Wednesday, September 29, 2021

Peran Orang Tua yang Membersamai Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) Agar Tumbuh Kembang Optimal

 

Peran orang tua terhadap tumbuh kembang anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) (Sumber: sarihusada.co.id/diolah)

 

 

          Dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2021, Danone Indonesia menyelenggarakan webinar keren tentang Pentingnya Dukungan Nutrisi Optimal Pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Yang diselenggarakan secara online tanggal 29 September 2021, pukul 10.00-12.00 WIB, melalui aplikasi Zoom dan Youtube Nutrisi Untuk Bangsa.

 


Webinar yang diadakan Danone Indonesia tentang peran orang tua terhadap anak dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) (Sumber: Danone Indonesia)

 

NARASUMBER KOMPETEN

          Webinar  dihadiri oleh 2 narasumber kompeten, yaitu: 1) dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes.; dan 2) DR. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K).

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah Penyakit Jantung Bawaan (PJB) bukanlah penyakit turunan.

          Narasumber pertama adalah dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes. (Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi). Beliau juga menjabat sebagai KSM atau Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Hasan Sadikin FK. UNPAD Bandung dan UKK Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Materi yang dipaparkan adalah “Penyakit Jantung Bawaan: Peran Orang Tua Untuk Tumbuh Kembang Optimal”   

 

dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes. (Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi) (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Keberadaan Jantung sangat penting dalam tubuh manusia. Tanpa jantung, manusia tidak akan bisa hidup. Jantung berfungsi sebagai pemompa darah, selanjutnya men-deliver oksigen dan nutrisi.

 

Anatomi dan fungsi jantung (Sumber: presentasi dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes.)

 

          Tidak dipungkiri, bayi atau anak pun bisa terkena jantung. Ada 2 penyakit jantung yang dialami oleh bayi atau anak yaitu: Pertama, PJB (Penyakit Jantung Bawaan) atau Congenital Heart Disease/CHD. Di mana, terjadi kelainan struktur anatomi, letak dan fungsi jantung akibat gangguan pembentukan organ jantung pada trimester awal kehamilan yang terbawa sampai lahir. Kedua, Penyakit Jantung Didapat (PJD) atau Acquired Heart Disease. Penyakit jantung yang terjadi akibat proses kelainan atau peyakit lain yang didapat.    

          PJB di Indonesia terjadi pada 1 di antara 100 bayi lahir atau 40-50.000 per tahun. Selanjutnya, dari PJB tersebut terbagi menjadi 2 yaitu 1) Non-Kritis (37.500 per tahun); dan 2) PJB Kritis (25% atau 17.500 per tahun). Kondisi-kondisi yang terjadi seperti jantung bocor, katup sempit atau tidak lengkap atau buntu, pembuluh darah terbaik, salah masuk, bilik tunggal dan lain-lain.

          Lantas, apa sih yang menyebabkan PJB? Perlu diketahui bahwa faktor yang berisiko menyebabkan PJB, adalah: 1) infeksi kehamilan: torch 2) penyakit ibu: diabetes, lupus, hipertensi; 3) konsumsi obat, rokok, alkohol; 4) nutrisi tidak seimbang 5) kelainan genetik janin dan 6) Riwayat keluarga dengan kelainan jantung.

          Orang tua juga perlu memahami gejala dan tanda PJB. Di mana, gejala dan tanda PJB, adalah: 1) kebiruan; 2) nafas cepat atau sesak nafas; 3) kelelahan saat aktivitas atau menyusui; 4) pertumbuhan terhambat atau berat badan sussah naik; 5) perubahan bunyi dan letak jantung; 6) infeksi paru berulang; 7) kelainan bawaan atau sindrom; 8) pingsan atau berdebar atau nyeri dada; 9) kurus stunting; dan 10) keliatan “sehat”.

 

Gejala dan tanda Penyakit Jantung Bawaan (PJB) (Sumber: presentasi dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes.)

 

          Hal penting yang perlu dipahami orang tua adalah dampak yang sangat nyata dari PJB terhadap tumbuh kembang anak. Bahkan, dampak PJB bisa menyebabkan gagal tumbuh. Hal ini dikarenakan: 1) serapan nutrisi insufisien; 2) kebutuhan energi meningkat; dan 3) asupan nutrisi tidak adekuat (tidak cukup). Dan, berdampak pada 1) asupan berkurang; 2) hormon pertumbuhan; 3) gangguan saluran cerna; 4) gangguan metabolisme; dan 5) genetik dan penyakit lain.    

          Maka, sebelum terjadinya dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak. Orang tua perlu melakukan pemeriksaan rutin. Yaitu, dengan melakukan: 1) konsultasi; 2) EKG dan ronsen dada secara rutin; 3) secara khusus, melakukan echocardiography dan kateterisasi; dan 4) dilanjutkan dengan CT-SCAN dan MRI.   

 

Pemeriksaan dengan echocardiography dan kateterisasi (Sumber: presentasi dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A(K), M.Kes.)  

 

          Namun, jika anak sudah terkena PJB, Maka, orang tua bisa melakukan tata laksana seperti: 1) Memberikan obat-obatan dan nutrisi; 2) Paliatif; dan 3) Definitif. Bisa dilakukan pembedahan, non-bedah (catheter intervention) dan Hybrid Intervention.

          Agar anak dengan PJB bisa tumbuh kembang optimal, maka hal-hal yang diperlukan sejak awal oleh orang tua, adalah: 1) melakukan identifikasi; 2) diagnosis; dan 3)pengobatan umum dan khusus. Oleh karena itu, dibutuhkan peran orang tua, seperti:

1.     Bawa ke faskes terdekat bila ada tanda dan gejala PJB.

2.     Konsultasikan ke dokter anak atau konsultan kardiologi.

3.     Asuhan nutrisi.

4.     Memantau tumbuh kembang.

5.     Vaksinasi rutin.

6.     Jaga kesehatan gigi dan mulut.

7.     Obati infeksi dengan tuntas: ISPA, radang telinga.

8.     Menyesuaikan aktivitas.

9.     Tidak panik, menyesuaikan saran dokter.

10. Ikhlas, ikhtiar, sabar dan tawakal.  

          Penting, jika status nutrisi yang tidak optimal sangat berdampak terhadap luaran PJB, yaitu:

1.     Pre-Operasi (mortalitas dan morbiditas meningkat, penundaaan tindakan, infeksi dan lama rawat).

2.     Pasca-Operasi (mortalitas dan morbiditas meningkat, gagal organ, lama rawat ICU, dan infeksi),

3.     Kontrol (Morbiditas-komplikasi, gangguan tumbuh kembang, dan Neurodevelopmental).

          Narasumber kedua yang tampil adalah DR. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K) selaku Dokter Spesialis Anak, Konsultan Kardiologi Nutrisi dan Penyakit Metabolik dan ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Bali 2014-2020. Materi yang dipresentasikan dalam webinar tersebut berjudul “Manajemen Nutrisi Optimal pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan”.

 

DR. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K) (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Setelah pembahasan masalah lebih spesifik ke PJB. Narasumber kedua lebih membahas ke masalah malnutrisi, khususnya yang berhubungan anak dengan PJB. Sebagai informasi, malnutrisi dibagi menjadi 2 yaitu 1) Primer (kemiskinan, tidak terurus, tidak mengerti nutrisi); dan 2) Sekunder (penyakit kronis PJB, Kanker, TB, HIV).  

          Persentase Malnutrisi pada anak dengan PJB sebanyak 80,2% (Ringan 16,3%, Sedang 24,1%, Berat 39,8%). Malnutrisi berat lebih sering terjadi pada PJB tipe sianosis dibandingkan asianosis. Dikarenakan, gizi baik lebih banyak pada PJB asianosis. Kasus PJB paling sering adalah: 1) VSD (42,9%); dan 2) TOF (17,3%).

          Perlu diketahui, anak dengan PJB sangat rentan terjadinya malnutrisi. Alasan yang mendasari bahwa PJB sering mengalami malnutrisi (dalam hal ini kurang gizi) karena:

1.     Asupan nutrisi tidak adekuat (tidak cukup).

1)    Anak PJB mudah lelah, sering terhenti bila makan atau minum, bahkan sejak bayi sehingga asupan nutrisi tidak sesuai dengan kebutuhannya.

2)    Anak PJB sering mengalami inflamasi atau infeksi yang menyebabkan nafsu makan menurun.

3)    Pembatasan pemberian cairan bila anak dengan PJB mengalami gagal jantung.

2.     Kebutuhan nutrisi meningkat.

1)    Anak PJB mengaami metabolisme basal lebih tinggi teruatama pada saat aktif atau menangis sehingga kebutuhan nutrisi meningkat.

2)    Anak PJB sering mengalami inflamasi atau infeksi yang menyebabkan kebutuhan meningkat.

3.     Penyerapan nutrisi pada usus terganggu.

Anak PJB seringkali mengalami gangguan penyerapan nutrisi pada usus teruatama anak PJB dengan tipe sianosis.  

          Malnutrisi terjadi sejak usia dini sebesar 15-41% pada usia 1 bulan pertama. Di mana, 1) gizi kurang atau buruk dan atau stunting; 2) lebih sering pada tipe sianosis. Dampak PJB terhadap tumbuh kembang anak. Kondisi malnutrisi tersebut memberikan dampak:

1.     Gangguan kognitif.

2.     Daya tahan tubuh rendah atau mudah sakit.

3.     Prognosis PJB buruk (memperparah kerusakan otot jantung, komplikasi lebih tinggi bila dilakukan operasi jantung, dan penyembuhan luka lebih lama).

          Orang tua harus berusaha sebaik mungkin, agar anak dengan PJB bisa tumbuh kembang dengan baik. Namun, gagal tumbuh dengan masalah Berat Badan (BB) merupakan hal yang paling awal karena malnutrisi. Sebagai informasi, kenaikan berat badan di bawah persentil-5 menurut tabel WHO, dikatakan gagal tumbuh. Jika bayi lahir dengan BB 3kg, dan pada saat usia 1 bulan, BB 3,4 kg. Maka, dikatakan gagal tumbuh karena kenaikan BB di bawah

          Oleh karena itu, perlu adanya identifikasi dini malnutrisi melalui pemantauan pertumbuhan melalui: 1) Timbang BB (peran orang tua); 2) Plot pada grafik  atau tabel; 3) Interpretasikan dan 4) Lalukan tindak lanjut.

          Kebutuhan nutrisi yang dihitung umumnya 1) Karbohidrat; 2) Lemak; dan 3) Protein.  Cara menghitungnya tergantung berat ideal dan usia panjang badan dikalilkan  dengan  RDA-nya. Target pemberian 80% dari RDA tergantung rspon dari si anak. Anak dengan PJB terkadang memerlukan formula dengan densitas kalori tinggi (ONS/Oral Nutrition Supplement) karena pembatasan pemberian cairan.

 

Recommended Dietary Allowance (RDA) Kalori (Sumber: presentasi  DR. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K)

 

    

ORANG TUA ANAK DENGAN PJB

          Sungguh, membersamai anak dengan PJB merupakan sosok orang tua yang luar biasa. Maka dari itu, dalam webinar juga dihadiri oleh 2 orang tua (ibu) yang mempunyai anak PJB yaitu Pertama adalah Ibu Yuli Lestari (dari Komunitas Kelainan Jantung Bawaan).

          Anaknya yang bernama Nisa mengidap jantung bawaan. Nafasnya tampak cepat dan terputus-putus saat disusui ibunya. Hal yang dilakukan oleh Ibu Yuli Lestari adalah memberikan nutrisi yang seimbang. Dengan kata lain, sang ibu gita mengejar status gizi untuk anaknya.

          Nisa telah mengalami operasi. Selanjutnya hal yang dilakukan adalah 1) kontrol rutin (bulanan); 2) rawat jalan; dan 3) tetap memberikan nutrisi yang seimbang untuk anak.  Sekarang berumur 4 tahun, hidup sehat dan cerdas. 

          Sedangkan, orang tua dengan anak PJB yang kedua adalah Ibu Agustina Kurniati Kusuma yang juga mempunyai anak PJB. Ibu Agustina merupakan anggota dari komunitas Little Heast Community (LHC). Ia merasakan bahwa LHC  seperti keluarga. Karena, semua anggota komunitas selalu mendukung dan memberikan informasi untuk kesembuhan anaknya.

          Dia tahu harus ke dokter mana saja dan melakukan banyak terapi dan biaya yang harus dikeluarkan. Karena, anak yang pertama bernama Abiel lahir secara prematur (umur 30 minggu). Dan, mengidap PJB dengan 4 kelainan jantung. Sebuah kondisi yang sangat nmenekan psikis orang tua. Untung, dokter yang menanganinya memberikan masukan positif.

 

          “Ini bisa disembuhkan atau operasi, asal dia dalam kondisi baik atau stabil”

 

          Dengan penanganan yang baik, akhirnya Abiel bisa hidup sehat dan cerdas. Hal itu dikarenakan orang tua melengkapi anaknya dengan nutrisi yang seimbang. Sekarang, anaknya berumur 6 tahun.   

          Tidaklah mudah untuk mengakui anak dengan PJB. Sebuah hal yang berat atau tantangan. Apalagi, harus berbagi pengalaman kepada orang lain tentang membersamai anak PJB.

          Dari pengalaman dua orang tua dengan anak PJB di atas. Maka, peran orang tua sangatlah penting dalam penyembuhan anak dengan PJB. Karena, PJB sejatinya adalah titipan Allah SWT karena kondisi jantungnya dalam kondisi istimewa.

          Orang tua harus perhatian dan kooperatif dalam penanganan anak PJB. Dukungan dan merawat dengan baik agar anak tersebut tumbuh optimal, sehat dan cerdas. Tidak dipungkiri bahwa anak dengan PJB, tumbuh kembangnya berisiko terjadinya stunting.

          Oleh karena itu, orang tua harus rajin berkonsultasi ke dokter, agar nutrisi yang diberikan ke anak PJB sesuai dengan anjuran dokter. Apalagi, tumbuh kembang anak dengan PJB akan dipengaruhi oleh 3 hal penting. Yaitu, 1) Kompleksitas kelainannya; 2) Adanya kelainan penyerta seperti Down Syndrome; dan 3) Komplikasinya.  

          Hal yang dilakukan orang tua, agar tidak menimbulkan risiko terjadinya anak PJB, seperti 1) Jangan sampai terjadi kekurangan nutrisi pada ibu (baik makro maupun mikro); 2) perlunya evaluasi berat badan agar ideal selama kehamilan; dan 3) Kebutuhan nutrisi mikro seperti asam folat dan zat besi harus terpenuhi dengan baik.   

          Perlu diingat, penyakit jantung khususnya PJB pada anak masih menjadi penyakit dengan biaya penanganan yang mahal. Namun, Pemerintah, melalui BPJS bisa meng-cover penyakit tersebut. Sayangnya, asuaransi swasta tidak mau menanggung biaya penyakit PJB.    

 

“Merawat anak dengan PJB tidak sama dengan merawat anak normal, memerlukan ketelatenan dan kewaspadaan diri”.


Tuesday, September 28, 2021

MERINDING, TIKET BUS DIBAYARIN SOSOK GAIB

 

Ilustrasi tiket bus dibayarin sosok gaib (Sumber: terkini.id)

 

Suatu hari di tahun 1992. Waktu malam sudah menunjukan  pukul 12.00 malam. Ketika saya sampai di terminal Kalideres Jakarta Barat. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dari Pulogadung Jakarta Timur. Saya melihat bus-bus diam tempat, tidak ada yang keluar dari terminal. Mungkin, karena sudah larut malam.

 

 

          Saat itu, saya hendak melakukan perjalanan ke bibi saya yang tinggal di Karang Antu Banten Lama. Jujur, saya belum pernah ke bibi saya sendirian. Pernah sekali bersama bapak waktu SD, naik bus langsung jurusan Brebes - Labuan Merak. Namun, yang saya ingat dari perjalanan bersama bapak, hanyalah alamat bibi saja. Saya ingat terus.

          Saya berniat ke rumah bibi, karena ingin menyambung silaturahmi. Sekaligus, agar bibi tidak lupa saya. Karena, sudah 6 tahun tidak pernah lagi diajak bapak. Sungguh, waktu itu, saya sungguh nekad, berbekal uang seadanya (pakai ilmu perkiraan). Saya tidak tahu bus apa yang saya naiki, dan tidak tahu berapa harga tiket yang harus saya bayar.

          Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, bus yang hendak saya tumpangi hendak keluar terminal. Saya dikasih tahu sama orang yang menjual minuman di sekitar terminal, agar saya naik yang dimaksud. Saya pun tergopoh-gopoh mengejar bus yang ingin saya tumpangi. Meskipun, saya tidak tahu jelas merek bus tersebut. Hanya disuruh orang yang menjual minuman tersebut.

          Saya melihat dalam bus sudah gelap dan langsung keluar dari terminal. Penumpang hampir memenuhi isi bus. Tetapi, ada satu jalur kursi bus bagian tengah yang terlihat kosong. Saya melihat seperti bapak-bapak paruh baya yang duduk dekat kaca bus. Uniknya, bapak tersebut menempelkan kepalanya di kaca. Entah, tidur atau melihat pemandangan di luar bus.

          Saya tidak tahu jelas, karena bus masih dalam suasana gelap. Hanya sesekali sinar kendaraan yang berasal dari arah berlawanan. Saya pun penasaran, ingin melihat wajah secara utuh bapak yang duduk dekat kaca. Sementara, saya duduk di bagian pinggir. Kami berdua tidak melakukan komunikasi.

          Namun, setelah kurang lebih 15 menit bus berjalan. Bapak tersebut mengajak saya ngobrol. Dia masih menempelkan kepalanya, wajahnya tidak terlihat. Pertanyaannya pun terkesan singkat dan padat. Hanya tanya ke mana, mau apa dan sama siapa. Habis itu suasana kembali hening. Dalam hati, berharap “tidak ditarik bayaran karcis bus”. Saya pun tertidur.

          Saya tidak tahu berapa menit saya tertidur. Setelah bangun, sepuluh menit kemudian, kondektur bus lewat di samping saya. Dia seperti bolak-balik mencari tempat duduk saya. Saya berpikir, dia ingin meminta bayaran tiket bus. Saya pun sudah menyiapkan uang, yang saya siapkan sejak awal mau berangkat ke Kalideres. Saya pun bertanya kepada kondektur bus.

 

          “Berapa pak ke terminal Serang?”

 

          Sang kondektur pun agak bingung atas pertanyaan saya. Saya pun makin bingung.

 

          “Masnya kan udah bayar”

 

          Jawab kondektur singkat. Saya termenung sejenak karena bingung dan kaget. Tetapi, mengucapkan syukur alhamdulilah. Karena, doa saya agar tidak membayar tiket bus terkabulkan. Ketika, kondektur berjalan ke depan bus dalam suasana gelap. Bapak yang masih dalam posisi menempelkan kepala bicara ringan.

 

          “Udah saya bayarin dek, waktu adek tidur”

 

          Saya pun hanya berucap syukur, karena bapak yang baru saya kenal mau membayarkan tiket bus saya. Tetapi, dalam hati bertanya-tanya, kok kata kondektur, yang bayar saya. Sungguh aneh!

          Saya tidak banyak berpikir kejadian barusan. Yang saya pikir adalah saya bisa berhemat ongkos perjalanan. Setelah pikiran tenang, saya pun tertidur. Dan, terbangun saat lampu bus menyala. Ternyata, bus tersebut berhenti sebentar karena mengganti ban. Yang aneh, saya justru tertidur sendirian di bus. Sementara, penumpang lainnya turun semua. Mungkin, sambil relaksasi badan.

          Rasa penasaran saya pun muncul lagi. Ketika, bus mulai berjalan. Sementara, penumpang bapak-bapak yang ada di samping saya tidak terlihat. Tanpa malu-malu, saya pun bertanya sama kondektur, ketika dia melewati tempat duduk saya.

 

          “Maaf pak, bapak yang duduk di sini sudah turun di mana?”

 

Jawab sang kondektur membuat saya kaget. Dan, hampir tidak percaya.

 

“Bapak siapa mas, dari Kalideres kan cuma mas saja yang duduk di sini. Tuh lihat, penumpang masih penuh, mau turun di Serang ama di Merak”

 

          Saya pun celingak-celinguk lihat penumpang. Mereka seperti keheranan melihat saya. Mungkin, mereka kira saya sedang ngelindur. Loh, yang duduk sama saya siapa? Pikir saya. Detak jantung saya makin kencang, karena saya merinding atas kejadian yang baru saya alami.

          Sosok gaib telah nyaru (menyamar) jadi penumpang bus. Meskipun, dalam suasana takut. Saya bersyukur, sosok gaib tersebut telah berbaik hati membayar tiket bus saya. Mungkin, ini kehendak Allah SWT, saat saya sedang mengalami kebingungan. 


TEROR SUARA GAIB DI MALAM JUMAT KLIWON

 


Ilustrasi teror suara malam jumat kliwon (Sumber: pixabay.com)

 

 

          Sekitar tahun 2004, saya berkesempatan untuk menyambangi kota Surabaya. Karena, ada keperluan belanja barang di sebuah pusat perdagangan terkenal di Surabaya. Saya berangkat dari Kota Ngawi sekitar pukul 08.00. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Sampai di tempat yang dituju sehabis sholat dhuhur.

          Sesampainya di lokasi tujuan, saya pun langsung berkeliling menjelajahi setiap lantai pusat perbelanjaan tersebut. Mencari barang yang sekiranya cocok dijual. Lumayan, bisa membuat dapur tetap ngebul, Akhirnya, pandangan saya tertuju pada sebuah produk komunikasi telepon wireless di sebuah grosir besar. Yang menurut saya, bisa booming untuk dipasarkan.

          Saya dan pemilik grosir pun akhirnya melakukan nego harga. Saya pun setuju untuk belanja produk tersebut dengan jumlah tertentu. Namun, ternyata jumlah produk yang saya inginkan tidak mencukupi. Pihak pemilik grosir pun berjanji bahwa keesokan harinya barang bisa siap sedia.

          Terpaksa, saya meski menginap di Surabaya. Daripada bolak-balik Ngawi-Surabaya. Bukan hanya capai badan tetapi waktu dan uang juga terbuang. Bukan itu saja, saya pun punya kesempatan untuk jalan-jalan malam hari di kota Surabaya.

          Selanjutnya, untuk menekan pengeluaran, saya berniat mencari penginapan yang murah meriah. Dengan alasan, hanya buat tidur saja, ngapain yang mahal-mahal. Maka, saya pun berkeliling di sekitaran alun-alun tugu pahlawan. Dengan tujuan, saat santai bisa sekalian jalan-jalan. Namun, ternyata tarif hotel yang ada di sekitaran lokasi terbilang mahal pada saat itu.

          Maka, dengan terpaksa, saya mencari penginapan atau losmen. Dan, akhirnya bisa mendapatkan penginapan layaknya losmen, yang benar-benar murah. Losmen tersebut terletak tidak jauh dari bantaran sungai. Losmen yang mempunyai banyak kamar yang layaknya kos-kosan. Arsitektur losmen tersebut terbilang jadul. Tampilannya seperti bangunan gaya tempo dulu.

          Saya tidak berpikir macam-macam. Yang penting bisa tidur nyenyak, dan besok bisa dapatkan barang yang saya inginkan. Selanjutnya, pulang ke Ngawi, gitu aja pikiran saya.

          Udara panas Surabaya membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan, saking “sumuknya”, saya sampai mandi tiga kali malam itu. Dan, saya baru ingat bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon.

          Kamar penginapan yang tanpa AC dan kipas membuat saya gelisah. Namun, lantai kamar yang terbuat dari tegel membuat sedikit dingin ruangan. Sesekali, saya rebahan di lantai untuk menghilangkan rasa gerah.

          Yang menarik, lampu kamar dan kamar mandi justru dari lampu yang menyala warna kekuning-kekuningan. Jadi, meskipun dalam kondisi nyala, ruangan terasa seperti remang-remang ala warung kopi .

          Menjelang pukul 12.00 malam saya belum bisa memejamkan mata. Padahal, badan saya terasa lelah, setelah setengah hari berjalan. Saya berusaha memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Entah, apa yang membuat saya gelisah malam itu.

          Tanpa terasa, saya pun ketiduran di tempat tidur yang mempunyai kasur berisi kapuk randu. Saya merasakan nyenyak sekali tidur malam itu. Tetapi, menjelang pukul 03.00, rasa nyenyak tidur saya terganggu. Saya seperti mendengar langkah banyak orang mendekati saya.

          Saya berpikir bahwa suara tersebut berasal dari suara lain di luar penginapan. Namun, dalam keheningan malam, suara itu semakin jelas terdengar. Saya mencoba mencari asal suara tersebut. Berusaha untuk mendekatkan telinga saya ke tembok. Sayup-sayup saya juga mendengar suara mengerikan lain. Seperti orang (entah laki atau wanita) yang sedang menangis.

          Saya menyadari bahwa kamar sebelah terlihat sepi dan tertutup pintunya. Sejak, saya memasuki kamar saya. Saya pun bertanya dalam hati, “masa sih, malam-malam ada orang menangis”.

          Saya mengacuhkannya suara yang sangat mengganggu tersebut. Tetapi, suara tersebut terdengar jelas, hingga menjelang sholat shubuh. Saya mencoba tidur, tapi tidak bisa. Karena, rasa takut saya masih membayang, Setelah berdoa dan berdzikir, saya pun mencoba berkomunikasi seperti ada lawan bicaranya.

 

“Mbah, Bapak, ibu, mas utawi mbak. Nyuwun sewu nggih, Kulo amung numpang sare dateng mriki. Tujuan kulo mboten bade ngganggu alamipun panjenengan. Panjenengan lan kulo nggih makhlukipun Gusti Allah SWT. Laa haula wala quwwata illa billah. Ndang sumingkir nggih. Monggo, kulo bade sare, sepindah malih kulo bade sholat Shubuh. Allahu Akbar”

(Mbah, Bapak, ibu, mas atau mbak. Mohon maaf ya, saya hanya numpang tidur ke sini. Tujuan saya nggak mau ganggu alam kalian. Kalian dan saya sama-sama makhluk Gusti Allah SWT. Laa haula wala quwwata illa billah. Buruan pergi ya. Silakan, saya mau tidur, sekali lagi saya mau sholat Shubuh. Allahu Akbar”)

 

          Layaknya di film-film horor. Sang pengganggu malam saya tersebut bersedia untuk tidak mengganggu. Namun, yang menjadi aneh, terdengar suara seperti tembok digedor-gedor keras berkali-kali. Entah, mereka marah atau memberikan pertanda bahwa mereka gelo (menyesal) tidak bisa mengganggu saya.

          Setelah tembok kamar digedor berkali-kali, lambat laun suara mengerikan tersebut menghilang. Menyusul suara adzan bersahut-sahutan di luaran sana. Alhamdulillah, teror malam Jumat pun berhenti. Namun, rasa merinding masih terngiang hingga kini.  


Kembang Sepatu dan Misteri Kematian Saudara Kandung

 


Misteri kembang sepatu (Sumber: shutterstock)

 

 

“Kakakmu, Suijah sama Suidah itu anaknya cantik, kulitnya juga putih. Sedangkan, Sulikhin anaknya juga ganteng, putih dan tragal (lincah). Tapi, badannya lebih kecil dari kamu”

 

          Sepenggal kalimat, yang pernah bapak katakan sama  saya. Kalimat yang selalu saya kenang seumur hidup. Dan, membuat saya kangen dan berpikir, menerawang jauh. Bahkan, membayangkan seandainya 3 orang saudara kandung saya tersebut masih hidup hingga sekarang. Betapa bahagianya saya.

          Saya mempunyai 7 saudara kandung. Tiga kakak perempuan, satu kakak laki-laki, satu adik laki-laki dan dua adik perempuan. Kakak perempuan pertama, satu kakak laki-laki, dan dua adik perempuan masih hidup hingga sekarang. Kakak pertama yang perempuan sebagai ibu rumah tangga yang sukses. Dia tinggal di Brebes Jawa tengah, beranak 4 dan sudah mempunyai cucu (saya belum tahu jumlahnya).

          Sedangkan, kakak yang laki-laki sebagai PNS (guru sekolah pelayaran). Dia tinggal di Palabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat, mempunyai (kalau tidak salah 2 anak). Saya tidak tahu perkembangan lebih lanjut, karena hampir 8 tahun tidak pernah bertatap muka atau berkomunikasi.

          Dan, kedua adik perempuan sebagai ibu rumah tangga. Salah satu adik perempuan saya, bekerja sebagai TKW di Singapura. Namun, ketika pulang kampung, dia dan adik perempuan bungsu tinggal di Brebes Jawa Tengah. Kedua adik perempuan saya sudah mempunyai anak. Yang satu mempunyai 2 anak laki-laki, dan yang bungsu mempunyai 2 anak laki-laki kembar (tetapi, salah satunya sudah meninggal dunia).  

 

MISTERI KEMBANG SEPATU

          Nah, kakak ketiga dan keempat saya adalah perempuan. Dan, adik kandung (anak keenam) persis di bawah saya adalah laki-laki. Sampai tulisan ini saya hadirkan di hadapan anda. Masih ada misteri yang menyelimuti saya tentang kebenarannya. Namun, informasi yang pernah saya dapatkan dari bapak dan ibu saat saya masih SMA,  sungguh membuat saya merinding.

          Konon, dua kakak perempuan saya meninggal yang tidak wajar. Mereka adalah kakak beradik yang seperti saudara kembar. Umurnya berkisar satu tahun. Namanya anak perempuan jaman dulu. Mereka suka ngebolang di sekitar rumah untuk cari mainan bunga. Buat aksi jual-jualan khas anak cewek.

          Yang membuat saya miris, kedua kakak saya meninggal karena maaf “didulek” (kata yang unik di Brebes, yang berarti gangguan makhluk gaib yang nakal). Kedua kakak saya mendapatkan gangguan makhluk gaib, semacam Genderuwo yang ada di pekarangan angker tetangga. Yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya.

 

“Suijah sama Suidah meninggalnya, habis main andul-andulan di belakang rumahnya si X”.

 

          Itulah kalimat yang pernah saya dengar secara seksama dari Ibu. Andul-adulan ini berarti mainan yang diperoleh dari bunganya tumbuhan kembang atau bunga sepatu. Dan, tempat tumbuhnya bunga sepatu tersebut memang sungguh mistis. Jujur, saya sendiri tidak berani melewatinya di saat maghrib hingga malam hari.

          Ketika, saya hendak sholat berjamaah di masjid. Saya lebih memilih melewati jalan lain, yaitu jalan alternatif Pejagan - Ketanggungan.  Meskipun, waktu yang dibutuhkan lebih lama.

          Saya sendiri belum memahami secara pasti tentang kawasan yang dianggap mistis dan angker tersebut. Bapak dan ibu belum pernah memberikan informasi lebih dalam. Tetapi, kawasan tersebut “dulunya” adalah kawasan hutan kecil yang angker. Yang ditumbuhi berbagai macam seperti asam, bambu dan kembang sepatu yang tumbuh liar.  

          Bahkan, tidak jauh dari tempat tersebut, tersambung dengan makam keramat. Hal inilah yang menyebabkan suasana mistis makin kental di tempat itu. Didukung dengan “tanpa lampu penerangan”, membuat Kawasan tersebut makin horor.

          Bahkan, waktu SMP, ketika saya tanpa sengaja melewati kawasan tersebut sesudah sholat isya. Saya pernah kepergok penampakan yang membuat saya lari tujuh keliling. Ya, penampakan genderuwo yang berwajah sangat menyeramkan. Pengalaman mengerikan ini membuat saya tidak bisa tidur.

          Saya pun langsung menyimpulkan apa yang pernah bapak katakan tentang keangkeran tempat tersebut. Tidak salah rupanya, jika pengaruh gaib sangat kuat. Saat, dua kakak perempuan saya sedang bermain. Mungkin, mereka merasa terganggu atas kehadiran dua kakak perempuan saya tersebut.

          Sungguh, saya pun tidak pernah melihat wajah dua kakak perempuan saya tersebut. Yang saya ingat dari bapak dan ibu saya adalah dua kakak perempuan saya adalah anak yang lucu, cantik, berkulit putih. Dan, meninggal saat masih anak-anak.

 

KEDUA MATA MEREKAT

          Bagaimana dengan kematian adik laki-laki saya? Kata Bapak, saya dan Sulikhin mempunyai selisih umur sekitar 2 tahunan. Jika masih hidup, mungkin dia yang duluan mempunyai banyak anak. Informasi bapak, dia anak yang ganteng, putih kulitnya, badan kurus dan lincah.

          Seperti kedua kakak perempuan saya di atas, Sulikhin pun suka ngebolang di tempat-tempat yang dianggap angker. Namun, Namanya juga anak kecil maka dia tidak memperdulikan hal-hal yang berbau gaib.

          Sulikhin meninggal sebelum menginjak 5 tahun. Jadi, saya pun belum ingat betul wajahnya. Tetapi, “konon” wajahnya seperti adik perempuan saya, yang sekarang masih hidup. Yang membuat saya miris dan merinding dari kematian Sulikhin adalah pengaruh kuat dari makhluk halus. Atau, dari pengaruh sihir dari orang jahat yang tidak berperikemanusiaan. Entahlah, semua serba abu-abu.

          Tetapi, bapak memberikan gambaran jelas. Bahwa, sebelum meninggal, kondisi Sulikhin sungguh di luar nalar. Kedua mata Sulikhin mendadak tertutup, tidak bisa dibuka sama sekali. Seperti orang buta. Ketika bapak mencoba membuka kedua mata tersebut, kedua mata tersebut seperti merekat kuat. Jika dipaksa untuk dibuka, bagai kulit yang teriris. Mengerikan sekali.

          Sungguh, Sulikhin adalah anak kesayangan Bapak dan Ibu. Karena, saat itu, Sulikhin dianggap sebagai anak bungsu. Dan, berencana bapak tidak ingin mempunyai anak lagi. Siapa pun akan menyayangi sepenuh hati anak bungsu, melebihi dari anak-anak lainnya.

          Namun, nasib Sulikhin berakhir tragis. Ketika mendengar cerita bapak tentang kondisi Sulikhin sebelum meninggal, saya membayangkan betapa sakitnya dia. Semoga Sulikhin, Suijah dan Suidah ditempatkan di tempat terindah di sisi Allah SWT.  

          Itulah sebabnya, Bapak dan Ibu saya menyebut saya sebagai “Anak Bugang”. Anak yang diapit oleh kakak dan adik yang meninggal dunia. Konon, dalam kepercayaan orang Jawa, saya semestinya “diruwat”, untuk menghilangkan segala pengaruh jahat dan kesialan hidup.

          Unik, awal tahun 2000, saya pun pernah diramal secara gratis seorang paranormal hebat di Semarang. Ramalan melalui garis tangan saya menyatakan, bahwa saya akan mengalami masa pahitnya hidup yang paling hebat. Seperti, ditipu berkali-kali, kebangkrutan usaha berkali-kali, ditinggal orang-orang yang telah dibantunya, dijauhi oleh orang-orang tercinta dan lain-lain. Saat itu, saya hanya mengiyakan saja. Anggap saja sebagai wawasan pengetahuan.

          Meskipun, pada kenyataannya, ndilalah kersane Allah, saya benar-benar mengalami kejadian “persis” seperti apa yang pernah diramal oleh sang paranormal tersebut. Tetapi, saya menganggapnya bahwa hal tersebut bagaikan ilmu Cocokologi.

          Ibarat orang memprediksi sesuatu, dan benar-benar terjadi. Kita tidak lantas mempercayai bahwa orang tersebut adalah hebat. Itu hanyalah kekuasaan Allah SWT yang disalurkan kepada orang yang dikehendaki-NYA.    

          Alhamdulillah, saya hanya percaya sama Allah SWT, “Gusti ingkang Murbeng Dumadi”. Sang penguasa alam semesta. Saya selalu belajar banyak dari pahitnya hidup dalam DOA yang saya panjatkan. Saya hanya bermohon atas keridhoan Allah SWT. Tidak ada yang lain, selain DIA YANG MAHA KUASA. 


“Tulisan ini saya persembahkan buat almarhumah dua kakak perempuan Suijah dan Suidah, almarhum adik laki-laki Sulikhin. Semoga mereka tenang di sisi Allah SWT. Hadiah Surat Al Fatihah buat mereka. Ya, Allah, ampunilah segala dosa-dosa mereka. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin”.          

Inilah 5 Alasan Toilet Indomaret dan Alfamart Berada di Dalam Minimarket

  Toilet Indomaret dan Alfamart yang berada di dalam minimarket (Sumber: shutterstock )             “Selamat datang di Indomaret. Selama...