Showing posts with label Cerita Misteri. Show all posts
Showing posts with label Cerita Misteri. Show all posts

Wednesday, May 11, 2022

Teror Astral Malam Hari

 

Kamar kos angker
Ilustrasi rumah kos angker (Sumber: shutterstock)

 

 

 

          Kos-kosan tempat saya tinggal di Bali itu ada 2 deret. Setiap deret ada 5 kamar, yang harga sewanya berbeda. Jujur, saya tidak menaruh curiga sedikit pun bahwa kos paling pojok yang sederet dengan saya sungguh angker.

          Saya baru paham, ketika salah satu penghuni kos Mada (nama samaran) bercerita tentang keangkeran kamar tersebut. Sejatinya, kamar tersebut dihuni oleh 5 orang, yang bekerja untuk proyek-proyek pemasangan marmer.

          Kepala proyek tersebut bernama Gusa (nama samaran) yang tidur berbarengan sama tim proyek di kamar tersebut. Tiga hari menjelang lebaran 1443 H kemarin, Gusa dan 3 anak buahnya mudik ke Malang. Namun, Mada tidak mudik tahun ini. Ternyata, Mada diberi amanat untuk menjaga perkakas proyek yang nilainya puluhan juta.

          Sebagai informasi, kamar kos tersebut terbagi menjadi 3 bagian. Pertama, ruang dapur yang tersambung dengan kamar mandi. Kedua,  ruang tidur yang terhubung dengan ruang dapur tanpa sekat (pintu). Dan, ketiga, ruang tamu yang terhubung dengan ruang tidur dengan sekat (pintu).

          Jujur, saya belum begitu akrab dengan mereka. Karena, mereka sungguh sibuk dengan kerjaan. Tetapi, yang menarik adalah ketika teman-temannya mudik, saya melihat Mada ikutan mudik dengan menggunakan motor pribadi. Tetapi, tidak berselang lama, Mada pulang lagi ke tempat kos.

          Bukan itu saja, ketika saya terbangun malam hari, saya beberapa kali melihat Mada pergi naik motor, entah mau kemana. Padahal, waktu sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Selang beberapa puluh menit kemudian, dia balik lagi ke kos. Kadang, hampir setengah jam tidak balik lagi ke kos. Saya pun tidak berpikir negatif. “Ah, mungkin nyari kesegaran udara, karena sumpek di kamar kos sendirian” pikir saya untuk membuang prasangka negatif.

          Ketika, kami sama-sama lagi santai karena libur lebaran. Saya sempat say hello dan berbincang panjang lebar.

 

“Kamarku akeh demite pak” (kamar saya banyak setannya pak).

“Oh ya. Masa sih” jawab saya dengan kaget.

Sungguh, saya tidak mengalami hal astral di kamar kos. Mungkin, karena kamar saya diisi dengan sholat dan ngaji. Jadi, demite kepanasan.

          Memang, harus diakui bahwa Mada dan teman-temannya sering mabuk minum tuak. Baik tuak hasil beli sendiri atau ajakan tetangga kos di depannya. Mungkin, kondisi inilah yang membuat gemes demit penghuni kos. Bukan itu saja, saya melihat lampu penerangan kosnya hanya lampu 5 watt. Kelihatan temaram kayak lampu di kafe.

          Ternyata teror astral itu sudah terjadi sejak lama. Kadangkala, tidak masuk akal. Tetapi, itulah yang terjadi. Dari gangguan di kamar mandi hingga lemparan sepatu, yang tahu-tahu terbang sendiri.   

          Ketika penghuni kos jengkel, maka semua lampu dihidupkan. Anehnya, ketika lampu dihidupkan. Penghuni makhluk astral justru makin tidak bersahabat. Mereka makin menteror semua penghuni kos. Yang paling mengerikan adalah ketika Mada tidur sendiri. Karena teman-temannya mudik.

          Percaya atau tidak, dia sampai tidak berani mandi di kamar mandi kos tersebut. Ruang tidur dipakai untuk menyimpan barang-barang proyek. Di ruang inilah gangguan-gangguan nan mengerikan seringkali terjadi. Maka, pintu pembatas ruang tamu dan ruang tidur tersebut sengaja dikunci.

          Oleh sebab itu, Mada ini tidur di ruang tamu yang luasnya 2x3meter. Jika, ia mau mandi, maka ia harus ke tempat kos penyimpanan barang proyek yang kedua, Jaraknya kurang lebih 10 km. Bahkan, saya sering melihatnya seperti tidak mandi seharian. Usut punya usut, teror makhluk astral menjadi penyebabnya.

          Setiap pukul 1 hingga pukul 3 dinihari, berbagai gangguan makhluk astral mulai menunjukan eksistensinya. Pintu pembatas ruang tidur dan ruang tamu yang terkunci seperti digedor orang berkali-kali. Lagi, suara langkah kaki banyak orang selalu terdengar pada waktu tersebut.

          Ketika, Mada tidak sanggup menghadapi teror astral tersebut, maka Mada memilih keluar kamar kos. Tujuannya hanya satu, mencari ketenangan diri. Saat dia mulai mengantuk berat, maka ia balik ke kamar kos dan langsung tidur. Tidak peduli gangguan dan teror para demit.

 

“Ya mbah, jangan ganggu saya. Saya tidak ganggu mbahnya. Saya di sini hanya cari makan” kalimat yang diucapkan kencang Mada, saat teror astral mulai terjadi.

 

Uniknya, saat kalimat tersebut diucapkan, gangguan astral berhenti. Selang beberapa menit kemudian, teror mulai kembali.

          Ketika, tulisan ini saya buat, sepertinya Mada tidak kuat dengan teror yang ada di kamar kos. Ia nekad menjual motornya dan pulang kampung ke Tulungagung Jawa Timur. Padahal, ia diberi tanggung jawab untuk menjaga barang-barang proyek dan beberapa motor temannya.

          Semoga Mada mendapatkan ketenangan hidup tanpa gangguan makhluk astral di kampungnya. Tidak diganggu lagi oleh para demit. Sebelum pulang, saya menyempatkan pesan kebaikan pada dia. Hendaknya selalu ucapkan salam, ketika memasuki sebuah ruangan yang lama tidak dihuni. Bila perlu, kurangi dan hilangkanlah kebiasaan minum minuman keras. Karena, peminum minuman keras akan mudah berteman dengan syetan.

          Semoga menjadi pelajaran terbaik buat saya dan pembaca semua. Aamiin.  


Tuesday, September 28, 2021

MERINDING, TIKET BUS DIBAYARIN SOSOK GAIB

 

Ilustrasi tiket bus dibayarin sosok gaib (Sumber: terkini.id)

 

Suatu hari di tahun 1992. Waktu malam sudah menunjukan  pukul 12.00 malam. Ketika saya sampai di terminal Kalideres Jakarta Barat. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dari Pulogadung Jakarta Timur. Saya melihat bus-bus diam tempat, tidak ada yang keluar dari terminal. Mungkin, karena sudah larut malam.

 

 

          Saat itu, saya hendak melakukan perjalanan ke bibi saya yang tinggal di Karang Antu Banten Lama. Jujur, saya belum pernah ke bibi saya sendirian. Pernah sekali bersama bapak waktu SD, naik bus langsung jurusan Brebes - Labuan Merak. Namun, yang saya ingat dari perjalanan bersama bapak, hanyalah alamat bibi saja. Saya ingat terus.

          Saya berniat ke rumah bibi, karena ingin menyambung silaturahmi. Sekaligus, agar bibi tidak lupa saya. Karena, sudah 6 tahun tidak pernah lagi diajak bapak. Sungguh, waktu itu, saya sungguh nekad, berbekal uang seadanya (pakai ilmu perkiraan). Saya tidak tahu bus apa yang saya naiki, dan tidak tahu berapa harga tiket yang harus saya bayar.

          Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, bus yang hendak saya tumpangi hendak keluar terminal. Saya dikasih tahu sama orang yang menjual minuman di sekitar terminal, agar saya naik yang dimaksud. Saya pun tergopoh-gopoh mengejar bus yang ingin saya tumpangi. Meskipun, saya tidak tahu jelas merek bus tersebut. Hanya disuruh orang yang menjual minuman tersebut.

          Saya melihat dalam bus sudah gelap dan langsung keluar dari terminal. Penumpang hampir memenuhi isi bus. Tetapi, ada satu jalur kursi bus bagian tengah yang terlihat kosong. Saya melihat seperti bapak-bapak paruh baya yang duduk dekat kaca bus. Uniknya, bapak tersebut menempelkan kepalanya di kaca. Entah, tidur atau melihat pemandangan di luar bus.

          Saya tidak tahu jelas, karena bus masih dalam suasana gelap. Hanya sesekali sinar kendaraan yang berasal dari arah berlawanan. Saya pun penasaran, ingin melihat wajah secara utuh bapak yang duduk dekat kaca. Sementara, saya duduk di bagian pinggir. Kami berdua tidak melakukan komunikasi.

          Namun, setelah kurang lebih 15 menit bus berjalan. Bapak tersebut mengajak saya ngobrol. Dia masih menempelkan kepalanya, wajahnya tidak terlihat. Pertanyaannya pun terkesan singkat dan padat. Hanya tanya ke mana, mau apa dan sama siapa. Habis itu suasana kembali hening. Dalam hati, berharap “tidak ditarik bayaran karcis bus”. Saya pun tertidur.

          Saya tidak tahu berapa menit saya tertidur. Setelah bangun, sepuluh menit kemudian, kondektur bus lewat di samping saya. Dia seperti bolak-balik mencari tempat duduk saya. Saya berpikir, dia ingin meminta bayaran tiket bus. Saya pun sudah menyiapkan uang, yang saya siapkan sejak awal mau berangkat ke Kalideres. Saya pun bertanya kepada kondektur bus.

 

          “Berapa pak ke terminal Serang?”

 

          Sang kondektur pun agak bingung atas pertanyaan saya. Saya pun makin bingung.

 

          “Masnya kan udah bayar”

 

          Jawab kondektur singkat. Saya termenung sejenak karena bingung dan kaget. Tetapi, mengucapkan syukur alhamdulilah. Karena, doa saya agar tidak membayar tiket bus terkabulkan. Ketika, kondektur berjalan ke depan bus dalam suasana gelap. Bapak yang masih dalam posisi menempelkan kepala bicara ringan.

 

          “Udah saya bayarin dek, waktu adek tidur”

 

          Saya pun hanya berucap syukur, karena bapak yang baru saya kenal mau membayarkan tiket bus saya. Tetapi, dalam hati bertanya-tanya, kok kata kondektur, yang bayar saya. Sungguh aneh!

          Saya tidak banyak berpikir kejadian barusan. Yang saya pikir adalah saya bisa berhemat ongkos perjalanan. Setelah pikiran tenang, saya pun tertidur. Dan, terbangun saat lampu bus menyala. Ternyata, bus tersebut berhenti sebentar karena mengganti ban. Yang aneh, saya justru tertidur sendirian di bus. Sementara, penumpang lainnya turun semua. Mungkin, sambil relaksasi badan.

          Rasa penasaran saya pun muncul lagi. Ketika, bus mulai berjalan. Sementara, penumpang bapak-bapak yang ada di samping saya tidak terlihat. Tanpa malu-malu, saya pun bertanya sama kondektur, ketika dia melewati tempat duduk saya.

 

          “Maaf pak, bapak yang duduk di sini sudah turun di mana?”

 

Jawab sang kondektur membuat saya kaget. Dan, hampir tidak percaya.

 

“Bapak siapa mas, dari Kalideres kan cuma mas saja yang duduk di sini. Tuh lihat, penumpang masih penuh, mau turun di Serang ama di Merak”

 

          Saya pun celingak-celinguk lihat penumpang. Mereka seperti keheranan melihat saya. Mungkin, mereka kira saya sedang ngelindur. Loh, yang duduk sama saya siapa? Pikir saya. Detak jantung saya makin kencang, karena saya merinding atas kejadian yang baru saya alami.

          Sosok gaib telah nyaru (menyamar) jadi penumpang bus. Meskipun, dalam suasana takut. Saya bersyukur, sosok gaib tersebut telah berbaik hati membayar tiket bus saya. Mungkin, ini kehendak Allah SWT, saat saya sedang mengalami kebingungan. 


TEROR SUARA GAIB DI MALAM JUMAT KLIWON

 


Ilustrasi teror suara malam jumat kliwon (Sumber: pixabay.com)

 

 

          Sekitar tahun 2004, saya berkesempatan untuk menyambangi kota Surabaya. Karena, ada keperluan belanja barang di sebuah pusat perdagangan terkenal di Surabaya. Saya berangkat dari Kota Ngawi sekitar pukul 08.00. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Sampai di tempat yang dituju sehabis sholat dhuhur.

          Sesampainya di lokasi tujuan, saya pun langsung berkeliling menjelajahi setiap lantai pusat perbelanjaan tersebut. Mencari barang yang sekiranya cocok dijual. Lumayan, bisa membuat dapur tetap ngebul, Akhirnya, pandangan saya tertuju pada sebuah produk komunikasi telepon wireless di sebuah grosir besar. Yang menurut saya, bisa booming untuk dipasarkan.

          Saya dan pemilik grosir pun akhirnya melakukan nego harga. Saya pun setuju untuk belanja produk tersebut dengan jumlah tertentu. Namun, ternyata jumlah produk yang saya inginkan tidak mencukupi. Pihak pemilik grosir pun berjanji bahwa keesokan harinya barang bisa siap sedia.

          Terpaksa, saya meski menginap di Surabaya. Daripada bolak-balik Ngawi-Surabaya. Bukan hanya capai badan tetapi waktu dan uang juga terbuang. Bukan itu saja, saya pun punya kesempatan untuk jalan-jalan malam hari di kota Surabaya.

          Selanjutnya, untuk menekan pengeluaran, saya berniat mencari penginapan yang murah meriah. Dengan alasan, hanya buat tidur saja, ngapain yang mahal-mahal. Maka, saya pun berkeliling di sekitaran alun-alun tugu pahlawan. Dengan tujuan, saat santai bisa sekalian jalan-jalan. Namun, ternyata tarif hotel yang ada di sekitaran lokasi terbilang mahal pada saat itu.

          Maka, dengan terpaksa, saya mencari penginapan atau losmen. Dan, akhirnya bisa mendapatkan penginapan layaknya losmen, yang benar-benar murah. Losmen tersebut terletak tidak jauh dari bantaran sungai. Losmen yang mempunyai banyak kamar yang layaknya kos-kosan. Arsitektur losmen tersebut terbilang jadul. Tampilannya seperti bangunan gaya tempo dulu.

          Saya tidak berpikir macam-macam. Yang penting bisa tidur nyenyak, dan besok bisa dapatkan barang yang saya inginkan. Selanjutnya, pulang ke Ngawi, gitu aja pikiran saya.

          Udara panas Surabaya membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan, saking “sumuknya”, saya sampai mandi tiga kali malam itu. Dan, saya baru ingat bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon.

          Kamar penginapan yang tanpa AC dan kipas membuat saya gelisah. Namun, lantai kamar yang terbuat dari tegel membuat sedikit dingin ruangan. Sesekali, saya rebahan di lantai untuk menghilangkan rasa gerah.

          Yang menarik, lampu kamar dan kamar mandi justru dari lampu yang menyala warna kekuning-kekuningan. Jadi, meskipun dalam kondisi nyala, ruangan terasa seperti remang-remang ala warung kopi .

          Menjelang pukul 12.00 malam saya belum bisa memejamkan mata. Padahal, badan saya terasa lelah, setelah setengah hari berjalan. Saya berusaha memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Entah, apa yang membuat saya gelisah malam itu.

          Tanpa terasa, saya pun ketiduran di tempat tidur yang mempunyai kasur berisi kapuk randu. Saya merasakan nyenyak sekali tidur malam itu. Tetapi, menjelang pukul 03.00, rasa nyenyak tidur saya terganggu. Saya seperti mendengar langkah banyak orang mendekati saya.

          Saya berpikir bahwa suara tersebut berasal dari suara lain di luar penginapan. Namun, dalam keheningan malam, suara itu semakin jelas terdengar. Saya mencoba mencari asal suara tersebut. Berusaha untuk mendekatkan telinga saya ke tembok. Sayup-sayup saya juga mendengar suara mengerikan lain. Seperti orang (entah laki atau wanita) yang sedang menangis.

          Saya menyadari bahwa kamar sebelah terlihat sepi dan tertutup pintunya. Sejak, saya memasuki kamar saya. Saya pun bertanya dalam hati, “masa sih, malam-malam ada orang menangis”.

          Saya mengacuhkannya suara yang sangat mengganggu tersebut. Tetapi, suara tersebut terdengar jelas, hingga menjelang sholat shubuh. Saya mencoba tidur, tapi tidak bisa. Karena, rasa takut saya masih membayang, Setelah berdoa dan berdzikir, saya pun mencoba berkomunikasi seperti ada lawan bicaranya.

 

“Mbah, Bapak, ibu, mas utawi mbak. Nyuwun sewu nggih, Kulo amung numpang sare dateng mriki. Tujuan kulo mboten bade ngganggu alamipun panjenengan. Panjenengan lan kulo nggih makhlukipun Gusti Allah SWT. Laa haula wala quwwata illa billah. Ndang sumingkir nggih. Monggo, kulo bade sare, sepindah malih kulo bade sholat Shubuh. Allahu Akbar”

(Mbah, Bapak, ibu, mas atau mbak. Mohon maaf ya, saya hanya numpang tidur ke sini. Tujuan saya nggak mau ganggu alam kalian. Kalian dan saya sama-sama makhluk Gusti Allah SWT. Laa haula wala quwwata illa billah. Buruan pergi ya. Silakan, saya mau tidur, sekali lagi saya mau sholat Shubuh. Allahu Akbar”)

 

          Layaknya di film-film horor. Sang pengganggu malam saya tersebut bersedia untuk tidak mengganggu. Namun, yang menjadi aneh, terdengar suara seperti tembok digedor-gedor keras berkali-kali. Entah, mereka marah atau memberikan pertanda bahwa mereka gelo (menyesal) tidak bisa mengganggu saya.

          Setelah tembok kamar digedor berkali-kali, lambat laun suara mengerikan tersebut menghilang. Menyusul suara adzan bersahut-sahutan di luaran sana. Alhamdulillah, teror malam Jumat pun berhenti. Namun, rasa merinding masih terngiang hingga kini.  


Kembang Sepatu dan Misteri Kematian Saudara Kandung

 


Misteri kembang sepatu (Sumber: shutterstock)

 

 

“Kakakmu, Suijah sama Suidah itu anaknya cantik, kulitnya juga putih. Sedangkan, Sulikhin anaknya juga ganteng, putih dan tragal (lincah). Tapi, badannya lebih kecil dari kamu”

 

          Sepenggal kalimat, yang pernah bapak katakan sama  saya. Kalimat yang selalu saya kenang seumur hidup. Dan, membuat saya kangen dan berpikir, menerawang jauh. Bahkan, membayangkan seandainya 3 orang saudara kandung saya tersebut masih hidup hingga sekarang. Betapa bahagianya saya.

          Saya mempunyai 7 saudara kandung. Tiga kakak perempuan, satu kakak laki-laki, satu adik laki-laki dan dua adik perempuan. Kakak perempuan pertama, satu kakak laki-laki, dan dua adik perempuan masih hidup hingga sekarang. Kakak pertama yang perempuan sebagai ibu rumah tangga yang sukses. Dia tinggal di Brebes Jawa tengah, beranak 4 dan sudah mempunyai cucu (saya belum tahu jumlahnya).

          Sedangkan, kakak yang laki-laki sebagai PNS (guru sekolah pelayaran). Dia tinggal di Palabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat, mempunyai (kalau tidak salah 2 anak). Saya tidak tahu perkembangan lebih lanjut, karena hampir 8 tahun tidak pernah bertatap muka atau berkomunikasi.

          Dan, kedua adik perempuan sebagai ibu rumah tangga. Salah satu adik perempuan saya, bekerja sebagai TKW di Singapura. Namun, ketika pulang kampung, dia dan adik perempuan bungsu tinggal di Brebes Jawa Tengah. Kedua adik perempuan saya sudah mempunyai anak. Yang satu mempunyai 2 anak laki-laki, dan yang bungsu mempunyai 2 anak laki-laki kembar (tetapi, salah satunya sudah meninggal dunia).  

 

MISTERI KEMBANG SEPATU

          Nah, kakak ketiga dan keempat saya adalah perempuan. Dan, adik kandung (anak keenam) persis di bawah saya adalah laki-laki. Sampai tulisan ini saya hadirkan di hadapan anda. Masih ada misteri yang menyelimuti saya tentang kebenarannya. Namun, informasi yang pernah saya dapatkan dari bapak dan ibu saat saya masih SMA,  sungguh membuat saya merinding.

          Konon, dua kakak perempuan saya meninggal yang tidak wajar. Mereka adalah kakak beradik yang seperti saudara kembar. Umurnya berkisar satu tahun. Namanya anak perempuan jaman dulu. Mereka suka ngebolang di sekitar rumah untuk cari mainan bunga. Buat aksi jual-jualan khas anak cewek.

          Yang membuat saya miris, kedua kakak saya meninggal karena maaf “didulek” (kata yang unik di Brebes, yang berarti gangguan makhluk gaib yang nakal). Kedua kakak saya mendapatkan gangguan makhluk gaib, semacam Genderuwo yang ada di pekarangan angker tetangga. Yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya.

 

“Suijah sama Suidah meninggalnya, habis main andul-andulan di belakang rumahnya si X”.

 

          Itulah kalimat yang pernah saya dengar secara seksama dari Ibu. Andul-adulan ini berarti mainan yang diperoleh dari bunganya tumbuhan kembang atau bunga sepatu. Dan, tempat tumbuhnya bunga sepatu tersebut memang sungguh mistis. Jujur, saya sendiri tidak berani melewatinya di saat maghrib hingga malam hari.

          Ketika, saya hendak sholat berjamaah di masjid. Saya lebih memilih melewati jalan lain, yaitu jalan alternatif Pejagan - Ketanggungan.  Meskipun, waktu yang dibutuhkan lebih lama.

          Saya sendiri belum memahami secara pasti tentang kawasan yang dianggap mistis dan angker tersebut. Bapak dan ibu belum pernah memberikan informasi lebih dalam. Tetapi, kawasan tersebut “dulunya” adalah kawasan hutan kecil yang angker. Yang ditumbuhi berbagai macam seperti asam, bambu dan kembang sepatu yang tumbuh liar.  

          Bahkan, tidak jauh dari tempat tersebut, tersambung dengan makam keramat. Hal inilah yang menyebabkan suasana mistis makin kental di tempat itu. Didukung dengan “tanpa lampu penerangan”, membuat Kawasan tersebut makin horor.

          Bahkan, waktu SMP, ketika saya tanpa sengaja melewati kawasan tersebut sesudah sholat isya. Saya pernah kepergok penampakan yang membuat saya lari tujuh keliling. Ya, penampakan genderuwo yang berwajah sangat menyeramkan. Pengalaman mengerikan ini membuat saya tidak bisa tidur.

          Saya pun langsung menyimpulkan apa yang pernah bapak katakan tentang keangkeran tempat tersebut. Tidak salah rupanya, jika pengaruh gaib sangat kuat. Saat, dua kakak perempuan saya sedang bermain. Mungkin, mereka merasa terganggu atas kehadiran dua kakak perempuan saya tersebut.

          Sungguh, saya pun tidak pernah melihat wajah dua kakak perempuan saya tersebut. Yang saya ingat dari bapak dan ibu saya adalah dua kakak perempuan saya adalah anak yang lucu, cantik, berkulit putih. Dan, meninggal saat masih anak-anak.

 

KEDUA MATA MEREKAT

          Bagaimana dengan kematian adik laki-laki saya? Kata Bapak, saya dan Sulikhin mempunyai selisih umur sekitar 2 tahunan. Jika masih hidup, mungkin dia yang duluan mempunyai banyak anak. Informasi bapak, dia anak yang ganteng, putih kulitnya, badan kurus dan lincah.

          Seperti kedua kakak perempuan saya di atas, Sulikhin pun suka ngebolang di tempat-tempat yang dianggap angker. Namun, Namanya juga anak kecil maka dia tidak memperdulikan hal-hal yang berbau gaib.

          Sulikhin meninggal sebelum menginjak 5 tahun. Jadi, saya pun belum ingat betul wajahnya. Tetapi, “konon” wajahnya seperti adik perempuan saya, yang sekarang masih hidup. Yang membuat saya miris dan merinding dari kematian Sulikhin adalah pengaruh kuat dari makhluk halus. Atau, dari pengaruh sihir dari orang jahat yang tidak berperikemanusiaan. Entahlah, semua serba abu-abu.

          Tetapi, bapak memberikan gambaran jelas. Bahwa, sebelum meninggal, kondisi Sulikhin sungguh di luar nalar. Kedua mata Sulikhin mendadak tertutup, tidak bisa dibuka sama sekali. Seperti orang buta. Ketika bapak mencoba membuka kedua mata tersebut, kedua mata tersebut seperti merekat kuat. Jika dipaksa untuk dibuka, bagai kulit yang teriris. Mengerikan sekali.

          Sungguh, Sulikhin adalah anak kesayangan Bapak dan Ibu. Karena, saat itu, Sulikhin dianggap sebagai anak bungsu. Dan, berencana bapak tidak ingin mempunyai anak lagi. Siapa pun akan menyayangi sepenuh hati anak bungsu, melebihi dari anak-anak lainnya.

          Namun, nasib Sulikhin berakhir tragis. Ketika mendengar cerita bapak tentang kondisi Sulikhin sebelum meninggal, saya membayangkan betapa sakitnya dia. Semoga Sulikhin, Suijah dan Suidah ditempatkan di tempat terindah di sisi Allah SWT.  

          Itulah sebabnya, Bapak dan Ibu saya menyebut saya sebagai “Anak Bugang”. Anak yang diapit oleh kakak dan adik yang meninggal dunia. Konon, dalam kepercayaan orang Jawa, saya semestinya “diruwat”, untuk menghilangkan segala pengaruh jahat dan kesialan hidup.

          Unik, awal tahun 2000, saya pun pernah diramal secara gratis seorang paranormal hebat di Semarang. Ramalan melalui garis tangan saya menyatakan, bahwa saya akan mengalami masa pahitnya hidup yang paling hebat. Seperti, ditipu berkali-kali, kebangkrutan usaha berkali-kali, ditinggal orang-orang yang telah dibantunya, dijauhi oleh orang-orang tercinta dan lain-lain. Saat itu, saya hanya mengiyakan saja. Anggap saja sebagai wawasan pengetahuan.

          Meskipun, pada kenyataannya, ndilalah kersane Allah, saya benar-benar mengalami kejadian “persis” seperti apa yang pernah diramal oleh sang paranormal tersebut. Tetapi, saya menganggapnya bahwa hal tersebut bagaikan ilmu Cocokologi.

          Ibarat orang memprediksi sesuatu, dan benar-benar terjadi. Kita tidak lantas mempercayai bahwa orang tersebut adalah hebat. Itu hanyalah kekuasaan Allah SWT yang disalurkan kepada orang yang dikehendaki-NYA.    

          Alhamdulillah, saya hanya percaya sama Allah SWT, “Gusti ingkang Murbeng Dumadi”. Sang penguasa alam semesta. Saya selalu belajar banyak dari pahitnya hidup dalam DOA yang saya panjatkan. Saya hanya bermohon atas keridhoan Allah SWT. Tidak ada yang lain, selain DIA YANG MAHA KUASA. 


“Tulisan ini saya persembahkan buat almarhumah dua kakak perempuan Suijah dan Suidah, almarhum adik laki-laki Sulikhin. Semoga mereka tenang di sisi Allah SWT. Hadiah Surat Al Fatihah buat mereka. Ya, Allah, ampunilah segala dosa-dosa mereka. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin”.          

Monday, September 27, 2021

Mengungkap Misteri Keangkeran Makam Klampis yang Diblur Google

 

Makam Klampis di Desa Pejagan Brebes Jawa Tengah (Sumber: Google Maps/screenshot)

         

          Jalan Daendels dikenal dengan jalan Pantura (Pantai Utara Jawa). Jalan Daendels yang membentang dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Situbondo Jawa Timur), menyimpan sejarah kelam bangsa Indonesia.

          Masyarakat Indonesia dipaksa penjajah Kolonial Hindia Belanda untuk membuat infrastruktur jalan raya. Dengan tujuan untuk mempermudah mobilisasi penjajah, ketika mengangkut berbagai macam hasil hasil bumi, seperti tebu dan rempah-rempah.

          Jalan Daendels dikenal dengan kematian ribuan hingga jutaan pekerja paksa, karena terserang berbagai macam penyakit. Karena, mendapatkan perlakuan yang kejam (tidak manusiawi) dari penjajah. Dengan kata lain, jalur Daendels menjadi kawasan penyiksaan massal kakek buyut kita yang meninggal saat itu. Jangan kaget, jika kawasan jalan Daendels dikenal horor, menjadi tempat pembuangan mayat-mayat tidak berdosa.

 

HANTU KEMANGMANG

          Jika, sepanjang jalan Daendels saja sudah dikenal horor. Bagaimana dengan kondisi makam  yang berada di jalur jalan legenda tersebut? Sebelumnya, saya sudah membahas Makam Kedawung yang angker. Nah, tulisan kali ini, saya ingin menguak misteri Makam Klampis.

          Makam Klampis ini terletak persis di pinggir jalan Daendels, yang dibatasi jalan kereta api. Berlokasi di Desa Pejagan Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Seperti Makam Kedawung, Makam Klampis juga dikenal angker. Saya sudah mengenal keangkerannya sejak kecil.

          Selama 3 tahun belajar di SMP, saya wajib melewati jalan Daendels yang dekat dengan Makam Klampis tersebut. Sekitar tahun 1989-1992, saya tidak begitu merinding dengan keberadaan Makam Klampis tersebut.

          Saat SMP, Makam Klampis akan terlihat jelas dari jalan raya. Karena, belum adanya pagar rel kereta api seperti sekarang ini. Bukan itu saja, saya melihat ada jalan tembus di samping timur Makam Klampis yang tembus ke sawah. Jika, ditelusuri, maka akan sampai juga ke rumah kampung halaman saya.

 

“Makam Klampis sudah ada sejak dulu. Sudah terkenal angkernya”.

 

          Kalimat yang banyak keluar dari mulut masyarakat sekitar lokasi makam tersebut. Namun, yang unik, Makam Klampis tersebut tidak seperti pemakaman umum biasanya. Luasan makam tersebut terbilang kecil, kekira memiliki luasan 2.000 m2. Konon, makam tersebut telah ada sejak masa penjajahan Kolonial Hindia Belanda.

          Dulunya, tempat Makam Klampis adalah hutan. Pantas saja, jika keangkeran tempat tersebut, sering ada penampakan makhluk kera jadi-jadian. Menarik, Makam Klampis telah dihuni oleh Buyut Ki Pamalika kurang lebih 9 abad yang lalu. Tentu, masa itu saat terjadinya kekuasaan penjajah Kolonial Hindia Belanda.

          Saat siang hari, aura mistis tidak terasa. Saya pun tidak takut melewati kawasan tersebut dengan bersepeda ke sekolah. Namun, saya selalu diwanti-wanti oleh orang tua. Agar, tidak melewati kawasan tersebut saat malam hari. Tidak dipungkiri, aura mistis Makam Klampis sangat kuat. Didukung dengan kawasan tersebut yang gelap di awal tahun 90an.   

          Selama tiga tahun saya melewati Makam Klampis, belum merasakan pengaruh mistis yang sangat mengerikan. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Saya sekali mengalami pengalaman horor yang bikin merinding. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 1991.

          Saat itu, sedang ramai-ramainya kegiatan Pramuka Jambore Nasional 1991. Saya tidak begitu ngebet ikut Pramuka. Tetapi, saat itu, Pramuka menjadi kegiatan yang “wajib” dilakukan anak SMP. Kebetulan, saya terpilih untuk mengikuti ITAJAMNAS (Ikut Serta Jambore Nasional 1991) yang diadakan di lapangan sebuah sekolah dasar, dekat dengan SMP saya.

          Suatu ketika, saya terpaksa berangkat tugas pramuka tersebut dengan menggunakan sepeda pembelian bapak. Sepeda bekas yang dibeli dengan harga Rp25 ribu. Sepeda bekas, hasil dari pinjaman rentenir itu menjadi transportasi kebanggaan saya.

          Karena, saya tidak pernah mengalami hal gaib di kawasan Makam Klampis. Maka, saya pun dengan percaya diri melewati Makam Klampis setelah waktu maghrib. Sepanjang perjalanan, saya menikmati pemandangan sawah dan sesekali menghitung bantalan rel kereta api. Tidak disangka, perjalanan saya sampai persis depan Makam Klampis, yang tersekat oleh jalur kereta api.

          Saat itu, pandangan saya seperti “kamitenggengen” (terpukau, mata tidak mau berkedip). Dengan jarak kurang lebih 25 meter, saya melihat pemandangan makhluk astral berupa “kemangmang”. Hantu yang menyerupai Banaspati.

          Tetapi, Kemangmang itu merupakan hantu gaib yang berupa bola yang menyala-nyala sebesar kelapa. Di bagian tengahnya terdapat seperti lubang, seperti habis dimakan tupai. Kemangmang tersebut bergerak lincah di antara pepohonan yang ada di Makam Klampis.

          Saat itu, saya berucap istighfar dan doa-doa lainnya. Tidak lupa, mengayuh sepeda dengan gilanya. Saya hanya berdoa, agar kemangmang tersebut tidak mendekati saya. Bersyukur, doa-doa saya dikabulkan Allah SWT. Makhluk mengerikan tersebut tidak menganggu saya. Hanya sekedar menampakan diri,  yang membuat bulu kuduk merinding seketika.

          Dengan nafas terengah-engah, akhirnya bisa sampai ke tempat perkemahan. Setelah kejadian tersebut, saya merasa kapok. Tidak akan melewati lagi kawasan dekat Makam Klampis pada malam hari. Hingga saya tamat SMP di tahun 1992.

 

DIBLUR PIHAK GOOGLE 

          Bukan isapan jempol, banyak kejadian yang ganjil saat malam hari. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di dekat Makam Klampis, sudah sering terjadi. Masyarakat sekitar menganggap bahwa pengaruh mistis Makam Klampis memberikan andil terjadinya kecelakaan. Terlepas dari kekuasaan Allah SWT.  

          Saya penasaran ingin melihat kondisi Makam Klampis terkini. Setelah saya browsing di Google Maps, percaya atau tidak penampakan Makam Klampis diblur oleh pihak Google. Ibarat orang Betawi bilang “aje gile!”. Tentu, Google pasti mempunyai alasan kuat, kenapa Makam Klampis dibuat samar-samar. Saya pribadi beranggapan bahwa Makam Klampis menyimpan banyak misteri. Makanya, Google tidak memperjelas penampakan Makam Klampis di ranah digital (Google Maps).

          Seperti halnya tempat-tempat lain di dunia yang membuat heboh masyarakat. Maka, Google akan membuat samar-samar penampakan sebuah lokasi, seperti tempat pembunuhan berantai, tempat bunuh diri dan lain-lain.

          Masih menjadi misteri, kenapa Makam Klampis diblur Google. Mungkin, ada pembaca yang memahami alasannya, kenapa Makam Klampis dibuat blur pihak Google?. Sepertinya, lokasi ini menyita perhatian Google, bukan?  

 

Penampakan Makam Klampis yang diblur pihak Google (Sumber: Google Maps/screenshot)

 

          Beberapa menit, saya menjelajah wilayah Makam Klampis dan sekitarnya melalui Google Maps. Sepanjang utara jalan Daendels tersebut mulai menyemut rumah-rumah penduduk. Namun, di sekitar Makam Klampis, masih tidak jauh berbeda seperti ketika saya masih kecil. Makam Klampis masih sepi dari pembangunan rumah penduduk.

          Menurut opini saya, ada beberapa alasan, kenapa sepanjang selatan rel kereta api di sekitar Makam Klampis masih steril dari rumah penduduk. Yang ada hanyalah sawah-sawah penduduk, yang seringkali ditanami padi, bawang merah atau palawija.

          Beberapa kondisi yang bisa menjadi alasan masyarakat enggan untuk membangun rumah tinggal di sekitar Makam Klampis (selatan rel kereta api) seperti: 1) Wilayah dekat Makam Klampis menjadi wilayah hijau, yang tidak boleh dibangun perumahan; 2) Daerah sekitar Makam Klampis belum menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali; dan 3) Masyarakat masih percaya aura mistis di sekitar Makam Klampis.

          Percayalah, meskipun teknologi internet berkembang lebih jauh. Tetapi, manusia akan selalu berdampingan dengan dunia gaib. Kita harus mengimaninya sebagai makhluk Allah SWT.

          Makam Klampis menjadi satu titik air dari lautan maha luas kekuasaan Allah SWT. Bahwa, dunia mistis akan selalu ada di dekat kita. Maka, obat terampuh untuk menolak segala gangguan makhluk halus adalah DOA DENGAN SEGALA KERENDAHAN HATI. Ada tujuan yang Maha Indah, ketika ALLAH SWT menciptakan makhluk-NYA.


Sunday, September 26, 2021

CERITA ANGKER MAKAM KEDAWUNG YANG BIKIN MERINDING

 

Makam Kedawung yang berada di sebelah timur jalur Pejagan – Ketanggungan Brebes, Jawa Tengah (Sumber: Info Ketanggungan dan Sekitarnya/FB)

 

          “Singkur”

 

          Satu kata yang pantas disematkan buat Makam Kedawung. Makam tersebut berada di jalur Pejagan - Ketanggungan Brebes Jawa Tengah. Secara wilayah, maka Makam Kedawung masuk dalam wilayah Kecamatan Ketanggungan.

          Kata “Singkur” yang berarti angker. Kalau orang Jawa Tengah bagian timur seperti Solo, Semarang, dan Jawa Timur, lebih familiar menyebutnya “wingit”. Keangkeran Makam Kedawung sudah terkenal sejak saya masih kecil. Namun, karena jarak yang jauh dengan rumah saya, kekira 8 km. Maka, saya pun tidak pernah merisaukan kondisi angker Makam Kedawung tersebut. Bapak saya pun sering berpesan kepada anak dan saudaranya tentang keangkeran Makam Kedawung.

 

“Kalau lewat Makam Kedawung diusahakan jangan pas dhuhur atau mau maghrib. Bahaya, karena sering ada penampakan mengerikan di makam tersebut”.

 

          Saya masih ingat, ketika awal tahun 90an. Rumah saya mengalami musibah banjir selama 3 hari. Untung, banjir di dalam rumah hanya setinggi mata kaki orang dewasa. Ternyata, banjir tersebut terjadi karena luapan air dari waduk Malahayu. Yang mengalir melalui sungai  yang dekat dengan tempat tinggal saya, kekira 500 meter. Dan, perlu diketahui bahwa jalur sungai tersebut melewati “persis” di samping Makam Kedawung.

          Saat itu, bapak saya pernah ngomong. Entah, serius atau guyon. Namun, selama hidupnya, saya tidak pernah bapak bicara guyon untuk hal-hal yang berbau horor. Bapak menyatakan secara spiritual, bahwa banjir dikarenakan ada siluman ular raksasa yang membendung air sungai. Yang lokasinya, persis di timur Makam Kedawung. Benar atau tidaknya, hanya Allah SWT Yang Maha Tahu.

 

BELANJA BUKU P4 DAN GBHN

  

          Area bermain saya waktu kecil, paling jauh sekitar satu gang sebelah selatan dan utara gang tempat tinggal saya. Namun, ada kejadian yang saya ingat hingga sekarang adalah kekira tahun 1988 lalu. Saat itu, pasar yang ramai dan dekat dengan tempat tinggal hanya satu yaitu Pasar Ketanggungan.

          Ketika saya duduk di kelas 5 SD, saya dipercaya sekolah untuk mewakili Lomba Cerdas Cermat P4 di tingkat Kecamatan Tanjung. Saya dan dua teman saya pun digembleng untuk memenangkan lomba bergengsi waktu itu. Maka, untuk memahami berbagai pengetahuan tentang P4 dan GBHN. Saya berusaha untuk membeli secara swadaya buku tentang P4 dan GBHN terbaru. Untuk menghemat biaya, maka saya berniat untuk membeli buku yang ukuran saku.

          Untuk mendapatkan buku tersebut, maka bisa diperoleh dengan membeli di sebuah toko buku terkenal dekat Masjid Jami Ketanggungan. Entah, sekarang masih ada atau nggak, saya belum mendapatkan infonya. Karena, saya jarang mudik ke Brebes.

          Berbekal sepeda tua milik Bapak, saya pun beranikan diri untuk belanja buku P4 dan GBHN tersebut. Jarak rumah ke toko buku kurang lebih 10 km. Iseng-iseng ngabuburit sambil menunggu buka puasa. Saya berangkat dari rumah sehabis sholat ashar, sendirian. Saya pun memprediksi agar bisa sampai rumah tepat waktu buka puasa.  

          Jujur, saat itu saya masih ingat bahwa Makam Kedawung sangatlah angker. Tetapi, karena suasana masih cerah, maka saya pun beranikan diri. Perlu diketahui bahwa Makam Kedawung memang tergolong unik saat itu. Makam terletak pinggir jalan, tetapi suasananya benar-benar mistis. Saya melihat seperti kawasan makam yang terlihat lembab dan gelap. Karena, dipenuhi dengan pepohonan. Jadi, sinar matahari pun tak leluasa menyinari kawasan makam.

          Apalagi, ketika melewati Makam Kedawung dengan angkutan desa. Saya belum pernah melihat aktifitas di makam itu. Seperti, pemakaman orang yang baru meninggal. Atau, orang-orang yang berziarah ketika mau malam Jumat. Itulah yang memberi kesan saya, bahwa makam tersebut seperti makam peninggalan jaman dulu. Terlantar dan tidak dikelola oleh juru kunci.

          Percaya atau tidak, ketika melewati Makam Kedawung, pikiran saya berkecamuk tidak karuan. Tidak disangka, bulu kuduk merinding dan berdiri dengan semangat empat lima. Bahkan, saya tidak berani untuk menatap kondisi makam. Ketika, saya asik mengayuh sepeda. Begitu horornya Makam Kedawung di pikiran saya saat itu.

          Tidak disangka, buku P4 dan GBHN tidak ada di tempat toko buku yang terkenal itu. Oleh sebab itu, saya harus berkeliling menyusuri beberapa toko yang menjual buku yang saya cari. Akhirnya, buku yang saya inginkan bisa diperoleh,  20 menit menjelang sholat maghrib atau buka puasa.

          Jujur, pikiran saya bingung tujuh keliling. Membayangkan horornya, ketika melewati Makam Kedawung. Meskipun, kondisi sedang genting mental, saya pun beranikan diri untuk pulang. Dengan catatan, mengikuti orang dewasa yang naik sepeda ke arah jalan pulang.

 

“Pak, naik sepedanya barengan yah. Saya takut pak kalau pas lewat Makam Kedawung”.

 

          Itulah kalimat polos yang saya katakan pada seorang bapak. Ketika, hendak pulang ke Pejagan. Bapak tersebut memahami kegundahan saya. Karena, angkernya Makam Kedawung sudah terkenal. Bersepeda di belakang bapak-bapak, membuat rasa takut saya pelan-pelang menghilang.

          Sungguh, di luar dugaan bahwa di tengah perjalanan, sebelum melewati Makam Kedawung. Bapak tersebut bertemu dengan temannya, dan berhenti untuk mengobrol. Kalau saya harus menunggu pembicaraan mereka, maka belum dipastikan kapan selesainya. Maka, saya pun nekad melanjutkan perjalanan karena takut telat buka puasa. Juga, takut menjadi masalah orang tua di rumah.

          Rasa dag dig dug semakin bertambah lajunya mendekati Makam Kedawung yang semakin gelap. Sungguh, bulu kuduk langsung tegang seketika. Ketika, melihat penampakan, maaf, orang hitam bertubuh tinggi besar yang berdiri dengan santuy di sebuah pohon besar nan rindang. Matanya tajam melihat saya, saat saya tidak sengaja mencuri pandang melihat kawasan Makam Kedawung.

          Saya berdoa sebisanya. Dan, mengayuh sepeda seperti kesetanan. Untung, transportasi belum begitu banyak saat itu. Jadi, saya tidak takut menabrak kendaraan lain. Ngeri, saya tidak melihat seorang pun pengendara yang lewat. Sunyi dan senyap. Gaya mengayuh sepeda sambal berdiri pun saya lakukan, untuk mempercepat laju sepeda.

          Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mengatur nafas dengan baik. Setelah, Makam Kedawung semakin jauh dari pandangan mata. Pengalaman mengerikan “dikatoni” (ditampakkan wujudnya) makhluk halus penghuni.

 

CERITA HOROR TUKANG OJEK DAN BECAK

 

          Keangkeran Makam Kedawung sering menjadi pembicaraan hangat para tukang ojek. Yang sering mangkal, di pertigaan jalan raya Pejagan. Di mana, para tukang ojek tersebut sering membawa para perantau yang hendak pulang atau berangkat ke Jabodetabek. Biasanya, para penumpang ojek berasal dari desa-desa yang masuk dalam kawasan Kecamatan Ketanggungan.  

          Cerita horornya pun unik-unik. Ada tukang ojek yang pernah diganggu saat melewati Makam Kedawung. Yaitu, lampu sepeda motor mendadak mati dan motor sulit berjalan. Ada pengalaman yang mengerikan, yaitu tukang ojek dibelokan oleh makhluk halus yang nakal ke arah Makam Kedawung.

          Bahkan, yang paling mengerikan adalah pengalaman tukang becak yang habis mengantarkan penumpang dari Pejagan ke Ketanggungan. Sepulangnya dari Ketanggungan, becak yang ia kayuh terasa berat saat depan Makam Kedawung.

          Padahal, penumpang tidak ada. Ternyata, yang bikin berat becak adalah penumpang gaib yang naik tanpa ijin. Wanita berbaju putih ala Kuntilanak membuat takut sang pengayuh becak. Saking takutnya, becak tersebut ditinggal pergi begitu saja. Ia pun lari terbirit-birit ke arah perkampungan penduduk terdekat.

 

TABRAKAN TRAGIS

 

          Meskipun, jaman telah berganti. Kondisi jalan Pejagan - Ketanggungan makin dipenuhi penduduk. Tetapi, keangkeran Makam Kedawung tidak lekang dimakan waktu. Saya mendapatkan foto profil di atas, tampak Makam Kedawung  tidak jauh berbeda. Dan, tampak pohon besar itulah, saya pernah merasakan sensasinya horor penampakan makhluk besar dan hitam.

          Menurut saya, yang berbeda adalah kondisi jalan raya yang makin mulus. Kondisi kawasan makam juga tidak terlalu gelap. Karena, daun pohon-pohon yang pernah menutupi kawasan Makam Kedawung terlihat berkurang. Dengan kata lain, aura mistis perlahan hilang saat siang hari. Bagaiamana saat malam hari? Tentu, suasana horor tetap ada.

          Beberapa tahun lalu, tepatnya tanggal 27 Oktober 2019, pernah ada tabrakan tragis yang terjadi persis depan Makam Kedawung. Uniknya, kejadian tersebut saat siang hari. Di mana, supir mobil boks yang hilang kendali, dari arah Ketanggungan.

          Sopir mengantuk, dan mobil meluncur dan menabrak pagar Makam Kedawung. Sebelumnya, mobil boks menabrak sepeda motor yang searah dan yang berlawanan. Dari tabrakan tersebut, 4 orang meninggal seketika.

          Percaya atau tidak, banyak gangguan makhluk astral yang berada di sekitar Makam Kedawung. Seringkali, pengendara dibuat mengantuk atau pandangan terganggu. Padahal, kondisi siang hari. Oleh sebab itu, banyak orang menyarankan “untuk mengklakson kendaraan tiga kali terlebih dahulu”. Tindakan ini, konon berguna sebagai permintaan ijin ke makhluk astral. Agar, tidak mengganggu perjalanan manusia.

          Selain berdoa memohon keselamatan kepada Allah SWT. Saya pribadi tidak lupa melakukan aksi membunyikan klakson. Ketika, melewati sebuah jembatan atau kawasan makam. Kita tidak tahu bahwa ada makhluk astral yang merasa terganggu atas ulah kita. Dan, makhluk gaib tersebut berupaya untuk mengganggu perjalanan kita. Tentu, hanya kepada Allah SWT, kita berserah diri dan memohon pertolongan.    


Inagurasi Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi di Jawa Tengah

  Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi yang ada di PT. PT Sarihusada Generasi Mahardhika, Klaten, Jawa Tengah (Sumber: Danon...