Monday, April 27, 2020

"Makan di Luar" yang Banyak Makna

Makan di luar yang dilakukan oleh para SPG sebuah supermarket (Sumber: dokumen pribadi)




         "Makan di luar yuk". Kalimat yang enak didengar dan siapapun membayangkan yang serba enak. Kata "Makan di Luar" mempunyai arti yang ambigu. Ketika kalimat tersebut diucapkan oleh yang berduit. Maka, bayangan anda adalah makan di restoran dengan menu yang enak-enak. Apalagi, jika sang pengajak adalah relasi, kolega, teman atau orang yang disayangi.

            Namun, arti kalimat itu bisa berubah persepsi, ketika sang pengajak adalah orang yang notabene hidup pas-pasan. Dan, kalimat itu akan menjadi ambigu (dua arti). Bisa mempunyai makna yang indah, seperti yang diucapkan sang pengajak yang berduit. Namun, bisa mempunyai makna yang sebenarnya. Yaitu, makan di luar berarti makan yang dilakukan di luar kawasan dalam rumah. Bisa dilakukan di teras, halaman rumah atau tempat lainnya. Yang penting dilakukan bukan di area dalam rumah.

         Kini, kalimat "Makan di luar Rumah" justru semakin mempunyai makna yang banyak. Pertama, aktifitas makan yang dilakukan di restoran atau rumah makan. Tentu, aktifitas makan ini dilakukan oleh orang untuk menjaga gengsi atau maksud lainnya. Jadi, jika sang pengajak adalah orang yang berduit, habis dapat rejeki atau proyek. Maka, orang yang diajak, memahami benar bahwa Makan di Luar benar-benar mempunyai arti makan di restoran atau rumah makan.

            Kedua, Makan di Luar sama halnya dengan makna pertama. Namun, aktifitas ini, biasanya dilakukan oleh orang, kelompok atau keluarga yang sedang bepergian atau berwisata. Makan di Luar mempunyai makna istimewa. Biasanya, Dan, Makan di Luar mempunyai makna makan yang mewah. Karena, kebutuhan makan sudah dipersiapkan sejak dari rumah. Terlepas, makanan tersebut hasil dari beli di restoran atau warung. Atau, mungkin, makanan yang dimasak sendiri.

          Ketiga, makna ini identik dengan makna ketidakmampuan atau kondisi yang tidak nyaman. Jadi, jika anda disuruh makan di luar. Maka, kondisi dalam rumah biasanya tidak nyaman. Bisa, kondisi rumah yang sedang diperbaiki atau tidak muat banyak orang, seperti kos-kosan dan kontrakan. Atau, karena tidak punya tempat tinggal, maka aktifitas Makan di Luar bisa dilakukan. Dengan demikian, makna ketiga dilakukan karena faktor kondisi yang tidak nyaman.

         Keempat, Makan di Luar sering dijadikan plesetan untuk membuat orang lain memberikan banyak makna. Contoh, karena anda ingin mengajak teman kamu agar mau bergabung dalam petualangan misteri. Maka, anda memberikan rangsangan bahwa jika mau diajak bertualang, maka teman anda akan diajak makan di luar. 

           Dalam kondisi ini, maka orang lain bebas memberikan persepsi. Bisa, benar-benar makan di luar karena kondisi tidak nyaman. Bisa, makan di luar karena membawa makanan sendiri. Atau, makan di luar, di sebuah restoran atau rumah makan. Semua makna tersebut tergantung persepsi orang. Makna sejatinya dari kalimat tersebut akan menemukan titik temu, jika kedua pihak (pemberi informasi dan penerima informasi), sama-sama memahami apa maksud yang disampaikan. 

         Oleh sebab itu, kalimat "Makan di Luar" mempunyai banyak makna. Bisa membawa kesenangan. Tetapi, bisa menjadi ejekan. Semua tergantung sang pemberi informasi dan penerima informasi, Jika, penerima informasi telah memahami makna yang dimaksud sang pemberi informasi. Selanjutnya, akan terjadi kesepakatan makna yang dimaksud.

              Jadi, jika anda diberi informasi oleh orang lain untuk "Makan di Luar", maka pastikan bahwa kalimat tersebut jelas maknanya. Agar, tidak terjadi salah maksud dari kalimat yang disampaikan. Karena, kalimat "Makan di Luar" telah mempunyai banyak makna. Kenali makna yang dimaksud oleh sang pemberi informasi. Agar, anda tidak terjebak dari makna lain yang diinginkan sang pemberi informasi. Alih-alih, anda berharap makan di restoran mewah. Gak tahunya, anda hanya diberi nasi bungkus dan disuruh makan di teras kos-kosan. 

Berharap Kaya Dari Youtube

Berharap kaya dari Youtube (Sumber: dokumen pribadi)





            Setiap orang Berharap Kaya Dari Youtube. Youtube bukan hanya sekedar hobi. Tetapi, faktanya, Youtube telah membuat siapapun mabuk kepayang. Betapa tidak, dari Youtube, telah membuat banyak orang menjadi kaya. Namun, mengelola akun Youtube CASMUDI VLOG bukanlah "segampang membalikkan telapak tangan". Di dalamnya, penuh dengan pembelajaran serius. Agar, akun Youtube anda dinikmati banyak orang. Bisa menarik ribuan bangkan jutaan viewers.


PRANK


           Saya tidak akan bicara Youtube dari sisi para selebritis (public figure). Percaya atau tidak, nama tenar mereka sangat mendukung ketenaran akun Youtubenya. Tidak perlu menggunakan kata kunci terlalu ribet, menggunakan Tube Buddy atau tumbnail lainnya. Karena, fans saja sudah menunggu postingan mereka. Terlepas dari menarik atau tidaknya konten mereka.

           Saya akan berbicara dari "sisi orang biasa". Di mana, untuk membangun channel Youtube perlu perjuangan dan tetesan air mata. Dalam dunia peryoutuban, siapapun tidak bisa menerka konten apa yang akan menjadi trending. Di mana, video yang diposting mengundang banyak penonton. Namun, sebagai Youtuber, juga dituntut untuk adaptasi sesuaii dengan perkembangan jaman. 

            Meski, tren yang terjadi tidak menunjukan kontren yang "memanusiakan manusia". Sebut saja, konten PRANK tetap menjadi konten andalan para Youtuber, untuk menggali jutaan penonton. Meski, konten tersebut, banyak kalangan yang menganggap (maaf) konten ssampah. Karena, "ngerjain" orang lain demi menggali pundi-pundi.

        Sampai detik ini, saya belum "sreg" untuk membuat konten PRANK. Dan, saya pernah memposting masalah PRANK di akun Youtube saya CASMUDI VLOG. Saya memahami benar para Youtuber menggunakan konten PRANK untuk menggali penonton makin banyak. Muaranya, tentu mendapatkan penghasilan yang luar biasa. Bahkan, dengan berjubelnya penonton, peluang besar untuk menjadi kaya di Youtube bukanlah isapan jempol belaka.

          Selain PRANK, banyak konten yang mendadak menjadi trending. Seperti konten yang berisi tentang SOCIAL EXPERIMENT, Mendadak Gila dan lainnya. Jenis-jenis konten tersebut adalah beberapa contoh yang menarik banyak penonton Youtube. Anda tidak akan bisa memptediski bahwa konten anda akan menjadi trending. Namun, beberapa jenis konten yang telah saya sebutkan di atas, rerata mengundang banyak penonton. Akhirnya, menambah banyak Subscriber (pelanggan).


MENDULANG BANYAK VIEWERS 


             Untuk memonetisasi di akun Youtube memang susah. Saya harus beberapa kali mengajukan ke Youtube agar akun Youtube saya ditinjau (review). Saya telah menulis perjalanan saya menuju proses monetisasi Youtube di artikel sebelumnya. Banyak air mata untuk mencapai "monetisasi Youtube". Setelah monetisasi tercapai menjelang Tahun Baru 2020, sekarang mendulang viewers hingga ratusan ribu butuh perjuangan yang gigih. Apapun, saya lakukan, dari membuat Tumbnail yang menarik, hingga membuat kata kunci yang bisa terbaca di Google.

            Kenyataannya, viewers justru masiih suka mampir untuk menonton konten-konten seperti saya jelaaskan di atas. Apalagi, jika akun para selebritis. Tidak perlu ditanya lagi. Konten yang selalu menampilkan sisi kelebihan (kekayaan) selalu menarik para fans dan penonton lainnya. Penonton selalu merasa kepo ingin menikmati sisi kehidupan para selebritis. Makanya, yang selalu menjadi trending di Youtube "pasti tidak jauh-jauh dari para selebritis". Atau, Youtuber yang mempunyai subscriber dari ratusan hingga jutaan.

          Tentu, setiap Youtuber berharap besar seperti video Youtuber yang selalu trending di Youtube. Apapun dilakukan. Dari membuat konten yang sedang trending. Seperti, konten cover lagu "nyanyian Aisyah Istri Rasulullah". Yang trending menjelang Ramadan 2020, lebih dari 50 persen adalah konten cover lagu tersebut. 

             Masalahnya, membuat konten cover lagu bukanlah masalah gampang. Meski ada musik pengiring pribadi. Atau, anda jago aransemen musik. Jika tidak, maka anda tinggal ngikutin musik yang telah ada. Masalahnya, ada hak cipta yang dimiliki oleh pemilik lagu tersebut. 

          Sangat riskan jika ada tuntutan dari sang pemilik lagu. Apabila, anda tidak membeli royaltinya. Masih ingat kasus Atta Halilintar kan? Yang menggunakan cover lagu 'Syantik" yang dinyanyikan oleh penyanyi Siti Badraih (Sibad). 

           Sebelum saya mengalami monetisasi Youtube, saya mempunyai konten Cover Lagu yang penontonyya lumayan banyak. Sayangnya, cover lagu tersebut dikenai hak cipta. Untuk memuluskan proses monetisasi, maka saya menghapus lebih dari 10 video cover lagu. Sangat mengenaskan, karena ratusan jam tayang hilang seketika.

           Itulah sebabnya, sebelum saya mampu membeli royalti, saya belum mau membuat konten cover lagu. Padahal konten tersebut berpeluang besar mendulang ratusan hingga jutaan penonton. Tentu, mampu membuat kaya karena Youtube. Saat ini, konten Youtube saya, dipenuhi dengan konten traveling yang bisa menginspirasi banyak orang. Kenyataannya, puluhan konten traveling tersebut "belum mampu" mendulang penonton hingga ratusan ribu. 

           Membuat besar akun Youtube tentu ada ilmunya. Namun, siapapun anda tidak akan pernah bisa memprediksi konten apa yang bakal "boom". Kecuali, jika anda selebritas. Anda tidak perlu pusing-pusing memikirkan konten terlalu "njlimet". Karena, jika anda seorang artis, anda tinggal "room tour" kekayaan anda saja, akan banyak penonton. 

             Suatu saat, penonton Youtube akan senang menikmati konten yang bersifat pendidikan. Bukan hanya hiburan saja. Seperti Prank, Mendadak Gila, Pamer ATM. Pamer Mobil, dan lain-lain. Kapan? Biarlah penonton yang akan menjawabnya. Pelan tapi pasti, konetn yang berbau Politik mulai menjadi trending. Saya pun berharap besar bahwa konten Traveling saya akan menjadi trending. Meskipun, tidak harus menunggu Subscriber hingga jutaan. 

           Sejatinya, selain memberikan ilmu dan informasi yang bermanfaat kepada penonton. Setiap Youtuber juga Berharap Kaya Dari Youtube. Jadi, jika anda bisa kaya dengan membuat akun Youtube, maka saya pun demikian. Semoga Dewi Fortuna mampir ke saya. Agar, bisa kaya kayak orang-orang. Aaminn. 

Friday, April 24, 2020

Sejatinya, Mudik dan Pulang Kampung Berbeda

Sejatinya Mudik dan Pulang Kampung Berbeda (Sumber: dokumen pribadi)






"Kalau itu bukan mudik. Itu namanya Pulang Kampung. Karena, bekerja di Jabodetabek. Di sini mereka sudah tidak punya pekerjaan ya mereka pulang karena anak dan istri ada di kampung" (Presiden Jokowi. Istana Merdeka 22 April 2020)).


            Pernyataan Presiden Jokowi di atas sontak menjadi trending di media sosial. Perbedaan arti dari Mudik dan Pulang Kampung menjadi bahan pembiacaraan panas. Padahal, masalah yang remeh temeh. Namun, ketika masalah yang remeh temeh tersebut keluar dari orang nomor satu, maka selalu menjadi menarik. Bahkan, menjadi pro dan kontra para warganet (netizen).


Jokowi Diuji Pandemi


           Pernyataan perbedaan kata "Mudik" dan "Pulang Kampung" berawal dari acara yang digandrungi banyak pemirsa yaitu Mata Najwa. Ya, acara yang dibawakan oleh Host Spektakuler Najwa Shihab, selalu menjadi menarik untuk disimak. 

         Banyak kalangan menganggap bahwa acara Mata Najwa menjadi proses "pengulitan" para politisi. Pertanyaan yang selau menjebak dari sang Host. Bahkan, pertanyaan yang selalu mencecar. Untuk mencari titik lemah dari narasumber akan selalu dilancarkan. Bagi para politisi, sekali keseleo lidah, maka akan menjadi bulan-bulanan warganet.

               Dengan kata lain, acara Mata Najwa akan menjadi kuburan para politisi. Maka, ketika hadir di acara tersebut, bersiap-siaplah untuk menjaga konsistensi pendapat, tidak emosian dan smart. Maka, akan meladeni pertanyaan Najwa Shihab dengan santai. Namun, jika jawaban dari narasumber masih terkesan "ambigu", maka sang host akan terus mencecar pertanyaan selanjutnya. Hingga pertanyaan tersebut dijawab dengan jelas dan gamblang. 

              Hal itulah yang menimpa pada orang nomor satu Indonesia, Presiden Jokowi. Acara Mata Najwa yang tayang pada tanggal 22 April 2020 lalu. Di sebuah stasiun swasta naasional. Di mana, Najwa Shihab membahas tentang tema yang benar-benar menggigit dan nendang. "Jokowi Diuji Pandemi" menghadirkan narasumber utama dan tunggal, Presiden Jokowi. Sedangkan, acara Mata Najwa Shihab tersebut mengulas tentang wawancara eksklusif dirinya dengan Presiden Jokowi. Di mana wawancara dilakukan di Istana Merdeka pada tanggal 21 April 2020.

            Seperti biasanya, di awal wawancara, Najwa Shihab selalu memberikan pertanyaan yang membuat narasumber dijebak dalam jawaban. Pertanyaan tentang kondisi ego sektoral yang semestinya satu bahasa dari pusat ke daerah. Namun, kebijakan pemerintah dari atas ke bawah seperti tidak satu jalan. Kasus Ojol yang tidak boleh narik penumpang menurut peraturan Kemenkes. Tetapi, diperbolehkan untuk narik penumpang menurut peraturan Kemenhub. 

             Pertanyaan menggigit lainnya adalah masalah operasional KRL (Kereta Rel Listrik). Di mana, yang diusulkan secara kompak oleh kepala daerah di Jabodebek untuk dihentikan. Namun, KRL tersebut meski tetap berjalan, menurut Kemenhub. Alasan permintaan para Kepala Daerah adalah kondisi KRL tanpa terkontrol. Karena, bisa melanggar protokol kesehatan saat Pandemi Virus Corona, yaitu Physical Distancing. Berjejalnya penumpang menjadi alasan banyak kepala daerah.

              Pertanyaan tentang operasional KRL dijawab Presiden Jokowi dengan santai. Bahwa, perlu adanya lkebijakan yang mementingkan masalah rakyat. Jika KRL dihentikan, bagaimana nasib rakyat kecil yang masih mengandalkan transportasi KRL. Presiden Jokowi meyakinkan bahwa jika para kepala daerah benar-benar siap menjamin bantalan untuk jaminan sosial, maka operasional KRL siap dihentikan. Presiden Jokowi menjawab dengan santai dan gamblang. Meski, jawaban tersebut, menurut saya "berbeda" pandangan dengan permintaan para kepala daerah Jabodebek.


Mudik dan Pulang Kampung


              Pertanyaan selanjutnya yang "nendang" banget adalah masalah mudik. Menurut saya, pertanyaan dari Najwa Shihab tersebut membuat perubahan gesture dari Presiden Jokowi. Mengapa? Saya melihat posisi duduk sang Presiden berubah. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Presiden Jokowi mesti membenarkan posisi duduk terlebih dahulu. Saya merasakan bahwa pertanyaan tersebut sangat serius di mata Presiden Jokowi. Makanya, beliau harus membenarkan posisi duduk terlebih dahulu, agar beliau merasa nyaman saat menjawabnya. 

            Menurut Najwa Shihab bahwa larangan mudik dianggap sebagai kebijakan yang terlambat. Karena, banyak perantau di kota-kota besar Jabodetabek yang "curi start" untuk mudik lebih awal. Pernyataan yang diungkpkan oleh Najwa Shihab adalah:
  
"Data dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) hampir 1 juta atau sekitar 900.000 orang yang sudah mudik. Kalau Pemerintah baru akan melarang apa tidak terlambat karena sebaran sudah terjadi". 

              Mendengar dari pernyataan Najwa Shihab, Presiden Jokowi dengan penuh keyakinan merespon bahwa tindakan tersebut bukanlah Mudik. Tetapi, sebagai aktifitas Pulang Kampung

"Kalau mudik itu di hari Lebarannya. Ya beda. Untuk merayakan Idul Fitri". 

             Pernyataan Presiden Jokowi pun disangkal oleh sang host. Najwa Shihab menyatakan bahwa Mudik dan Pulang Kampung adalah aktifitas yang sama. Kedua aktifitas tersebut hanyalah Perbedaan waktu. 

           Pernyataan perbedaan arti dari Mudik dan Pulang Kampung inilah yang kemudian ramai menjadi perbincangan warganet. Dan, menjadi trending topik di media sosial. Kita memahami bahwa arti dari mudik dan pulang kampung menurut Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) yang di-update pada bulan Oktober 2019 mempunyai arti yang sama. 

            Namun, arti "mudik" mempunyai dua arti seperti yang tertulis di KBBI tersebut. Di mana, salah satu arti dari mudik tersebut memberikan keterangan bahwa arti mudik bisa sama dengan pulang kampung karena ungkapan yang sering muncul dalam masyarakat. 

          Dengan demikian, Presiden Jokowi tidak salah jika menyatakan bahwa arti mudik dan pulang kampung berbeda. Pernyataan tentang perbedaaan arti mudik dan pulang kampung juga diperkuat oleh ahli bahasa dan Guru Besar Linguistik dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat (detik.com, 23/4/2020). 

         Menurut pendapat saya, arti mudik berarti menuju udik (me-udik) atau menuju ke kampung halaman. Di mana, waktu yang dibutuhkan saat di tempat yang dituju (kampung halaman), bukanlah membutuhkan waktu yang lama. Dengan kata lain, orang yang menuju ke kampung halaman hanyalah sementara. Atau, mereka hanya singgah untuk sementara waktu. Dan, akan kembali lagi ke tempat awal (tempat perantauan).

         Dan, ungkapan mudik ini justru diungkapkan banyak orang saat menjelang Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri. Mereka yang melakukan aktifitas Mudik tidaklah selamanya tinggal di kampung halaman. Tetapi, tinggal beberapa waktu untuk merayakan Lebaran. Dan, kemudian mereka kembali lagi ke kota untuk mencari nafkah. 

              Sedangkan, kata Pulang Kampung mempunyai arti pulang ke kampung halaman. Setelah mereka tinggal dalam waktu yang tidak di ditentukan di tempat perantauan. Pulang Kampung menunjukan aktifitas menuju ke kampung halaman untuk jangka waktu yang lama dan tetap. 

            Dengan kata lain, mereka tidak ada keinginan lagi untuk kembali ke tempat perantauan. Karena, di kampung halaman, mereka sudah mempunyai tujuan yang jelas. Di mana, tujuan tersebut hendak di lakukan untuk aktifitas selanjutnya. Sebagai contoh, setelah ia kuliah selama 7 tahun meraih gelar Sarjana dan Masternya di Jakarta, dia pulang kampung ke Solo Jawa Tengah. Berarti, mereka pulang ke kampung halamannya. Dan, tidak ada keinginan lagi untuk kuliah sarjana dan masternya kembali di Jakarta. 

            Dari penjelasan di atas, sejatinya arti Mudik dan Pulang Kampung sangatlah berbeda. Namun, tujuan dari kedua aktifitas tersebut adalah sama yaitu sama-sama menuju kampung halaman. Itulah sebabnya, masyarakat kita "sudah terbiasa" mengungkapkan arti Mudik dan Pulang Kampung sebagai aktifitas yang sama sejak puluhan tahun lamanya. Sama-sama menuju ke kampung halaman. 

             Jadi, tidak perlu kaget dan nyinyir jika Presiden Jokowi menjelaskan perbedaan arti dari Mudik dan Pulang kampung. Meskipun, akhirnya menjadi "blunder". Sepertinya, pernyataan Presiden Jokowi menyalahi anggapan masyarakat yang sudah mengakar selama berpuluh-puluh tahun. 

            Presiden Jokowi menyatakan Mudik dan Pulang Kampung berbeda karena adanya perbedaan alasan dan waktu yang terjadi dari mudik dan Pulang Kampung. Itulah sebabnya, Presiden Jokowi menyatakan bahwa orang curi start ke kampung halaman dinyatakan sebagai pulang kampung. Karena, ada alasan yang kuat di kota yaitu sudah tidak ada pekerjaan lagi. Secara otomatis, mereka yang ke kampung halaman tidak akan ke kota lagi. Karena, harapan bekerja di kota sudah tipis, bahkan tidak ada sama sekali karena PHK. 

             Sedangkan, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa mereka yang ke kampung halaman menjelang Lebaran sebagai mudik. Karena, altifitas tersebut dilakukan untuk memenuhi ritual tahunan dengan memohon maaf kepada keluarga besarnya di kampung halaman. Serta, waktu yang dibutuhkan di kampung halaman hanyalah sementara. Karena, setelah kemeriahan Lebaran usai, mereka akan kembali lagi ke kota untuk mencari nafkah kembali. 

            Jadi, menurut saya, Mudik dan Pulang Kampung adalah hal yang sama dalam prosesnya. Yaitu, aktifitas menuju ke kampung halaman dengan berbagai jenis transportasi. Namun, Mudik dan Pulang Kampung juga akan mempunyai arti yang berbeda,. Jika, dilihat dari alasan kuat yang mendasari saat di perantauan, durasi waktu di kampung halaman dan waktu untuk melakukan aktifitas perjalanan ke kampung halaman. 

             Semoga mencerahkan, dan jangan nyinyir lagi ya.


Kopi Pahit, Kamu Manis

Kopi Pahit, Kamu Manis (Sumber: dokumen pribadi)





            Era digital telah mengalami pergeseran. Gaya hidup Leisure Economy membuat generasi milenial hobi nongkrong. Salah satu tempat nongkrong yang lagi hits adalah tempat hangout buat ngopi. Bahkan, tempat buat ngopi sedang menjamur. Nongkrong di tempat ngopi bukan hanya sekedar untuk ngopi. Tetapi, tempat ngopi ini juga buat menjalin silaturahmi, melakukan deal bisnis dan reuni. Bahkan, tempat ngopi ini juga bisa mencari pasangan. Ya, bagi generasi milenial yang tidak ingin galau, maka tempat ngopi bisa menjadi tempat PDKT. Asik, kan?

             Kopi yang asli terasa pahit. Tetapi, kopi itulah yang menjadi idaman para penikmat kopi. Seperti, kalian yang suka kopi espresso, maka pahitnya kopi menjadi indah. Bahkan, jika kalian yang lelaki sejati sedang menikmati kopi. Maka, rasa pahitnya sungguh nikmat. Kalian bisa ngomong dengan mantap pada pasangan atau calon gebetan anda, "kopi pahit, kamu manis". Kenapa kopi tetap pahit? Karena, manisnya sudah pindah ke senyum kamu. Cie-cie!

            Banyak orang bilang bahwa minum kopi bisa menimbulkan inspirasi. Ide yang tersembunyi, muncul seketika. Bahkan, bagi para Coffe Addict, maka jika gak ngopi, kepala terasa pusing keliyengan. Kerja jadi malas. Pijakan bumi terasa mau terbelah, Kata-kata gombal cinta yang hendak diungkapkan terasa lupa seketika. Jadi, suasana menjadi makin garing.

             Lebih ngeri lagi, jika belum ngopi, mereka gak mau sarapan atau makan siang. Karena, dengan ngopi, perut akan terasa kenyang, jadi tidak mau makan. Wow, bisa irit pengeluaran dong. Bukan itu saja, konon dengan rajin ngopi bisa menjadi sarana untuk diet. Masa sih? Ya, iyalah, wong habis ngopi gak mau makan.

                Banyak generasi milenial yang begitu menikmati kopi. Namun, hati mereka masih galau. Emang kenapa? Ya, gimana gak galau. Kopi sudah di tangan kanan, tetapi gebetan sudah di tangan orang lain. Tetapi, gak perlu galau dong. Kan, kalian sudah ngopi. Dengan ngopi, pikiran kalian jadi lebih luas. Dunia tidak selebar daun kelor. Jadi, kalai dia masih di tangan orang lain, ya, kalian ngopi aja dulu. Ngopi ngapa!



 Kopi di tangan kanan, kamu masih di tangan orang lain (Sumber: dokumen pribadi)



             Aroma kopi memang telah membuai banyak orang. Bahkan, bagi kalian yang rajin ngopi di Starbuck, anda gak merasa keberatan untuk membayar mahal harga segelas kopi. Di mana, harga segelas kopinya bisa berkali lipat dengan segelas kopi sachetan. Kalian asik aja. Sebab dengan ngopi di tempat yang bermerek, maka gengsi kalian makin naik, bukan? Bukan hanya sekedar tempat nongkrong. Tetapi, sudah menjadi gaya hidup (lifestyle).

               Itulah hebatnya kopi, dari harga yang beberapa ribu per gelasnya. Hingga puluhan ribu per gelasnya. Semuanya punya nilai dan segmen pasar maasing-masing. Tujuannya hanya satu, menikmati secangkir atau segelas kopi, yang mampu menimbulkan banyak ispirasi. Apalagi, kalau mata anda lagi ngantuk, maka secangkir kopi mampu menahan rasa ngantuk anda. Dan, kreatifitas muncul seketika.

              Kopi selalu menjadi perbincangan menarik. Banyak kopi dari beberapa daerah Indonesia yang melegenda dan diakui dunia. Sebut saja kopi khas Gayo, kopi Kintamani Bali dan lain-lain. Jika, kalian jalan-jalan ke Bali. Dan, mampir di agrotourism perkebunan kopi Luwak. Maka, secangkir kopi bisa dihargai ratusan ribu. Banyak orang yang berani membeli ratusan ribu hingga jutaan untuk mendapatkan kopi tersebut buat oleh-oleh. Juga, buat teman nongkrong bareng kolega, teman, partner bisnis dan lain-lain. 

                 Banyak orang tidak peduli mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk mendapatkan kopi idaman. Kopi yang telah menjadi produk ekspor makin digandrungi masyarakat dunia. Dari biji kopi pilihan, maka pundi-pundi mengalir deras. Muaranya, pengusaha kopi bersemangat untuk menanam kopi. Dan, kopi itu bukan hanya mengalir ke luar negeri. Tetapi, kopi itu juga bisa anda nikmati di beberapa kedai kopi pilihan anda. Dan, di kedai kopi itulah, anda bisa hangout bersama orang-orang yang kalian sayangi. Dan, dari kedai kopi, gaya hidup baru di era milenial makin menggeliat. 

                  "Kopi memang terasa pahit, tetapi kamu harus tetap manis". Mari kita nikmati kopi brosis! Sudah ngopi? Ngopi ngapa!   


Thursday, April 23, 2020

Ramadhan Dalam Keprihatinan

Marhaban Ya Ramadhan Dalam Keprihatinan (Sumber : dialeksis.com)






             Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat datang bulan yang Mulia. Bulan yang Penuh Keagungan. Setelah mencermati Sidang Isbath yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI. Maka, Insya Allah, seluruh umat Islam akan mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan mulai Hari Jumat tanggal 24 April 2020 besok. 

           Bulan Ramadhan 1441 H ini akan menjadi sejarah. Di mana, bulan Ramadhan yang dilakukan di era milenium. Dan, bulan Ramadhan Dalam Keprihatinan di tengah Pandemi VIrus Corona


Dilarang Mudik

            Seperti biasanya, menjelang bulan Ramadhan, umat Islam akan berziarah ke makan leluhur, keluarga, kerabat dan teman yang telah meninggal dunia. Bagi para perantau, maka mereka akan meluangkan waktunya untuk mudik tahap awal. Mereka akan bernostalgia dengan keluarga bersarnya. Namun, tujuan utamanya adalah berziarah. Agar, mereka selalu mengingat kematian. Juga, mendoakan secara langsung keluarga mereka di makamnya. Sehabis itu, mereka akan balik ke kota lagi. Melakukan puasa Ramadhan di kota (perantauan).

            Sayangnya, saat Pandemi Virus Corona, maka ritual ziarah kubur di makam keluarga yang sudah meninggal menjadi hal yang tidak boleh dilakukan. Mengapa? Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bahwa para perantau DILARANG MUDIK. Dengan tujuan utamanya, untuk menekan penyebaran virus Corona lebih luas. Bahkan, mulai tanggal 24 April 2020, Pemerintah akan menerapkan hukuman bagi perantau yang membandel untuk mudik.

             Mereka yang terpaksa atau bandel untuk mudik, setelah ada larangan mudik atas kebijakan Pemerintah. Maka, Pemerintah tidak akan segan-segan untuk mengembalikan mereka ke kota awal perjalanan. Bukan itu saja, di beberapa kota tujuan mudik telah disediakan Check Point untuk mengecek kondisi perantau secara ketat. Tidak ada ampun lagi, bagi mereka yang memaksa mudik, langsung akan ditetapkan sebagai ODP (Orang Dalam Pemantauan). Serta, akan melakukan isolasi selama 14 hari lamanya. 

             Menurut  Presiden RI Jokowi dalam laporan persnya di media televisi menyatakan bahwa ada sekitar 68% perantau yang tidak mudik. Kemudian ada 24% perantau yang memaksa mudik, serta ada 7% perantau yang terlanjur mudik. 

           Adanya larangan mudik tentu menghilangkan ritual umat Islam untuk ziarah kubur, yang telah dilakukan sejak dulu. Bukan itu saja, di saat Pandemi Virus Corona juga adanya larangan untuk berziarah. Karena, berpeluang besar menimbulkan kerumunan. Oleh sebab itu, bagi perantau yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya, maka hanya mendoakan dari rumah, untuk keluarga yang sudah meninggal dunia. Sementara, bagi peziarah yang makam keluarganya di perkotaan, maka ritual ziarah kubur sangat dilarang.   


Ramadhan Di Rumah Saja

            Setelah adanya larangan mudik dan berziarah. Maka, umat Islam juga dilarang untuk melakukan sholat berjamaah dan Tarawih dan kegiatan Ramadhan lainnya. Dengan tidak adanya kegiatan tersebut, maka tidak memgurangi kekhusuan beribadah puasa. 

             Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. DR. Nasarudin Umar dalam pernyataannya di media televisi memberikan oase. Meskipun, pada dasarnya, umat Islam ingin menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita. Namun, dengan adanya Pandemi Virus Corona, maka umat Islam dianjurkan untuk beribadah bulan Ramadhan di rumah saja. 

            Percayalah, doa-doa yang diucapkan dari umat yang beribadah akan diijabah oleh Allah SWT. Juga, dengan kekhusuan beribadah di bulan Ramadhan, maka tidak akan mengurangi nilai. Dibandingkan, dengan ibadah di bulan Ramadhan sebelumnya. Kita semua ingin merayakan bulan Ramadhan tahun 2020 dengan suka cita. Namun kita meski mematuhi kebijakan Protokol Kesehatan yang diterapkan oleh Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal ini dilakukan untuk kebaikan bersama. Agar, Pandemi Virus Corona cepat berakhir.

                 Kita menyadari bahwa Bulan Ramadhan tahun 2020 dilakukan dalam keprihatinan. Prihatin karena kita tidak bisa merayakan dengan suka cita, seperti bulan Ramadhan sebelumnya. Tetapi, kita priharin karena kita lebih peduli akan kesehatan bersama. Tiada gunanya kita merayakan Ramadhan dengan suka cita, tetapi menggadaikan kesehatan kita. Allah SWT Maha Mengetahui bahwa kita melakukan bulan Ramadhan dengan khusu dan ikhlas. Meski, dalam serba kekurangan. Namun, nilai Bulan Ramadhan akan tetap indah.

Selamat menunaikan bulan puasa di bulan Ramadhan. 

Monday, April 20, 2020

Kosku Istanaku

Kosku Istanaku (Sumber : Dokumen Pribadi)





        "Baiti Jannati". Rumahku adalah Surgaku. Ungkapan indah yang sering kita dengar dari perjalan hidup suri tauladan Nabi Muhammad SAW. Sebuah kisah indah yang memberikan pelajaran berharga buat siapapun. Di mana, kondisi dan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dipenuhi dengan peristiwa, yang bisa menjadi conton buat manusia. Makanya, ungkapan,"Rumahku adalah Surgaku" menjadi daya tarik bagi manusia.


Kosku Istanaku

         Lantas, bagaimana ketika manusia mengarungi kehidupan di dalam sebuah kamar kos. Mampukah, mereka bisa menyatakan ungkapan indah, "Kosku Istanaku". Apapun kondisi dan perjalanan hidup dari kamar kos, harus mampu menciptakan kisah indah. Bahkan, dari kamar kos, bisa menghasilkan kreatifitas dan ide brilian.

             Saya tidak akan membicarakan masalah pengalaman kos saat masih lajang. Tetapi, pada tulisan kali ini, saya akan menceritkan pengalaman kos saat sudah berkeluarga. Khususnya, saat kos di pulau Seribu Pura, Bali. Ada pepatah bijak bahwa jika ingin menikmati pengalaman hidup yang sesungguhnya, maka merantau adalah jalan yang harus ditempuh.

            Dengan kos bersama keluarga di rantau orang. Atau, kos sendiri saat bekerja atau kuliah. Maka, kemampuan beradaptasi dalam menjalani hidup menjadi lebih kuat. Dibandingkan dengan orang yang tidak pernah kos sama sekali. Pengalaman kos di daerah orang akan membuat mental seseorang menjadi lebih kuat.

            Seperti sudah saya jelaskan di artikel-artikel sebelumnya. Bahwa, saya merantau ke Bali sejak tahun 2009. Sudah 11 tahun, saya merasakan bagaimana kerasnya hidup di tanah perantauan. Bagi anda yang menjadi karyawan dan lajang, maka "mungkin" tidak terlalu berat menjalani hidup. Namun, ketika anda sebagai pekerja mandiri dan berkeluarga, maka kehidupan akan terasa Nano-nano, manis asem dan manis.

             Hingga artikel ini saya buat, saya sudah mengalami empat kali perpindahan kos. Dan, sekarang adalah kos yang kelima. Setiap kos selalu memberikan cerita menarik. Ada kenangan indah, mengharukan, dan menyedihkan yang selalu terekam dalam kehidupan. Dan, sejak menikmati elegi kos di pulau Dewata, saya mengenal dunia menulis di blog. Tetapi, hal yang menarik adalah setiap kos yang saya tempati selalu memberikan inspirasi.


Kos Mania

            Kamar kos pertama, saya menempati sebuah ruangan kecil berukuran kurang lebi 3m x 4m di daerah Ubung Denpasar. Dari kamar kos ini, saya belajar banyak tentang keyakinan untuk membuat sebuah bisnis. Kamar kos yang hanya berlantai tegel ini terasa dingin. Hidup hanya sebatang lidi, karena anak dan istri belum dibawa ke Bali.

             Untuk tidur yang nyaman dengan tarif kos 250 ribu per bulan ini, terasa tak lengkap tanpa tikar. Saya berusaha merayu bapak kos untuk mendapatkan tikar pandan secara gratis. Meski, tikar itu bukanlah fasilitas kos. "Kalau kurang apa, bilang aja mas" kata pak Gede, sang bapak kos. Dan, inilah menjadi sejarah saya memulai tinggal di Bali. Kenapa? Saat hujan, maka langit-langit kamar paling pojok ada yang bocor. Saya harus tidur agak ke pinggir, agar tetesan air hujan tidak membasahi tubuh. 

             Kos pertama tidak bertahan lama. Hanya bertahan kurang lebih 3 bulan. Setelah itu, saya berpindah ke kamar kos yang lebih besar. Ya, saya menyewa sebuah rumah besar di kawasan Ubung Denpaasar. Kondisi rumah tersebut sudah saya tulis di artikel sebelumnya yang berjudul Rumah Angker Ubung

          Di kos besar ini, saya belajar banyak tentang bisnis. Meski, akhirnya bisnis saya "nyungsep". Dan, dari kos besar inilah, saya memahami hidup, dengan menjadi karyawan perusahaan orang lain. Dengan fasilitas lumayan mewah, maka jabatan di level Managerial menjadi kebanggaan.

             Saya menemukan jalan terbaik untuk melanjutkan kuliah lagi. Di mana, masa kuliah yang normal ditempuh dengan waktu 4-5 tahun. Bahkan ada yang sampai 7 tahun. Namun, berkat ketekunan saya, maka saya mampu menempuh masa kuliah hanya dengan waktu tempuh 2,5 tahun. 

         Dan, dari kos besar inilah, sebuah pengalaman pahit terjadi. Saat mencari SD untuk pindahan anak saya. Bayangkan, sekolah anak saya waktu di Ngawi Jawa Timur adalah sekolah paling favorit. Namun, ketika pindah ke Bali, untuk mencari sekolah pindahan, sangat susah sekali. Mencari sekolah favorit di Bali hanyalah mimpi. Saya mendatangi kurang lebih 5 SD, dan semuanya menolak. 

             Pihak sekolah sepertinya "menyepelekan" prestasi atau nilai rapor anak saya. Ketika saya mendatangi sekolah terakhir, pihak kepala sekolah mau melihat prestasi yang diperoleh anak saya. Saat itulah, beliau langsung mengiyakan untuk menerima pindahan sekolah anak saya. 

             Kos yang ketiga adalah kos yang sangat menarik. Mengapa? kamar kos yang berlantai tegel dengan luas ruangan yang sepertiga luasnya dari kos besar Ubung. Luas  kos besar Ubung hampir separuh lapangan futsal. Kos yang ketiga ini berada di kawasan jalan Ahmad Yani Utara Denpasar. Kata orang, kamar kos ini membawa banyak hoki. Meskipun, masalah hoki adalah urusan Allah SWT. Saya mulai menekuni dunia blog. Bahkan, dari kos yang tampak klasik (rumah tua) ini banyak memberikan prestasi brilian. berbagai kejuaraan lomba menulis, tercipta dari kos ini. 

               Namun, dari kos inilah, kepedihan harus saya alami. Saya mengalami patah tulang tangan kanan. Karena, kecelakaan di kawasan Sukawati Gianyar. Kecelakaan yang dialami saat saya bekerja sebagai Kepala Cabang sebuah perusahaan investasi. Akibat kecelakaan, saya tidak bekerja kurang lebih 4 bulan untuk pemulihan. Itulah sebabnya, saya pernah mengalami tunggakan pembayaran kos selama 3 bulan. Untungnya, ibu kos yang berprofesi sebagai satpam hotel baik hati. Meski, drama caci maki terjadi, saat saya memutuskan untuk berpindah kos lagi. Karena, kondisi kos yang mulai tidak kondusif.

                Kos selanjutnya adalah kos yang berada di kawasan Monang Maning Denpasar. Kawasan yang mulai macet karena kaum urban. Ilustrasi artikel yang ada di atas adalah penampakan kamar kos ini. Sama seperti kos sebelumnya, di kamar kos ini juga melahirkan banyak prestasi. Dan, prestasi yang brilian adalah 10 besar Lomba Menulis Hemat Energi yang diadakan oleh perussahaan migas TOTAL. Sebelum diakuisisi oleh Pertamina. 

            Kos tersebut memberikan saya banyak job dalam dunia blog. Namun, kebutuhan hidup juga semakin banyak. Ketahanan hidup diuji. Saya pernah tertipu dalam sebuah bisnis, karena terlalu percaya sama teman. Juga, banyak pengeluaran yang tidak terduga sebelumnya. Salah satunya adalah besaran tagihan PLN bulanan yang selalu tidak masuk akal. Saya sering beradu argumen dengan pemilik kos. Tapi, sepertinya tidak pernah diindahkan. Hal itulah yang membuat saya memutuskan untuk pindah kos. 

                 Selanjutnya, kos terakhir adalah, tempat kos saat saya menulis artikel ini. Mencari kos ini tidaklah mudah. Beberapa hari, saya berkeliling untuk mendapatkan kos yang cocok versi anak saya. Sebenarnya, anak saya menghendaki untuk mencari rumah. Kecil pun tidak masalah. Namun, mencari rumah yang dibayar bulanan, bukanlah perkara mudah. Bagai mencari jarum dalam jerami. 

             Menurut anak saya, tempat kos terakhir ini membuat betah. Karena, suasana yang tidak terlalu bising. Meski, tagihan PLN yang tidak masuk akal setiap bulannya. Sebenarnya, saya ingin pindah kos lagi. Tetapi, anak dan istri memberikan saran bahwa tidak mudah untuk pindah kos lagi. Dengan, bawaan kos yang selalu melibatkan 2 mobil pick up. Bukan itu saja, saya berharap agar anak saya bisa kuliah tahun ini. Karena, tahun kemarin sudah istirahat. Nah, sambil menunggu "nasib baik" anak saya, saya bertahan di kamar kos terakhir.

             Kos terakhir juga memberikan banyak prestasi. Terakhir adalah Juara V Lomba Menulis yang diadakan oleh media Bisnis Indonesia. Sebuah prestasi yang telah menyisihkan ribuan peserta. Inilah yang menjadi kebanggaan saya. Juga. saya dipercaya atau didaulat menjadi narasumber di beberapa kesempatan, untuk sharing tentang blog. Serta, saya terlibat dalam program pemerintah untuk media sosial. 

             Namun, di balik prestasi yang membanggakan, kos terakhir ini juga memberikan cerita sedih. Ide start up untuk E-Learning tentang dunia Blog yang bernama Blogger Pro masih belum bisa dieksekusi. Kapan bisa dieksekusi? Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Setidaknya, banyak cerita indah dan perjalanan hidup yang bernuansa Nano-nano dari Kosku Istanaku. 

Sunday, April 19, 2020

Menjaga Silaturahmi Bukan Karena Materi

Menjaga silaturahmi bukan karena materi (Sumber: dokumen pribadi)




Anda pasti bangga mempunyai keluarga yang mampu atau kaya, bukan? Apalagi, jika ada keluarga anda yang menjadi orang penting. Baik dalam institusi pemerintah maupun swasta. Bahagia anda pasti akan bertambah, karena bisa menjadi kebanggaan. Tetapi, apa yang banyak orang rasakan, berbeda 360 derajat buat saya. Punya keluarga mampu dan jabatan penting justru semakin menelanjangi rasa “ketidakmampuan” saya dalam hal materi.

Gaya Borjuis Ala Pekerja Kapal

Dalam falsafah Jawa, saudara berarti sa yang berarti satu dan udara yang berarti perut. Berarti saudara berarti satu pertalian keluarga yang tidak bisa dipisahkan karena lahir dari satu rahim wanita yaitu ibu. Dengan kata lain, apapun yang terjadi terhadap saudara, maka saudara lainnya sebisa mungkin membantunya.

Jika ada keluarga yang kesusahan dalam hal materi, maka keluarga yang mampu semestinya memberikan uluran tangan. Bukan malah semakin membuat susah. Itulah sebabnya, ada pepatah “mangan ra mangan sing penting ngumpul”. Pepatah tersebut mempunyai pelajaran berharga. Bahwa, apapun yang terjadi dengan kelluarga, maka harus ditanggung bersama. Mati bareng, hidup pun bareng.

Jujur, keluarga besar saya di Brebes sebagian besar sekolah di SMK Pelayaran. Di mana, setelah lulus, maka hampir semuanya bekerja di kapal tangkap ikan. Baik, kapal tangkap Jepang maupun Korea. Di mana,  operasinya hingga ke benua Afrika.

Masalah gaya hidup mereka, gak perlu ditanya. Pakaian selalu cari yang bermerek. Malu, kalau cari barang KW. Masalah naik pesawat, menjadi angkutan wajib ketika berangkat kerja. Bahkan, naik pesawat kelas bisnis sudah menjadi hal yang biasa. Kenapa? karena gaji mereka hitungannya dalam mata uang luar negeri. Untuk yang pemula saja, jika dirupiahkan  hampir mendekati 2 digit. Kalau yang sudah berpengalaman, maka lebih dari itu.

Banyak yang pulang dari kerja kapal tangkap langsung membuat rumah mewah ala kampung. Yang tampangnya bak rumah gedongan ala Pondok indah Jakarta. Bahkan, setelah istirahat di rumah beberapa bulan, bagi yang hobi kerja di kapal tangkap. Maka, mereka akan berangkat lagi.

Biasanya, keberangkatan kedua hingga ketiga ini menjadi keberangkatan yang terakhir. Karena, keberangkatan tersebut adalah masa untuk menumpuk uang demi menikah. Setelah menikah, jika masih kuat kerja di kapal tangkap, maka 2-3 kali keberangkatan lagi dia akan mendekati pensiun. Alias, “cape” kerja di kapal. Saatnya untuk berkumpul dengan keluarga.

Bagi yang pintar berbisnis, maka mereka berbisnis. Meskipun risikonya “bangkrut”, karena mereka tidak siap untuk berbisnis. Bagi, yang keahliannya hanya kerja di kapal tangkap, ya, selamat menghabiskan uang tersebut. Setelah habis, maka orang tua atau saudara menjadi tempat pelarian, buat nyari pinjaman. Entah, saudaranya mampu atau tidak.

Perlu diketahui bahwa durasi keberangkatan kerja kapal tangkap antara 1-3 tahun. Jika, yang berangkutan hemat, tidak nakal alias tidak main perempuan, maka sekali pulang akan membawa uang kurang lebih 200-300 juta. Karena, ditambah dengan failitas atau tunjangan lainnya.

Namun, bagi yang boros atau nakal, maka ia hanya membawa uang ke kampung kurang lebih 50-100 juta, bahkan bisa kurang. Jika masa kerja selama 3 tahun saja, maka setahun mendapatkan uang 15-35 juta. Jika dibagi per bulan, maka ia mendapatkan uang kurang lebih 1,5 -3 juta per bulan. Besaran gaji ini sebenarnya hamper sama dengan gaji UMR di Kabupaten badung Bali. Bedanya, gaji mereka dikumpulkan selama durasi kerja dan tidak “direcokin” keluarga.

Celakanya, meski mereka sudah mampu, kebanyakan keluarga saya berorientasi tentang uang atau materi. Mereka tidak pernah berpikir masa depan mereka seperti apa. Yang penting, cari uang sebanyak-banyaknya, menikah, habis itu nganggur di rumah. Kalau, masih ada uang ya, bisnis saja. Masalah untung, belakangan.

Mereka “belum” terbiasa mempunyai keahlian lain yang bisa dikerjakan di darat. Ingat di darat, bukan di laut. Bahkan, kalau mereka pintar menatap masa depan, seharusnya mereka bersekolah (kuliah) lagi. Karena, di saat uang banyak, maka kuliah lagi lebih mudah. Sayangnya, pikiran mereka hanya “bagaimana menumpuk materi sebanyak mungkin, setelah itu, habiskan!”

Itulah yang membuat saya, setelah lulus SMP tidak terrgiur untuk sekolah pelayaran. Yang obsesi banyak lulusannya adalah kerja di kapal tangkap. Saya belajar memahami tentang kehidupan di kapal tangkap. Tak seindah apa yang dibayangkan banyak orang. Memang indah, ketika mereka membawa uang banyak ke kampung halaman. Tetapi, di balik itu, sungguh “tersiksa” dalam pekerjaannya. Jika anda yang sudah berkeluarga, maka kerja di kapal tangkap bukanlah pilihan terbaik. Godaan banyak sekali.

Kurang lebih 5 orang dari keluarga Brebes yang sempat atau masih kerja di kapal tangkap. Fakta, sebagian kecil berhasil. Karena, bingung setelah tidak bekerja lagi di kapal tangkap. “Mungkin”, sebagian besar uangnya habis di perantauan. Buat apa? Banyak cara untuk menghasbiskan uang tersebut. Menjaga gengsi dan tak tahan godaan nakal adalah salah duanya. Kakak kandung saya saja lulusan D3 dari Sekolah Perikanan di Jakarta tidak menghasbiskan waktu setelah lulus untuk bekerja di kapal tangkap.

Di mana, peluang kerja yang menghasilkan banyak uang adalah kerja di kapal tangkap sebagai mualim kapal. Kenyataannya, dia justru tak bertahan lama kerja di kapal. Malah, melanjutkan pendididkan S1 dan S2.

Sekarang, kakak saya berprofesi sebagai guru sekolah pelayaran. Bahkan, jabatan dia sebentar lagi menjadi kepala sekolah. Yang hingga kini tak pernah tanya kabar saya. “Peduli setan, mau mati atau enggak urusan elu”, mungkin pikirnya. Saya pun tidak pernah merasa bangga mempunyai saudara yang mempunyai jabatan penting. This is my live, saya jalani sendiri, berjuang dan berkeluh kesah sendiri.

Kadang saya  malu dan risih, jika saya pulang ke kampung halaman saya di Brebes. Karena, Sebagian besar keluarga saya sedang dan sudah membangun rumah. Bahkan, kakak saya sendiri mempunyai rumah ala Pondok Indah Jakarta di Palabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat.

Di mana, pernah menginap semalam di rumahnya, terasa seperti menginap di rumah orang lain. Tanpa kehangatan layaknya sebuah saudara kandung yang lama tidak bertemu bertahun-tahun. Sungguh, saya sampai menangis dalam perjalanan saya dari Palabuhan Ratu ke Jakarta.  

Karena, kedatangan saya ke Palabuhan ratu waktu itu, ingin mengajak saudara kandung untuk menemani saya wisuda di tahun 2013. Karena, anak dan sitri saya tidak bisa ikut mendampinginya saya. Sejak tahun 2013 hingga sekarang, tiada pernah komunikasi. Dari masalah materi, maka hilanglah silaturahmi. Ketika, persaudaraan memandang uang, maka “jika abang tak ada uang, maka abang saya tendang”.  Itulah pepatah yang benar-benar menimpa diri saya.   
   
Cara berpikir mayoritas keluarga Brebes masih berorientasi tentang materi dan uang. Sebagian besar pikiran mereka mandek di tempat. Ya, mereka memang mampu membuat rumah, karena tidak mengeluarkan biaya apapun buat kuliah. Ketika, mereka tidak kerja di kapal tangkap lagi, maka sebagian besar mereka menghabiskan simpanan uang mereka.  Saya mendobrak paradigma itu. Saya berusaha agar bisa kuliah. Bila perlu bisa kuliah S2. Serta, mempelajari berbagai keahlian.  


Saudara Bagai Orang Lain

Saya sudah menulis artikel sebelumnya bahwa sejak SMA, saya sudah mandiri. Dengan kata lain, sejak SMA saya jauh dari keluarga. Hidup saya nomaden. Saya hampir menjelajah  ddan tinggal di beberapa kota di Pulau Jawa. Mencari pekerjaan yang cocok untuk masa depan. Meskipun, hasilnya “belum” menggembirakan. Seperti, keluarga Brebes yang kerja di luar negeri. Di mana, sekali pulang kerja kapal tangkap, langsung bawa uang ratusan juta.

Namun, yang membuat kebanggaan saya seumur hidup adalah SAYA KULIAH DENGAN UANG SENDIRI. Sementara, keluarga Brebes lainnya mengandalkan orang tua. Bahkan, Sebagian besar hanya bersekolah hingga setingkat SMA.

Yang menjadi perhatian besar saya adalah rasa persaudaraan saya dengan keluarga Brebes yang bagai orang lain. Ini bisa menjadi pelajaran buat siapapun. Bahwa, ketika persaudaraan berlandaskan materi atau uang. Maka, tidak akan langgeng persaudaraan tersebut. Persaudaraan akan terpecah. Inilah yang membuat saya jarang pulang ke kampung halaman Brebes. Karena, ukuran persaudaraan mereka ada pada materi atau uang.

Berbeda dengan keluarga besar Ngawi. Mereka, khususnya kakak ipar, sampai habis-habisan uang dari hasil kerja TKI di Korea. Ratusan juta rela habis demi menyelamatkan atau menjaga nama baik keluarga. Ketika, rumah keluarga mau disegel bank, karena permasalahan keluarga. Maka, kakak ipar saya tampil untuk membantu habis-habisan. “Masalah uang gak usah dipikirkan, yang penting kondisi saudara nyaman”. Mobil dan simpanan uang sampai ludes.

Melihat keluarga Ngawi yang tidak pernah memperhitungkan masalah materi, membuat saya mau melakukan hal yang sama. Saya tidak pernah memperhitungkan, berapa mereka pinjam uang ke saya. Namanya saudara, prinsip keluarga Ngawi adalah lebih baik sengsara bareng-bareng, daripada salah satu kaya, yang lain nestapa.

Bahkan, masalah tanah warisan, keluarga Ngawi mau membaginya secara adil sesuai dengan rembukan keluarga. Dan, istri saya dapat tanah warisan, yang hingga kini, saya belum bisa membangunnya.

Hal yang menarik lainnya dari keluarga Brebes adalah rajin pamer materi di media sosial. Rajin dan eksis memposting kondisi mereka di media sosial secara vulgar. Mereka tidak memahami bahwa media sosial adalah ranah publik.

Memamerkan kondisi atau materi mereka, sangat rawan dan merangsang tindak kejahatan. Percaya atau tidak, saya memantau postingan keluarga Brebes secara ketat. Yang membuat saya mengelus dada. Saya merasa malu, karena saya sendiri aktif untuk mengkampanyekan bijak bermedia sosial. Bahkan, menjadi salah satu perwakilan Bali. Yang ikut menandatangani Deklarasi Netizen di Gedung MPR Jakarta.

Sementara, kelurga dekat saja, seenak “wudelnya” memposting secara vulgar di media sosial. Kondisi inilah yang ingin saya ajarkan ke keluarga besar saya di Brebes. Agar, jangan sembarangan posting di media sosial. Ada aturan dan tata kramanya.

Namun, jika mengingat bahwa keluarga Brebes selalu berorientasi tentang uang. Maka, niat untuk ke Brebes perlahan hilang. Apalagi, kondisi keuangan saya yang belum stabil. Maka, niat pulang kampung ke Brebes selalu tertunda. Sudah hampir 5 tahun, saya tidak pulang ke Brebes. Padahal, yang membuat kangen saya adalah “ingin memohon maaf di hadapan bapak dan ibu”. Tidak ada selain itu.

Saya merasa bahwa keluarga Brebes, terasa seperti orang lain. Ibarat film India “kabhi kushi kabhi gam”. Orang lain terasa saudara dekat, dan saudara dekat terasa seperti orang lain. Jika, saya pulang ke Brebes, maka pertanyaan pertama bukanlah kondisi atau pengalaman saya selama menempuh perjalanan panjang. Tapi, yang selalu mereka tanyakan adalah masalah minta UANG. Kecuali, bapak dan ibu.

Lucunya lagi, mereka yang banyak uang, karena keluarganya kerja di kapal tangkap, malah hendak pinjam uang ke saya. Padahal, kondisi saya sendiri sedang pas-pasan. Untuk balik lagi ke Ngawi dan Bali saja sudah “ngos-ngosan”. Itulah sebabnya, seumur hidup saya pernah sekali pinjam uang sama saudara kandung di tahun 2015. Yang besaran pinjamannya tidak sampai besaran UMR.

Uang pinjaman itu digunakan untuk biaya masuk SMA anak saya. Uang tersebut bukanlah pemberian gratis dari saudara kandung. Tetapi, pinjaman uang yang mesti dibayar kembali. Yang hingga kini, belum bisa saya dilunasi. Namun, Namanya hutang, maka saya tidak melihat saudara kandung. Hutang tersebut akan saya bayar.

Padahal, uang itu bagi keluarga Ngawi, menjadi sebuah pemberian “yang tidak perlu dibayar”. “Halah, ra usah dibayar. Wong sedulur ae kok dipikir” (Halah, gak usah dibayar, orang Namanya saudara kok dipikir).

Keluarga Ngawi sangat memahami benar kondisi semua anggota keluarga. Berbeda dengan keluarga Brebes, keluarga Ngawi justru selalu membuat saya kangen. Ketika saya pulang, mereka sangat bahagia. Karena, silaturahmi adalah yang utama. Mereka berpikir, kalau saya tidak bisa membantu mereka dengan uang, maka bantulah dengan tenaga.  Kondisi inilah yang membuat saya ingin pulang kampung ke Ngawi, bukan ke Brebes. Yang membuat kangen untuk pulang ke Brebes hanyalah ingin memohon maaf sama Bapak dan Ibu.

Semoga cerita ini menjadi pelajaran Bersama.     

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi) Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak...