Showing posts with label Pandemi Virus Corona. Show all posts
Showing posts with label Pandemi Virus Corona. Show all posts

Wednesday, June 24, 2020

Menelisik Budaya Bersepeda Saat Pandemi


Menelisik budaya bersepeda saat Pandemi (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

 

Harus diakui bahwa Pandemi Virus Corona telah memberikan ruang “kesakitan” banyak orang. Ruang, di mana banyak orang “jungkir balik” menghadapi wabah yang tak kasat mata ini. 

Namun, di balik “rasa sakit hidup yang mendera”, selalu saja ada sisi yang memberikan “rasa bangkit”. Pandemi Virus Corona telah memberikan ruang positif bagi banyak orang. Salah satu hal yang viral adalah Budaya Bersepeda Saat Pandemi. 

NEW NORMAL 

Bukan karena kasus sepeda Brompton yang viral di Semarang. Memaksa masuk sebuah café. Karena, harganya yang fantastis dan takut dicuri orang. Tetapi, Pandemi Virus Corona memberikan kesadaran banyak orang tentang artinya budaya bersepeda. 

Anda pasti paham bahwa sudah ribuan nyawa yang telah menghadap sang Pencipta Allah SWT, karena ganasnya wabah Covid-19. Kebijakan Pemerintah pun telah disosialisasikan kepada masyarakat luas. Tentang artinya hidup sehat sesuai Protokol Kesehatan Covid-19. 

Apalagi, sejak ada statement (pernyataan) dari Presiden RI Jokowi. Bahwa, antivirus (vaksin) Covid-19 belum juga ditemukan. Maka, Presiden RI memberikan pernyataan bahwa masyarakat harus bisa “hidup berdamai” dengan Covid-19. Kita semua mesti wasapda dan hati-hati dalam menghadapi wabah Covid-19. 

Sungguh, pernyataan yang membuat masyarakat meski cerdas menyikapinya. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan memperkuat imunitas dalam tubuh. Dan, olahraga adalah hal yang harus dilakukan. 

Dengan adanya kebijakan New Normal (Hidup Baru). Yang mengharuskan transportasi harus mengkuti protokol kesehatan. Maka, timbul inisiatif banyak orang. Yang merupakan budaya sejak dulu yaitu bersepeda. 

Dengan bersepeda, maka orang bisa melakukan Physical Distancing. Bisa menjaga jarak dengan orang lain. Juga, dengan bersepeda berpotensi proses penyebaran Covid-19 sangat kecil. Karena, sebisa mungkin menghindari kerumunan banyak orang, dalam jangka waktu yang lama. 

Setelah kasus positif penumpang Covid-19 di KRL Jakarta beberapa minggu lalu. Maka, penjagaan KRL sesuai dengan prosedur Protokol Kesehatan Covid-19 semakin diperketat. Pemerintah tidak mau “kecolongan” yang kedua kalinya. Kondisi tersebut yang memberikan ruang kesadaran banyak orang bahwa dengan bersepeda ke kantor (Bike to Work) menjadi solusi yang baik. 

DORONGAN BERSEPEDA 

Yang jelas, masyarakat mulai introspeksi ke jati diri masing-masing. Bahwa, dengan bersepeda, maka akan meningkatkan imunitas tubuh. Ketika, imunitas tubuh kuat, maka tidak mudah terserang oleh Virus Covid-19. Apalagi, jika diiringi dengan makan makanan yang sehat dan bergizi. 

Budaya bersepeda juga menjadi “pelampiasan” sementara atau selamanya di saat kondisi New Normal. Di mana, destinasi wisata belum dibuka secara resmi oleh Pemerintah. Sementara, masyarakat telah melakukan aktifitas yang dipandang “membosankan” saat Work From Home (WFH). Maka, dengan bersepeda, menjadi aktifitas untuk melampiaskan kebosanan dan ekspresi kebebasan. 

Saya sempat bertanya ke anak saya tentang aktifitas “dadakan” bersepeda  teman-temannya. Padahal, dulu ogah bersepeda sebelum Pandemi Virus Corona. Tetapi, mereka tiba-tiba bersepeda di saat New Normal ini. Mereka “memaksa” dirinya untuk bersepeda, karena untuk mengisi waktu luang, agar tidak membosankan. 

Budaya bersepeda di saat Pandemi Virus Corona juga memberikan ruang kepada masyarakat, untuk membangkitkan budaya hidup sehat. Mereka harus bangkit dari “duka” akibat Pandemi Virus Corona. Mereka rela membeli sepeda “mahal” untuk menyalurkan budaya hidup sehat tersebut. 

Mengapa saya bilang mahal. Karena, ketika banyak orang berkeluhkesah tentang kondisi yang “kekurangan”. Tetapi, mereka begitu mudahnya membeli sepeda baru atau bekas yang harganya hingga jutaan. Sangat kontra dengan kondisi banyak orang yang sedang berharap datangnya bantuan sosial (bansos). 

Meskipun, ada dari para pesepeda tersebut, membeli sepeda bekas atau sepeda lama. Namun, dari manapun sepeda diperoleh atau dibeli. Bagi saya, para pesepeda itu mempunyai alasan tersendiri.    

Mereka menyadari bahwa budaya hidup sehat adalah sebuah keharusan. Meskipun, tanpa adanya Pandemi Virus Corona. Saat hari libur atau Minggu, saya melihat ratusan pesepeda dari segala umur di sekitaran lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar Bali. 

Menarik, bahwa budaya bersepeda saat Pandemi Virus Corona didominasi oleh kalangan generasi millennial. Atau, sebuah komunitas dengan atribut pakaian yang sama. Mereka mulai menjalin silaturahmi setelah 3 bulan lebih tidak bisa tatap muka secara langsung. 

Jika, ajang silaturahmi langsung dengan cara duduk-duduk saja. Mereka tentu bingung mencari tempat yang tepat untuk berkumpul. Sementara, masih banyak café atau tempat hangout lainnya banyak yang tutup. Maka, cara bersepeda bareng menjadi jalan yang harus ditempuh. 

Mereka bisa mengobrol sambil bersepeda. Kemudian, di saat merasa capai, akan mencari tempat yang lapang. Mereka bisa bersenda gurau dan berbagi pengalaman selama Pandemi Virus Corona ini. 

Coba bandingkan, jika mereka berkumpul hanya duduk-duduk saja di rumah. Maka, hal tersebut tetap saja membosankan. Tidak ada hal baru, karena situasinya hampir sama seperti Work Form Home (WFH) dulu. Cuma, ini bedanya banyak orang yang hadir. 

Padahal, kerumunan banyak orang di sebuah tempat (baca: rumah) bisa berpotensi menyebarkan Covid-19. Karena, orang-orang tersebut berasal dari area (zona Covid-19) yang berbeda. Tambah lagi, main ke rumah teman dalam jumlah yang banyak, akan menjadi perhatian banyak orang. Bahkan, sangat dilarang untuk dilakukan. 

Apalagi, jika rumah tempat untuk berkumpul berada di zona kuning atau merah. Maka, jangan berharap bahwa acara kumpul-kumpul bisa terealisasi. Petugas satuan tugas (Gugus) Covid-19 desa setempat akan bergerak cepat untuk mencegahnya. 

APRESIASI POSITIF 

Dengan berbagai kondisi hambatan untuk berkumpul di atas, maka budaya bersepeda adalah cara aman yang bisa dilakukan. Para pesepeda bisa datang dari mana saja. Untuk berkumpul atau bersilaturahmi bersama. Kemudian, “janjian” untuk kumpul, sebagai contoh di sebuah pinggir jalan atau tempat yang aman.   

Dengan budaya bersepeda, maka timbul anggapan banyak orang untuk memberikan apresiasi postif. Karena, meskipun budaya bersepeda sangatlah menyehatkan. Tentu, harus diimbangi dengan penerapan Protokol Kesehatan Covid-19 dari diri pesepedanya. 

Tetapi, ketika tidak mengindahkan  Protokol Kesehatan Covid-19 seperti memakai masker, menjaga jarak (Physical Distancing) dan mencuci tangan sehabis bersepeda. Maka, kemungkinan penyebaran Covid-19 bisa terjadi. 

Jika, anda kuat dan tahan terhadap Covid-19, maka Covid-19 akan menyerang ke anggota keluarga atau tetangga lainnya. Yang melakukan kontak langsung dengan anda. Ingat, pergerakan Covid-19 tidak bisa terdeteksi. 

Jadi, manfaat dari budaya bersepeda bukan hanya untuk keamanan dan kenyamanan diri anda saja. Tetapi, budaya bersepeda sejatinya untuk kesehatan bersama.   

Anda boleh memiliki imunitas yang kuat setelah bersepeda. Tetapi, bagaimana dengan orang lain? Tetaplah menerapkan Protokol Kesehatan Covid-19. Meskipun, budaya bersepeda terjadi secara tiba-tiba saat Pandemi Virus Corona. Keep health in yourself and others during Covid-19 Pandemic. Cheers!      


Saturday, May 30, 2020

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona


Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi)





Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak bisa melewatkan Lebaran Ketupat. Orang Jawa biasa menyebutnya Badanan Kupat atau Riyoyo Kupat. Lebaran Ketupat ini berlangsung seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.

 

Silaturahmi di Lebaran Ketupat

 

Lebaran Ketupat merupakan tradisi dari kearifan lokal bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Lebaran Ketupat menjadi ajang untuk silaturahmi bersama saudara atau tetangga terdekat. Namun, karena kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Maka, perayaan Lebaran Ketupat berlangsung di rumah masingt-masing.

 

Biasanya, pagi ketika Lebaran Ketupat, warga secara bersamaan berkumpul di masjid atau Mushola. Mereka membawa ketupat yang telah matang. Dicampur dengan lauk-pauk sesuai selera masing-masing. Ketika, jumlah warga sudah berkumpul semua. Maka, sang ustad setempat akan memanjatkan doa keselamatan. Serta, doa agar dipanjangkan umurnya bisa bertemu bulan Ramadan tahun depan.

 

Ketika, acara selamatan perayaan Lebaran Ketupat selesai. Maka, warga akan membawa ketupat yang sudah matang tersebut secara random. Mereka bebas mengambil ketupat yang mana saja. Dengan kata lain, mereka seperti bertukar ketupat. Hal ini menandakan bahwa keikhlasan setiap orang. Agar, diampuni dosa yang telah diperbuatnya.

 

Lebaran Ketupat memberikan arti penting yaitu upaya agar dimaafkan segala kesalahan dan dosa sesama manusia. Saat Lebaran Ketupat, setiap orang benar-benar lepas dari segala dosa. Serta, kembali ke fitrah (kesucian) seperti bayi yang baru lahir.

 

Lebaran Ketupat di Rumah Saja

 

Namun, saat Pandemi Virus Corona, acara kumpul-kumpul di masjid atau mushola ditiadakan. Kini, berdoa demi keselamatan dan dipanjangkan umurnya. Agar, bisa bertemu di bulan Ramadan tahun depan, hanya bisa dilakukan di rumah saja. Menjelang malam Lebaran Ketupat, acara masak ketupat dimulai. Agar, pagi-pagi bisa dinikmati sekeluarga. Dan, berdoa demi keselamatan dunia dan akhirat.

 

Percayalah, meskipun kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, tidak mengurangi nilai ibadah untuk merayakan Lebaran Ketupat. Sebuah tradisi yang memberikan banyak arti.

 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya biasa merangkai ketupat sendiri. Sambil mengisi waktu luang. Namun, kini, untuk menghemat waktu, maka membeli ketupat yang sudah jadi di pasar adalah pilihan yang baik. Juga, membantu orang lain untuk menjemput rejeki.

 

Menarik, yang membuat ketupat jadi, justru bukanlah orang Muslim. Tetapi, banyak masyarakat Hindu Bali yang menjual ketupat yang siap di masak tersebut. Masyarakat Hindu Bali sangat memahami perayaan Lebaran Ketupat. Sepertinya, mereka sudah paham bahwa besok adalah perayaan Lebaran Ketupat bagi umat Islam.

 

Bahkan, saya melihat di sepanjang jalan yang dekat dengan pasar badung Denpasar. Di mana, tidak sedikit ibu-ibu atau nenek-nenek yang dengan lincah tangannya membuat ketupat. Dan, ketupat tersebut untuk dijual. Ini menjadi pemandangan menarik.

 

Lebaran Ketupat yang dirayakan oleh umat Islam justru telah dipahami oleh penganut agama lain. Hal ini menjadi bukti bahwa Lebaran Ketupat telah menjadi tradisi puluhan tahun silam. Bahkan, saat kondisi Pandemi Virus Corona, maka umat Islam tidak menyurutkan perayaan Lebaran Ketupat. Serta, penganut agama lain pun tidak lupa perayaan Lebaran Ketupat yang dirayakan umat Islam.

 

“Pokoknya besok harus masak ketupat pah. Buat merayakan Lebaran Ketupat” kalimat istri yang mengingatkan saya akan peristiwa Lebaran Ketupat.

“Memang harus?” jawab saya pura-pura tidak tahu.

“Ya harus pah. Kan, biar dosanya lebur semua. Di Ngawi (Jawa Timur) kan tiap tahun pasti merayakan Lebaran Ketupat” kata istri meyakinkan.

“Ya udah kalau begitu” jawab saya dengan enteng.      

 

Ketika keluarga besar di Ngawi Jawa Timur akan merayakan Lebaran Ketupat. Maka, saya pun mesti merayakan meskipun ada di perantauan. Ketika, tidak bisa mudik Lebaran tahun ini.

 

Tahun 2020 memang sungguh berbeda. Bukan hanya larangan mudik dan Lebaran yang dirayakan di rumah saja. Lebaran Ketupat pun dirayakan dari rumah masing-masing. Bukan hanya meningkatkan jiwa relejius. Tetapi, sebisa mungkin mempertahankan kearifan lokal.

 

Lebaran Ketupat tidak seperti memasak ketupat layaknya penjual Ketupat tahu, yang dilakukan setiap hari. Tetapi, Lebaran Ketupat mempunyai makna bahwa setiap orang akan melakukan ketupat. Yang dalam Bahasa Jawa berarti “kupat”. Kupat itu kepanjangan dari “ngaku lepat atau mengaku kesalahan”.

 

Jadi, saat umat Islam merayakan Ketupat Lebaran, maka sejatinya umat Islam sedang mengakui segala kesalahan yang telah dilakukannya. Dan, memohon maaf lahir dan batin. Agar, dihapuskan segala dosa dan kesalahannya. Selanjutnya, akan kembali ke fitrah (kesucian).

 

Selamat merayakan Lebaran Ketupat bagi brosis semuanya.

 

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H

Minal Aidin Wal Faidzin.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Nyuwun Agunging Pangapunten sedaya kelepatan.   



Thursday, April 23, 2020

Ramadhan Dalam Keprihatinan

Marhaban Ya Ramadhan Dalam Keprihatinan (Sumber : dialeksis.com)






             Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat datang bulan yang Mulia. Bulan yang Penuh Keagungan. Setelah mencermati Sidang Isbath yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI. Maka, Insya Allah, seluruh umat Islam akan mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan mulai Hari Jumat tanggal 24 April 2020 besok. 

           Bulan Ramadhan 1441 H ini akan menjadi sejarah. Di mana, bulan Ramadhan yang dilakukan di era milenium. Dan, bulan Ramadhan Dalam Keprihatinan di tengah Pandemi VIrus Corona


Dilarang Mudik

            Seperti biasanya, menjelang bulan Ramadhan, umat Islam akan berziarah ke makan leluhur, keluarga, kerabat dan teman yang telah meninggal dunia. Bagi para perantau, maka mereka akan meluangkan waktunya untuk mudik tahap awal. Mereka akan bernostalgia dengan keluarga bersarnya. Namun, tujuan utamanya adalah berziarah. Agar, mereka selalu mengingat kematian. Juga, mendoakan secara langsung keluarga mereka di makamnya. Sehabis itu, mereka akan balik ke kota lagi. Melakukan puasa Ramadhan di kota (perantauan).

            Sayangnya, saat Pandemi Virus Corona, maka ritual ziarah kubur di makam keluarga yang sudah meninggal menjadi hal yang tidak boleh dilakukan. Mengapa? Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bahwa para perantau DILARANG MUDIK. Dengan tujuan utamanya, untuk menekan penyebaran virus Corona lebih luas. Bahkan, mulai tanggal 24 April 2020, Pemerintah akan menerapkan hukuman bagi perantau yang membandel untuk mudik.

             Mereka yang terpaksa atau bandel untuk mudik, setelah ada larangan mudik atas kebijakan Pemerintah. Maka, Pemerintah tidak akan segan-segan untuk mengembalikan mereka ke kota awal perjalanan. Bukan itu saja, di beberapa kota tujuan mudik telah disediakan Check Point untuk mengecek kondisi perantau secara ketat. Tidak ada ampun lagi, bagi mereka yang memaksa mudik, langsung akan ditetapkan sebagai ODP (Orang Dalam Pemantauan). Serta, akan melakukan isolasi selama 14 hari lamanya. 

             Menurut  Presiden RI Jokowi dalam laporan persnya di media televisi menyatakan bahwa ada sekitar 68% perantau yang tidak mudik. Kemudian ada 24% perantau yang memaksa mudik, serta ada 7% perantau yang terlanjur mudik. 

           Adanya larangan mudik tentu menghilangkan ritual umat Islam untuk ziarah kubur, yang telah dilakukan sejak dulu. Bukan itu saja, di saat Pandemi Virus Corona juga adanya larangan untuk berziarah. Karena, berpeluang besar menimbulkan kerumunan. Oleh sebab itu, bagi perantau yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya, maka hanya mendoakan dari rumah, untuk keluarga yang sudah meninggal dunia. Sementara, bagi peziarah yang makam keluarganya di perkotaan, maka ritual ziarah kubur sangat dilarang.   


Ramadhan Di Rumah Saja

            Setelah adanya larangan mudik dan berziarah. Maka, umat Islam juga dilarang untuk melakukan sholat berjamaah dan Tarawih dan kegiatan Ramadhan lainnya. Dengan tidak adanya kegiatan tersebut, maka tidak memgurangi kekhusuan beribadah puasa. 

             Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. DR. Nasarudin Umar dalam pernyataannya di media televisi memberikan oase. Meskipun, pada dasarnya, umat Islam ingin menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita. Namun, dengan adanya Pandemi Virus Corona, maka umat Islam dianjurkan untuk beribadah bulan Ramadhan di rumah saja. 

            Percayalah, doa-doa yang diucapkan dari umat yang beribadah akan diijabah oleh Allah SWT. Juga, dengan kekhusuan beribadah di bulan Ramadhan, maka tidak akan mengurangi nilai. Dibandingkan, dengan ibadah di bulan Ramadhan sebelumnya. Kita semua ingin merayakan bulan Ramadhan tahun 2020 dengan suka cita. Namun kita meski mematuhi kebijakan Protokol Kesehatan yang diterapkan oleh Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal ini dilakukan untuk kebaikan bersama. Agar, Pandemi Virus Corona cepat berakhir.

                 Kita menyadari bahwa Bulan Ramadhan tahun 2020 dilakukan dalam keprihatinan. Prihatin karena kita tidak bisa merayakan dengan suka cita, seperti bulan Ramadhan sebelumnya. Tetapi, kita priharin karena kita lebih peduli akan kesehatan bersama. Tiada gunanya kita merayakan Ramadhan dengan suka cita, tetapi menggadaikan kesehatan kita. Allah SWT Maha Mengetahui bahwa kita melakukan bulan Ramadhan dengan khusu dan ikhlas. Meski, dalam serba kekurangan. Namun, nilai Bulan Ramadhan akan tetap indah.

Selamat menunaikan bulan puasa di bulan Ramadhan. 

Tuesday, April 14, 2020

Lumbung Padi Bali itu Sudah Tertutup, Sebelum PSBB Pandemi Virus Corona

Kondisi sepi di destinasi wisata Tegalalang Gianyar Bali (Sumber : dokumen pribadi)





          Membaca postingan yang ada di sebuah WAG (Whattsap Group) sebuah komunitas di Bali, hati saya makin terbuka. Betapa hebatnya orang Bali saat Pandemi Virus Corona ini. Semua orang tahu bahwa sumber pendapatan utama daerah Bali diperoleh dari pariwisata. Dan, pandapatan dari sektor wisata itu tidaklah main-main yang disetorkan ke pemerintah pusat. Dari 130 hingga 150 triliun sebagai sumbangan devisa negara yang disetorkan ke Pemerintah pusat. Besaran itu lebih besar dibandingkan dengan daerah lain yang mempunyai kandungan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah.

         Namun, sejak Pandemi Virus Corona ini, geliat pariwisata lumpuh total. Semua destinasi wisata dilarang beroperasi. Tahukan anda bahwa destinasi wisata Bali ini ibarat lumbung (sumber) pendapatan. Ketika, keran sumber pendapatan tersebut terkunci rapat. Maka, secara otomatis terputus sudah penghasilan masyarakat. 

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berkeliling ke wilayah Ubud. Dengan tujuan untuk memastikan apakah pemakaian Voucher hotel bisa dilakukan. Karena, Complimentary Voucher hotel berbintang saat menghadiri sebuah acara peresmian tersebut, akan "expire date" bulan Mei 2020 ini. Sedangkan, bulan Mei ini adalah saat bulan Ramadhan. Dan, pandemi Virus Vorona ini diprediksi masih bergerak. 

          Selama perjalanan saya ke Ubud, saya melihat pemandangan yang tidak biasa. Di perempatan Puri Ubud yang terkenal ramai dan macet itu bak kota mati. Sangat berubah 360 derajat. Ubud sungguh berbeda dengan hari-hari sebelum wabah COVID-19 ini. Dan, sesampainya di hotel, saya juga mulai curiga, karena terlihat sepi. Meski pintu gerbang masih terbuka.

          Setelah bertemu dengan petugas hotel yang berkompeten. Mereka memutuskan bahwa voucher hotel bisa digunakan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Semua fasilitas hotel akan berkurang seperti saat normal. Kemudian, setiap tamu hotel yang ada harus melaporkan ke Kaling (Kepala Lingkungan) untuk didata, agar track record perjalanan saya bisa terdeteksi. Dan, "kemungkinan besar" saya harus melewati cek protokol kesehatan.

         Karena, saat ini, banyak banjar di Bali yang melakukan protokol kesehatan secara mandiri untuk mencegah penyebaran COVID-18. Melihat kondisi fasilitas hotel yang akan berkurang drastis. Akhirnya, saya memohon agar waktu berlaku voucher hotel bisa diperpanjang hingga sehabis Hari raya Lebaran.

         Dari kejadian tersebut saya mengalami langsung bahwa hotel berbintang yang di kawasan Ubud saja sudah sepi dari tamu. Apalagi, Pandemi Virus Corona yang belum bisa diprediksi kapan akan berakhir secara akurat. Karena, wabah tersebut masih berjalan hingga kini. Makanya, banyak hotel yang "merumahkan" karyawannya bukanlah isapan jempol. Demi mencegah penyebaran COVIS-19, mengakibatkan semua lumbung pendapatan terkunci rapat.

         Bahkan, sebelum di Jakarta, Bogor, Bekasi dan Depok memberlakukan kebijakan PSBB, Bali "sepertinya" sudah merasakan kondisi seperti pemberlakuan PSBB  itu. Geliat ekonomi yang bersumber dari destinasi wisata lumpuh total alias terkunci rapat. Lumbung pendapatan itu sudah tidak bisa diakses langsung.

       Banyak orang menganggur atau berganti profesi. Juga, gejala mulai "menjual barang" yang dimilikinya terjadi. Di berbagai market place atau grup jual beli barang, dipenuhi dengan postingan yang menjual barang. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama Pandemi Virus Corona, Tetangga kos saya saja, ada beberapa yang nekad pulang kampung. Dengan risiko, bisa timbul status positif Corona atau diisolasi selama 14 hari.

        Yang menarik, kebijakan sipeng atau karantina wilayah selama 3 hari di Bali, ramai di media sosial. Kebijakan seperti Hari Raya Nyepi, tetapi orang masih bisa ke luar rumah, jika ada keperluan penting. Kebijakan tersebut menjadi "bola panas" berbagai kalangan. Meskipun, kebijakan tersebut akhirnya batal untuk dilakukan.

         Kenapa? kebijakan seperti Hari Raya Nyepi hanyalah dilakukan sekali dalam setahun memasuki Tahun Saka. Juga, kebijakan perlu diimbangi dengan adanya jaminan sosial (jaminan hidup) selama 3 hari. Serta, kebijakan tersebut bisa berakibat timbulnya "Panic Buying" (belanja secara besar-besaran).

        Meskipun, Bali tidak diberlakukan kebijakan seperti PSBB di beberapa daerah di sekitar ibu kota. Namuin, kehidupan yang dirasakan masyarakat "bagai" pemberlakuan PSBB. Karena, sumber pendapatan mayoritas masyarakat Bali yang berasal dari pariwisata sudah terkunci rapat.

       Ibarat kata, lumbung padi yang sangat dibutuhkan masyarakat tidak bisa dinikmati. Oleh sebab itu, masyarakat khususnya pekerja di sektor pariwisata dan sektor informal tinggal menunggu saat-saat genting. Kapan? ketika pemerintah belum mengeluarkan kebijakan yang jelas. Oleh sebab itu, siapa yang kreatif, dia akan survive di kondisi COVID-19 ini

          Kita berharap agar wabah COVID-19 segera berakhir. Mari Bersawa Lawan Corona, Ferguso!

Saturday, April 11, 2020

10 (Sepuluh) Hal Unik Saat Pandemi Virus Corona

Hal Unik yang terjadi saat Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi)



         Dampak Pandemi Virus Corona tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir. Meskipun, banyak permodelan yang telah dilansir berbagai lembaga pendidikan ternama di Indonesia. Dan, dampak Pandemi Virus Corona sungguh luar biasa. Bahkan, bisa melebihi dampak peristiwa Mei 1998. Tanpa dipungkiri, kondisi ekonomi Indonesia mengalami kemerosotan, karena urat nadi perekonomian tidak berjalan seperti biasa.

         Namun, mari kita pahami bahwa saat Pandemi Virus Corona, ada beberapa hal unik yang bisa anda pahami. Apa saja? Yuk, kita pahami beberapa hal berikut ini:


PHK Karyawan

          Hal menakutkan yang mesti dialami saat Pandemi Virus Corona adalah banyaknya kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Anda pasti lihat kan video viral yang menggambarkan kejadian pemutusan hubungan kerja sebuah perusahaan ritel ternama Ramayana. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam videonya menjelaskan, untuk di Provinsi Jawa Tengah saja telah terjadi PHK besar-besaran lebih dari 100 perusahaan. Serta, lebih dari 100 ribu karyawan dirumahkan.

       Di Bali, di mana sektor pariwisata sebagai urat nadi perekonomian, beberapa perusahaan hospitality mengalami pengurangan karyawan. Yang bertujuan untuk mengurangi cost (biaya) perusahaan. Apalagi, dengan adanya penutupan tempat usaha, maka tidak ada pemasukan penghasilan bagi perusahaan. Oleh sebab itu, karyawan yang dirumahkan semakin banyak.  

Mudik Lebih Awal

          Kebijakan Work From Home (WFH) dan Stay At Home (SAH) mengakibatkan banyaknya orang yang menganggur di rumah. Kebijakan Pemerintah menganjurkan untuk tinggal di rumah demi kesehatan bersama. Akibatnya tidak bisa bekerja di luar rumah. Dampak nyata yang bisa anda lihat adalah banyak perantau di kota-kota besar yang hilang inisiatif. Seperti apa, hidup yang akan terjadi mendatang?

        Ketika, pikiran "buntu" dan Hari Raya Lebaran tidak lama lagi, maka banyak perantau yang memaksa untuk mudik lebih awal (mudik dini). Meskipun, larangan mudik sudah dikeluarkan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun, para perantau nekad untuk mudik demi bertemu keluarga di kampung halamannya.  


Banyak Orang Alih Profesi

         Yang menarik saat pandemi virus corona adalah perubahan (alih) profesi banyak orang. Ketika, banyak karyawan yang tiddak boleh keluar rumah, maka banyak yang beralih profesi. Seperti, menjadi tukang antar makanan, jasa penyemprotan disinfektan, dan lain-lain. Profesi itu dilakukan berlainan dengan apa yang mereka lakukan sebagai pekerjaan sebelumnya.

       Alih Profesi tersebut dilakukan bukan hanya sebagai sampingan, tetapi bisa menjadi mata pencaharian, karena tidak ada pekerjaan lain. Apapun pekerjaan dilakukan demi membuat "dapur tetap ngebul". Juga, prinsip rasa malu dihilangkan jauh-jauh agar bisa makan. 


Di Bali, Arak-arakan Ogoh-ogoh Dibatalkan

          Arak-arakan Ogoh-ogoh (boneka raksasa), sebelum perayaan Hari Raya Nyepi di Bali adalah ritual yang dilakukan setiap tahun. Malam Pengerupukan menyambut tahun baru Saka itu menjadi pertanda untuk menghilangkan segala perbuatan jahat pada diri manusia. Dan, malam pengerupukan ini sering dijadikan sebagai destinasi wisata.

        Di setiap Banjar atau pemerintah Kabupaten/Kota sudah mempersiapkan jauh-jauh hari agar perayaan Ogoh-ogoh berjalan meriah. Namun, ketika wabah Virus Corona merebak, rencana yang telah dimatangkan itu tidak bisa terealisasi. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerumunan massa. Yang berpotensi bisa menyebarkan Virus Corona lebih luas. 

Maraknya Penjual Online Dadakan

        Media Sosial kini dipenuhi dengan postingan-postingan berbagai produk yang dijual secara online. Bukan hanya jualan online yang dilakukan sedari dulu, tetapi banyak juga jualan online yang bersifat dadakan. Semua itu dilakukan agar hidup tetap berlangsung.

          Banyaknya penjual online dadakan menjadi pemandangan menarik di media sosial. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah oknum yang memanfaatkan kesempatan untuk menipu atau mengeruk keuntungan semata saat Pandemi Virus Corona. 


Bisnis Masker dan Hand Sanitizer

          Bisnis yang sedang mewabah saat Pandemi Virus Corona adalah adalah bisnis masker dan hand sanitizer. Produk yang sangat erat hubungannya dengan Virus Corona. Kedua produk tersebut menjadi booming saat ini. Bahkan, banyaknya permintaan masker dan nakalnya oknum, maka kondisi masker menjadi langka di pasaran. 

        Ketika langkanya masker di pasaran terjadi, banyak orang yang kreatif membuat masker dari kain. Kini, masker kain menjadi produk yang menghidupi banyak orang. UMKM mulai tumbuh dengan memproduksi masker dari skala kecil hingga skala besar. Sedangkan, hand sanitizer juga banyak yang diproduksi orang sebagai usaha rumahan.  


Artis & Orang Biasa Jual Barang Kesayangan

          Dengan berdiam di rumah, maka banyak orang yang tidak bekerja atau kehilangan pekerjaan. Karena tuntutan kebutuhan hidup yang terus berjalan, banyak orang yang mempunyai uang pas-pasan melakukan segala cara untuk bertahan hidup. Tidak sedikit orang yang mulai "terpaksa" menjual barang yang mereka punya. Meski, mereka menjual barang kesayangan dengan harga yang di bawah standar. Apapun dilakukan, terpenting hidup tetap berjalan. Itulah jalan satu-satunya. 

         Lain lagi dari masyarakat kebanyakan, artis juga mulai mengalami gejala yang sama. Beberapa artis mulai menjual atau melelang barang kesayangan yang dimilikinya. Tentu, motifnya lain dengan masyarakat kebanyakan. Artis-artis menjual atau melelang barang kesayangannya demi membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan hidup karena Pandemi Virus Corona.  


Munculnya Content Creator

           Ketika Pandemi Virus Corona mendera, maka saatu-satunya jalan yang sering dilakukan banyak orang saat Work From Home (WFH) dan Stay At Home (SAH) adalah memanfaatkan dunia digital. Banyak Conten Creator  yang memanfaatkan ranah digital untuk membuat ide-ide kreatif, untuk menghilangkan kebosanan. 

           Seperti yang dilakukan oleh Youtuber Bang Madun Oseng. Dia membuat konten video tentang emak-emak bernama "Nyak Kopsah". Isinya kegiatan Nyak Kopsah yang selalu menghalau masyarakat saat ngumpul, yang berpotensi penyebaran Virus Corona lebih luas. Juga, ada Conrad (penyanyi Reggae), yang membuat video lagu tentang Virus Corona bersama istri dan anak-anaknya.

          Konten kreatif juga dibuat untuk memberikan masukan atau anjuran dalam membantu kebijakan masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh dr. Tirta dan Komika Bintang Emon. Dua orang tersebut ikut berperan serta memberikan informasi kepada masyarakat. Agar peduli tentang dampak penyebaran Virus Coroan.     

Orang Tua jadi Guru Dadakan

         Untuk pencegahan penyebaran Virus Corona, maka anak sekolah disarankan untuk belajar di rumah. Sampai kapan? Sampai batas waktu yang tidak ditentukan alias mengikuti informasi terkini dari Kementerian Pendikan RI. Anak sekolah diwajibkan belajar di rumah dan belajar secara online, untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya.

            Meski, anak-anak sekolah belajar secara online. Namun, orang tua menjadi guru pengganti atau dadakan untuk anaknya. Lucunya, banyak orang tua yang mengeluh saat mengajar anaknya tentang materi-materi yang diajarkan di sekolah. Bahkan, sebaliknya, banyak anak yang tidak kerasan jika belajar dengan orang tuanya. Katanya, lebih asik belajar dengan gurunya. Tentu, kondisi ini menjadi pelajaran berharga banyak orang tua. Ternyata, mengajar anak tidak semudah apa yang mereka lihat. Mengajar butuh kelihaian, kesabaran dan hubungan komunikasi mendalam antara guru dan anak.    


Tempat Cuci Tangan di Tempat Umum

           Terakhir, hal unik yang terjadi saat Pandemi Virus Corona adalah kepedulian banyak orang atau pihak untuk mncuci tangan. Oleh sebab itu, untuk mencegah penyebaran Virus Corona, saya melihat banyak rumah, warung, restoran, supermarket, minimarket dan tempat umum lainnya yang mnyediakan tempat mencuci tangan beserta sabunnya.

               Tersedianya tempat mencuci tangan ini menjadi bukti bahwa setiap orang memahami benar dampak besar Virus Corona. Dengan mencuci tangan yang dianjurkan kesehatan atau pemerintah, maka setiap orang berperan serta untuk memutus mata rantai COVID-19. Itulah sebabnya, banyak orang atau pihak yang dengan sukarela menyediakan tempat mencuci tangan. Karena, kepedulian itu akan berdampak ke setiap orang.

Yuk. Bersama Lawan Corona!

Jalur Alas Mantingan Ngawi yang Terkenal Angker

  Salah satu jalur Alas Mantingan yang berada dekat dengan kawasan Sidowayah Ngawi (Sumber: Youtube Casmudi Vlog/screenshot)          ...