Thursday, September 30, 2021

Yuk, Sadari Sejak Dini Tentang Penyakit Kanker Payudara, Penyebab Kematian Tinggi di Indonesia

 

Perlunya kesadaran tentang Kanker Payudara sejak dini (Sumber: shutterstock)

 

 

Saya mempunyai keluarga besar, dua orang di Solo dan satu orang di Ngawi yang mengidap kanker payudara dan berakhir dengan kematian. Sedangkan, satu orang di Klaten yang mampu bertahan hidup hingga sekarang, karena menyadarinya lebih awal. Tidak lupa melakukan pemeriksaan ke dokter secara intensif.

 

          Dari fakta di atas memberikan pemahaman bahwa tiga dari empat orang yang mengidap penyakit kanker payudara berakhir dengan kematian. Karena rasa malu, tiga orang keluarga besar saya tersebut, rerata menutup rapat kondisi kesehatannya kepada keluarga. Tetapi, mau melakukan pengobatan setelah kanker payudara mengganas dalam tubuhnya. Sebuah keputusan yang dianggap terlambat untuk bisa hidup sehat kembali.

          Harus diakui bahwa masyarakat Indonesia belum menyadari lebih dalam tentang penyakit mematikan bernama Kanker Payudara. Mungkin, banyak dari keluarga kita yang belum tahu tentang penanganan sejak dini Kanker Payudara. Mereka berpikir bahwa Kanker Payudara bisa diatasi dengan mudah setelah berada pada situasi yang parah. Yuk, kita pahami lebih dalam tentang Kanker Payudara.  

 

KANKER PAYUDARA

          Sebelum melangkah lebih jauh, hal pertama yang harus anda pahami adalah anatomi dari payudara. Fakta menyebutkan bahwa payudara merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting. Organ tersebut menjadi daya tarik dari wanita. Bahkan, dari payudara, seorang wanita akan menjadi seorang ibu yang mempunyai kodrat harus menyusui anaknya.

          Perlu diketahui bahwa payudara terdiri dari lobus dan duktus. Setiap payudara memiliki 15 hingga 20 bagian yang disebut lobus. Lobus sendiri memiliki banyak bagian yang lebih kecil yang disebut lobulus. Lobulus berakhir dengan lusinan umbi kecil yang dapat membuat susu. Lobus, lobulus, dan bulbus dihubungkan oleh tabung tipis yang disebut duktus.

 

Anatomi payudara wanita (Sumber: www.cancer.gov)

 

          Jika anda melihat anatomi payudara wanita bagian luar, maka akan terlihat Puting dan Areola. Payudara memiliki pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Pembuluh getah bening membawa cairan encer yang hampir tidak berwarna yang disebut getah bening. Kelompok kelenjar getah bening ditemukan di dekat payudara di aksila (di bawah lengan), di atas tulang selangka, dan di dada. Kelenjar getah bening berfungsi untuk menyaring getah bening dan menyimpan sel darah putih, yang membantu melawan infeksi dan penyakit.

          Lantas, apa yang dimaksud dengan Kanker Payudara? Kanker Payudara merupakan penyakit di mana sel-sel ganas (kanker) yang terdeteksi dalam jaringan payudara. Sel-sel ini biasanya timbul dari duktus atau lobulus di payudara. Selanjutnya, sel kanker tersebut menyebar ke dalam jaringan atau organ dan ke bagian tubuh lainnya.

 

Kanker Payudara (Sumber: shutterstock)

 

TINGKAT KEMATIAN TINGGI

          Perlu dipahami bahwa Kanker Payudara adalah penyebab utama kematian kedua pada wanita saat ini. Kasus tertinggi terjadi pada kelompok usia 55-59 tahun. Menarik, risiko Kanker Payudara akan meningkat seiring bertambahnya usia.

          Berdasarkan data dari International Agency for Research on Cancer (salah satu agensi dari WHO) yang diperoleh dari The Global Cancer Observatory bulan Maret 2021. Kasus baru penyakit kanker yang menjangkiti masyarakat dunia untuk semua jenis kelamin dan semua umur pada tahun 2020 sebanyak 396.914.

          Adapun, persentase dari jumlah tersebut adalah Kanker lain 51,4% (204.059), Kanker Payudara 16,6% (65.858), Kanker Serviks 9,2% (36.633), Kanker Paru-Paru 8,8% (34.783), Kanker Kolorektum 8,6% (34.189) dan Kanker Hati 5,4% (21.392).

          Jika, melihat data penyakit kanker khusus untuk wanita. Maka, akan diperoleh data penyakit kanker baru sebanyak 213.456 kasus baru. Dengan persentase sebagai berikut: Kanker lain 35% (74.681), Kanker Payudara 30,8% (65.858), Kanker Serviks 17,2% (36.633), Kanker Ovarium 7% (14.896), Kanker Kolorektum 5,8% (12.452) dan Kanker Tiroid 4,2% (9.053).   

          Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan data Globocan 2020, maka anda bisa melihat tabel berikut.


Statistik kanker di Indonesia tahun 2020 (Sumber: Globocan 2020)

 

          Dari tabel di atas, menunjukan bahwa bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 273.523.621 jiwa. Timbul kasus kanker baru untuk semua jenis kelamin sebanyak 396.914 kasus. Dengan angka kematian sebesar 234.511 jiwa, dengan prevalensi selama 5 tahun sebesar 946.088 jiwa.

          Menarik, persentase risiko meninggal akibat kanker sebelum usia 75 tahun  sebesar 9,4% (laki-laki 10,5% dan perempuan 8,3%). Kanker Payudara masih menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang sering terjadi di masyarakat Indonesia. Dibandingkan dengan penyakit kanker-kanker lainnya seperti: Paru-Paru, Serviks uteri, Indung telur, Tiroid dan Hati.

 

TINDAKAN YANG DILAKUKAN

A. Tindakan Pencegahan (Preventif) dan Deteksi Dini

          Tentu, hal yang harus dilakukan masyarakat terhadap Kanker Payudara adalah tindakan pencegahan (preventif). Pencegahan Kanker Payudara merupakan tindakan yang dilakukan untuk menurunkan kemungkinan terkena Kanker Payudara.

          Dengan tindakan pencegahan, maka jumlah kasus baru kanker dalam suatu kelompok atau populasi bisa diturunkan. Bahkan, harapan besar masyarakat Indonesia, tindakan pencegahan akan mengurangi beban kanker dan menurunkan jumlah kematian akibat kanker.

          Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah Kanker Payudara, di antaranya: 1) Deteksi Dini secara teratur; 2) Konsumsi makanan yang bergizi seimbang; 3) Menghindari minum alkohol; 4) Olahraga secara rutin; 5) Menghentikan kebiasaan merokok; 6) Menyusui setelah melahirkan; 7) Membatasi dosis dan durasi terapi hormon (tidak boleh lebih dari 3 tahun), seperti pada terapi hormon menopause; 8) Menghindari pil KB pada kondisi tertentu (tidak boleh lebih dari umur 35 tahun); 9) Menjaga berat badan ideal; 10) Istirahat yang cukup (tidur 7-8 jam sehari); dan 11) Menghindari stres.

          Bersyukur, dengan tindakan pencegahan, banyak wanita yang berhasil mengatasi penyakit Kanker Payudara dengan melakukan tindakan Deteksi Dini dan peningkatan dalam pengobatan. Dengan demikian, tindakan Deteksi Dini merupakan langkah terbaik, sebelum Kanker Payudara menjemput kematian.   

1.     Kenali Keluhan Payudara Wanita

     Wanita perlu memahami tentang keluhan yang terjadi pada organ payudaranya. Perlu diperhatikan bahwa keluhan-keluhan yang bisa terjadi, seperti 1) benjolan atau penebalan di payudara tanpa disertai nyeri; 2) keluar darah atau cairan dari puting susu; 3) perubahan bentuk dan kontur payudara; 4) perubahan warna dan bentuk putting susu; dan 5) warna kemerahan dan pembengkakan kulit seperti kulit jeruk.    

 

Keluhan yang bisa terjadi pada payudara wanita (Sumber: Kementerian Kesehatan RI)

 

     Dari keluhan di atas, yang paling sering terjadi adalah timbulnya benjolan atau penebalan di payudara. Kondisi tersebut bisa dideteksi sebagai: 1) tumor; atau 2) bukan tumor. Jika dideteksi sebagai tumor maka bisa disebut sebagai: 1) tumor ganas; atau 2) tumor jinak. Sedangkan, jika dideteksi sebagai bukan tumor, maka bisa sebagai: 1) infeksi; atau 2) hormonal. Dari hormonal ini, bisa dideteksi sebagai: 1) padat; atau 2) kista. Sebagai informasi bahwa nyeri pada payudara terjadi: 1) menetap pada satu posisi; dan 2) tidak terpengaruh oleh siklus menstruasi.  

     Wanita perlu memahami tanda dan gejala sebagai tanda peringatan Kanker Payudara, seperti: 1) Benjolan tanpa rasa sakit di payudara; 2) Gatal-gatal terus menerus di sekitar putting; 3) Pendarahan atau lendir yang tidak biasa dari putting; 4) Kulit di atas payudara membengkak dan menebal; dan 5) Puting masuk atau tertarik kembali. Dengan memahami tanda dan gejala tersebut, maka wanita akan melakukan deteksi sejak dini. 

2.     Faktor Risiko Kanker Payudara

     Siapa pun wanita yang dengan usia 40 tahun ke atas bisa berisiko mengidap Kanker Payudara. Ada 2 faktor yang bisa menyebabkan risiko Kanker Payudara, seperti: 1) faktor Risiko yang tidak dapat dikontrol; dan 2) faktor risiko yang dapat dikontrol.

               Faktor Risiko yang tidak dapat dikontrol, di antaranya: 1) Umur; 2) Riwayat Keluarga; 3) Ras; 4) Radiasi; 5) Faktor Genetik; 6) Riwayat Haid; dan 7) Riwayat Reproduksi. Sedangkan, untuk faktor risiko yang dapat dikontrol, di antaranya: 1) Obesitasi; 2) Olahraga; 3) Menyusui; 4) Alkohol; 5) Hormone Replacement Therapy; 6) KB (Keluarga Berencana); dan 7) Mempunyai anak.  

3.     Deteksi Dini

     Deteksi Dini merupakan langkah tepat untuk mengetahui lebih awal timbulnya tanda dan gejala Kanker Payudara. Skrining Kanker Payudara bertujuan untuk mencari tanda-tanda penyakit, sebelum seseorang memiliki gejala. Juga, untuk menemukan Kanker Payudara pada tahap awal, ketika dapat diobati dan disembuhkan.

     Tindakan pertama yang bisa anda lakukan, adalah: 1) SADARI (Periksa Payudara Sendiri); 2) Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) ke Dokter; dan 3) Mammografi untuk wanita yang berusia di atas 40 tahun.

     Bagaimana cara melakukan SADARI? Wanita harus melakukan Inspeksi payudara dan Palpasi Payudara. Inspeksi Payudara dengan cara: pakaian di atas pusat dibuka dan berdiri di muka cermin. Perhatikan, apakah ada kelainan pada payudara dan ketiak. Juga, bentuk, besar, simetri, warna kulit dan gerakan payudara pada saat lengan diangkat ke atas.

     Kemudian, Palpasi Payudara dilakukan dengan cara: meraba payudara sendiri dalam posisi berbaring. Tangan kanan meraba payudara kiri dengan punggung kiri diganjal bantal. Sebaliknya, tangan kiri meraba payudara kanan dengan punggung kanan diganjal bantal. Pehatikan kepadatan payudara, apakah ada benjolan dan rasa nyeri.

 

Tindakan Deteksi Dini dengan SADARI (Sumber: Kementerian Kesehatan RI)

 

     Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) ke dokter bisa dilakukan,  jika ada keanehan pada payudara. SADANIS digunakan untuk mendeteksi Kanker Payudara. Adapun pemeriksaan klinis oleh dokter dengan panduan adalah: 1) Untuk umur di bawah 40 tahun, tiap 2-3 tahun sekali; dan 2) Untuk umur di atas 40 tahun, tiap 1-2 tahun sekali.

     Deteksi Dini lainnya yang bisa dilakukan adalah Mammografi, yang bisa digabung dengan Ultrasonografi (USG). Mammografi adalah pemeriksaan yang dilakukan, untuk melihat apakah ada masalah pada payudara, meski gejalanya belum muncul.

     Untuk wanita umur 40 sampai 49 tahun, maka selain pemeriksaan payudara secara bulanan, diperlukan adanya Skrining tahunan mammografi 1 kali dalam 1-2 tahun. Sedangkan, untuk wanita umur 50 tahun keatas, maka selain pemeriksaan payudara secara bulanan, diperlukan satu kali mammografi skrining per tahun.

 

Tindakan deteksi dini dengan melakukan mammografi (Sumber: Kementerian Kesehatan RI)

 

     Setelah melakukan berbagai tindakan Deteksi Dini. Bagaimana Kanker Payudara bisa dinilai? Ada 5 tahap yang bisa menilai kondisi Kanker Payudara, yaitu:

1)    Tahap 0, luas penyebaran kanker tidak invasif. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 99%.

2)    Tahap 1, luas penyebaran kanker invasif kecil (kurang dari 2cm tanpa menyebar ke kelenjar getah bening aksila). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 90%.

3)    Tahap 2, luas penyebaran kanker invasif (antara 2-5cm atau dengan invasi kelenjar getah bening). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 70%.

4)    Tahap 3, luas penyebaran kanker invasif besar (lebih dari 5cm dengan invasi kulit atau menyebar ke beberapa kelenjar getah bening). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 40%.

5)    Tahap 4, luas penyebaran kanker metastatik atau menyebar. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 20%.

B. Penanganan Kanker Payudara

          Jika, wanita mengidap Kanker Payudara, maka hal yang bisa dilakukan adalah penanganan secara intensif ke Pusat Penanganan Kanker. Perlu adanya dorongan dan dukungan yang kuat dari pihak keluarga, keluarga dekat atau teman. Agar, wanita yang mengidap Kanker Payudara tetap mempunyai semangat untuk sembuh dan hidup normal.    

          Pengobatan Kanker Payudara melalui operasi, radiasi, kemoterapi, terapi hormon, dan terapi target. Perlu diketahui bahwa berdasarkan respon terhadap jenis pengobatan, Kanker Payudara dibagi menjadi tiga (3), yaitu:

1.     Reseptor Hormon Positif. Kanker yang mengandung Estrogen Reseptor (ER) atau Reseptor Estrogen dan/atau Progesteron Reseptor (PR) atau Reseptor Progesteron. Kanker yang tumbuh sebagai respon terhadap hormon-hormon tersebut dan dapat diobati dengan terapi hormon.

2.     Human Epidermal Reseptor 2 (HER2) atau Reseptor Epidermal Manusia 2. Kanker Payudara HER2-positif adalah mereka yang memiliki jumlah protein HER2 yang tinggi. Mereka bisa menjadi Reseptor Hormon Positif atau Reseptor Hormon Positif negatif. Kanker tersebut bisa diobati dengan terapi yang menargetkan HER2.

3.     Kanker Payudara triple-negatif. Kanker tersebut tidak mengandung Reseptor Estrogen, Reseptor Progesteron atau Reseptor Epidermal Manusia 2.

          Mayoritas penanganan Kanker Payudara dengan melakukan operasi untuk mengangkat kanker. Adapun, bentuk operasi yang bisa dilakukan untuk penanganan Kanker Payudara adalah:

1.     Lumpectomy atau Wide Local Excision, yaitu: pengangkatan kanker dan sejumlah kecil jaringan di sekitarnya.

2.     Quadrantectomy, yaitu: pengangkatan jaringan di sekitarnya lebih banyak daripada lumpektomi. Untuk operasi jenis ini, seperempat dari payudara dikeluarkan.

3.     Mastektomi, yaitu: pengangkatan seluruh payudara.

          Setelah melakukan tindakan penanganan Kanker Payudara melalui operasi, maka akan dilakukan tindakan rehabilitasi. Di mana, akan dilakukan rehabilitasi fisik dan rehabilitasi mental.

          Adapun, rehabilitasi fisik meliputi: 1) Latihan bahu setelah operasi; 2) Pelindung lengan untuk menghindari lymphoedema (pembengkakan lengan); 3) Nutrisi Seimbang dan adaptasi gaya hidup untuk meningkatkan pemulihan. Sedangkan, rehabilitasi mental adalah 1) keyakinan akan peluang untuk bertahan hidup; 2) menghadiri ulasan dokter secara teratur; dan 3) perlunya dukungan yang baik dari pasangan, keluarga, teman & kelompok pendukung lainnya.

          Selain penanganan Kanker Payudara melalui operasi, juga dilakukan dengan Radioterapi. Di mana, Radioterapi Kanker Payudara menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menargetkan dan membunuh sel kanker. Penanganan ini bertujuan untuk membunuh kanker yang mungkin tertinggal di dalam atau sekitar payudara. Sebagai informasi bahwa mayoritas wanita yang memiliki mastektomi tidak memerlukan Radioterapi Kanker Payudara.

          Percayalah, Allah SWT memberikan penyakit, tentu ada obatnya. Cut Memey, Andiens Aisyah, Rima Melati, Pevita Pearce dan Kesha Ratuliu adalah deretan artis yang menderita Kanker Payudara. Namun, setelah melakukan pengobatan atau operasi pengangkatan tumor yang ada di payudara. Artis-artis tersebut bisa hidup sehat kembali.

          Namun, hal yang paling penting adalah PAHAMI LEBIH AWAL TENTANG KANKER PAYUDARA. Karena, kalau tidak kenal lebih dekat, maka anda tidak akan tahu bahwa Kanker Payudara adalah penyakit yang mematikan. Yuk, kenali sejak dini, sebelum Kanker Payudara merenggut kehidupan anda.


Referensi Tulisan:

Kementerian Kesehatan RI.

https://ahcc.co.id/cancer/kanker-payudara

https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf

https://www.cancer.gov/types/breast


Wednesday, September 29, 2021

Peran Orang Tua yang Membersamai Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) Agar Tumbuh Kembang Optimal

 

Peran orang tua terhadap tumbuh kembang anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) (Sumber: sarihusada.co.id/diolah)

 

 

          Dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2021, Danone Indonesia menyelenggarakan webinar keren tentang Pentingnya Dukungan Nutrisi Optimal Pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Yang diselenggarakan secara online tanggal 29 September 2021, pukul 10.00-12.00 WIB, melalui aplikasi Zoom dan Youtube Nutrisi Untuk Bangsa.

 


Webinar yang diadakan Danone Indonesia tentang peran orang tua terhadap anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) (Sumber: Danone Indonesia)

 

NARASUMBER KOMPETEN

          Webinar  dihadiri oleh 2 narasumber kompeten, yaitu: 1) dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes.; dan 2) DR. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K).

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah Penyakit Jantung Bawaan (PJB) bukanlah penyakit turunan.

          Narasumber pertama adalah dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes. (Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi). Beliau juga menjabat sebagai KSM atau Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Hasan Sadikin FK. UNPAD Bandung dan UKK Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Materi yang dipaparkan adalah “Penyakit Jantung Bawaan: Peran Orang Tua Untuk Tumbuh Kembang Optimal”   

 

dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes. (Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi) (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Keberadaan Jantung sangat penting dalam tubuh manusia. Tanpa jantung, manusia tidak akan bisa hidup. Jantung berfungsi sebagai pemompa darah, selanjutnya men-deliver oksigen dan nutrisi.

 

Anatomi dan fungsi jantung (Sumber: presentasi dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes.)

 

          Tidak dipungkiri, bayi atau anak pun bisa terkena jantung. Ada 2 penyakit jantung yang dialami oleh bayi atau anak yaitu: Pertama, PJB (Penyakit Jantung Bawaan) atau Congenital Heart Disease/CHD. Di mana, terjadi kelainan struktur anatomi, letak dan fungsi jantung akibat gangguan pembentukan organ jantung pada trimester awal kehamilan yang terbawa sampai lahir. Kedua, Penyakit Jantung Didapat (PJD) atau Acquired Heart Disease. Penyakit jantung yang terjadi akibat proses kelainan atau peyakit lain yang didapat.    

          PJB di Indonesia terjadi pada 1 di antara 100 bayi lahir atau 40-50.000 per tahun. Selanjutnya, dari PJB tersebut terbagi menjadi 2 yaitu 1) Non-Kritis (37.500 per tahun); dan 2) PJB Kritis (25% atau 17.500 per tahun). Kondisi-kondisi yang terjadi seperti jantung bocor, katup sempit atau tidak lengkap atau buntu, pembuluh darah terbaik, salah masuk, bilik tunggal dan lain-lain.

          Lantas, apa sih yang menyebabkan PJB? Perlu diketahui bahwa faktor yang berisiko menyebabkan PJB, adalah: 1) infeksi kehamilan: torch 2) penyakit ibu: diabetes, lupus, hipertensi; 3) konsumsi obat, rokok, alkohol; 4) nutrisi tidak seimbang 5) kelainan genetik janin dan 6) Riwayat keluarga dengan kelainan jantung.

          Orang tua juga perlu memahami gejala dan tanda PJB. Di mana, gejala dan tanda PJB, adalah: 1) kebiruan; 2) nafas cepat atau sesak nafas; 3) kelelahan saat aktivitas atau menyusui; 4) pertumbuhan terhambat atau berat badan sussah naik; 5) perubahan bunyi dan letak jantung; 6) infeksi paru berulang; 7) kelainan bawaan atau sindrom; 8) pingsan atau berdebar atau nyeri dada; 9) kurus stunting; dan 10) keliatan “sehat”.

 

Gejala dan tanda Penyakit Jantung Bawaan (PJB) (Sumber: presentasi dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes.)

 

          Hal penting yang perlu dipahami orang tua adalah dampak yang sangat nyata dari PJB terhadap tumbuh kembang anak. Bahkan, dampak PJB bisa menyebabkan gagal tumbuh. Hal ini dikarenakan: 1) serapan nutrisi insufisien; 2) kebutuhan energi meningkat; dan 3) asupan nutrisi tidak adekuat (tidak cukup). Dan, berdampak pada 1) asupan berkurang; 2) hormon pertumbuhan; 3) gangguan saluran cerna; 4) gangguan metabolisme; dan 5) genetik dan penyakit lain.    

          Maka, sebelum terjadinya dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak. Orang tua perlu melakukan pemeriksaan rutin. Yaitu, dengan melakukan: 1) konsultasi; 2) EKG dan ronsen dada secara rutin; 3) secara khusus, melakukan echocardiography dan kateterisasi; dan 4) dilanjutkan dengan CT-SCAN dan MRI.   

 

Pemeriksaan dengan echocardiography dan kateterisasi (Sumber: presentasi dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes.)  

 

          Namun, jika anak sudah terkena PJB, Maka, orang tua bisa melakukan tata laksana seperti: 1) Memberikan obat-obatan dan nutrisi; 2) Paliatif; dan 3) Definitif. Bisa dilakukan pembedahan, non-bedah (catheter intervention) dan Hybrid Intervention.

          Agar anak dengan PJB bisa tumbuh kembang optimal, maka hal-hal yang diperlukan sejak awal oleh orang tua, adalah: 1) melakukan identifikasi; 2) diagnosis; dan 3)pengobatan umum dan khusus. Oleh karena itu, dibutuhkan peran orang tua, seperti:

1.     Bawa ke faskes terdekat bila ada tanda dan gejala PJB.

2.     Konsultasikan ke dokter anak atau konsultan kardiologi.

3.     Asuhan nutrisi.

4.     Memantau tumbuh kembang.

5.     Vaksinasi rutin.

6.     Jaga kesehatan gigi dan mulut.

7.     Obati infeksi dengan tuntas: ISPA, radang telinga.

8.     Menyesuaikan aktivitas.

9.     Tidak panik, menyesuaikan saran dokter.

10. Ikhlas, ikhtiar, sabar dan tawakal.  

          Penting, jika status nutrisi yang tidak optimal sangat berdampak terhadap luaran PJB, yaitu:

1.     Pre-Operasi (mortalitas dan morbiditas meningkat, penundaaan tindakan, infeksi dan lama rawat).

2.     Pasca-Operasi (mortalitas dan morbiditas meningkat, gagal organ, lama rawat ICU, dan infeksi),

3.     Kontrol (Morbiditas-komplikasi, gangguan tumbuh kembang, dan Neurodevelopmental).

          Narasumber kedua yang tampil adalah DR. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K) selaku Dokter Spesialis Anak, Konsultan Kardiologi Nutrisi dan Penyakit Metabolik dan ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Bali 2014-2020. Materi yang dipresentasikan dalam webinar tersebut berjudul “Manajemen Nutrisi Optimal pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan”.

 

DR. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K) (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Setelah pembahasan masalah lebih spesifik ke PJB. Narasumber kedua lebih membahas ke masalah malnutrisi, khususnya yang berhubungan anak dengan PJB. Sebagai informasi, malnutrisi dibagi menjadi 2 yaitu 1) Primer (kemiskinan, tidak terurus, tidak mengerti nutrisi); dan 2) Sekunder (penyakit kronis PJB, Kanker, TB, HIV).  

          Persentase Malnutrisi pada anak dengan PJB sebanyak 80,2% (Ringan 16,3%, Sedang 24,1%, Berat 39,8%). Malnutrisi berat lebih sering terjadi pada PJB tipe sianosis dibandingkan asianosis. Dikarenakan, gizi baik lebih banyak pada PJB asianosis. Kasus PJB paling sering adalah: 1) VSD (42,9%); dan 2) TOF (17,3%).

          Perlu diketahui, anak dengan PJB sangat rentan terjadinya malnutrisi. Alasan yang mendasari bahwa PJB sering mengalami malnutrisi (dalam hal ini kurang gizi) karena:

1.     Asupan nutrisi tidak adekuat (tidak cukup).

1)    Anak PJB mudah lelah, sering terhenti bila makan atau minum, bahkan sejak bayi sehingga asupan nutrisi tidak sesuai dengan kebutuhannya.

2)    Anak PJB sering mengalami inflamasi atau infeksi yang menyebabkan nafsu makan menurun.

3)    Pembatasan pemberian cairan bila anak dengan PJB mengalami gagal jantung.

2.     Kebutuhan nutrisi meningkat.

1)    Anak PJB mengaami metabolisme basal lebih tinggi teruatama pada saat aktif atau menangis sehingga kebutuhan nutrisi meningkat.

2)    Anak PJB sering mengalami inflamasi atau infeksi yang menyebabkan kebutuhan meningkat.

3.     Penyerapan nutrisi pada usus terganggu.

Anak PJB seringkali mengalami gangguan penyerapan nutrisi pada usus teruatama anak PJB dengan tipe sianosis.  

          Malnutrisi terjadi sejak usia dini sebesar 15-41% pada usia 1 bulan pertama. Di mana, 1) gizi kurang atau buruk dan atau stunting; 2) lebih sering pada tipe sianosis. Dampak PJB terhadap tumbuh kembang anak. Kondisi malnutrisi tersebut memberikan dampak:

1.     Gangguan kognitif.

2.     Daya tahan tubuh rendah atau mudah sakit.

3.     Prognosis PJB buruk (memperparah kerusakan otot jantung, komplikasi lebih tinggi bila dilakukan operasi jantung, dan penyembuhan luka lebih lama).

          Orang tua harus berusaha sebaik mungkin, agar anak dengan PJB bisa tumbuh kembang dengan baik. Namun, gagal tumbuh dengan masalah Berat Badan (BB) merupakan hal yang paling awal karena malnutrisi. Sebagai informasi, kenaikan berat badan di bawah persentil-5 menurut tabel WHO, dikatakan gagal tumbuh. Jika bayi lahir dengan BB 3kg, dan pada saat usia 1 bulan, BB 3,4 kg. Maka, dikatakan gagal tumbuh karena kenaikan BB di bawah

          Oleh karena itu, perlu adanya identifikasi dini malnutrisi melalui pemantauan pertumbuhan melalui: 1) Timbang BB (peran orang tua); 2) Plot pada grafik  atau tabel; 3) Interpretasikan dan 4) Lalukan tindak lanjut.

          Kebutuhan nutrisi yang dihitung umumnya 1) Karbohidrat; 2) Lemak; dan 3) Protein.  Cara menghitungnya tergantung berat ideal dan usia panjang badan dikalilkan  dengan  RDA-nya. Target pemberian 80% dari RDA tergantung rspon dari si anak. Anak dengan PJB terkadang memerlukan formula dengan densitas kalori tinggi (ONS/Oral Nutrition Supplement) karena pembatasan pemberian cairan.

 

Recommended Dietary Allowance (RDA) Kalori (Sumber: presentasi  DR. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K)

 

    

ORANG TUA ANAK DENGAN PJB

          Sungguh, membersamai anak dengan PJB merupakan sosok orang tua yang luar biasa. Maka dari itu, dalam webinar juga dihadiri oleh 2 orang tua (ibu) yang mempunyai anak PJB yaitu Pertama adalah Ibu Yuli Lestari (dari Komunitas Kelainan Jantung Bawaan).

          Anaknya yang bernama Nisa mengidap jantung bawaan. Nafasnya tampak cepat dan terputus-putus saat disusui ibunya. Hal yang dilakukan oleh Ibu Yuli Lestari adalah memberikan nutrisi yang seimbang. Dengan kata lain, sang ibu gita mengejar status gizi untuk anaknya.

          Nisa telah mengalami operasi. Selanjutnya hal yang dilakukan adalah 1) kontrol rutin (bulanan); 2) rawat jalan; dan 3) tetap memberikan nutrisi yang seimbang untuk anak.  Sekarang berumur 4 tahun, hidup sehat dan cerdas. 

          Sedangkan, orang tua dengan anak PJB yang kedua adalah Ibu Agustina Kurniati Kusuma yang juga mempunyai anak PJB. Ibu Agustina merupakan anggota dari komunitas Little Heast Community (LHC). Ia merasakan bahwa LHC  seperti keluarga. Karena, semua anggota komunitas selalu mendukung dan memberikan informasi untuk kesembuhan anaknya.

          Dia tahu harus ke dokter mana saja dan melakukan banyak terapi dan biaya yang harus dikeluarkan. Karena, anak yang pertama bernama Abiel lahir secara prematur (umur 30 minggu). Dan, mengidap PJB dengan 4 kelainan jantung. Sebuah kondisi yang sangat nmenekan psikis orang tua. Untung, dokter yang menanganinya memberikan masukan positif.

 

          “Ini bisa disembuhkan atau operasi, asal dia dalam kondisi baik atau stabil”

 

          Dengan penanganan yang baik, akhirnya Abiel bisa hidup sehat dan cerdas. Hal itu dikarenakan orang tua melengkapi anaknya dengan nutrisi yang seimbang. Sekarang, anaknya berumur 6 tahun.   

          Tidaklah mudah untuk mengakui anak dengan PJB. Sebuah hal yang berat atau tantangan. Apalagi, harus berbagi pengalaman kepada orang lain tentang membersamai anak PJB.

          Dari pengalaman dua orang tua dengan anak PJB di atas. Maka, peran orang tua sangatlah penting dalam penyembuhan anak dengan PJB. Karena, PJB sejatinya adalah titipan Allah SWT karena kondisi jantungnya dalam kondisi istimewa.

          Orang tua harus perhatian dan kooperatif dalam penanganan anak PJB. Dukungan dan merawat dengan baik agar anak tersebut tumbuh optimal, sehat dan cerdas. Tidak dipungkiri bahwa anak dengan PJB, tumbuh kembangnya berisiko terjadinya stunting.

          Oleh karena itu, orang tua harus rajin berkonsultasi ke dokter, agar nutrisi yang diberikan ke anak PJB sesuai dengan anjuran dokter. Apalagi, tumbuh kembang anak dengan PJB akan dipengaruhi oleh 3 hal penting. Yaitu, 1) Kompleksitas kelainannya; 2) Adanya kelainan penyerta seperti Down Syndrome; dan 3) Komplikasinya.  

          Hal yang dilakukan orang tua, agar tidak menimbulkan risiko terjadinya anak PJB, seperti 1) Jangan sampai terjadi kekurangan nutrisi pada ibu (baik makro maupun mikro); 2) perlunya evaluasi berat badan agar ideal selama kehamilan; dan 3) Kebutuhan nutrisi mikro seperti asam folat dan zat besi harus terpenuhi dengan baik.   

          Perlu diingat, penyakit jantung khususnya PJB pada anak masih menjadi penyakit dengan biaya penanganan yang mahal. Namun, Pemerintah, melalui BPJS bisa meng-cover penyakit tersebut. Sayangnya, asuaransi swasta tidak mau menanggung biaya penyakit PJB.    

 

“Merawat anak dengan PJB tidak sama dengan merawat anak normal, memerlukan ketelatenan dan kewaspadaan diri”.


Pemahaman Orang Tua untuk Membedakan Antara Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional Demi Tumbuh Kembang Anak

  Webinar Bicara Gizi tentang perbedaan Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional (Sumber: Shutterstock )       ...