Tuesday, May 18, 2021

Bukti Kearifan Lokal, Anjing Selalu Hadir di Restoran Ayam Goreng Khas Bali

 

Kehadiran anjing di salah satu restoran ayam goreng khas Bali menjadi sebuah kearifan lokal (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Beberapa tahun belakangan, muncul restoran berbasis ayam goreng bertebaran di Bali. Restoran yang menyajikan menu ala restoran yang sudah melegenda KFC atau McDonald. Dan, menu ayam goreng telah menjadi ikon beberapa restoran ayam goreng dengan harga yang ramah di kantong. Ada ungkapan banyak orang, rasa gak jauh beda dengan KFC atau McD. Tetapi, harga serasa di kaki lima.

          Banyak restoran yang menyajikan menu ayam goreng dengan harga terjangkau seperti JFC, ACK dan lain-lain. Ciri khas restoran-restoran tersebut mayoritas didesain terbuka. Atau, tanpa penutup dinding kaca. Jadi, pengunjung atau umum bisa melihat dengan jelas kondisi dalam dari restoran tersebut.

 

ANJING DI BAWAH MEJA ANDA

 

          Ketika, menikmati menu ayam goreng tersebut. Setiap orang pasti menginginkan suasana yang aman dan nyaman. Tanpa ada gangguan orang lain atau hewan. Apalagi, jika anda sedang asik menikmati ayam goreng kesukaan di KFC atau McD.

          Tetiba, datang seekor anjing yang tidak terawat mendekati tempat anda menikmati ayam goreng. Saya yakin, anda pasti merasa jijik atau hilang selera makan. Bahkan, anda bia komplain ke pihak restoran KFC atau McD. Karena, anda pasti berpikir bahwa kebersihan restoran menjadi “dipertanyakan”.

          Suasana tersebut akan berbeda, ketika anda sedang menikmati menu ayam goreng khas restoran ayam goreng Bali. Karena, kondisi restoran yang terbuka. Maka, kehadiran anjing karena pengaruh bau menu ayam goreng tidak bisa dipungkiri.

          Kapan pun, anda harus menerima kehadiran anjing. Anjing tersebut bisa menunggu di luar restoran. Tetapi, jika anda memberi sinyal untuk tidak mengusirnya. Maka, anjing tersebut berani mendekati “persis” di bawah meja anda.

          Percaya atau tidak, setiap saya menikmati menu ayam goreng di restoran ayam goreng khas Bali. Kehadiran anjing tidak bisa saya tolak. Saya sudah mencoba restoran ayam goreng khas Bali, di beberapa tempat di pulau Bali. Dari Denpasar, Ubud, Gianyar hingga Seririt Singaraja Bali. Kehadiran anjing selalu ada.

          Baru-baru ini, saya mampir istirahat di sebuah restoran ayam goreng di kawasan banjar Asem Seririt Singaraja Bali. Saat saya baru duduk, saya tidak melihat kehadiran anjing. Namun, ketika sedang asik-asiknya menikmati ayam goreng.

          Seekor anjing mendekati meja tempat kami berdua menikmati ayam goreng. Anjing terebut berdiri santai, bahkan sempat “ndoprok” (duduk santuy) menunggu belas kasihan kami. Jujur, istri saya merasa hilang selera makan. Tetapi, saya katakan sama istri saya. Agar, menikmati makan saja.

          Tidak perlu dihiraukan kedatangan anjing tersebut. Karena, kami tidak bisa menolak atau mengusir kedatangan anjing tersebut. Ketika, kami usir, malah akan datang anjing tersebut kembali bersama teman lainnya.

          Apa yang kami lakukan? Saya terbiasa untuk berbagi rejeki buat anjing yang datang ke meja saya. Saya memberi sebagian daging ayam tersebut. Kami tahu bahwa anjing sangat suka dengan makanan daging. Percaya atau tidak, kami menikmati ayam goreng dengan ditemani pemandangan kedipan mata dan jilatan liur anjing.     

 

   

Seekor anjing nongki cantik di bawah meja, tempat kami menikmati menu ayam goreng (Sumber: dokumen pribadi)

 

KEARIFAN LOKAL

 

          Saya katakan pada istri bahwa kehadiran anjing inilah yang menjadi sebuah Kearifan Lokal (Local Wisdom). Anjing tidak berani memasuki kawasan KFC atau McD, karena restoran tersebut rerata dibatasi dengan dinding kaca. Bukan itu saja, pegawai restoran atau para pengunjung biasanya tidak segan-segan untuk mengusirnya. Karena, takut merusak suasana makan.

          Menarik, kehadiran anjing justru menjadi keuntungan buat restoran itu sendiri. Maksudnya? Perhatikan baik-baik kejadian yang saya lihat dan alami. Sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang turun dari mobil. Saya kira mereka barusan dari halal bihalal Hari Raya Lebaran.

          Mungkin, karena lapar, maka mereka mampir di restoran tempat kami menikmati ayam goreng. Menu yang sangat terjangkau. Di mana, nasi, ayam goreng (dada atau paha) dan es teh, jika makan di tempat hanya Rp14.500 per porsi. Bonus, bisa nongki cantik dan gratis nge-charge smartphone.

          Keluarga tersebut makan bersama dengan memakai 2 meja. Saya lihat, anjing yang tadi menunggu di bawah meja kami, berpindah ke bawah meja keluarga tersebut. Anjing paham banget, karena dia sudah mendapat rejeki dari kami.

          Karena, belum kenyang maka anjing tersebut “ndoprok” kembali di bawah meja keluarga tersebut. Andai saja anjing tersebut bisa bicara layaknya manusia. Maka, anjing akan berkata, ”bro, bagi dong ayam gorengnya. Dikit nggak papa kok”. 

          Namun, ketika anjing tersebut tidak merasa diperhatikan, maka dia sabar untuk menunggu rejeki selanjutnya. Saya pikir, ketika keluarga tersebut selesai dan pergi dengan mobilnya. Anjing tersebut juga pergi dari meja bekas pakai tersebut. Ternyata, tidak!

          Anjing tersebut dengan sabar menunggu tindakan dari pegawai restoran. Apa yang terjadi? Anda pasti tahu bahwa sisa-sisa tulang ayam akan makin membusuk jika didiamkan. Tentu, akan membuat bau di sekitarnya. Maka, sang pegawai pun mengumpulkan sisa-sisa makanan yang berupa tulang ayam tersebut.


   

Anjing menunggu dengan sabar menanti rejeki dan belas kasihan pegawai restoran ayam goreng khas Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Selanjutnya, sisa-sisa makanan tersebut dia taruh di depan restoran. Otomatis, anjing akan berpindah ke tempat makanan tersebut. Saya melihat anjing sangat menikmati sajian sisa-sisa makanan yang ada. Sepertinya, setelah sisa-sisa makanan tersebut habis, mampu membuat perutnya kenyang. Dan, anjing tersebut pergi dari restoran ayam goreng khas Bali.

          Jadi, keuntungan buat restoran dengan kehadiran anjing adalah meminimalisasi sampah sisa-sisa makanan yang bisa membuat bau menyengat. Bukan itu saja, kehadiran anjing juga mencegah datangnya tikus yang datang secara tiba-tiba.

          Kita tahu bahwa populasi anjing di Bali memang luar biasa. Ke manapun kita melangkah di wilayah Bali. Maka, kita tidak bisa menghindar dari hadirnya anjing. Baik yang dipiara secara serius maupun yang liar. Dengan kata lain, anjing sudah menjadi bagian dari kondisi Bali. Atau, anjing sudah menjadi bagian dari kearifan lokal.

          Maka, jika anda menikmati menu ayam goreng di restoran selain KFC atau McD, maka anda tidak perlu kaget atas kehadiran anjing milik warga. Anjing terebut hadir karena mereka butuh makan. Jika anda merasa tidak nyaman, maka yang anda lakukan bisa meminta ijin kepada pegawai restoran untuk mengusirnya.

          Uniknya, jika diusir sama pegawainya kok anjing itu tidak berani masuk ke area makan. Dia hanya nongkrong di luar restoran. Sambil mengamati kita yang sedang menikmati menu ayam goreng.

          Namun, jika anda mau berbagi rejeki maka berilah mereka sebagian menu anda. Anjing tidak akan ngembek kok, saat anda memberikan tulang-tulang ayam. Dia akan lahap menikmatinya.

          Itulah keunikan restoran ayam goreng khas Bali. Anda bersiap diri, jika meja anda didatangi tamu tidak diundang. Ibarat Jailangkung, datang tidak diundang pulang berharap bagian ayam. Yah, minimal tulang ayamnya sudah bisa membuat anjing tersebut bahagia. Semoga anda bisa memahami kearifan lokal di Bali. 

Candi Buddha Kalibukbuk, Satu-satunya Candi Beraliran Buddha di Bali

 

Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

          Hari kedua Hari Raya Lebaran 2021 diisi dengan jalan-jalan kembali. Kekira pukul 07.00 WITA, saya berangkat ke Singaraja Bali Utara. Jarak tempuh dari Kota Denpasar kurang lebih 95 km.

          Saya beristirahat sebentar di kawasan Sembung Badung. Karena, harus mengisi perut dahulu, tidak sempat sarapan pagi. Maklum, waktu bulan Ramadan sudah lewat.

          Tujuan petualangan kali ini adalah satu-satunya candi yang beraliran agama Buddha di Bali. Candi tersebut menjadi cagar budaya, sering disebut dengan CANDI BUDDHA KALIBUKBUK. Candi tersebut terletak di kawasan Desa Kalibukbuk Lovina Singaraja Bali.

          Jika anda bergerak dari arah Singaraja. Maka, ketika bertemu perlimaan Lovina, anda bergerak sesuai arah rambu-rambu ke KAYU PUTIH. Dari perlimaan tersebut, kurang lebih 200 meter, anda akan melihat plang petunjuk candi (sebelah kiri jalan).     

          Syukur, kondisi jalan raya agak sedikit lengang, karena masih suasana libur Hari Raya Lebaran. Banyak toko atau rumah makan milik perantau dari Jawa yang terlihat tutup. Mungkin, mereka menyempatkan mudik. Atau, sementara rehat dulu, karena masih suasana libur Hari Raya Lebaran.

 

DOMINASI BATU BATA

 

          Sampai di Candi Buddha Kalibukbuk kurang lebih pukul 09.30 WITA. Saya merasakan udara masih terasa segar. Apalagi, di sekeliling saya, masih banyak pepohonan tinggi yang menghijau.

 

 

Saya berada di depan plang atau penunjuk objek wisata  (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Ketika memasuki ruang parkir yang luasnya hampir separo lapangan bola. Saya melihat dua mobil dari 2 merek terkenal parkir di bawah pohon ketapang. Saya tidak melihat gelagat pengunjung sama sekali. Saya berpikir, apakah mobil tersebut milik pengunjung. Atau, milik warga yang parkir di halaman parkir tersebut.



Tempat parkir kendaraan yang luas (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Ketika pikiran saya sedang beradu argumen, ternyata dari dalam komplek Candi Buddha Kalibukbuk muncul 6 orang pengunjung. Mereka masih dalam satu hubungan keluarga. Dan, mereka datang lebih dulu dari saya. Berkeliling melihat pesona Candi Buddha Kalibukbuk.

 

“Juru kuncinya tidak ada pak. Jadi, cuma bisa lihat-lihat dari luar pagar saja”.

 

          Kalimat yang saya terima dari seorang. Saya memprdiki bahwa dia adalah kepala keluarga. Di lihat dari penampilannya. Di belakang mengikuti bapak tersebut adalah istri dan anak-anaknya. Mereka mengungkapkan pengalaman berkeliling destinasi wisata tersebut. 

          Saya menjawabnya dengan senyuman. Dan, mereka menanyakan asal dan maksud kedatangan saya. Mereka kaget, ketika saya berasal dari Denpasar. Bagi mereka, jarak Denpasar ke Candi Buddha Kalibukbuk bukanlah jarak yang dekat. Jarak 95 km adalah jarak pulang kampung atau mudik.

          Namun, bagi saya, jarak segitu ibarat jalan-jalan biasa. Kata orang Betawi, “jarak segitu mah mainan gua tiap hari tong!”. Serius pakai banget!

          Sungguh, saya sudah terbiasa menempuh ratusan kilometer dalam satu hari dengan sepeda motor. Bukan untuk mudik atau acara keluarga. Tetapi, mencari konten untuk Youtube, blog dan media sosial lainnya. Saya pernah menempuh hingga 500 km dalam satu hari. Badan terasa habis nyangkul. Gokil!

          Kembali ke masalah Candi Buddha Kalibukbuk. Di halaman parkir nan luas tersebut menjadi unik. Karena, ada 2 pohon kelapa yang hampir sama tingginya. Kedua pohon kelapa tersebut berada di kanan dan kiri jalan masuk. Jarak pintu masuk tempat parkir ke komplek Candi Buddha Kalibukbuk kurang lebih 17 meter. Suasana masih terlihat rindang karena banyaknya pohon Ketapang.    


 

Dua buah pohon kelapa di jalan masuk ke areal situs Candi Buddha Kalibukbuk  (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Sementara, pintu masuk komplek Candi Buddha Kalibukbuk ke pintu masuk situs candi kurang lebih 10 meter. Sebelah kanan jalan ke pintu situs Candi Buddha Kalibukbuk, anda akan disambut dengan keberadaan Patung Buddha yang sedang duduk bersila. Dan, berselimutkan kain berwarna kuning.

          Patung Buddha duduk di atas batu dengan motif bunga Teratai. Di bagian depan patung terdapat semacam batu berlubang. Bentuknya seperti landasan antan. Mungkin, berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji. Sedangkan, patung Buddha tersebut berada persis di bawah pohon rindang layaknya pohon Beringin. Sungguh adem dan teduh.  

 

 

Patung Buddha sedang duduk bersila di bagian depan situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Di bagian depan pintu masuk situs candi sebelah kiri, anda akan melihat pelinggih atau persembahyangan khas agama Hindu. Dari sini, saya melihat seperti proses akulturasi budaya. Atau, peninggalan agama Buddha yang tetap mengedepankan kearifan lokal ala agama Hindu Bali.  


 

Pelinggih khas agama Hindu yang berada di bagian depan situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Yang menarik dari Candi Buddha Kalibukbuk adalah dominasi warna merah muda atau warna batu bata. Saya tidak bisa memasuki kawasan situs candi. Karena, pintu gerbang situs candi dalam kondisi terkunci. Dikarenakan, juru kunci tidak berada di lokasi.  

          Saya menghitung secara iseng pakai langkah kaki orang dewasa. Kira-kira situs Candi Buddha Kalibukbuk tersebut mempunyai panjang 20 meter dan lebar 15 meter.  Dominasi warna merah muda atau batu bata sangat kontras dengan letak candi tersebut. Di mana, Candi Buddha Kalibukbuk terletak kurang lebih 500 meter dari pantai Lovina.

          Untuk membangun candi dengan material batu pegunungan yang tahan terhadap alam tidaklah mungkin. Oleh sebab itu, penganut Buddha pada masa itu, mencari solusi material bangunan dari tanah liat. Maka, tanah yang dibakar atau batu bata menjadi material pilihan.  


 

Pintu masuk Candi Buddha Kalibukbuk yang didominasi warna batu bata (Sumber: dokumen pribadi)

 

SEJARAH PENEMUAN SITUS CANDI BUDDHA

 

          Menurut sejarah yang ada di areal candi menyatakan bahwa Candi Buddha Kalibukbuk pertama kali diketahui pada tahun 1991. Yaitu, dengan adanya penemuan stupika dan tablet tanah liat oleh penduduk yang berada di belakang Hotel Angsoka.

          Temuan sejenis juga ditemukan di kebun kelapa milik Anak Agung Ngurah Sentanu pada tahun 1994. Hal ini yang menyebabkan Balai Arkeologi Bali melakukan penelitian di situs ini sejak tahun 1994 hingga tahun 2002.

          Pantas saja, jika situs Candi Buddha Kalibukbuk dikelilingi oleh kebun kopi dan pohon kelapa di bagian utara dan timurnya. Sedangkan, di bagian selatan hanya lapangan rumput yang tertata rapi. Dan, areal pemukiman penduduk.  

          Perlu diketahui bahwa situs Candi Buddha Kalibukbuk mempunyai 3 buah tinggalan berupa bangunan stupa.  Ketiga bangunan stupa ini ditemukan pada kedalaman 1,3 meter di bawah permukaan tanah. Bangunan stupa ini berupa sebuah candi perwara.

          Saat ditemukan, struktur bangunan candi induk berbentuk segi delapan. Temuan lainnya adalah berupa profil sisi genta perbingkaian, relief Bodhisatva, relief makhluk Ghana, batu ande dan sebuah komponen bagian catra atau payung lengkap dengan yasti atau tongkatnya.

          Temuan-temuan lain dari hasil ekskavasi pada tubuh candi seperti kotak peripih yang berisi stupika tanah liat. Tablet tanah liat dengan ye-te mantra dan miniatur stupa pada salah satu candi perwara. Hal ini memperkuat data bahwa struktur tersebut merupakan candi Buddha.


 

Saya berfoto di sisi timur situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Candi induk berbentuk segi delapan sisi-sisi bidang berukuran tidak sama. Sehingga, bangunan ini tampak tidak simetris. Pada saat ditemukan hanya bagian kaki dan sebagian badan candi, dibuat dengan susunan batu bata sebanyak 17 lapis.

          Yang menarik dari candi induk adalah keberadaan 4 buah stupa kecil yang berada di 4 penjuru mata angin. Stupa kecil tersebut terletak di bagian atas bangunan candi induk. Dan, seperti mengelilingi stupa induk.


 

Candi induk di situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi) 

 

          Candi Perwara juga disebut sebagai candi yang berbentuk segi empat dan tidak terdapat ruang dan pintu masuk seperti pada candi induk. Pada candi perwara di bagian barat daya terdapat sumuran dengan kedalaman 60 cm, tempat ditemukan stupika sebanyak 100 buah.


 

Salah satu Candi Perwara di situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Bali, selanjutnya dilakukan kegiatan pelestarian dan konservasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali berupa pemugaran pada tahun 2002. Dan, selesai pada tahun 2009.

          Pemugaran pada situs Candi Buddha Kalibukbuk hanya dapat dilakukan pada bagian kaki saja, yaitu sebanyak 17 lapis batu bata. Sedangkan, perkiraan bentuk bagian atasnya adalah berdasarkan studi perbandingan stupa dan stupika yang ditemukan di Kabupaten Gianyar dan motif stupa yang ditemukan di dalam candi.   

          Dengan keberadaan Candi Buddha Kalibukbuk, maka memberikan pemahaman bahwa agama Buddha pernah ada di pulau Dewata sejak dulu. Meskipun, agama Hindu mendominasi di pulau Seribu Pura ini.

          Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bangunan Candi Buddha Kalibukbuk ditemukan di Bali Utara? Apakah agama Buddha tersebut dibawa oleh para pedagang China jaman dulu. Kita tahu bahwa agama Buddha menjadi agama yang dianut masyarakat China. Karena, kepercayaan kepada Buddha Gautama.

          Atau, mungkin agama Buddha dibawa oleh para pendatang kerajaan dari Jawa. Kita tahu bahwa agama Buddha mencapai masa kejayaannya saat Dinasti atau Wanga Syailendra. Di mana, wangsa Syailendra adalah wangsa  terkenal yang menguasai Kerajaan Sriwijaya dan Jawa Kuno (Medang) sekitar abad ke-8.

          Yang jelas, kita mesti bangga bahwa Indonesia menunjukan jiwa Bhinneka Tunggal Ika sejak dulu. Sekarang, kita meski menjaga keutuhan NKRI. Nah, jika anda ingin tahu lebih lengkap tentang kondisi Candi Buddha Kalibukbuk. Anda bisa menonton video perjalanan saya di Candi Buddha Kalibukbuk berikut ini.

 

 

Candi Buddha Kalibukbuk, satu-satunya candi beraliran Buddha di Bali (Sumber: dokumen pribadi/Youtube)


Sunday, May 16, 2021

Taman Festival, Tempat Terangker di Bali

 

Salah satu sudut Taman Festival Bali dengan seni mural yang menyeramkan (Sumber dokumen pribadi)

 

          Bali bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata yang mengagumkan. Baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Tetapi, Bali juga mempunyai tempat yang unik. Yaitu, tempat angker yang membuat bulu kuduk merinding.

          Taman Festival Bali merupakan salah satu tempat yang dikenal sebagai tempat terangker di Bali. Sebenarnya, Taman Festival ini bukanlah tempat sembarangan. Tempat ini diklaim sebagai pusat hiburan terbaik dan terlengkap se-Asia Tenggara.

          Taman Festival merupakan tempat hiburan yang merupakan milik salah satu anggota keluarga Cendana. Banyak suara simpang siur tentang siapa kepemilikan tempat mewah tersebut. Namun, menurut Juru Kunci yaitu Bapak Sari (Nengah Slamet) menyatakan bahwa Taman Festival merupakan milik Bambang Trihatmojo.

          Setelah krisis moneter (krismon) 1998. Taman Festival tersebut terpaksa ditutup total. Menurut juru kunci sih karena masalah biaya operasionalnya dan pajak. Sejak penutupan tahun 1998, Taman Festival menjadi terlantar tidak bertuan. Tidak ada yang mengurus sama sekali.

          Beberapa tahun belakangan, konon Taman Festival di bawah pengawasan perusahaan yang menjual mobil merek ternama Mercedes Bens, PT. Hartono Raya Motor. Benar atau tidaknya, informasi tersebut berdasarkan pendapat juru kunci yang saya temui di lokasi.

          Lebih dari 20 tahun tidak diurus, maka Taman Festival terlihat seperti hutan alami. Banyak pohon dan semak belukar tinggi tumbuh di areal tempat hiburan mewah seluas 10 hektar. Bangunan yang ada sudah mengalami rusak parah, runtuh dan hancur bagian atapnya.    


 

Saya mencoba adegan levitasi (terbang) di depan gedung sebagai ikon Taman Festival Bali (Sumber dokumen pribadi)

 

TEMPAT UJI NYALI

 

          Taman Festival Bali ini telah menjadi destinasi UJI NYALI (UKA-UKA). Banyak dari para Content Creator atau paranormal yang mencoba menguji nyali di sini saat malam hari.

          Satu hal yang perlu anda ketahui adalah jangan sekali-kali anda memasuki kawasan ini tanpa ijin, khususnya kepada juru kunci. Karena, sudah banyak kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Kesurupan atau tidak bisa keluar dari areal Taman Festival adalah salah satunya.

          Mengapa anda meski minta ijin terlebih dahulu kepada juru kunci? Saya mengalami sendiri bahwa tempat ini memberikan kesan horor. Meskipun, saya melakukan eksplorasi saat sore hari. Jika anda minta ijin terlebih dahulu, maka juru kunci yang mempunyai ilmu kebatinan akan berusaha membuat netral.

          Dengan kata lain, sang juru kunci akan memohon doa agar segala bentuk makhluk halus yang ada di kawasan Taman Festival untuk tidak mengganggu. Maka, jika anda hendak membuat konten di malam hari, juru kunci akan membuat sesaji atau membakar dupa (hio) selama ritual malam berlangsung.

          Kemudian, satu hal penting ketika berkunjung ke Taman Festival adalah anda tidak perlu sombong. Rendahkan hati anda karena Taman Festival bukanlah area yang semua orang bisa mengeksplorasi. Kecuali, orang yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi. Atau, orang yang sudah dikenal oleh penghuni para makhluk halus.

          Juru kunci pernah bercerita kepada saya tentang keangkungan sebuah tim Content Creator yang akan membuat video di Taman Festival saat malam hari. Sang Juru kunci merasa tidak dihormati. Dan, kejadian yang tidak terduga sebelumnya terjadi. Salah satu dari tim tersebut mengalami kerauhan (kesurupan). Dan, mereka tidak bisa keluar area, karena sepertinya semua area terlihat gelap semua.

          Juru kunci juga tanpa disadari mengamati gelagat orang yang akan memasuki Taman Festival Bali. Ketika, pengunjung berkata sopan dan beretika baik, maka beliau akan senang membantu. Membantu dalam hal ini adalah memanggil para penunggu makhlus halus di area Taman Festival untuk tidak mengganggu orang yang bersangkutan.

          Kondisi tersebut saya alami sendiri. Kami berempat bertujuan untuk membuat konten di Youtube. Saya berniat baik untuk melakukan eksplorasi Taman Festival di sore hari. Kami tidak berani mengeksplorasi malam hari. Kami khawatir ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena, kami masih ada rasa takut yang luar biasa. Setelah melihat tayangan tentang eksplorasi Taman Festival sebelumnya di kanal Youtube.

          Bukan itu saja. Untuk eksplorasi pada malam hari di Taman Festival Bali tidaklah gratis. Karena, anda mesti membawa pemandu yang akan menetralkan area ekplorasi dari sisi magis. Jika anda datang secara tim atau rombongan, maka anda mesti membayar biaya eksplorasi sebesar Rp1 Juta.

          Jika, timnya lebih dari 10 orang maka setiap orang akan dikenakan biaya sebesar Rp 100 rb. Biaya tersebut untuk biaya pemandu (juru kunci), biaya sesaji dan lain-lain. Namun, percayalah, anda dijamin aman dari gangguan makhluk halus. Hal itu yang diutarakan juru kunci pada kami.       

          Kedatangan kami berempat yang dianggap beradab oleh juru kunci. Ternyata, merangsang kekaguman sang juru kunci. Menjelang maghrib, kami hendak pulang karena sudah tidak berani untuk melakukan ekplorasi.

          Namun, tidak disangka, sang juru kunci dengan kerelaan menyempatkan kami memandu (mengeksplorasi) SELURUH ISI DARI TAMAN FESTIVAL BALI. Sebuah kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Mula-mula, saya takut bakal ditarik bayaran. Karena, sang juru kunci mengawal kami hingga selesai maghrib.

 

“Ayo, saya bantuin kamu agar tahu semua tempat di sini” kata juru kunci yang membuat saya kaget.

 

DIDAMPINGI JURU KUNCI

 

          Bak durian runtuh. Akhirnya, ajakan juru kunci saya terima dengan senang hati. Kami berempat pun dipandu melakukan eksplorasi mistis yang membuat kesan horor dan bulu kuduk merinding selama Taman Festival Tour.

          Pertama yang membuat kaget saya adalah keberadaan beberapa makhluk halus yang berada di sebuah pohon besar. Makhluk halus tersebut konon katanya berupa siluman ular raksasa.

          Bukan itu saja, di pohon besar tersebut bersemayam sosok kakek-kakek yang merupakan tangan kanan dari dari Ketua Umum makhluk halus penguasa Taman Festival. Di areal ini, anda jangan coba-coba berkata kotor, songong atau sombong. Bisa-bisa kualat atau kesurupan.

          Saat saya berada di dekat pohon besar tersebut. Secara magis, juru kunci melihat penghuni pohon tersebut tersenyum kepada kami. Sang juru kunci pun berpesan, agar jangan mengganggu teman saya.

          Namun, ternyata, salah satu dari makhluk halus tersebut ada yang usil. Mereka berebutan menepuk tangan dan pundak saya. Saat itu, bulu kuduk saya merinding akut. Saya merasa gemetar sekali.

 

“Tadi ada yang usil minta kenalan sama masnya” kata juru kunci kepada saya.

 

          Pohon besar tersebut berada di depan bekas Gedung Turbo Theater 3 dimensi. Gedung Turbo Theater sendiri sudah diliputi akar-akar pohon. Gedung tersebut terlihat seperti diliputi sarang laba-laba dari tangan Spiderman.   

 

 

Gedung Turbo Theater 3 dimensi (Sumber dokumen pribadi)

 

          Jujur, saya beruntung dipandu oleh juru kunci Bapak Sari. Beliau terlihat gembira sekali memandu kami. Apapun yang telah terjadi di areal ini, beliau ceritakan kepada kami. Penghuni makhluk halus yang sering mengganggu para pengunjung sering datang dari Gedung deretan tempat pembuatan minuman berakhohol atau bir.

          Di Gedung tersebut, satpam perusahaan yang pernah bertugas di Taman Festival, sering mengalami gangguan makhlus halus. Satu hal yang menjadi penyebabnya adalah karena dia jarang melakukan persembahyangan ala agama Hindu.    


 

Gedung untuk pembuatan minum alkohol dan bir (Sumber dokumen pribadi)

 

          Dari Taman festival Tour bersama juru kunci, ada hal yang menarik perhatian saya. Yaitu, adanya kenekadan orang untuk melakukan aktivitas mesum. Aktifitas yang ada di Taman Festival Bali tercatat hingga 20 kasus. Percaya atau tidak, laporan kasus mesum tersebut justru diketahui oleh juru kunci dari laporan makhlus halus penunggu Taman Festival Bali.

          Selain itu, kejadian yang menghebohkan adalah kasus pemerkosaan atau rudapaksa. Seorang wanita cantik asal Singaraja dirudapaksa oleh pacar dan 4 temannya hingga meninggal. Ngerinya, wanita tersebut dibunuh hingga kedua matanya ditusuk benda tajam.

          Untuk mengenang kejadian mengerikan tersebut, maka salah satu seniman Bali melukis (seni mural) sosok wanita yang dibunuh pada sebuah dinding. Kasus rudapaksa tersebut berada di deretan gedung pembuatan minuman alkohol dan bir. Sekali lagi, percaya atau tidak, para pembuat konten sering tergiur untuk mengeksplorasi di tempat mengerikan ini.

          Percaya atau tidak, satu hal yang perlu kalian ketahui bahwa kamera anda akan mengalami gejala buram. Ketika anda melakukan perekaman di areal ini. Dengan catatan, tanpa adanya ijin dari sang juru kunci.

          Saya dan teman sendiri mengalami rekaman kamera terlihat buram (tidak terlihat). Kata sang juru kunci, lensa kamera kami ditutupi oleh makhluk tidak kasat mata. Sungguh, tidak masuk akal.

          Namun, ketika sang juru kunci meminta ijin makhluk halus penghuni areal ini. Dan, kami juga disarankan untuk berbagi rejeki di areal ini. Kebetulan, saya membawa permen. Maka, satu buah permen saya lemparkan ke areal tersebut. Dan, sungguh aneh tapi nyata, kamera smartphone bisa berfungsi dengan baik. Alhamdulillah.      

 

Lukisan seni mural wanita cantik yang menjadi korban rudapaksa (Sumber dokumen pribadi)

 

          Bersama juru kunci, kami pun melakukan eksplorasi hingga suassana gelap (habis maghrib). Jujur, saya makin merinding. Namun, kehadiran juru kunci yang sudah dikenal seluruh makhluk halus penghuni Taman Festival, membuat keberanian kami tumbuh.

          Saya pun akhirnya tahu bahwa di Taman Festival terdapat sebuah gunung buatan setinggi kurang lebih 30 meter. Di samping gunung buatan tersebut mengalir beberapa air terjun. Selanjutnya, airnya akan mengalir ke danau buatan. Sebuah teknologi tinggi saat itu.


 

Gunung buatan di Taman Festival Bali (Sumber dokumen pribadi)

 

 

          Saya juga tahu bahwa di Taman Festival terdapat kawasan penangkaran burung, kolam buaya, restoran bawah tanah dan lain-lain. Namun, suasana yang membuat bulu kuduk saya merinding adalah keberadaan pura dalem yang berada di pinggir sungai besar.  

          Dekat pura dalem tersebut terdapat sebuah tempat untuk bersuci (melasti). Yang membuat saya merinding adalah keberadaan patung buaya putih di tempat persembahyangan. Terletak persis di pinggir sungai. Keberadaan patung buaya putih tersebut, karena keberadaan penghuni kawasan tersebut yaitu seekor jelmaan buaya putih.

          Kalimat juru kunci yang disampaikan ke saya membuat bulu kuduk merinding. Pasalnya, dia mengatakan persis di samping “yang diklaim” tempat mandi buaya putih tersebut.

 

“Sebelumnya, saya tidak tahu di area tersebut ada penghuni buaya putih. Suatu malam, saya berkeliling Taman Festival Bali ini. Malam-malam, saya mendengar gemericik air dekat pura. Saya dengar seperti orang sedang mandi. Saya amati diam-diam. Ternyata, manusia jelmaan seekor buaya putih sedang mandi di malam hari. Lama-kelamaan, saya pun paham dan kenal dengan penghuni makhluk halus tersebut.”

 

            Jika, anda ingin mendapatkan informasi selengkapnya. Anda bisa melihat video Taman Festival Tour berikut ini    

 

 



Taman Festival Bali. Teman Terangker di Bali (Sumber dokumen pribadiYoutube)

Jalur Alas Mantingan Ngawi yang Terkenal Angker

  Salah satu jalur Alas Mantingan yang berada dekat dengan kawasan Sidowayah Ngawi (Sumber: Youtube Casmudi Vlog/screenshot)          ...