh masyarakat terhadap ganasnya penyebaran Covid-19.

          Khususnya di Provinsi Bali sebagai tempat destinasi pariwisata. Maka, program vaksinasi menjadi hal yang sangat penting. Dimulai dengan orang nomor satu Gubernur Bali I Wayan Koster dan Wakil Gubernur Cok Ace. Kemudian, menyusul jajaran penting di tingkat Provinsi Bali. Selanjutnya, vaksinasi digencarkan untuk para pelayan publik seperti birokrasi, pelaku pariwisata dan lain-lain.

          Bahkan, program vaksinasi mulai intensif di berbagai Puskesman dan berbagai banjar di seluruh Bali. Menarik, untuk warga pendatang atau yang ber-KTP luar Bali. Maka, pemerintah menunjuk tempat khusus untuk vaksinasi seperti RSU Sanglah, RS AD Uddayana dan lain-lain.

 

MENGINAP DI LAPANGAN MARKAS TENTARA

          Kebetulan, RS AD yang terletak di dekat pusat perbelanjaan Tiara Dewata paling dekat dengan tempat tinggal saya. Maka, saya pun mencari informasi, bagaimana caranya agar bisa vaksinasi di RS AD tersebut. Karena, peminatnya yang sangat membludak, maka pihak penyelenggara memberikan pelayanan bagi masyarakat dengan syarat HARUS MEMPUNYAI NOMOR ANTRIAN.

          Jujur, untuk mendapatkan nomor antrian vaksinasi tersebut tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Atau, anda datang, dapat antrian dan langsung vaksinasi. Tidak semudah itu Ferguso!

          Pihak penyelenggara menyediakan jatah nomor antrian sebanyak 600 orang. Untuk menghindari aksi berebut, maka penyelenggara benar-benar membuat solusi cerdas. Di lapangan KESDAM/1X Udayana, samping RS AD Udayana telah disediakan 600 kursi yang tersedia di lapangan milik intansi tentara tersebut. Kursi-kursi diatur dengan jarak sesuai protokol kesehatan (prokes).

          Untuk mendapatkan nomor antrian, maka siapapun boleh menduduki kursi yang ada. Siapa cepat dialah yang akan dapat. Jangan kaget, untuk mendapatkan nomor antrian, maka saya bela-belain datang pukul 10 malam minggu tanggal 17 Juli 2021 lalu.

          Ngeri-ngeri sedap, ternyata 2/3 dari kursi yang ada telah diduduki orang. Pikir saya, ini orang pada ngantri jam berapa ya? Jika, kuota 600 orang sudah terpenuhi, maka pintu gerbang markas tentara tersebut akan ditutup. Setiap 10 menit, para petugas dari unsur tentara mengecek okupansi (kuota) yang telah tersedia. Dan, pukul 01 dinihari, kuota 600 orang telah terpenuhi. Gila!

          Perlu diketahui bahwa proses pembagian kartu nomor antrian vaksinasi Covid-19 tersebut dimulai pukul 05.30 pagi. Dengan demikian, saya beserta anggota keluarga dan ratusan orang harus menginap di lapangan markas tentara, dalam posisi duduk di kursi yang telah disediakan.

          Namun, menunggu waktu pembagian nomor antrian sangatlah membosankan di area yang benar-benar minim penerangan. Namun, saya katakan gelap gulita. Hanya sorot lampu dari bangunan sekitar dan lampu smartphone para pengantri. Saya tidak bisa membayangkan, jika malam itu terjadi turun hujan yang deras. Betapa kroditnya suasana malam yang gelap tersebut.

          Bersyukur, Allah SWT sayang, maka malam itu sungguh cerah. Semalaman, saya tidak bisa tidur, hanya menikmati bintang-bintang di langit. Saya melihat banyak orang yang rebahan atau tiduran di samping kursi yang diduduki. Bahkan, ada yang memang prepare dengan membawa tikar untuk tidur. Berbagi kondisi para pengantri menunggu datangnya pagi menjadi pemandangan menarik.

          Saya merasakan malam itu seperti proses Jurit Malam saat SMA dulu. Petugas tentara selalu mengingatkan, agar kursi yang telah diduduki jangan ditinggal pergi. Sebab, jika dalam waktu tertentu tidak bertuan (tidak ada orangnya), maka kursi tersebut akan menjadi milik orang lain. Yaitu, orang-orang yang mengadu nasib dengan menunggu di luar pintu gerbang markas tentara.

          Saya masih ingat pesan petugas pos jaga, saat saya bertanya tentang prosedur untuk mendapatkan nomor antrian vaksinasi.

 

“Kalau bapak mau pergi, minta tolong saudara atau anak untuk duduk di kursi yang anda miliki. Kalau tidak, orang lain bisa saja menduduki kursi yang telah anda incar”.

 

          Maka, ada saja adegan lucu selama menunggu nomor antrian tersebut. Di mana, sebuah kursi tidak bertuan. Namun, yang ada justru sebuah helm yang nagkring di kursi tersebut. Alhasil, menjadi bahan lelucon petugas tentara, yang disambut gelak tawa ratusan para pengantri nomor antrian.

 

“Ini kursi, yang mau vaksinasi orangnya kok gak ada. Yang ada hanyalah helm. Berarti yang mau vaksinasi helm ini ya”

 

 

PEMBAGIAN KARTU NOMOR ANTRIAN

          Malam itu, saya sempat memejamkan mata. Namun, tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 04.30 pagi. Suara petugas tentara dengan megaphone mengusik keheningan ratusan orang dalam berbagai posisi. Ada yang tidur, ngantuk, mainin smartphone dan lain-lain.

 

“Bapak-bapak, ibu-ibu, sekarang waktu menunjukan pukul setengah 05 pagi. Tolong semua dalam posisi duduk di kursi. Atur semua kursi sesuai barisannya dan bersihkan sampah yang ada di sekeliling anda. Tadi sore dalam kondisi bersih, maka pagi ini saya minta dalam kondisi bersih juga. Saya kasih waktu sampai pukul 05 pagi, untuk bapak dan ibu jika mau pergi ke kamar mandi. Setelah itu, semua dalam posisi di kursinya masing-masing. Ketika, kursi dalam kondisi kosong, maka berarti anda tidak akan mendapatkan nomor antrian. Ingat, semua yang ada di sini pasti mendapatkan nomor antrian, nanti tidak usah berebut”

 

          Maka, menjelang pukul 05 pagi. Jalan yang gelap menuju toilet (dalam bentuk mobil) dipenuhi dengan orang hilir mudik. Meskipun, gelap gulita, saya merasakan kenyamanan. Karena, saya yakin bahwa orang-orang yang ada pasti mempunyai niat baik untuk mendapatkan nomor antrian vaksinasi. Itulah sebabnya, petugas tentara sudah wanti-wanti tidak akan menanggung segala barang yang hilang. Karena, menjadi tanggung jawab masing-masing orang.

          Tepat pukul 05.30 pagi, kartu nomor antrian benar-benar dibagikan. Meskipun, kondisi lapangan markas tentara tersebut dalam kondisi gelap. Menarik, proses pembagian kartu nomor antrian tersebut dibagi oleh petugas tentara. Dan, dikawal dan dijaga oleh beberapa tentara juga, seperti pihak Provost.

          Tentu, hal ini bertujuan untuk menimbulkan keamanan dan kenyamanan. Dan, mencegah aksi berebut nomor antrian. Sungguh, pembagian kartu nomor antrian di pagi yang gelap tersebut benar-benar tertib.

          Setiap orang yang sudah mendapatkan nomor antrian diwajibkan untuk meninggalkan lapangan dan langsung pulang. Untuk mencegah kondisi kerumunan. Untuk selengkapnya, anda bisa melihat video pengalaman saya berikut ini.

 

 

Pengalaman unik! Menginap di lapangan markas tentara untuk mendapatkan nomor antrian vaksinasi Covid-19 (Sumber: dokumen pribadi/Youtube)

Wednesday, July 21, 2021

PUNCAK TANGIS KALA PANDEMI (BAGIAN 2)

 

Puncak tangis kala Pandemi (Sumber: shutterstock) 

 

 

          Tulisan sebelumnya membahas perjalanan saya bekerja di perusahaan orang lain. Hingga, kondisi sekolah anak saya yang menunggak SPP SMA 2 tahun lamanya. Pada tulisan kali ini, saya membahas masalah drop mental anak saya. Karena, gagalnya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

          Berbagai ujian hidup pun masih mendera saya. Meskipun, satu persatu hal-hal yang membuat puncak tangis saya mampu saya hadapi. Namun, dengan datangnya badai Pandemi Covid-19 membuat saya “hampir putus asa”. Seperti apa sih? Yuk, baca tulisan ini hingga tuntas.

 

GAGAL SNMPTN DAN SBMPTN

          Menjelang pengumuman kelulusan, anak saya mendapatkan banyak undangan beasiswa. Sayangnya, beasiswa tersebut dari PT Swasta yang biaya kuliahnya tidak full ditanggung PT yang bersangkutan. Di antaranya, President University yang memberikan beasiswa Teknik Industri dengan jangkauan beasiswa hanya 75 persen. Saya tidak mampu untuk meresponnya, karena biaya lainnya bikin kalkulator saya jebol.

          Sejak awal, melihat kondisi keuangan yang terseok-seok. Maka, saya memberikan saran kepada anak untuk ikut beasiswa atau undangan pendidikan. Maka, anak saya ikut SNMPTN mengambil jurusan Teknik Metalurgi di Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, SNMPTN tersebut memberikan informasi kegagalan.

          Selanjutnya, saya memberikan saran untuk ikut beasiswa luar negeri. Kalau tidak salah ingat, di Beasiswa Busan, dengan mengambil jurusan Teknik. Yang menarik, proses keikutsertaan ke beasiswa tersebut tidak jelas rimbanya. Seandainya, tidak lolos administrasi, maka pihak penyelenggara akan memberikan kabar melalui email atau pesan WA. Namun, kenyataannya tidak ada berita sama sekali.

          Bahkan, saya berpikir bahwa apakah berkas-berkas sampai ke pihak penyelenggara? Hanya Allah SWT Yang Maha Tahu. Keikutsertaan di beasiswa tersebut membuahkan gigit jari. Kini, masa depan anak saya tinggal menunggu SBMPTN tahun 2019, 2020 dan 2021. Tentu, saya dan anak saya berharap bisa diterima di PTN tahun 2019 tersebut.

          Namun, MASALAH BESAR masih mengganjal, yaitu IJAZAH BELUM BISA DIAMBIL. Karena, saya belum bisa melunasi SPP Sekolah. Bahkan, untuk sekedar mendapatkan fotokopi ijazah ke pihak sekolah, sebagai persyaratan mengikuti SBMPTN pun tidak bisa.

          Saya sampai mengemis-ngemis ke pihak BK Sekolah dan Kepala Sekolah. Agar, memberikan keringanan atau kesempatan untuk mendapatkan fotokopi ijazahnya saja. TETAP TIDAK BISA! Saya berpikir saat itu “Sekolah tidak peduli dengan kelanjutan Pendidikan anak didiknya”. Namun, saya berpikir positif saja, ambil hikmahnya.

          Sungguh, saat itu KITA NANGIS BERTIGA di kost. Bukan kaleng-kaleng. Melihat, menyaksikan kondisi anak saya yang menangis tidak bisa ikut ujian PTN. Saya dan istri ikut menangis meratapi kondisi yang ada. Untuk meredakan ketegangan, saya dan istri memberikan masukan. Untuk mengikuti ujian program mandiri PTN. Yang “mungkin” bisa memberikan keringanan, untuk meminta fotokopi ijazah.

          Maka, untuk meratapi kegagalan, anak saya nekad ikut ujian di UIN Malang Jawa Timur. Dengan mengambil jurusan asal-asalan, yaitu Farmasi. Kenyataannya, tidak lolos ujian di universitas tersebut. Lagian, kalau lolos pun tetap diminta ijazahnya. Lah, ijazahnya saja belum ada. Bagaimana?

          Terpaksa, di tahun pertama sehabis lulus, anak saya gagal total untuk masuk ke PTN. Ijazah pun belum sempat diambil. Maka, sehari-harinya, ia menghabiskan waktunya dengan merenungi nasib. Melihat teman-temannya, yang senasib pada ikut BIMBEL PREMIUM. Agar, tahun depan bisa diterima di PTN yang lebih bonafide.

          Sedangkan, anak saya hanya diam di rumah. Sungguh, saya melihat sangat kasihan. Teman-teman baiknya sudah pada kuliah. Bahkan, ada yang kuliah di luar negeri. Untungnya, teman-teman yang kuliah di Bali dan Surabaya, masih sempat mampir ke kost. Untuk memberikan semangat dan tetap menyambung persahabatan.

          Di tahun 2020 ini, Alhamdulillah, saya bisa melunasi SPP SMA anak saya. Di sini, saya baru tahu bahwa NILAI AKHIR ANAK SAYA RERATA 9. Saya kaget sekali dengan kondisi tersebut. Bukan ANAK BIMBEL, tapi mampu menyaingi nilai temannya yang semuanya ANAK BIMBEL.

          Uang BAYAR SPP SMA tersebut diperoleh dari pinjam uang kredit harian dan hasil berjualan. Padahal, uang tersebut untuk membayar kost yang masih nunggak. Tetapi, demi anak saya yang masih semangat untuk ikut SBMPTN. Maka, uang tersebut saya pindahkan untuk mengambil ijazah.

          Maka, tahun 2020 ini, anak saya mencoba  mengadu nasib. Dia ikut SBMPTN kembali. Kali ini, dia memilih pilihan I dan pilihan II jurusan teknik di Institut Teknologi 10 November 1945 Surabaya (ITS) Surabaya Jawa Timur. Dengan bekal belajar seadanya, sekali lagi tanpa BIMBEL. Meskipun, kenyataannya anak saya gagal kembali, dengan poin yang terpaut sedikit saja untuk melenggang ke ITS.

          Kali ini, kegagalan yang anak saya lakukan tidak membuatnya gelisah. Dia mulai pasrah dan menerima takdir Allah SWT. Namun, saya merasa kasihan, jika anak saya tidak kuliah. Akhirnya, saya memberikan masukan untuk kuliah di Universitas Terbuka (UT) dan mengambil Fakultas Ekonomi jurusan MANAJEMEN.

          Setelah dia bergelut dengan kuliah online tersebut. Saya melihat raut wajah anak saya mulai ceria. Dia mulai hepi dengan kuliah online-nya. Dan, semester pertama, dia mendapatkan IPK dengan predikat Cum Lude. Dia mulai disibukan dengan 8 mata kuliah setiap semesternya. Jika, tidak ada rintangan, maka 3 tahun bisa lulus sarjana, seperti program akselerasi.

          Namun, di balik kegembiraan anak saya, ada rasa was-was pada diri saya. Kenapa, uang yang seharusnya buat muter usaha dan bayar kost, terpaksa untuk membayar uang kuliah. Maka, uang kost pun sering menunggak. Untungnya, di tahun 2020 ini, utang cicilan kredit harian bisa lunas, Setelah memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Subhanallah.      

 

DITERIMA TEKNIK METALURGI

          Saya merasa bahwa Pandemi Covid-19 memberikan dampak kepada kondisi keuangan saya. Kenapa? Pertama, job review produk sebagai blogger mulai sepi. Kedua, usaha penjualan saya mulai mengalami penurunan yang tajam. Ditambah lagi, musibah datang silih berganti.

          Musibah pertama adalah saya tertipu hampir 2 juta dalam proses rekrutmen kerja. Pengalaman penipuan tersebut telah saya tulis di bulan Juli 2020 di blog kesayangan ini. Musibah kedua, sepeda motor yang saya pakai untuk berjualan mengalami turun mesin di kawasan Blahbatuh Gianyar Bali.

          Saya harus mendorong motor yang dalam kondisi mati tersebut kurang lebih 20 km, hingga ke tempat tinggal saya. Sebuah pengalaman tragis yang akan saya ingat seumur hidup.

          Belum ada uang untuk perbaikan sepeda motor tersebut. Maka, saya harus sewa sepeda motor teman saya. Bersyukur, saya diberikan kesempatan untuk memakainya terlebih dahulu, bayar kemudian. Hingga kini, saya hampir menggunakannya selama sebulan.   

          Namun, di saat saya mengalami kondisi pahit yang hampir membuatnya menangis. Ada saja berita yang menyejukan. Yaitu, anak saya diterima di jurusan idaman di TEKNIK METALURGI Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Serang Banten. Setelah melewati ujian SBMPTN saat bulan puasa tahun 2021 lalu. Ya, tahun 2021 adalah kesempatan terakhir anak saya untuk dapat ikut ujian SBMPTN.

          Namun, datangnya anugerah tersebut justru menyimpan tangis. Kenapa? Saat kondisi keuangan morat-marit. Saya justru bingung dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya hidup di Serang Banten nanti. Jika, anak saya kuliah offline. Oleh sebab itu, kegembiraan diterima di Teknik Metalurgi tersebut justru membuat saya semakin sedih.

          Karena, kami bertiga sudah berdiskusi bahwa anak saya tidak akan melanjutkan kuliah anak saya di UNTIRTA. Namun, berencana untuk belajar mandiri dan bekerja di Surabaya. Saya pun mengiyakan, agar anak saya belajar tentang kehidupan.

          Biarlah, cukup kuliah online di UT saja. Jika, nilainya bagus, maka saya memberikan saran untuk lanjut di S2. Kegelisahan saya tentang ketidakmampuan saya untuk melanjutkan kuliah anak di Teknik Metalurgi, sempat saya iseng-iseng posting di media sosial Facebook.

          Bersyukur, postingan tersebut mendapatkan banyak respon dari teman-teman. Yang intinya, memberikan masukan untuk tetap lanjut mengambil jurusan Teknik Metalurgi tersebut. Bahkan, banyak yang memberikan saran dengan berbagai solusi, agar saya tetap mendorong anak untuk kuliah di jurusan Teknik Metalurgi.

          Namun, masukan-masukan dari teman saya tersebut, justru makin membuat hati saya bingung dan bimbang. Apa pasal? Melihat kondisi keuangan saya, yang hanya untuk makan sehari-hari.

          Tanpa pikir panjang, akhirnya saya paksakan untuk daftar ulang dan bayar UKT. Sekali lagi, uang tersebut, hasil dari pinjam sama orang lain. Juga, dari hasil berjualan barang FMCG. Mestinya, hasil berjualan tersebut untuk mencicil tunggakan kost.

          Saya berharap agar semester pertama kuliah anak saya di jurusan Teknik Metalurgi bisa berjalan secara online dahulu. Karena, belum ada pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya kost di Serang Banten nanti. Dari sini, masalah awal anak saya untuk kuliah di TEKNIK METALURGI TELAH SELESAI. Saya harap begitu.

 

NUNGGAK KONTRAKAN 4 BULAN

          Setelah masalah kuliah anak saya di Teknik Metalurgi UNTIRTA kelar, kini justru ada masalah besar yang sedang saya hadapi. Pertama, uang yang sedianya untuk mencicil tunggakan kost telah habis. Kini, saya harus menghadapi teguran berkali-kali dari yang punya kost. Tunggakan kost selama 4 bulan siap menghadang saya. Kedua, saya harus mencicil uang pinjaman dari orang lain.

          Masalah tunggakan uang kost, kemarin, saya sudah diwanti-wanti untuk melunasinya. Kalau tidak bisa, maka kemungkinan terburuk akan saya alami, seperti di film atau sinetron. Yaitu, diusir atau disuruh mencari kost baru. Saya pun berdoa yang terbaik semoga tidak terjadi apa-apa. Deadline akhir Juli 2021 agar bisa melunasi tunggakan kost saya yang jumlahnya hampir Rp4 juta.

          Sementara, kondisi PPKM membuat saya semakin sulit dan terjepit. Saya tidak bisa ke mana-mana dengan bebas, untuk berjualan. Hasil dari penjualan hanya untuk makan sehari-hari dan membeli kuota internet. Untuk kerja saya, update tulisan dan kuliah online anak saya.  

          Sungguh, saat Pandemi kali ini menjadi PUNCAK TANGIS SAYA. Sehabis mendapatkan teguran dari “yang punya kost”, saya berusaha untuk bebasin pikiran saya. Kini, kegundahan saya berpindah ke istri saya. Semalam, istri saya tidak bisa tidur. Bukan karena banyak nyamuk, tetapi pikiran negatif selalu terbayang. Jika, dengan terpaksa kami dikeluarkan dari kost.

          Jawabannya cuma satu? Mau pindah ke mana? Uang pun hanya untuk makan. Mau bayar kost baru pakai apa? PERTANYAAN BESAR YANG SELALU BERKECAMUK HINGGA TULISAN INI SAYA BUAT.

          Saya memahami bahwa ALLAH SWT tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuannya. Dan, jawaban saya hanya satu, SHOLAT DAN BERDOA. Semoga ujian ini cepat berakhir. Kapan? Hanya ALLAH SWT Yang Maha Tahu.


PUNCAK TANGIS KALA PANDEMI (BAGIAN 1)

 

Puncak tangis kala Pandemi (Sumber: shutterstock)

 

 

          Jujur, tulisan kali ini sungguh spesial buat anda. Karena, saya akan berbicara secara blak-blakan perjalanan merantau saya di Pulau Dewata. Peristiwa dari saya bekerja di perusahaan orang pada tahun 2015 hingga sekarang. Sebenarnya, saya merantau di Bali secara permanen sejak awal tahun 2009. Meskipun, proses merantau tersebut tidaklah untuk menentap di Bali.

          Karena, kartu identitas saya masih Kabupaten Ngawi Jawa Timur. Dengan alasan, bahwa Bali  hanyalah tempat untuk menyambung hidup dan mencari rejeki. Dan, saya sudah komitmen, jika Allah SWT mengijinkan, maka akan menghabiskan masa tuanya di pulau Jawa.

          Sejatinya, merantau di Bali bukanlah rencana yang disusun secara matang. Namun, orang Jawa bilang keblasuk atau terperosok. Ya, saya merantau di Bali  karena saran terbaik dari istri. Sesungguhnya, saya merencanakan dengan matang untuk merantau ke Kalimantan.

          Dengan alasan, usaha saya dalam bidang distribusi yang mengalami kebangkrutan. Maka, merantau di Kalimantan “mungkin” menjadi cara terbaik untuk mengembalikan rejeki yang hilang. Tentu, rejeki yang mengatur adalah Gusti Allah SWT. Namun, saya yakin bahwa dengan merantau ke Kalimantan bisa “BALIK MODAL”.

          Keinginan saya untuk merantau ke Kalimantan ditentang oleh istri. Mantan pacar saya tersebut, justru menyarankan untuk mengadu nasib ke Bali. Dengan alasan, jika terjadi hal-hal yang tidak terduga di kampung halaman. Maka, waktu dan biaya unruk pulang kampung halaman lebih murah dan cepat sampai.

          Alasan lain adalah untuk mencari sekolah anak yang lebih baik dan mandiri. Oleh karena itu, sejak kelas 3 SD, anak saya mengenyam pendidikan di pulau Dewata. Di sisi lain, saya melanjutkan tradisi usaha distribusi alat-alat kesehatan saat di pulau Jawa.

          Ibarat peribahasa, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Usaha saya di Bali pun mengalami kebangkrutan juga. Mungkin, Allah SWT mentakdirkan agar saya belajar dari berbagai kegagalan. Saya yakin bahwa Allah SWT sayang sama saya, agar saya belajar banyak dari pengalaman hidup tersebut.

          Dari seorang pekerja mandiri, akhirnya saya terpesona untuk bekerja di perusahaan orang lain. Beberapa kali saya menjabat posisi sebagai Branch Manager dan Marketing Manager di berbagai jenis perusahaan. Dari perusahaan advertising (periklanan) hingga perusahaan distributor bahan bangunan (Building Material).      

 

KELUAR DARI JABATAN BERGENGSI

          Posisi mentereng di perusahaan terakhir tidak membuat saya betah. Meskipun, saya menajdi orang kantor dan gajian. Tetapi, pikiran saya lebih stress dibandingkan pekerjaan mandiri saya sebelumnya. Berbagai macam target dan intrik di perusahaan membuat saya dan istri berdiskusi lama.

          Ya, saya dengan berat hati mengundurkan diri dari jabatan bergengsi, jabatan sebagai Branch Manager. Sebuah kursi panas yang menjadi lirikan banyak orang, yang kepanasan untuk merebutnya. Namun, prinsip saya bahwa harta, tahta dan jabatan hanya Allah SWT yang mengaturnya. Jika, Allah SWT ingin mengambilnya kembali, saya dengan ikhlas untuk menyerahkannya kembali.

          Istri saya sangat berat hati agar saya tidak meninggalkan pekerjaan tersebut. Apapun yang terjadi. Namun, setelah saya memberikan pemahaman berhari-hari, maka dia akhirnya memahami kegundahan saya.

                    Padahal, percaya atau tidak, kebutuhan keluarga saat itu sedang mencapai puncak-puncaknya. Karena, anak saya mulai sekolah di SMA bergengsi di Kota Denpasar, yaitu SMA 4 Denpasar. Sekolah yang melahirkan banyak anak pintar. Maka, banyak orang tua dari berbagai kalangan dan kasta yang berebut untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

          Namun, dengan mengucapkan BISMILLAH saya kuat diri untuk menjadi pekerja mandiri kembali. Dan, siap menerima konsekuensinya, di mana  penghasilannya tidak jelas. Saya menjadi seorang Full Time Blogger, di mana penghasilannya jika ada jasa review produk. Juga, jika ada undangan acara perusahaan.   

 

FULL TIME BLOGGER

          Penghasilan sebagai Full Time Blogger memang mengasikan di tahun pertama. Ada saja job yang datang berkesinambungan, meskipun bayarannya tidak harus berupa uang, tetapi berupa barang atau produk. Namun, lambat laun job-job di daerah khususnya Bali semakin sepi.

          Bahkan, antar sesama blogger pun “seperti” membuat semacam blok-blok tersendiri. Dengan kata lain, mencari teman untuk menggarap sebuah job berdasarkan like and dislike.

          Saya akui, menjadi Full Time Blogger memang menyenangkan. Namun, bayaran berupa produk tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan saya. Karena, produk-produk yang menjadi giveaway atau goodiebag tersebut bukanlah produk yang mudah untuk dijual. Dengan kata lain, produk-produk yang mengandung label penyelenggara menjadi kenang-kenangan bagi blogger yang diundang dalam acara.  

          Meskipun, kenyataannya, saya pernah menjual beberapa giveaway berupa perangkat gadget. Namun, harganya turun drastis dari harga yang diharapkan. Dan, hasil penjualan tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.   

          Penghasilan dari menjadi Blogger tersebut hanya mampu untuk membayar uang kost setiap bulannya. Juga, kebutuhan makan sehari-hari. Maka, untuk menutupi biaya kebutuhan sekolah yang “lumayan”, saya pun harus putar otak. Yaitu, dengan menjual Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Atau, yang familiar dikenal sebagai barang Palen-Palen (kebutuhan sehari-hari).  

 

KESULITAN BIAYA SEKOLAH ANAK

          Alhamdulillah, modal yang diperoleh dari jasa review produk sebagai blogger digunakan untuk belanja barang. Tanpa diduga, hasil penjualan FMCG tersebut bisa menopang kebutuhan sehari-hari dan sekolah. Yang akhirnya, saya justru semakin konsentrasi usaha distribusi barang tersebut.

          Dalam dunia bisnis, ada prinsip bahwa modal usaha jangan sampai dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan lain. Tetapi, untung dari penjualan FMCG tersebut yang bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya. Dengan kata lain, uang ussaha harus berputar terus, untuk belanja agar barang lebih banyak. Dan, makin menguntungkan.

          Saat saya menggeluti dunia FMCG tersebut, maka aktivitas sebagai blogger menjadi kerja sampingan. Padahal, dulunya menjadi blogger sebagai prioritas. Karena, aktivitas usaha distribusi barang tersebut bisa menutupi kebutuhan makan, sekolah dan kebutuhan insidentil lainnya.

          Sungguh, ketika Allah SWT memberikan anugerah usaha saya yang lancar. Saat itu juga, Allah SWT memberikan ujian yang SUNGGUH DI LUAR DUGAAN. Kakak ipar saya tinggal di kost saya, karena tugas proyek hotel di Bali. Tanpa diduga, proyek tersebut mengalami musibah atau kesalahan fatal tanpa disengaja. Dampaknya, pekerjaan proyeknya tidak dibayar oleh pihak hotel, karena harus memperbaiki kesalahan tersebut.

          Alhasil, kakak ipar saya sebagai pengawas proyek harus menanggung semua buruh proyek yang ada. Sementara, kondisi keuangan kakak ipar saya sedang defisit. Dari kondisi inilah, menjadi awal mula rentetan keuangan saya, mulai mengalami kekacauan.

          Modal usaha saya, uang anak saya yang hendak dipakai biaya pembuatan SIM A dan C, serta saya harus meminjam kredit harian yang jumlahnya sungguh berat bagi saya. Semua uang tersebut dipinjam kakak ipar saya. Saya pun tidak tega melihat dia kelabakan seperti orang kebingungan.

          Sebagai informasi, kakak ipar saya, tidur di kost-kostan saya lebih dari sebulan lamanya. Siapa yang tega melihat orang yang kebingungan? Sungguh, setelah semua uang diserahkan ke kakak ipar saya, saya mau nangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, modal usaha saya amblas. Dan, saya harus membayar cicilan utang kredit harian. Sementara, saya hanya mempunyai uang untuk makan selama 3 hari. Pedih!

          Entah, Allah SWT memberikan keringanan musibah saya. Tanpa disangka, saya mendapatkan transferan dana hasil me-review produk. Dan, uang itu untuk modal membeli barang kembali. Namun, tugas saya untuk mencicil utang kredit harian masih berlanjut.

          Saya harus pintar-pintar mengatur keuangan. Saya puasa untuk membeli keinginan saya, seperti membeli Smartphone baru. Hingga kini, saya mempunyai hape keluaran sekitar tahun 2017. Hape sebagai bayaran dari review produk sebuah provider besar. Kondisnya pun mengenaskan, layer menghitam dan tombolnya “hidup segan mati tak mau”. Pokoknya, kalah jauh dengan smartphone ABG sekarang.

          Ketika, sedang asik-asiknya untuk mencicil utang kredit harian. Kakak ipar saya kembali datang ke Bali untuk tugas proyek, dan tinggal di kost saya. Saya pikir tidak masalah kalau sekedar memberi makan. Namun, kejadian yang dulu terulang kembali. Yaitu, kakak ipar saya mengalami kesulitan keuangan kembali. Karena, bosnya yang di Jawa menunda mentransfer uang, untuk pembelian tiket pesawat dan biaya buruh proyek.

          Saya sendiri geram melihat kondisi tersebut. Saya tidak marah sama kakak ipar saya. Namun, saya geregetan karena bosnya tidak memahami kondisi kakak ipar saya, Di mana, buruh proyek harus mendapatkan bayaran kerja.

          Mau menangis kembali rasanya, ketika kakak ipar saya memberikan saran ke saya. Agar, saya mau pinjam uang dengan utang kredit harian lagi. Saat itu, saya mau teriak-teriak “tidak mau”. Kenapa? Utang kredit harian yang dulu saja belum lunas. Kini, saya harus meminjam uang kembali dengan jumlah yang sama. Saya merasa seperti tinggal menunggu ajal dengan menjerat tali di leher sendiri. Namun, saya mencoba kuat untuk menghadapi ujian tersebut.

          Namun, setega-teganya saya, saya pun tak tega jadinya. Uang modal usaha dan uang hasil utang kredit harian pun berpindah tangan kembali ke kakak ipar saya. Jujur, saya merasa bersyukur bisa membantu saudara yang dalam kesusahan. Insya Allah, kebaikan akan mendapatkan balasannya.

          Namun, dalam hati kecil saya akhirnya menangis. Memikirkan, bagaimana mencicil utang kredit harian yang jumlahnya dobel. Serta, memikirkan uang dari mana untuk membeli barang buat usaha.

          Sungguh, setelah kakak ipar saya pulang, jiwa saya pun runtuh. Saya tidak kuat untuk menangis sendirian di kamar mandi. Saya pun berpikir, tidak akan mengharapkan uang tersebut untuk kembali kepada saya. Biarlah Allah SWT yang akan membalasnya dengan balasan terbaik.  

 

“Ya Allah, inikah cobaan yang Engkau berikan ke saya. Sungguh nikmat dan permudah hamba untuk menerimanya. Semoga, saya sabar dan tabah untuk menghadapinya”.

 

          Akhirnya, istri saya merayu-rayu saudara yang di SOLO, untuk pinjam uang Rp400 ribu  buat modal usaha. Dan, uang tersebut saya putar kembali, agar bisa membayar kost bulanan dan kebutuhan sehari-hari.     

 

NUNGGAK SPP SMA 2 TAHUN

          Tidak dapat dipungkiri, sejak awal tahun 2017, saya mengalami kesulitan keuangan. Uang hasil berjualan habis untuk membayar kost yang sering nunggak. Sementara, biaya SPP sekolah dan biaya lainnya anak saya tidak pernah diperhatikan. Juga, harus mencicil utang kredit harian yang belum lunas.

          Maka, keputusan yang penuh risiko saya ambil. Yaitu, pinjam uang di tetangga saya di Ngawi Jawa Timur. Yang jumlahnya hanya untuk membayar tunggakan kost. Dan, selebihnya untuk membayar sedikit tunggakan SPP SMA anak saya. Maka, tunggakan SPP anak saya, kini hampir 2 tahun. Silahkan hitung atau kira-kira sendiri, bagi yang punya anak sekolah SMA. Berapa jumlah tunggakan saya.

          Saya beberapa kali diundang pihak BK sekolah anak saya. Bahkan, 3 kali saya harus berhadapan dengan kepala sekolahnya. Tujuannya, kapan saya bisa melunasi uang SPP. Karena, sebentar lagi anak saya mau ujian nasional. Saya pun menjawabnya ringan-ringan saja. Insya Allah, kalau ada uang, nanti saya lunasi.

          Mau bayar SPP pakai apa, wong saya lagi konsentrasi bayar kost yang nunggak, cicilan kredit utang harian dan kebutuhan makan keluarga. Sebenarnya, saya takut bahwa kondisi “tidak bisa melunasi SPP” tersebut, akan menjadi beban anak saya yang hendak ujian nasional SMA.

          Saya katakan pada anak saya, tidak perlu risau dan ikut memikirkan masalah tersebut. Konsentrasi belajar saja, untuk menghadapi ujian sekolah. Sejatinya, saya sendiri khawatir akan kelulusan anak saya. Sebab, 100 persen teman-teman sekolah anak saya adalah ANAK BIMBEL.

          Mereka orang berada yang mau membayar mahal demi belajar anaknya. Agar bisa mendapatkan nilai bagus saat ujian sekolah. Dan, bisa diterima di perguruan tinggi negeri idamannya.

          Sementara, anak saya hanya bermodalkan buku yang dipinjam di sekolah. Ketika, teman-teman kursus BIMBEL, dia hanya asik bolak-balik buku sekolah. Tentu, teman-temannya sebagai ANAK BIMBEL lebih cepat berpikir dalam mengerjakan berbagai macam soal di sekolah.

          Namun, saya memberikan pemahaman bahwa untuk mengimbangi teman-temannya, maka anak saya harus rajin membaca buku setiap hari. Dan, mendapatkan informasi pelajaran dari internet. Alhasil, prestasi anak saya tidak terpaut jauh dengan teman-temannya. Di mana, teman-temannya ikut BIMBEL dan pernah ikut Olimpiade.


BERSAMBUNG KE .....BAGIAN II >>>>


Jalur Alas Mantingan Ngawi yang Terkenal Angker

  Salah satu jalur Alas Mantingan yang berada dekat dengan kawasan Sidowayah Ngawi (Sumber: Youtube Casmudi Vlog/screenshot)          ...