Showing posts with label COVID-19. Show all posts
Showing posts with label COVID-19. Show all posts

Tuesday, June 16, 2020

Jungkir Balik Nasib karena Covid-19


Ilustrasi: Jungkir Balik Nasib karena Covid-19 (Sumber: tirto.id)

 

 

“Boro-boro buat bayar kos mbak. Buat makan saja kembang kempis. Saya sudah nunggak bayar kos empat bulan sejak Maret 2020”

 

 

Kalimat yang meluncur dari Bu Jimi kepada istri saya. #GakSengaja kami bertemu di sebuah warung. Bu Jimi adalah tetangga kos saya yang dikenal “mampu”. Saat saya tinggal di kos-kosan, sebelum tempat kos yang saya tempati sekarang. Sungguh, Pandemi Virus Corona (Covid-19) telah membuat jungkir balik nasib orang. Yang kaya, mendadak miskin dan yang miskin, makin mengenaskan. 

Dalam artikel ini, saya tidak bermaksud untuk menceritakan kondisi tragis seseorang. Juga tidak bermaksud untuk memojokan Pandemi Virus Corona. Tetapi, saya akan menceritakan sesuai fakta dan apa adanya. Agar, kondisi yang ada bisa menjadi pelajaran berssama. Bahwa, dampak yang terjadi karena krisis Covid-19 “seringkali” tidak bisa dinalar secara logika. 

Sebelumnya, ada peribahasa bagi para pihak yang suka memamerkan kekayaannya. “Di atas langit masih ada langit”. Bahkan, menjadi plesetan “di atas langit masih ada Hotman Paris”. Kini, saat Pandemi Virus Corona bisa berlaku, “di bawah bumi masih ada kerak bumi”. 

Dengan kata lain, kondisi anda yang menurut anda “sungguh mengenaskan”. Ternyata, belum tentu mengalahkan kondisi orang di luar sana yang “lebih mengenaskan”. Kuncinya, kita tetap bersyukur. Dan, mau berusaha apa saja, tanpa memegang rasa gengsi.

 

Nasib Tetangga Kos

 

Sebelum Covid-19, kondisi Bu Jimi bak sedang naik daun. Percaya atau tidak, saya pernah meminta tolong padanya. Di saat saya sangat membutuhkan masalah keuangan. 

Ya, dia dikenal sebagai orang yang baik dan berlimpah rejeki. Simpanan perhiasannya sungguh menggoda. Suatu hari saya pernah dipinjami “perhiasan” dia untuk digadai. Dan hasil gadai perhiasan tersebut untuk modal usaha saya. Dan, dari usaha tersebut, saya mampu menebus perhiasan yang ada di pegadaian. 

Bu Jimi mempunyai usaha yang terbilang lancar. Yaitu, menyediakan nasi bungkus, yang dititipkan di beberapa sekolah dan warung. Suaminya pun mempunyai usaha “finishing” kaca untuk bangunan kantor, rumah pribadi dan hotel. Jika sekali proyek, maka keuntungan berlipat ganda. 

Tetapi, nasib siapa yang mampu menebaknya. Saat Pandemi Virus Corona terjadi, semua usaha yang dia jalani berhenti total. Pemasukan tak ada sama sekali. Kini, semua perhiasan yang tersimpan habis terjual untuk makan. 

Yang lebih mengerikan, saat dia bertemu saya dan istri. Ketika, saya habis belanja tempe mentah. Dia bercerita dan berkeluh kesah apa adanya. Dia tak mampu membayar sewa kamar kosnya selama 4 bulan. Jika ditotal kurang lebih menunggak 4 juta rupiah. Jangankan untuk membayar kos. Bahkan, dia tak punya uang untuk sekedar makan. Ibu kosnya pun sempat berkata padanya.

 

”Kalau gak ada uang buat bayar kos, tak perlu dipikirkan. Yang penting bisa beli nasi untuk makan. Nanti kalau gak bisa makan, bisa mati kan berabe”.   

 

Lebih dari 1 jam kami berbincang santai di pinggir jalan. Bu Jimi dengan semangatnya menceritakan kondisi para “koser” lainnya. Yang dulunya mampu masalah keuangan. Dan, menjadi tetangga kos yang baik buat saya. Kami saling bertukar informasi. 

Bu Jimi pun bersemangat menceritakan kondisi tetangga kos lainnya. Menurutnya, Mas Adi (tetangga kosnya) yang tampil mapan. Karena, dia rutin mengerjakan proyek, meskipun kecil-kecilan. Mas Adi juga pengusaha burung peliharaan dan burung kicau. 

Burung kicaunya pun sering menang dalam beberapa kontes dan ditawar mahal oleh orang lain. Juga, hadiah uang jutaan ada di tangannya, ketika memenangi kontes burung kicau. 

Makanya, Mas Adi berani menyewa dua kamar kos yang pengeluarannya kurang lebih 2 juta. Istrinya juga bekerja di perusahaan garmen. Pengeluaran segitu baginya tidak ada masalah. Enteng baginya. Padahal, saya sendiri terasa berat untuk membayar 1 kamar kos saja.   

Namun, apa yang terjadi setelah Pandemi Virus Corona melanda. Tidak ada pekerjaan buat Mas Adi. Dia berusaha seadanya, dengan mencari burung dan menjualnya kembali. Lumayan untung 10-20 ribu sekali menjual. Yang mengenaskan, istrinya sudah tidak bekerja. Karena, perusahaan garmennya telah tutup. 

Lagi, tetangga kos, sebut saja Mbak Komang. Dia penjahit pesanan pakaian banyak perusahaan. Sekali mendapat pesanan, dia bisa menangguk keuntungan jutaan rupisah. Dan, pesanan itu datang secara rutin. Keuangan tidak ada masalah baginya. 

Namun, sejak Pandemi Virus Corona melanda, pesanan jahit pakaian tidak ada satu pun. Dia menganggur, dan menghabiskan simpanan uangnya. Karena, tidak mampu membayar kos lagi. Maka, dia terpaksa pulang ke rumah mertuanya. Agar tidak usah membayar uang kos.   

Lain lagi dengan kondisi Bu Putu, yang pekerjaannya seperti Mbak Komang. Bahkan, suami Bu Putu bekerja di sebuah perusaan farmasi. Akhirnya, suaminya berhenti kerja dan memilih menjadi driver Ojek Online (Ojol). Bu Putu rajin mendapat pesanan jahit pakaian. Bahkan, mampu kredit sepeda motor lagi untuk keperluan antar jemput anaknya sekolah PAUD. 

Lantas, bagaimana nasib Bu Putu, ketika Pandemi Virus Corona melanda? Ternyata, ketidakmampuannya untuk membayar uang kos, Bu Putu rela “kabur” dari kosnya. Karena, beban berat yang dialami untuk membayar sewa kamar kos setiap bulannya. Bu Putu berani melakukan hal tersebut, karena kondisi yang sangat mendesaknya.

 

Jangan Bersedih

 

Empat sosok keluarga di atas adalah bukti nyata eks tetangga kos saya dulu. Yang dulu jaya dan berlimpah uang. Tetapi, Pandemi Virus Corona telah mempreteli harta benda mereka. Nasib mereka dijungkirbalikan tanpa ampun. Sungguh tragis yang namanya dampak Covid-19. 

Sebelum pertemuan dengan Bu Jimi, saya merasa bahwa “nasib saya memang belum beruntung”. Dan, Allah SWT sedang menguji kekuatan iman keluarga saya. Namun, setelah saya bertemu dengan Bu Jimi yang “lebih mengenaskan”. 

Saya dan anda perlu sadar bahwa “Ketika kita merasa nasibnya mengenaskan. Ternyata, di luar sana masih ada orang yang lebih mengenaskan dari kita”. Dalam hati, saya benar-benar menangis melihat kondisi dia. Saya ingin membantunya, tetapi kondisi saya pun “ngap-ngapan”.   

Sebagai informasi, di lingkungan kos saya dulu, Bu Jimi dikenal banyak orang sebagai sosok yang mampu. Tetapi, Allah SWT begitu sayang, dan menguji imannya melalui wabah Covid-19. Kini, harta benda berupa perhiasan yang ada padanya telah habis terjual. Yang ada padanya adalah “Kesehatan” yang lebih berharga. Dalam perjalanan pulang, saya sempat berkata pada istri.  

 

“Ternyata, di saat kita merasa paling sedih karena Corona. Bu Jimi lebih menyedihkan dari nasib kita. Kita mesti bersyukur. Karena, ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita. Bahwa, harta benda dan jabatan hanyalah milik Allah SWT. Dan, kapanpun dan di manapun Allah SWT bisa mengambilnya kembali dengan indah. Melalui jalan yang tidak bisa diprediksi oleh manusia”.

 

Saya berdoa semoga Pandemi Virus Corona segera berakhir. Dan, kondisi ekonomi eks tetangga kos saya. Dan, orang lain yang bernasib sama, bisa pulih sedia kala. 

Kita boleh bersedih karena dampak Covid-19. Tetapi, bertawakal kepada Allah SWT adalah jalan terbaik. Allah SWT yang memberikan Covid-19 dan Allah SWT lah yang akan mengambilnya Kembali. Insya Allah.


Friday, April 17, 2020

Mereduksi Ketakutan Karena COVID-19

Mereduksi Ketakutan Karena COVID-19 (Sumber : dokumen pribadi)




         Pandemi Virus Corona atau COVID-19 membuat ketakutan setiap orang. Takut akan masa depan, yang diprediksi belum pasti. Mengapa, banyak kalangan yang masih bimbang, kapan Pandemi Virus Corona akan berakhir. Karena, berbagai pihak yang memprediksi bahwa Pandemi Virus Corona akan berakhir bulan Mei, Juni, Agustus atau akhir tahun 2020. Semua berbau ketidakpastian. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah anda perlu Mereduksi Ketakutan karena keadaan yang seperti ini.

          Mengapa anda perlu mereduksi (mengurasi) rasa takut? Anda harus percaya bahwa Pemerintah akan berbuat yang terbaik buat masyarakat. Serta, bukan hanya anda saja yang mengalami dampak dari Pandemi Virus Corona ini. Ketika anda mengeluh bahwa hari ini usaha konvensional anda masih stagnan, di luar sana masih ada orang yang belum makan. Ketika anda belum makan enak hari ini, mungkin di sana masih ada yang benar-benar belum tersentuh nasi. Kata orang Jawa, manusia masih menganggap serba 'sawang sinawang". Di mana, melihat orang lain selalu lebih beruntung dari sisi anda sendiri. 

        Saya melihat banyak postingan di media sosial yang menyatakan bahwa hidup semakin tidak pasti. Karena, tempat dia bekerja sudah tidak beroperasi. Banyak orang yang mulai terjangkit rasa ketakutan. Karena, apakah gajinya bisa diterima menjelang Hari Raya Lebaran  Atau, gaji ke-13 bisa cair gak? 

       Bahkan, masih banyak tempat usaha yang tidak mengindahkan kebijakan pemerintah sesuai kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Mereka tetap buka dengan alasan takut jika kantor tidak beroperasi. Makanya, kantor tetap buka agar karyawan tetap bekerja, biaya operasional kantor tetap ada. Yang berujung agar tetap menangguk keuntungan usaha.

         Hal yang lumrah jika masyarakat dihantui rasa ketakutan. Karena, denyut nadi kehidupan mereka harus tetap berjalan. Dapur harus tetap ngebul. Banyak yang takut, besok mau makan apa. Padahal, ketika masih bekerja, sebelum dampak Pandemi Virus Corona. Dengan percaya diri, mereka mengatakan bahwa besok kita makan di mana. Rasa percaya diri akan kehidupannya perlahan memudar karena rasa takut. Benar apa yang dikatakan Presiden RI Jokowi bahwa hal yang paling membahayakan bukanlah COVID-19 tetapi rasa takut dan panik.

        Rasa takut perlahan menghilangkan akal kita. Banyak yang takut jika tidak kebagian stock sembako. Makanya, mereka melakukan Panic Buying. belanja besar-besaran, mumpung ada budget untuk berbelanja. Mereka tidak memahami bahwa orang lain juga sangat membutuhkan hal yang sama. Juga, banyak orang yang memborong masker dalam jumlah yang besar. Bahkan, mendadak jadi mafia masker, dengan belanja fantastis dan menimbunnya. Menunggu waktu yang tepat, dan menjualnya kembali agar mendapatkan keuntungan yang berlimpah ruah. 

         Banyak orang yang takut tidak mampu mendapatkan rejeki dengan menunda mudik. Mereka takut tidak makan, jika berdiam diri di rumah, demi kebijakan Pqemerintah. Agar, penyebaran Virus Corona terhenti. Mereka memaksa pulang ke kampung atau mudik karena jaminan di kampung bisa hidup yang lebih baik. Padahahal, sebelum Pandemi Virus Corona, mereka percaya diri bahwa hidup di kota menghilangkan rasa takut. Karena, begitu mudahnya mencari rejeki. 

          Ya, rasa takut membuat segala sesuatunya menjadi jungkir balik. Oleh sebab itu, hal yang paling diperhatikan saat Pandemi Virus Corona adalah sebisa mungkin mereduksi (mengurang) rasa takut. Percayalah, Pemerintah tidak akan tinggal diam melihat kondisi masyarakat. Karena, Pemerintah pun sudah menyiapkan beberapa dapur umum untuk antisipasi PSBB. Pemerintah telah menggelontorkan dana triliunan untuk Percepatan Penanganan COVID-19. 

        Saat bekerja di rumah, banyak orang yang percaya diri mengurangi rasa ketakutan mereka. Mereka mulai beralih profesi. Banyak orang yang berusaha dengan berjualan barang secara online. Dari usaha kuliner, masker hingga Hand Sanitizer. Banyak orang yang aktif mengadakan kelas secara online. Dari yang gratis hingga harga yang bersahabat. 

          Masyarakat juga mulai berinteraksi melalui dunia maya dengan berbagai aplikasi. Jadi, meski jauh fisiknya tapi dekat hubungannya. Dengan berkomunikasi, maka setiap orang bisa berbagi dan menerima informasi atau ilmu. Mereka saling memberikan motivasi. Oleh sebab itu, rasa takut perlahan hilang. Karena, bukan hanya anda yang mengalami, tetapi semua orang mengalaminya.

         Jadi, setiap orang boleh mengeluh atau menangisi keadaan. Jujur, saya juga takut akan kondisi sekarang ini. Takut apa yang akan terjadi dengan keluarga saya. Dari hal ekonomi hingga pendidikan anak. Namun, saya menyadari bahwa bukan hanya saya yang mengalami hal seperti ini. Inilah yang membuat saya semaksimal mungkin mereduksi ketakutan yang ada. 

          Tidak ada gunanya merenungi nasib, karena di luar sana, masih ada  orang yang bernasib lebih buruk daripada anda. Di sinilah, hal yang penting adalah meningkatkan rasa syukur. Allah SWT tidak akan memberikan cobaan kepada suatu kaum di luar batas kemampuannya. Jadi, jangan takut akan cobaan, jika anda ingin tetap hidup. 

           Di balik kesempitan, pasti ada kesempatan yang luar biasa.  
   

Monday, April 6, 2020

Sharing Economy, Cara Cerdas Penanganan Percepatan COVID-19

Berbagi kebutuhan ekonomi (sharing economy) mampu mempercepat penanganan COVID-19 (Sumber : republika.co.id)




Saya sudah membahas pada artikel sebelumnya tentang apakah Indonesia akan melakukan kebijakan Lockdown sehubungan dengan meningkatnya pasien positif COVID-19. Meskipun, faktanya Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan kebijakan tersebut. Karena, sangat riskan dan berbiaya besar. Bukan itu saja, masyarakat khususnya golongan kaya atau yang bersifat dermawan dan mempunyai empati perlu mengembangkan konsep Sharing Economy. Di mana, bagi yang mempunyai harta berlebih, berbagi kebutuhan ekonomi bagi orang lain adalah cara cerdas untuk mempercepat penanganan COVID-19.

Kebijakan Hati-Hati

Setiap hari, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melakukan konferensi pers tentang perkembangan terkini. Yang membuat saya selalu meneteskan air mata adalah selalu bertambahnya pasien yang dinyatakan positif COVID-19. Bahkan, per 6 April 2020, pasien positif Covid-19 sebanyak 2.491 orang, pasien sembuh sebanyak 192 orang, pasien meninggal sebanyak 209 orang dan persentase kematian 8,4 %. Sebuah kondisi yang membutuhkan sinergi semua kalangan.

Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan seperti mewajibkan masyarakat untuk #tundamudik, mencuci tangan dengan air sabun dan air mengalir, physical distancing (jaga jarak fisik), memakai masker ke manapun pergi dan Stay At Home (SAH). Bahkan, SAH ini mampu menangkal penyebaran COVID-19 semakin luas. Namun, faktanya pasien positif COVID-19 selalu bertambah. Tentu, ada yang salah dalam masyarakat tentang anjuran Pemerintah tersebut.

Salah satu hal yang paling mencolok adalah masyarakat belum bisa mengikuti anjuran Pemerintah untuk SAH. Salah satu alasan mendasar adalah karena alasan ekonomi. Dengan kata lain, kebutuhan ekonomi harus tetap tercukupi setiap harinya. Dapur harus tetap ngebul, kampung tengah (perut) harus tetap terisi dan kebutuhan lainnya harus terjamin. Kalau saya bicara blak-blakan, cara terbaik untuk menghentikan COVID-19 adalah perlunya Karantina Wilayah regional secara bertahap. Contoh, minggu ini, 2-3 kabupaten/kota setiap Provinsi, kemudian minggu selanjutnya kabupaten/kota lainnya secara bergiliran. 

Saya memahami bahwa jangankan kebijakan Lockdown, kebijakan Karantina Wilayah pun sangatllah berisiko. Jika, tidak direncanakan secara matang. Ketika, kebutuhan masyarakat tidak terjamin selama Karantina Wilayah, maka hal yang tidak diharapkan bisa terjadi. Masyarakat masih bandel untuk keluar rumah dengan alasan mencari rejeki. Bahkan, hal-hal yang ditakutkan bisa muncul, seperti terjadinya aksi penjarahan untuk kebutuhan makan sehari-hari. 

Saya membaca di sebuah berita media online bahwa di Italia terjadi aksi penjarahan swalayan atau supermarket untuk kebutuhan sehari-hari. Maka, cara yang bisa dilakukan adalah adanya penggalangan donasi (sharing economy). Baik dari Pemerintah Kabupaten/Kota, swasta, masyarakat dengan harta berlebih. Setelah dirasa cukup dana untuk keperluan masyarakatnya (contoh selama satu minggu), maka Pemerintah Kabupaten/Kota perlu melakukan Karantina wilayah. 

Saya menyadari betul bahwa kebijakan untuk Lockdown atau Karantina Wilayah sangatlah berat dilakukan. Namun, dengan konsekuensi tinggi tentang jaminan hidup masyarakat selama Karantina Wilayah. Maka, hal tersebut bisa dilakukan. Saya yakin bahwa masyarakat mau untuk SAH. Karena, mereka tidak berpikir lagi tentang "besok saya mau makan apa?".

Perlunya Sharing Economy

Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat yang mempunyai harta berlebih mau memberikan bantuan kepada masyarakat yang masih bekerja di luar rumah. Dari memberikan makanan bagi abang tukang becak, driver Ojek Online (OJOL) hingga sopir taksi. Hal itu menunjukan empati yang tinggi. Kepada pihak yang masih bekerja di luar rumah, demi kebutuhan hidupnya. Mereka mau berbagi rejeki (sharing economy) agar masyarakat yang bekerja di luar rumah masih bisa tersenyum. 

Bahkan, bantuan Alat Pelindung Diri (APD) yang sangat dibutuhkan oleh tim medis sebagai contoh konsep sharing economy telah dilakukan artis Nikita Mirzani. Dia telah menyisihkan sebagian rejeki dan membuktikan rasa empati, dengan memberikan bantuan berupa APD ke salah satu Rumah Sakit plat merah di Jakarta. Terlepas dari nyinyran para Netizen Yang Maha Benar, artis Nikita Mirzani telah membuktikan konsep sharing economy untuk percepatan penanganan COVID-19. Di mana, APD mulai langka di pasaran sebagai kebutuhan vital bagi tim medis, sebagai garda terdepan penanganan COVID-19. 



Bantuan APD untuk tim medis yang dilakukan oleh artis Nikita Mirzani (Sumber: nikitamirzanimawardi_17/IG)



Coba saja, jika setiap kabupaten/kota mempunyai 100.000 orang yang mempunyai jiwa untuk sharing economy, maka dana tersebut dikumpulkan secara transparan oleh pihak yang berwenang untuk membantu jaminan hidup masyarakat. Kemudian, Pemerintah setempat di seluruh Indonesia mantap melakukan Karantina Wilayah atas seijin Pemerintah Pusat. Niscaya, wabah COVID-19 bisa ditangani secara cepat.  

Sekarang ini, beberapa RT di Jakarta berani melakukan Karantina Wilayah secara mandiri, dengan memasang portal. Agar, orang tidak bisa atau dilarang keluar masuk wilayah yang sedang melakukan karantina secara regional. Coba, jika hal itu dilakukan ke dalam wilayah yang lebih besar (skala besar) seperti halnya pembatasan sosial skala besar. Sekali lagi saya tekankan bahwa hal tersebut bisa dilakukan, jika jaminan hidup masyarakat terjanmin selama Karantina Wilayah. Namun, jika jaminan masyarakat tidak terjamin justru akan menimbulkan masalah baru.

Semua berharap agar COVID-19 ini segera berakhir. Masyarakat bisa bekerja normal kembali. Namun, jika cara-cara yang ada belum menunjukan hasil yang signifikan, maka Pemerintah  perlu mengeluarkan kebijakan yang ekstrim. Saya pernah membaca di sebuah media sosial bahwa ada 2 pilihan sulit bagi pemerintah saat COVID-19 ini. Yaitu ekonomi babak belur tetapi masyarakat sehat atau ekonomi tetap terjaga tetapi kesehatan masyarakat sakit. 

Oleh sebab itu, sebelum mengakhiri tulisan saya ini, sepertinya Pemerintah perlu mengeluarkan anjuran atau kebijakan secara tegas untuk sharing economy. Bagi semua perusahaan baik negara atau swasta di seluruh Indonesia, masyarakat berharta lebih dan masyarakat lainnya yang ingin menyisihkan sebagian hartanya. Setelah dana dirasa cukup untuk kurun waktu tertentu, sesuai analisa para ahli atau pakar economi. Maka, sebaiknya lakukan segera Karantina Wilayah secara bertahap. Dana yang terkumpul tersebut sebagai jaminan hidup masyarakat. Insya Allah, COVID-19 akan segera berakhir. Semoga. 



Disclaimer;
Artikel ini sekedar opini saya, sebagai warga negara yang sangat cinta tanah air. Dan, berharap agar COVID-19 segera berakhir dan "ndang lungo" (cepat pergi). 


Saturday, April 4, 2020

Menyambut Bulan Ramadhan 2020 di Tengah Wabah Virus Corona

Menyambut Bulan Ramadhan 2020 di Tengah Wabah Virus Corona (Sumber : NU Online/diolah)





        Kurang lebih 20 hari lagi, umat Islam akan menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan, yaitu bulan Ramadhan. Sungguh, Ramadhan 2020 nanti akan sangat jauh berbeda. Karena, dipastikan, bulan Ramadhan akan dirayakan oleh umat Islam di tengah wabah Virus Corona. Apalagi, melihat tren pasien yang positif Corona sesuai laporan resmi dari pemerintah yang terus bertambah. Per tanggal 4 April 2020 saja, jumlah pasien positif Corona sebanyak 1.986 orang, Pasien sembuh sebanyak 134 orang dan pasien yang meninggal sebanyak 181 orang. Sedangkan, persentase kematian sebesar 9,1%.

Ramadhan yang Prihatin

      Melihat kondisi tersebut, semua kalangan memprediksi bahwa Bulan Ramadhan 2020 bisa dikatakan sebagai bulan Ramadhan yang diselimuti keprihatinan. Tentu, sebagai umat Islam, kedatangan bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Bulan yang di dalamnya penuh dengan pahala dan ampunan, merupakan mimpi setiap umat Islam untuk menyambutnya dengan suka cita.

       Namun, beberapa minggu ini, penyebaran Virus Corona yang kian masif membuat kerumunan orang sangatlah dilarang. Termasuk, kerumunan pada saat sholat berjamaah. Oleh sebab itu, sesuai dengan anjuran Pemerintah, maka sholat berjamaah ditiadakan. Masyarakat dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH) dan beribadah di rumah saja. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Bahkan, berbagai tempat di Indonesia disemprot oleh cairan Disinfektan agar steril.

        Masjid-masjid di seluruh Indonesia, bahkan di dunia kini tampak sepi. Tiada aktifitas sama sekali. Tiada lagi suara orang mengaji dan adzan yang berkumandang dari menara masjid. Masyarakat mulai memanfaakan jam atau "mbah google" untuk melihat waktu sholat. Benar-benar suasana yang sungguh berbeda 360 derajat dari biasanya.

        Bagaimana dengan bulan Ramadhan? Tentu, bulan Ramadhan kali ini sepi dari orang mengaji atau tadarus Al Qur'an. Sholat Tarawih yang menjadi ciri khas dari malam bulan Ramadhan pun dipastikan tidak akan terlihat di Ramadhan 2020 ini. Dan, umat islam dianjurkan dengan memperbanyak amalan kebaikan di bulan Ramadhan dari rumah saja. 

      Apakah dengan tiadanya sholat tarawih di masjid-masjid akan mengurangi keutamaan bulan Ramadhan? Jawabannya TIDAK. Bulan Ramadhan akan tetap menjadi bulan yang istimewa, meski umat Islam sholat tarawih dan fardhu dari rumah. Karena, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

         Kegiatan-kegiatan yang menyemarakan bulan Ramadhan pun akan sangat ketat dipantau. Seperti, pembagian atau penjualan takjil Ramadhan. Anda pasti tahu bahwa kegiatan tersebut berpotensi besar mendatangkan kerumunan massa. Yang mampu menyebarkan Virus Corona semakin luas. Sekarang saja, warung atau minimarket  mendapatkan pembatasan jam buka. Tidak boleh buka hingga malam hari. Bahkan, warung makan atau restoran siap saji "dilarang" memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk makan di tempat. Namun, pelanggan "wajib" membawanya pulang (take away).  Jika warung atau restoran melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, maka hukumannya bisa pidana. 

        Kini, pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Oleh sebab itu, kegiatan apapun yang berpotensi mendatangkan kerumunan massa akan ditindak tegas. Hal ini dilakukan demi kebaikan bersama. Karena, kesehatan masyarakat adalah yang utama. Oleh sebab itu, kegiatan bulan Ramadhan yang berpotensi mendatangkan banyak orang, tentu akan ditiadakan. Dampaknya, bulan suci Ramadhan 2020 akan lengang. Namun, umat Islam bisa menciptakan kegembiraan di rumah, baik buka puasa maupun santap sahur. 

      Percayalah, meskipun bulan Ramadhan akan sepi dari berbagai macam kegiatan keagamaan di Masjid. Aktifitas memakmurkan masjid akan ditiadakan. Tetapi, keindahan, keberkahan, rahmat dan ampunan akan selalu datang dari Allah Yang Maha Rahmat. Kesucian akan tetap ada di hati masing-masing orang. Inilah saatnya manusia akan berusaha introspeksi diri, dari segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Allah yang memberikan wabah Virus Corona, dan Allah Yang Maha Kuasa yang akan mencabutnya.

Tunda Mudik

         Hal lain yang menarik saat bulan Ramadhan adalah ritual Mudik atau pulang kampung. Ritual yang sangat didambakan setiap umat Islam untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, handai tolan dan tetangga yang dicintainya. Mudik menjadi kegiatan akhir dari perjalanan panjang para perantau di berbagai kota, baik di Indonesia maupun di dunia. Mudik menjadi ritual untuk melepas kangen dan memohon maaf kepada orang tua. Karena, sejatinya manusia ingin kembali fitri (suci). Oleh sebab itu, apapun dilakukan demi bisa mudik ke kampung halaman.

     Tetapi, saat pandemi COVID-19 menjangkit seluruh dunia. Maka, Pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan. Keppres dan PP telah dikeluarkan, yang mengatur tentang Darurat Kesehatan Masyarakat dan Pembatasn Sosial Skala Besar. Physical Distancing atau Jaga Jarak benar-benar diatur ketat. Masyarakat perlu menjaga jarak satu dengan yang lainnya. Termasuk, saat-saat genting di mana kerumunan massa akan terjadi ketika mudik.

      Mudik yang merupakan aktifitas migrasi (perpindahan) orang dari satu kota ke kota lain berpotensi besar menyebarkan Virus Corona lebih luas. Bahkan, aktifitas mudik berpotensi menciptakan pasien-pasien yang posistif terpapar Virus Corona. Itulah sebabnya, mudik tahun 2020 ini sangat dilarang. Apalagi, banyak masyarakat yang telah melakukan mudik dini dikarenakan di kota tidak bisa bekerja lagi.

        Setiap orang berhak untuk mudik. Namun, larangan untuk mudik justru bertujuan sangat baik. Yaitu, untuk mencegah penyebaran Virus Corona yang lebih luas. Juga, bertujuan agar pandemi COVID-19 cepat berakhir. Tentu, agar masyarakat bisa bekerja, seperti sedia kala. Namun, kepatuhan masyarakat akan anjuran pemerintah sangatlah diharapkan.

        Dengan adanya larangan mudik, maka bulan Ramadhan kali ini sungguh sepi, jika masyarakat mematuhinya. Kita tidak akan lagi mendengar kemacetan di Pantura (Pantai Utara Jawa) atau pelabuhan penyeberangan. Tidak ada lagi kecelakaan lalu lintas, karena kelalaian sopir, ngebut atau mengantuk. Bahkan, siaran langsung (live) dari berbagai media elektronik atau televisi dari jalur mudik tidak ada atau berkurang drastis. Dipastikan, bulan Ramadhan 2020 akan sepi dan lengang. 

         Meskipun, bulan Ramadhan 2020 akan terasa sepi, tetapi semaraknya akan tetap terlihat. Di balik keprihatinan yang luar biasa, karena pandemi COVID-19, umat Islam akan tetap tersenyum, semangat dan ikhlas dalam melakukan puasa bulan Ramadhan. Serta, menatap keindahan Idul Fitri. 

        Umat Islam boleh menangis atau meneteskan air mata karena semarak bulan Ramadhan 2020 akan tiada sementara. Umat Islam yang baik akan terus tersenyum dan ikhlas bahwa wabah Virus Corona akan tetap menjadi rahmat. Karena, Allah yang memberikan musibah, niscaya Allah jugalah yang akan mencabutnya. Hilangkan rasa duka cita, karena beberapa minggu lagi bulan suci Ramadhan akan datang. Mari sambut dengan suka cita. 



 Ramadhan 2020 yang diselimuti dengan keprihatian karena pandemi Virus Corona (Sumber : dokumen pribadi/YouTube)   



Marhaban Yaa Ramadhan .


Sunday, March 29, 2020

MOBIL MORRIS VIRAL RAFFI AHMAD DAN PANDEMI VIRUS KORONA


Mobil Morris Mini Cooper MK1 yang dibeli Raffi Ahmad dari Andre Taulani seharga 700 juta rupiah (Sumber : pikiran-rakyat.com/diolah)





      Habis Ular Kobra Garaga Terbitlah Morris Cooper. Ya, ular peliharaan Panji sang Petualang  menjadi trending topik di berbagai media. Banyak orang yang mencoba gaya Panji saat menaklukan ular Kobra, meski Panji sendiri sudah mengingatkan keras agar masyarakat jangan sekali-kali mencobanya di manapun dan kapanpun. Kini, saat pandemi Virus Korona, mobil Morris Cooper MK 1 menjadi booming alias viral di berbagai media, khususnya dunia Youtube. 

Morris Sang Penghibur 

       Cerita berawal saat artis tenar dan sekaligus Youtuber tanah air Raffi Ahmad telah menyelesaikan ritual jalan-jalan keliling dunia. Raffi Ahmad memahami benar bahwa anak kesayangannya Rafathar sangat menyukai untuk menonton film Mr. Bean. Bahkan, sang anak sangat menggemari mobil yang selalu menemani Mr. Bean dalam setiap aktifitasnya. 

      Berniat mau kolaborasi bareng acara Podcast dengan menyambangi rumah artis tenar lainnya, Andre Taulani. Saat melewati koleksi mobil-mobil milik Andre Taulani, Raffi Ahmad kepincut dengan tampilan mobil antik Morris Cooper MK1 buatan Inggris tahun 1961. Raffi Ahmad berniat untuk memberi kejutan kepada anaknya tanpa kehadiran sang istri Nagita Slavina dan anaknya Rafathar. 

       Namun, sepertinya Andre Taulani enggan untuk menjualnya karena mobil kesayangan anaknya Kenzy. Apalagi, menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk membuat tampilan mobil unik ini tak sedikit, sekitar 500 juta rupiah. Raffi Ahmad keukeuh untuk membelinya. Karena, mereka menganggap bahwa sang anak dan istrinya akan senang sekali. Yaitu, untuk mengantar sekolah sang anaknya Rafathar. Setelah melalui nego yang sangat alot antara Raffi Ahmad dan Andre taulani yang melibatkan anaknya Kenzy, akhirnya terjadi deal kedua belah pihak, dengan harga 700 juta rupiah.

      Kegembiraan Raffi Ahmad dengan membawa mobil antik Morris Copper MK1 ke rumahnya, ternyata berbuntut panjang. Ternyata, sang anak dan istri tidak merasa gembira dengan tampilan mobil yang telah dibelinya. Seperti, pintu mobil yang sulit ditiutup. Atau, kaca mobil yang agak susah ditutup. Bahkan, sang istri mengomentari kepada sang suami bahwa Raffi Ahmad tidak bisa berbisnis. 

        Raffi Ahmad pun menelepon Andre Taulani atas komplen yang diutarakan istrinya. Selanjutnya, berbalas dengan kedatangan Andre Taulani ke rumah Raffi Ahmad. Dengan membawa anaknya Kenzy, Andre Taulani berniat untuk mengambil lagi mobilnya. Tentu, dengan mengembalikan kembali uang pembelian sang mobil. Namun, kenyataanya, Raffi Ahmad justru tidak ingin mengembalikan Morris Cooper MK1 tersebut. Dengan nego yang alot, mobil antik tersebut bisa diambil lagi dengan syarat harga yang ditawarkan sebesar 1 miliar rupiah. Tentu, Andre Taulani tak mau dengan membayar sebesar uang yang ditawarkan oleh Raffi Ahmad. 

         Babak baru, harga yang dipatok oleh Raffi Ahmad sebesar 1 miliar menjadi rebutan dua (2) artis ternama, yaitu Baim Wong dan Denny Cagur. Kedua artis dan sekaligus Youtuber top tersebut bersaing untuk memiliki Morris Cooper MK1 tersebut. Mobil klasik nan antik tersebut menghipnotis dua artis tersebut agar bisa dipinang. Banyak netizen yang berkomentar bahwa drama rebutan mobil antik tersebut hanyalah setingan. Hanya untuk menciptakan trending dan berujung pada penghasilan yang tinggi.  

        Tanpa dipungkiri, video artis-artis top tersebut yang melibatkan mobil antik Morris Cooper MK1 selalu menjadi trending Youtube dengan penonton jutaan. Bagi seorang Youtuber maka ia bak kipas-kipas uang ratusan jutaan rupiah. Benar-benar menggiurkan bahwa mobil antik mampu menghasilkan uang ratusan juta rupiah. 

        Drama perebutan mobil antik berakhir di tangan artis Denny Cagur. Dan, perlu diketahui bahwa akun Youtube Denny Cagur dibanjiri dengan penonton jutaan orang. Ia berhak membawa Morris Cooper MK1 buatan Inggris setelah mengelarkan kocek 1 miliar rupiah. Bukan hanya mendapatkan mobil antik, tetapi akun Youtube Denny Cagur kini bisa bertengger di Trending. 


Donasi untuk COVID-19 

      Netizen yang nyinyir akan berkata bahwa buat apa mengeluarkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah di tengah pandemi Virus Korona demi mobil antik. Mendingan uangnya buat menyumbang para pasien virus Korona. Dengan kata lain, artis-artis tersebut tidak menunjukan rasa empati di tengah wabah Virus Korona. Di mana, masyarakat sedang berdiam diri di rumah tanpa ada pekerjaan dan penghasilan. 

       Namun, harus jujur bahwa Morris Cooper MK1 telah menjadi hiburan jutaan rakyat di tengah maraknya Virus Korona. Mobil antik tersebut menjadi tontonan yang mengasikan saat Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH) dan beribadah di rumah. Tontonan tersebut justru memberikan pelajaran berharga bahwa setiap individu hendaknya mempunyai sikap kreatif untuk menghasilkan konten di ranah digital. Tentu, bermuara pada penghasilan.

       Dan, perlu diketahui bahwa akhir cerita dari perebutan Morris Cooper MK1 ditangan Denny Cagur memberikan pelajaran berharga. Raffi Ahmad berniat untuk menyumbang dari keuntungan penjualan mobilnya demi para pasien Virus Korona. Keuntungan sebesar 300 juta dari penjualan tentu bukanlah uang yang sedikit. Terlepas dari sensasi atau menaikan rating dan trending, maka niat tulus Raffi Ahmad bisa menjadi inspirasi buat orang lain. Kapan giliran anda yang suka nyinyir?

      Benar apa yang dikatakan dokter viral di medsos yaitu dr. Tirta yang pernah menjadi narasumber di salah sastu acara talk show di stasiun TV swasta. Dia menyatakan bahwa untuk mengerem penyebaran Virus Korona, maka dibutuhkan sinergi yang kuat. Di antaranya, orang kaya perlu memberikan bantuan. Bahkan, tanpa sungkan, dr. Tirta menyatakan bahwa orang kaya perlu memberikan sumbangan dengan menjual 1 mobilnya untuk membantu penanganan Virus Korona.

       Apa yang pernah dikatakan oleh dr. Tirta, ternyata Raffi Ahmad telah melakukan tantangannya. Dengan menjual mobil antik Morris Cooper MK1, di mana keuntungan dari penjualan mobilnya akan disumbangkan untuk penanganan pasien Virus Korona. Ternyata ada korelasi antara Morris Cooper MK1  dan pandemi Virus Korona. Di balik hiburan dan sensasi yang membuat banyak nyinyir, ternyata ada inspirasi yang bisa anda ambil. 

       Kini, Ular Kobra Garaga telah kembali ke alamnya. Sekarang, Morris Cooper MK1 akan menjadi legenda hiburan tanah air ketika pandemi Virus Korona. Semoga Morris Cooper MK1 akan betah dengan sang tuan barunya, Denny Cagur. 

Saturday, March 28, 2020

Puasa Mudik Karena COVID-19

Puasa Mudik karena pandemi COVID-19 (Sumber : dokumen pribadi)





          Siapa yang tidak mau mudik, khususnya mudik Lebaran? Setiap orang punya hak untuk mudik. Mampu merangkai kenangan indah di kampung halaman. Bertemu dan mempererat silaturahmi dengan keluarga besar. Memohon doa terbaik dari orang tua yang telah membesarkan kita semenjak kecil. Namun, saat pandemi Virus Korona atau COVID-19, maka mudik menjadi sebuah anjuran yang dihindari. Bahkan, dilarang untuk dilakukan alias puasa mudik. Bukan, karena melarang setiap orang untuk pulang ke kampung halamannya. Namun, demi kebaikan bersama, yaitu menghindari penyebaran dan perkembangan virus yang mematikan, Virus Korona. 


Mudik Lebih Awal

         Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi di Bali tanggal 25 Maret 2020 lalu, keluarga besar saya di Ngawi Jawa Timur menelepon istri saya. Mereka menanyakan kabar kami, karena kondisi di Bali. Pembicaraan yang semula santai mulai makin serius, setelah melebar ke masalah pandemi Viirus Korona. Saya berniat bahwa tahun 2020 tidak mungkin (bahkan tidak bisa) mudik dengan alasan mencegah penyebaran Virus Korona. 

     Saya memahami bahwa penyebaran Virus Korona yang tak kasat mata sangat berpotensi menyebar. Ada dua kemungkinan, saya yang terpapar dari keluarga besar saya di Ngawi atau saya yang menularkan ke keluarga besar saya tersebut. Untuk berjaga-jaga, maka kami memutuskan untuk tidak mudik Lebaran sebelum masalah Virus Korona ini mereda. Apalagi, saya masih mencari tempat perguruan tinggi yang cocok untuk anak saya tahun ini.

       Sebelum kami mengutarakan untuk tidak pulang kampung halaman, keluarga besar saya justru lebih awal menyarankan agar kami tidak usah pulang kampung. Karena, sangat riskan terjadi virus Korona. "Wis, rasah mulih neh. Pokok'e tahun iki gak ono mudik-mudikan. Sing penting bareng-bareng sehat. Rasah dipikir mulih!" (Sudah, tidak usah pulang lagi. Pokoknya tahun ini tidak ada acara mudik. Yang penting sama-sama sehat. Tidak usah berpikir untuk pulang), kalimat yang melegakan dari keluarga saya. 

       Karena, mereka rela tidak bertemu Lebaran nanti demi kesehatan bersama. Padahal, awal tahun 2020, saya sudah mantap untuk pulang kampung ke Ngawi Jawa Timur. Sekalian pulang kampung ke orang tua saya di Brebes Jawa Tengah. Manusia memang pintar membuat rencana, namun Allah SWT Yang Maha Perencana.

       Apa yang saya alami ternyata berbeda jauh dengan apa yang dialami para perantau di Jakarta. Ketika pandemi Virus Korona makin meningkat. Dan, berbagai usaha Pemerintah menganjurkan agar masyarakat melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Bahkan, beberapa daerah melakukan Lockdown secara pribadi. Dengan kata lain, untuk mencegah penyebaran Virus Korona, beberapa daerah melakukan Karantina Wilayah. Penyemprotan Disinfektan di berbagai tempat digencarkan. Masyarakat dilarang mendekati kerumunan massal. Bahkan, pemerintah melarang untuk melakukan perpindahan atau migrasi seperti mudik. Hal ini bertujuan demi kebaikan bersama, yaitu mencegah penyebaran virus Korona lebih massif. Kenyataannya, para perantau justru nekad untuk pulang kampung. 

        Kondisi perkantoran dan pusat perdagangan di Ibukota Jakarta sepi. Apalagi, saya yang berada di Bali. Terbiasa menikmati ratusan bus pariwisata besar hilir mudik di jalanan.  Kini, bagai menjelang Hari Raya Nyepi. Semua destinasi wisata bagai museum yang tak terjamah pengunjung. Kita semua paham bahwa kondisi tersebut berdampak besar terhadap kemerosotan ekonomi.  

       Masyarakat dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH), Belajar di rumah dan beribadah di rumah. Hal ini bertujuan agar pasien yang positif terpapar Virus Korona tidak bertambah lagi. Namun, laporan dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 yang selalu update, sepertinya tidak diindahkan oleh para perantau, khsusunya perantau di Jakarta. 

     Larangan Pemerintah untuk melakukan perpindahan atau migrasi melalui aktifitas mudik ke kampung halaman ternyata dilanggar. Ribuan perantau dari Jakarta melakukan Ritual Mudik Dini ke kampung halamannya di Wonogiri Jawa Tengah. Mereka "mungkin" berpikir bahwa daripada tidak bisa bekerja di ibukota selama darurat Virus Korona, lebih baik pulang ke kampung halaman. Kebutuhan hidup dirasa lebih murah, bisa bertemu dengan keluiarga besar lebih awal dan lama. Serta, biaya mudik yang lebih murah (tidak kena tuslah). 

       Tetapi, gelombang mudik lebih awal tersebut sangatlah berisiko. Bahwa, kedatangan mereka yang berkerumun selama puluhan jam di dalam bus sangat rentan terpapar virus Korona antar penumpang. Belum lagi, kondisi mereka yang lelah justru akan semakin rentan tertular virus  Korona saat di kampung halamannya. Itulah sebabnya, kedatangan ribuan pemudik yang tidak mampu melakukan Puasa Mudik harus melewati rangkaian screening dari Pemerintah Daerah setempat. Dari cek suhu, semprotan disinfektan hingga isolasi mandiri selama 14 hari. 

      Dari berbagai rangkaian screening Pemerintah Daerah Wonogiri, maka mendapatkan satu orang yang positif Virus Korona. Yaitu, seorang supir bus yang pernah mengantarkan penumpang ke Bogor Jawa Barat. Dengan demikian, tentu semua penumnpang yang pernah dibawa dia akan dilakukan penanganann secara ketat. Bahkan, dilakukan rangkaian pelacakan, siapa saja yang pernah berinteraksi dengan dia. 

Puasa Mudik

      Kejadian positifnya Virus Korona pada rangkaian mudik menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. Bahwa, aktifitas perpindahan antar kota, antar provinsi, serta antar negara mempunyai potensi menyebarnya virus Korona. Itulah sebabnya, Pemerintah menganjurkan bahwa masyarakat dianjurkan untuk melakukan PHBS. Dari berita di media TV, konferensi pers gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 yang diutarakan oleh Juru Bicaranya Achmad Yurianto memberikan informasi baru. Beliau menyatakan bahwa kebiasaan cuci tangan dengan sabun sangat baik untuk mencegah menyebarnya Virus Korona. Karena, dari tangan membuat setiap orang akan menyentuh mulut, hidung dan mata. Namun, dengan mencuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun akan mencegah terpaparnya Virus Korona.

       Silahkan anda bayangkan? Dengan naik bus yang berkapasitas kurang lebih 50 orang. Daya tahan tubuh setiap penumpang yang berasal dari kawasan zona merah seperti Jakarta berbeda-beda. Perjalanan berjam-jam yang melelahkan tersebut sangat berpotensi Virus Korona akan saling terpapar satu dengan yang lainnya. Anda tidak akan tahu, penumpang mana yang telah terpapar Virus Korona. Apalagi, banyak artis yang positif Virus Korona, tetapi tidak menunjukan gejala-gejala. Sebuah fakta yang sangat mengejutkan agar masyarakat jangan sekali-kali merasa "kebal" atau "menyepelekan" Virus Korona. 

        Saya sendiri merasakan apa yang dirasakan para perantau yang pulang ke Wonogiri. Tidak ada pekerjaan, sementara persediaan materi yang ada "mungkin" makin menipis. Dari pada susah di perantauan, lebih baik pulang ke kampung halaman. Namun, mereka sungguh "tidak" tahu dampak besar apa yang akan terjadi. Bahwa, penyebaran Virus Korona sungguh luar biasa. Perpindahan tempat akan semakin memperluas penyebaran Virus Korona. Dengan demikian, akan semakin bertambahnya ODP, PDP dan pasien positif Virus Korona. 

       Sungguh, seandainya para perantau tersebut mematuhi anjuran Pemerintah untuk tidak mudik lebih awal. Maka, setidaknya tidak akan bertambah orang yang terpapar Virus Korona. Namun, mereka lebih mementingkan mudik daripada dampak Virus Korona. Mereka tidak kuat untuk Puasa Mudik. 

       Tentu, dari sisi ekonomi, kita tidak boleh menyalahkan mereka. 'Mungkin" mereka tidak merasakan jaminan hidup atau tidak betah untuk berdiam diri selama mereka tinggal di rumah. Hal inilah yang membutuhkan kerjasama semua kalangan masyarakat. Jadi, selama mereka tinggal di rumah, mereka tetap enjoy karena kebutuhan tetap ada. 


Sunday, March 22, 2020

7 (Tujuh) Hal Positif dengan Adanya Pandemi Korona (COVID-19)

    Virus Korona yang berasal dari Wuhan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) telah menjadi pandemi (Sumber : www.suara.com)






    Organisaasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO)) menyatakan bahwa virus Korona telah menjadi Pandemi. Karena, telah menyebar di berbagai negara secara bersamaan. Tentu, hal ini membutuhkan penanganan secara serius dari negara-negara di dunia. Virus yang penyebarannya luar biasa ini sungguh menghantui masyarakat tanpa pandang bulu. Virus yang berawal dari Wuhan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) ini benar-benar membuat  banyak hal negatif. Khususnya, di Indonesia yang semula "dianggap kebal" dengan adanya virus tersebut, kini telah menunjukan masyarakat Indonesia yang terpapar Virus Korona lebih dari 400 orang.
       Tentu, dengan adanya penyebaran Virus Korona banyak menimbulkan kerugian dan keburukan. Setiap pihak di belahan dunia akan menganggap bahwa Virus Korona membawa banyak hal negatif. Yang paling kentara adalah meningkatnya kematian di dunia. Namun, di sisi lain, tahukah anda bahwa penyebaran virus Korona di dunia juga memberikan banyak hal positif. Setidaknya, ada 7 (tujuh) hal positif yang timbul akibat penyebaran Virus Korona, yaitu:


1. Timbulnya Persatuan atau Kepedulian Negara-Negara di Dunia.

    Pandemi COVID-19 menciptakan rasa persatuan di belahan dunia. Beberapa negara menjalin persatuan untuk memberantas virus tersebut. RRT juga bersiap mengirim tim medis ke negara lain yang mempunyai dampak parah dengan adanya pandemi Korona. Baru-baru ini, Pemerintah Indonesia mengirim pesawat militer ke RRT untuk membawa peralatan canggih dalam mengatasai pandemi virus Korona.
       Negara-negara lain dunia juga menjalin persatuan untuk mengakhiri pandemi virus Korona. Bahkan, kepedulian bangsa Indonesia atas pandemi virus Korona tersebut, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya sedang mengembangkan vaksin anti Korona. Tentu, ini menjadi berita baik. Bukan hanya bagi bangsa Indonesia sendiri. Namun, bagi bangsa-bangsa di dunia untuk mengakhiri pandemi virus Korona.

2. Berkurangnya Tingkat Polusi di Dunia.

    Meluasnya pandemi virus Korona membuat beberapa negara mengeluarkan kebijakan LockDown. Dengan tujuan untuk menghentikan semua mobilisasi atau pergerakan warganya untuk ke luar negeri atau yang masuk ke negaranya. Masyarakat dunia, khususnya Indonesia juga mengeluarkan kebijakan Work From Home (WFH) atau Bekerja dari rumah. Dengan tujuan untuk mengurangi atau menghentikan penyebaran virus Korona. 
        Dengan adanya kebijakan WFH maka kemacetan lalu lintas berkurang drastis. Saya sendiri yang tinggal di Bali sangat merasakannya. Tahukah anda bahwa dengan pengurangan tingkat lalu lintas yang berkurang drastis maka pencemaran atau polusi udara juga berkurang secara signifikan. Berkurangnya tingkat polusi udara akan berdampak positif bagi kesehatan manusia, bukan? 

   
3. Mempererat Hubungan Keluarga.

    Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan untuk menciptakan Social Distancing (jaga jarak) dengan orang lain. Dan, kebijakan untuk Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. kebijakan ini digencarkan setelah salah satu menteri era Jokowi II yaitu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi positif terpapar virus Korona. Dengan adanya WFH maka masyarakat dunia, khususnya di Indonesia dianjurkan atau diwajibkan untuk bekerja di rumah saja. Semua aktifitas pemerintah dan akademik dilakukan dari rumah atau secara online. Bahkan, Presiden Jokowi juga melakukan rapat penting dengan para menterinya secara online. 
     Hal yang sangat positif dengan adanya WFH ini yaitu menciptakan hubungan atau silaturahmi antar anggota keluarga menjadi lebih baik. Apalagi, bagi Kepala Keluarga yang sibuk bekerja di kantor, di mana pergi pagi dan pulang malam. WFH memberikan kesempatan besar menciptakan komunikasi orang tua dan anaknya menjadi lebih intens. Bahkan, orang tua akan lebih memahami masalah yang dihadapi oleh anak dan istrinya. Seperti orang tua terlibat dalam proses belajar anaknya yang dilakukan secara online. 
  
4. Menciptakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    Pandemi COVID-19 telah menciptakan masyarakat dunia, khususnya Indonesia untuk memahami tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Saya pribadi tidak melupakan untuk mencuci tangan ketika akan memasuki rumah. Masyarakat dunia menyadari perlunya PHBS agar kebal atau mempunyai antibodi dalam menghadapi pandemi COVID-19. 
     Hal yang paling kentara dari pandemi virus Korona adalah pemandangan masyarakat dunia untuk memakai masker. Juga, perlu menyediakan Hand Sanitizer (alat pembersih tangan) dalam berbagai kegiatan. Sungguh, sebuah keajaiban yang saya lihat dan rasakan. Saya berusaha untuk membawa Hand Sanitizer ke manapun. Bahkan, sehabis dari luar rumah, MENCUCI TANGAN adalah hal yang HARUS SAYA LAKUKAN. 


5. Melirik Produk Ekonomi Lain.

    Pandemi virus Korona juga membuka pemahaman masyarakat Indonesia akan hasil sumber daya alam, yang mampu menangkal virus Korona. Tanaman empon-empon seperti jahe, temulawak, sereh, bawang dan lain-lain menjadi produk alam yang mulai dilirik oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, kebutuhan akan jahe yang tinggi menjadi harga produk tersebut menjadi meningkat. Tentu, berdampak positif yaitu meningkatkan pendapatan pedagang atau petani yang menanam jahe.
     Minuman Jamu yang dulu jarang dilirik (menjadi kebiasaan) masyarakat karena rasa pahit, mulai dilirik masyarakat. Mereka rela meminum jamu dengan tujuan untuk menangkal virus Korona. Pandemi virus Korona memberikan dampak negatif bagi dunia, namun penghasilan pedagang empon-empon menjadi meningkat. Tentu, kondisi pandemi virus Korona ini mampu menciptakan kesadaran masyarakat Indonesia tentang betapa kayanya sumber daya alam yang ada di sekitar kita. Dan, ternyata mampu menangkal virus Korona.

6. Menciptakan Rasa Empati.

    Empati adalah sebuah kebaikan yang akan terus dikenang dalam kasus pandemi virus Korona ini. Banyak masyarakat dunia yang mencipatkan rasa empati untuk membantu saudaranya di belahan dunia yang terpapar virus Korona. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pesepakbola dunia Christiano Ronaldo. Dalam berbagai berita online memberikan kesempatan atau sumbangan yaitu hotel yang dimilikinya untuk menjadi tempat penyembuhan para pasien yang terpapar virus Korona. 
     Beberapa bintang Korea menyumbang miliaran rupiah untuk membantu saudaranya yang terpapar virus Korona. Tak lupa, beberapa artis di negeri kita seperti Maya Estianti menggalang dana untuk proses penyembuhan para pasien yang terpapar virus Korona. Dan, masih banyak lain yang tak bisa saya sebutkan dalam tulisan ini. Ini menjadi bukti bahwa empati adalah penting.
      Yang menarik adalah rasa empati atau berbuat baik dari salah satu pengamat media sosial yaitu Dr. Rulli Nasrullah atau yang biasa disebut Kang Arul. Beliau menciptakan empati yang tak disangka-sangka. Atas kepedulian terhadap orang yang tetap bekerja di luar rumah seperti Driver Ojol. Kang Arul melakukannya dengan MEMESAN makanan melalui aplikasi. PESANAN tersebut TIDAK PERLU DIANTAR ke pemesannya. Namun, PESANAN tersebut untuk Driver Ojol saja. Tentu, ini menjadi bukti empati atau kepedulian Kang Arul terhadap Driver Ojol, sebagai pihak yang sangat rentan tertular virus Korona. Berbuat kebaikan tidak perlu membawa alasan apapun.  


7. Lini Media Sosial Dipenuhi dengan Informasi atau Berita Kebaikan. 

    Yang paling menarik dari kasus pandemi virus Korona adalah lini media sosial yang dipenuhi dengan aura kebaikan. Dengan adanya LockDown di Italia, mereka menciptakan hiburan bagi tetangga lainnya karena tidak bisa ke luar rumah. Para artis di negeri Paman Sam juga ada yang menciptakan hiburan dengan menyanyi bagi para followernya agar bekerja di rumah tidak membosankan. Tidak ketinggalan, beberapa artis di Indonesia menciptakan kebaikan dengan membagikan video saat mencuci tanganya sambil bernyanyi. 
      Masyarakat biasa juga banyak yang berbagi kebaikan di ranah media sosial. Seperti yang sedang viral yaitu video yang menunjukan bahwa dengan menyantap telor ceplok yang dibumbui kecap mampu menangkal virus Korona. Hal tersebut juga mampu mencegah aksi Panic Buying (berbelanja gila-gilaan) yang bisa merugikan orang lain. Seperti langkanya stok dan naiknya harga.  
      Baru-baru ini, lini media sosial dipenuhi dengan postingan tentang Dokter Handoko yang menjadi Tim Medis untuk pasien virus Korona. Meskipun beliau berumur hampir 80 tahun dan sempat dilarang oleh keluarganya. Namun, jiwa kemanusiaan Dokter Handoko patut diacungi jempol. Beliau rela dan ikhlas siang malam untuk menjadi tim medis COVID-19. Di mana, setiap detik nyawa beliau terancam oleh paparan COVID-19. 
     Postingan Dokter Handoko yang terbaring lemah di ICU membuat banyak kalangan terhenyak. Menaruh empati besar atas perjuangan GARDA TERDEPAN tim medis ini. Bahkan, orang nomor satu di Jawa Tengah Gubernur Ganjar Pranowo menyempatakn diri untuk menelepon Dokter Handoko dan berkomuniikasi langsung. Sebuah empati yang tidak bisa ternilai harganya dari kalangan pejabat tinggi.    

     Dari pembahasan di atas menunjukan bahwa pandemi virus Korona mampu merugikan sendi-sendi perekonomian di belahan dunia. Namun, kata pepatah menyatakan bahwa di balik kesempitan pasti ada kesempatan yang luaar biasa. Semua pihak di dunia menyatakan bahwa pandemi virus Korona adalah hal yang sangat MERUGIKAN banyak sektor. Tetapi, kesempatan terbaik selalu ada dari musibah tersebut. 
     Allah SWT tidak akan menguji manusia DI LUAR BATAS KEMAMPUANNYA. Percayalah, Allah SWT Maha Penyayang dalam kasus pandemi virus Korona ini. Dan, bagi orang-orang yang bersyukur, maka mereka akan selalu melihat sisi positif dari sebuah wabah yang sedang mendera dunia ini. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya berdoa SEMOGA PANDEMI VIRUS KORONA INI AKAN SEGERA BERAKHIR. 



Denpasar Bali (Work From Home/WFH), 22 Maret 2020



     

Jalur Alas Mantingan Ngawi yang Terkenal Angker

  Salah satu jalur Alas Mantingan yang berada dekat dengan kawasan Sidowayah Ngawi (Sumber: Youtube Casmudi Vlog/screenshot)          ...